In A Painfull

Chapter 2

.

.

.

DLDR

.

Sudah seminggu aku dirawat oleh Bruce dimarkas Avengers. Dan sejak itu pula, aku dan Pepper berdiskusi banyak hal. Terutama untuk calon buah hati kami. Ya buah hati kami, yang kini tengah di kandung oleh Pepper. Sudah ku katakan bukan, aku menyayanginya.

Berat memang untuk memutuskan untuk pensiun. Tapi, mungkin itu adalah jalan terbaik yang harus ku lakukan demi menjaga keluargaku tetap aman. Aku tak ingin kehilangan lagi seperti kehilangan anak didikku yang hilang menjadi debu di dalam pelukanku. Aku sangat merasa bersalah. Tentu saja, bagaimana tidak? Aku lah yang mengajaknya untuk menjadi anggota Avengers. Seharusnya aku bisa melindungi Pete, bukan malah membuatnya mati. Juga seharusnya aku bisa menyelamatkan separuh nyawa di alam semesta ini. Tapi apa? Pada kenyataannya aku sendiri tak sanggup mengalahkan Thanos.

Tentu saja aku terpukul. Terasa menyakitkan menelan pil pahit seperti ketika Steve meninggalkanku seperti seonggok mainan yang tak terpakai lagi. Dan kini keadaan ku semakin membaik, emosi ku cukup stabil. Yap, mungkin juga aku sedikit terhibur dengan kedatangan darah dagingku, keturunanku.

Yang tak bisa dipungkiri pula, Kami semua mengalami dampak kekalahan. Tak hanya aku, yang kini kurasa telah kehilangan jatidiriku. Begitu pun Steve, ia juga kehilangan sahabat karibnya yang dulu ia bela setengah mati hingga meninggalkanku tepat didepan matanya. Jujur saja, sudut hatiku sedikit tergelitik. Aku memahami perasaannya. Sangat.

Tapi dimana Steve? Sudah seminggu ini aku tak melihat keberadaannya. Ia sama sekali tidak menjengukku setelah perdebatan itu. Natasha mengatakan bahwa Steve juga tak memberitahunya apa yang ia lakukan. Dan aku seperti merasakan suatu hal yang berbeda pada Pepper, entah apa itu. Ia seakan-akan menutupi sesuatu.

"Jadi, lusa aku akan menyiapkan barang-barang kita. Kemudian kembali ke rumah, setelah itu aku akan menyiapkan kepindahan kita." Ujar Pepper menjelaskan hal-hal yang sepertinya telah ia rencanakan.

"Okay, Babe. Kondisiku juga membaik, dan kita harus merencanakan masa depan keluarga kita." Jawabku sambil tersenyum. Semoga terlihat natural.

"Tony," Pepper memandangku. Pandangannya sayu, berusaha tersenyum padaku.

"Ehm. Excuse me." Interupsi itu datang dari Bruce Banner.

"Hi, Dr Banner. Come in." Pepper menawarkannya masuk, "Okay, sepertinya aku juga perlu untuk membersihkan diri terlebih dahulu." Aku tahu Pepper menahan air mata dari wajahnya yang memerah.

"Apa dia baik-baik saja, Tony?" Bruce mendekat.

"I didn't know." Jawabku memandang pintu kaca yang menutup setelah kepergiannya.

"umm, Aku tau mungkin ini bukan saat yang tepat. Tapi, semenjak aku melihat Steve sepertinya ada yang tidak benar pada kalian. Terutama mendapati kalian sudah berpisah dan kau menikahi Pepper." Kata-kata Bruce menusukku. Ya, dia memang menghilang pasca Age of Ultron. Dan kembali ketika kami, para Avengers sudah terpecah.

"Steve? Apa maksudmu melihat Steve?" Okay, sepertinya aku sedikit sensitif setiap mendengar namanya.

"Yah, ia semakin giat memukul samsak kau tahu? Kegiatan yang sering kali ia lakukan saat gelisah. Dan Steve seperti bukan Steve." Jelasnya.

"Semua orang berubah, Banner. Termasuk aku. Kami kehilangan." Aku tak sanggup berkata.

"Kau tahu yang ku maksud, Tony. Kau berhak bahagia, aku tahu itu. Dan itu pilihanmu, aku mendukungmu, Tony." Bruce merogoh sakunya. "Ini, milikmu. Aku kembalikan padamu."

Bruce menyodorkan ponsel lipat kecil. Ponsel lipat yang Steve berikan padaku dan hanya terdapat nomor kontaknya saja diponsel itu. Tak pernah ku gunakan memang. Tapi selalu ku bawa kemanapun, hanya dengan membawa benda itu aku selalu mengingatnya. Mengingat rasaku yang ia tinggalkan begitu saja di Siberia.

"Aku tidak menginginkannya."

Bruce memaksa, ia meraih tanganku dan menyerahkan ponsel itu secara paksa. "Aku tahu, Tony. Aku tahu."

Aku memandang nanar ponsel itu.

"Ia juga terluka, Tony. Kau berhak bahagia, tapi cobalah untuk memaafkannya." Saran Bruce terdengar sangat klise.

"Semua sudah terlambat, Bruce." Habis sudah, aku tak sanggup menahan air mataku. Perih sekali menyadari rasa ini, sakit ini. Ku genggam ponsel itu dengan erat. Ya, aku memang masih sangat mencintainya. Bagaimana hati ini merasakan desiran hangat ketika berpapasan lagi dengan binar kerinduannya. Tapi sungguh, semua telah terlambat. Aku tak mungkin mengkhianati Pepper juga calon bayiku. Tak mungkin menyakiti hatinya. Biarlah cinta ini aku kubur dalam-dalam.

"I know, Tony. Berbahagialah." Bruce menepuk pundak ku kemudian berpaling keluar dari ruangan.

Ponsel itu masih tergenggam erat di tanganku.

.

Flashback

New York, 2012. Pesawat Shield.

"Aww." Bruce tersentak ketika tangan usilku menjahilinya dengan pen listrik yang ku sentuhkan di pinggangnya.

"Wow pengendalian diri yang bagus, Banner." Pujiku tulus ya tulus mengapresiasi emosi Banner yang ku uji.

"Hey! Apa kau gila?" Dari jauh pria dari abad ke-20 itu mengomeliku, dia terlalu waspada, kaku, dan yeahh segala hal old stylenya terutama dengan kostum ketat biru bercorak putih biru berbintang yang sangat America sekali.

Pada mulanya sungguh aku tak ada pikiran untuk memiliki perasaan khusus pada eksperimen tingkat kesempurnaan manusia seperti dirinya. Ku akui, ia seksi, tampan dan binarnya penuh kelembutan. Ya kupikir aku masih normal, menyukai wanita. Kau tahu, aku pun tak kalah seksi dan tampan. Aku jenius, billiuner dan idaman para wanita.

"Yap, hampir." Jawab ku enteng, sambil megambil cemilan biskuit blueberry di rak.

"Kau hampir membuat seisi pesawat ini dalam bahaya, Stark!" Sinisnya menatapku tajam, sungguh tatapanmu itu lembut tak membuatku takut, bahkan membuatku geli. Ia begitu menganggumkan dengan wajah malaikat itu.

"Tenang saja, Capt. Aku bisa mengendalikan diriku, maka dari itu aku menyetujui untuk berada disini." Bruce berkata cepat.

"Nuh, You See, Oldman?" Sela ku lagi sambil memakan biskuit dan memandangnya remeh. Aku tahu dia merasa tersinggung dengan sikapku yang menyebalkan. Tapi entah kenapa rasanya ingin sekali untuk membuatnya marah. Karena itu lucu sekali membuatnya tampak bodoh.

"Aku ingin kau fokus, Stark."

"Aku fokus, tentu saja aku fo.."

"No, You didn't!"

"Tentu saja aku fokus disini, Old Man!"

"Kita telah diberikan perintah, Stark. Dan sudah seharusnya kita menurutinya!"

Aku berjalan mendekatinya, menatap manik birunya.

"Menurut itu bukan Gaya ku." Jawabku tegas masih sambil memakan biskuit, berdiri tepat dihadapannya. Wajah kami mungkin hanya berjarak kurang dari 10cm karena aku menantangnya.

"Gaya? Jadi kau mementingkan gaya? Sungguh aku heran kenapa Fury mengajakmu bergabung." Sepertinya ia sudah memanas. Lihat saja ia terlihat begitu kesal menghadapiku. Dan melihatnya dari dekat seperti ini semakin membuatku yang aku tidak tahu menjadi bersemangat untuk tetap menggodanya.

"Yahh, badan intelegensi merekrut intelegensial, itu tidak aneh." Aku masih dengan kata-kata meremehkanku. "Ayolah, Capt. Apa kau tak tau ada yang aneh disini? Fury adalah mata-mata, setiap rahasianya memiliki rahasia."

Kontak mata kami terputus, ia memandang penuh tanya pada Banner.

"Uhh yaehh kuakui, Capt. Apa kau tak merasakan hal aneh?" Ia tersentak mendengar ucapan Bruce dan memandangku lagi. Aku benar-benar senang sekali menggodanya hingga ia terlihat emosi hingga tak dapat berpikir jernih, wajah tampannya semakin terlihat menggoda -eh, tunggu- Apa? Ehm, sepertinya ada yang salah dengan otak jeniusku.

Ia mendengus kasar, dan berlalu menabrakkan pundaknya padaku. Semenjak itu lah aku tak pernah berhenti menggodanya, membuatnya kesal. Dan tentu saja menjadikan hal itu sebagai rutinitas harianku.

.

"Put on your suit!" Kata Steve penuh emosi setelah aku memancing emosinya. Kami berada di laboratorium dengan seluruh anggota Avengers yang berdebat dengan kepala memanas. Terutama Steve yang terlihat sekali begitu kesal atas jawabanku. Suasana begitu pikuk dengan perdebatan-debatan yang tak kunjung seusai.

Dan beberapa saat kemudian ledakan pada turbin mengguncangkan seisi pesawat hingga aku goyah dan ia menangkapku dalam pelukannya. Ya, ke dalam dada kekar dan berotot sempurna itu.

"Apa kau baik-baik saja?" Kilat amarahnya hilang, digantikan kecemasan. Ia masih memelukku erat melindungi kepalaku dari puing-puing pesawat yang berjatuhan. Jantung ku berdegup amat kencang, perutku bergejolak dan mungkin wajahku sudah memerah.

Ketika pesawat sudah mulai agak tenang, ia melepasku. Tak sengaja pandangan kami bertemu. Awkward. Wajahnya terlihat merah sekali. Begitu manis pikirku.

"Put on your suit." Ujarnya tapi kini dengan intonasi yang begitu lucu seperti menahan malu.

"Okay." Entah kenapa dikeadaan genting seperti ini kupu-kupu bergelenyar diperutku.

Aku menyukai reaksinya. Itu lucu sekali. Aku ingin lagi.

.

Aku terbang tinggi sekali, membawa nuklir yang di luncurkan pemerintah untuk menghancurkan kota Manhattan ketika kami para Avengers tengah berperang melawan alien yang dibawa Loki. Natasha telah menemukan cara untuk menutup portal ini, namun aku memiliki ide brilian yang terlalu berani untuk menghancurkan planet alien itu dengan menabrakkan nuklir yang kubawa. Membuat armour ku kehabisan tenaga di tengah-tengah galaksi. Dan aku pun terjun bebas, kehabisan oksigen dan semua gelap.

"GRAAAHHHH"

Raungan yang begitu keras ditelinga mengagetkanku. Seketika itu pula aku tersentak, dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Steve berada di sebelahku, wajahnya terlihat begitu lega. Ia tersenyum, tampan sekali.

"Jangan bilang ada yang menciumku." Candaku.

Tak ku sangka aku melihat pergerakkan tak nyaman pada Steve, dan wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Lagi-lagi kupu-kupu itu menari-nari di perutku.

"Amm..setelah ini ayo kita ambil libur. Dan ke restoran China dekat menaraku, Shawarmma. Kau tahu, aku ingin sekali mencicipinya."

.

Semenjak peperangan pertama kami, kami semakin dekat. Dan aku memutuskan menara Stark ini untuk menjadi markas kami, Avengers. Ku akui aku dan Steve sering kali melempar ejekan, hinaan, hingga berkembang menjadi rayuan. Entah kenapa, keberadaan Steve disekitarku membuat diriku merasakan hal yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Seperti berbunga-bunga, kelewat bersemangat, atau melakukan hal yang tak pernah ku duga sebelumnya, seperti menemaninya nonton Star War hingga larut malam kemudian ia mengantarku ke kamar dan kami berpamitan, tak jarang pula ia mengelus kepalaku. Dan yahh, entah kenapa pula aku memberikan otorisasi khusus pada Jarvis untuk menginjikan Steve bebas masuk kedalam bengkelku.

Aku tak pernah mengakui jika aku memiliki perasaan padanya, dan ia juga tak pernah berkata apapun tentang hubungan kami. Yang kami lakukan ini adalah yang membuat kami nyaman. Ia melindungiku dan aku begitu merasakan kelembutan ditatapannya ketika ia melihatku. Dan menurut Natasha, Steve menyukaiku. Dan entah kenapa pula aku merasa senang?

Kami tetap melakukan hal-hal yang membuat kami nyaman. Tak peduli yang orang lain katakan, atau bujukan-bujukan setan Clint dan Natasha untuk mengajaknya kencan. Semua berjalan natural, Steve juga tak keberatan dengan hal itu. Dan tanpa ada pernyataan apapun. Kami tahu, kami saling mencintai. Mempunyai rasa yang sama.

Cinta tak memerlukan pengakuan atau deklarasi kan?

Flashback Off

Entah kenapa kenangan dimana aku pertama kali memiliki rasa ini pada Steve muncul begitu saja. Ingatan yang begitu membekas dibenakku. Begitu manis, begitu membuat hatiku menghangat. Dan hanya dengan mengingatnya membuatku hatiku berbunga merasakan percikan kebahagiaan yang membuatku tersenyum. Bolehkah aku bertemu Steve? Hanya untuk yang terakhir kali saja?

.

.

.

.

.

/

Ruangan itu tembus pandang, terlihat sekali dengan jelas bahwa Tony Stark sang jenius tampan arogan itu menangis dalam diam tanpa suara tanpa pergerakan apapun tapi anehnya senyum yang begitu tulus terpampang jelas di wajahnya yang masih terlihat kuyu dan basah. Ia terus menatap lekat ponsel tua itu dalam genggamannya seakan-akan kebahagiaan milik seluruh dunia ada digenggamannya. Miliknya.

.

Dari kejauhan, Pepper hanya sanggup memandang nanar isi kamar rawat itu. Bersembunyi agar tak terlihat oleh pasien yang berada diruang rawat tersebut. Mencengkram perutnya, kemudian terduduk.

Ia tak menangis, air matanya telah kering.

Apakah ini benar? Apakah ini jalan yang benar?

Kenapa luka itu tak kunjung sembuh? Apa karena mereka terlalu egois?

Benarkah ini kebahagiaan yang mereka cari?

/