XoXo-XoXo-XoXo

Subtle Melancholy

[White Version]

XoXo-XoXo-XoXo

"Meskipun ada banyak geisha yang lebih berpengalaman, kenapa kau repot-repot memilih maiko sepertiku untuk menemanimu, tuan muda?"

Haru memakai kimono berkerah merah, menampakkan statusnya sebagai maiko. Payung merah di tangan, kakinya mengikuti langkah Hajime di distrik penuh keramaian. Mereka berhenti pada tepi jalan yang dipenuhi barisan pohon sakura bermekaran, bunganya berguguran, memperhatikannya seperti kebanyakan orang di sana. Ini pemandangan langka bagi Haru, hingga dia hanya bisa menatapnya penuh kagum.

"Aku mencarimu di tempat yang lama, tapi tidak menemukanmu." Ucap Hajime kemudian, mengerti benar bahwa Haru hanya sekedar membuka pembicaraan dengan basa-basi.

Tentu saja, alasan Hajime memilih maiko sepertinya untuk menemani sang tuan muda bukan karena alasan bayaran yang lebih murah dibanding geisha. Sejujurnya, Haru pun ingin membicarakan banyak hal dengan pemuda itu. Jika saja situasinya senyaman masa lalu, dimana mereka bisa tertawa bebas dan senang pada hal sederhana.

"Ah, ya. Banyak hal yang terjadi, tuan muda."

"Bicaralah sebagai Haru. Karena aku ingin bicara dengannya."

"Meskipun aku telah bersusah payah menjadi maiko bernama Yayoi, kau ingin bicara dengan gadis kecil itu? Rikka-onesan akan marah padaku jika dia tahu aku membicarakan masa lalu."

"Aku akan pastikan dia tidak marah padamu. Jadi yang mana, apa karena hutang?"

Haru menggeleng, "Tidak seperti yang kau pikirkan, memang banyak hal yang terjadi, bukan karena dipaksa atau hutang, aku sendiri yang memilih seperti ini."

"Dari yang ku tahu, alasan kebanyakan perempuan menjadi geisha karena mereka tidak ada pilihan lain. Kenapa kau memilih jalan yang sulit?"

"Aku tidak mempermasalahkannya. Jika kamu mengatakan ini jalan yang sulit, mungkin itu memang benar. Aku hanya memutuskan ini jalan terbaik yang kupilih saat itu. Waktu aku melaluinya, aku menemukan banyak hal yang aku sukai. Aku menyenangi musik, tari, seni, sastra dan buku. Jadi, aku tidak apa-apa, tuan muda."

"Bukankah kamu kehilangan kebebasanmu?"

"Aku telah kehilangan banyak hal." Haru menatap langit biru, helai sakura berterbangan di atasnya karena angin. "Dan kemudian aku menemukan hal baru. Jalanku masih panjang, namun aku baik-baik saja, karena bersama hal-hal yang aku sukai."

"Orang-orang mengatakan jika kita melewati jalan yang berat, kita akan menjadi lebih kuat." Hajime mengambil beberapa helai kelopak sakura pada surai pirang Haru.

"Kau orang yang hebat, Haru." Hajime menarik tangannya, "Meskipun harusnya aku yang menepati janji untuk menjadi lebih hebat."

"Di mataku, kau telah menjadi sosok yang hebat, tuan muda. Kau sekarang lebih tinggi dariku." Haru tertawa ringan. "Benar-benar mengagumkan hingga rasanya berjalan di sampingmu membuatku sungkan. Siapa yang menyangka tuan muda Mutsuki memilih seorang maiko sepertiku untuk menemaninya. Tentunya banyak maiko dan geisha yang iri padaku."

"Kau tidak perlu khawatir pada hal semacam itu."

"Jadi tuan muda akan melindungiku? Itu akan lebih berbahaya, tunanganmu akan cemburu padaku."

"Dia tidak akan marah."

"Hmm…" Haru diam sejenak, "Jadi seperti apa sosok tunangan tuan muda? Aku hanya tahu kalau dia adalah nona muda berbakat dari keluarga Shimotsuki. Kami dari distrik ini tidak mengetahui banyak hal di luar."

"—dia memiliki tingkah mengesankan, tapi dia gadis yang baik. Dia orang yang menyenangi kebebasan."

"Terdengar menarik. Rasanya aku ingin mendengar lebih banyak tentang bagaimana orang-orang di dunia luar sana."

Karena menjadi geisha berarti bahwa mereka akan terjebak di distrik ini untuk waktu yang lama. Atau mungkin seumur hidup.

"Aku, bisa membawamu keluar sana."

Haru—bahkan tidak pernah membayangkan hal itu.

XoXo-XoXo-XoXo

"Itu mengesankan, membuat tuan muda Mutsuki tertarik padamu. Meskipun begitu, kau tidak boleh lupa memperlihatkan pesonamu pada pejabat lain. Semakin banyak yang tertarik, semakin bagus. " Okasan berkomentar tentangnya. Haru jelas tahu maksud sang nyonya okiya memanggil ke ruangannya. Asap yang keluar dari kiseru membuat Haru menahan napas sejenak. Ia tidak mengatakan apapun tentang masa lalunya yang mengenal Hajime sebagai teman. Dia hanya tersenyum.

Sore harinya sedang dilalui bersama Rikka, ketika Hina—gadis kecil baru di okiya berlari tergesa-gesa menuju tempatnya berada.

"Ada apa?"

"Ada kiriman untuk Yayoi-san." Gadis kecil itu membawa sebuah kotak berlapis kain ungu, napasnya terengah namun matanya penuh semangat. "Dari Hajime-sama."

"Dari tuan muda?" Haru menaikkan alisnya, seingatnya dia tidak meminta apapun dari Hajime saat terakhir kali bicara, hanya sekadar membahas sebagian masa lalu mereka masing-masing.

Beberapa anak lainnya turut menengok ke ruangan, membuat pintu geser terbuka lebih lebar.

"Hei, hei, apa kalian sangat tertarik pada isinya?" Rikka menegur.

"Iya!" serempak ucapan itu terdengar, membuat Rikka menghela napas. Ini sering terjadi memang, rasa tertarik anak-anak memang tinggi, setelahnya berita seperti ini akan tersebar dalam hitungan detik ke ruangan lain hingga okiya lain.

"Apa aku harus membukanya sekarang, onesan?" Haru menatap Rikka.

"Kupikir tidak apa-apa."

Haru membuka kotak kayu perlahan, isinya kain kimono berwarna hijau lembut didominasi sulaman-sulaman bunga.

"Wahh…"

"Astaga!"

"Cantik sekali!"

"Kalau kalian berhenti membuat keributan, aku akan memberikan permen untuk kalian." Haru berujar kemudian. Membuahkan anggukan penuh senyum harap dari para gadis kecil. Setelah keheningan menyapa, Haru menyadari ada kertas kecil di dalam kotak.

[Warna musim semi memang cocok untukmu – dari Hajime.]

"Tuan muda itu benar-benar menyukaimu, ya?" Rikka berkomentar.

"—entahlah, onesan."

XoXo-XoXo-XoXo

Sebuah mobil menjemputnya kali ini, ia diperintahkan oleh okasan untuk pergi karena permintaan sang tuan muda dari keluarga Mutsuki. Haru mengetahui kalau klan Mutsuki adalah keluarga yang berpengaruh. Namun sulit mempercayai betapa hebatnya pengaruh keluarga itu—bahkan pada distrik tempatnya berada. Distrik yang penuh dengan aturan.

Meskipun telah sering ikut Rikka dalam berbagai pesta ataupun jamuan, berada di tempat seluas ini sendirian tanpa kawan sesama maiko dari okiya-nya adalah pertama kali untuk Haru, dia yakin bahwa yang dikatakan okasan adalah pesta musim semi, diadakan di sebuah taman besar yang dipenuhi pohon sakura bermekaran. Tentu, distrik mereka juga memiliki barisan pohon sakura yang indah di sepanjang jalan, namun tempat ini memberikan kesan elegan. Seperti sebuah lukisan, hingga Haru tidak meyakini bahwa jembatan kayu jauh disana adalah hal nyata. Beberapa tamu undangan yang turut berada dalam pesta menghampiri, meminta waktu untuk berfoto dengannya. Haru menerimanya dengan anggukan.

"Terlihat professional." Hajime berujar, menghampiri kerumunan yang berkurang setelah mengambil foto bersama maiko. Tampaknya dia telah memperhatikan sedari tadi.

"Saya melakukan seperti biasanya."

"Kimono itu cocok untukmu."

"Itu karena tuan muda yang memilihnya untukku." Haru mengikuti langkah Hajime, netranya menjelajah luasnya taman yang didominasi warna merah muda. Hingga dia menyadari mereka brjalan menuju jembatan dengan sungai kecil dibawahnya.

Haru menoleh pada Hajime, ia mendapati pemuda itu telah menatapnya terlebih dahulu.

"Sepertinya kau sangat ingin ke jembatan ini."

"Apa terlihat begitu jelas?" Haru mendaratkan tangannya pada sisi jembatan yang terbuat dari kayu. Menatap aliran air yang memberikan suara gemerisik pelan.

"Aku hanya menduga saja. Kau mengatakan ingin tahu bagaimana dunia luar, jadi aku menunjukkannya padamu."

"Terakhir kali aku berada di dunia luar, aku hanya melihat banyak hal menyedihkan. Aku tidak menduga keindahan semacam ini masih ada."

Tatapan Hajime menerawang, "Tempat ini adalah satu dari beberapa yang berhasil dilindungi. Peperangan mulai menjauh dari negeri ini, itu adalah kabar baiknya. Sebagian besar, masih berusaha untuk meredakan pertikaian dengan jalan damai. Aku salah satu orang yang harus turut serta. Bukan dengan pedang, namun pikiran."

"Ada banyak cara untuk melindungi, ya. Kuharap negeri kita akan cepat damai, walau aku tidak dapat membantu."

"Masih ada banyak hal bagus yang bisa kau lihat dan dapatkan."

"Kenapa kau melakukan hal ini untukku, Hajime?"

"Kenapa tidak? Kau pantas mendapatkan hal yang kau inginkan. Aku hanya mewujudkan sebagian kecilnya."

XoXo-XoXo-XoXo

Nona muda dari keluarga Shimotsuki, mendapati gadis itu berada dihadapannya sungguh membuat Haru terpukau. Gadis itu tentu memiliki tingkatan yang berbeda dengan geisha, namun dia terlihat begitu anggun dan bersahaja seperti Rikka. Tatanan rambutnya sederhana, tanpa ornament meriah sepertinya, hanya digerai dengan sebagian diikat pita merah namun itu membuatnya terlihat cantik. Kimono putih bermotif bunga kamelia merah sangat pas ditubuhnya yang ramping. Cantik sekali.

"Ini kiranya teman lama Hajime-sama yang bernama Haru. Aku sungguh ingin bertemu denganmu." Shun mengucapkan sapaannya dengan senyuman.

Hajime menatapnya tenang. Begitu pula dengan sikap Shun.

Haru menunduk sebagai sapaan selama beberapa waktu. "Aku tersanjung nona muda ingin bertemu dengan orang biasa sepertiku."

"Bagiku apapun yang berhubungan dengan Hajime adalah hal menarik."

"Maaf aku terlambat—"

Di belakang gadis bersurai putih itu, Haru mendapati seorang lelaki menghampiri mereka dengan tergesa. Pandangan mereka bertemu satu sama lain. Sama dengan keterkejutan di dalamnya.

Shun tersenyum tipis, "Perkenalkan, Kai adalah pengawalku. Dia orang yang cukup hebat."

"Itu terlihat jelas, Shimotsuki-sama."

"Fufufu, tapi tentu saja, di mataku Hajime adalah orang yang paling mengagumkan." Mata gadis itu berbinar saat mengucapkannya.

Hajime berdehem, "Shun."

"Oya~ sebenarnya aku ingin berbincang lama dengan Haru. Namun aku datang untuk Hajime, karena ada pertemuan yang harus dihadiri sebentar lagi."

"Aku tidak melupakan hal itu, Shun."

"Tentu saja aku tahu, Hajime, aku hanya ingin pergi ke sana bersamamu. Jadi—tentunya ku harap Kai tidak keberatan untuk menemani Haru beberapa waktu. Hm~ mungkin, kalian punya banyak hal yang bisa dibicarakan." Ucapan Shun terdengar penuh makna.

"Ya—tentu saja." Kai menjawab. "Karena jika Shun bersama Hajime, maka itu adalah hal yang tidak perlu dikhawatirkan."

"Sore nanti kita akan bertemu lagi, Haru. Aku sangat ingin melihat pertunjukan kesenian yang akan kau tampilkan." Shun menangkup kedua tangannya, matanya penuh ketertarikan.

Haru tersenyum simpul, "Saya akan berusaha menampilkan yang terbaik."

Lambaian tangan dari Shun adalah hal yang terakhir ditangkap oleh netranya, ketika dia menoleh pada Kai, pemuda itu turut menatap arah kepergian dua orang itu.

"Sungguh nona muda yang cantik dan ramah."

Kai menghela napas, "Kau jangan tertipu dengan penampilan luarnya. Dia nona muda yang senang melakukan hal sesukanya."

"Benarkah? Aku melihatnya sebagai gadis yang anggun."

"Shun adalah orang yang senang melakukan hal tak terduga. Itu tidak buruk, hanya saja terkadang merepotkan. Bagusnya adalah dia hanya mematuhi ucapan Hajime."

"Dari caramu berbicara tentang mereka, tampaknya kalian cukup akrab."

"Kalau aku pikir lagi, aku sudah bersama mereka selama tiga tahun lebih sekarang. Semenjak aku bekerja menjadi pengawal. Waktu itu aku berusaha mencarimu, lalu aku bertemu dengan Shun dan Hajime."

Haru mendengarkannya, menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang telah melalui banyak hal.

Kai juga sama.

"Ah, baiklah. Aku merasa sangat beruntung karena ditemani oleh seorang maiko tanpa harus membayar. Mari menikmati waktu ini seperti di masa lalu, Haru."

Haru menahan tawanya, "Kau harus bekerja dengan benar, tuan pengawal."

Kai melipat tangan, menaik-naikkan alisnya, "Ini namanya menikmati pekerjaan, haha. Baiklah, aku akan menunjukkan tempat-tempat yang bagus."

"Setiap sudut tempat ini terlihat bagus."

Kai masih menampilkan senyuman lebar, "Dunia begitu luas, yang kau lihat ini hanyalah sebagian kecilnya. Aku akan menunjukkan lebih banyak padamu!"

XoXo-XoXo-XoXo

"Tempat ini?!" Haru menatap Kai tidak percaya. Pandangannya berganti, tertuju pada Kai lalu tempat dihadapannya. Mereka meninggalkan pesta, berjalan menuju keramaian kota selama beberapa waktu, hingga berhenti pada bangunan besar bernama perpustakaan kota. Berbeda dengan distriknya yang selalu terlihat para geisha maupun maiko, di kota tempat sekarang ia berada berbeda. Dia merasa menjadi sosok langka, menarik perhatian orang-orang yang menyusuri jalan. Tentunya karena penampilan riasannya berbeda dengan para wanita pada umumnya. Namun Haru tidak terlalu memikirkannya, Rikka selalu mengingatkannya untuk bersikap layaknya seorang geisha dimanapun ia berada—disaat dalam balutan kimononya.

"Apakah kita bisa memasuki tempat ini?!" nada suara Haru sedikit berbeda, jelas lebih bersemangat.

"Aku memiliki lencana berlambang keluarga Shimotsuki. Jadi ya, kita bisa masuk."

"K—kalau begitu—"

"Haha, aku tahu kau akan menyukai tempat seperti ini. Tapi kita hanya punya waktu sebelum menyentuh sore."

Kai yakin, Haru sanggup berada di tempat seperti ini selama seharian penuh, menghabiskan waktu dengan buku-buku tebal yang berdebu. Dia masih sama.

"Tempat ini lebih besar dari yang ada di distrik kami. Di sana banyak buku seni. Aku belum pernah melihat buku yang seperti ini." Haru meraih sebuah buku tebal yang memiliki ilustrasi ditiap lembarnya. Dia menatapnya penuh minat.

"Itu novel terjemah. Kau bisa mencari buku yang menarik. Karena meminjamnya akan sulit untukmu, nanti aku akan mencarikan salinannya untukmu di toko buku."

"Benarkah?"

"Asalkan tidak semua buku saja," Kai tertawa hambar.

"Tapi semuanya terlihat menarik!"

"Wah—ini berbahaya." Gumam Kai begitu melihat Haru yang telah fokus pada kumpulan buku-buku pada rak. Semangatnya begitu kentara di mata Kai. "Aku terlupakan."

XoXo-XoXo-XoXo

Ini merupakan salah satu hal sulit bagi Haru, menentukan satu buku dari beberapa yang sangat ingin dia baca dengan lebih serius. Jika saja dia memiliki lebih banyak waktu. Haru sedikit berharap dalam hati, meskipun tidak mengatakannya. Tapi pikirannya berkata ini sudah cukup.

(Bersyukurlah.)

Dalam perjalanan pulang, sebuah buku didekapnya erat. Bukan buku perpustakaan, melainkan salinan yang ternyata benar-benar dibelikan Kai dari toko buku. Diberikan Kai setelah acara jamuan selesai. Ia begitu ingin melanjutkan membaca isi ceritanya. Namun sebelum itu, ada banyak hal yang harus dia lakukan sebagai seorang maiko. Buku ini harus menunggu.

"Kukira kau terlihat senang karena mendapatkan kimono baru lagi," Wakaba menyapanya, salah satu teman sesama maiko di okiya.

"Ini buku." Haru menoleh pada Wakaba, disela menikmati waktu luang dari kegiatan menemani Rikka. Waktu yang jarang ada dalam kesehariannya.

Wakaba tertawa, "Aku tahu itu buku. Kau membacanya sangat serius dan terlihat menyenanginya."

"Membaca adalah hal yang menyenangkan."

"Tidak semua orang beranggapan begitu. Sekarang aku tahu kenapa kau sangat pandai dalam literatur dan seni."

"Kau akan menikmati pekerjaan yang sesuai dengan kesukaanmu."

"Itu benar," Wakaba berputar, memberikan gerakan tarian yang bersemangat dengan kipas di tangannya, "Aku suka menari."

"Kau akan terlihat hebat di teater, menarikan tarian musim semi, dan dilihat oleh banyak orang."

"Hei, kau juga akan tampil di sana. Kau tahu kenapa aku datang padamu, kan? Sudah waktunya kita untuk berangkat ke kaburenjo."

Haru tersadar, "Oh, sudah waktunya? Aku akan segera bersiap."

Ah, Haru ingin membaca bukunya.

XoXo-XoXo-XoXo

Mereka telah belajar tari bahkan semenjak awal ketika mereka ditentukan akan menjadi geisha. Untuk persiapan tarian musim semi kali ini, Haru akan turut serta dalam penampilan di teater yang akan disaksikan banyak orang. Tentunya jadwal mereka berlatih menjadi lebih banyak. Berhati-hati terhadap insiden kecil yang bisa membuat posisi mereka digantikan. Meskipun tadinya Haru setidaknya ingin membaca beberapa lembar buku yang didapatnya tempo lalu. Sekarang dia harus fokus terhadap gerakan-gerakan tari dibanding mengingat isi bukunya. Ah, dia harusnya mengingat bahwa nanti malam harus ikut Rikka ke perjamuan di ochaya. Harinya yang sibuk kembali seperti biasa.

Musim semi, dengan segala keindahan dan keramaiannya di distrik geisha seakan tidak pernah ada habisnya. Terutama dengan segala acara-acara yang menampilkan pesona para geisha dengan keterampilan seninya. Juga dari para aktor kabuki atau pertandingan sumo. Bahkan, meski Haru adalah salah satu bagian dari penampil seni, dia selalu mengagumi kehebatan mereka, selalu membuatnya tersadar bahwa apa yang dia lalui selama ini masih belum cukup.

"Itu adalah penampilan yang mengagumkan."

Ucapan Hajime terdengar tulus, ia memang sudah berlatih dengan keras. Namun Haru berpikir dia masih belum cukup baik dalam melakukannya.

"Aku—tersanjung karena kau mengatakannya seperti itu, tuan muda. Meskipun kenyataannya masih tak sebanding dengan yang lain."

Kai melipat tangannya, "Kau berkata seperti itu, namun jika itu aku, aku tidak yakin bisa melakukan gerakan semacam itu," Membayangkan dirinya menari gemulai, pasti akan terlihat aneh. Memang, dirinya lebih cocok bersanding dengan tombak atau pedang dibanding kipas hias berpoles lukisan bunga teratai.

"Aku, akan menari seperti itu jika kau menginginkannya Hajime! Haru tentu tidak keberatan mengajariku, kan?"

"Aku akan lebih terkesan jika kau lebih serius pada pelajaranmu, Shun." Ucap Hajime

"Seperti yang Hajime katakan, kau harusnya lebih serius pada pelajaran dari Sakaki-san." Kai menambahkan.

"Hm~ meskipun terlihat santai, aku sebenarnya cukup serius. Haru, apa aku terlihat begitu santai?" Shun tampak tidak puas karena tanggapan dua pemuda itu.

"Tolong, untuk memanggilku Yayoi di sini—" Haru berujar pelan. "—dan kamu terlihat cukup serius, nona muda."

"Kalau begitu, menari—"

"Pelajaranmu." Hajime memberikan jentikan di dahi Shun.

"Hai, Hai. Kalau Hajime sudah berkata begitu." Shun menangkup kedua pipinya.

Ah, manisnya. Tingkahnya terlihat lugu dan manis di mata Haru, hingga dia menyembunyikan senyum dibalik kipas hias yang dibawanya.

"Lihat keramaian itu, kenapa ada banyak perempuan di sana?" Shun menunjuk para perempuan berkimono yang berkerumun.

"Sepertinya itu penjual ornamen. Ada banyak hiasan yang bagus di distrik ini."

"Baiklah, ayo ke sana." Shun menarik lengan Haru kemudian. Membuahkan desahan dari Hajime dan Kai.

Ada banyak benda yang menarik untuk dimiliki, dimulai dari jepit rambut, kalung, gelang, sisir, berbagai hiasan, hingga obi dan kain sutra. Bahkan barang-barang aneh yang terlihat antik.

Haru tidak mengerti kenapa Shun malah mengambil sebuah topeng kayu yang besar.

"Ini—sepertinya cocok untuk Kai." Ucap Shun serius.

Haru harus menahan tawa atas ucapan sang nona muda. "Sepertinya iya."

"Bagaimana dengan jepit ini?" Shun mencoba sebuah jepit rambut berbentuk bunga mawar merah pada rambutnya.

Haru melihat-lihat segala hiasan rambut aneka bentuk, "Kupikir bunga kamelia cocok untukmu, nona muda."

Bunga kamelia cocok untukmu.

Ada jeda sejenak diantara mereka, sungguh kata-kata yang familiar bagi Shun. Hingga ia tersenyum tipis karenanya.

"Kalau begitu, coba pasangkan untukku."

Cantik dan anggun.

Haru tidak berniat membeli ornamen apapun. Tidak cukup tertarik untuk menambah koleksi hiasan di kepalanya. Tapi sebuah shiori—boneka washi pembatas buku yang berada di sudut meja penjual cukup menggoda perhatiannya. Shun menyadari itu, meraihnya terlebih dahulu.

"Aku akan membelikannya untukmu!"

"Terima kasih."

Benda itu murah dan sederhana. Namun Haru sangat menghargainya.

"Ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini. Sekarang aku mengerti kenapa para lelaki menyenangi tempat semacam ini." Shun melirik Hajime dan Kai bergantian. "Tempat yang indah, dan wanita cantik bertubuh menggoda. Sungguh tempat memuaskan bagi mereka."

Hajime melirikkan mata ke arah lain, sedang Kai hanya berdehem.

"Jika anda mengucapkannya seperti itu, itu benar. Namun tentu ada banyak alasan lain, termasuk untuk menikmati perjamuan dan berbagai seni." Haru mengutarakan pendapatnya.

"Aku hanya mengucapkan pandangan secara umum. Eh, apa yang sedang dibuat orang itu? Terlihat enak." Tiba-tiba topik pembicaraan berubah lagi.

"Itu penjual es serut sepertinya. Memang selalu ramai." Tatapan Haru tertuju pada arah jemari Shun.

"Es serut? Seperti apa itu? Aku ingin mencobanya. Kai!"

Kai memberikan cengirannya, sudut matanya melirik Hajime. "Bagaimana dengan izin dari Hajime-sama?"

"Ha~ ji~ me~"

Semua pandangan tertuju padanya, terutama dari Shun yang menatapnya penuh harap. Hajime kemudian mengiyakan dengan singkat, "Baiklah."

Untuk Haru ini cukup aneh, rasanya seperti tidak sedang menjadi maiko ketika bersama ketiga orang itu. Seperti sedang bermain-main dengan teman. Keseriusan dan tata krama yang harus dijaga, bagaimana setiap tingkahnya harus dipikirkan, seakan tidak berlaku jika bersama mereka. Bukan berarti Haru tidak menyukainya, hanya saja Haru tidak terbiasa. Namun Haru mengakui, ini adalah salah satu saat yang dia senangi dibanding berada di perjamuan untuk menuangkan sake.

Ia mengiringi langkah Hajime dan Shun di belakang, Kai berjalan santai di sampingnya. Kedua tangan Kai berada di tengkuk, dan tatapannya menjelajah jalanan distrik yang penuh lentera merah.

Haru mempercepat langkahnya, untuk menyamakan langkah dengan Kai. "Jadi nona muda tidak tahu es serut?"

Kai menoleh padanya, "Ah, sudah kuduga kau akan menanyakannya. Shun tidak tahu banyak kehidupan rakyat jelata. Mereka di dunia yang berbeda, kau tahu. Hidup mereka tidak senyaman kelihatannya, penuh tekanan dan aturan dari keluarga serta orang sekitar karena membawa nama marga yang hebat. Sejak terlahir, jalan hidup mereka telah ditentukan." Kai tersentak kemudian, "Yaa, tentu saja, itu tidak bisa dibandingkan dengan kehidupanmu ataupun diriku. Setiap orang tentunya memiliki kesulitannya masing-masing. Tapi kita akan tetap beranggapan bahwa Shun maupun Hajime—mereka adalah orang-orang yang lebih beruntung."

"Mereka tidak tahu hal-hal sederhana yang dapat membuat bahagia. Dan kita, tidak mengetahui kemewahan yang mereka nikmati. Sebenarnya kitapun adalah orang-orang yang beruntung, bukankah begitu menurutmu?"

"Kau benar." Kai mengiyakan dengan mantap, "Aku beruntung bisa bertemu denganmu lagi."

XoXo-XoXo-XoXo

[tbc]

XoXo-XoXo-XoXo

a/n: kalo searching di gugel, subtle melancholy itu adalah color pallete—perpaduan warna ungu ke hijau (sepertinya sih). Kayaknya tema yang cocok buat ff ini.

Hajiharu/Kaishun [black vers] bisa dibaca di ao3.

Kalteng, 30/11/2018

-Kirea-