Vote and comment

Happy Reading!

3

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook meronta, kedua tangan dan kakinya terikat kencang. Kini ia telungkup dengan tangan terikat ke belakang. Ikatannya terlalu kuat, bahkan Jungkook yakin pergelangannya terluka karena ikatan itu.

"Lepaskan aku!" Jungkook berteriak, bahkan terus-terusan mencoba melepas ikatan di tangan dan kakinya, namun nihil percuma. Dan di sana Taehyung tetap pada posisinya, duduk menatap Jungkook yang meronta minta dilepas.

Bagaimana bibir semerah cherry itu membuka dan menutup menampilkan gigi kelincinya, rambut coklat nya terurai dan lepek karena keringat. Jangan lupakan kemeja baby blue Jungkook yang mulai basah karena keringat sehingga mengecap belahan dada Jungkook, atau rok hitamnya yang tersingkap ke atas karena gerakannya menampakkan paha putih dan mulus. Taehyung susah payah menelan ludahnya. Wow, Jika dibandingkan dengan Irene Bae jelas Jungkook menang banyak.

"Apa yang kau lihat, brengsek! Lepaskan aku!" Jungkook ingin menampar keras wajah pemuda yang menatapnya lapar itu.

"Jeon Jungkook." Jungkook membeku mendengar bagaimana Taehyung memanggilnya dengan penuh penekanan disetiap suku kata.

"Aku yakin ibumu mengajarimu cara minta tolong dengan benar kan, cantik?"

"Katakan padaku, kumohon Tuan Taehyung lepaskan ikatanku. Maka akan kukabulkan dengan senang hati." Taehyung menyeringai lebar melihat ekspresi terkejut dan ketakutan bercampur di wajah Jungkook. Cantik, sangat cantik. Tangannya gatal ingin menyiksa tubuh ramping itu lebih lagi, melihat berbagai macam ekspresi di wajah Jungkook dan mendengar jeritannya yang minta diampuni.

"Katakan Jungkook, kau ingin dilepaskan bukan? Atau kau memilih terkunci di tempat ini selamanya?"

Jungkook menunduk, menggigit bibirnya keras, ia ingin menangis tapi enggan karena pasti Taehyung akan bersorak melihat air matanya. Jangan melawan, Jungkook sudah berjanji pada Yoongi untuk tidak melawan Taehyung lagi. Setelah mengumpulkan tekad dan menjatuhkan harga dirinya Jungkook bersuara.

"Ku.. mohon.." Jungkoot mencicit. Suaranya bergetar, ia menatap Taehyung yang menatapnya datar. Tidak, ia terlalu takut! Keluarkan suaramu lebih lagi Jungkook!

"Tuan.. Kumohon.. lepaskan aku.." tangisnya pecah, runtuh sudah harga dirinya terinjak oleh pemuda brengsek itu. Ah, dia rindu Yoongi. Bagaimana keadaan Yoongi di sana? Jika Yoongi pulang ia akan memeluk Yoongi erat hingga pemuda itu sesak.

"Bisa-bisanya kau memikirkan orang lain saat bersamaku." Lamunannya terbuyar, ia bahkan tidak sadar jika ikatan di kakinya sudah lepas. Entah bagaimana Taehyung melakukannya.

Perlahan Jungkook mendudukan dirinya. Menatap nyalang ke Taehyung yang berjongkok di hadapannya.

Tatapannya datar, iris kemerahan itu lagi. Dan surai keunguannya melekat pada dahinya karena keringat. Kulit tan itu terlihat mengkilap karena penuh keringat. Hawa di gubuk itu sangat panas, tidak heran tubuh mereka terus-terusan memproduksi keringat.

Netra Jungkook turun ke bahu lebar Taehyung. Bahunya tampak lebar apalagi dengan kemeja red wine melekat ke tubuh gagahnya.

Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Masing-masing sibuk mengagumi ciptaan Tuhan di hadapan mereka. Nafas Jungkook dan Taehyung beradu saking jarak yang terlalu dekat di antar mereka.

"Oh ya, Jungkook. Jangan beritahu Yoongi atau Jimin tentang ini. Tidak, jangan beritahu siapapun tentang ini. Jika kau masih ingin hidup, bunny." Taehyung angkat suara, mengembalikan pikiran Jungkook yang melayang.

Pecundang, ia takut Jungkook membeberkan hal itu dan terkena sanksi atas pelecehan dan penyiksaan? Taehyung salah, yang dilarang malah akan Jungkook langgar. Ia kan melaporkan perbuatan Taehyung hingga pemuda itu akan menyesal dan terkurung seumur hidup di penjara.

"Hey, bunny. Aku bicara padamu, kenapa diam saja?"

JLEB!

"Akkhh!!!.." Tubuh Jungkook mendadak kaku, sesuatu menyetrum tubuhnya. Kepalanya pusing dan tubuhnya sakit. Rasa sakit bercampur aduk hingga Jungkook tidak kuat berteriak lagi.

"Bunny, bunny, jangan melawan dong kalau tidak ingin tersiksa." Sengatan listrik itu menghilang, Jungkook langsung melahap oksigen buru-buru. Taehyung menarik kasar dagu Jungkook. Lidahnya menjilat bibir bawahnya yang kering karena wajah erotis Jungkook yang tersetrum.

"Kau.. bagaimana..?"

Bibir tipis itu menyunggingkan seringai, suara Jungkook yang kehabisan nafas itu seksi loh. Libido Taehyung jadi naik kan. Mungkin setelah ini Taehyung akan menghubungi Irene untuk memuaskan hasratnya.

"Uh? Tentu saja dengan ini, bunny." Taehyung menunjukan stungun di tangan kanannya.

"Kau.. gila!" Air mata lolos begitu saja dari mata Jungkook. Taehyung benar-benar serius ingin menyiksanya. Memangnya ia salah apa? Kenapa Taehyung begitu membencinya hingga ingin menyiksa Jungkook?

Taehyung terbelalak melihat air mata menetes di pipi Jungkook. Apa gadis itu menangis? Air mata itu semakin deras hingga membasahi tangan Taehyung yang berada di dagu Jungkook.

Ia menatap gadis di hadapannya yang menutup matanya. Bulu matanya terlihat lentik dan lebat namun basah karena air mata yang terus mengalir. Sepertinya Taehyung sudah keterlaluan. Sebetulnya niatnya hanya menemui Jimin dan memarahinya karena mengunci Taehyung di apartemen Jimin. Untung dia punya kunci cadangannya jadi dengan mudah ia keluar dan segera menyusul pemuda itu. Eh, ia malah melihat Jungkook. Tanpa sadar tangannya memukul Jungkook dan membawanya ke gubuk tua dekat apartemennya dengan mobilnya.

Soal stungun itu cuman senjata jaga-jaga saja, setiap hari Taehyung membawa itu kok. Sungguh niat awalnya bukan ingin menyiksa Jungkook. Salah sendiri Jungkook menggunakan rok pendek begitu kan Taehyung jadi khilaf.

Bingung harus berbuat apa, lidah Taehyung menjilat air mata Jungkook yang mengalir.

"Ugh.." Nah, iris coklat itu menampakan dirinya. Sedikit berlinang air, tapi anehnya malah terlihat makin cantik.

"Le..pass.."

Maaf loh, sekali lagi Taehyung khilaf. Kini ia menjilat pipi gembil Jungkook sensual. Rasanya manis, aneh kan? Padahal gadis itu berkeringat, habis menangis pula, tapi rasanya manis.

"Kuh mohonn.." Lidah Taehyung berhenti dari kegiatan mari-menjilati-pipi-gembil-Jungkook karena permohonan itu.

Taehyung berdehem singkat sebelum akhirnya bangkit dan duduk di sofa rusak. Lama-lama di dekat Jungkook makin khilaf nanti. Taehyung menatap Jungkook yang masih setegukan. Ia menghela nafas kasar sambil menyisir rambutnya ke belakang.

"Kemari, kulepaskan ikatan di tanganmu." Ujarnya dengan menatap sudut ruangan, enggan menatap wajah Jungkook.

Setelah memotong ikatan Jungkook, Taehyung mendorong punggung Jungkook hingga gadis itu menjauh dari Taehyung. Ia bangkit dan membuka kunci pada gubuk tua itu.

"Tunggu, Kau mau kemana?" Taehyung menatap datar ke Jungkook yang mengalihkan pandangannya.

"Pulang. Sudah jelaskan?"

"L-lalu aku?"

Taehyung mendengus, ia memegang pelan beberapa helaian Jungkook lalu melemparnya asal. "Maaf ya bunny, aku bukan supir." Lalu dia melangkah meninggalkan Jungkook.

"Tunggu!" Jungkook segera berlari mengikuti Taehyung yang berjalan santai membelah hutan gelap. Mengabaikan tubuhnya yang terasa remuk akibat perlakukan Taehyung.

"Aku tidak tau ini dimana! Kau harus tanggungjawab karena membawaku kesini!" Tiba-tiba Taehyung menghentikan langkah, hingga Jungkook menabraknya dan hampir limbung sebelum tangan Taehyung menarik kasar lengan Jungkook.

"Dengar ya, Jeon. Aku tidak mau urusan tentang apapun yang menyangkut kau! Mau bagaimana caramu keluar atau pulang itu bukan urusanku! Dan berhenti mengikutiku!" Jungkook terdorong menjauh, tapi ia tetap nekad mengikuti Taehyung yang memacu langkahnya semakin cepat.

"Argh! Kubilang berhenti mengikutiku!!" Teriakan Taehyung membuat seisi hutan runyam. Burung-burung berterbangan ketakutan oleh teriakan Alpha. Jangan tanya bagaimana keadaan Jungkook, ia mematung dengan tubuh bergemetaran. Sial, ia menyesal terlahir sebagai omega.

Jungkook mengadah kala keadaan menjadi sunyi. Taehyung sudah menghilang. Sial, ia takut sekali di hutan gelap seperti ini. Ia harus berjalan kemana? Kim Taehyung sialan! Sudah menculik, disiksa, dilecehkan, sekarang ditinggal sendirian. Lengkap sudah penderitaannya.

Suara gemrisik daun, dan dahan-dahan yang patah karena terinjak membuat Jungkook merinding.

"Su-suara apa itu?" Langkah itu semakin terlihat jelas dan mendekat ke arah Jungkook.

"Siapa di sana?! Jangan bersembunyi, tunjukan dirimu!" Langkah itu semakin terdengar banyak, satu dua bahkan lima langkah kaki. Jangan-jangan itu..

"Hey, gadis manis. Berniat bermain bersama kami?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

see you next chapter