Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Datang di hari tanpa jadwal mengajar adalah pantangan bagi saya. Dulu. Sebelum Min-ssaem muncul di kehidupan saya. Gara-gara dia saya jadi rajin ke sekolah walau jadwal saya kosong sama sekali. Tujuannya? Tentulah hanya untuk melihat Min-ssaem. Saya punya seribu alasan untuk pura-pura punya urusan ke sekolah.
Hari itu saya tidak pakai jaket dan celana training kebanggaan saya seperti biasa. Saya hanya mengenakan celana katun dan kemeja salem. Saya tak lupa bersisir. Saya menggunakan sedikit gel supaya rambut saya tetap rapi meski disibak angin. Min-ssaem sendiri yang bilang kalau saya harus berdandan. Saya tak sangka saja dandannya saya bisa mengundang perhatian lebih banyak dari biasa. Sepanjang jalan mau murid ataupun guru melihat saya... Saya sebetulnya agak minder, merasa tak pantas untuk diperhatikan begini. Saya bukan artis.
"Seonsaengniiimmm!"
Saya menoleh ke belakang dan mendapati seorang siswa berlari-lari kecil sambil melambaikan tangannya pada saya. Siswa tingkat 2 itu makin dekat makin lebar senyumnya. Gigi kelincinya sampai kelihatan.
"Seonsaengniimmmm..."
Dia berhenti di depan saya dengan ngos-ngosan. Saat dia menegakkan tubuhnya, saya menyodorkan susu kotak yang sedang saya minum padanya. Dia menyedot susu itu dari sedotan dengan tangan yang juga memegang kotaknya di atas tangan saya.
"Enak." cengirnya. Saya tahu dia suka susu pisang. Kebetulan saja yang saya minum adalah susu kesukaannya.
"Ada apa Kook? Semangat sekali." dia adalah salah satu siswa yang cukup akrab dengan saya. Namanya Jeon Jungkook.
"Saya cuma mau bilang terimakasih sama seonsaengnim."
"Untuk apa?"
"Komik saya lolos seleksiiii! Yaaayyy!" dia berseru dengan tangan terangkat tinggi persis pemain bola sedang selebrasi. Saya berpikir sejenak apa urusannya komik dia yang masuk seleksi dengan saya?
"Oohhh..." akhirnya saya baru ingat kalau beberapa minggu lalu saya sempat membantunya menggambar sketsa untuk komik yang dia buat. Pst, menggambar adalah salah satu hobi saya sebetulnya. "Selamat ya!"
"Ini berkat seonsaengnimmm... kalau seonsaengnim tidak ada komik saya tidak akan lolos seleksi."
"Ah, itu hasil kerja kerasmu, saya hanya membantu sedikit."
Saya mengusak rambut cokelatnya. Si bocah kelinci dengan coconut head itu berseri-seri girang. Nampaknya info soal lolos seleksi itu baru didapatnya hari ini hingga dia masih bereuphoria.
"Seonsaengnim."
"Hm?" saya menyedot sisa susu dalam kotak yang saya pegang hingga suara seruputnya keras terdengar.
"Seonsaengnim mau kencan ya? Rapi sekali."
Saya hanya nyengir kuda. Memang dandanan saya terlihat seperti seorang pria yang hendak kencan ya? Ah bisa saja. Saya jadi malu membayangkan Min-ssaem menggandeng tangan saya di jalanan berbunga.
"Heheh." Alih-alih jujur saya malah cengengesan tak jelas. Terlanjur senang dengan khayalan sendiri. Berharap saja kalau memang Min-ssaem mau berkencan dengan saya.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
"Park-ssaem. Tumben."
Saya berharapnya Min-ssaem yang menyapa saya di kantor, nyatanya malah Jung-ssaem yang ada. Pria yang selalu pakai vest itu tengah membereskan buku-buku yang akan dia bawa untuk mengajar.
"Hari ini tidak ada jadwal olahraga, lho, kalau Anda lupa."
"Memang tidak ada."
"Lantas untuk apa Anda ke sini? Bukankah menghabiskan bensin untuk datang ke sini?" saya pura-pura mencari sesuatu di laci meja saya. "Ah... jangan bilang Anda mau ketemu Min-ssaem?"
"Tidak. Saya ada dokumen yang tertinggal untuk bahan silabus." ucap saya bohong. Padahal dugaan Jung-ssaem kena telak.
"Ooh... silabus untuk bulan depan diserahkan senin, Anda belum selesai mengerjakannya?"
"Belum." saya jawab saja singkat, sambil pura-pura sibuk mencari dokumen. Padahal saya menunggu Jung-ssaem cepat pergi dari kantor.
"Saya ngajar dulu, ya."
"Hem."
Saya baru mendongak ketika dirasa Jung-ssaem sudah meninggalkan kantor guru. Hah, jujur saya agak kecewa karena Min-ssaem tidak ada di sini. Ke mana dia? Setahu saya jam segini harusnya jadwal mengajarnya sudah selesai. Baru ada lagi nanti sehabis istirahat siang.
Akhirnya karena kangen, saya mengikuti insting untuk mencari Min-ssaem. Sebetulnya tempat yang saya tuju hanya satu 'sih. Ruang musik. Saya pikir dia mendekam di sana setelah kelasnya beres. Main piano mungkin.
Beberapa langkah lagi saya sampai di ruang musik. Sayup saya mendengar denting piano dengan irama lembut. Saya yakin seratus persen kalau itu Min-ssaem. Ah, saya tak sabar.
Saya buka pintu itu perlahan, sedikit, hanya supaya saya bisa mengintip. Tapi rupanya yang di dalam sana menyadari kalau pintunya dibuka. Saya mematung di celah pintu. Min-ssaem juga nampak sedikit terkejut.
"Park-ssaem?"
Saya deg-degan melihat betapa bersinarnya Min-ssaem tersorot lampu ruangan yang wattnya besar itu.
"Halo, Min-ssaem..." saya hanya bisa pasang senyum heheh di depannya.
"Apa ada perlu dengan saya?"
"Ah, heheh. Tidak juga. Saya kebetulan lewat dan mendengar bunyi piano. Ternyata tebakan saya benar, Andalah yang memainkan musik indah itu."
"Ah, Park-ssaem..." dia senang dipuji. Dia tertawa malu dan saya berhasil bersilat lidah. Entah kenapa sejak mengenalnya saya jadi rajin berbohong. Tapi tak apalah, demi kebaikan saya juga.
Saya masuk ke ruangan itu. Dia masih duduk di tempatnya dan memandang saya sambil tersenyum. Saya gelagapan sendiri.
"Biasanya saya melihat Park-ssaem dengan baju olahraga, tapi tak sangka Anda sangat cocok mengenakan kemeja dan celana katun seperti itu."
Bahkan pujiannya seperti alunan lagu. Saya melayang sejenak.
"Anda menata rambut?" Min-ssaem menunjuk rambutnya sendiri. Membuat saya sadar pada model rambut acak-acakan saya yang khusus ditata dengan gel demi dia. Saya mengusap rambut ke belakang—sedikit tebar pesona. "Benar-benar seleb sekolah."
"Ah, tidak begitu, Min-ssaem..."
Kami sama-sama senyam-senyum tidak jelas, sampai ketika Min-ssaem menggeser duduknya lebih ke tepian.
"Duduklah."
Saya jelas jadi kikuk. Duduk di samping Min-ssaem? Di hadapan sebuah grand piano? Di ruangan sepi yang hanya ada kami berdua?
Luar biasa. Betapa beruntungnya saya.
"Terimakasih..."
Saya duduk di sampingnya. Kursi yang kami duduki benar-benar pas untuk kami berdua. Kalau saya menjauh sedikit, hanya sebelah pantat saya yang bisa duduk. Jadilah saya mati-matian menahan jantung saya yang hampir melompat tegang demi bisa stay calm. Saya duduk di kursi itu dan memandangnya yang dengan santai mulai memainkan tuts piano itu lagi.
"Anda bisa main piano, Park-ssaem?" tanyanya tanpa menghentikan musik yang dia mainkan itu.
"Sedikit." saya jujur kali ini. Saya memang pernah bermain piano, tapi tak mendalaminya. Saya lebih suka angkat barbel daripada menekan tuts.
"Mainkan lagu untuk saya." dia berhenti seketika. Matanya sedikit melotot dengan bentuk bibir imut. Ini persis seperti kemarin saat dia memaksa saya menerima roti yang dia berikan.
"Saya tidak yakin akan bagus..."
"Mainkan saja... saya mohon..."
Ada sesuatu yang meletup-letup di dada saya ketika dia memohon. Ya ampun, bisa-bisanya saya membuat seorang bidadari seperti Min-ssaem memohon pada saya. Saya ini apaaa?
"Baiklah..."
Saya mulai memikirkan not dari lagu klasik yang masih saya ingat.
Dia tertawa mendengar musik yang saya mainkan. Saya hanya mampu mengingat not dari lagu Fur Elise punya Beethoven. Min-ssaem jelas tahu lagu apa ini. Tanpa bicara, dia ikut memainkan tuts dengan kedua tangannya. Membuat musik yang saya mainkan jadi berharmoni. Saya tak menyangka bisa berduet dengan seorang pianis handal seperti Min-ssaem.
Lagu yang kami mainkan sampai pada ujungnya. Kami saling bersitatap sambil tersenyum. Melihat wajahnya sedekat ini, saya jadi tidak bisa fokus...
Entah mengapa bibir yang seolah dibubuhi lipstick itu sangat memikat.
"Saya rasa Anda sudah mulai mengenal lingkungan sekolah ini. Mana tempat favorit Anda selain ruang musik?" akhirnya saya cari topik untuk mengalihkan perhatian.
"Anda tahu saja saya suka di sini."
"Anda dan piano adalah kombinasi yang sempurna, tak salah, bukan?"
Dia tersipu. Saya mulai bangga dengan kemampuan merayu saya yang semakin terasah. Sedikit banyak saya harus berterimakasih pada Jung-ssaem si guru sastra karena telah memicu saya untuk tak kalah dari puisi-puisi yang dia buat untuk merayu Min-ssaem.
"Saya suka rooftop. Waktu itu saya pernah naik ke sana dan melihat pesawat yang membelah awan jadi seperti ekor monyet."
"Anda suka melihat langit?"
"Hem."
"Nongkrong di kolam renang sekolah dan memandang langit biru atau matahari tenggelam di sore hari juga hal yang bagus. Anda harus coba sekali-kali."
"Tapi... Park-ssaem."
"Ya?"
"Saya tidak bisa berenang..."
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Sabtu sore kolam renang sekolah kosong. Jadwal latihan klub renang hanya di pagi harinya saja. Saya menunggu Min-ssaem berganti pakaian dengan duduk di tepian kolam, menceburkan sebagian kaki saya ke air. Saya telah siap dengan kaos dan celana renang saya—sekedar info, saya tidak suka celana renang yang bentuknya seperti underwear, saya lebih suka celana pendek ketat biasa. Sesekali saya melirik ke arah ruang ganti, menanti sosok cantik itu keluar dari sana.
Gara-gara mimpi saya semalam, saya jadi terus kepikiran. Kemarin Min-ssaem saya tawari diajarkan berenang. Dia setuju dan kami janjian sabtu sore di kolam renang sekolah. Itu saja. Tapi kelanjutannya ada di mimpi saya, tentang Min-ssaem yang berenang tanpa busana...
Sial, mengingat mimpi itu lagi membuat saya deg-degan tidak jelas. Saya mana tahu bagaimana tubuh Min-ssaem, melihatnya saja belum pernah. Yang ada di mimpi itu hanya dikarang-karang.
"Park-ssaem!" saya dipanggil.
Min-ssaem keluar dari ruang ganti dengan kaos putih dan celana pendek yang hanya menutupi setengah pahanya. Baik, saya ulangi, setengah pahanya. Saya sedikit menyesal kenapa dia harus mengenakan pakaian seperti itu, mana sesuatu di bagian dadanya mencuat di balik kaos tipisnya. Belum lagi kaki putih mulusnya yang bisa saya tonton gratis. Ternyata tidak ada bekas luka atau apapun. Mulus seperti jalan tol. Bentuknya bagus, sedikit menyerupai kaki wanita, apalagi saat saya melihat pinggang dan pinggulnya. Ya, bentuknya seperti lekuk wanita. Saya ragu dia ini benar laki-laki atau bukan.
"Saya sudah siap."
"Baik, kita pemanasan dulu ya? Supaya tidak kram nantinya."
Dia mengangguk antusias. Saya berdiri dan mulai mengarahkan gerakan pemanasan. Dengan berdiri berhadapan begini, lumayan, saya dapat pemandangan bagus secara dekat.
Selesai pemanasan saya mengambil sebuah pelampung untuk Min-ssaem. Dia terkekeh malu saat menerimanya. Katanya dia jadi seperti anak SD yang baru belajar renang. Saya 'sih, tidak menertawainya... hanya saja membayangkan anak SD semolek Min-ssaem membuat saya kesetrum.
"Kita latihan di kolam yang itu saja ya? Tidak terlalu dalam, kaki Anda masih bisa menapak dasarnya." saya menunjuk satu kolam dengan kedalaman 150cm. Saya jelas tidak menganjurkannya masuk ke kolam sebelah yang dalamnya 2 meter, bisa-bisa dia tenggelam.
"Licin."
Saya tidak paham kenapa dia senyam-senyum terus sejak tadi. Benar-benar seperti anak SD yang bersemangat belajar renang, sangsi kalau semasa sekolah dia hadir tiap jadwal berenang. Pasti selalu bolos, jadi tidak akrab dengan licin keramik dan becek sisian kolam.
Byur! Saya masuk ke air terlebih dulu.
"Ayo." saya bersandar pada tepian kolam dan menunggunya turun. Min-ssaem duduk dan memasukkan sebelah kakinya ke air, menyusul yang satunya lagi.
"Dingin, Park-ssaem."
Saya tidak terlalu mendengarkan perkataannya saat itu, saya terlalu takjub pada paha mulus di debelah saya. Dia duduk dan celana pendeknya makin tersingkap. Paha itu bahkan sama silaunya dengan air kolam yang terpantul sinar matahari.
"Turun saja." kata saya, tanpa melepas pandangan dari paha itu.
Akhirnya dia benar-benar turun ke dalam air. Dia memekik saat merasakan sensasi dingin yang langsung menyapanya. Dengan sengaja dia juga menenggelamkan diri sepenuhnya selama beberapa detik hanya supaya kepalanya ikut basah.
"Dingiin..." rambutnya dia sibak ke belakang karena mengganggu. Bulu matanya yang juga basah sedikit menyatu helai-helainya. Memejamkan mata saja cantik.
Jangan tanya kabar saya. Saya hanya bisa tahan napas.
"Park-ssaem, apa yang pertama harus saya lakukan?"
"Lihat saya."
"Huh?"
"Eeh, makudnya perhatikan saya. Saya akan memberi contoh."
Ya ampun, saya tidak sengaja bicara dibawah pikiran kotor saya tadi.
"Pelampungnya taruh dulu. Kita mulai latihan menggerakkan kaki." saya mencoba tetap waras. Mencoba, ya, mencoba.
"Oke."
Saya mencontohkan gerakan-gerakan dasar padanya. Dia murid yang baik dan penurut hingga saya tidak capek mengajarinya. Min-ssaem juga nampak bersemangat dan sesekali tertawa senang.
"Saya belum berani berenang tanpa pelampungnya, Park-ssaem..."
"Hmm... ya sudah kalau begitu. Sekarang lancarkan saya supaya bisa maju terus. Lain kali kita belajar lagi sampai Anda benar-benar bisa berenang tanpa bantuan pelampung."
"Baik."
Kami berhenti berlatih saat matahari hampir tenggelam ke peraduannya. Saya dan Min-ssaem bersebelahan di tepian kolam. Saya duduk, dia berebahan. Ditemani minuman isotonik kaleng, kami memandang langit yang mulai gelap itu.
"Park-ssaem." panggilnya.
Saya menoleh dan dia memandang saya dengan ekspresi lembut. Rambut basahnya sudah setengah kering. Hanya saja kaos dan celananya masih basah, jatuh dan membentuk lekuk tubuhnya secara sempurna. Dia memiringkan tubuhnya dan menahan kepala dengan siku sebagai tumpuan. Saya... tidak pernah tahu pose seperti itu bisa terlihat sangat...
"Terimakasih untuk hari ini. Saya senang sekali." dia tersenyum lebar. Saya melihat sebelah tangannya dia selipkan diantara dua kakinya yang tertekuk.
Saya yakin dia tidak sedang menggoda saya. Tapi saya merasa dia sama seksinya dengan model majalah dewasa. Saya menelan ludah. Dia sangat sensual.
"Saya tidak menyangka belajar berenang semenyenangkan ini." ucapnya malu-malu.
Saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya sudah terlalu fokus untuk menata pikiran saya yang berantakan karenanya. Min-ssaem yang habis berenang dan tiduran di tepian kolam adalah satu hal yang berbahaya.
"Kapan kolam renang kosong lagi? Anda tidak kapok mengajari saya 'kan?" dia bangkit duduk denga kaki terlipat seperti mermaid. Kaosnya sedikit melorot hingga celah dadanya bisa saya pandangi. "Park-ssaem?"
Panggilan itu memaksa saya untuk menatap matanya.
"Min-ssaem, Anda mau saya antar pulang?"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
Dan sebenernya kecanggungan itu menyimpan piktornya Jimin yang bukan main kekekekekekek *digampar*
Tapi serius, si Jimin itu ngomong yang cabul-cabul aja mukanya biasa ae. Datar-datar aja. Inget yang dia tiba-tiba ngedatengin Mpi dan kalo ga salah bilang 'yang berbahaya itu bukan punggungnya, tapi *natap anunya Mpi*' dasar bangsyidh kau Jim...
