Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Di sekolah tempat saya mengajar memang sering diadakan acara showcase terbuka, tapi yang mengadakan bukan dari pihak sekolah melainkan siswa-siswinya sendiri. Showcase ini juga sebagai ajang kompetisi antar tingkat. Biasanya anak-anak baru sangat bersemangat, sementara yang di tahun terakhir malah asal-asalan hanya demi meramaikan acara, tidak ada niat berkompetisi. Saya dan guru-guru lain diundang sebagai penonton di acara yang digelar satu hari penuh itu.
Harusnya.
Dalam sejarah, selama saya mengajar di sini, saya tidak pernah tidak jadi penonton. Tapi kali ini, panitia meminta perwakilan guru untuk ikut tampil dalam showcase sebagai bintang tamu. Entah ada angin apa sampai tiba-tiba muncul ide ini dari mereka. Saya, sebagai salah satu yang ditunjuk antara mau-tak mau menyanggupinya. Pasalnya saya tidak pernah berada di atas panggung, saya adanya di atas treadmill. Keinginan saya untuk menolak lebih besar tapi...
"Anu, hei, kalian..."
Saya mencoba bicara, tapi suara saya kalah oleh suara teman-teman saya yang sedang ngobrol dengan penuh semangat itu. Kami sedang istirahat siang. Ribut-ribut di kantor sumbernya dari suara Jung-ssaem yang seperti jadi ketua kelompok—yang entah kenapa saya diseret masuk ke dalamnya, Kim-ssaem yang tertantang untuk ngerapp di depan muridnya, lalu Jin-ssaem, si dokter sekolah yang diajak Kim-ssaem ikut, dan... satu orang yang saya tak sangka mau berpartisipasi. Min-ssaem.
"Kita dikasih 15 menit lho, bisa untuk tiga lagu, itu." ujar Jung-ssaem. Dia nampak sibuk membuka-buka folder musik di laptopnya. Saya pikir dia sedang memilih lagu, saking tak sabarannya ingin tampil di depan umum mungkin.
"Saya 'sih terserah, mau duet, solo, grup, ngedance, ngerapp, atau nyanyi sekalian." Kim-ssaem menanggapi dengan cuek. Tapi saya tahu sebenarnya dia pingin ngerapp. Jelas. Teman memeriksa ujiannya saja lagu-lagu hiphop.
"Saya tidak bisa ngedance, 'sih, saya bisanya nyanyi saja."
"Saya juga tidak bisa ngedance. Bagaimana kalau Jin-ssaem nyanyi saya yang ngerapp."
"Kita duet begitu ceritanya?"
"Iya, mau?"
Jin-ssaem memberi jempol di depan muka Kim-ssaem. Dibalas sama jempol juga. Benar-benar Kim couple. Saya jadi sedikit iri.
"Jadi kalau kalian duet, ada sisa dua lagu." Jung-ssaem masih scroll ke atas dan ke bawah, mengecek satu-satu judul album dan artis di foldernya. "Eh, Min-ssaem, mau duet dengan saya tidak? Min-ssaem 'kan jago main alat musik, biar saya ngedance atau ngerapp... saya juga bisa nyanyi, 'kok."
Saya agak kaget saat Jung-ssaem menyerang langsung begitu—istilahnya. Habis, dia langsung saja mengajukan diri.
"Ah... ngg..." Min-ssaem nampak bingung. Anehnya, kenapa dia lihat ke saya? "Park-ssaem bagaimana?"
"Dia selebriti sekolah, orang pasti menunggu dia tampil solo, di atas panggung sendirian, shine bright like a diamond." ucap Jung-ssaem sambil menunjuk saya.
"Sepertinya saya kenal lirik lagu apa itu." kata Kim-ssaem sambil tertawa.
"Tapi saya tidak mau tampil."
Ucapan saya mengundang 'hah' dari mereka. Hah punya Jung-ssaem yang paling keras.
"Serius? Saya kira Anda tipe yang pingin show off di depan banyak orang."
"Saya tidak bisa apa-apa kalau soal seni... Freestyle basket saja boleh tidak?"
"Park-ssaem, ini acara seni, bukan acara olahraga..." komentar Jin-ssaem. Saya hanya bisa cemberut. Saya tidak punya kepercayaan diri untuk tampil di depan umum, apalagi untuk menyanyi atau menari. Saya hanya suka singing in the shower, dancing in the mirror, istilahnya.
"Park-ssaem bisa main piano, 'kok. Waktu itu Park-ssaem sempat main piano sama saya." Saya tak sangka Min-ssaem akan mengatakan itu. Yang lain nampak tidak percaya karena saya tak pernah menyentuh alat musik atau apapun yang berhubungan dengan seni di sekolah ini—kecuali alat gambar. Tapi itu juga tidak berguna untuk dipertontonkan.
"Min-ssaem, 'kok bisa Anda main piano dengan Park-ssaem? Anda mengajarinya? Di mana? Kapan? Kenapa saya tidak tahu?" Jung-ssaem tak sabaran. Dia memberondong Min-ssaem dengan banyak pertanyaan sekaligus sampai-sampai si cantik itu kebingungan untuk menjawab yang mana dulu.
"Anu, saya..."
"Tapi saya tidak jago, nanti saya malah bikin malu guru-guru. Sudahlah, saya tidak akan ikut. Cukup kalian saja." sela saya.
Tak sangka, penolakan saya membuat Min-ssaem memandang saya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah saya menolak bergabung untuk yang kesekian kali, Min-ssaem jadi lebih banyak diam dan hanya mendengarkan saja.
Saya agak merasa bersalah. Tapi mau bagaimana, saya hanya takut mengecewakan. Kalau penampilan saya buruk, yang malu bukan hanya saya sendiri, tapi juga murid-murid saya, atau teman-teman guru. Ah, saya tidak siap mental. Saya bukan tipe yang haus popularitas dan banci panggung. Saya orang biasa. Guru biasa.
Sebetulnya selain tidak percaya diri, saya juga malas latihan, makanya saya tidak mau ikut. Berhubung Min-ssaem juga berpartisipasi, saya inginnya jadi penonton saja. Kapan lagi saya bisa duduk di bangku penonton dan melihat pujaan hati saya memainkan tuts piano di atas panggung?
Pada akhirnya kami punya dua grup untuk tampil di showcase nanti. Duet Kim couple dan Jung-ssaem serta Min-ssaem yang kolaborasi antara piano dan tarian kontemporer. Saya jadi tim hore.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Siang ini saya ada jadwal mengajar di kelas 2-3. Kelasnya Jungkook. Agendanya adalah latihan senam lantai, kelanjutan dari minggu lalu. Saya kira bocah itu akan bersemangat mengikuti pelajaran karena minggu lalu dia berhasil jadi pemecah rekor salto di kelasnya. Ternyata si coconut head bergigi kelinci itu malah duduk di tangga tribun dengan buku gambar dan pensil di tangannya.
"Kook, kenapa kamu masih pakai seragam?"
"Saya izin tidak ikut pelajaran olahraga, Park-ssaem..."
"Kenapa?"
"Punggung saya sakit habis berhari-hari menggambar komik... tadi pagi saja sebelum berangkat punggung saya ditempeli banyak koyo sama ibu."
"Ya ampun." saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Pantas samar saya mencium bau kakek-kakek. Bau koyo ternyata. "Kalau sakit kenapa tidak ke UKS saja? Malah duduk di sini."
"Saya mau gambar isi hall, seonsaengnim. Saya juga menunggu yang lompat kodok—kalau ada." pastilah untuk jadi contoh gambar.
"Tidak ada lompat kodok hari ini." ucap saya telak.
Dia mengernyit. Saya tertawa sambil menjawil pipinya. Dia benar-benar manis tapi saya tidak suka anak-anak. Saya lebih suka Min-ssaem.
"Oh iya, seonsaengnim, untuk showcase, siapa yang jadi perwakilan dari guru-guru?" tanya anak itu ketika saya sedang menggulung lengan jaket saya sampai ke siku. "Park-ssaem ikut?"
"Tidak."
"Kenapa? Padahal banyak yang ngarep melihat Park-ssaem di atas panggung." lirihnya, nampak kecewa.
"Saya bisa apa?"
"Freestyle basket?"
Kenapa idenya sama dengan yang saya utarakan di kantor tadi?
"Itu bukan seni, Kook." dan saya mengulang komentar Jin-ssaem pada saya sebelumnya.
Saat anak itu mendongak, saya baru sadar ada sesuatu yang aneh di lehernya, di dekat rahang, di bawah telinga.
"Kook, kau digigit Taehyung?"
"Apanya?" alisnya naik satu.
Saya tunjuk leher saya sendiri. Dia ikut-ikutan memegang lehernya, dan matanya membesar seolah dia baru ingat akan sesuatu.
"Bukan digigit Taehyung, Park-ssaem... tapi digigit nyamuk, saya garuk, bentolnya jadi menghitam saat saya bangun. Kelihatan, ya?"
"Saya kira..."
Tapi memang tak wajar kalau anak-anak sudah melakukan itu. Masa' iya, sampai di usia legal saja belum. Lagipula saya tak dengar kalau mereka punya hubungan yang lebih dari sahabat. Dua-duanya sama-sama masih polos. Saya tidak yakin.
Tapi kalau seusia saya, wajar melakukan itu—ehem. Tiba-tiba bayangan Min-ssaem lewat tanpa permisi di kepala saya. Saya jadi ingat pada leher mulusnya. Putih bersih tanpa bentol atau bekas luka. Jangan-jangan nyamuk saja tergelincir saat mau menggigit, saking lembutnya kulit itu. Ah, beberapa hari lalu Jin-ssaem mengoles salep di kulit Min-ssaem. Saya jadi ingin...
"Park-ssaem, 'kok mukanya serius begitu? Memikirkan apa?"
"Min-ssaem."
"HEH?!"
"Eehh aahh, tidak, tidak!" saya panik saat anak itu memekik barusan. Astaga, kenapa saya lagi-lagi bicara di bawah pikiran kotor saya? Pasti si Jungkook jadi berpikir yang tidak-tidak. Apalagi kekehnya jelas mengejek saya.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Di sekolah ada satu lapangan basket yang tidak pernah digunakan oleh siswa karena ringnya rusak. Letaknya yang tersembunyi di balik gedung laboratorium juga membuat mereka enggan bermain di sana. Saat itu saya iseng berjalan memutar dari hall ke kantor hanya untuk mendinginkan badan yang panas dan berkeringat habis mengajar olahraga. Tak disangka, saya melihat Min-ssaem sedang duduk sendirian di tangga tribun lapangan basket itu.
Sejak pembicaraan soal showcase usai, Min-ssaem tidak banyak bicara pada saya. Apa dia kecewa saya tidak berpartisipasi?
"Min-ssaem?"
Saya panggil dia. Tapi dia tak menoleh. Entah suara saya yang tertelan angin hingga tak terdengar olehnya, atau dia tidak mau mendengar saya. Saya pun berjalan mendekat, menuruni tangga satu-satu dan kemudian duduk tak jauh dari tempat Min-ssaem.
Saya pandangi dia. Rupanya telinganya disumpal earphone. Dia menopang dagu dan memandang lapangan yang kosong. Cerahnya langit membuat kulitnya makin bersinar. Bulu mata lebatnya, hidungnya, bibir cherrynya, dan leher mulus yang nampak terlalu licin bagi nyamuk itu begitu memikat. Saya diam tak bicara selama memandanginya dan dia benar-benar tidak menyadari keberadaan saya. Mungkin dia terlalu larut pada lagu yang dia dengarkan, atau dia sedang melamun.
Saya menggeser duduk saya lebih dekat. Saya pandangi dia lagi. Dia masih tidak sadar atas keberadaan saya.
Akhirnya saya tepuk pundaknya.
"Min-ssaem."
"Ya Tuhan!"
Dia berjengit terkejut sampai sebelah earphonenya lepas.
"Park-ssaem!"
Saya hanya cengengesan saja.
"Min-ssaem sedang dengar lagu apa? Asyik sekali kelihatannya." dia nampak gelagapan dengan mata yang berkedip-kedip lucu.
"Ohh.. ah, saya hanya sedikit melamun tadi." dia hanya tersenyum tipis. Dia tak memasangkan kembali sebelah earphonenya yang tergantung itu. Mungkin supaya dia bisa mendengar saya bicara tanpa teredam suara musik.
Saya sebetulnya ingin tanya apakah dia marah pada saya atau bagaimana. Tapi tak enak juga untuk bicara. Haruskah saya tetap pura-pura tak tahu apa-apa?
"Min-ssaem sedang nganggur?"
"Iya, menunggu kelas selanjutnya, masih setengah jam lagi." dia melirik saya sekilas dan menunduk. Sikapnya sama seperti Min-ssaem yang biasa. Mungkin saya terlalu banyak berpikir dan terlalu cemas gara-gara diamnya Min-ssaem sebelumnya. Kalau Min-ssaem masih mau bicara pada saya, berarti tidak ada masalah.
"Min-ssaem."
"Ya?"
"Sudah pilih lagu untuk showcase?"
"Ah... belum. Entahlah, saya ikut Jung-ssaem saja. Saya paling tidak bisa memilih lagu sendiri." dia terkekeh pelan.
Saya diam sejenak hanya untuk menikmati wajah Min-ssaem yang begitu cerah. Telinganya yang sedikit memerah karena kepanasan membuat saya tak bisa berpaling.
"Oh, ya Min-ssaem, Anda sedang dengar lagu apa tadi? Saya mengganggu ya?" ucap saya tanpa melepas mata dari telinga itu.
"Ah, tidak, Park-ssaem..." dia mengibaskan tangannya di depan wajah. Telapak tangannya juga memerah. Kenapa dia dengan jari-jari yang memerah itu jadi seperti kucing putih dengan bantalan paw pink? Lucu. "Ini lagu baru, saya mendengarkannya sudah lebih dari sepuluh kali sejak tadi."
Dia tidak bicara langsung, tapi tangannya menyodorkan sebelah earphonenya pada saya. Pertanda kalau dia juga ingin saya ikut mendengarkan apa yang diputar di ponselnya, bukan?
Saya terima earphone itu dan saya sumpal di telinga. Terdengar musik yang ringan tapi kekinian. Ya, rasanya kekinian. Lagu baru katanya, pasti populer juga di kalangan murid-murid saya.
"Min-ssaem suka lagu ini?"
"Iya. Saya suka lagu ini."
Saya mengangguk-angguk mengikuti irama.
Really really really really, nae mameul mideojwo oh wah...
Really really really, nal johahae...
Really really really really, nae mameul badajwo oh wah...
Really really really really, nal johahae...
Lagunya terngiang-ngiang. Kata-kata Min-ssaem juga. Kenapa pula lirik lagunya begitu? Pas sekali dengan perasaan saya pada Min-ssaem.
Saya ikut memandang lapangan kosong. Berkhayal seandainya saya ada di sana, mendribble bola dan bermain berdua saja dengan Min-ssaem. Saling blocking, saling rebut bola...
Tanpa merubah arah pandang, saya mengamit tangan Min-ssaem dan menyelipkan jari-jari saya pada tangan yang sedang dia tumpu di atas lututnya itu. Saya tak melihat bagaimana ekspresinya. Tapi dia juga tidak menghindar.
Nal johahae...
Really really really really...
"Min-ssaem, lagunya enak juga."
Apa saya harus bilang sama Jung-ssaem kalau saya berubah pikiran?
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
Saya nulis liriknya sambil nyanyi hahahahaha. Siapa yang tahu itu lagu apa dan punya siapa? Jangan-jangan juga pada nyanyi pas baca haheheheheh *smirk*
