Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Saya kembali ke dalam apartemen Kim-ssaem hanya untuk mengambil tas saya yang tertinggal. Saya harus pergi ke rumah Min-ssaem untuk menemuinya. Sudah minta izin untuk bertamu, masa' saya tidak datang?

Saat membuka pintu, saya mencium harum aroma kuah kaldu ramen. Tentulah dengan semangat saya segera masuk. Melihat Jung-ssaem sedang menyeruput ramen-nya, saya dengan bahagia segera mendudukkan diri untuk makan.

Tapi, di meja tidak ada mangkuk ramen lain selain yang Jung-ssaem pegang.

"Lho? Ramen saya mana?" tanya saya bingung. Jung-ssaem mengunyah ramen dalam mulutnya sambil memasang tampang biasa.

"Buat sendiri, Park-ssaem!" katanya cuek.

"Saya kira Anda masak ramen-nya dua sekalian untuk saya?"

"Memangnya Anda minta saya untuk buatkan ramen? Tidak 'kan?"

Geez. Manusia satu itu memang tidak bisa tidak saya benci.

"Sudah cari anginnya? Hati-hati Anda jadi bawa angin, masuk angin terus buang angin di sini." ucap Kim-ssaem yang menoleh ke arah saya.

"Apa, 'sih?"

Saya tidak mempan dengan lelucon Kim-ssaem. Sudah saya bilang kalau lapar saya jadi sensitif. Sudah begitu pikiran saya saat itu sedang terpencar kemana-mana jadi untuk menanggapi leluconnya pun saya tidak bisa.

Akhirnya karena kesal, saya beranjak untuk membereskan barang saya, mengenakan jaket, sarung tangan dan mengambil helm yang teronggok di dekat pintu.

"Park-ssaem mau kemana?" tanya Jung-ssaem. Kim-ssaem pun menoleh lagi.

"Mau pulang." bohong saya. Mereka tidak perlu tahu saya mau kemana.

"Lho, filmnya belum selesai lho. Masih ada ronde kedua." Kim-ssaem menunjuk tivi. Tapi saya menggeleng sembari mengenakan helm.

"Saya juga punya koleksi, nanti bisa nonton sendiri." kata saya.

"Park-ssaem, pakai helm di dalam ruangan begitu Anda jadi terlihat seperti perampok minimarket. Hihihihihi." Kim-ssaem tertawa. Jung-ssaem sampai tersedak karena si guru bahasa Inggris itu melucu tepat ketika Jung-ssaem sedang menyeruput kuah ramen-nya.

"Saya akan merampok rumah Anda seandainya Anda punya uang milyaran yang disimpan di bawah bantal." ucap saya menanggapi. "Sudah, ya. Saya pulang dulu."

"Tidak mau masak ramen dulu?" tanya Jung-ssaem sambil mengangkat mangkuk ramen-nya.

"Ah, di rumah saja!"

Saya pamit pulang. Keluar dari gedung apartemen sederhana itu, saya berjalan sedikit ke tempat saya memarkirkan motor. Ada kaca jendela tepat di depan saya. Lalu saya melihat bayangan diri saya sendiri. Kalau dipikir-pikir, benar juga kata Kim-ssaem. Saya seperti perampok minimarket. Untungnya saya tidak pakai jaket kulit dan celana ketat. Nanti dikira anggota geng motor.

Saya merogoh saku untuk mengecek waktu. Pukul 22.40. Ya Tuhan. Sudah malam sekali ternyata. Saya jadi ragu, pergi tidak ya? Saya takut Min-ssaem sudah tidur...

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya mengecek waktu lagi ketika saya sampai di depan rumah Min-ssaem. Sepanjang perjalanan ke kompleks itu, jalanan sudah sangat sepi. Saya yakin orang-orang sudah tidur, pun dengan Min-ssaem. Tapi, sepertinya dugaan saya salah karena nyatanya rumah Min-ssaem masih terlihat terang. Lampunya masih menyala.

"Ya ampun sudah jam segini..." saya sampai di sana sekitar jam 11 malam. Tanpa membuang waktu, saya segera turun dari motor saya dan berjalan masuk ke halaman rumah Min-ssaem.

Ting nong! Saya tekan belnya. Dengan gugup saya menunggu pintu itu dibuka.

Cklek! Kenopnya bergerak. Pintu itu terbuka dan nampaklah sosok Min-ssaem yang mengenakan piyama satin gading dengan baju hangat yang tersampir di pundaknya. Entah bajunya yang tipis atau apa, tapi saya bisa melihat dengan jelas dua titik yang menonjol di puncak dadanya. Saya menelan ludah.

"Park-ssaem?"

"Ah... Emm... Selamat malam, Min-ssaem. Anda sudah tidur ya? Maaf menggangg—"

"Ayo cepat masuk! Di luar dingin!"

Sebelum saya menyelesaikan kalimat yang saya ucapkan, Min-ssaem menarik tangan saya. Otomatis kaki saya bergerak melangkah dan saya pun masuk ke rumahnya begitu saja. Pintu itu kembali dia tutup dan Min-ssaem mengangkat bahu sambil mendesis.

"Dingin." tapi tangannya masih menggandeng saya. "Oh! Maaf."

Saya berdehem ketika dia sadar kalau saya memerhatikan tangannya. Dia lepaskan genggaman itu dan kami sama-sama tidak saling menatap, malah melempar pandang ke sembarang arah. Malu rasanya. Apalagi, bagi saya, ini pertama kalinya saya melihat wajah Min-ssaem secara langsung setelah saya kabur dengan tidak elitnya kemarin itu.

"Maaf ya, saya mengganggu malam-malam begini."

"Maaf juga, tapi... Anda sepertinya lupa untuk melepaskan helm?" tunjuk Min-ssaem ke kepala saya. Saya pun memegang kepala saya sendiri. Oh iya betul. Bagaimana saya bisa lupa?

"Maaf Min-ssaem, maaf..." saya pun melepaskan helm dengan malu. Malu sekali.

Krunyuuk~

Saya menutup mata menahan malu yang bertambah jadi berkali lipat gara-gara perut saya berbunyi tiba-tiba. Sialan memang. Ini gara-gara saya lupa kalau saya belum makan.

"Park-ssaem sudah makan malam?"

"... belum..." entah sudah seberapa besar malu yang saya tumpuk. Mungkin muka saya sudah mirip kepiting rebus saking malunya. Saya hanya menggeleng pelan lalu mengulum bibir. Min-ssaem sedikit terkekeh dan saya tidak mengerti apa maksudnya.

"Kalau begitu makan malamlah dulu. Saya masih punya sup iga di dapur."

Saya menggigit empat jari saya karena terharu. Tapi rasanya sedikit asin dan tak enak di lidah. Oh. Pantas. Sarung tangannya belum saya lepas.

"Maaf ya Min-ssaem... saya jadi merepotkan begini..."

Min-ssaem berjalan ke dapur dengan gestur yang meminta saya untuk mengikutinya.

"Tidak apa-apa Park-ssaem! Tidak apa-apa!" dia menggeleng sambil tersenyum manis.

Terkutuklah Jung Hoseok! Pria jahat yang tak membuatkanku ramen sepertimu tidak akan pernah mendapatkan senyum Min-ssaem yang semanis itu!

Saya mengumpat dalam hati. Sedikit banyak saya merasa seperti di atas angin. Senang juga mengingat saya punya kesempatan untuk bertemu Min-ssaem malam-malam begini, di rumahnya. Kalau Jung-ssaem belum tentu bisa seberuntung saya.

"Park-ssaem, Anda kenapa?"

Mungkin Min-ssaem telah memergoki saya yang senyam-senyum sendiri.

"Tidak, hanya... eheh. Ehehehehe." cengir saya dengan ambigu. Sudah lama saya tidak mengkopi jurus inosennya Taehyung.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya makan dengan nikmat. Nikmat sekali. Saat makan saya membayangkan apa begini rasanya punya istri? Dibuatkan makanan meski malam sudah larut. Duduk berdua saja di meja makan. Duh, saya bahagia. Sebetulnya saya juga sedikit malu karena Min-ssaem tidak makan seperti saya. Dia malah menopang dagu dan menonton saya menghabiskan sup iga dan nasi buatannya. Tidak biasa makan hampir tengah malam, katanya.

Selesai makan saya membereskan mangkuk dan gelas yang telah saya pakai. Saya berniat mencucinya sendiri tapi ketika saya berjalan ke wastafel, Min-ssaem menyusul dan mencegah saya untuk mencuci. Dia tidak memperbolehkan saya mencuci piring. Dengan sedikit paksaan dia merebut mangkuk dan gelas yang saya pegang, lalu mencucinya untuk saya. Uh, melihatnya memutar kran dan meremas spons, makin saja saya berangan-angan bahwa kehidupan rumah tangga saya dengannya di masa depan mungkin akan seperti ini. Ups. Apa saya terlalu jauh mengkhayal?

"Ummm... jadi... sebetulnya apa yang ingin Park-ssaem bicarakan?" begitu tanya Min-ssaem ketika kami telah duduk santai di ruang tengah—katanya, dia tidak begitu suka mengobrol di ruang tamu jadi dia membawa saya duduk di sofa depan tivi.

"Anu... soal yang tadi... ketika Anda menelpon... saya... saya..." saya menggaruk tengkuk untuk sedikit mengurangi kegugupan. "Saya sedang berada di apartemennya Kim-ssaem, dan saat itu kebetulan dia sedang nonton... emmm... anu, film porno."

Saya meliriknya takut-takut. Mata kami saling bertemu tapi Min-ssaem hanya melirik saya sekilas lalu berdehem canggung.

"Oohh begitu..."

"Saya... saya tidak ikut-ikutan'kok, kebetulan saya dan Jung-ssaem datang ke apartemennya untuk masak ramen, tapi kami datang di saat yang kurang tepat."

Saya masih meliriknya dengan takut. Tapi sekali lagi dia hanya menunjukkan wajah canggung. Ada sedikit rona merah di pipinya dan saya tidak tahu apa penyebabnya.

"Begitu saja sebetulnya... saya... hanya takut Min-ssaem salah paham..."

"Tidak, tidak, saya mengerti 'kok." dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah sambil memasang sedikit kekeh.

"Oh ya, lalu... soal kemarin itu..." saya gelagapan untuk mengaku. "Maafkan saya... maaf... saya... melakukan itu tanpa berpikir jadi... maafkan..."

Saya tidak tahu lagi harus bicara apa. Menyangkut soal ciuman kemarin, saya benar-benar jadi gugup. Suasana pun mendadak canggung sekali. Kami sama-sama diam tanpa bicara dalam beberapa saat. Sampai Min-ssaem berucap,

"Sebetulnya itu ciuman pertama saya..."

Demi Tuhan, mendengar itu seperti ada petasan meledak di telinga saya.

"Ehe." dia melepaskan kekeh pelannya dengan malu-malu. Oh sungguh, terkutuklah Park Jimin karena telah mencuri ciuman pertama Min-ssaem tanpa permisi!

Setelah itu kami terdiam lagi. Saya mati gaya. Min-ssaem pun hanya memainkan jari-jarinya sendiri. Lalu, saya melirik jam dinding dan cukup kaget melihat waktu yang tertera di sana.

Jam satu malam!

"Ahh... Min-ssaem, sepertinya ini sudah terlalu larut, saya harus pulang..."

"Ahh mau pulang?"

Saya menyambar tas dan saya selempangkan, lalu saya mengenakan sarung tangan. Tapi tidak dengan helmnya. Masih saya jinjing.

Pintu belum sempat Min-ssaem buka. Tapi kami mendengar suara hujan yang begitu deras. Min-ssaem membuka tirai jendelanya dan benar saja, hujan sedang turun. Saya ikut mengintip dan melihat jalanan yang mengalirkan air. Bahkan motor saya yang terparkir di halaman rumah Min-ssaem pun kehujanan.

Sepertinya hujan sudah turun sejak tadi, tapi kami baru sadar.

"Aduh... bagaimana ini?" saya cemas.

"Hujan deras begini pasti lama... Mungkin masih akan turun sampai subuh."

Saya ingat juga kalau saya tidak bawa jas hujan atau apapun yang bisa melindungi. Hujannya deras sekali. Saya tak yakin untuk menembus hujan yang lebih seperti badai itu.

"Park-ssaem menginap saja di sini." dia melirik saya.

"He?" saya balas meliriknya.

"Menginap saja, tidak apa-apa. Anda tidak bisa pulang dengan cuaca buruk seperti ini. Bahaya."

"Hee?"

"Tapi berhubung kamar di rumah ini hanya satu, mungkin Anda bisa tidur dengan saya kalau Anda mau."

"Heee?"

"Ah! Sepertinya saya punya kaos yang agak besar untuk Anda berganti pakaian, Park-ssaem. Sebentar ya saya carikan dulu di lemari."

Min-ssaem sedikit berlari ke kamarnya. Saya mematung di tempat saya berdiri.

"Heeee?"

Saya masih bingung sendiri dengan keadaan yang tiba-tiba menjebak saya di rumah Min-ssaem.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya benar-benar berakhir di ranjang Min-ssaem. Dengan kaos yang dipinjamkannya. Dengan bantal dan selimut yang dia bagi. Kami satu ranjang. Saya dan Min-ssaem. Saya di kiri dan Min-ssaem di kanan. Oh, Tuhan. Apa nenek moyang saya di masa lalu pernah berbuat kebaikan yang sangat berarti untuk bangsa dan negara? Kenapa saya bisa mendapatkan keberuntungan sebesar ini sekarang?

Hati saya tak tenang. Dada saya kencang sekali berdegup. Iya, kalau dipikir-pikir bagaimana bisa saya satu ranjang dengan orang yang saya idamkan? Suaminya saja bukan, bahkan pacaran saja belum. Tapi tidak ada yang tahu takdir manusia, memang. Tidak ada yang bisa prediksi.

Saya merasa terlalu canggung untuk sekedar merubah posisi berbaring saya. Jadi saya hanya mencuri pandang lewat lirikan. Di samping saya, Min-ssaem terlihat sudah memejamkan mata. Saya jadi berpikir, apa yang dia rasakan ketika dia bersama saya? Apa dia juga merasakan hal yang sama dengan saya? Gugup, cemas tak jelas. Atau, biasa saja? Karena, dia terlihat nyaman-nyaman saja tidur bersebelahan dengan saya yang belum lama dikenalnya ini.

"Emmm..."

Karena tak bisa tidur, saya cari kegiatan. Jadilah saya meraih ponsel dan saya pasang earphone untuk mendengarkan lagu. Di playlist saya, ada lagu yang Min-ssaem suka. Entah kenapa saya tiba-tiba ingin mendengarkannya.

Saya menekan play dan dimulailah lagu itu terdengar.

Eodiya jibiya an bappeum nawabwa

Neone jib apiya neoege hagopeun mali isseo

Igeol eotteohge maleul kkeonaeya haljin moleugessjiman

Isanghan mal anya budam eobsi deuleojwo...

Saya baru sadar kalau ada potongan lirik lagu tersebut yang seolah bercerita tentang diri saya sendiri. Datang ke rumah Min-ssaem untuk mengatakan sesuatu. Hahah. Iya, pengakuan yang memalukan itu. Untunglah dia pengertian jadi saya tidak perlu khawatir.

"Neol hyanghan nae mami donimyeon ama nan Billionaire, nal johahae..." lama-lama saya jadi ingin bersenandung mengikuti.

Really really really really, nae mameul mideojwo oh wah...

Really really really, nal johahae...

Really really really really, nae mameul badajwo oh wah...

Really really really really, neon na eott—

"—ae..."

Tepat di ujung reff lagu itu saya melirik Min-ssaem dan saya tak kira kalau dia sedang menatap saya tanpa berkedip. Sekali lagi, menatap saya tanpa berkedip.

"Astaga!" saya yang jelas-jelas terkejut kemudian berjengit dan hampir melempar ponsel saya sendiri. Earphone saya terlepas dari telinga. Saya mengelus dada, saya tak tahu kalau Min-ssaem ternyata belum tidur. Tapi, bukankah tadi dia sudah terlelap?

"Park-ssaem..." panggilnya dengan mata berbinar. Saya masih syok.

"I-iya?"

"Kenapa saya baru tahu kalau Anda punya suara sebagus itu?" binarnya masih di sana. Dia bahkan jadi terlihat seperti kucing yang menemukan ikan lezat. "Dan lagi... barusan Anda menyanyikan lagu favorit saya..."

Saya melirik pada lengan saya yang dia cengkram tiba-tiba.

"Aah... ngg..." saya terdiam kaku gara-gara tatapannya yang intens itu.

"Park-ssaem..."

"Y-ya?"

"Hnngggg..." dia menggigit bibir bawahnya sambil mendengung lama dan panjang. Saya menunggu apa yang akan terjadi. "Uwaaaaahhhh! Saya suka sekaliiiii! Sukaaa! Saya senang, saya senaaanggg!"

Min-ssaem menjerit keras. Dia memeluk saya. Erat. Sangat erat. Bahkan dia hampir menindih badan saya. Kakinya ada di atas perut saya dan bahu saya dipeluk dengan tenaga. Sekuat tenaga mungkin. Sampai-sampai saya hampir tak bisa bernapas.

"Ugh! Min—Min-ssaem!"

Dia sedikit mengangkat tubuhnya untuk menatap saya. Dalam kesempatan itu saya pun mengais udara sebanyak yang saya bisa. Sumpah, saya tidak tahu kalau Min-ssaem bisa mengeluarkan tenaga sebesar itu. Kalau dia adalah atlit gulat, mungkin saya tak akan berani jadi lawannya.

Min-ssaem tersenyum lebar sekali, dengan pipinya yang merona merah. Giginya yang kecil membuat senyum itu memperlihatkan gusi merah jambunya. Dia sangat manis, tapi saya sesak napas.

"Saya... saya senang sekali mendengarkan Park-ssaem menyanyikan lagu itu... Henggg..." dia mendengung lagi dan dia memeluk saya lagi. Kali ini dia betul-betul menindih saya.

"Ugh—"

Entah saya harus bahagia atau sedih karena saya merasa akan mati tak lama lagi. Saya tidak bisa bernapas.

"Min—ssaem..."

"OH! ASTAGA!"

Pelukan itu telepas tiba-tiba. Saya diam membuka mulut dan mata. Organ-organ dalam tubuh saya belum sepenuhnya berfungsi dengan baik setelah dipeluk dengan cara yang luar biasa seperti itu.

"Maafkan saya Park-ssaem, maafkan sayaaaa!"

Min-ssaem sedikit bangun dan menahan berat tubuhnya di kedua tangan yang dia taruh di dada saya. Dia membungkuk dalam berkali-kali dengan wajahnya yang sarat rasa bersalah.

"Maafff! Maafkan saya yang terlalu senang ini!"

Saat saya kembali sadar, mata saya menangkap bayangan dari balik kerah piyama Min-ssaem. Dia yang membunguk itu membuat saya bisa melihat kalau di dalam sana... ada sebayang garis yang membelah dadanya yang terbilang montok untuk ukuran seorang laki-laki.

Aduh. Ini sungguh berbahaya bagi kesehatan jantung saya. Juga bagi kewarasan saya. Apalagi, ternyata, yang baru saya sadari juga adalah duduknya yang menindih perut saya. Ya, dia duduk di atas perut saya...

"Eng... A-anu... Min-ssaem..." posisi kami sangatlah tidak wajar. Saya jadi takut sendiri.

"Eh! Ah! Ma-maaff!"

Dia menutupi wajahnya dan buru-buru melangkahi saya untuk berguling dan menghempaskan diri pada bagian kosong di samping saya. Saya tahu dia melirik saya sekilas lalu menutup wajahnya lagi. Saya yakin wajah itu sudah semerah tomat, karena dari daun telinganya saja sudah terlihat rona padam itu.

"Maafkan sayaaaa!" pekiknya yang teredam tangan. Dia membalik badan memunggungi saya.

Saya hanya bisa mengulum bibir. Mungkin, tidur bersama Min-ssaem tidak cukup baik untuk saat ini. Belum. Belum cukup baik bagi kami. Jadi, sepertinya saya harus keluar dari kamar itu demi keselamatan bersama.

Sadar akan hal itu, saya pun bangun terduduk dengan sekali hentakan. Saya menoleh pada Min-ssaem yang telah menurunkan tangannya dari wajah.

"Min-ssaem. Saya... boleh nonton tivi tidak? Saya tidak bisa tidur..."

"Ah?"

Awalnya dia bingung tapi ujung-ujungnya dia memperbolehkan saya menyalakan tivi di ruang tengah. Saya keluar dari kamar itu dengan membawa sebuah bantal. Dengan wajah merahnya Min-ssaem mengatakan pada saya untuk tidak tidur di sofa karena saya bisa sakit leher dan pegal-pegal. Tapi, meski dia bilang begitu, saya tidak berniat kembali ke kamar itu. Tidur di sofa lebih baik daripada tidur di kamar bersamanya.

Duh, saya hanya belum siap.

Karena sungguh, ini sangat tidak wajar bagi kami yang masihlah sebatas teman seinstitusi! Iya, saya masih berstatus sebagai temannya. Hiks.

Di depan tivi yang menayangkan berita malam, saya menekuk kaki di atas sofa. Saya merenung. Debaran dada saya yang tak tertahankan ini, apakah jadi pertanda kalau saya harus menyatakan cinta padanya sesegera mungkin?

Ah, saya harus menyiapkan hati.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Pagi menjelang. Saya yang mungkin baru benar-benar bisa tidur selama setengah jam ke belakang pun bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu, setelah membersihkan diri saya melangkahkan kaki ke kamar Min-ssaem untuk membangunkannya.

Saya sadar kalau kami sama-sama punya jadwal pagi dan kami tidak boleh terlambat.

"Min-ssaem?"

Tok tok! Saya mengetuk pintunya, tapi tak ada jawaban. Saat menunggu itu pula saya merasakan pinggang dan punggung saya ngilu. Jangan-jangan saya sudah tua jadi sakit-sakit seperti kakek-kakek begini? Atau... oh. Saya lupa kalau semalaman saya berbaring di sofa yang sempit.

"Min-ssaem?"

Akhirnya karena tak ada jawaban, saya masuk dengan sembrono. Hanya dengan cicitan kecil untuk menyebut permisi. Saya berjalan pelan, dan saya melihat Min-ssaem yang masih tertidur pulas dengan tubuh meringkuk seperti kucing.

"Min-ssaem?"

Saya hanya memanggilnya. Tapi mungkin jarak yang dekat yang membuat telinganya mendengar panggilan saya. Perlahan matanya terbuka dan dia pun bangun.

Tuhan, betapa cantik wajah bidadari yang baru bangun tidur itu.

"Park-ssaem...?" tanyanya dengan morning voice yang indah.

"Min-ssaem, good morning. I love you."

Saya menyambut paginya dengan sebuah pernyataan cinta.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED

Fast update mumpung nggak ada kerjaan dan gabisa tidur mueheheheheh. Yang kesel-kesel karena Park-ssaem yang agak sedikit ogeb, silakan tambah kesel yha! Delapan chapter dan Park-ssaem baru nyatain cinta? Iya, dia mah emang lamban kaya siput. Park-ssaem udah nyatain cinta, terus apa jawaban Min-ssaem? Gimana juga nasib Jung-ssaem yang pingin bersaing sehat? Nantikan di chapter depan.