"Min-ssaem, good morning. I love you."

Saya menyambut paginya dengan sebuah pernyataan cinta.

Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Min-ssaem memandang saya dengan matanya yang belum sepenuhnya terbuka, juga dengan kerutan di dahi. Oh, oke. Kerutan di dahi. Saya menelan ludah sembari berkedip-kedip mata menahan kegugupan. Min-ssaem masih memasang ekspresi seperti itu tanpa bicara apa-apa. Hanya mengeluarkan heheh-nya.

"Ah, Park-ssaem."

Lantas dia tidur kembali.

TIDAAAAKKK! Ingin saya berteriak pada semesta betapa kecewa sekaligus malunya saya atas jawaban Min-ssaem yang kelewat biasa itu. Ya Tuhan! Saya mengumpulkan segenap keberanian, sepenuh hati untuk mengucapkan kata-kata sakral di hadapannya tapi dia malah memberi jawaban seperti itu?

Segala geraman dan kekesalan itu saya tahan dengan membalik badan, mengais napas banyak-banyak dan menghembuskannya panjang-panjang. Saya mendongak menatap langit-langit kamar Min-ssaem lalu saya kembali dengan sedikit perih yang tersisa. Lainnya saya kubur. Menggigit bibir lumayan ampuh untuk membantu saya menahan diri dan mencoba tegar.

Saya lihat dia terpejam dengan damainya. Badannya melintang di atas kasur dengan tangan terangkat di atas kepala.

"Anu, Min-ssaem."

Sejujurnya saya ingin menangis. Ingin pulang saja rasanya. Ke Busan, bertemu orangtua yang lama tak saya kunjungi, lalu berkeluh kesah tentang saya dan pernyataan cinta saya yang salah timing.

"Min-ssaem," saya memanggilnya tapi dia tak merespon sama sekali.

Saya mengelus dada, mencoba melupakan hal memalukan tadi seolah tak terjadi apa-apa. Ah, tapi tak bisa! Saya pun menempeleng kepala saya sendiri supaya saya bisa bersikap pura-pura polos. Ya, tidak terjadi apa-apa!

"Min-ssaem, Anda ada jadwal mengajar pagi, bukan?" kali ini saya mencondongkan tubuh saya dan menjulurkan tangan untuk menyentuhnya agar dia bangun. Tunggu. Menyentuh di sini bukan berarti menggunakan lima jari saya dan memegang bagian dari tubuhnya. Tidak. Saya hanya pakai jari telunjuk. "Min-ssaem?"

Dia malah bergumam dan menggeliat tak nyaman, seolah tak mau dibangunkan. Seolah tak rela lepas dari ranjang dan bantalnya karena saya lihat dia memeluk salah satu bantalnya yang menganggur dengan sangat erat. Dia masih terpejam tapi bibirnya memberengut.

Saya bingung harus melakukan apa lagi. Rambut saya jadi korban kefrustrasian saya. Akhirnya saya bersimpuh di depan kasurnya.

"Min-ssaem, ayo, bangun ya? Nanti Anda bisa terlambat..."

Dia masih begitu. Saya membanting kepala ke ranjang. Sambil memejamkan mata saya berpikir, Min-ssaem yang susah bangun begini bagaimana caranya bisa datang ke sekolah tepat waktu tiap harinya? Apa di kesempatan lain dia menaruh jam weker tepat di samping kepalanya? Ah, saya tak tahu.

Saya mengangkat wajah. Di depan saya Min-ssaem masih tidur dengan nyenyaknya. Bibirnya sedikit terbuka dan itu membuat saya ingin menjawilnya. Dan saya benar-benar melakukan apa yang saya inginkan.

Saya sentuh bibir tipis itu dan Min-ssaem melenguh sambil menggerakkan kepala.

Awalnya saya takut kalau dia akan bangun dan memarahi saya. Tapi ternyata dia malah kembali ke bantalnya. Lalu saya iseng menusuk pipi gembilnya dengan telunjuk dan dia melenguh lagi. Saya mengangkat sudut bibir. Entah mengapa mengerjainya terasa menyenangkan.

Saya mulai cengengesan tak jelas di balik tangan yang menutupi mulut saya.

"Park-ssaem, Anda ini kenapa?"

Saya masih tertawa. "Hihihihi, Anda sangat lucu, Min-ssaem."

Saat itu juga saya baru sadar kalau yang barusan mengajak saya bicara adalah orang yang saya kerjai. Saya terdiam dengan mata membola dan tangan kaku. Min-ssaem menatap saya dengan mata memicing curiga.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Bahkan sampai tiba di sekolah pun, Min-ssaem sama sekali tidak menyinggung soal pernyataan cinta saya. Saya yakin seratus persen kalau dia juga tidak sadar kalau saya telah menyatakan perasaan padanya saat dia bangun tidur. Hah, nasib.

Saya jadi agak kecewa, tapi tiap melirik Min-ssaem yang memasang senyum ketika berpapasan dengan muridnya, kekecewaan saya sirna sedikit-sedikit. Mungkin saya memang harus berlapang dada dan melupakan kejadian memalukan itu...

"Jadi... ada yang bisa jelaskan kenapa Anda-anda berdua ini bisa berangkat bersama? Saya lihat Min-ssaem turun dari motornya Park-ssaem di parkiran," ujar Jung-ssaem yang melipat tangan di depan dada. Dia memandang saya dari atas ke bawah, sekali lirik ke Min-ssaem dia pasang senyum lebar, kembali pada saya wajahnya kecut sekali. "Iya, bagaimana, Park-ssaem?"

Saya belum mengatakan apa-apa!

Lagipula kenapa dia menginterogasi kami seolah saya adalah lelaki yang mencuri pacarnya?

Saya menatap Min-ssaem dan si cantik itu juga menatap saya. Lantas dia memutus kontak dan beralih pada Jung-ssaem, dengan telunjuk yang mengarah pada saya.

"Park-ssaem habis menginap di—"

"Min-ssaem ada kecoa di kaki Anda."

"HUWAA!" Min-ssaem melompat pada saya. Ya jadi begitulah, saya menyela perkataannya dengan suatu kebohongan. Saya hanya belum siap untuk mengakui bahwa semalam saya memang menginap di rumahnya.

"Park-ssaem menginap di rumah Anda? Pantas bajunya masih pakai yang kemarin," ujar Kim-ssaem yang lewat dengan cangkir kopi di tangannya.

"Iya, memang." angguk Min-ssaem polos.

Saya menepuk dahi. Mungkin wajah saya sudah semerah kepiting rebus sekarang.

"YANG BENAR?!" dan saya tak bisa menghindar lagi dari semprotan Jung-ssaem—yang pasti tidak ada habisnya. "KOK BISA?!"

Saya menggaruk-garuk dahi saya. Saya juga bingung harus bicara apa, harus mulai dari mana. Lagipula kenapa saya harus menjawab pertanyaannya? Dia siapa?

"Semalam Park-ssaem datang ke rumah saya, tapi karena saat Park-ssaem mau pulang hujan turun deras sekali jadi saya suruh menginap saja." Min-ssaem sepertinya memang malaikat suci yang jauh dari dosa. Bahkan dia mengatakan itu tanpa beban sama sekali. Meluncur mulus dari mulutnya yang kecil. Saya yang salah tingkah.

"JADI SEMALAM PARK-SSAEM DATANG KE RUMAHNYA MIN-SSAEM? KATANYA MAU PULANG, AH BAGAIMANA SIH ANDA INI?!" telunjuk Jung-ssaem ada di depan hidung saya dan dia bicara dengan volume stereo. Saya celingak-celinguk was-was karena beberapa guru lain di ruangan itu menatap kami.

"Kenapa juga Anda harus marah? Itu urusan saya. Anda kan bukan ibu saya, tidak harus tahu segalanya," bela saya sambil mencicit.

"YA TAPI KAN—" Jung-ssaem hendak memukul saya dengan mapnya tapi tak jadi, dia malah beralih memegang kedua sisi bahu Min-ssaem. "Min-ssaem baik-baik saja kan? Park-ssaem tidak melakukan sesuatu pada Anda, kan?"

Nadanya menurun drastis juga dengan volumenya ketika dia bicara pada Min-ssaem. Saya mengulum bibir tak terima. Tuduhannya itu seolah saya memang benar-benar merebut Min-ssaem darinya.

"Ah, ngg... tidak... hanya tidur..."

"Tidur saja kan, tidak melakukan apa-apa? Kalian beda kamar kan?"

"Tadinya Park-ssaem tidur di samping saya tapi—"

"WOWOWOWOWOW! Tunggu dulu," sela Jung-ssaem yang kemudian melirik saya dengan mata melotot. "Kalian tidur satu ranjang?"

Min-ssaem yang mengaku, tapi saya yang ingin berlari kabur dan berteriak malu seperti seorang gadis.

"Tidak-tidak, saya pindah ke ruang tengah kok. Saya tidur di sofa..." ucap saya meluruskan. Tadinya Min-ssaem juga ingin berkata begitu mungkin tapi keburu disela oleh Jung-ssaem yang tak sabaran.

"Oh astaga syukurlah." ada raut kelegaan di wajah menyebalkan itu dan saya benci.

"Permisi, maaf mengganggu acara telenovela kalian, tapi sepertinya yang punya jadwal mengajar pagi harus segera pergi ke kelas. Sekarang sudah jam delapan tigapuluh ngomong-ngomong," seru Kim-ssaem menginterupsi.

Kami bubar.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya sudah menuntaskan kewajiban saya mengajar di dua kelas. Saya lelah dan butuh makan. Tapi daripada makan saya lebih butuh obat. Kepala saya sakit. Di kelas terakhir yang saya ajar sakitnya itu makin menjadi. Berdenyut-denyut di sebelah bagian kepala saya. Mungkin saya migrain. Mungkin ini gara-gara saya memikirkan isi rekening saya yang menipis. Jadi, saya pergi ke ruang kesehatan untuk minta obat pada Jin-ssaem.

"Anda punya obat migrain tidak?"

"Ada, ambil sendiri, saya sedang makan harap jangan ganggu," ucap Jin-ssaem dengan mulut yang penuh nasi dan lauknya.

Saya mendecih. "Heran sekali, Anda ini seharusnya melayani pasien yang datang dengan ramah, tahu."

"Anda kan punya tangan, masih bisa buka lemari obat sendiri. Lihat saya, tangan kanan saya pegang apa? Sumpit. Tangan kiri saya? Pegang kotak bekal," katanya.

Saya memandangnya malas. Saya jadi berpikir kenapa Kim-ssaem bisa cinta sekali pada orang ini. Dia aneh dan menyebalkan. Sama sekali jauh berbeda dengan Min-ssaem yang baik hati. Tapi tidak peka. Iya, masalahnya di situ.

"Eh, ngomong-ngomong bagaimana hubungan Anda dengan Min-ssaem?"

Saya yang tengah mencari yang mana botol obat migrain pun menoleh karena pertanyaannya. "Bagaimana maksudnya?"

"Iyaa sudah sejauh mana... Anda tahu sendiri saya tak selalu bisa melihat kalian karena alam saya berbeda..." caranya memilih kata itulah yang kadang membuat saya mengernyit bingung. Dia katakan alam kami berbeda. Mungkin maksudnya saya dan guru-guru lain di kantor, sementara dia di ruang kesehatan seharian.

"Ya begitu. Tidak sampai mana-mana." mengingat kejadian tadi pagi saya jadi kecewa lagi. Kalau dipikir-pikir memang hubungan saya dan Min-ssaem seperti tak ada kemajuan. Begitu saja terus, stagnan.

"Anda ini bagaimana sih. Lelaki itu harus memperjuangkan sesuatu... kalau tidak Anda perjuangkan bagaimana Anda bisa memiliki apa yang Anda inginkan?" si orang aneh itu kadang ada benarnya juga.

"Saya bingung harus bagaimana, Jin-ssaem." geleng saya sambil memegang bagian kepala saya yang sakit. Saya mengambil cup karton di atas dispenser. Saya mau minum obat.

"Anda sudah menyatakan cinta?"

"Sudah," jawab saya.

"EH, KAPAN?" dia terlonjak kaget, berdiri dari duduknya.

"Tadi pagi. Ketika dia bangun tidur. Tapi sepertinya dia tidak sadar saya mengatakan itu."

"Salah Anda sendiri mengutarakan cinta pada orang yang baru bangun tidur!" Jin-ssaem menendang tulang kering saya. Saya mengaduh kesakitan.

"Aduh, maaf, maaf, saya reflek." setelah itu dia minta maaf sambil memegangi kaki saya. Saya jadi bertanya-tanya apakah Kim-ssaem juga suka ditendang begini kalau mereka sedang berdua? Jangan-jangan Jin-ssaem dulunya atlit karate. Tendangannya tepat sekali.

"Saya sedang migrain dan Anda menendang saya!" marah saya.

"Saya kan sudah minta maaf!"

Dia meninggalkan kotak bekal dan sumpitnya lalu mengambil air dari dispenser, memberikannya pada saya. Kemudian dia membuka tutup botol obat migrain dan menaruh sebutir obat itu di atas telapak tangan saya. Semuanya dilakukan dengan gerakan cepat dan tergesa. Saya hanya bengong saja.

"Minum dan semoga cepat sembuh," katanya. "Saya jadi kesal sendiri melihat Anda, Park-ssaem. Setidaknya bertindak cepat sedikit lah..."

Dia menunggu saya menelan obat. Setelah beberapa teguk air saya minum, barulah saya menjawab, "iya Jin-ssaem, saya tahu... saya hanya bingung... saya tidak berpengalaman untuk hal ini."

"Anda biasa ditembak wanita kan, jadi Anda payah begini?"

Saya hanya bisa pasang senyum kering. Ya memang, beberapa kali berpacaran, kekasih sayalah yang menyatakan cinta pada saya. Saya hanya menerima mereka. Itu pun coba-coba.

"Begini ya, Anda itu harus menyatakan cinta secara jelas. Tak usah pakai cara yang romantis pun tak apa-apa. Asal kena ke hatinya, dan dia jelas-mendengar-pernyataan-cinta-Anda, ya!" dia mengacung-acungkan jari telunjuknya di depan muka saya. Menggurui, seperti dia memang suhu untuk urusan cinta.

Saya mengangguk. "Iya."

"Lalu, jangan lama-lama menunggu saat yang tepat. Kesempatan ada di mana-mana, tidak perlu ditunggu."

Saya mengangguk lagi. "Iya."

"Sekarang saya ingin tahu waktu Park-ssaem menyatakan cinta pada Min-ssaem, apa yang Anda katakan?"

Saya membuka mulut lama, dengan ragu saya bersuara, "Min-ssaem, good morning. I love you."

Jin-ssaem mengangkat kepala, melotot dan menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. Saya beringsut mundur dengan takut. Ekspresinya yang begitu jadi seperti penyihir kelas kakap.

"Ingin sekali saya mengumpat, tapi saya masih ingat kalau saya punya gelar sarjana, jadi saya tak bisa."

Saya menelan ludah. "I-iya, maaf."

"Utarakan perasaan Anda dengan cara yang benar, Park-ssaem... astaga. Si Monie saja tidak sepayah itu waktu nembak saya."

Si Monie. Pasti Kim-ssaem. Ah, saya tak tahu lagi bagaimana guru bahasa Inggris itu menyakatan cinta pada Jin-ssaem yang aneh begini. Saya tak mau tahu juga. Pasti caranya tak biasa.

"Saya jadi ingin dengar, apa alasan Anda suka pada Min-ssaem?"

"Saya tidak tahu, pokoknya saya suka dia... begitu saja..."

"Lalu sejak kapan Anda menaruh perasaan terhadapnya?"

"Sejak pertama kali dia datang ke sekolah ini."

"Saat dia baru datang dikawal Kepsek yang seharian memuji senyumnya yang seperti gula itu?"

Saya melongo. Memang iya? Saya bahkan tak tahu kalau Kepala Sekolah mengatakan itu pada Min-ssaem.

"Jadi begini..." dia melirik ranjang. "duduk dulu."

Lalu dia menarik tangan saya dan membuat saya sama-sama duduk di atas ranjang itu seperti dirinya.

"Anda kan suka pada Min-ssaem sejak pertama kali bertemu, tapi Anda juga tak tahu alasan kenapa Anda bisa punya perasaan terhadapnya... jadi cobalah dua poin itu Anda masukkan dalam tuturan Anda ketika menyatakan cinta."

"Contohnya?"

"Park-ssaem, otak Anda masih di sini kan?" dia memegang kepala saya dengan tidak sopannya. Saya menyingkirkan tangan itu.

"Tentu saja!"

"Ya sudah pikirkan sendiri, jangan malah bertanya!"

Saya cemberut. Dia menyilangkan tangan di depan dada. Bibir sebentuk hatinya memberengut dan dia nampak begitu serius menunggu saya.

Saya pun menunduk seraya membuang napas panjang. Yah, mungkin saya memang harus menurut pada Jin-ssaem. Untuk kali ini.

Lalu saya mengangkat kepala dan menatapnya secara lurus. Kami sama-sama diam, tapi kemudian Jin-ssaem berkata, "anggap saja saya Min-ssaem. Lalu katakan apa yang ingin Anda katakan sejelas-jelasnya."

Dia benar. Mungkin dengan membayangkan Min-ssaem, saya bisa mengutarakan isi hati saya secara gamblang. Ah, tapi, meski saya mencoba membayangkannya, tetap saja yang mata saya lihat adalah wajah Jin-ssaem dengan alis tebal, bibir tebal, dan hidung bangirnya yang sempurna. Dia cantik tapi sudah jadi milik orang lain. Ups. Sebentar. Kenapa saya jadi out of topic begini?

Saya menunduk lagi. "Jin-ssaem."

"Aha."

Saya berusaha membayangkan wajah Min-ssaem, lagi.

Kami terdiam selama beberapa saat, sampai napas panjang Jin-ssaem yang masih menunggu itu membuat saya sadar kalau dia mungkin bosan menunggu.

Tapi meski hanya latihan, saya juga sulit untuk menata kata. Hati saya sama berdebarnya ketika saya berhadapan dengan Min-ssaem secara langsung. Ini sensitif sekali.

"Sebetulnya..." saya berdehem satu kali. Suara saya entah kenapa tiba-tiba selip. "saya sudah lama suka pada Anda. Ketika melihat Anda untuk pertama kali saya mungkin telah jatuh cinta saat itu. Anda membuat saya berdebar tiap hari. Lama-lama saya pikir saya tak sekadar kagum atau suka tapi... saya... saya mencintai Anda..."

Jin-ssaem mengangguk. Dia menunduk sejenak seolah sedang berpikir, tapi dalam sekejap dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

"Oh, Min-ssaem?"

Sontak saya menoleh ke belakang dan saya dapati Min-ssaem sedang berdiri di ambang pintu.

"M-maaf saya mengganggu, permisi."

Saya melihat Min-ssaem berjalan mundur, menjauh dan pergi dengan tergesa.

Oh! Apa dia... mendengar kata-kata saya tadi? Atau dia... salah paham?

Astaga!

"Min-ssaem! Min-ssaeeemmm!" saya keluar dari ruang kesehatan itu dan berlari mengejar Min-ssaem, tapi dia tidak mau mendengar saya dan malah terus melangkahkan kakinya lebar-lebar. "Min-ssaeeemm!"

Saya tersandung sesuatu. Langkah saya terhenti dan ketika menunduk saya mendapati kantung plastik putih. Saya ambil kantung plastik itu lalu saya lihat apa isinya.

Susu melon... susu kesukaan saya.

Apa tadi Min-ssaem hendak memberikannya pada saya?

"Min-ssaeeeem!"

Entah kemana dia berbelok, saya kehilangan sosoknya.

Aduh, kenapa jadi begini?!

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED

Iya ya, kenapa jadi begini ya pak? Saya juga nggak tau kenapa hahahahaha.

Siapa yang nunggu apdetan Park-ssaem? Nih sudah apdet yaaa...