Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Min-ssaem tidak hadir di sekolah. Pagi tadi saya chat dia, katanya badannya masih lemas dan belum bisa dibawa pergi untuk mengajar. Ya sudah, saya maklum. Dia butuh istirahat. Saya tahu sakit lambung itu menyiksa, makan tak napsu, tidur tak nyenyak.

Saya juga sudah mengatakan pada Jung-ssaem kalau Min-ssaem tidak dapat ikut seta dalam showcase nanti karena masalah kesehatan. Dia nampak kecewa. Tapi mungkin karena semangat untuk populernya lebih tinggi, dia hanya sedih sebentar, lalu memutuskan untuk menampilkan tarian duet bersama saya.

Baiklah... saya turuti saja apa maunya Jung-ssaem. Saya lelah kalau harus berdebat. Lagipula saya tidak tahu apa-apa soal pertunjukan.

Niatnya saya akan menjenguk Min-ssaem seusai mengajar, tapi Jung-ssaem mengajak saya berlatih untuk showcase. Jadi, saya terpaksa mengatakan pada Min-ssaem kalau saya tidak jadi ke rumahnya. Berat sekali untuk menekan send. Tapi saya kirim juga pesan itu. Saya mendapat balasan dari Min-ssaem, tak apa-apa, katanya. Duh, saya benar-benar merasa bersalah dan tidak enak hati. Apalagi, kalau diingat-ingat kemarin saya sudah menciumnya dan kabur dengan tidak manly-nya. Kalau mengobrol di chat saya masih bisa, tapi andai esok Min-ssaem mengajar... saya tidak tahu apa saya masih punya muka untuk bertemu dengannya.

Siang itu di waktu istirahat saya duduk di kantin dengan Jung-ssaem di bangku yang sama untuk makan. Sebetulnya saya tidak sudi duduk dengan dia, tapi mau bagaimana lagi. Tak ada bangku yang kosong. Bahkan Kim-ssaem yang makan dengan Jin-ssaem si dokter sekolah pun menatap saya garang ketika saya mencoba duduk di sebelahnya. Dia tidak mau diganggu kalau sedang pacaran.

"Park-ssaem, Anda sedang memikirkan apa 'sih? Muka Anda mengkerut begitu seperti cumi kering."

Sialan memang Jung-ssaem itu. Saya sedang khawatir pada Min-ssaem tapi dia malah bercanda dengan meledek saya. Seperti cumi kering katanya. Itu bukan mengkerut lagi tapi keriput!

"Saya lihat Anda banyak melamun sejak pagi. Kenapa? Karena Min-ssaem tidak datang ya? Karena kangen sama Min-ssaem ya?" dia mencolek-colek dagu saya.

"Iya, saya banyak melamun karena Min-ssaem." saya menghempaskan tangan Jung-ssaem yang sudah melecehkan dagu saya dengan tidak senonohnya. Mana suka saya digoda laki-laki aneh seperti dia! Saya marah. "Puas?"

"Park-ssaem, kenapa Anda tiba-tiba jadi galak begitu? Seperti anjing penjaga gerbang sekolah saja."

"Tadi Anda bilang saya seperti cumi kering, sekarang Anda bilang saya seperti anjing penjaga gerbang sekolah. Mau Anda ini apa?!" saya mengacung-acungkan garpu saya di depan wajahnya. Saya baru sadar juga kalau di ujung garpu saya masih tertancap potongan brokoli, dan kuah sup dari brokoli itu terciprat-ciprat ke wajah Jung-ssaem.

Lelaki itu mengambil sapu tangan dari saku kemejanya untuk mengelap wajah. Saya tarik-buang napas saya dengan susah.

"Astaga Park-ssaem... Anda mau minum dulu? Siapa tahu ada setan lewat yang membuat Anda kesurupan tiba-tiba."

Saya menyambar botol mineral yang disodorkannya dan langsung menenggak isinya tanpa ampun. Sepertinya saya memang kesurupan. Tidak pernah saya semarah ini pada orang.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

"Park-ssaem ingin poop?"

"Ha?"

Sore itu sehabis mengajar saya sengaja duduk di tangga pelataran aula untuk bersantai. Jungkook duduk bersama saya untuk menggambar. Tapi, pertanyaaannya barusan membuat saya bingung.

"Wajah Park-ssaem..." anak itu menunjuk wajahnya sendiri dengan ujung pensil.

"Wajah saya kenapa?"

"Seperti sedang menahan poop. Kalau ingin poop, poop saja jangan ditahan-tahan." dia merengut seolah sedang memeragakan mimik muka seseorang yang menahan buang air besar.

"Ya ampun, saya tidak sedang ingin poop, Kook!" saya menepuk pipi saya dengan kedua tangan. Keras. Apa yang salah dari wajah saya? Tadi siang saya diejek mirip cumi kering, anjing penjaga gerbang sekolah, dan sekarang dituduh menahan poop?

Yang benar saja. Separah itukah wajah saya?

"Terus Park-ssaem kenapa?"

"Kamu jadi seperti Jung-ssaem, dia juga menanyakan hal itu pada saya."

"Apa karena Min-ssaem?" dia menurunkan buku gambarnya dan meluruskan kaki. Dia memandag saya dengan wajah sedih sarat kekhawatiran. Saya tahu anak itu peduli pada saya.

"Hu-um." angguk saya. Jungkook adalah murid yang saya sayangi jadi saya merasa tak perlu malu untuk mengaku di depannya.

"Memangnya apa yang terjadi?" tangannya menepuk paha saya. Tapi ujung pensil yang dia pegang menusuk.

"Ah kamu ingin tahu saja urusan orangtua." saya singkirkan tangan yang memegang pensil itu.

"Park-ssaem belum punya anak 'kan? Masih bujang 'kan? Belum jadi orangtua kalau begitu." tutur Jungkook dengan sedikit nada yang naik di tiap jedanya. "Oh, atau, selama ini saya tidak tahu kalau Park-ssaem sudah punya anak?"

"Kook..."

Saya mengurut pangkal hidung saya. Sulit bicara dengan anak yang kelewat pintar. Saya jadi capek sendiri. Lagipula, ada apa dengan orang-orang hari ini? Kenapa mereka membuat saya geram?

"Park-ssaem kenapa 'sih?"

"Saya tidak apa-apa..."

Saya hanya butuh tempat untuk bersandar. Maka saya membungkukkan badan dan memeluk Jungkook dari belakang. Dia duduk satu tangga di bawah saya hingga saya bisa memeluknya dengan mudah. Ternyata, bersandar di bahu orang lain saat perasaan sedang campur aduk itu lumayan membuat nyaman.

"Huh..." saya menghela napas panjang.

"Park-ssaem?"

"Tidak apa-apa 'kan Kook, saya memeluk kamu seperti ini?" tanya saya dan Jungkook menepuk-nepuk lengan saya sambil mengangguk.

"Tidak apa-apa, saya paham sulitnya menjadi orangtua. Orang yang sudah tua." godanya. Saya tertawa dan menjitak kepalanya.

"Kurang ajar, dasar murid tidak sopan!"

"Aduuuh! Park-ssaem apa 'siihhhh?!"

Saya mencium pipinya dengan gemas. Gemas sekali. Anak ini terlalu lucu sekaligus menyebalkan dalam satu waktu.

"Aiii, Park-ssaem..."

Saya dan Jungkook sama-sama menoleh ketika kami mendengar suara dan bunyi sepatu yang mendekat. Itu Jung-ssaem dengan vest oranyenya yang sewarna langit sore.

"Anda sudah beralih dari Min-ssaem ke murid Anda sendiri? Aduh, duh, duh... saya tak menyangka Anda suka juga dengan daun muda."

Saya dan Jungkook saling bertatapan dan saya lihat ada rona merah di pipi anak itu. Dia menjauh dari saya lalu menunduk dalam. Ih, sial, dasar Jung-ssaem, berani-beraninya membuat malu murid kesayangan saya!

"Jung-ssaem, jangan bicara sembarangan."

"Lalu kenapa Anda mencium murid Anda seperti itu?"

Yah... saya tahu mungkin kedekatan antara guru dan murid yang seperti kami tidak cukup wajar di mata orang lain. Tapi, wajar bagi saya! Saya 'kan sayang Jungkook.

"Jangan bilang kalau Anda iri dan ingin dicium juga oleh saya?"

"T-ti-tidak! Siapa juga yang ingin dicium oleh Anda! Iiihhh!" dia menggosok-gosok bibirnya dengan panik seperti orang kejatuhan cicak.

"Kalau begitu kenapa Anda ribut begitu 'sih? Seperti bibi-bibi saja." cibir saya.

"Bibi-bibi apanya?!" sargah Jung-ssaem tak terima. "Sudah ah, saya mau kembali ke kantor. Sekalian mengingatkan, Park-ssaem, kita ada latihan jam 6 sore di studio tari blok 5 ya! Awas kalau tidak datang! Saya nikahi Min-ssaem segera!"

Saya ternganga. Ancamannya sungguh luar biasa, pakai menyebut-nyebut Min-ssaem segala. Astaga. Kalau begini saya benar-benar tidak bisa mangkir dari latihan bersamanya.

"Iya saya tahu! Saya akan datang jadi Anda tidak usah menikahi Min-ssaem, ya!"

Saya berjengit ketika merasakan lengan saya sakit. Jungkook mencubit kulit saya dengan keras sambil mempertontonkan gigi-giginya yang besar seperti kelinci. Dia tertawa di depan saya. Menertawakan saya. Atau Jung-ssaem. Saya tidak tahu. Mungkin baginya tingkah kami kelewat konyol untuk sepasang guru.

"Park-ssaem sudah jadian dengan Min-ssaem belum? Kenapa Jung-ssaem seperti ingin menyerobot begitu?"

Saya terdiam. Anak ini ada benarnya juga. Saya... belum jadi apa-apa. Saya belum menyatakan cinta. Saya belum jadi pacarnya Min-ssaem. Tapi... saya sudah mencuri ciumannya. Duh, bingung saya.

"Belum, ya?"

Jungkook pun tahu.

"Belum..." saya menggeleng dengan sedih. Anak itu menghela napas panjang. Dia menepuk-nepuk lutut saya prihatin.

"Ck ck ck, Park-ssaem, Park-ssaem..." Jungkook mendecak.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Studio tari di blok 5 cukup nyaman. Luas dan bersih. Saya baru pertama kali masuk studio tari begini. Tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali dinding kaca besar di depan saya. Melihat bayangan saya sendiri, saya baru sadar kalau saya lumayan tampan juga. Eh. Maaf. Saya hanya sedikit lupa diri.

"Park-ssaem, kemari. Saya ingin tunjukkan vidio dance performance yang saya ingin tarikan di showcase nanti."

Saya datang padanya yang sedang sibuk dengan ponselnya.

"Boys Meet Evil. Dan ini, Lie."

Dia menunjukkan vidio dance itu pada saya. Di panggung besar yang gelap dan hanya disinari dua jenis lampu, yang warna merah dan biru itu ada dua orang lelaki yang menari dengan apiknya. Lagunya enak, saya menikmati. Tapi lama-lama saya jadi jengkel karena tarian itu susahnya bukan main ternyata.

Aish. Apa-apaan itu? Dia mengajak saya untuk menari sesulit itu? Dia pikir saya siapa?

Saya bukan siapa-siapa! Saya hanya seorang guru olahraga, titik.

"Jung-ssaem, Anda serius dengan ini?" tanya saya dengan tak yakin. Saya tidak bisa menari! Saya hanya bisa senam lantai.

"Serius!"

"Tidak, tidak. Kalau yang seperti ini saya tidak bisa. Saya tidak sanggup." tolak saya.

"Park-ssaem, Anda itu guru olahraga, pasti bisa menari seperti ini. Tubuh Anda 'kan pasti fleksibel dan elastis!"

"Hah?" memangnya saya karet? Ada-ada saja Jung-ssaem itu.

"Intinya saya yakin Anda bisa."

Saya tidak mengerti kenapa guru yang setiap hari bertengkar dengan saya itu malah menyemangati saya. Apa ini juga termasuk kepada kategori hubungan love and hate? Ah, tidak juga saya rasa.

"Saya ingin bersaing dengan sehat. Kita lihat nanti ketika Min-ssaem menonton, dia pilih tarian siapa yang lebih bagus. Saya atau Anda."

Dia manly, kawan. Dada saya terasa penuh karena dia mengucapkan kata-kata sakral seperti barusan. Ingin bersaing dengan sehat katanya. Luar biasa! Baru kali ini saya kagum pada si pujangga cinta itu.

"Oke. Saya terima tantangan Anda."

Deal. Kami telah sepakat untuk menarikan dua lagu yang di-medley itu. Tapi...

"Jung-ssaem."

"Ya?"

"Sebetulnya..." sebetulnya saya sudah janji pada Min-ssaem untuk membawakan lagu Really Really yang Min-ssaem suka. Tapi... "Ah tidak. Tidak ada."

Terbersit di pikiran saya kalau lagu itu mungkin akan saya nyanyikan saja untuk Min-ssaem di luar acara showcase. Untuknya seorang. Bagaimana? Begini lebih baik bukan?

Jadi, saya urung mengatakan niatan saya untuk mengajukan lagu lain.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Awalnya saya memang berlatih tari bersama Jung-ssaem tapi, dia bilang dia lapar jadi Jung-ssaem mengajak saya mampir ke apartemen Kim-ssaem yang kebetulan tak jauh dari studio tari. Untuk minta makan. Untuk minta ramen. Tapi, setibanya di apartemen Kim-ssaem, kami mendengar suara desah-desah basah dari balik pintunya.

Ahhh—Nghhh—Appo... Appo Daddy!

Kami sama-sama terdiam di depan pintu. Kami saling bertatapan dengan curiga.

"Ketuk jangan?" tanya saya.

"Ketuk saja..." kata Jung-ssaem dengan ragu. Dia menggigit ibu jarinya.

Tok tok!

"Saya tidak yakin kita datang di saat yang tepat... siapa tahu dia sedang..." tangan saya mengetuk, tapi saya juga ragu.

"Berselingkuh?"

Saya sedikit heran kenapa pikiran saya dan Jung-ssaem bisa sama seperti itu. Kami sama-sama tahu kalau Jin-ssaem adalah pacarnya Kim-ssaem, tap suara yang kami dengar dari dalam apartemen itu adalah suara wanita.

"Iyaaa, sebentarrrr!" tak disangka ada jawaban dari dalam.

Pintu dibuka lebar. Kim-ssaem berdiri dengan memegang rimot tivi.

"Oh! Jung-ssaem! Park-ssaem!"

Pakaiannya masih utuh, dan ketika kami mengintip lewat celah yang ada, ternyata, dia sedang menonton film porno sendirian. Kami kira, dia sedang... nggg...

"Ayo masuk!"

"Kim-ssaem kami mau ikut masak ramen ya?" kata Jung-ssaem sambil berdehem-dehem, sekali-dua kali melirik-lirik layar kaca untuk menonton. Pura-pura tidak mau, tapi ingin menonton juga.

"Iya silakan."

Karena tanggung, Kim-ssaem kembali pada kegiatan mesumnya sementara Jung-ssaem mencari ramen untuk dia masak. Sedangkan saya, hanya duduk di pojok ruangan karena tak mengira kami datang di saat yang... bisa dibilang tidak tepat. Meski dia hanya sedang menonton film porno, dan bukan sedang mempraktekkannya langsung, tapi tetap saja...

Nyaahhh...!

"Ya, Park-ssaem, Anda suka yang ukuran apa?"

Kim-ssaem dengan santainya bertanya pada saya yang sedang melamun. Melamunkan kalau yang barusan melenguh itu adalah Min-ssaem.

"Cup-nya maksud Anda?"

"Iya."

"... C?" jawab saya malu.

"Kecil ya?"

Tentang payudara wanita, saya suka yang biasa saja sejujurnya. Tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, Standar.

Saya sebagai laki-laki yang sehat suka juga menonton vidio porno seperti itu. Tapi, belakangan ini semenjak saya mengenal Min-ssaem, saya tidak pernah berani lagi menyetel tontonan nista di tivi saya. Saya hanya takut kalau Min-ssaem terus-terusan jadi bintang porno dalam mimpi saya, saya bisa jadi gila. Seperti waktu itu, ketika dia menyisir rambut saya dan memberi saya roti melon. Sesungguhnya semalam suntuk saya tidak bisa tidur karena terus memikirkan dirinya.

Pukul saja saya kalau memang saya sudah keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi, Min-ssaem memang terlalu memesona dengan tubuh indahnya.

"Aduh..." Kim-ssaem berkomentar ketika adegan porno itu sampai pada intinya.

Saya berkali-kali mencoba mengalihkan pandangan pada apapun yang ada di ruangan itu. Entah figura, entah boneka Rian dan Brown yang tergeletak sembarang di lantai, atau pada jeruk-jeruk yang bertupuk di mangkuk merah yang ditaruh di tengah-tengah meja kecil yang jadi sandaran punggung Kim-ssaem.

Lama-lama saya risih. Mungkin karena lapar saya jadi sensitif. Ngomong-ngomong, ramen yang saya nantikan belum datang juga.

"Ekhem, ekhem."

Saya berdehem beberapa kali untuk memecah keheningan. Saya juga pura-pura makan jeruk dengan rakus, padahal jeruknya asam sekali. Tak kira, saat saya sedang fokus pada layar kaca karena adegan yang mengundang perhatian, ponsel saya bergetar. Saya sedikit berjengit kaget karena getarnya di dalam saku celana. Rasanya geli sekali. Mungkin efek dari tontonan saya jadi rasanya aneh begini.

"Halo?"

"Park-ssaem?"

Mendengar suara yang saya kenal, saya menjauhkan ponsel saya sejenak dari telinga. Barusan saya mengangkat telepon tanpa melihat dari siapa itu. Ternyata, itu dari Min-ssaem. Astaga!

"I-iya Min-ssaem?" saya segera mendekatkan lagi ponsel saya ke telinga.

"Park-ssaem... saya tidak bisa tidur karena... ada yang ingin saya tanyakan pada Anda."

"A-apa itu?" saya tidak bisa menyembunyikan kegugupan saya.

"Park-ssaem... kemarin Anda sudah mencium saya... tapi kenapa Anda kabur...?"

Saya jelas kaget. Rupanya Min-ssaem tidak melupakan itu. Oh ya tentu saja! Sayalah yang telah menicumnya tanpa permisi jadi mana mungkin dia melupakannya dengan mudah? Saya pencuri!

"Anda tahu tidak, kejadian kemarin itu sampai terbawa mimpi. Saya memimpikan Anda semalam..."

Saya menelan udah dengan sulit. Dada saya berdesir hebat. Memimpikan saya? Mimpi yang seperti apa?

"Emm... Min-ssaem?" sebetulnya saya tidak tahu apa yang harus saya katakan padanya. Tapi saya... ingin bilang kalau...

Ah—ah—ahhh!

"Saya... Sa-saya..."

"Park-ssaem? Anda sedang apa?"

"Ya?"

No, not there, it hurtss... aaah!

"S-sedang... nonton... vidio... porno..."

"Hee?"

"Eh! A-anu! S-s-saya tutup dulu ya? Akan saya telepon balik nanti!"

Demi Tuhan, kenapa saya begitu ceroboh? Mengangkat telepon sementara suara-suara tidak senonoh di tivi itu masih terdengar dengan volume yang tidak bisa dibilang kecil. Ya tuhan! Bodoh sekali saya ini!

Jeduk!

"Park-ssaem?"

Kim-ssaem membalik badannya ke arah saya, mungkin dia dengar kalau barusan ada bunyi benturan yang cukup keras. Iya, saya membenturkan kepala saya ke dinding tadi.

"Lanjutkan saja, saya mau keluar dulu, cari angin." ucap saya, seraya bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Angin 'kok dicari?"

Keluar dari apartemen itu saya menendang kantung sampah yang teronggok di tepian jalan hingga kucing yang sedang tidur di tembok benteng tetangga kabur. Inginnya saya menendang apapun yang ada untuk melampiaskan kekesalan saya. Kenapa? Kenapa saya bodoh sekali?

"Min-ssaem... Min-ssaem... Huhu..."

Saya memeluk tiang listrik sembari merutuki kebodohan saya. Sekarang saya tidak tahu apa yang sedang Min-ssaem pikirkan di sana. Saya tidak tahu apakah mungkin dia akan salah paham pada saya, atau dia akan membenci saya karena ini. Saya tidak tahu! Dan saya tidak berharap begitu! Saya masih cinta Min-ssaem! Tapi... Tapi...

Dengan kalut saya menekan tombol call untuk menelepon Min-ssaem.

"Halo Park-ssaem?"

"Min-ssaem, bolehkah saya menemui Anda sekarang juga? Bolehkah saya datang ke rumah Anda? Saya ingin bicara sesuatu."

"Ha? Kenapa tiba-tiba?"

"Bolehkah?"

"Ah... um... boleh."

Saya menjauhkan ponsel itu dari telinga. Saya menatap layarnya yang masih menampilkan warna hijau dari logo telepon yang tersambung. Saya tak tahu kenapa saya menelpon Min-ssaem, dan saya tak tahu kenapa saya mengatakan kalau saya akan datang ke rumahnya malam-malam begini. Malam-malam, sudah jam 10 dan sudah lewat dari waktunya bertamu. Astaga, Tuhan. Saya nekat sekali. Kenapa saya jadi tidak waras seperti ini 'sih?

...What's on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED

Siapa yang kangen sama Park-ssaem? Hehehehe. Maapkeun kalau fanfic ini apdetnya molor lamaa banget. Yang ringan-ringan dan bersambung begini butuh mood bagus untuk nulisnya. Kebetulan saya baru dapet mood itu kemarin, jadi langsung tulis deh hehe.

Oh ya, kalau ada yang tanya kenapa fanfic ringan macam gini ditaro di rated M, sebetulnya, saya menyimpan yang ena-ena untuk nanti. Daaan... karena ini ngambil latar belakang guru, temanya dunia guru, saya agak sangsi kalau kasih T karena takutnya, ada yang belum maklum sama penyelewengan imej guru di sini. Gitu aja sih, maapkeun...