Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Sejak dikritik oleh murid-murid saya soal penampilan, saya jadi lebih peduli pada diri sendiri sekarang. Bisa dibilang juga terlalu peduli sampai bikin saya sering cemas tak jelas. Sehari-hari memang saya masih pakai baju olahraga saat mengajar, tapi di waktu lain saya mengenakan pakaian formal yang rapi. Tak lupa menata rambut dan menyemprot parfum.
"Ayo, semua duduk di sofa itu, yang laki-laki berdiri, yang perempuan duduk ya!"
Hari itu semua staff pengajar dikumpulkan di kantor untuk berfoto bersama. Ada satu guru yang pensiun, dan sebagai salam perpisahan kami berfoto ramai-ramai untuk kenang-kenangan. Tahun ini akan ada banyak guru yang pensiun. Min-ssaem jadi satu yang menggantikan mereka yang pensiun itu. Sekarang kami kehilangan satu guru lagi, dan mungkin akan kedatangan guru baru lainnya nanti.
"Min-ssaem, sini."
Min-ssaem si anak baru terlihat bingung saat guru-guru lainnya sudah bergerombol dan memilih tempat. Dia belum kenal betul dengan mereka sehingga jadi agak segan bergabung, mungkin. Saya mengajaknya mengambil tempat di samping saya, berhubung Jung-ssaem (yang saya waspadai akan mengajak Min-ssaem bersamanya) sedang sibuk bercengkrama dengan guru lain.
Min-ssaem mendekat pada saya. Dia berdiri dengan canggung di samping saya. Padahal beberapa hari lalu kami sudah kencan di taman kota—meski kencannya tak resmi, tapi dia masih terlihat malu-malu. Sama saja 'sih dengan sebelum-sebelumnya.
"Gaya formal dulu, ya!"
Si fotografer berseru. Kami difotonya dengan gaya biasa, hanya dengan senyum tanpa pose berarti. Diam-diam saya mengamit tangan Min-ssaem...
"Park-ssaem..." lirihnya. Pipinya sedikit merona saat tahu tangannya sudah ada dalam genggaman saya. Saya hanya menatapnya sambil tersenyum. Dia yang punya raut muka antara cemas dan senyum canggungnya itu terlihat sangat manis. Manis sekali seperti gula biang.
"Park-ssaem..." saya sengaja makin merapat padanya. Saya pura-pura tidak peduli, sementara fotografer terus mengarahkan kami untuk bergaya.
Sebetulnya saya gugup, tapi mana bisa saya kalah oleh rasa gugup itu? Tidak manly namanya.
"Pose bebas! Senyum yang lebar dan bergaya yang bagus, jangan kalah dari murid-murid Anda sekalian!"
Seruan itu mengundang tawa yang riuh. Semuanya berpose sesuai keinginan masing-masing.
"Min-ssaem, bikin hearteu yuk?"
"Hearteu?"
Saya langsung saja angkat tangan dan membentuk separuh hati. Min-ssaem mendongak dan dengan kikuk mengikuti gaya saya. Ujung-ujung tangan kami membentuk tanda love yang sempurna. Salahkan saya karena saya memanfaatkan situasi, tapi ketahuilah, kesempatan emas tidak datang dua kali.
Andai saja kami berpose seperti ini hanya berdua, selfie berdua dengan tangan membentuk love.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Ada satu kelas terakhir yang harus saya hadiri hari ini. Kelas olahraga sore. Jadwalnya hanya latihan voli, untuk pukulan servis dan smash. Anak-anak laki-laki sudah jago, sementara yang perempuan belum. Banyak di antara mereka yang sama sekali tak bertenaga ketika memukul bola. Jangankan melambung tinggi dan jauh, melewati net saja tidak sanggup. Saya harus mengajari mereka berkali-kali supaya mau mengeluarkan tenaga lebih. Masalah perempuan itu hanya percaya diri, 'sih. Mereka seringnya merasa tidak mampu dan dan mengatakan tidak untuk olahraga, padahal siapa tahu, mereka punya potensi yang besar.
"Psst, kenapa Min-ssaem ada di sini?"
Saya dengar bisik-bisik dari anak-anak perempuan yang menyebut nama Min-ssaem. Langsung saja saya cari mana yang mereka maksud. Nyatanya memang ada Min-ssaem, di ambang pintu hall, berjalan masuk mendekati tribun.
Saya dan dia bertemu pandang. Min-ssaem melambaikan tangan pada saya sambil tersenyum. Ah, bintang yang bersinar dalam kegelapan malam, bunga yang harum diantara siswa yang bau keringat.
Dia menunjuk kantung plastik yang dibawanya.
Tanpa basa-basi, saya meninggalkan murid-murid laki-laki yang sedang saya pantau permainannya. Hanya untuk menghampiri Min-ssaem yang wajahnya selalu terlihat seperti habis mandi. Segar dan bersih sekali.
"Min-ssaem? Ada apa?" tanya saya dengan nada biasa, menyembunyikan kegirangan saya didatangi seseorang yang tak terduga. Yang tadi siang bikin lovesign saya jadi perfect.
"Park-ssaem pernah bilang suka susu melon 'kan? Kebetulan saya tadi ke kantin dan menemukan ini... katanya produk baru, dan banyak diminati siswa." tunjuknya dengan mengeluarkan sebotol susu melon dari kantung plastik itu. "Ada agar-agarnya di dalam."
"Min-ssaem... kenapa...?" saya tidak mampu melanjutkan kalimat itu. Saya keburu speechless. Terharu. Kenapa Min-ssaem bisa ingat kalau saya suka susu melon? Rasa-rasanya itu hanya pernah saya ucapkan di obrolan tak penting sela lelucon bersama guru-guru lainnya.
"Entahlah, saya lihat susu melon dan langsung ingat Park-ssaem. Saya lihat papan jadwal ajar Anda dan akhirnya saya kesini." beli susu melon kesukaan saya dan repot-repot datang ke hall mencari saya demi memberikan minuman itu adalah sesuatu yang... ah, saya masih speechless.
"Min-ssaem... saya tidak tahu harus bilang apa, tapi... terimakasih..." saya terharu. Min-ssaem terkekeh dengan nada dan wajah yang manis sekali.
"Park-ssaem... heuummmm~"
Saya tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu seisi hall riuh memanggil nama saya berserta siulan dan kekeh tak jelas. Saya jadi malu. Saya lupa kalau saya dan Min-ssaem tidak hanya berdua di ruangan ini.
"Apa 'sih, kalian ini!" sungut saya. Mereka memang kadang tak segan untuk menggoda saya. Bukan tak respek, mungkin karena saya masih cukup muda—ehem, dan saya tak jaga jarak dari murid-murid saya, makanya mereka berani untuk akrab.
"Saya mengganggu ya?" ucap Min-ssaem.
"Ah tidak! Tidak sama sekali! Mereka memang begitu, tidak sopan sama guru."
Saya melirik pada murid-murid saya lagi, mereka rupanya sudah kembali asyik bermain voli. Syukurlah. Saya tidak perlu jadi bahan perhatian lama-lama. Risih.
"Sedang latihan voli?" Min-ssaem juga melihat pada siswi-siswi yang belajar servis.
"Iya, saya tidak mau ada nilai D ke bawah di tes, jadi saya suruh mereka latihan sampai bisa. Anak-anak perempuan agak sulit."
"Aah... tidak hanya anak perempuan, saya pun waktu sekolah tidak suka voli." dia tertawa. Gigi kecilnya dan gusi merah jambunya menambah kadar manisnya berkali lipat. Mungkin benar tebakan saya kalau dia tidak suka olahraga sejak dia mengaku tidak bisa berenang. Sekarang saya tahu kalau dia juga tidak suka voli.
"Mau belajar voli juga? Lebih mudah dari berenang 'kok." tawar saya.
"Psstt! Park-ssaem!" Min-ssaem memukul lengan saya sementara tangan satunya dia taruh di depan bibir, gestur menyuruh saya untuk tutup mulut urusan belajar berenang itu. Saya tertawa. Dia sangat lucu kalau panik. "Saya tidak mau belajar voli. Saya takut bola."
Kata-katanya terbukti saat ada siswa laki-laki yang memukul bola dengan keras sekali. Suara kerasnya membuat Min-ssaem berjengit kaget dan selangkah mundur menjauh dari garis tepi lapangan.
"Kata Tsubasa Oozora, bola itu teman, bukan musuh. Tidak perlu takut."
"Tapi bolanya Tsubasa itu bola sepak, bukan bola voli, Park-ssaem."
"Tetap saja namanya sama-sama bola 'kan?'
"Anda ngotot, ya?"
Kami tertawa. Ternyata asyik juga bercanda dengan Min-ssaem.
"Oh, ya Min-ssaem saya—"
Bugh!
"Seonsaengnimmmm!"
Sebuah bola menggelinding bebas setelah dengan telak menghantam Min-ssaem. Saya tidak tahu jelas bagian mana dari tubuhnya yang kena lemparan. Saya masih syok ketika dia oleng dan menubruk saya—dan otomatis kami sama-sama jatuh.
"Seonsaengniiimmm! Josonghamnidaaaa!"
Beberapa murid laki-laki menghampiri kami dengan panik, sisanya berhenti latihan karena terkejut. Nyatanya yang tadi itu bola nyasar, dari smash yang terlalu keras dan salah arah.
Saya mencoba bangun dan membantu Min-ssaem juga. Dia melenguh pelan.
"Min-ssaem baik-baik saja?!" ucap salah satu anak murid saya. Nampaknya dia yang melempar bola itu.
"Ya! Jackson! Apa yang kamu lakukan?!" saya memarahi anak itu dengan sedikit bentakan. Saya tahu dia kelebihan hormon. Anak muda yang kelewat bersemangat. Tapi tidak harus memukul bola dengan kekuatan super saiya juga, jadinya ada korban, 'kan...
"Maaf, seonsaengmin... saya tidak sengaja... maaf..." dia berkali-kali membungkukkan badannya.
"Min-ssaem, mana yang sakit?" tapi daripada memarahi bocah itu lebih baik saya perhatikan Min-ssaem yang meringis nyeri. "Min-ssaem?"
"Saya tidak apa-apa, Park-ssaem..." tidak apa-apa tapi meringis begitu mana saya percaya. Akhirnya saya ambil inisiatif untuk membawanya ke UKS.
"Kelas saya bubarkan, tolong bereskan semuanya." ucap saya pada murid-murid saya. "Ayo, Min-ssaem."
Saya memang tak minta izin, tapi tanpa perlu izin pun saya tetap akan menggendongnya ke UKS. Bukannya saya sok pahlawan, tapi saya benar-benar tak tega untuk membiarkannya berjalan sendiri. Mana letak UKS dari hall cukup jauh pula.
Jadi saya menggendong Min-ssaem sampai ke UKS. Di jalan, kami jelas jadi pusat perhatian dan bahan bisik-bisik. Saya tidak terlalu peduli sebetulnya, tapi Min-ssaem nampaknya tak nyaman, sampai-sampai dia tidak mau menunjukkan wajahnya dan hanya bersembunyi di bahu saya, mengalungkan tangan di leher saya tanpa bicara apa-apa.
Awalnya saya panik dan takut 'sih, tapi... dalam keadaan begini saya boleh senang tidak ya?
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
"Tadi bolanya kena bagian mana?"
"Pinggang saya."
"Coba, Min-ssaem buka sedikit bajunya, biar saya lihat apa ada luka atau tidak."
Saya hanya bisa meneguk ludah ketika Kim-ssaem (bukan Kim yang guru bahasa Inggris, tapi dia dokter sekolah—kebetulan marganya juga Kim, namanya Kim Seokjin) membantu Min-ssaem untuk menyingkap bajunya. Saya jadi bisa melihat sedikit bagian pinggang dan punggung Min-ssaem yang duduk membelakangi saya. Ada bagian yang bisa saya cubit di pinggang itu. Rupanya dia punya badan yang cukup berisi...
Saya berdiri canggung di dekat ranjang. Menunggu Min-ssaem diperiksa.
"Ini? Bagian ini yang kena, ya?" Kim—maksud saya Jin-ssaem menekan pinggang Min-ssaem dengan dua jarinya.
"Ahh—" tak sangka, lenguh pelan itu sanggup membuat saya merinding. Ini pertama kalinya saya mendengar suara jenis itu keluar dari mulut Min-ssaem.
"Sebelum mulai membiru, harus cepat-cepat diberi obat. Saya kasih salep saja ya?" Jin-ssaem mengambil salep dari lemari penyimpanan obat, kemudian dia mengoleskan salep bening itu di bagian pinggang Min-ssaem.
Saya hanya jadi penonton, tapi sempat saya berkhayal kalau sayalah yang mengoleskan salep itu... Mungkin kulit Min-ssaem selembut yang saya kira.
"Sshhhh..."
"Park-ssaem kenapa?" Jin-ssaem yang bertanya. Saya sendiri tidak sadar sudah meringis tertahan seperti itu.
"Tidak apa-apa." Jin-ssaem merasa aneh sepertinya, siapa yang sakit siapa yang meringis. Saya hanya menggeleng dan diam lagi.
"Memangnya keras sekali ya, lemparan bolanya? Kok bisa sampai bikin Min-ssaem sakit begini."
"Saya juga tidak tahu, tiba-tiba ada bola yang datang tanpa sempat saya menghindar." ujar Min-ssaem yang merapikan kembali pakaiannya. Ah, perut yang bisa saya cubit itu sempat mata saya tangkap.
"Park-ssaem?" panggil Jin-ssaem.
"Huh? Iya?" saya kembali dari lamunan.
"Itulah kenapa saya tidak pernah mau dekat-dekat dengan orang yang pegang bola." saya tidak begitu paham dengan maksud ucapan Jin-ssaem. Saya bingung.
"Tapi saya tidak pegang bola."
"Ya maka dari itu saya masih mau berdiri dekat Anda, Park-ssaem." saya masih tidak mengerti.
Jin-ssaem ini terkadang cukup aneh dan cukup sulit dimengerti. Hanya Kim-ssaem yang nyambung dengan begitu mudah. Mereka cocok seperti Song-Song couple di drama DOTS, bedanya yang ini marganya Kim dan yang satu bukan tentara, tapi guru bahasa Inggris.
"Kim-ssaem, terimakasih banyak..."
"Sama-sama Min-ssaem... kalau masih sakit nanti beli salep di apotek saja ya, yang namanya ini." Jin-ssaem menunjukkan label salep itu pada Min-ssaem.
"Iya, saya mengerti."
Saya merasa bertanggung jawab. Mungkin sepulang sekolah saya yang akan membelikan salep itu untuknya. Mungkin saya akan mengantarnya pulang juga.
"Park-ssaem."
"Iya, Jin-ssaem?"
"Tadi Anda 'kan mengantar Min-ssaem dengan menggendongnya, ayo, sekarang tuntaskan kewajiban Anda. Antar Min-ssaem lagi, Romeo."
"Jin-ssaem..." saya disebut Romeo, dan sedikit bikin ge-er.
"Tidak perlu, saya bisa jalan sendiri 'kok. Park-ssaem tidak perlu repot." hanya saja Min-ssaem menolak.
"Tapi saya yang bertanggung jawab, Min-ssaem kena bola nyasar juga gara-gara saya tidak bisa mengontrol murid-murid saya tadi."
"Park-ssaem, sungguh... tidak perlu repot..."
"Tidak perlu sungkan..."
"Kalian ini, sulit sekali ya." cibir Jin-ssaem.
"Aduh!" Jin-ssaem menekan pinggang Min-ssaem tiba-tiba sampai dia memekik sakit.
"Sudah! Park-ssaem ayo gendong Min-ssaem!"
Belum saya tanya kenapa, dia sudah menyuruh saya menggendong Min-ssaem. Jadi dia sengaja? Astaga. Kejam juga caranya.
"Min-ssaem pinggangnya sakit, tidak kasihan membiarkannya jalan sendiri sampai ke kantor?"
Dia memancing saya, memang. Dasar, dokter satu ini...
"Baiklah, Min-ssaem, ayo. Tidak apa, Anda ringan 'kok."
"Park-ssaem jangan begitu..." wajahnya merengut. Saya pikir saya telah salah bicara. Mungkin dia menganggap ucapan saya adalah kebalikannya. Padahal... iya tidak salah sih, nyatanya Min-ssaem memang tak seringan yang saya kira.
Untungnya dia mau saya gendong lagi. Dia tipe orang yang tidak suka memaksakan diri rupanya. Begitu saya pikir. Atau...
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Esoknya saya datang siang ke sekolah. Susu melon yang saya minum sedikit mengotori jaket saya saat saya sedikit tersandung di jalan. Untung bukan susu cokelat, jadi warna nodanya tidak terlalu terlihat.
Saya masuk ke kantor, melepas jaket dan menyisakan kaos hitam saya. Enaknya jadi guru olahraga, tak melulu harus pakai pakaian formal ke sekolah. Saya duduk dan menyalakan laptop saya untuk melihat silabus dan bahan ajar.
Ruang kantor yang cukup sepi di siang hari membuat saya bisa mendengar bunyi pintu dibuka dengan jelas. Min-ssaem masuk ke ruangan, habis mengajar. Dia duduk dengan sedikit menghempaskan pantatnya ke kursi. Saya melihat dia menundukkan kepala dan menepuk-nepuk pipinya beberapa kali.
"Min-ssaem? Anda baik-baik saja? Apa ada sesuatu?" saya sedikit cemas.
"Park-ssaem." dia mendongak demi melewati pembatas meja kami.
"Ya?"
"Tadi di kelas... murid-murid saya ribut." katanya menggantung.
"Ya?"
"Mereka bilang kita pacaran..."
Ini pasti gara-gara kejadian kemarin. Min-ssaem yang saya gendong seperti puteri raja. Ah, saya sudah mengira kalau hal ini akan jadi bahan gosip baru. Tapi... sangkaan itu malah ingin saya amini saja supaya benar kejadian.
"Tapi kita tidak pacaran, Min-ssaem." belum, dalam hati saya.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
Sebetulnya urusan voli dan bola dan kena bola itu pengalaman saya. Makanya saya benci olahraga yang berhubungan sama bola-bolaan gara-gara saya rajin kena bola nyasar. Mau itu bola sepak, bola basket, bola voli juga. Kesel kan? *malah curhat*
