Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Dengan botol susu melon dalam genggaman, saya berlari mengejarnya lagi. Saya tak yakin dia kemana. Tapi saya terus saja berlari sepanjang koridor. Sampai ketika saya menemukan tangga untuk turun ke lantai satu, langkah saya melambat perlahan.

Saya melihat punggung Min-ssaem di ujung tangga, dengan Jung-ssaem di hadapannya.

"Min-ssaem apa ada masalah? Kenapa wajah Anda begitu?"

"Tidak, tidak ada apa-apa."

Saya jelas mendengar suara mereka yang pelan tapi menggema. Saya mundur sedikit, mengintip apa yang mereka bicarakan dari balik tembok.

"Tapi... kenapa Anda menangis?"

"Tidak apa-apa Jung-ssaem," sargah Min-ssaem.

Hati saya mencelos ketika mendengar perkataan Jung-ssaem barusan. Oh, ya Tuhan. Benarkah jika Min-ssaem menangis? Apa itu karena saya?

Saya sedikit mencondongkan tubuh untuk mengintip mereka lebih jelas. Jung-ssaem membungkuk dan menggunakan sapu tangannya untuk menyeka sudut mata Min-ssaem. Dari situ saya yakin kalau Min-ssaem memang benar menangis.

Ah, astaga. Apa yang sudah saya lakukan padanya? Benarkah semua karena kesalahpahaman di ruang kesehatan tadi?

Saya mendongak dan memeluk botol susu melon milik Min-ssaem di dada saya. Lantas saya kembali mengintip mereka lagi.

"Kalau ada masalah cerita saja pada saya, tidak apa-apa."

Saya melihat Min-ssaem menggeleng dan lagi-lagi mengucap bahwa dia baik-baik saja. Hati saya perih.

"Anda tidak baik-baik saja kalau begini, air mata Anda saja masih terus keluar." Jung-ssaem masih menyeka sudut matanya tapi saya lihat dia tak lagi menggunakan sapu tangannya melainkan dengan ibu jarinya sendiri. Min-ssaem menunduk. Tangannya ikut menyeka juga.

Saya tak sanggup melihatnya. Ini pertama kalinya saya melihat Min-ssaem menangis dan itu karena... saya. Saya yakin karena ketika Jung-ssaem menyebut nama saya, Min-ssaem hanya diam saja tak memberi tanggapan.

"Kita perlu bicara." lalu tangan kurus lelaki ber-vest cokelat itu menarik tangan Min-ssaem, berjalan semakin menjauh dari tangga.

Saya terdiam menatap kepergian mereka berdua. Setelah mereka jauh dari pandangan, saya baru sadar kalau saya harus mengejar.

Saya pun menuruni tangga dengan tergesa, jauh di depan sana saya melihat mereka keluar dari gedung. Langit siang yang cerah membuat saya sedikit kesulitan melihat, tapi saat itu saya jelas mendapati Min-ssaem menengok ke belakang dan menatap saya.

Tapi wajahnya...

Wajah yang sama sekali tak pernah saya kira akan dia berikan pada saya.

Wajah sedih itu.

Langkah saya pun terhenti. Saya terdiam memandang mereka yang semakin jauh. Botol susu melon milik Min-ssaem hampir lepas dari genggaman saya.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya tak lagi punya jadwal mengajar di jam terakhir. Pun dengan Min-ssaem dan beberapa gugu lainnya. Termasuk juga Jung-ssaem. Kami duduk di kursi masing-masing tanpa saling bicara. Di depan saya, Min-ssaem nampak tak acuh meski saya terus memerhatikannya. Dia terlihat sibuk dengan laptop-nya, tanpa melirik saya sama sekali. Ya, meski terhalang pembatas meja, tetap saja.

Lalu saya melirik Jung-ssaem yang juga nampak sinis pada saya. Beberapa kali kami bertemu pandang dan dia tak bicara atau tersenyum menyebalkan seperti biasa. Hanya diam. Serupa dengan Min-ssaem.

Saya jadi tak enak hati. Setelah saya berhenti mengikuti mereka siang tadi, saya tak tahu lagi apa yang terjadi. Saya tak tahu apa yang kemudian mereka bicarakan berdua. Yang jelas ketika mereka kembali, dan kami sama-sama duduk di kantor guru, tak ada yang buka suara. Bahkan saya sendiri, tak berani barang memanggil sekalipun.

Saya hanya berkutat dengan botol susu melon di meja saya. Ibu jari saya mengelus-elus permukaan licin botol plastik itu. Isinya masih penuh dan saya tak ada hasrat untuk meminumnya. Ini masih milik Min-ssaem, bukan milik saya. Dan saya tak tahu susu itu harus diapakan.

Sekali lagi saya melirik Min-ssaem. Saya sempat berpikir apakah harus saya menghampirinya dan berkata bahwa dia mungkin hanya salah paham? Haruskah saya memeluknya saat ini juga dan mengatakan kalau saya cinta dia?

Tapi, melihat Min-ssaem sama sekali tidak menaruh perhatiannya pada saya, rasanya itu tak mungkin untuk dilakukan. Mungkin dia akan semakin mendiamkan saya.

Ah, akhirnya karena lelah akan segala kecanggungan itu, saya mendengus panjang lantas keluar dari kantor guru untuk mencari udara segar. Saya meninggalkan botol susu melon itu di atas meja. Saya sedang kalut, tak cukup peduli apa yang kemudian terjadi setelah saya meninggalkan ruangan itu.

Saya melangkahkan kaki keluar dari gedung utama, pergi menuju tempat yang mungkin bisa membuat saya lebih tenang sedikit.

Saya memutuskan untuk pergi ke aula. Ketika hendak membuka pintu saya mendengar ada pantulan bunyi bola dan suara decit sepatu. Saya pun masuk dan mendapati ada dua anak murid saya sedang bermain basket.

"Taetae, kalau aku menang kau haru traktir aku makan ayam goreng, ya!"

"Tidak, kau akan kalah, jadi kau yang harus mentraktirku!"

Mereka bermain sambil tertawa-tawa. Bola itu berpindah tangan, dipantulkan, lalu direbut kembali. Saya memandang mereka dari ambang pintu, tanpa bicara apa-apa. Tapi kemudian ketika mereka berhenti melempar bola karena lelah, ada satu yang menyadari keberadaan saya.

"Park-ssaem?" itu Jungkook.

Saya mengangkat tangan sebagai ganti jawaban. Saya mengulum bibir sedikit, kemudian berjalan mendekati mereka.

"Kenapa kalian malah main basket di sini? Bukannya belajar..."

"Di kelas saya tadi hanya diberi ujian, yang selesai duluan boleh keluar, seonsaengnim!" ujar Jungkook.

Lalu saya melirik Taehyung. "Dan kamu?"

"Aahhh.. hehehehehe." dia tak memberikan saya jawaban, malah cengengesan tidak jelas. Dari situ saya mengerti kalau anak ini pasti bolos pelajaran.

"Ya, saya tahu pelajaran kelas tiga itu membosankan karena banyak materi yang diulang-ulang, tapi kamu tidak boleh bolos begini!"

"Aduh ah—ah sakiit!"

Saya menjewer telinga anak itu dan dia mengaduh. Jungkook hanya tertawa melihat kami.

"Kembali ke kelasmu sana!" titah saya sambil berkacak pinggang.

Taehyung melirik jam tangan digitalnya. "Tapi kelas berakhir limabelas menit lagi, seonsaengnim. Untuk apa saya kembali?"

Saya hanya bisa menggelengkan kepala. Sulit memang menangani murid nakal seperti Taehyung. Inilah tantangan menjadi guru, menghadapi berbadai macam karakter murid. Sedikit saya melupakan tentang masalah saya ketika melihat mereka. Tapi, tetap saja ada yang mengganjal di hati.

"Park-ssaem kenapa? Kok mukanya begitu?" tanya Jungkook. Matanya melihat saya dengan miris.

"Tidak apa-apa," sangkal saya sambil menggedikkan bahu. Saya hanya tak mau mereka tahu apa masalah saya.

Saya rebut bola yang dipegang Taehyung, lantas memandang ring basket lama. Saya pikir, mungkin bermain basket dan memasukkan bola ke ring itu dapat menjadi pelampiasan perasaan saya yang kacau balau.

Mungkin dengan bermain sampai berkeringat seperti Taehyung dan Jungkook, pikiran saya jadi lebih jernih.

Jadi saya memantul-mantulkannya ke lantai, kemudian melemparnya tinggi-tinggi ke ring. Bola itu berputar sebelum akhirnya jatuh.

"Bagaimana kalau kita bermain dan kalian berdua lawan saya?"

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Bermain basket untuk melampiaskan perasaan cukup menguras tenaga. Kami baru benar-benar berhenti setelah Jungkook terkapar di lantai. Saya benar-benar lelah dan berkeringat. Jaket saya sudah saya lepas sejak lama. Melihat kaos putih yang saya kenakan bagian lehernya sedikit basah karena keringat, saya melepaskannya dan hendak mengenakan jaket saja tanpa dalaman.

"Ya ampun, Park-ssaem, jangan melakukan pornoaksi di depan murid bapak!" Jungkook berteriak dan menunjuk saya terang-terangan. Dia melarang tapi matanya tak terhalang tangan atau apapun. Dia melihat saya bertelanjang dada. Sementara ketika saya melirik Taehyung, malah dia yang membuang muka.

Saya tak acuh dan kembali mengurusi pakaian saya. Saya kenakan jaket yang tak bau keringat itu, saya tarik retsletingnya sampai leher. Rasanya nyaman. Lantas kaos saya yang lembab hanya saya bawa di tangan.

"Sudah, kalian ini. Sekarang pulanglah!"

Mereka menuruti perkataan saya. Lalu dua anak lelaki itu mengekori saya yang keluar aula terlebih dulu.

Rambut saya acak-acakan, dan saya menyibaknya ke belakang supaya tak mengganggu. Supaya dahi saya juga bisa kena angin sepoy yang berhembus mendinginkan tubuh saya yang masih panas.

"Jadi Park-ssaem yang harus traktir ayam goreng karena kita yang menang." bisik Taehyung pada Jungkook, dan saya mendengar itu.

"Ya sudah kalian mau makan apa, saya belikan—"

Hanya saja di jalan itu saya berpapasan dengan Min-ssaem yang tengah menyampirkan tasnya di bahu.

Kami saling bertatapan. Sedetik-dua detik, mungkin lebih. Tak ada yang buka suara, bahkan sampai Min-ssaem menundukkan kepala dan melangkahkan kakinya lagi hendak melewati saya.

"Tunggu!"

Saya membuang kaos kotor saya sembarang. Saya menarik tangannya saat dia telah selangkah melewati saya. Keseimbangannya goyah dan dia terjatuh di pelukan saya. Ada sirat terkejut dari matanya, tapi bibirnya masih saja bungkam.

"Min-ssaem, tunggu." saya rasa, mungkin saya harus menjelaskan semua padanya saat ini juga.

"M-maaf, saya harus segera pulang." tapi dia menghindari mata saya dan malah membuang muka, lalu mendorong dada saya dengan tangannya.

"Tidak, tunggu." tapi saya jelas tak akan mengalah. Saya kembali menguncinya dalam pelukan saya dan Min-ssaem hanya mendesis sambil memejamkan matanya rapat. Saya tak tahu apa yang dia pikirkan tapi saya juga tak peduli. Saat melihat wajahnya itu, saya sudah mantap untuk bicara tanpa peduli apa reaksinya kemudian. "Min-ssaem, saya harus bicara dan tolong dengarkan saya."

Akhirnya dia menatap saya, tapi dengan alis yang naik ke atas. Entah dia takut atau bagaimana, saya tak paham.

"Maaf jika saya yang sudah membuat Anda bersedih. Saya melihat Anda menangis di hadapan jung-ssaem tadi siang. Tapi tolong percayalah, bahwa apa yang Anda lihat dan dengar di ruang kesehatan itu hanya kesalahpahaman belaka."

Dia masih menatap saya dengan cara yang sama, mungkin butuh lebih untuk meyakinkannya. Saya mendengus.

"Saat itu saya tidak benar-benar sedang menyatakan cinta pada Jin-ssaem... Anda tahu? Saya hanya sedang berlatih bersamanya, menyiapkan hati saya untuk..." saya mengulum bibir sekilas. "untuk menyatakan cinta pada Anda."

"Ahh—" saya mendengar ada getar di suara pelannya yang lolos dari bibir mungil itu. Dia mungkin tak percaya atas apa yang saya katakan.

"Saya mencintai Anda, Min-ssaem. Bukan yang lain. Bahkan sejak Anda baru pertama kali memijakkan kaki di sekolah ini, saya rasa saya sudah menaruh hati pada Anda..."

Saya menatap mata indah itu dan saya melihat Min-ssaem menggigit bibir. Ada bulir yang keluar dari sudut matanya yang berembun. Lalu saya melihatnya menangis lagi.

"Min-ssaem, jangan menangis. Maafkan saya..."

Dia menutup mulutnya dengan tangan. Saya mencoba menyeka air matanya meski sulit karena dia terus menunduk dalam.

"Min-ssaem... saya tidak berbohong. Tolong percaya pada saya. Saya hanya mencintai Anda seorang..." bisik saya di telinganya.

Saya eratkan pelukan dan semakin merapatkan tubuh saya padanya.

"Iya, terimakasih..." saya dapat dengar suaranya yang teredam di bahu saya. Meski pelan, jelas sekali.

Lalu saya lepaskan pelukan itu hanya untuk melihat bagaimana wajah Min-ssaem. Pipinya memerah dan matanya basah. Saya menyeka bekas lelehan air matanya dengan tangan. Dia sedikit meloloskan kekehan.

"Park-ssaem... maaf..." gumammnya. "Maaf karena sudah salah paham..."

"Tidak apa. Maafkan saya juga sudah membuat Anda salah paham begini."

Dia mendongak dan menatap saya sekilas, lalu tertawa lagi.

"Park-ssaem..." suaranya jadi mendengung.

"Iya?"

"Awalnya saya juga tidak mengerti kenapa saya bisa begitu sedih setelah melihat Anda bicara pada Jin-ssaem di ruang kesehatan itu... tapi saya sadar..." dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya. "mungkin saya juga sudah jatuh cinta pada Anda."

Saat mendengar pengakuannya itu saya seperti disorientasi sejenak. Rasanya saya seperti dihujani sejuta bunga. Dada saya bergemuruh berisik.

"Tapi sayangnya Anda bukan orang pertama yang tahu perasaan saya."

Lho?

Saya mengerutkan dahi. Maksudnya apa ini?

"Anda... sudah mengaku pada siapa lagi selain saya?"

"Jung-ssaem." senyumnya polos. Seketika sebutan nama itu mengingatkan saya bahwa tadi siang Jung-ssaem mengajaknya pergi untuk bicara berdua, dan mungkin saja Min-ssaem telah bercerita pada si guru sastra itu tentang perasaannya. Astaga. Jadi... tatapan sinis Jung-ssaem di kantor itu... apakah karena ini? Karena Min-ssaem ternyata punya perasaan terhadap saya?

"Dan selain Anda dan Jung-ssaem, ada dua orang lagi yang tahu, hihi." ada tawa yang mendengung di ujung kalimatnya. Itu mengingatkan saya pada eksistensi dua bocah yang ternyata tengah berdiri memandang kami sambil saling bersandar kepala dan mengaitkan tangan.

"Terimakasih ya, Min-ssaem, Park-ssaem. Ini adegan terromantis yang pernah saya tonton seumur hidup," ujar Jungkook.

"Semoga kalian bahagia selamanya," tambah Taehyung.

Saya mendadak membatu. Saya tak sadar kalau sedari tadi obrolan sensitif saya dengan Min-ssaem didengar oleh dua murid saya itu. Astagaaa!

"Ah! Park-ssaem!"

Saya hampir jatuh terduduk tapi Min-ssaem menahan saya.

"M-maaf saya hanya syok."

"Park-ssaem, Anda membuat saya khawatir..."

Saya berdiri lagi dibantu olehnya.

"Seonsaengnim... kalian sudah cocok jadi suami istri tahu..." saya dengar Jungkook berujar dan Taehyung tertawa. Lalu saya melirik Min-ssaem dan dia hanya memalingkan wajah, pipinya merah padam.

Saya tidak mengerti mengapa saya bisa berani menyatakan perasaan saya dengan mengabaikan sekitar seperti tadi. Tapi yang jelas, saya juga bersyukur lega karena isi hati saya sudah terutarakan di depan Min-ssaem. Dia sudah tahu kebenarannya, sudah lurus kesalahpahamannya, dan saya mendapat bonus pernyataan cinta juga dari Min-ssaem.

Saya memandang wajah cantiknya dengan sesuatu yang membuncah di dada. Mungkin pipi saya juga sudah sama merahnya dengan dia. Saya malu, saya bahagia. Sungguh.

"Tapi sepertinya ada yang kurang ya, Tae."

"Hm? Iya. Park-ssaem belum bilang, 'Min-ssaem mau jadi kekasih saya tidak?'" seru Taehyung pada kami. Saya melotot kaget karena anak itu begitu provokatif.

Lantas saya kembali pada Min-ssaem. Dia menatap saya dengan senyum manis yang tersungging di bibir tipisnya. Dia sangat manis, Ya Tuhan... bahkan matanya yang bening itu makin terlihat berbinar saja rasanya.

"Ah, eng... Min-min-min-ssaem... mau... jadi—"

"Iya saya mau." angguknya menyela.

Tak ada kata lagi yang bisa keluar dari mulut saya. Saya hanya terdiam mencerna kata-katanya dan senyuman lebar itu. Lalu saya mendapat sebuah pelukan erat darinya yang mengalungkan tangan di leher saya.

"Saya mau jadi kekasihnya Park-ssaem..."

Bolehkah saya memproklamirkan bahwa saya adalah pria paling bahagia di dunia?

Giliran saya yang gemetaran. Bahkan bicara pun tak mampu. Saya hanya menatapnya dan membalas pelukan itu tak kalah erat. Saya kembali lupa pada murid-murid yang masih menonton kami, tapi tak apa. Meski mungkin esok hari berita tentang kami yang akhirnya berpacaran akan tersebar luas kemana-mana gara-gara dua bocah itu.

"Tae, entah kenapa Park-ssaem yang jadian, tapi aku yang bahagia."

Saya menoleh ketika Jungkook berbicara. Saya dan Min-ssaem sama-sama menertawakannya yang terlihat dramatis dengan tangan di dada itu.

"Nanti aku bilang sama ibu kalau Min-ssaem sudah punya pacar sekarang."

"Aduh, Taehyung! Tidak usah bilang-bilang ibumu juga!" Min-ssaem protes. Saya baru ingat kalau mereka bertetangga dan ibu Taehyung pasti mengenal baik Min-ssaem.

Saya tertawa-tawa karena tingkah mereka.

Sore yang semakin jingga, dan derai tawa kami di sekolah itu menutup hari dengan bahagia. Ya, saya bahagia. Saya pulang dengan menggandeng seorang kekasih. Menggandeng Min-ssaem.

Kami kembali ke kantor dan tak menemukan siapapun di sana. Semua sudah pulang. Hanya tinggal tas saya yang teronggok di meja. Saya pun membereskan barang milik saya dan bersiap pulang. Min-ssaem dengan setia menunggu saya.

Saya baru ingat kalau saya masih punya sebotol susu melon darinya. Saya sambar botol itu.

"Terimakasih ya, susunya," ucap saya sambil mengangkat botol itu. "Tapi bagaimana Min-ssaem tahu saya ada di ruang kesehatan saat itu?"

"Saya tanya pada murid Anda yang habis olahraga..."

Saya mengangguk paham. Kemudian tersenyum ketika memandang botol susu yang masih tersegel itu.

"Ayo."

Saya mengulurkan tangan padanya, dan dia menyambut.

Kami berjalan keluar dari kompleks sekolah itu sambil terus bergandengan tangan. Sesekali saling melirik lalu tertawa entah karena alasan apa.

"Setelah ini Anda ada kegiatan tidak? Saya pikir... berjalan-jalan di sungai Han cukup menyenangkan, Min-ssaem." ujar saya. Dia terkekeh. Saya bingung.

"Panggil Yoongi saja."

Saya membola. "He?"

"Tidak pelu formal-formal lagi, bukankah kita sudah berpacaran sekarang? Jadi... tak apa kalau kamu memanggilku Yoongi." bahasa Min-ssaem yang jadi santai itu membuat saya kaget. Jelas. Sebelum ini kami benar-benar menjaga kesopanan dengan menggunakan bahasa formal. Sekarang dia tiba-tiba ingin dipanggil dengan namanya saja?

"Ah anu... iya, Yoongi," gagu saya. "Yoongi-yah."

Min-ssaem terkikik. "Aku suka panggilan itu. Lalu apa aku juga boleh memanggilmu Jimin? Jiminie?"

Dada saya berdesir hebat. Saya ikut tersenyum melihat wajahnya yang merona. "Hehe..."

Perlahan bayangan Min-ssaem terasa mengabur, berputar, dan semuanya tiba-tiba gelap.

"Park-ssaem—ah tidak, Jiminie!"

Yang saya dengar terakhir kali adalah teriakannya yang memekakkan telinga. Saya baru ingat kalau saya belum makan apa-apa dari siang, saya juga malah main basket dan menghabiskan tenaga setelah minum obat migrain. Salah memang. Jadilah saya jatuh pingsan. Tapi pingsan dengan bahagia.

Tak apa lah.

"Aduuhh! Jiminiee! Banguunnn!"

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED

Lah yang udah jadian malah pingsan begitu hahahahah. Kasian pacarnya oi, pak! Bapak nggak elit nih aaah~

Yaps! Akhirnya setelah perjalanan panjang yang bikin geregetan, Park-ssaem dan Min-ssaem pacaran juga. Siapa yang bahagia sorak soraaaiii~ hehehehe.

Terus, setelah mereka jadian, gimana nasib Jung-ssaem? Gimana dengan acara showcase-nya? Mari kita tunggu di chapter depan.

See ya!