Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Hidup ini memang lucu. Sebentar bahagia, sedih kemudian. Saya patah hati. Malam itu saya pulang dengan kecewa karena pacar saya bersama lelaki lain. Aduh. Baru beberapa hari berhubungan, kenapa sudah seperti ini? Saya benar-benar tak sangka kalau setelah telepon malam itu Yoongi akan mendiamkan saya seharian—sehari semalam—dan membiarkan saya resah tak berkesudahan, dan tahu-tahu dia sedang jalan dengan orang. Nasib. Memang sudah sepantasnya saya dihukum, kemarin saya sudah membuat Yoongi marah mungkin. Sepertinya ini karma buat saya.
"Park-ssaem, jangan lupa tidur yang cukup. Tidak usah begadang. Saya tahu malam ini ada siaran bola tapi tidak usah ditonton, besok-besok lagi saja, ada siaran ulangnya. Besok bangun pagi. Kalau bisa kita latihan dulu sebentar sebelum ke sekolah. Jangan lupa makan juga, hindari ramen! Kalau makan ramen terus Anda bisa jadi Naruto!"
Saya mendengarkan petuah Jung-ssaem dengan malas. Sengaja saya loud speaker supaya ponselnya tidak perlu ditempelkan ke telinga. Saya biarkan saja benda pipih itu tergeletak di dekat saya, di lantai (tempat di mana saya berebahan). Jung-ssaem marah-marah karena teleponnya diangkat tapi tidak dijawab. Lagipula, malah dia yang mengingatkan saya untuk bangun pagi dan tidak melupakan makan. Sungguh tidak saya harapkan sama sekali.
"Anda ketiduran, ya? Ya sudah teleponnya saya tutup! Nambah-nambah tagihan saja!"
Layar ponsel saya mati. Jung-ssaem benar-benar menutup teleponnya. Kemudian saya mendengus panjang, lantas menelentangkan badan. Saya gesek-gesekkan tumit ke lantai yang licin. Kalau di kasur biasanya saya gesek-gesek sprei. Entahlah, ini kebiasaan yang sulit dihilangkan sejak kanak-kanak. Ketika melihat langit-langit yang lampunya bulat seperti telur, saya baru ingat kalau saya belum makan. Pantas rasanya lemas. Ternyata bukan karena patah hati saja, tapi karena perut saya belum diisi. Saya pun bangun dengan berat hati. Di lemari ada banyak ramen. Tapi Jung-ssaem bilang saya harus hindari makanan itu. Dekat apartemen ada warung teoppoki yang buka sampai larut malam. Saya pikir saya bisa beli oden untuk dimakan pakai nasi.
Saya ambil jaket. Dengan setengah mengantuk saya buka pintu. Lampu-lampu jalan yang kuning langsung menyambut ramah. Dari depan pintu apartemen saya bisa langsung melihat jalanan di bawah. Tangga turun ada di sebelah kanan. Waktu itu entah mengapa saya ingin melamun dulu, hirup udara malam dan rasakan keheningan yang diisi gonggongan anjing. Sayup saya mendengar suara Yoongi. Saat sadar ternyata dia ada di bawah, di depan gedung apartemen saya, sedang bercakap dengan laki-laki yang saya lihat di kedai kopi itu!
Saya jelas terkejut. Apalagi sewaktu lelaki itu memeluk Yoongi dulu sebelum dia pergi. Apa-apaan?! Tak lama dari situ Yoongi membalik badan, dan dari tempatnya berdiri kami bisa saling melihat tanpa terhalang apapun. Dia menyadari keberadaan saya dan tiba-tiba jadi kikuk. Saya diam di tempat, pun tak tahu harus apa. Akhirnya, Yoongi yang menghampiri saya. Dia naik tangga dengan terburu, buat suara tang-tang-tang nyaring pada titian tangga besi karatan. Sampai di depan saya dia membungkuk dalam sambil ngos-ngosan. Dari situ saya tahu kalau dia benar-benar tidak bersahabat dengan olahraga. Naik tangga saja capek begitu.
"Y-Yoongi, bagaimana kau tahu rumahku?" Saya mendadak gagu. Pertanyaan itu keluar dari mulut saya pelan-pelan.
"Aku pernah tanya pada Jung-ssaem," jawabnya sambil terkekeh. Di tangannya ada sebuah keresek putih dan satu paperbag kecil.
"Lalu, ada apa malam-malam ke sini?"
"Aku rindu padamu!"
Mendengar pengakuan itu, di dada saya seperti ada kembang api meledak. Seharusnya saya bahagia, tapi rasa itu hanya sebentar adanya. Sakit hati saya masih berbekas. Lantas saya elus-elus dada, tak merespon apa-apa.
"Ponselku rusak, aku sama sekali tidak bisa menghibungimu. Kemarin kakakku datang dan dia menjatuhkannya tak sengaja. Seharian ini aku temani dia jalan-jalan sekalian beli ponsel baru. Lihat! Masih dalam kotak! Aku benar-benar gelisah, takut kau marah karena aku menghilang, jadinya aku ke sini," ujarnya panjang lebar. Padahal saya belum tanya.
"Jadi yang tadi itu...?"
"Kakakku."
"Itu kakakmu?"
"Iya." Dia mengangguk polos.
"Aku melihat kalian beli kopi berdua, kukira itu sel—"
"Hah?"
"Kakakmu?"
"Iya!"
Jadi saya sudah salah sangka? Astaga, ya Tuhan. Jadi itu kakaknya? Lelaki tinggi besar itu? Demi semesta dan segala isinya! Saya tak menyangka kalau itu kakaknya!
"Kau kenapa? Sakit kepala?" Dia sadar kalau saya pegangi kepala saya yang rasanya berputar-putar. Yoongi mendadak berwajah khawatir.
"Yoongi, kukira kau jalan dengan lelaki lain. Kukira kau mau menghukumku karena aku sudah membentakmu kemarin. Aku cemburu. Mungkin aku terlalu cinta padamu makanya aku begini..." Akhirnya perkataan jujur itu keluar begitu saja tanpa ditahan-tahan. Wajah khawatir Yoongi semakin kentara. Dia jalan maju dan peluk saya erat-erat.
"Maaf, aku tidak pernah punya niatan untuk jalan dengan lelaki lain. Aku juga tidak pernah ingin menghukummu. Maaf kalau kau cemburu, aku tak bermaksud..."
"Iya, tak apa. Kau tak perlu minta maaf. Aku yang salah paham, justru aku yang harusnya minta maaf padamu. Maaf ya? Maafkan aku."
Habis saya katakan itu dia angkat kepala yang semula tersungkur di bahu saya. Dia tersenyum tapi seperti hendak menangis. Lalu saya peluk lagi dia dan belai-belai rambutnya. Kekasih saya ini hatinya selembut kapas, salah sedikit dia bersedih. Saya benar-benar harus menjaganya dengan baik dan hati-hati.
Waktu saya menengok ke belakang saya baru sadar kalau di pantat saya ada panas-panas menyerang, dari kantung keresek yang Yoongi pegang. "Ngomong-ngomong, kau bawa apa?"
"Oden!"
Untuk yang kesekian kalinya, kami sehati. Ajaib memang.
"Seoltang! Ayo pulang!"
Kami sama-sama menengok ke bawah ketika mendengar seruan itu. Lelaki bermasker yang saya sangka sudah pulang ternyata masih ada di sini. Menelisik keresek yang dia bawa, ada logo minimarket 24 jam. Dia nyatanya hanya pergi sebentar ke tempat itu entah untuk membeli apa.
"Sudah malam."
Yoongi tidak juga melepaskan pelukannya pada saya, bahkan setelah kakaknya naik tangga dan hampiri kami. Dia seperti tidak rela disuruh pulang.
"Aku mau menginap di sini, tidak mau pulang. Hyung pulang saja sendiri."
"Tidak boleh menginap-menginap begitu!" Kakak Yoongi melepaskan maskernya dan baru saya tahu kalau wajah mereka mirip, tapi lain. Kakaknya benar-benar gagah dengan posturnya yang tinggi besar. Apalagi ketika dia bersungut, kelihatan gahar sekali.
"Tapi Jimin ini pacarku, masa tidak boleh aku menginap di apartemennya?" Sedang adiknya begitu manis dan manja.
"Apalagi pacar, tidak boleh!"
"Kalau begitu Jimin saja yang menginap di rumahku." Yoongi mengalungkan tangannya di lengan saya. Saya hanya bisa kedap-kedip bingung. Tak bisa ikut campur, tak tahu bagaimana caranya.
Kakak Yoongi menggeleng-geleng. "Itu juga tidak boleh! Nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
Kakaknya ini benar-benar kolot. Dia tidak tahu saja kalau saya sudah tiga kali tidur seranjang dengan Yoongi.
"Pokoknya sekarang pulang."
"Hyung...," rajuk Yoongi.
"Ayo, nanti kubilang Ayah kau sudah berani macam-macam, lalu dia akan menyuruhmu putus dengannya dan kau menikah dengan pilihan Ayah."
"TIDAK MAU!" Yoongi memekik. "Ya sudah ayo pulang! Jimin, makanlah ini. Aku harus pulang sekarang. Tidur yang nyenyak ya. Bangun pagi dan jangan lupa sarapan. Semangat untuk besok, aku mendukungmu seratus persen. Besok aku akan datang untuk menonton jadi berikanlah penampilan terbaikmu! Semangat! Aku tahu kau bis—"
"Seoltang..." panggil kakaknya menyela.
Cup! Yoongi mengecup bibir saya.
"Dadah!"
Singkat sekali sebelum dia digandeng pulang. Tang-tang bunyi tangga bersahut-sahutan. Saya ditinggalkan dengan sekeresek oden dan kebingungan yang masih bersisa. Sampai mereka jauh ke depan jalan dan menyetop taksi, saya masih setengah kosong.
"Hati-hati..."
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Esoknya saya benar-benar bangun pagi. Saya pergi ke studio untuk latihan sebentar bersama Jung-ssaem. Kemudian ketika bertanya siapa yang akan dandani kami nanti, dia jawab ada guru-guru wanita yang akan bantu. Jadi kami tidak perlu khawatir. Ya sudah, saya percaya saja. Kami pun latihan untuk yang terakhir kali sampai kira-kira jam sepuluh. Habis mandi di studio, Jung-ssaem saya bonceng ke sekolah. Ternyata pakaian untuk penampilan kami sudah dititip pada satpam yang berjaga sejak kemarin. Yang tak saya sangka, ketika baju itu dikenakan, ukurannya betul-betul pas. Malah terkesan kekecilan karena amat mencetak bentuk badan saya. Saya tidak terbiasa mengenakan celana ketat, rasanya malu sekali. Apalagi ketika habis didandani. Rambut saya ditata rapi, wajah saya dibubuhi bedak, mata saya dihias. Sewaktu berkaca saya benar-benar tidak mengenali lelaki di cermin itu. Benar-benar bukan Park Jimin. Tak tahu siapa. Wajahnya sangat tampan dan badannya sangat bagus. Guru-guru lain memerhatikan saya secara seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mereka bilang saya seperti artis. Disebut begitu justru saya makin minder. Entah, saya masih punya krisis kepercayaan diri sampai sekarang. Lain dengan Jung-ssaem yang makin percaya diri setelah bertransformasi menjadi Jhope (dia namai dirinya begitu, tak tahu maksudnya apa).
"Anda tak lupa, kan? Harus peka terhadap cahaya. Lampu Anda itu warnanya merah."
"Serius Jung-ssaem, saya takut salah gara-gara tutup mata ini."
"Ah Anda ini! Harus yakin, dong! Lagipula itu bahannya tipis kok, kelihatan! Jangan khawatir!"
"Baiklah..." Saya melirik Kim-ssaem dan Jin-ssaem yang asyik bercengkrama berdua. Mereka sudah berdandan entah sejak kapan. Sepertinya rambut dua-duanya disemprot hairspray color. Kim-ssaem rambutnya hijau dan Jin-ssaem merah muda. Saya jadi ingat tokoh kartun yang punya anak asuh. Mereka suami istri yang aneh. Dua peri aneh. Kalau tidak salah namanya Cosmo dan Wanda. Iya, benar. Cosmo dan Wanda! Lalu saya pikir mereka tak akan menampilkan lagu yang dinyanyikan, melainkan mau ngelawak di atas panggung.
"Min-ssaem tidak kesini?"
Saya diingatkan oleh Jung-ssaem. Benar juga. Kekasih saya belum kelihatan sejak tadi. Saya cek ponsel, tidak ada pesan atau telepon dari Yoongi.
"Kemarin ada kakaknya datang, mungkin dia sedang sibuk," kata saya.
"Dia punya kakak?" tanya Jung-ssaem antusias. "Apa kakaknya cantik juga seperti Min-ssaem?"
"Anda tahu sekertaris yayasan, Pak Sejin? Kira-kira begitulah perawakannya."
"WADUH?!" Dia terkejut. "Gagal sudah. Saya tidak bisa berharap apa-apa kalau begitu." Lalu Jung-ssaem berlalu. Dia jauh ke mejanya, mungkin untuk ambil minum. Jung-ssaem ini tipe yang selalu membawa botol minum kemana-mana. Dia jarang beli minuman. Apalagi yang berasa. Sukanya air bening saja.
"Ah, siang Min-ssaem!" seseorang berseru. Saya menengok ke arah pintu di mana Yoongi baru saja masuk. Dia tertegun diam melihat saya. Waktu saya senyumi, dia bahkan masih begitu.
"Yoongi? Kenapa? Kau baik-baik saja?"
"Ya ampun, kau benar Jimin?"
"Iya."
"Boleh... boleh foto tidak?"
"F-foto?"
Dia memegang ponselnya dengan kedua tangan di depan dada. Senyumnya mengembang lebar, tapi ekspresinya seperti sedang terharu. Saya tak tahu kenapa dia begini. "Kau seperti artis... Astaga, aku tak mengira. Jimin-ie kau benar-benar tampan, bagaimana ini? Hengg, aku tak sangka kalau didandani kau setampan ini!"
Ah, saya jadi malu! Aduh. Saya makin salah tingkah ketika dia mengarahkan kameranya untuk berswafoto dengan saya. Sambil malu-malu saya pun bentuk v-sign dengan tangan di depan sebagian wajah. Sekali-dua kali kamera ditekan. Sesudah puas berfoto Yoongi melihat-lihat hasilnya di galeri. Dia senyam-senyum gemas pada foto kami. Saya yang melihatnya gemas pada dia.
"Benar-benar seperti artis! Aku bangga punya pacar seperti Park Jimin!" katanya. Dia benar-benar tak baik untuk kesehatan jantung. Saya hanya mengelus dada sambil memasang senyum paling manis yang saya punya. Untung dia tidak sampai menerjang saya seperti kemarin malam. Kalau iya, orang-orang di ruang guru pasti akan bersorak godai kami. "Mana Jung-ssaem dan yang lainnya? Aku juga ingin berfoto dengan mereka."
"Mau kupanggilkan?"
"Min-ssaem, mau ikut didandani juga tidak?" seorang guru wanita tiba-tiba saja menggandeng tangan Yoongi dan menyeretnya ke kursi, sementara yang lain bukannya kasihan pada saya yang ditinggal, malah setujui ajakan itu. Yoongi, dengan wajah bingungnya melihat saya sementara rambut hitamnya mulai dijepit.
"Park-ssaem, boleh kan, Min-ssaem didandani?"
"B-boleh..." Yang aneh kenapa mereka minta izin pada saya?
"Untuk apa? Saya kan tidak tampil."
"Tidak untuk apa-apa, kami pikir Min-ssaem akan sangat cocok dengan riasan!"
Pada akhirnya dia benar-benar didandani. Saya menunggu dengan was-was. Selama ini saya tidak pernah melihatnya dirias, apalagi dengan riasan panggung yang mencolok. Jung-ssaem menonton prosesnya tepat di samping Yoongi. Dia sengaja ambil kursi dan duduk di sana. Sedang saya agak jauh, sendirian di sofa untuk tamu. Tadinya saya mau bergabung dengan Kim-ssaem dan Jin-ssaem, tapi mereka mengusir saya karena tidak mau di ganggu. Awas saja, saya akan lakukan pembalasan nanti!
"Min-ssaem, Anda benar-benar cantik... bahkan kecantikan bunga-bunga yang mekar di musim ini pun kalah oleh Anda."
"Aah, Jung-ssaem, jangan begitu. Saya malu."
"Sungguh, rasanya ingin saya abadikan wajah ini!"
Saya gatal-gatal mendengar kekasih saya digoda oleh orang lain. Dengan kaki menghentak saya jalan dekati mereka. Guru-guru yang lain tertawa puas. Waktu Yoongi menoleh jantung saya berhenti sejenak.
Tuhan, dia benar-benar seperti bidadari!
"Rasanya mataku jadi membesar...," komentarnya polos. Saya ingin pingsan saking bahagianya lihat dia yang secantik itu.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
"Berikan tepuk tangan yang meriah! Terimakasih untuk penampilannya yang luar biasa! Setelah ini kami punya penampilan spesial dari guru-guru kita..."
"Saya gugup!" ucap Jung-ssaem di belakang panggung. Dia tarik-tarik baju saya sambil berwajah nelangsa.
"Ah! Dari tadi Anda sesumbar punya percaya diri tinggi, kenapa sekarang mendadak gugup?"
"Namanya gugup itu tidak bisa diprediksi kapan datangnya! Aduh, Park-ssaem, bagaimana ini? Saya sakit perut!"
"Tahan! Ngaco Anda ini. Kita mau tampil, jangan malah ingin ke toilet!" marah saya.
"Mari kita sambut, Jung-seonsaengnim dan Park-seonsaengnim!"
"Ayo naik!"
Lampu dimatikan, kami masuk ke panggung. Kemudian beberapa detik kami bersiap. Saya pakai penutup mata. Diikatnya tidak terlalu kencang supaya tidak pusing. Benar kata Jung-ssaem kalau kainnya tipis. Saya masih bisa melihat kursi penonton dan lampu-lampu di depan sana. Hanya panggung yang gelap gulita. Dengan perasaan, saya berdiri di titik yang pas. Jung-ssaem memberi tanda pada operator berupa jentikkan tangan, dan lagu dimulai. Saat itu lampu biru menyala. Jung-ssaem yang menari pertama. Habis gilirannya, saya yang menari. Di panggung saya tidak ingat apa-apa kecuali alunan lagu dan gerakan yang harus saya tarikan. Rasanya seperti melayang. Entah saya yang terlalu menikmati. Gugup-gugup yang benar terasa sebelum naik ke panggung seolah-olah sirna begitu saja. Sewaktu kami menari bersama, tepuk tangan penonton begitu kerasnya. Ini seperti energi besar yang bisa saya serap. Saya tidak pernah tahu kalau rasanya berada di atas panggung akan sehebat ini. Senang sekali.
Hanya sekitar tiga menit kami menari. Begitu lagu berhenti dan tepuk tangan makin meriah, semua lampu di panggung menyala terang. Saya lepas kain penutup mata saya. Sedikit pusing ketika mencoba sesuaikan cahaya. Tapi Jung-ssaem merangkul ketika saya oleng.
"Thank you for your hardwork!" katanya. Kami melambai-lambaikan tangan. Seperti artis. Sewaktu saya menyisir bangku penonton, ada Yoongi yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Ah, bahagianya.
"Park-ssaem, boleh minta foto tidak?" pinta anak-anak murid saya ketika saya dan Jung-ssaem hendak duduk di bangku penonton untuk melihat penampilan lainnya. Mereka ribut. Tak hanya saya yang dikerubungi, Jung-ssaem juga. Ya, saya akui dia keren sekali. Tapi jelas lebih keren saya. Dengan sedikit kerepotan saya ladeni anak-anak itu. Agak susah untuk lepas dari mereka, tapi akhirnya saya lakukan juga dengan alasan ingin istirahat sebentar. Lantas saya pun ambil tempat kosong di samping Yoongi. Saya kira yang kosong hanya satu untuk saya, ternyata ada satu lagi yang kemudian diisi Jung-ssaem. Kami mengapit Yoongi yang duduk di tengah-tengah. Sedikitnya saya risih karena tidak bisa bebas berduaan dengan kekasih saya, tapi mau bagaimana lagi. Toh, di depan dan di belakang kami pun semua murid dan guru, tak enak juga kalau hanya memikirkan tentang kesempatan untuk bermesraan dalam situasi seperti ini.
"Kalian benar-benar keren!" pekik Yoongi di antara riuh rendah. "Nanti bilang pada Kim-ssaem dan Jin-ssaem, habis acara ini kita pergi makan daging, saya yang traktir!"
"Eehh sungguhan?" Jung-ssaem menyahut dengan semangat.
"Sungguh, ini sebagai perayaan bagi kalian yang sudah bekerja keras untuk penampilan hari ini. Selama ini saya tidak bantu apa-apa. Jadi saya ingin memberi selamat dengan traktiran daging."
"Aduh, betapa perhatiannya Anda ini, benar-benar malaikat! Terimakasih banyak ya, Min-ssaem... saya terharu." Jung-ssaem menaruh tangannya di lengan Yoongi kemudian bergelayut manja. Rasanya ada yang bekedut-kedut di dahi. Sudah tahu Yoongi itu kekasih saya, tapi dia tak jaga jarak sama sekali.
"Jimin-ie, kau mau kan makan daging?"
Saya yang sedang jealous ini ditanya. Karena tak sempat berpikir saya hanya menganggukkan kepala saja.
"Kim-ssaem dan Jin-ssaem tampil nanti sore. Sewaktu kalian di panggung saya sempat lihat Putri Salju lari-lari. Sepertinya itu Taehyung. Sungguh menggemaskan. Roknya diangkat tinggi-tinggi sampai celana training-nya kelihatan."
"Apa kamu juga melihat Jungkook?" tanya saya.
"Di sebelah sana. Lihat? Dia memakai tuksedo yang bagus. Sepertinya dia mau tampil sendiri."
Saya tenang kalau murid-murid kesayangan saya sudah jelas kabarnya. Melepas lelah, saya sandarkan punggung ke kursi. Di panggung anak-anak kelas satu sedang bernyanyi sambil menari. Saya lihat Jung-ssaem begitu senang menontonnya. Lalu, Yoongi, waktu saya lirik, dia menoleh sekilas sambil memberi senyum. Riasannya membuat mata itu seperti mata kucing. Lucu. Manis. Cantik. Entah apalah. Pokoknya saya suka. Tanpa bicara apa-apa dia amit tangan saya. Jari-jarinya yang panjang dan lentik berada di sela-sela jari saya. Hangat. Ingin rasanya saya sematkan sebuah cincin di jari manisnya...
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
