Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Kalau dihitung-hitung, sudah tiga kali saya satu ranjang dengan Yoongi. Pertama sebelum kami jadian, kedua di hari kami jadian, ketiga malam ini. Tak seperti kemarin, yang mana kasur Yoongi sempit diisi Taehyung dan Jungkook, sekarang di antara kami tidak ada penghalang. Saya berebahan di sampingnya. Persis. Saya tidak tahu kenapa, padahal masih ada spasi, tapi begitu naik kasur kami tak saling berjauhan. Seolah-olah di tengah-tengah ada magnet yang membuat kami dekat. Bahu saya bersentuhan dengan bahu Yoongi. Dan, untuk yang kesekian kalinya juga, saya dipinjamkan bajunya. Tapi yang ini agak sempit di bagian ketiak.

Saya melamun. Entah apa. Kosong saja. Yang jelas lampu di atas kepala saya tak menyala. Hanya lampu tidur kecil kuning remang yang bantu saya melihat kamar. Tapi itu pun adanya di dekat Yoongi. Tiba-tiba dia memanggil saya.

"Jimin-ie?"

"Ya?"

Saya lirik dia, dia lirik saya. Kami sama-sama diam. Saat itu saya menunggu Yoongi untuk bicara. Saya kira dia memanggil saya untuk katakan sesuatu. Tapi bibir tipis itu bungkam saja. Jadinya saya memerhatikan bagian lain. Matanya. Jangan kira saya selalu semesum itu untuk memerhatikan dadanya.

Dia memiringkan badan, tanpa sadar saya ikuti. Kami saling berhadapan, dan saya dapat merasakan embusan napasnya yang bikin mengantuk.

"Besok... ngajar jam berapa?"

Saya tidak tahu mengapa dia bicara begitu lamban. Bukan suaranya yang pelan, tapi pengucapannya yang lamban. Seperti pakai pikir dulu. Sedang matanya menatap lurus pada saya. Jelas saya bingung pada apa yang ada di kepalanya saat itu.

"Jam 8. Kenapa?"

Dia diam lagi. Tatap saya lagi. Lantas lenguhan pendek keluar dari bibirnya. "Ngh."

Saat itu juga dia menggeser badannya semakin rapat pada saya. Tangannya terulur seperti hendak memeluk. Kepalanya ada di leher saya, lalu seiring dia bergerak, badannya menindih saya dan buat saya telentang. Dia melintang di atas tubuh saya. Dengan pikiran bahwa dia inginkan sesuatu, saya tekuk siku dan menangkapnya dalam pelukan. Saya usak wajah di bahunya. Dia hangat. Saya tertawa. Tapi saat itu Yoongi meluruskan tangan untuk menopang badannya bangun.

"Jimin, kamu ini kenapa?" tanyanya.

Saya diam. "Ah... eng..."

"Kamu ngajar jam 8, kan? Aku mau setel alarm dulu." Dia mengambil sebuah sesuatu yang ada di meja kecil di samping saya. Dia tunjukkan ponsel yang layarnya mati itu.

Baiklah, sepertinya saya sudah salah sangka. Yoongi hanya ingin mengambil ponselnya. Cara termudah adalah dengan melewati saya, tanpa perlu turun mengitari kasur. Cerdas memang, tapi bikin sebal.

"Kenapa kamu cemberut begitu?"

"Hah? Apa? Cemberut? Yang benar?"

"Kamu kenapa? Sedang ada pikiran? Atau kamu marah padaku?"

"Aku tidak—"

Salah, salah. Harusnya saya lihat matanya, tapi tatapan saya terjerat ke bagian yang tak saya sangka akan tersuguh dengan begitu jelasnya. Dia membungkuk di atas saya, ya Tuhan, kaosnya terlalu payah. Bahannya yang tipis jatuh begitu saja, kerahnya yang lebar melengkung turun dan buat bukit kembar di dalamnya terlihat bebas. Saya, selama mengenal Yoongi, tak pernah begitu jelasnya melihat bagian itu. Selama ini saya hanya mengira-ngira saja bagaimana bentuknya yang selalu tertutup pakaian. Tapi sekarang, saya melihatnya secara langsung dan saya tak menyangka kalau dadanya semontok itu. Bahkan dua titik yang mencuat di puncak bukitnya... samar terlihat berwarna merah muda.

"—tidak marah, hanya tiba-tiba terpikirkan tentang showcase saja, eheh. Kau tahu lah, acaranya sebentar lagi. Gugup."

"Ah, benar. Tiga hari lagi. Aku tak sabar. Kalau begitu kamu harus sehat, tidur yang cukup. Ayo kita tidur sekarang!"

Dia berguling lalu menyamankan diri dalam posisinya lantas menarik selimut tinggi-tinggi. Saya mendadak hampa. Saya yang bodoh atau dia yang begitu polos? Apa seharusnya saya tak katakan tentang showcase dan bilang langsung saja kalau sebelum tidur saya ingin bermesraan dulu dengannya? Ah, Park Jimin. Ampun.

Saya meringkuk kecewa. Dia memejamkan mata. Wajahnya damai dan bibirnya sedikit melengkung ke atas. Saya tak berani ganggu jika bidadari saya inginkan tidur. Ya sudah, saya mengalah. Lebih baik saya tidur juga. Akhirnya saya pun turut memejamkan mata.

Entah jam berapa, ponsel saya berdering. Setengah sadar saya bangun dudukkan diri dan angkat telepon. Baru saya ucap halo, sudah ada suara desah basah wanita di seberang.

"Aahss—ahh, ahhng..."

Sontak saya jauhkan ponsel itu. Hampir saya lempar tapi tak jadi, mengingat saya membelinya dengan uang yang tak sedikit waktu pertama gajian dulu. Lalu saya pelototi layar, ada nama Kim-ssaem terpampang. Buru-buru saja saya matikan telepon itu tanpa pikir-pikir lagi. Jantung saya berdegup takut, takut Yoongi mendengarnya. Tapi ketika saya lirik kekasih saya, dia tidur nyenyak. Sepertinya dia tak dengar, syukur. Saya bernapas lega sejenak, sebelum saya ingat kalau saya harus menghardik manusia mesum yang sudah berani-beraninya mengganggu tidur saya dengan suara itu.

Baru saya ketikkan pesan, Kim-ssaem mengirimi saya sebuah video singkat. Tak sengaja jempol saya klik tanda play. Ternyata itu adalah video porno yang sedang dia tonton dan sengaja dia rekam sendiri dengan ponsel untuk dikirimkan pada saya.

Dengan panik saya hentikan video itu. Saya ngos-ngosan lagi. Lalu saya lirik Yoongi lagi kemudian, dia masih asyik bermimpi. Saya aman. Tapi, betapa sialannya Kim-ssaem! Saya merasa dikerjai.

Sebuah pesan masuk lagi.

Artis baru, tapi bagus, katanya.

Ingin saya mengumpat sekeras-kerasnya. Tapi malam itu saya hanya menahan diri dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. Mungkin kalau Kim-ssaem ada di hadapan saya, akan saya tonjok wajahnya.

"Mmh..."

Saya mendengar Yoongi melenguh. Dia menggeliat lantas miringkan badan menghadap saya. Tangannya bergerak di atas sprei. Bisa saya tebak kalau dia mencari saya. Sambil tersenyum jahil saya biarkan dia temukan saya dengan usahanya sendiri. Kemudian dia berhasil menyentuh saya. Tapi, tangan itu mendarat di tempat yang kurang tepat.

Saya lirik dia. Yoongi tak bergerak lagi. Dia tergeletak nyenyak dengan mulut yang sedikit terbuka. Sementara tangannya masih ada di tengah-tengah selangkangan saya...

Malam itu saya tidak dapat apa-apa. Hanya tidur yang lagi-lagi tak nyenyak. Gara-gara Kim-ssaem, dan gara-gara tangan Yoongi itu, saya jadi gelisah. Akhirnya saya berakhir di ruang keluarga, nonton televisi yang entah apa. Saya tidak tahu Kim-ssaem bermaksud apa, tapi ini akan jadi masalah seandainya saya terbawa suasana dan tak menahan diri. Tapi mumpung saya sendirian di ruangan itu, saya play lagi videonya sambil gigit jari. Sebagian dari diri saya adalah setan, tapi sebagian lagi adalah malaikat yang berbisik kepada saya bahwa hubungan yang masih seumur jagung ini tak boleh rusak hanya gara-gara napsu.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

"Jung-ssaem, mau kemana?"

Saya melihat Jung-ssaem berjalan dengan perlente, bahunya diangkat bergantian, seperti seorang model. Seperti biasa sikapnya membuat saya mual, tapi kala itu saya pilih berbasa-basi dengannya.

"Tentulah mau pulang, mandi, ganti baju, makan, siapkan diri untuk latihan nanti malam. Awas ya kalau Anda tidak datang!" katanya, sambil menunjuk wajah saya dengan jari.

"Saya akan datang, kok! Lusa sudah showcase, mana bisa saya tidak latihan? Jangan khawatir."

"Ya sudah." Dia menggedikkan bahu, lantas berbalik dengan cepat.

"Jung-ssaem, jangan terus-terusan bersikap judes pada saya. Bukankah kita sudah berbaikan? Saya pikir yang waktu itu Anda katakan tentang kerelaan hati adalah benar..."

Dia menoleh. "Belikan saya paket burger, ayam, soda, sundae, dan kentang goreng dulu baru saya bersikap ramah pada Anda!"

"Yah! Ini pemerasan namanya!"

"Fire... we o we o..."

Saya biarkan dia melenggang pergi. Jung-ssaem pulang sambil bersenandung santai. Dengan kesal saya masuk ruang guru. Sebagian orang sudah pulang. Satu yang belum saya sempat temui sejak tadi pagi, Kim-ssaem. Orang yang sudah membuat malam saya tak tenang.

"DNA, lalala lala... lalala lala..."

Dok, dok, dok! Saya gedor sekat meja Kim-ssaem. Saat itu dia sedang duduk menekuk kaki di lantai dengan satu kap ramen di tangan.

"What?" tanyanya sambil mengunyah. Di sudut bibirnya ada oranye kuah kari yang berminyak.

"Siapa yang kemarin mengerjai saya malam-malam? Anda kenal tidak?"

"Sorry I can't hear you."

"Lepas dulu headphone-nya!" Saya memutari meja dan berjongkok hanya untuk melepaskan headphone yang dikenakan Kim-ssaem. Dia merengut pada saya, terganggu.

"Mau apa?"

"Maksud Anda apa, malam-malam kerjai saya? Telepon saya dengan suara desah wanita, lalu kirimi saya video porno!"

"Hush! Park-ssaem, jangan bicara sembarangan, ini ruang guru!"

"Heh! Anda yang sembara—ngohok! Ohok!"

Kim-ssaem tiba-tiba menjejali saya dengan mie yang jelas-jelas langsung membuat saya tersedak. Helai-helai mie itu jatuh. Kuahnya menetes-netes ke karpet, dia ambil tisu untuk lapi dagu dan bibir saya, sesudahnya tisu itu dia gunakan untuk mengambil helaian mie dan mengelap noda kuah ramen di bawah kaki kami.

"Jangan sensi, ah! Anda ini seperti tak suka saja dengan hal seperti itu."

"Ya tapi semalam itu bukan waktu yang tepat! Anda kan tidak tahu saya sedang apa! Bagaimana kalau ketika Anda menelepon, suara laknat itu terdengar oleh Min-ssaem yang tidur di samping saya?"

"Min-ssaem tidur bersama Anda semalam?"

"..."

Sial. Saya buka-buka rahasia. Jadi malu. Saya diam, lirik kanan-kiri untuk memastikan orang di ruang guru masih tak peduli pada obrolan kami. Kim-ssaem berwajah mesum, senyumnya itu, seperti sedang memikirkan 1001 hal yang mungkin terjadi jika saya dan Yoongi tidur bersama.

"Sudah sampai mana?"

Tuh, kan. Saya tahu kemana arah pertanyaannya.

"Sudah sampai itu belum?"

Pritt!

"Aarrgh! Park-ssaem!"

Dengan kesal saya tiup peluit di samping telinganya hingga dia menjerit. Lalu saya tinggalkan dia tanpa peduli gendang telinganya pecah atau tidak. Masa bodoh, saya tidak beduli. Orang iseng seperti Kim-ssaem memang harus diberi pelajaran sekali-kali.

Saya keluar ruang guru untuk mencari Yoongi. Dia tidak kunjung muncul meski jadwal mengajar hari itu sudah berakhir. Hari sudah sore, saya pikir kami harus pulang. Malamnya saya mau latihan dengan Jung-ssaem, jadi sebelum ke studio tari, saya akan antar Yoongi ke rumahnya.

"Saya nonton waktu Taehyung latihan drama! Kemarin dia pakai baju untuk showcase. Saya kira akan bagus, ternyata dia jelek sekali! Lucu waktu lihat roknya kependekan, hanya sampai betis! Lalu dia pakai pita merah di kepala, seperti badut! Hahaha!"

"Saya tidak mau jadi Snow White, Min-ssaem... Bagaimana saya bisa tampil bagus kalau perannya saja tidak saya sukai? Tidak ikhlas hati ini."

Saya mendengar celoteh Jungkook dan Taehyung dari kejauhan. Ketika saya dekati suara-suara itu, Yoongi ada bersama dua murid saya, duduk di tangga dekat lapangan basket sambil makan es krim bertiga.

"Yoongi?"

Saya hampiri mereka. Tiga-tiganya menoleh. Yoongi melambaikan tangan pada saya sementara mulutnya mengulum sebatang es krim.

"Aku mencarimu. Kupikir kau kemana," kata saya. "Kau mau pulang sekarang? Biar kuantar."

"Mau es krim?" Dia mengulurkan tangannya untuk menawari saya es krim setengah meleleh yang tadi dia kulum. Saya diam tak langsung menyambut. Jungkook dan Taehyung ejek saya.

"Eeii..." Begitu kata mereka.

Tak enak untuk menolak, saya membungkuk untuk raup ujung es krim itu dan langsung menggigitnya. Patahan yang masuk ke mulut saya meninggalkan bekas di bibir. Buru-buru saya hapus dengan jari. Lantas saya pun memandang murid-murid saya, minta disediakan tempat untuk duduk. Tapi dari dua bocah itu, tak ada yang paham. Mereka malah kedap-kedip polos tatap saya. Malah Yoongi yang minta mereka geser.

"Beri tempat untuk Park-ssaem!"

Mereka menurut. Saya duduk di samping Yoongi. Di kanan saya ada Jungkook. Anak itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu dia mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"Wefie dulu, seonsaengnim!"

Jepret! Tampang kaget saya yang tertangkap kamera. Anak itu terkekeh bangga. Lalu dia sibuk dengan ponselnya. Waktu saya lirik Taehyung, dia sedang bergelayut manja di bahu Yoongi. Astaga, bocah itu. Sungguh keterlaluan. Yoongi ini kekasih saya, enak saja dia main sandar begitu.

"Yaa... es krimnya habis."

"Itu karena kamu makan es krimnya digigit dan dikunyah, bukan dijilati. Jelas cepat habis. Mau es krim punya saya?"

"Mau."

Taehyung membuka mulutnya lebar-lebar untuk menyambut sodoran es krim itu. Dia menggigitnya seperti saya. Kemudian dia kunyah. Persis seperti yang saya lakukan tadi. Yang buat saya sedikit cemburu, kenapa mereka terlihat begitu mesra? Mesranya natural pula.

"Kamu sudah bantu es krim saya cepat habis, bagus." Yoongi mengasak rambut Taehyung. Bocah aneh itu makin saja lengket padanya. Saya mengernyit tak suka.

"Jimin-ie, mungkin begini rasanya ya, kalau mengurus anak..."

Saya melongo. Waktu Yoongi bicara begitu dia tak menatap saya, tapi memandang langit yang sewarna jeruk. Dia tersenyum, tangannya meremat-remat rambut Taehyung dengan sayang, sedang es krim di tangannya mulai meleleh karena dibiarkan.

Saya masih mencerna apa maksud kata-kata Yoongi, tapi saat itu Jungkook berseru.

"Seonsaengnim! Ayo foto lagi!"

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya mengantar dia pulang. Waktu turun di depan rumahnya, saya lihat hidung Yoongi merah. Dia berkali-kali menyedot ingus. Saya tak tahu kalau makan es krim saja bisa membuatnya begini. Dia mungkin lemah pada yang dingin-dingin. Saya jadi tak tega. Apalagi kami pulang dengan motor, yang mana bersentuhan langsung dengan angin.

"Sampai jumpa besok!"

Saya membalas lambaian tangannya. Besok kami tak ada jadwal mengajar. Satu hari penuh dialokasikan untuk gladibersih showcase. Guru yang tak terlibat tak wajib datang. Saya pikir Yoongi pun tak perlu. Saya takut flunya tambah parah.

Malam harinya saya mendapat telepon dari Yoongi. Awalnya kami hanya bicara basa-basi, tak berguna kalau dipikir-pikir. Tapi menyenangkan saja, mungkin karena saya sedang cinta-cintanya pada Yoongi. Apapun yang dia katakan terdengar manis dan lucu, meski itu hanya berupa gumaman sengau.

"Jimin, besok gladibersih showcase, bukan? Aku akan datang bawakan makanan untukmu dan yang lain. Sekalian melihatmu latihan, ehe."

Saya tak setuju. "Tidak, jangan. Tidak usah datang, kamu sedang flu begitu."

"Tapi aku ingin melihatmu latihan..." rengeknya.

"Lebih baik istirahat di rumah."

"Aku hanya flu ringan, hanya pilek, snif. Masa' aku tak boleh datang?"

"Tidak boleh."

"Kenapa tidak boleeh?"

"Pokoknya tidak boleh."

"Aku mau datang! Kenapa tidak boleeh?"

"Yoongi!"

Saya kelepasan membentak. Yoongi diam tak bersuara. Saya langsung merasa bersalah. Tak seharusnya memang, saya marahi dia. Mau datang atau tidak itu hak Yoongi, tak pantas saya larang-larang.

"Yoongi? Maaf..."

"Tidak apa-apa. Aku mengerti."

"Maaf sudah membentakmu. Aku tak bermaksud..."

"Tidak apa-apa Jimin. Kalau kau tak izinkan aku datang, ya sudah aku tak akan datang. Maaf kalau aku sudah memaksa."

"Tidak, tidak. Kau boleh lakukan apapun sesukamu, termasuk datang ke showcase dan melihat aku berlatih. Maaf kalau aku egois, aku tak akan melarangmu melakukannya."

"Iya, tidak apa-apa Jimin. Kalau kau bilang aku harus istirahat, aku akan menurut saja."

"Yoongi..."

"Snif. Sudah ya? Ini sudah malam, tidurmu harus cukup, supaya di hari H penampilanmu maksimal!"

"Yoongi?"

"Selamat tidur, Jimin-ie..."

Suara Yoongi menghilang. Telepon kami tak tersambung lagi. Malam itu, saya tak bisa tidur karena dihantui rasa bersalah yang amat besar.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Yoongi tak datang ke acara gladibersih. Sesekali saya cari dia di aula, atau di area sekolah ketika dapat waktu istirahat. Jung-ssaem bahkan bertanya kenapa Yoongi tak nampak batang hidungnya. Saya bilang dia flu. Memang benar dia flu, tapi alasan ketidakhadirannya di gladibersih itu saya yakin bukan karena flu semata, tapi memang dia tak ingin bertemu saya. Aduh, saya takut. Takut dia marah dan jadi benci pada saya. Kami baru jadian tiga hari, sudah bertemu masalah seperti ini. Saya tidak mau membumbui hubungan kami dengan pertengkaran. Saya tak mau!

Sampai gladibersih selesai di jam delapan malam, Yoongi masih tak terlihat. Dia betul-betul tak datang. Saya kecewa. Saya pikir, saya harus mendatangi dia di rumahnya untuk minta maaf secara langsung. Ajakan Jung-ssaem untuk fitting baju pun saya tolak, terserah dia mau beri baju apa pada saya. saya pasrah saja. Pikiran saya saat itu hanya tertuju pada Yoongi. Lantas, saya pun melajukan motor saya di jalanan malam yang masih ramai. Bunga sakura sudah hampir habis, pohonnya menggundul. Tapi orang-orang masih betah berjalan-jalan. Saya sengaja ambil jalan memutar ke pertokoan di tengah kota untuk sejenak cari angin sambil berpikir bagaimana caranya minta maaf pada kekasih saya.

Di tengah jalan saya merasa kepala saya kacau, butuh sesuatu untuk membuat isinya benar kembali. Saya pun memutuskan untuk berhenti di depan sebuah kedai kopi. Belum saya lepaskan helm, waktu melirik antrian di depan kedai, saya melihat Yoongi.

Tapi dia tak sendiri, dia bersama seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang mengenakan masker. Tangannya terkalung di pinggang si lelaki. Kepala Yoongi tersungkur di dadanya. Mereka berpelukan. Lalu Yoongi tengadah, tangannya menepuk-nepuk pipi lelaki itu. Dari kejauhan saya bisa lihat Yoongi tertawa. Dia tertawa dengan lepas...

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED