Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

"Batu, gunting, kertas."

"Kau kalah."

"Batu gunting kertas."

"Haha! Gantian kau yang kalah!"

"Batu, gunting, kertas!"

"Batu, gunting, kertas!"

Saya dengar ribut-ribut di kanan kiri. Saya buka mata. Rasanya asing dengan langit-langit di atas kepala. Tapi juga seperti pernah saya lihat suatu ketika. Lalu saya lirik kanan, lirik kiri. Ada dua murid saya yang cekikikan sambil mengulurkan tangan untuk mencolek wajah satu sama lain secara bergantian. Ini aneh. Sebetulnya saya di mana?

"Taehyung? Jungkook?"

"Park-ssaem sudah bangun?!"

Jungkook teriak di depan muka saya. Kaget yang betul-betul itu buat dada saya nyeri. Mungkin ini faktor usia juga, tapi entah. Saya tutup mata rapat-rapat sampai denging di telinga saya hilang. Waktu buka mata Jungkook tersenyum lebar, Taehyung sama adanya.

"Saya di mana?"

"Taehyung, Jungkook! Nasinya sudah matang! Makan dulu!"

Saya dengar suara indah yang saya kenali. Suara itu minta dua anak didik saya untuk makan. Nasinya sudah matang, katanya. Lalu saya sadar kalau saya tak ada di apartemen saya sendiri. "Ini di...?"

"Rumah Min-ssaem!" jawab mereka kompak.

Betul ternyata! Min-ssa—eh, Yoongi?

Anak-anak itu turun dari kasur dengan melompat. Mereka seperti tak pernah temukan makanan hingga sesemangat itu dengar seruan Yoongi. Saya bangun sendiri. Kepala saya pusing dan badan saya rasanya hampa. Kalau diingat-ingat terakhir kali saya membentur tanah. Dan, waktu itu saya belum makan seharian. Oh ya. Saya habis menyatakan cinta pada Yoongi dan dia sudah jadi kekasih saya sekarang.

Oh! Owalah! Benar juga!

"Jimin-ie?"

Seseorang muncul di ambang pintu. Dia kenakan celemek warna merah muda. Semula wajahnya khawatir tapi dalam sekejap jadi cerah.

"Syukurlah kamu sudah bangun." Dia dekati saya dengan duduk di tepian ranjang. Saya tersenyum meringis. Pingsan adalah sebuah kebodohan yang betul-betul. Tapi, bagimana saya bisa ada di rumah Yoongi?

"Eh... itu... terakhir aku kan pingsan, lalu bagaimana aku bisa berada di rumahmu?"

"Kau tahu tidak? Waktu kau pingsan aku panik sekali. Sekolah sudah sepi, hanya ada satpam yang jaga gerbang. Aku gendong kamu sampai ke pos, lalu di sana aku minta Pak satpam carikan taksi. Karena tak tahu di mana rumahmu jadi kubawa saja kau ke sini," tuturnya.

"Ohh..." Jadi saya dibawa pakai taksi ke rumahnya. Eh tunggu. Apa tadi? "Ha? Kau gendong aku?"

"Hu-um." Yoongi mengangguk. Saya melotot.

"Bagaimana bisa?"

"Bisa. Digendong saja." Dia tepuk-tepuk punggungnya dan peragakan pose waktu dia gendong saya. Demi apapun yang ada di bumi dan langit, bagaimana bisa saya biarkan makhluk cantik nan lembut ini gendong saya sampai ke pos satpam? Tega benar saya ini! Dan, sebesar apa tenaganya hingga bisa gendong saya?

"Astaga." Saya benar-benar malu. Saya tundukkan kepala dalam-dalam karena ingin sembunyikan muka. Lelaki macam apa saya ini?

"Kamu makanlah dulu. Aku sudah memasak, cukup untuk kita berempat."

Saya teringat Taehyung dan Jungkook yang tadi berlari ke dapur seperti orang rimba.

"Ayo."

Dia mengulurkan tangan. Saya terdiam memandanginya. Dia betul-betul indah, dengan wajah cantik, gestur lembut, dan celemek merah mudanya yang kotor kena tepung sedikit.

"Atau mau kugendong lagi?"

Aduh, jangaaan!

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Kami makan berempat. Saya, Yoongi, Taehyung dan Jungkook seperti satu keluarga kecil. Ayah ibu dengan dua orang anak. Ah, tapi mereka terlalu besar. Saya belum setua itu untuk punya anak berusia delapanbelas dan enambelas tahun.

Saya perhatikan makan Yoongi yang anggun. Kalau ada sisa saus di bibir buru-buru dia jilat dengan lidah. Saya kulum ujung sumpit. Yoongi sungguh menggugah selera.

"Benar kan, kamu sudah bilang orangtuamu?"

"Iya, Min-ssaem. Saya sudah bilang Ibu kalau saya mau menginap di rumahnya Taehyung!"

"Dia tidak bawa baju. Rencananya seperti dadakan padahal dia sudah bilang pada ibunya sejak pagi. Min-ssaem, dia sengaja tak mau repot bawa banyak barang di tasnya. Inginnya pinjam baju saya saja!" Taehyung mengadu, Yoongi tertawa. Saya kunyah nasi. Lalu anak itu berceloteh lagi. "Min-ssaem, apa boleh kami menginap di sini? Saya juga butuh suasana baru. Ingin tidur di kamar orang lain."

Sembarangan. Saya sedikit tersinggung ketika anak itu mengatakan permintaan yang cukup aneh didengar. Menginap di rumah Min-ssaem, katanya.

"Kasurnya sempit. Memang muat untuk berempat, tapi kita akan tidur berhimpitan. Kalian mau?"

Yang saya bayangkan adalah ikan-ikan yang dijejerkan di pasar. Dua anak ini bongsor, mereka adalah ikan yang ukurannya sedikit lebih besar dari ikan biasa seperti saya dan Yoongi.

"Park-ssaem suruh pulang saja, biar kami yang tidur dengan Min-ssaem. Ya?"

"Benar itu, Tae. Kalau bertiga mungkin lebih luas. Park-ssaem pulang saja."

Kurang ajar dua murid saya ini. Rasanya saya sudah tak punya wibawa di depan mereka. Saat saya lirik Yoongi, dia hanya bisa tertawa saja. Saya ingin dibela, hiks. Saya tak tahan terus-terusan jadi korban bully murid saya sendiri.

"Habiskan dulu makananmu, baru pulang ya?" Yoongi malah tambah-tambahi.

"Aah..." Makin sedihlah saya. Miris sekali nasib guru olahraga ini.

"Bercanda. Menginaplah, motormu ada di sekolah. Kutitipkan pada satpam. Mau pulang pun jam segini susah kendaraan."

Saya sunggingkan senyum. Walau hujan tak turun, saya mendapat kesempatan lagi untuk menginap di rumah Yoongi.

Tapi sudah bahagia akan seranjang berdua, teryata sampai malam larut dua anak itu tak pulang juga. Mereka yang ketiduran di sofa habis menonton film Yoongi giring ke kamar untuk tidur di ranjang. Kami benar-benar jadi seperti ikan di pasar. Yang saya sayangkan kala itu adalah Taehyung dan Jungkook yang tidur di tengah, memisahkan saya dari Yoongi.

"Yoongi, I love you." Bisik saya sebelum dia benar-benar pejamkan mata.

"Love you too." Dia terkikik lalu sembunyikan muka dengan memunggungi saya.

Empat ikan ini tidur di satu ranjang. Saya sebetulnya tak tidur tenang karena takut jatuh ke lantai.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

"Haduh! Lama sekali anda ini! Sekarang menjelma jadi kura-kura ya? Motornya ikutan lamban, apa?"

Pagi itu, saya datang ke studio tari dan langsung disemprot Jung-ssaem. Sekolah libur karena tanggal merah. Kami tidak mengajar. Di waktu subuh Jung-ssaem kirim pesan pada saya supaya saya datang latihan. Saya buru-buru pulang dari rumah Yoongi, ke sekolah dulu ambil motor, kemudian kembali ke apartemen untuk mandi dan ganti baju, barulah saya berangkat ke studio. Itu makan waktu banyak dan Jung-ssaem tak suka menunggu. Jadilah, saya dimarahi.

"Maaf, maaf. Yang penting saya sudah di sini, bukan?"

"Sewa studio itu pakai uang, untung yang punya adalah saudara saya. Jadi gratis."

Kalau begitu seharusnya dia tak semarah ini!

"Oh ya. Bagaimana Min-ssaem?" Pertanyaannya itu hentikan kegiatan saya bongkar isi tas. Saya lihat wajah anehnya mendadak serius. Saya tahu, urusan Min-ssaem bukanlah hal sepele bagi Jung-ssaem. Apalagi kemarin sudah terjadi kesalahpahaman yang melibatkannya. Jung-ssaem jugaadalah orang pertama yang mendengar pengakuan Yoongi.

"Kabarnya? Sehat."

"Bukan begitu, Park-ssaem. Maksud saya, anda sudah temui dia? Sudah luruskan semua? Kemarin dia ngobrol dengan saya. Dia sedih sekali."

"Sudah. Sudah. Saya sudah luruskan. Semua hanya salah paham. Saya tidak ada apa-apa dengan Jin-ssaem."

Jung-ssaem bergumam. "Min-ssaem mengaku kalau dia punya perasaan pada anda."

"Saya sudah dengar itu dari Min-ssaem sendiri." Saya hela napas panjang.

"Lalu?"

"Jung-ssaem, jangan buat saya merasa bersalah. Saya bicarakan ini saja sudah terasa beban."

"Jangan bertele-tele. Saya tebak, kalian sudah jadian, kan?"

Saya tak bisa menjawab. Tebakannya tepat sekali. Tapi saya tak tega untuk katakan iya. Bagaimanapun, meski saya selalu ingin membenci lelaki ini, dia tetaplah teman saya dan saya tahu kalau dia juga suka pada Yoongi. Jadi daripada buat dia sakit hati dengan kata-kata, saya peluklah dia.

"Park-ssaem! Ih! Apa-apaan!" Jung-ssaem meronta. Saya makin kuat memeluknya.

"Maafkan saya," ucap saya tulus.

"Lepaskan! Ew! Ini menggelikan!"

"Maafkan saya. Tolong relakan dia."

"Iya, saya tahu! Saya sudah relakan dia! Mau saya tak rela pun tak ada guna! Dia jelas-jelas tak pilih saya!"

"Jangan katakan hal menyedihkan seperti itu. Saya jadi ingin minta maaf terus. Maaf ya? Maafkan saya. Ayo kita minum soju. Saya traktir. Minum sampai puas."

"Sekalian daging panggang! Saya tak mau tahu!"

"Iya, daging panggang."

"Lepaskan saya dulu!"

Saya lepaskan dia, lalu saya kecup pipinya sekilas.

"PARK-SSAEM!" Jung-ssaem mengaum keras. Saya katupkan tangan depan wajah untuk minta ampun.

"Lalu dance kita ini bagaimana jadinya, Jung-ssaem? Bukankah niat awal anda ini ingin memukau Min-ssaem?"

"Itu masih akan saya lakukan. Meski dia sudah... akh... kenapa..." Jung-ssaem berjongkok sambil memasang tampang penuh derita. Seperti anak-anak hendak menangis karena mainannya direbut. "kenapa anda harus jadian dengannyaaaa...? Huweeeee..."

Saya pikir saya harus peluk cium dia lagi.

Dan, kami latihan sampai sore. Badan kami sudah letih. Showcase tinggal tiga hari lagi dan kami harus sempurnakan tarian. Yang aneh, saya dan dia itu seperti saingan (bahkan sebelum ada Yoongi di antara kami), tapi dalam gerakan yang musti serempak, kami bisa lakukan bersama. Pulang dari studio kami mampir ke kedai. Saya tepati janji untuk mentraktirnya minum soju dan belikan dia daging panggang. Jung-ssaem makan dengan lahap. Kami yang sama-sama lelaki tahu kalau terkadang cara melepaskan kecewa dan sakit hati itu ya dengan makan yang banyak, minum yang banyak. Lakukan sampai puas, lalu tidur dan lupakan semua. Saya harap saja kalau Jung-ssaem tak berbohong, tentang dirinya yang sudah merelakan Yoongi untuk saya...

Sampai di rumah, saya makan lagi. Entah mengapa makan dengan Jung-ssaem seperti membebaskan beban saya juga. Naga dalam perut ini meraung minta diberi makan. Karena terlalu malas untuk memasak (dan karena saya tak mahir), saya makan alakadarnya, dengan dua bungkus ramen instan yang diberi telur. Waktu makan dari tutup panci saya ingat pada Yoongi. Ini hari kedua kami berpacaran. Sudah resmi sebagai sepasang kekasih. Sambil aduk-aduk isi panci saya senyam-senyum sendiri. Saya bayangkan bagaimana jika dia duduk di hadapan saya dan makan ramen bersama. Mungkin akan saya suapi dia. Saya tiup-tiupkan mie itu agar tak begitu panas ketika masuk mulutnya. Hanya saja, dia di rumahnya, dan saya di sini. Kalau diingat-ingat saya belum menghubuginya sama sekali hari ini.

Dia sedang apa ya? Ah, jadi rindu.

Lantas saya pun ambil ponsel. Saya hendak telepon dia. Tapi baru saja mau tekan tombol power, ponsel saya sudah menyala sendiri. One incoming call, katanya. Yoongi menelepon saya. Aduh, inikah yang namanya jodoh? Kebetulan ini begitu manisnya sampai saya terjungkir bahagia dan lupakan ramen yang masih bersisa.

"Halo?"

"Jimin-ie?" suaranya lembut sekali.

"I-iya? Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Hanya rindu."

Rasanya seperti terbang ke awang-awang. Dia bilang dia rindu saya. Ya Tuhan, terimakasih. Saya bahagia.

"Halo, Jimin-ie?"

"Iya?"

"Kau sedang apa?"

"Makan. Kau?"

"Aku juga. Kau makan apa?"

"Ramen."

"Ih, kasihan. Aku makan ayam teriyaki. Enak, lho."

"Kau makan dengan siapa?"

"Sendiri."

"Aku juga."

Hening. Saya aduk-aduk isi panci lagi karena tak tahu harus bicara apa. Kalau gugup ya begini, saya tak bisa katakan apa-apa. Di sana, entah Yoongi bagaimana. Saya diam dan dia juga sama begitu. Kemudian waktu saya temukan cangkang telur di antara keriting mie, saya jadi sadar kalau mungkin ayam teriyaki yang katanya enak itu adalah sebuah kode untuk saya. Aduh! Mengapa saya begitu lamban?

"Yoongi."

"Ya?"

"Yoongi, boleh aku ke rumahmu?"

Yoongi terkikik dulu. "Boleh."

Saya seruput ramen dengan kecepatan tinggi. Kuahnya juga saya habiskan sampai panci itu bersih. Setelah menenggak air dari botol, saya segera bersiap untuk pergi.

Oh kekasihku, aku akan datang padamu...

Saya berdendang.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya sampai di rumahnya jam sembilan malam. Badan truk yang menyangkut di jembatan layang buat jalanan macet. Sambil jalan di pekarangan rumah Yoongi saya merutuk dengan emosi. Tapi ketika dia buka pintu saya merasa berdosa. Mungkin tak seharusnya saya kutuk orang-orang di jalan, atau macet yang buat perjalanan saya lama sebab Yoongi nyatanya masih bangun dan bukakan pintu untuk saya. Syukur.

Tapi tetap saja kesal karena seharian ini sudah dua kali saya terlambat untuk tepati janji dengan orang.

"Mau makan?" tanyanya.

"Kan tadi sudah." Saya ingatkan dia kalau saya sudah makan ramen sebelum datang ke rumahnya.

"Siapa tahu masih lapar." Yoongi menggedikkan bahu.

"Tidak, ah," tolak saya. Malu. Jangan jadi tamu yang tiap-tiap datang untuk makan. Itu tidak beradab.

Entah mengapa kami jadi canggung. Atau saya yang buat begitu. Aneh memang. Sebelumnya saya tak segugup ini tiap duduk bersebelahan dengannya. Mungkin karena status kami sudah berbeda sekarang. Saya kekasihnya dan dia kekasih saya. Tapi seharusnya sepasang kekasih tak saling diam seperti ini. Argh. Saya bingung. Si Jimin yang bodoh ini butuh saran.

Yoongi mainkan kukunya, lalu bicara mau-malu. "Tadinya aku kira kau tak jadi kemari, makanya aku sudah pakai piyama dan siap tidur."

"Maafkan aku..." Makin saja saya merasa bersalah. Saya pandangi wajahnya yang manis dan polos. Dia seorang malaikat. Harusnya saya jadi manusia sempurna supaya bisa imbangi dia. Ah, saya mungkin butuh banyak usaha untuk capai itu. Yoongi, Yoongi. Bulu matanya lebat dan panjang.

"Jimin-ie, aku malu. Jangan lihat aku begitu!"

Tahu-tahu saya digebuk bantal. Saya baru sadar kalau mungkin tatapan saya itu mengganggu. Tapi untung masih bantal yang dipakai menggebuk. Bukan rimot yang ada di pangkuannya. Bisa patah hidung saya.

"Tapi kau cantik. Enak dipandang lama-lama."

Pipinya memerah. Dia menaruh dagu di bantal lantas ganti saluran tivi. "Aneh ya. Meski kita duduk berdua begini, meski mengobrol begini, tapi rasanya beda, tak seperti saat kita belum berpacaran. Aku tak tahu harus apa sekarang. Aku malu melihatmu."

Saya peluk dia. Menjadi kekasihnya adalah sesuatu yang membanggakan. Saya tak tahu apa yang dia pikirkan tentang saya, tapi dia terlihat senang. Lalu kami nonton tivi lagi. Tangan Yoongi melintang sampai ke pinggang saya. Dia bersandar kepala. Saya elusi rambutnya yang lembut, saat dicium aromanya wangi. Saya jadi tak tahan untuk menciuminya berkali-kali. Yoongi tidak protes sama sekali. Saya seperti dibiarkannya melakukan itu sesuka hati. Sampai di ciuman rambut yang kesekian dia angkat dagu, lalu tatap saya sambil sedikit merengut. Bibirnya lucu. Tipis. Mulutnya kecil.

"Iya." Tanpa tahu yang dia maksud apa, saya kecup dahinya. Habis itu saya lihat dia, masih merengut juga. Lalu saya kecup pipinya. Dia merengek. Bibir tipisnya maju. Saya tertawa karena ternyata dia minta dicium di situ. Aduh. Kekasih saya ini sungguh manis tak terkira.

Cup.

"Ehe." Dia tertawa. Itu lucu. Saya pikir sekali tak cukup, jadi saya cium lagi bibirnya. Kali ini sedikit lebih lama. Tawanya makin lucu. Saya pikir makin lama dicium dia akan semakin lucu. Jadi saya cium lagi untuk yang ketiga kali. Ini seperti sesuatu yang buat saya ketagihan. Mulanya cium-cium lucu itu hasilkan banyak tawa. Tapi lama-lama Yoongi jadi terlihat sensual. Dia tidak menggoda saya, sama sekali. Dia tidak bisikkan macam-macam ucapan yang buat saya merinding disko. Dia hanya Yoongi yang polos. Malaikat suci. Hanya saya saja mungkin yang tak kuasa menahan pesonanya.

Ya Tuhan. Orang bilang ciuman itu bikin panas. Benar memang. Akan jadi panas kalau dilakukan dengan intens dan dalam waktu yang tak singkat. Saya dan Yoongi bermain-main dalam ciuman selama bermenit-menit. Saya pernah melakukan ini tentu, dengan kekasih-kekasih saya di masa lalu. Tapi dengan dia rasanya sungguh lain. Dulu saya berciuman paling-paling hanya dua sampai tiga menit. Tapi dengan Yoongi lebih dari itu. Saking asyiknya bahkan saya sampai lupa kalau dia juga butuh napas.

Ngiik. Suara lirihan itu buat saya lepaskan ciuman lebih dulu. Yoongi mengais napasnya rakus. Hidungnya kembang-kempis. Bibirnya basah dan bengkak. Merah, berkilap. Wajahnya seperti ubi bakar yang hampir matang. Manisnya buat legit, sedikit lagi manis itu akan jadi madu. Saya gerah. Retsleting jaket saya turunkan untuk bebaskan panas. Saya lupa kalau kala itu saya tak pakai baju dalaman. Begitu sadar jaket sudah tinggal sesiku. Saya terlanjur telanjang dada. Mata Yoongi tak lepas dari badan saya. Waktu saya tatap perut saya sendiri, lalu ganti tatap matanya, dia telan ludah dan berdiri buru-buru.

"Maaf. Gerah," saya bilang.

"Park-ssaem pakai baju dulu!" dia terbirit kabur entah kemana.

Baiklah, lagi-lagi, saya jadi manusia paling memalukan di depan Yoongi. Sial memang. Gagal sudah semua. Kesempatan yang saya kira akan dapatkan hilang begitu saja. Padahal saya sudah kepingin.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Kami jadi canggung lagi. Habis dipinjamkan baju, saya dan dia duduk lagi di sofa yang sama. Yoongi setel film, tapi waktu mulai dia kaget sendiri karena yang dia pilih adalah film horor.

Dia sembunyikan muka di bahu saya dengan refleknya."A-aku tidak ingat punya film ini," cicitnya takut. Padahal di film itu belum ada hantu yang muncul sama sekali. Baru musiknya saja.

"Jangan-jangan itu punya Taehyung atau Jungkook? Kemarin sebelum tidur mereka nonton film, bukan?"

Dia angkat kepala. "Oh iya benar. Kemarin aku juga yang masukkan CD-nya ke bungkus lalu taruh di sini."

Saya garuk-garuk jidat heran. Yoongi jadi aneh. Dia mendadak pikun. "Kalau begitu tidak usah ditonton saja kalau tidak mau."

"Kamu juga tidak mau nonton?"

"Sedang tidak ingin nonton film horor."

"Aah atau jangan-jangan kamu juga takut hantu seperti aku yaa?"

"T-tidak. Aku tidak takut hantu!"

Dok, dok, dok!

Saya dan Yoongi sama-sama terlonjak kaget ketika mendengar suara gedoran. Kami lihat ke pintu, suara itu masih berlanjut. Ternyata, itu dari film.

"Sudah jujur saja, takut hantu kan?"

"Tidak, astaga."

"Kalau begitu temani aku menonton."

Padahal saya juga takut. Sungguh! Kalau nonton film horor bersama guru-guru yang lain pun teriakan saya paling keras kedua setelah Jung-ssaem. Tapi demi menjaga citra diri di depan kekasih tercinta, saya mana mau mengaku. Park Jimin ini harus jadi pria tangguh di depan Yoongi.

Dengan ngeri yang ditahan-tahan saya duduk di sofa itu sepanjang film berjalan. Sesekali kalau sudah firasat hantunya akan muncul, saya lempar mata ke sembarang arah. Yoongi menjerit-jerit. Lengan saya jadi korban cengkraman tangannya yang kuat. Saat itu saya berpikir, mungkin dia punya tenaga yang luar biasa tapi terpendam.

"Malam ini jangan pulang, temani aku. Takut...," katanya di ujung film.

"Menginap?"

Yoongi mengangguk. Saya gigit bibir. Jadi ingat pada ciuman panas kami sebelum ini. Inginnya sih lanjutkan lagi, tapi Yoongi mau tidak ya?

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED

Dan... maafkan saya karena lama nggak bawa Park-ssaem ke permukaan hahahaha. Jadi begini. Saya sedang cari jalan pulang, dan saya butuh bantuan. Jadi saya habiskan waktu buat tidur, lupakan banyak hal, ngegambar, dan mulai nulis lagi dari yang sederhana.

Semoga nggak pada lupa sama guru cadut satu ini yah :")