Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
"Bersulang!"
Kami minum soju dan makan daging panggang berlima di sebuah kedai di tengah kota. Ini seperti pesta. Rasanya senang sekali bisa berkumpul dengan teman-teman dan makan bersama. Tadinya saya sempat khawatir karena Yoongi yang akan membayar semua ini, tapi setelah dia jamin kalau uangnya tak akan habis hanya karena mentraktir kami, saya mau tak mau ikuti saja. Bicaranya benar-benar enteng soal uang. Padahal baru beli ponsel, tapi berani mentraktir makan empat orang (yang mana makannya tidak manusiawi). Saya jadi curiga kalau di Kampung halaman mungkin dia adalah anak orang kaya. Juragan tanah misalnya.
Showcase sekolah kami berjalan lancar. Banyak sekali siswa-siswi yang memiliki bakat hebat. Jungkook begitu memukau. Dia bernyanyi, suaranya amatlah bening. Sedangkan Taehyung yang memang anak teater itu berakting bagus sebagai Putri Salju. Geli rasanya melihat anak aneh itu mengenakan pakaian wanita. Dia juga bertingkah lemah lembut dan manis di atas panggung. Benar-benar lain dari Taehyung yang biasa saya lihat sehari-hari. Tentang Kim-ssaem dan Jin-ssaem, sudah saya duga kalau mereka tak hanya bernyanyi, tapi juga membuat lelucon. Candaan Jin-ssaem benar-benar tak lucu, tapi tawanya yang seperti bunyi kaca dilap buat dia terlihat konyol. Orang tertawa karena dia tertawa. Lalu sekarang dokter sekolah itu duduk di sebelah saya dan meracau.
"Anda tahu tidak, Park-ssaem ini kalau mabuk cerewet sekali. Saya pernah satu kali temani dia minum waktu dia putus cinta. Saya tidak minum gara-gara habis sakit, jadi saya bisa dengarkan jelas apa yang dia bicarakan. Sungguh kasihan. Orang ini kalau nelangsa, amat sangat nelangsanya." Jin-ssaem menepuk-nepuk pundak saya sambil tertawa. Dia sudah mulai mabuk, saya tahu. Biasanya dia suka marah-marah pada saya, tapi kalau mabuk dia lebih jinak, banyak tertawa. Menyebalkannya sih tetap. Sedangkan Yoongi yang dia ajak bicara keadaannya sama. Mabuk juga. Bedanya, Yoongi hanya diam saja seperti orang mengantuk.
"Min-ssaem, lain kali kita makan berdua saja ya, supaya romantis..." Ini, Jung-ssaem meracau. Dia lupa kalau di meja kami masih ada saya. Melirik Kim-ssaem, dia sedang sibuk memainkan rubic. Saya heran, apa esensinya main rubic sambil minum?
Kalau dipikir-pikir, di antara kami, sayalah yang paling kuat minum. Saya bahkan masih sadar meski yang lain sudah K.O. Saya jadi kasihan pada mereka. Bagaimana mereka pulang nantinya? Kalau Yoongi, sudah jelas akan saya bawa di boncengan motor saya. Yang lain? Kim-ssaem bisa saja mengantar Jin-ssaem dan Jung-ssaem pulang, tapi dia sendiri mabuk. Mungkin mereka akan naik taksi, sementara mobil Kim-ssaem dititipkan di kedai.
"Apa? Halo? Aku sedang minum dengan teman-temanku..."
Saya dengar Yoongi bertelepon. Setengah sadar dia menjawab.
"Tidak usah, aku bisa pulang dengan Jimin. Hyung di rumah saja. Jangan suruh aku pulang sekarang, kau mengganggu." Bibirnya mengerucut imut. Bisa saya tebak kalau dia sedang merajuk pada kakaknya seperti kemarin malam. "Iya, kalau sudah selesai aku akan pulang... tak usah tunggu aku. Simpan saja kuncinya di pot bunga..."
Saya melirik jam tangan. Ternyata sudah hampir jam duabelas malam. Kakaknya Yoongi itu kolot, pantas adiknya belum pulang ditanyai. Padahal Yoongi sudah dewasa, tidak pulang pun tak mengapa. Tapi mungkin kakaknya itu hanya terlalu sayang pada adiknya, hingga sangat khawatir kalau Yoongi masih di luar malam-malam. Sedikit banyak saya jadi mengerti perasaan kakaknya. Akhirnya saya putuskan untuk akhiri pesta ini dan mengajaknya pulang.
"Yoongi, pulang sekarang ya? Kasihan kakakmu."
"Tidak mau... ayo kita minum lagi. Lihat, isi botol ini saja belum habis. Bantu aku habiskan, ya?"
"Yoongi... kakakmu khawatir, makanya dia ingin kau pulang cepat-cepat. Ayo, aku akan mengantarmu sampai ke rumah."
"Jimin, aku tidak mau pulang!" Yoongi menggebrak meja. Saya kaget.
"Aduh, kalian ini. Baru berpacaran sudah bertengkar, saya tak yakin hubungan kalian awet kalau begini..." Jung-ssaem berkomentar. Ingin saya pukul dia gara-gara omongannya itu. Mana mau saya amini?
"Jadi mereka sudah jadian, Jung-ssaem? Astaga!"
"Selamat!"
Jin-ssaem dan Kim-ssaem yang baru tahu status saya dan Yoongi malah bersuka ria, seperti lupa kalau barusan Yoongi baru saja marah pada saya sambil menggebrak meja.
"Aku tak mau pulang..." Yoongi jatuh terkulai di paha saya, malah menyamankan diri di situ. "Kalau mau pulang, bawa saja aku ke apartemenmu..." lantas dia menarik-narik baju saya.
Kim-ssaem lewati meja untuk berbisik di telinga saya tiba-tiba. "Sudah, bawa pulang saja ke apartemen. Dia milikmu, kau bisa melakukan apa saja padanya sesuk—aduh!"
Spontan saya dorong Kim-ssaem sampai dia jatuh ke belakang. Bisikannya benar-benar sesat. Dia ini setan memang. Saya jadi malu sendiri membayangkannya. Yoongi tak mau pulang ke rumah, dia maunya pulang ke apartemen saya. Apa yang harus saya lakukan?
"Kita pulang ke rumahmu saja. Ya? Kau mau, kan?" Saya masih punya nurani dan kepala yang sehat untuk tak macam-macam padanya.
"Kau pilih aku atau kakakku...? Kenapa kau begini... hengg..." Dengan masih bersandar di paha, dia meninju perut saya. Sakit. Tenaganya yang besar itu rupanya masih bisa dia keluarkan meski sedang mabuk. Saya hanya bisa melenguh, sedang Yoongi tak mau beranjak sama sekali. "Kau jahat, kau jahat..."
Dia bicara di depan kemaluan saya. Sambil menggigit bibir, saya tahan rasa sebal. Kim-ssaem pembisik kesesatan dan Yoongi adalah cobaan. Ini berat. Sungguh. Apalagi sewaktu hidung itu digesekkan, saya langsung merinding dan bangun. Sampai-sampai kepala Yoongi terbentur lantai. "Y-ya sudah ayo! Ki-kita pulang ke apartemenku! Aku akan turuti kalau itu maumu!"
"Bawa aku, Pangeran..." racaunya.
Teman-teman saya sudah tidak ada yang waras. Saya suruh saja mereka pulang juga. Dan benar, Kim-ssaem panggil taksi. Mobilnya dititip untuk semalam. Saya gendong Yoongi di punggung karena dia sudah tak sanggup berjalan. Sewaktu hendak meninggalkan kedai, dia tepuk saya untuk mengingatkan sesuatu.
"Aku belum bayar!"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Saya membawa Yoongi ke apartemen. Begitu sampai, dia langsung saya rebahkan, begitu pula dengan saya yang menyerahkan diri pada tempat tidur. Punggung saya sakit. Menggendong Yoongi sambil naik tangga sungguh menyulitkan. Dia cukup berat. Titian tangga saya naiki satu-satu dengan hati-hati, takut-takut saya hilang keseimbangan dan yang jatuh bukan hanya saya sendiri, melainkan Yoongi juga. Lelah sekali. Jam dinding di kamar menunjukkan pukul satu lewat duapuluh. Untung besok libur. Saya tak perlu memikirkan jam pelajaran sama sekali. Tidak perlu memikirkan apa-apa termasuk membersihkan diri. Rasanya sudah kepalang malas untuk mandi dan berganti baju. Akhirnya saya hanya melamun di atas kasur. Yoongi yang tadinya saya kira sedang pulas tidur, nyatanya sedang menatap saya dengan matanya yang setengah terbuka.
"Tidak tidur?"
"Jimin, aku ingin tanya. Seberapa besar kau mencintaiku?"
"Hah?"
"Kau betul-betul mencintaiku, tidak?"
"Y-ya tentu."
"Sebesar apa?"
"Gunung?" jawab saya tak yakin. Tentulah, sebab siapa yang bisa mengukur cinta? Saya tidak tahu perasaan saya kalau diumpamakan benda akan jadi apa. Maka dari itu, sewaktu ditanya sebesar apa, saya terpikirkan gunung.
Yoongi terkikik. Lalu mencebik. "Kukira akan sebesar dunia. Ternyata kau tak betul-betul mencintaiku, ya?"
"A-aku cinta kamu, kok!"
"Katakan yang jujur..."
"Aku jujur!"
Yoongi mendekat dan sandarkan kepala di dada saya. "Kalau kau mencintaiku, aku ingin kau nikahi aku, Jimin-ie..."
Apa? Saya harus jawab apaa?
"Uuh, kau tidak mau, ya?" Yoongi bangun dan duduk. Tangannya masih ada di atas dada saya. Dia menatap sambil merengut. Lipatan dahinya tebal, alisnya terkumpul di tengah. Saya tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Tanpa bisa saya cegah, tiba-tiba dia buka kancing bajunya!
"K-kau mau apa?"
"Panas. Pinjam kaos. Yang tipis. Ada tidak?"
"He?"
"Pinjam kaos..."
Saya tarik napas dalam-dalam dan menahannya sembari mengulas senyum lebar. Baik. Tadi sempat saya panik karena mengira Yoongi mendadak ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan di atas kasur bersama saya. Nyatanya dia hanya ingin ganti baju.
"Ada, kuambilkan."
Dengan malas saya bangun, turun dari kasur dan berjalan sedikit ke lemari untuk mencari baju. Isi lemari saya kebanyakan adalah setelan baju olahraga. Kaos. Yang santai-santai. Kemeja dan celana katun hanya beberapa. Saya pikir saya tak memerlukan pakaian rapi, toh saya bekerja sebagai guru olahraga. Untuk Yoongi, saya pilihkan kaos yang agak kecil. Badannya memang hampir sama dengan saya, tapi mungkin karena komposisinya beda, dia lebih kecil sedikit. Setelah memilah, akhirnya saya dapatkan sepotong kaos hitam (yang sebetulnya tidak terlalu saya sukai karena kerahnya lebar dan rendah, tapi mungkin ini akan bagus dikenakan Yoongi). "Mau ganti celana juga?"
"Mau."
Saya ambil cenala training.
"Nyamannya," kata Yoongi selesai berganti baju. Saya memang dapat tontonan gratis ketika dia menanggalkan kemeja dan celana katunnya, lalu memakai kaos juga celana training yang saya pinjamkan. Tapi pemandangan indah ini tak saya dapat dari depan, sebab dia memunggungi saya. Yoongi berganti baju sambil duduk di tepian kasur. Dari tempat saya berdiri, saya hanya bisa lihat punggung dan lekuk pinggangnya. Astaga, kulitnya benar-benar mulus. Dia merebahkan dirinya lagi, mengendusi bantal saya, menekuk kakinya dan meringkuk seperti kucing.
"Kau mau langsung tidur?"
Yoongi tidak menjawab. Matanya tertutup. Ini seperti satu kesempatan untuk saya—kalian, jangan kutuk diri ini jika saya terpikirkan macam-macam hal. Dia pacar saya, jadi saya sebetulnya punya hak untuk—oh tidak. Bisikan Kim-ssaem benar-benar merasuk.
"Yoongi, bisa kau geser sedikit? Aku tidak kebagian tempat untuk tidur," pinta saya. Dia bukannya menggeser, malah membuka tangannya seolah-olah mengajak saya bersempit-sempit menggulung diri dalam pelukannya.
"Ayo tidur."
Ya, saya menurut. Meski ketika berbaring kaki saya bahkan tak bisa ditekuk. Mungkin ada satu menit saya seperti itu. Kemudian saya sadar kalau saya begitu bodoh, kenapa malah memilih tempat sempit sementara di sisi satunya benar-benar cukup untuk saya tidur gaya bebas? Saya pun turun dan mengitari kasur karena tak mau mengusik tidur damainya. Lalu saya isi bagian yang masih luas itu. Sekarang dia memunggungi saya jadinya, tapi tak mengapa karena dengan begini saya bisa memeluknya dari belakang.
"Yoongi?"
Dia benar-benar tidur. Lehernya yang putih tertangkap oleh ekor mata saya. Entah niat apa, saya cium ceruknya. Saya diam agak lama untuk menunggu reaksinya. Ternyata dia tak terusik sama sekali. Iseng, saya cium lagi bagian itu sampai saya ketagihan dan lama-lama saya gigit dengan gemas.
"Ah, sakit."
Saya kaget mendengar suaranya. Langsung saja saya berhenti menggigit dan melepaskan bibir saya dari ceruk lehernya. Saya menelan ludah dan menjilat bibir yang basah.
"M-maafkan aku, Yoongi."
"Tidur..."
"Iya."
Saya tidak tahu apa dia masih sadar atau tidak. Dia menyuruh saya tidur, hanya saja sewaktu saya perhatikan, matanya terpejam rapat dan wajahnya seperti orang yang benar-benar sudah berlayar di alam mimpi. Mungkin yang tadi hanya racauannya saja, tapi entah juga. Akhirnya habis ditegur saya pun memutuskan untuk turuti Yoongi.
Drrrt, drrrt, drrrt.
Setelah memejamkan mata saya belum benar-benar bisa tidur. Telinga saya masih bisa mendengar bunyi getaran yang terus-menerus. Saya bangun untuk ambil ponsel di saku jaket, tidak ada getaran sama sekali. Tidak ada panggilan atau apapun. Saya tebak itu dari ponselnya Yoongi. Benar saja, sewaktu saya jongkok di lantai dan membuka tasnya, ponsel itu menyala, masih bergetar. Ada satu panggilan masuk dari kakaknya. Yang bodoh, begitu saja saya tekan logo hijau untuk mengangkat telepon.
"Seoltang kenapa kau belum pulang juga, ini sudah jam berapaaaa?"
Begitu ponsel menempel di telinga, saya disambut semburan. Dengan kikuk saya menjawab, "Anu, Yoongi sudah tidur, ini Jimin yang angkat."
"Jimin? Pacarnya Yoongi?"
"I-iya." Saya mengangguk, padahal dia tak lihat saya.
"Di mana kalian sekarang?"
"Di apartemen saya."
"Kenapa tak kau bawa dia pulang ke rumah? Aku menunggu sampai tak bisa tidur!" bentaknya. Dia sepertinya kesal sekali.
"Anu, itu... ah..." Saya harus berpikir cepat untuk mencari jawaban. Rasanya kakak Yoongi tak akan percaya kalau saya bilang adiknya sendiri yang minta dibawa ke apartemen saya. Kalau saya bilang begitu, saya akan dituduh yang tidak-tidak. "Kebetulan tempat kami minum dekat dengan apartemen saya, jadi saya bawa saja Yoongi ke sini. Kasihan, dia sudah lelah, Hyung."
Dia diam agak lama. Saya hanya menunggu. "Kau tidak melakukan apa-apa padanya, kan?"
"T-tidak...," kata saya. Sekilas saya lirik Yoongi yang rubah posisi jadi melintang di atas kasur. Tadi saya sudah mengigit lehernya dan bukanlah itu apa-apa? Tiba-tiba saya merasa bersalah.
"Akan kucekik lehermu kalau kau macam-macam pada adikku."
"T-tidak, saya tidak macam-macam." Saya bohong lagi supaya lebih meyakinkan.
"Ya sudah. Bagus kalau begitu. Ngomong-ngomong, apa hubungan kalian ini sudah serius?"
"Eh?"
"Sudah serius?"
Kakak Yoongi menanyakan hal yang tak saya duga. Saya pikir karena saya mencintai Yoongi, jadi hubungan ini sudah serius. Tanpa banyak cari pengalihan, saya langsung jawab begini. "Iya, s-serius."
"Kalau sudah serius akan kukatakan pada Ayah. Yoongi sebelumnya tidak pernah benar-benar jelas berhubungan dengan orang lain. Dia takut ditinggal. Kau tidak akan meninggalkannya, kan?"
"Sungguh, saya tidak pernah punya niat seperti itu. Yoongi mau pada saya saja sudah syukur, bagaimana saya bisa meninggalkannya?"
"Baguslah. Yoongi itu barang mahal, kesayangan Ayah. Dia mau padamu memang sudah sepatutnya kau syukuri."
"Iya..." Saya memang hanyalah seorang guru olahraga. Orang biasa. Mendapatkan Yoongi yang seperti makhluk khayangan itu memang bukan hal yang mudah. Kakak Yoongi setuju dengan saya tentang betapa patutnya hal ini disyukuri. Tapi kata-katanya yang sinis seperti menyindir. Sedikit saya sedih. Rupanya saya memang orang biasa di matanya.
"Kapan-kapan datanglah ke Daegu. Ayah dan Ibu pasti ingin mengenal siapa kau, orang yang katanya berhubungan serius dengan Yoongi." Dia mengundang saya ke Daegu?
Ini seperti... permintaan untuk membuktikan keseriusan saya dan Yoongi. Aduh, saya jadi deg-degan. "Iya, kapan-kapan saya akan datang, Hyung. Terimakasih."
"Bicaramu formal sekali."
"Kebiasaan, dengan teman-teman kantor saya begini."
"Hahahah!" Dia terbahak. "Tidak usah formal-formal, itu menggelikan."
"Baik, aku tidak akan formal-formal kalau begitu..."
"Kau benar-benar menggelikan! Hihihihi!"
Kemudian dia mengoceh tentang betapa teganya Yoongi membiarkan dia sendirian di rumah. Seorang tamu harusnya diperlakukan dengan baik, begitu katanya. Saya tidak tahu apa yang buat Yoongi enggan untuk pulang. Saya rasa dia tidak begitu cocok dengan kakaknya ini. Entah karena dia tak mau telalu dijaga atau apa. Kakak Yoongi menutup teleponnya ketika dia sadar kalau ramen-nya sudah terlalu lama direbus. Siapa juga yang menyuruhnya bertelepon saat sedang memasak?
Sudah dapat dipastikan Yoongi tidak mendengar percakapan kami. Dia benar-benar nyenyak tidur. Tidak ada spasi untuk saya karena posisinya yang melintang itu. Dengan hati-hati saya angkat dia dan membenarkan posisinya. Dia tidur di salah satu sisi kasur, dan saya dapat tempat untuk tidur kemudian. Merasa sudah aman terkendali, saya tarik selimut untuk tutupi tubuh kami. Dibilang malam, sudah pagi. Semakin pagi akan semakin dingin. Yoongi tidak boleh masuk angin...
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Jam tujuh pagi saya antar dia pulang. Yoongi masih mengantuk bahkan ketika di jalan. Dia menempel terus di punggung saya tanpa mau lepas. Sewaktu gosok gigi saja dia tak sadar. Malah saya yang arahkan tangannya untuk memegang sikat gigi. Cuci mukapun, matanya tak terbuka.
"Semalam aku tak berbuat aneh-aneh, kan?" tanyanya di depan pintu. Kami tidak bisa masuk karena pintunya dikunci. Jadilah bel ditekan supaya kakak Yoongi yang di dalam rumah bisa mendengar.
"Kau mabuk dan kau tidur. Itu saja," jawab saya.
"Syukurlah." Dia mengelus dada dan tersenyum lega. Benar kata orang, yang mabuk itu tak akan ingat apa-apa ketika sadar. Coba kalau semalam saya melakukan hal yang lebih dari sekadar tidur di sampingnya, mungkin dia juga tak akan tahu.
"Tapi," Saya baru ingat satu hal yang keluar dari bibirnya ketika dia meracau. "katamu, jika aku mencintaimu, aku harus menikahimu, Yoongi."
"Aku bilang begitu?!" Dia terkejut bukan main. Tangannya sampai menutupi mulut. Matanya melebar. "Astaga. Benarkah?"
"Iya." Saya mengangguk. Memang benar begitu yang dia katakan, tidak saya tambah-tambahi.
Yoongi menepuk-nepuk pipinya yang dengan cepat memerah lucu. "Bagaimana ini? Aku jadi malu."
Saya juga jadi malu, tahu.
Tak lama, pintu dibuka. Kakak Yoongi muncul.
"Pagi, Hyung," kata saya.
"Masuk." Kakaknya tak bicara banyak untuk sambut kami di rumah. Saya pikir dia akan bersikap ramah pada saya, nyatanya dingin-dingin saja. Meski begitu, dia suguhi kopi untuk saya. Yoongi tawari saya untuk sarapan kemudian. Saya turuti saja, tak enak juga kalau menolak dan langsung pulang. Saya tak mau disangka hindari kakaknya.
Saya di meja makan. Adik-kakak itu berdiri berdampingan mengupas buah-buahan di konter dapur. Karena ternyata mereka akur-akur saja, saya minum kopi dengan santai sambil memandang ke arah pintu dapur yang langsung terhubung dengan halaman belakang. Rumah Taehyung pun terlihat dari sini. Sekilas saya ingat rupa anak itu dengan gaun yang dipakainya kemarin. Kemudian saya lihat Yoongi melepas mantelnya. Tak sangka, kakak Yoongi berteriak tiba-tiba. "Astaga Yoongi, ini apa? Kenapa ada biru-biru di lehermu?!"
Kopi yang saya minum langsung tersembur. Sebagian keluar lewat hidung. Saya terbatuk-batuk. Di meja ada sekotak tisu dan langsung saya sambar selembar. Ini gawat!
"A-apa? Mana?" Yoongi pun terlihat kaget karena dia tak sadar kalau itu ada. Ia meraba-raba lehernya dengan panik. Kemudian dia membuang mantelnya dan lari kecil ke kamar mandi hanya untuk berkaca. Dalam sekejap dia kembali dengan kepanikan yang lebih kentara. "Ya ampuuuun!"
"Jangan pura-pura terkejut! Apa yang sudah kau lakukan dengannya semalam? Cepat mengaku!" bentak kakaknya kasar.
"Jimiiinn!" Yoongi berlari pada saya dengan dua tangan yang menutupi muka. Kakaknya mengejar.
"MANA PACARMU?!" Lelaki tinggi besar itu mendorong Yoongi yang mau memeluk saya. Dengan takut saya hendak menghindar dan kabur, tapi dia menangkap saya. Lengannya yang besar itu memeluk saya dari belakang dengan amat kencang. Satu tangannya yang lain mengepal di sisi kepala saya. Dia memoles keras-keras. "Kalau Yoongi tidak mau mengaku, kau yang mengaku!"
"A-aku tidak melakukan apa-apa, sungguh!"
"Bohong kau! Lalu apa itu di lehernya?! Apa yang bisa meninggalkan bekas gigitan seperti itu? Nyamuk? Pasti kau, kan? Ayo mengaku!"
Karena sudah tidak bisa mengelak lagi, akhirnya saya mengaku. "A-aku, aku khilaf..."
"KHILAFNYA SAMPAI MANA LAGI?!" bentaknya lebih keras.
"Tidak sampai mana-mana, Hyung! Sumpah!"
"Jangan sumpah-sumpah, mengaku saja! Kau ini lelaki, bukan?!"
Yoongi mencoba memisahkan kami. Dia seperti mau menangis. "Hyung, kumohon jangan sakiti dia! Kalau dia mati siapa yang akan menikahikuuu?"
"KALAU BEGITU KALIAN HARUS KE DAEGU DAN BICARAKAN PERNIKAHAN INI PADA AYAH TANGGAL MERAH SABTU DEPAN!"
Tok, tok.
"Permisi—"
Kami bertiga melihat seseorang di pintu. Dia membawa sebaskom kerang di tangannya. Lalu saya sadar kalau itu Taehyung. Anak itu diam di ambang pintu dengan wajah bingung yang benar-benar.
"Eh? Eh? Sebentar. Siapa yang mau menikah? Min-ssaem mau menikah sabtu depan?"
Taehyung, tolong jangan menambah keruh suasana. Jangan membuat kekacauan ini lebih lagi. Kalau boleh, saya ingin pingsan saja!
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
