Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Saya mengantar Min-ssaem ke rumahnya. Tak disangka, dia bertetangga dengan salah satu murid yang akrab dengan saya. Si alien dari tingkat 3, si 4D, si ekstraordinari Kim Taehyung. Kami tak sengaja berjumpa ketika saya dan Min-ssaem sedang berbincang di depan rumahnya.
"Seonsaengnim!"
Bocah dengan kaos oblong kelunturan dan celana loreng pendek itu berteriak ketika dia melihat saya. Saat dia berlari mendekat, kantung kreseknya ribut. Isinya pasti cola dan teman-temannya.
"Min-seonsaengnim!"
Dia membungkuk sopan pada kami sambil cengengesan. Cengengesannya itulah khasnya dari si Taehyung ini. Di mana-mana cengengesan, kemana-mana cengengesan, tiap saat cengengesan, bahkan di depan gurunya pun dia cengengesan.
"Taehyung habis dari warung ya?" tanya Min-ssaem lembut.
"Iya, habis beli jajanan untuk teman nonton film." ucap anak itu girang.
"Bukannya belajar, kamu ini." cibir saya.
"Besok minggu, Park-ssaem... saya tidak perlu belajar untuk hari minggu."
Oh, iya ya. Ini sabtu. Berarti besok minggu. Saya juga baru sadar kalau saya melewati malam minggu bersama Min-ssaem. Walau hanya sampai jam tujuh malam.
"Park-ssaem sedang apa di sini?" dia bertanya tapi kemudian roaming sejenak, seperti mencari jawaban sendiri. "Walah, habis kencan dengan Min-ssaem ya? Mengantar Min-ssaem pulang ya?"
Saya nyengir kuda. Cengengesannya Taehyung makin lebar. Min-ssaem pun tidak bicara apa-apa. Mungkin dia malu mengakui kalau dia habis belajar berenang bersama saya.
"Taehyung mau mampir ke rumah?" tawar Min-ssaem. Bocah ceking itu menggeleng sambil cengengesan.
"Saya ada teman-teman dari sanggar di rumah, tidak bisa ditinggal." dia pernah bilang pada saya kalau dia ikut sanggar teater diluar sekolah.
"Ohh... ya sudah tidak apa."
"Saya masuk ke rumah dulu ya, Min-ssaem, Park-ssaem! Selamat malam minggu!"
"Selamat sabtu malam!" jawab saya.
"Itu sama saja, bukan?" saya tak menyangka akan dapat pukulan pelan di bahu saya. Min-ssaem tertawa geli. Saya garuk-garuk tengkuk malu. Situasinya bikin saya merasa seperti kami baru saja pulang dari kencan pertama.
"Kalau begitu saya pulang dulu, ya Min-ssaem. Senang sudah menghabiskan waktu bersama Anda."
"Anda tidak mau mampir dulu?"
"Ah?"
"Nanti saya buatkan teoppoki."
Saya berakhir di meja makan Min-ssaem dengan teoppoki dalam mangkuk besar yang kami makan bersama. Isi teoppoki itu lengkap sekali. Selain kue beras, ada oden, tahu kering, sosis, telur, belum lagi daun bawang yang dia potong panjang-panjang. Saya hampir nangis bahagia karena teoppoki buatannya betul-betul enak. Harusnya dia ikut acara Master Chef, ini.
Makan enak bersama orang yang saya sukai di malam minggu, nikmat memang. Saya bersyukur masih bujang sehingga saya bisa dekat dengan Min-ssaem seperti ini.
Ngomong-ngomong bujang, saya jadi terpikirkan tentang dia yang makan tenang di depan saya itu.
"Min-ssaem."
"Ya?"
"Apa Anda sudah punya pacar?"
"Uhuk—"
Dia tersedak, saya sodorkan gelas saya yang masih penuh. Gelas miliknya kosong dan saya tidak sempat terpikir untuk mengisinya. Min-ssaem minum dan menggeram tak nyaman. Mungkin pedasnya salah lewat tenggorokan.
"Saya belum punya pacar..."
Lampu hijau.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Silabus diserahkan pada kepala sekolah hari senin ini. Saya sudah menyelesaikannya subuh tadi. Iya, subuh tadi. Soalnya semalam saya sempat melupakan tugas yang belum saya selesaikan itu gara-gara foto yang dikirim Min-ssaem di chatnya. Itu foto sekaligus chat pertama dari Min-ssaem setelah hampir dua minggu saya punya kontaknya yang sepi tanpa pernah berani saya chat duluan.
Fakta ini, bahwa Min-ssaem ngechat saya duluan, membuat saya jadi ingin cengengesan menatap foto itu sepanjang malam. Mungkin saya ketularan Taehyung.
Saya bingung kenapa di foto saja dia kelihatan cantik sekali? Belum lagi rambut hitam lurusnya yang seperti ditata jadi sedikit bergelombang, sweater hot pinknya—yang saya tidak sangka sangat cocok dia pakai, ditambah pemandangan sakura bermekaran di sepanjang jalan. Dia hanya memberitahu saya kalau sakura di taman kota sedang mekar sempurna. Kemarin dia jalan-jalan sendiri katanya, sekedar menghapal jalan di tempat baru.
Aih, saya mulai berpikir kalau chat yang dikirimnya itu sekedar cari teman ngobrol atau memang kode supaya saya mengencaninya? Saya lebih menurut pada kepercayaan diri saya yang kelewat tinggi. Saya mantap untuk mengajaknya pergi jalan-jalan nanti.
"Min-ssaem."
"Ya?"
Saya menghampirinya langsung saat dia kelihatan sedang menganggur. Mengikir kuku adalah satu aktifitas pengangguran menurut saya.
"Hari ini Anda kosong tidak?" saya memasang senyum paling keren yang saya punya. Min-ssaem yang sekarang rambutnya jadi agak bergelombang itu meniup ujung-ujung kukunya yang sudah dikikir rapi.
"Ng... kosong. Ada apa?"
"Mau jalan ke taman kota dengan saya?" ajak saya. Saya memang gugup tapi saya masih punya keberanian untuk mengajaknya pergi. Motivasi saya tinggi karena tak mau kalah dari Jung-ssaem yang pagi tadi memberikan seikat bunga pada Min-ssaem—yang bunganya jadi pajangan di vas mini di sudut mejanya sekarang.
"Mau lihat sakura ya?" dia berbinar antusias.
Saya hanya mengangguk.
"Ayo, saya tidak ada kegiatan sehabis mengajar sore ini." syukurlah. Doa supaya dia mau jalan dengan saya pun terkabul.
"Kalau begitu kita langsung pergi setelah Anda selesai mengajar ya?"
"Oke." dia memberi saya jempol. Lucu sekali.
Sorenya, saya yang sudah duluan kosong hanya duduk memutar-mutar kursi sembari menunggu Min-ssaem. Banyak guru yang sudah pulang. Meski orang di kantor hanya ada saya dan dua guru lainnya, suasana tak lantas sepi. Malah dentum musik hiphop yang diputar dari laptop Jung-ssaem sengaja dikeraskan volumenya. Dia tengah asyik ngerapp mengikuti lagu, sementara satu orang lagi juga tak ada bedanya. Kim Namjoon, Kim-ssaem si guru bahasa Inggris juga terlihat mengangguk-anggukkan kepala di mejanya. Mereka sama-sama suka lagu hiphop. Beda dengan saya. Saya lebih suka lagu pop jadi mendengar genre seperti itu bikin saya sedikit risih.
Saya sesekali melirik mereka. Sejak tadi tidak ada yang saya ajak bicara. Jung-ssaem? Saya memang kurang suka padanya. Sementara Kim-ssaem? Dia... terlalu banyak bicara dengan bahasa Inggris, hampir seperti native jadi saya ciut duluan untuk bicara dengannya.
Saya masukkan tangan ke dalam saku jaket, tak sangka saya menemukan sebatang chupacup rasa cola. Saya baru ingat kalau ini pemberian Jungkook tadi siang. Waktu jadwal olahraga kelasnya, dia sempat membagi-bagikan lolipop pada teman-temannya, termasuk saya. Hitung-hitung syukuran komiknya lolos seleksi katanya.
Saya buka bungkus permen itu dan mengulumnya. Daripada saya bengong?
Pemandangan di kantor kurang bagus karena tidak ada yang cantik, saya alihkan melihat langit sore yang oranye seperti agar-agar jeruk.
"Min-ssaem! Sore!"
Saya sontak menoleh ketika mendengar suara Jung-ssaem memanggil nama seseorang yang saya tunggu sedari tadi.
Min-ssaem masuk ke ruangan dengan buku-buku di tangannya. Saya membuang batang plastik dari lolipop yang sudah habis saya kunyah. Min-ssaem langsung menghampiri saya dengan raut bersalah. Lho? Ada apa? Saya celingak-celinguk bingung. Bahkan Kim-ssaem juga sama bingungnya dengan saya. Jangan tanya Jung-ssaem. Dia iri setengah mati karena datang-datang Min-ssaem langsung mencari saya.
"Anu, ada apa Min-ssaem? Apa ada sesuatu?"
"Maaf saya terlambat... Saya terlalu asyik mengajar lagu baru di kelas tadi..." lirihnya.
Saya bahkan tak tahu kalau memang jam ajarnya jadi melar.
"Maaf Park-ssaem... saya bikin Anda menunggu lama..."
"Tidak apa-apa, Min-ssaem, itu bukan masalah. Sungguh." saya berdiri karena berbicara sambil duduk tak cukup sopan. Dia menunduk dan menekuk bibir ke bawah dengan caranya yang sangat imut. Dia masih merasa bersalah padahal saya sendiri cuek-cuek saja. "Min-ssaem, sungguh. Saya tidak apa."
Saya sengaja sedikit membungkuk untuk mengintip wajahnya yang dia sembunyikan. Alisnya naik ke atas. Seperti wajah kucing yang memelas belaian.
Saya tersenyum supaya dia tidak cemberut lagi.
"Ehem. Saya jadi ingin tahu apa yang sedang terjadi di sini." Jung-ssaem menginterupsi. Dia menopang dagu di mejanya dan menatap kami dengan malas.
"Anu, saya dan Park-ssaem mau ke taman kota melihat sakura."
"YANG BENAR?" pekik Jung-ssaem.
"Min-ssaem ada laba-laba di bahumu." ucap saya.
"HUWAAA!" dia reflek melempar buku yang dia bawa dan menerjang saya tiba-tiba. Tangannya melingkar di pinggang saya dengan erat sampai dia benar-benar menempel pada saya. Kepalanya terkubur di dada saya dan dia sama sekali tidak mau mengurangi tenaganya yang sedikit membuat saya sesak napas... "Henngggg Park-ssaem singkirkan laba-laba itu, tolong... saya takut laba-laba..."
Dia memohon sambil masih terus memeluk saya.
Saya melirik Jung-ssaem yang menganga dengan tangan di dahinya yang seluas samudera. Kim-ssaem tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat jelas. Saya tahu guru satu itu mendukung saya, tak seperti Jung-ssaem.
"Park-ssaem saya takut laba-laba..."
"Laba-labanya sudah saya singkirkan, tenang saja, Min-ssaem."
Saya bohong. Padahal laba-laba kecil itu sudah jatuh sendiri sejak tadi, sejak dia menerjang saya.
"Tenang, Min-ssaem..."
Saya balas memeluknya dan mengusap rambutnya dengan sayang. Kesempatan memang. Dipeluk pujaan hati dalam keadaan yang tak terduga itu rejeki. Saya jadi bisa mencium aroma shampoo dari rambut Min-ssaem yang pas sekali mengenai bibir dan ujung hidung saya. Hanya... sebelah kakinya berada di antara dua kaki saya dan menghimpit teman saya di sana. Saya jadi gelisah...
"Anu, Min-ssaem..." saya berusaha keras supaya tidak mengeluarkan suara tidak senonoh.
Min-ssaem akhirnya mendongak dan menatap saya. Beberapa detik kami terdiam sampai kemudian dia melepas pelukannya—dengan sedikit dorongan yang membuat saya membentur kursi.
"Maaf Park-ssaem!" dia membungkuk rendah sekali.
"Ah astaga... Min-ssaem! Mengapa Anda berpelukan dengan pria yang menggantung peluit di lehernya itu? Mengapa Anda... akh, Min-ssaem hati saya terkoyak!" ocehan Jung-ssaem yang berlebihan itu mengundang raut bersalah dari Min-ssaem. Saya yang tidak enak. Kurang ajar sekali si guru sastra itu.
"Maaf Jung-ssaem saya tidak bermaksud..."
Saya kesal.
"Jung-ssaem, hentikan itu. Min-ssaem tidak salah apa-apa." ucap saya. "Min-ssaem, bereskan barang Anda dan lebih baik kita segera pergi dari sini."
Min-ssaem menurut tanpa banyak bicara. Saat dia sibuk memasukkan barang-barangnya ke tas dan mengenakan cardigan merahnya, saya menepuk dahi. Astaga, berani-beraninya saya memerintah Min-ssaem seperti itu. Saya pasti sudah membuatnya takut...
"Saya sudah siap, Park-ssaem. Apa kita akan pergi sekarang?"
"Iya. Ayo."
Saya mengamit tangannya dan kami bergandengan keluar kantor.
"Blossom flower, blossom hearted Park-ssaem is going to be a fenomenal issue in this school, soon. I knew it. Just wait 'till all the girls screaming like a fool." komentar Kim-ssaem sambil mengangguk-angguk.
"Nande? Eigo de hanasu koto wo yamero, Yoroppajin janai no de, omae wa." (apaan itu? Tolong berhenti ngomong pakai bahasa Inggris, kamu 'kan bukan orang Eropa)
"Omae mo nihonjin janai no de nande nihongo de hanashita, ore ni?" (kamu juga bukan orang Jepang, ngapain juga ngomong pakai bahasa Jepang sama saya?)
"Ingirisu ga heta dakara, wakatta?" (soalnya aku lemah sama bahasa Inggris, ngerti?)
Saya tertawa, sama dengan Kim-ssaem juga. Kami sering bicara kasar kalau bukan dengan bahasa Korea. Itu tak masalah.
Sempat saya mendengar Jung-ssaem memanggil nama Min-ssaem dengan frustrasi. Tapi saya tidak peduli. Kami benar-benar meninggalkan ruangan itu masih sambil bergandengan tangan.
"Tadi itu Anda ngomong bahasa Jepang 'kan? Kok..." kok bisa? Saya tahu ujung pertanyaannya. Selain Min-ssaem, semua guru dan murid di sekolah tahu saya sudah biasa bicara menggunakan bahasa Jepang.
"Saya belajar sedikit-sedikit." hanya saja saya tidak mau menyombongkan diri.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Tahu rasanya dipeluk sepanjang jalan? Saya butuh mental baja. Min-ssaem memeluk saya sama seperti ketika saya mengantarnya pulang sabtu malam itu. Tangannya melingkar di perut saya dan dagunya bersandar di bahu saya. Sebetulnya saya ingin sekali membuat kecepatan motor saya dibawah rata-rata, lamban saja sambil menikmati semilir angin dan kelopak-kelopak sakura yang beterbangan, berlama-lama dipeluk Min-ssaem. Tapi kalau saya melakukan itu, saya akan dimaki pengemudi lain di jalanan—makanya tidak saya lakukan.
Saya memarkirkan motor di sebuah cafe. Setelah membeli kopi, kami berjalan kaki dengan santai menyusuri jalanan yang terpayungi pohon sakura di kanan-kirinya.
Ada banyak orang yang nongkrong, ada yang pacaran, ada yang berfoto. Ngomong-ngomong berfoto, saya melihat dua orang yang mengenakan seragam sekolah tempat saya mengajar. Saya hapal logo di jasnya.
"Bukankah itu Taehyung?" Min-ssaem yang pertama membuat saya sadar kalau mereka adalah dua siswa yang saya kenal. Taehyung dan Jungkook.
"Hei kalian!" sahut saya saat mereka sedang asyik bergaya di depan kamera.
Dua bocah laki-laki itu menyadari kehadiran saya dan Min-ssaem. Mereka membungkuk hormat.
"Park-ssaem!" seru si coconut head. Taehyung hanya cengengesan saja seperti biasa.
"Kalian sedang apa?"
"Selfie." jawab mereka kompak. Saya memang lihat Taehyung pegang monopod.
"Bukan itu maksud saya..."
"Ooh, saya nganter Jungkook kesini, katanya mau foto sakura dan suasana musim semi untuk bahan komiknya."
"Seonsaengnim sedang apa?" tanya Jungkook.
"Kencan 'lah! Pakai tanya lagi. Kau tidak lihat Park-ssaem dan Min-ssaem gandengan tangan?"
Kata-kata Taehyung sontak membuat saya dan Min-ssaem bertatapan dan langsung melepas tautan tangan kami.
"Owalah... jadi waktu itu juga Park-ssaem dandan rapi mau kencan sama Min-ssaem ya?" goda Jungkook.
"Kapan?" tanya saya.
"Jumat kemarin..."
"Park-ssaem mengantar Min-ssaem pulang waktu hari sabtu. Aku bertemu dengan mereka di depan rumah." bisik Taehyung yang tanpa pertahanan. Seharusnya dia berbisik dengan cara klasik—menutupi mulutnya dengan tangan supaya saya atau Min-ssaem tidak bisa membaca gerak bibirnya. Hanya saja dia terlalu polos...
"Saya memang ada urusan dengan Park-ssaem 'sih, tapi..." Min-ssaem mendongak menatap saya. Saya hanya bisa buang muka. Pura-pura bersiul santai. Saya tahu kebohongan saya sudah terbongkar. Tapi Min-ssaem juga tidak bicara soal acara latihan renangnya dengan saya sabtu itu.
"Wah... senangnya... kencan di malam minggu ya..." dan Jungkook sama saja polosnya. Taehyung cengengesan dan Min-ssaem nampak malu hingga dia sedikit mundur bersembunyi di balik punggung saya.
"Malam minggu kencan, malam selasa kencan, Park-ssaem benar-benar kelihatan baru jadian ya?" saya melotot mendengar ucapan Taehyung. Jadian apa? Buru-buru saya menoleh pada Min-ssaem yang merona. Aish, kenapa pipinya seperti persik?
"Park-ssaem, kalau mau kencan dandan yang rapi 'dong seperti waktu itu, pakai kemeja... Min-ssaemnya sudah cantik masa' Park-ssaem cuma pakai jaket dan celana training?" saya tertohok. Saya jadi memandang pakaian saya sendiri. Jaket dan celana abu-abu dengan strip merah biru. Sepatu Puma hitam. Saya... tidak keren sama sekali untuk setelan kencan.
"Min-ssaem kenapa? Malu, ya jalan sama Park-ssaem?" goda Taehyung pada Min-ssaem yang masih merapat pada saya.
Duh, murid-murid saya ini... benar-benar!
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
Nggak di mana-mana Taekook emang gitu ya, ngeselin hehehehehe.
Ngomong-ngomong saya lagi suka sama Yoongi versi polos-polos baik manis pemalu gitu. Kesannya jadi cocok sama Jimin yang tukang gelagapan. Jadinya maaf banget kalau dua-duanya OOC abis disini... maklum lah namanya juga ff, imajinasi mah kemana aja boleh kan yak *pembelaan*
