XoXo-XoXo-XoXo

Subtle Melancholy

[White Version]

XoXo-XoXo-XoXo

.

.

.

Bulan penuh petal bunga sakura mulai berlalu, hingga menari di teater tidak lagi menjadi kegiatan utama mereka. Tidak lagi diperlukan kehati-hatian terhadap insiden yang mungkin dapat membuat mereka terluka—karena tentu saja, saat-saat festival banyak para maiko menginginkan kesempatan untuk tampil, bagaimanapun caranya.

Sore itu, kembali terdengar derap langkap kaki semakin mendekat ke ruangan tempat Haru berada. Membuatnya menutup buku segera dengan pembatas buku. Ada jeda sebelum Hina meminta izin untuk membuka kamarnya. Haru mempersilakan, mendapati Hina terlihat cukup kesusahan membawa sebuah kotak kayu ke kamarnya.

"Untuk Yayoi-san!"

Haru berdiri untuk membawanya, sedikit iba untuk gadis kecil itu. Hina pasti telah cukup kesulitan membawa kotak itu padanya yang berada di lantai dua okiya. Namun dibanding kelelahan, Haru mendapati gadis itu menatap apa yang dibawanya dengan penuh minat.

"Kau ingin tahu apa yang aku dapat?"

Surai gadis itu bergerak lucu karena dia mengangguk dengan cepat. Haru sendiri tidak tahu apa yang dia dapat dan dari siapa benda itu. sedikit mengejutkan bahwa kotak itu lebih berat dari perkiraannya. Meletakkannya perlahan, Haru mendapati isinya yang dipenuhi buku. Hingga dia terkesima beberapa saat.

"Apa itu?" pertanyaan Hina memecah lamunan sesaat milik Haru.

"Ini buku."

"Ohh…" gadis itu mengangguk-angguk. Sepertinya tidak menduga isinya adalah benda seperti itu. kiranya ia akan mendapati kimono indah seperti tempo lalu.

"Tunggu sebentar," Haru bangkit dari duduknya, membuka laci kecil miliknya, dan memberikan beberapa permen manis untuk Hina. Membuat Hina kembali tersenyum senang. Sebelum pergi keluar dari kamarnya.

Haru pikir dia hanya akan mendapat satu saja, yaitu satu buku yang sedang dibacanya. Namun sepertinya Kai cukup berbaik hati, memberikan buku-buku yang dia ingin baca di perpustakaan beberapa waktu lalu. Kai pasti memperhatikannya yang kesusahan menentukan buku yang sangat ingin diinginkannya.

[Aku perlu waktu mencari salinan buku-buku yang kau inginkan. Selamat membaca. –Kai.]

Haru mengambil satu buku dan memeluknya, aroma kertas yang selalu mengesankan di penciuman adalah hal yang disukainya.

XoXo-XoXo-XoXo

Ritual mizuage—ritual kedewasaan, salah satu makna terselubungnya adalah menjual keperawanan dengan harga tertinggi kepada penawar. Jalan maiko untuk menjadi geisha sejati. Mereka para maiko akan memberikan ekubo— kotak merah yang khusus dibagikan kepada orang-orang yang diharapkan tertarik dalam penawaran mizuage. Tentu saja, semakin terkenal dan mengesankan sang maiko, harga pelelangan mereka akan semakin tinggi. Hingga dapat membantu mereka melunasi hutang selama tinggal dan hidup di okiya kepada oka-san.

Untuk Haru, dia juga tentunya harus melunasi hutangnya selama tinggal di distrik dan mendapatkan pendidikan, meski tidak sebanyak yang lain. Sebagian mungkin tidak menikmati pekerjaan geisha, dan menjadi geisha karena terpaksa. Haru, tidak sepenuhnya terpaksa. Ia yang memilihnya. Dan kemudian jatuh cinta pada seni itu sendiri.

Tidak semua hal menyenangkan. Ada saat-saat yang berat, namun ia melaluinya. Musik, tarian, sastra, semuanya adalah hal yang sekarang ia cintai. Dibanding menuang sake, mengucapkan canda pada tamu, Haru menyenangi saat-saat menampilkan keindahan seni yang telah dipelajarinya dengan kerja keras. Karena itulah, Haru lebih dikenal karena kesukaannya pada seni, selain itu ia juga geisha yang memiliki intelektual tinggi. Tentu saja, banyak para laki-laki yang mengagumi tipe wanita seperti itu.

Semakin dekat waktu untuk maiko, semakin gencar sang one-san membantunya dalam memberikan ekubo kepada pria-pria yang sering mereka temui dalam perjamuan. Bahkan Rikka menperkenalkannya pada Takamura Shiki dan Murasei Dai.

Ada beberapa kotak ekubo yang ada pada Haru, ia menatapnya dengan helaan napas setiap kali memikirkannya.

"Apa kau belum memberikannya pada tuan muda yang sering bertemu denganmu itu?" Wakaba tentu menanyakan hal itu karena melihat raut wajah Haru terlihat gelisah.

"Haruskah?"

"Jika dia tertarik padamu, tentu dia akan ikut dalam penawaran. Terutama jika kau memberinya ekubo, menandakan kalau kau berharap ia mendapatkanmu."

Haru memahaminya, itu pula yang dikatakan oka-san dan Rikka padanya. Namun, Hajime adalah sahabat lamanya. Terlebih lagi, pemuda itu memiliki tunangan—Shun yang bersikap baik padanya. Tentu saja, mizuage adalah hal yang penting pula untuknya. Tapi Haru tidak tahu bagaimana jadinya pandangan mereka untuknya jika memberikan benda ini. Sebelum bertemu mereka, Haru tidak mempermasalahkan apa-apa saja yang terjadi padanya. Bahkan jika itu tentang mizuage yang entah nantinya dengan siapa. Namun kenapa sekarang harus ada nama Hajime terlibat di dalamnya?

"Hajime—tuan muda itu memiliki tunangan, kau tahu? Gadis anggun, cantik dan baik hati. Bukankah rasanya tidak baik melakukan ini padanya, disaat aku mengenal sang nona muda?"

"Bagi oka-san ini adalah bisnis, dan tuan muda itu adalah klien yang penting. Calon geisha tidak memikirkan cinta seperti itu."

Bagaimanapun Haru melewati hari-harinya, ia tidak ingin melukai siapa-siapa, terdengar kekanakan, tapi begitulah yang ia harapkan. Ia hanya ingin hidup dengan damai. Tentu saja, semua orang juga berharap seperti itu.

"Tidakkah kau ingin memberikannya kepada orang yang dekat dan kau kenal? Siapa yang tidak ingin dengan orang seperti Mutsuki-sama?"

"Kupikir dia tidak menatapku dengan pandangan seperti itu. Begitu pula denganku."

"Yayoi, kita tidak memiliki pilihan. Tetapi, jika ia memilihmu, maka kau beruntung."

XoXo-XoXo-XoXo

Mereka tidak bertemu sesering itu, hanya kadang saja dalam acara perjamuan, beberapa kali berjalan-jalan bersama. Baik itu Hajime sendiri, bersama Kai maupun Shun. Namun tentu saja, sosok dengan derajat tinggi disertai ketampanan selalu mudah untuk diingat.

Rikka mendorong bahunya, meskipun masih ada ragu-ragu dalam perasaan Haru. Ia berjalan lambat menuju Hajime yang berbicara dengan beberapa orang di pesta. Mudah saja, dia harusnya memberikan ekubo kepada Hajime.

Dia sampai di dekat pemuda itu tapi tidak mengatakan apapun selama beberapa waktu.

"Ada apa?" Hajime berbalik untuk menatapnya.

"Untuk anda, jika—tertarik untuk berpartisipasi." Haru menyerahkan ekubo dengan sungkan.

Untuk beberapa saat mereka diam, namun Hajime menerima benda yang diserahkannya.

"Aku akan memikirkannya."

Sungguh, Haru merasa sungkan.

XoXo-XoXo-XoXo

Sulit untuknya, menuliskan surat dan mengirim secara rahasia. Perlu biaya tambahan untuk hal itu. Tentu saja bukan itu masalah utamanya.

Distrik geisha adalah tempat yang selalu indah, meskipun dulu pernah turut mengalami kerusakan karena perang. Jalanan dan okiya kembali dibangun hingga kembali beroperasi. Walau didampingi oleh maiko cantik, Kai tidak tahu harus bersikap seperti apa selain memandangi lentera hias yang terpasang disetiap ochaya, di sepanjang jalanan pepohonan dedalu dengan daun menjuntai menjadi pemandangan mengesankan. Mereka telah berjalan dalam diam di keramaian. Cukup mengejutkan baginya untuk mendapat surat, terutama dari Haru yang isinya meminta untuk bertemu.

Mungkin Haru ingin memintanya membelikan buku sastra baru?

Kai masih menunggu untuk Haru memulai berbicara terlebih dahulu. Tapi hal itu tampaknya tidak akan terjadi dalam waktu cepat.

"Tidak ada masalah dengan nona Shimotsuki, kan?"

"Huh? Ya—tidak ada masalah apapun. Kenapa kau bertanya tentang hal ini?" Kai merasa cukup terkejut karena tiba-tiba pembicaraan mereka seperti ini.

Haru menghembuskan napas lega, "Baguslah kalau begitu."

Perlu waktu baginya untuk bercerita pada Kai, meskipun harusnya ini adalah masalah pribadinya sendiri. Namun ini adalah tentang Hajime dan Shun, juga dirinya.

"Aku hanya takut telah melakukan hal yang tidak layak dan mengusik mereka. Aku tidak mempermasalahkan dengan siapa mizuage itu nantinya."

"Kau tidak memberikannya padaku juga? Ekubo itu." Kai bertanya pada akhirnya.

XoXo-XoXo-XoXo

Rikka mengatakan, nama lelaki yang memberikan penawaran tertinggi. Tentu saja, Rikka menceritakan tentang siapa saja yang memberikan suara untuknya. Ada nama Hajime, Sakamoto, juga beberapa pejabat yang biasanya memuji penampilan saat ia membacakan puisi-puisi. Sayangnya, Haru tidak mengenali nama lelaki yang akan menghabiskan malam dengannya. Namun ia mendengar bahwa pemuda itu menawar dengan harga yang paling tinggi. Hajime tidak turut menawar angka yang lebih tinggi setelah hanya ada persaingan antar empat orang yang terus menerus meninggikan angkanya. Jika Haru pikir dengan baik, itu berarti bahwa Hajime hanya berniat untuk melambungkan harganya tanpa niatan pasti untuk membeli mizuage-nya. Karena semakin tinggi harga mizuage, semakin banyak hutang yang dapat dilunasi pada okiya.

Haru tidak mengira Hajime melakukan hal seperti itu untuknya. Baginya tak apa bahkan jika Hajime hanya mengabaikannya. Ia tidak ingin merusak apapun. Hingga ia hanya bisa berpikiran, apa yang Shun pikir tentang dirinya jika tahu Haru menyerahkan ekubo pada Hajime. Akankah nona muda itu masih menatapnya dengan pandangan yang sama. Atau ia marah karena telah lancang bersikap demikian.

Pintu digeser, dan Haru memasuki ruangan. Tentu dengan debaran dan desiran karena tempat ini mengesankan dibandingkan pembayangannya. Meskipun lukisan di dinding terlihat indah, fokusnya segera tertuju pada sosok orang yang telah berada terlebih dahulu darinya. Hingga kemudian mereka saling memberikan salam.

"—jadi… Fuduki-san?"

"Kau bisa memanggilku begitu."

"Aku tidak tahu itu adalah nama margamu, Kai."

"Haha, kau terkejut? Apa kau mengharapkan pejabat muda yang tampan menunggumu?"

Suasana tegang itu luntur seketika karena tawa Kai yang renyah. "Menurutku aku cukup tampan, tapi aku bukan pejabat muda yang kaya raya."

"Sejujurnya—aku tidak berharap banyak tentang hal seperti itu. Jadi apa kau dan Hajime merencanakan hal ini?"

"Oh, Hajime tidak tahu tahu tentang hal ini. Shun mengurus semuanya dengan baik."

"Untuk hal semacam ini, kau telah mengorbankan banyak uang, kau tahu?"

"Bukan masalah besar, aku menyimpan uangku dengan baik—dan sedikit bantuan dari Shun."

"Kau bisa menggunakannya untuk hal yang lebih berguna."

"Hei—itukah yang harus kau katakan kepadaku. Aku sudah memperjuangkanmu, lho. Melawan para pejabat itu hingga semakin lama rasanya semakin membuat berkeringat."

"Karena itulah, kenapa kau malah melibatkan dirimu seperti ini."

"Kamu lebih berharap Hajime yang memenangkannya?"

"Tidak—bukan itu maksudku… hanya saja, aku tidak mengerti kenapa kau melakukan semua ini."

"Bukankah sudah jelas?" Kai tersenyum lembut padanya.

'Jelas bagaimana…?' Haru tidak menyakini yang terlintas dipikirannya.

Kai menarik napas panjang, "Jujur sekarang aku merasa tegang—ah, bukan tegang yang seperti itu—gugup! Ya itu maksudku! Aku sebenarnya bertanya-tanya bagaimana tanggapanmu ketika melihat diriku yang berada di sini. Jadi, apa kita akan mengobrol lebih lama, atau melakukannya sekarang…?"

XoXo-XoXo-XoXo

Kerah kimono Haru berubah warna dari merah menjadi putih dan ornamen rambut yang berkurang berarti bahwa ia menjadi geisha. Kimono berkerah putih hanya untuk para maiko. Namun hari-hari masih berlalu seperti biasa, hanya pandangan Haru tentang dunia menjadi sedikit berubah. Ia masih menjadi seseorang yang harus datang pada ochaya, menari, bersenda gurau, bermain musik juga menuangkan sake. Dia seorang geisha yang hebat.

Mengingat masa lalunya, Haru telah kehilangan bermacam hal. Meskipun yang dia miliki tidak banyak. Haru merenung, menatap langit dari beranda tempatnya berada. Ia telah menemukan banyak hal sekarang. Tempat tinggal, okasan, onesan, adik-adik perempuan, teman, klien… terlalu banyak yang bisa disebutkan. Ia tak lagi kelaparan ataupun kedinginan.

Itu sudah cukup.

"Pernahkah kau berpikir, apa yang akan kau lakukan ketika dapat memiliki kebebasan Yayoi-san?" pertanyaan Nagatsuki menghempaskan ia dari lamunan.

Haru tidak pernah terpikir tentang hal itu, tentu saja suatu hari nanti hutangnya pada okiya akan lunas jika popularitasnya tetap bagus dan ia bisa mengambil keputusan tentang hidupnya. Beberapa geisha biasanya ada yang memilih pergi, menjadi istri kesekian dari seorang bangsawan, atau tetap melanjutkan hidup mereka sebagai geisha. Beberapa keputusan bisa saja membuat hidup mereka menjadi lebih buruk dibanding tetap menjadi geisha. Yang lainnya mungkin tidak memiliki pilihan, dan harus menjalani seumur hidupnya di distrik ini karena tidak mampu membayar.

Jika waktu itu tiba, Haru pikir tidak masalah untuk terus menjalani hidup sebagai geisha, mereka hidup terikat berbagai aturan namun memiliki hidup glamor. Tidak akan berada dalam kelaparan atau merana akibat kemiskinan seperti kebanyakan masyarakat luar sana. Pernah ia melihat bagaimana para petani yang bekerja keras di bawah terik matahari untuk sesuap nasi, sedang ia melewati mereka dengan mobil menuju perjamuan di tempat yang jauh, dimana orang-orang bangsawan itu menikmati tarian, hiburan dan hidangan memenuhi meja.

Hidup tak selalu dilewati dengan mudah, dan kebebasan bagi Haru tidak begitu penting, ia merasa cukup dengan apa yang ia miliki sekarang. Terkurung di distrik geisha tanpa boleh mencintai seseorang. Ia sudah menutup rapat-rapat hal itu dari pikiran dan hatinya.

Cinta, ia tidak pernah memikirkannya.

"Tetap menjadi geisha—mungkin?"

"Huh? Kenapa? Apa kau tidak memiliki hal yang ingin diraih? Mimpi mungkin? Cita-cita?"

"Cita-cita kah?" menerawang beberapa saat, Haru mengingat masa lalu, "Seseorang mengatakan, mungkin aku cocok jadi guru."

"Ah, aku pikir kau pantas menjadi guru. kau selalu mampu menjelaskan sesuatu dengan cara yang mudah dipahami."

"Kau sendiri, menanyakan hal seperti itu padaku, berarti kau sudah memiliki hal yang ingin dilakukan ketika bebas dari okiya?"

"Ya. Aku akan pergi dari distrik ini. Ada seorang pemuda, yang selalu setia menungguku. Kami tidak selalu bertemu, ia tinggal di tempat yang jauh. Desa kami. Namun ia masih menungguku sampai sekarang. kami selalu bertukar surat—secara sembunyi-sembunyi."

"Itu terdengar romantis. Namun akan berbahaya berkirim surat seperti itu."

"Selama tidak ada yang membocorkannya tidak apa-apa. Aku percaya padamu Yayoi-san."

"Jadi, ia pemuda yang tampan?"

Nagatsuki tertawa, "Cukup tampan, ia adalah teman masa kecilku. Ia mengumpulkan uang, begitu pula denganku, meskipun tentu saja sebagian besar bayaran milikku jatuh ke okiya. Mungkin hidupku akan lebih berat ketika keluar dari tempat ini. Namun jika bersamanya, aku yakin kami bisa melewatinya. Seperti waktu-waktu yang telah berlalu. Aku memiliki kebebasan untuk mencintainya. Aku bahagia ketika bersamanya."

Oh, cinta membuatmu memiliki kekuatan seperti itu. Haru tidak memikirkan cinta sedalam itu. Percintaan adalah permasalahan yang awam dibahas oleh mereka.

"Kaa-san akan berduka karena salah satu geisha paling manis yang pandai menyanyi dan menari memilih pensiun saat masih muda."

"Aku bekerja keras untuk kebebasan ini. Lagipula, masih ada Rikka-san, kudengar ia akan menjadi pewaris okiya."

"Itu benar. Rikka-san tentu akan menjadi orang yang semakin ketat pada aturan nantinya. Namun ia orang yang baik."

"Kau sendiri bagaimana, Yayoi-san, apa kamu tidak ada kebahagiaan lain yang ingin kamu miliki?"

Haru tidak segera menjawab, "Aku—sepertinya tidak ada."

"Mungkin maksudmu adalah, belum ada."

Haru rasa, ia cukup puas dengan kehidupannya sekarang.

Sekalipun itu ibarat burung dalam sangkar yang indah.

XoXo-XoXo-XoXo

Ia geisha yang diakui. Oleh karena itu, sudah tentu beberapa tawaran berdatangan dari orang-orang yang ingin menjadi danna baginya. Danna—seorang tuan yang akan menjadi penyokong hidup seorang geisha. Danna akan membiayai berbagai hal untuk geisha, baik untuk keperluan seperti kimono, kosmetik juga hal lainnya. Bagi bangsawan, memiliki dua atau tiga geisha bukanlah masalah, justu membuat mereka terkesan hebat. Hubungan antar Danna dan geisha pun biasanya menjurus pada kegiatan yang intim, tergantung dari kesepakatan yang ditentukan. Tentu saja, tugas utama geisha adalah menghibur dengan keahlian seninya. Namun tidak semua bangsawan berpikir seperti itu. Jika geisha cukup menarik di mata mereka, geisha itu bisa saja mereka beli untuk dijadikan selir atau istri simpanan.

Kenapa nama Hajime muncul lagi dalam daftar danna yang menginginkannya?

Ia tidak mengerti. Itu tidak seperti pemuda itu ada hati padanya. Lagipula sang tuan muda itu telah menikah dengan tunangannya beberapa waktu yang lalu. Ya, tentu saja Haru sangat mengingat hari itu. Ia turut datang dalam acara pernikahan itu. Melihat bagaimana wajah bahagia terpancar begitu jelas dari Shun.

Apakah mungkin karena Kai atau Shun yang meminta?

Memangnya apa yang mereka inginkan dari Haru?

Ia tidak mengerti kenapa semenjak bertemu dengan mereka bertiga ia rasa hidupnya menjadi lebih rumit. Bukan berarti hidupnya menjadi lebih buruk, justru sebaliknya. Haru hanya bingung, kenapa mereka terus menerus memberikan kebaikan padanya. Disaat Haru sudah terbiasa dengan keadaannya yang seperti ini.

"Aku tidak mengerti, kenapa kau melakukannya, tuan muda."

"Kenapa tidak? Aku memiliki kekuasaan dalam hal ini. Aku akan membuat keterampilanmu dilihat banyak orang. Aku juga tidak akan memaksamu melakukan hal-hal lainnya. Atau justru kau berpikiran yang lain?"

"Itu tidak seperti aku mengharapkan orang yang lebih tinggi atau ingin membuat diriku dilihat banyak orang…"

"Aku memilihmu karena kau berbakat, Haru. Kepandaianmu dan hidupmu akan lebih baik jika bersama denganku."

"Lalu, Shun—bagaimana pendapatnya?"

"Tidak ada masalah tentang hal itu. Lagi pula, bukankah aku adalah kandidat danna terbaik yang bisa kau dapatkan?"

"Ucapan itu sungguh penuh percaya diri. Namun itu aku mengakui hal itu, tuan muda."

Hajime memang kandidat danna sempurna untuknya.

XoXo-XoXo-XoXo

"Lihatlah betapa mudah ia memberikan apa saja untukmu jika ia menginginkannya. Jujur aku merasa iri."

"Tapi aku tidak meminta apapun."

"Seseorang akan melakukan apapun, juga memberikan apapun meski tak diminta jika itu untuk orang yang berharga untuknya."

"Kau bermaksud mengatakan kalau tuan muda menaruh perasaan padaku, Kai?"

"Ya. Meskipun aku tidak tahu perasaan apa yang ia tujukan padamu. Maksudku, jika itu adalah cinta, aku memiliki saingan yang berat, benar kan?"

"Sayangnya Kai, kami para geisha tidak diizinkan untuk mencintai seseorang. Itu aturannya."

"Begitu… Apa kau berniat untuk terus berada di tempat ini sebagai geisha, Haru?"

"Aku sejujurnya tidak pernah memikirkan hal sejauh itu."

"Bagaimana kalau pikirkan, sebuah masa depan bersama denganku?"

Kai menunggu sebuah jawaban.

XoXo-XoXo-XoXo

[tbc]

XoXo-XoXo-XoXo

a/n:

laptopku rusak parah, jadi aku kesulitan untuk menulis ff ;_;

halo gaes, kalau ada yang masih buka patungan bd kurenai enishi atau donasi, ajak-ajak aku ya ;_;

soalnya aku ketinggalan /cry/

19/05/2019