Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Pagi itu saya dan Jung-ssaem punya jadwal di jam yang sama. Sebetulnya tanpa ada niat, kami tak sengaja berjalan bersama keluar dari ruang guru.
Dia yang mengenakan vest warna peach itu sempat-sempatnya ngerapp saat sedang mengecek map absen yang dibawanya. Saya jadi ikut-ikutan—maksud saya ikut-ikutan mengecek absen, takut yang saya bawa salah kelas.
"Jung-ssaem, sepertinya saya berubah pikiran." kata saya pada guru sastra itu.
"Soal apa? Soal mengejar Min-ssaem? Tidak jadi?" tanyanya dengan muka yang sebetulnya lucu, tapi karena dia menyinggung saya, jadi mengesalkan.
"Bukan ituu!"
"Lalu soal apa?"
"Soal showcase."
"Aahh... Park-ssaem jadi tampil? Ya sudah silakan. Kenapa bilang sama saya?"
"Saya—"
"Oh apa Park-ssaem mau ikut tim saya? Jadi bertiga bersama Min-ssaem?" sebelum saya selesai bicara dia sudah menyela.
"Iya." jadilah saya reflek mengangguk. Padahal sebetulnya saya belum terpikirkan untuk bergabung dengan Jung-ssaem dan Min-ssaem. Tapi tampil sendiri juga sama tak terpikirkannya.
"Boleh!"
Saya tak menyangka Jung-ssaem akan menerima saya begitu saja. Tiba-tiba wajahnya yang berseri itu jadi nampak seperti bunga matahari. Saya bukanya terpesona, saya hanya senang mendapat sambutan yang baik.
"Tapi saya tidak akan mengijinkan Anda main piano berdua dengan Min-ssaem." tiba-tiba matanya memicing. Saya mematung.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Saya selesai mengajar pukul 11 siang. Sebelum ke kantin untuk makan saya kembali ke ruang guru untuk menaruh absen. Harap saya, di ruang guru saya akan bertemu Min-ssaem. Hari ini dia hanya punya jadwal siang, seharusnya saat saya selesai mengajar, dia sudah datang. Tapi, saya tidak menemukan Min-ssaem di mana-mana.
"Kim-ssaem, apa Min-ssaem tidak datang hari ini?" tanya saya pada Kim-ssaem yang sedang ketak-ketik di laptopnya.
"Lihat saja tasnya ada atau tidak, kalau tidak ya berarti tidak datang."
Saya kurang puas dengan jawabannya yang teramat cuek. Huh, pasti dia terlalu serius pada laptopnya dan mengabaikan saya. Lantas saya pun melirik meja Min-ssaem yang masih rapi. Tidak ada tasnya di sana. Saya pikir lagi, benar juga yang Kim-ssaem katakan. Min-ssaem tidak datang.
Saya agak kecewa. Saya juga sekaligus ingin tahu kenapa Min-ssaem absen mengajar. Sakitkah? Atau ada urusan mendadak?
Akhirnya saya keluarkan ponsel saya dari tas, saya cari riwayat chatting saya dengannya. Lalu saya chat dia. Saya khawatir dan saya merasa harus bertanya langsung pada Min-ssaem.
Jimin Park: Min-ssaem, Anda tidak mengajar hari ini?
Send. Saya menaruh ponsel saya di meja dan duduk. Gelisah sebetulnya, sebab chat saya tidak langsung dibalas. Saya memutar-mutar kursi beroda yang saya duduki dan Kim-ssaem memandang saya heran. Saya pun berhenti karena malu.
Akhirnya setelah sekitar sepuluh menit, ponsel saya bergetar. Dari layar yang menyala itu terpampang nama Min-ssaem. Chat saya dibalas!
Min Yoongi: Saya tidak bisa mengajar, tidak enak badan.
Eh? Serius?
Tanpa basa-basi, saya meninggalkan chatting yang tak begitu saya sukai karena kurang efektif. Saya pun menekan tombol call untuk menelponnya. Saya tidak bisa hanya membaca pesan singkat darinya. Saya harus tahu bagaimana keadaan Min-ssaem dengan bicara padanya secara langsung—ya meski hanya lewat telepon.
"Halo? Min-ssaem?"
"Iya Park-ssaem? Ada apa?"
"Anda... sakit?"
"Tidak juga, hanya sedikit tidak enak badan." saya sudah sering mendengar orang yang menyederhanakan kata sakit menjadi tidak enak badan. Pasti Min-ssaem tidak sekadar sedikit tidak enak badan kalau sampai tidak hadir di sekolah.
"Min-ssaem sakit?" kata Kim-ssaem dengan bisik kasar. Saya mengangguk saja.
"Anda sakit apa Min-ssaem? Kemarin kita masih mengobrol 'lho... saya tidak kira..." saya menggigit kuku. Saya khawatir. "Kenapa Anda bisa sakit?"
Dia terkekeh pelan. Kekehannya lemah sekali. Dari yang saya dengar saya bisa tebak kalau dia memaksakan diri untuk tertawa. Ish, sudah pasti Min-ssaem tidak baik-baik saja. Bukan sedikit tidak enak badan.
"Saya hanya kebanyakan minum kopi jadi asam lambung saya naik..." akunya. Saya akhirnya tahu dia sakit apa.
"Kenapa minum kopi banyak-banyak Min-ssaem...? Itu tidak baik untuk kesehatan... Anda punya maag ya?"
"Habisnya saya butuh teman untuk begadang... saya belum stor laporan ke kepala sekolah... saya kejar deadline semalam..."
"Aih... Min-ssaem..." saya sedikit tidak suka mendengarnya memaksakan diri seperti itu. Padahal kalau saya, dikejar deadline pun pasti akan minta tambahan waktu kalau saya tidak sanggup. "Lain kali jangan minum kopi, lebih baik minum susu saja... saya begadang temannya susu melon berbotol-botol."
"Hihihi, Park-ssaem, astaga. Jangan-jangan Anda mabuknya mabuk susu bukan mabuk soju." saya melirik Kim-ssaem yang terkikik sendiri. Oh, rupanya sejak tadi dia masih mendengarkan saya bertelepon.
"Park-ssaem, memangnya susu bisa mencegah kantuk?" Min-ssaem terkekeh lagi. Pelan, tapi saya bisa dengar.
"Untuk saya bisa. Saya malah mengantuk kalau minum kopi."
"Park-ssaem." Kim-ssaem terkikik seperti tadi. Ish, saya mulai tidak suka pembicaraan saya dicuri dengar oleh orang lain. Sengaja sekali dia mendengarkan saya bicara di telepon!
"Kafein itu membuat mata terjaga, tapi kenapa efeknya justru sebaliknya pada Anda? Aneh..." Min-ssaem tertawa dan saya pun tertawa. Dikatai aneh pun tak mengapa, setidaknya saya bisa menghiburnya yang sedang sakit.
"Anda harus coba, Min-ssaem... minum susu tengah malam."
"Park-ssaem!"
"Apa?!" saya menjawab dengan sedikit pekikan tak sabar. Sebelumnya saya sudah menjauhkan speaker ponsel saya dari telinga dan bibir saya. Saya tutupi dengan tangan supaya Min-ssaem tidak perlu terganggu dengan Kim-ssaem yang suka ikut campur.
"Langsung jenguk saja dia, kenapa harus ngomong lama begitu 'sih? Tidak penting pula. Dasar tukang ngobrol!"
"Aish!" saya mendecak kesal. Kim-ssaem menyisakan kikiknya dan kembali pada pekerjaannya. Lalu saya menaruh ponsel di telinga lagi. "Halo? Min-ssaem?"
"Iya Park-ssaem?"
"Anu... eng... saya boleh 'kan datang ke rumah Anda untuk menjenguk?"
"Tidak perlu repot-repot... saya tidak apa-apa 'kok..." saya ditolak. Tapi bukan Park Jimin namanya kalau saya menyerah begitu saja. Apalagi pada usaha saya memenangkan hati Min-ssaem. Eh, tunggu. Saya tulus untuk menjenguknya 'kok. Lupakan saja soal yang barusan.
"Tapi saya ingin menjenguk Anda... saya juga tinggal sendirian seperti Anda dan saya tahu rasanya sakit dan jauh dari keluarga. Jadi biarkan saya menjenguk Anda, ya?"
Sedetik setelah saya bicara, saya langsung merasa tidak enak hati. Apa saya terdengar memaksa? Saya yakin begitu. Tapi saya juga tidak sadar saat kata-kata itu terlontar. Saya hanya ingat suatu ketika saat saya sakit dan sulitnya bukan main. Belum lagi kadang muncul perasaan rindu rumah saat sedang sulit begitu. Min-ssaem baru-baru ini pindah. Saya tidak tahu kalau sebelumnya dia tinggal bersama keluarganya atau sendirian, tapi yang jelas sakit dan sendirian itu hal yang tidak bisa dikompromi. Oleh saya.
"Min-ssaem?"
"Iya, boleh."
Akhirnya saya dapat persetujuan. Lega sekali. Duduk saya sampai merosot. Tanpa sadar saya juga menjauhkan ponsel saya dari telinga dan membiarkannya tergeletak di meja. Sejenak di awang-awang, saya baru ingat kalau sambungan telepon saya belum diputus!
"Halo? Min-ssaem?"
"Iya?"
"Nanti sore saya datang ke rumah Anda, ya." ucap saya. "Anda mau dibawakan apa?"
"Saya tidak ingin apa-apa, tidak perlu repot..."
Dia selalu saja menolak dengan sopan. Tapi penolakannya membuat saya merasa wajib membawakannya sesuatu.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Semua guru sudah tahu kalau Min-ssaem tidak hadir karena sakit. Saat pulang saya titip pesan pada Kim-ssaem supaya tidak bilang siapa-siapa kalau saya mau menjenguk Min-ssaem. Saya minta dia rahasiakan ini, tapi dia malah bilang pada guru-guru lain kalau Min-ssaem hanya mau dijenguk oleh saya. Ampun... kenapa iseng sekali guru bahasa Inggris satu ini? Saya jadi malu sekaligus tidak enak pada Jung-ssaem.
Mana saya masih punya urusan showcase dengannya... bisa-bisa dia tarik kembali omongannya tentang menerima saya dalam kelompoknya. Hah. Saya pasrah saja kalau dia marah pada saya. Yang penting saya bisa menjenguk Min-ssaem seorang diri. Yaha, seorang diri. Sesekali biarkan saya egois.
"Saya pulang dulu."
"Anda mau ke rumah Min-ssaem, bukan mau pulang." cibir Jung-ssaem. Saya hanya meringis saja. Benar 'sih yang dia katakan. "Saya mau titip sesuatu."
"Titip apa?"
"Titip beli bunga untuk Min-ssaem."
"Bunga?"
Dasar pujangga cinta, orang sakit malah diberi bunga.
Bagi saya pemberian bunga bagi orang sakit tidak efektif. Orang sakit harusnya diberi obat dan diberi makanan yang bergizi supaya cepat sembuh.
"Iya. Dekat sini 'kan ada toko bunga, mungkin masih buka jam segini." dia merogoh tas dan mengeluarkan dompet panjangnya. Selembar-dua lembar uang dia berikan pada saya.
"Bunganya bunga apa?"
"Mawar merah saja. Supaya Min-ssaem tahu seberapa romantisnya saya."
Saya memandangnya malas. Tapi ya sudahlah. Hitung-hitung membuatnya tak marah pada saya. Jadi saya belikan saja apa yang dia mau.
.
Keluar dari kompleks sekolah, saya memacu motor saya untuk mencari toko bunga yang Jung-ssaem maksud. Sebetulnya saya tidak terlalu hapal di mana letaknya, untung saja satpam sekolah memberitahu saya. Katanya yang jual saudaranya, dan saya pasti diberi diskon karena saudaranya yang janda itu suka lelaki tampan. Em... saya entah harus senang atau tidak.
Setelah saya mendapatkan bunga titipan Jung-ssaem, saya membeli bubur gandum dan jus segar dari sebuah restoran bubur yang cukup terkenal di sekitar sekolah. Keluar dari tempat itu saya melirik jam yang melingkar di tangan kiri saya. Pukul 4 kira-kira. Sudah sore, dan saya pun segera melajukan motor kesayangan saya menuju rumah Min-ssaem.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Ting nong!
Saya menekan bel. Saya berdiri di depan pintu rumah Min-ssaem dengan gugup. Saya melirik dua kantung yang saya bawa. Satu berisi makanan dan satu berisi bunga—psst, jangan katakan pada Jung-ssaem kalau saya memasukkan buket bunganya ke dalam kantung plastik!
Ting nong!
Kalau dipikir-pikir, Min-ssaem 'kan sedang sakit, apa dia akan membukakan pintu untuk saya?
Saat sedang melamun, saya dengar bunyi pintu yang dibuka. Lalu saat saya menengok ke ambang pintu, yang muncul bukan Min-ssaem, melainkan sesosok bocah dengan seragam sekolah. Si tukang cengengesan. Murid saya. Kim Taehyung.
"Haduh, Park-ssaem, mau di sekolah, mau kencan, mau di mana pun kenapa harus selalu pakai baju olahraga 'sih?"
Sudah begitu saya dapat cibiran pula darinya.
"Kenapa kamu di sini? Min-ssaem mana?"
"Min-ssaem ada di kamarnya. Park-ssaem mau ketemu Min-ssaem?"
"Ya tentu lah! Untuk apa saya ke sini kalau bukan untuk bertemu dengan Min-ssaem?" kadang saya sebal pada tingkah anak didik saya. Unik sekali.
"Eheheheh." dan bocah itu malah cengengesan tidak jelas. "Mari masuk."
Dia mundur dan membukakan pintu lebih lebar untuk saya. Dia berjalan duluan dan saya mengikutinya dari belakang. Tanpa bicara saya tahu dia akan membawa saya kemana.
"Kamu ngapain di sini, Tae?"
"Menemani Min-ssaem lah!" duh, sopannya anak ini. Saya harus tabah. "Ibu suruh saya antar buah untuk Min-ssaem, sekalian menemaninya."
"Ohh..." saya mengangguk. Yah, Taehyung memang tetangganya, jadi wajar kalau anak ini ada di rumah Min-ssaem. Sebetulnya. Kenapa juga saya harus tanya tadi? Aih, apa otak saya ketinggalan di jalan?
"Min-ssaem... ada Park-ssaem datang..."
Taehyung masuk ke kamar Min-ssaem, saya tertinggal di ambang pintu. Ini kali pertama saya memasuki kamarnya. Aduh, entah apa yang saya pikirkan, saya gugup tidak jelas. Apalagi saat melihat Min-ssaem sedang berbaring di ranjangnya.
"Oh, halo Park-ssaem..." katanya.
Saya pun masuk kamar dan dia mencoba mendudukkan dirinya dengan bersandar pada kepala ranjang. Duh, wajahnya pucat sekali. Kulitnya memang putih tapi mungkin gara-gara sakit jadi lebih pucat, seperti tembok.
"Min-ssaem..." saya duduk di tepian ranjang. Sebetulnya saya tidak tahu harus mengatakan apa. Saya hanya sedih melihat Min-ssaem seperti itu. Tak sangka saja dia yang kemarin masih terlihat sehat sedang sakit sekarang. "Sudah ke dokter? Sudah minum obat? Sudah makan?"
Saya yang bodoh atau apa, saya tidak mengerti, tanpa sadar saya mengambil tangannya dan mengecup punggung tangan putih itu. Pantas Min-ssaem hanya menjawab saya dengan tawa canggung. Astaga, karena malu segera saya kembalikan tangan itu.
"Heem... sepertinya saya hanya jadi nyamuk di sini." saya menoleh saat Taehyung menyindir. Anak itu memberikan senyum mengejek pada saya. "Min-ssaem, saya boleh nonton tivi tidak?"
"Boleh."
Mendapat anggukan dari Min-ssaem, Taehyung pun melenggang pergi keluar kamar. Meninggalkan saya berduaan dengan Min-ssaem. Oke. Berduaan.
Tiba-tiba saya ingat kalau saya datang ke sini bukan dengan tangan kosong.
"Em, Min-ssaem... ini ada titipan dari Jung-ssaem..." saya menunjukkan buket bunga mawar yang saya bawa padanya. Dia sempat terkejut.
"Dari Jung-ssaem?"
"Cepat sembuh katanya..." itu saya yang menambahkan... sebetulnya Jung-ssaem tidak bilang apa-apa 'sih. Masa' saya mau bilang kalau bunga mawar itu dia berikan supaya Min-ssaem tahu seberapa romantisnya Jung-ssaem? Ei, tidak etis sekali. "Saya taruh di me—"
"Hatchiii!"
"—ja?" dia bersin.
"Aduh, maaf... saya alergi mawar..." dia menyambar kotak tissue dari meja nakas di samping ranjang dan saya hanya terbengong. "Hatchii!"
Bersinnya lucu. Wajah merengutnya lucu sekali, saya jadi gemas! Tapi sebelum mengaguminya saya harus menjauhkan mawar ini dari Min-ssaem. Kasihan dia kalau harus bersin terus.
Saya pun keluar kamar hanya untuk menitipkan buket itu pada Taehyung. Saya tidak bicara apa-apa dan anak itu tidak juga mengatakan apapun sama seperti saya. Dia hanya bengong ketika saya menaruh sebuket mawar di antara dua kakinya yang dia silangkan di atas sofa.
Saya kembali ke kamar Min-ssaem. Saya ingat kalau saya masih punya bubur dan jus yang saya bawa untuknya.
"Min-ssaem sudah makan belum?" saya duduk lagi di sisi ranjangnya.
"Tadi saya sudah makan buah dari mamanya Taehyung..."
"Itu saja? Yang lain? Nasi?" tanya saya. Dia menggeleng.
"Saya tidak selera... dari pagi saya muntah terus, mulut saya jadi pahit..."
Huh, entah kenapa hati saya terasa perih. Saya memang tidak pernah tega melihat orang sakit.
"Anda punya microwave tidak? Saya bawa bubur untuk Anda, tapi harus dihangatkan dulu sebelum dimakan."
"Ada..."
Kami terdiam sejenak. Saya tidak berani untuk jalan sendiri ke dapur karena tidak sopan. Dia juga tidak menyuruh saya untuk menghangatkan buburnya sekarang juga. Saya bingung harus apa. Makanya saya hanya diam saja memandanginya.
"Park-ssaem..."
"Ya?"
"...sebetulnya saya tidak yakin untuk tampil di showcase bersama Jung-ssaem... apalagi waktunya tinggal seminggu lagi dan saya sakit-sakitan begini... saya takut mengecewakannya..."
"Kalau begitu biar saya yang gantikan Anda."
"Eh?"
"Biar saya yang naik ke atas panggung untuk Anda. Jadi. Istirahat dan cepat sembuhlah, tidak perlu mengkhawatirkan apapun apalagi soal showcase."
Matanya berkedip-kedip lucu. Dia tak paham yang saya katakan, atau mungkin juga sedang mencernanya.
"Saya memutuskan untuk tampil, Min-ssaem..."
"Benarkah?"
"Setelah mendengar lagu yang Min-ssaem sukai kemarin... saya pikir, saya ingin menyanyikan itu untuk Anda di panggung nanti."
"Eh?" ada binar dari mata sayu itu. "Benarkah?"
Saya mengangguk. Sebetulnya saya juga malu tiba-tiba jadi cheesy begini. Bukan gaya saya sekali. Tapi kalau hasilnya Min-ssaem jadi tersipu seperti itu ya tidak rugi juga.
"Min-ssaem?" tanya saya pada dia yang menangkup sebelah pipinya dengan tangan.
"Ahh... oh, Park-ssaem saya senang sekali..." akunya. Saya tahan untuk tidak menjerit melihat wajah manisnya yang terbubuhi rona merah di pipinya itu. Astaga! Ya Tuhan!
Hati saya berdesir...
"Anu, Min-ssaem..."
Saya hanya ingin melihat wajah cantik itu lebih dekat, maka saya menggeser duduk saya. Saya mengamit tangannya dan terus menunduk. Saat saya mengangkat kepala untuk menatapnya, saya dapatkan dua belah bibir yang—entahlah saya mau bilang apa.
"Min-ssaem..." saya berpaling untuk meneguk ludah. Kenapa tiba-tiba terpikirkan ide untuk mencicipi bibir itu? Ya ampun, kerasukan apa saya?
"Park-ssaem?" saya hanya tak sangka kalau dia akan bertanya dan menggunakan telunjuknya untuk menusuk pipi saya. Saya menoleh dan lagi-lagi pandangan saya jatuh pada belah bibirnya.
"Min-ssaem."
Saya pikir saya benar-benar kerasukan sesuatu hingga saya berani mencondongkan badan dan menghilangkan jarak di antara wajah kami. Saya... menciumnya.
Hanya satu kecupan singkat. Saya buru-buru beringsut mundur saat sadar kalau yang saya lakukan itu tidak pantas.
"Buburnya... nanti dimakan ya." saya menunduk dan beranjak dari ranjang. "Saya pulang dulu."
Saya membungkuk padanya sekilas dan buru-buru keluar dari kamar itu tanpa mendengar apapun dari Min-ssaem.
"Seonsaengnim mau pulang?"
"Iya."
"Hati-hati seonsaengnim!" Taehyung melambaikan remotenya.
Saya keluar dari rumah itu dan menutup pintunya sendiri. Pada motor yang saya parkirkan di halaman rumah Min-ssaem, saya sedikit berlari. Entah kenapa dag-dig-dug hati saya masih terasa. Setelah memasukkan kunci dan menunggangi motor saya pun, saya masih saja resah. Saya mengelus dada dan melihat langit.
Maafkan saya karena sudah mencuri satu ciuman dari Anda, Min-ssaem...
"Astaga..."
Lalu esok hari bagaimana cara saya berhadapan dengannya?
...What's on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
Maafkeun karena apdetnya molooorrrr! Hueeee... entah kenapa kalau lagi banyak kerjaan saya nggak bisa nulis cerita yang bersambung. Pasti malah nyampah oneshot ga jelas. Alesannya sih kalau ff chaptered itu nulis satu ngefek ke yang lain, ke chapter selanjutnya, jadi harus ditulis bener-bener kalau nggak mau pusing sendiri nantinya *iya, tuh kan alesan*
Park-ssaem begadang ditemenin susu? Kopi bikin ngantuk katanya? Itu sebenernya dari true story saya. Ngaco emang, ya. Tapi begitulah... saya nggak ngerti lagi kenapa kalo minum kopi bawaannya pengen tewas mulu. Sementara minum susu seger sampe pagi. Ada yang begini juga?
