"Jungkook, tadinya kukira Min-ssaem dan Park-ssaem akan menikah sabtu depan, ternyata tidak."

"Mereka tidak akan menikah?"

"Maksudku mereka tidak menikah sabtu depan, Kook. Entah kapan. Waktu itu Min-ssaem tidak bicara apa-apa, sih. Habis kerangnya dia ambil, aku disuruh pulang."

"Jangan bergosip tentang guru kalian, dasar tidak sopan."

"Park-ssaem?!"

Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Kakak Yoongi sudah kembali ke Kampung halaman. Liburannya yang singkat di Seoul sudah berakhir. Dia sempat-sempatnya ingatkan saya untuk datang ke Daegu sabtu depan. Saya tidak tahu apakah dia benar-benar sudah katakan tentang masalah ini pada ayahnya atau belum. Yang saya cemaskan, laporan itu sampai bahkan sebelum dia pulang, dan orangtua Yoongi di Daegu benar menunggu saya untuk menghadap. Jujur saja, saya tak siap lahir batin untuk bicarakan pernikahan pada mereka. Saya belum siap menikah! Bukannya tak mau, tapi saya memikirkan banyak hal. Ya, pernikahan adalah banyak hal yang jadi satu. Butuh persiapan macam-macam dan harus matang. Tak boleh ada salah-salah. Pada Ibu saya sendiri pun, saya belum katakan kalau sekarang saya punya pacar baru. Lalu bagaimana saya bisa temui orangtua Yoongi untuk bahas pernikahan?

Saya dan Yoongi dilanda kebingungan selama beberapa hari. Saya banyak berpikir, dan saya lihat dia pun sama. Dia sering hampiri saya tiba-tiba tanpa bicara apa-apa. Seperti butuh tempat bersandar tapi tak jelas keluh-kesahnya apa. Saya pusing. Anak-anak murid saya malah menambah pusing karena mereka gosipkan kami.

"Jadi begitu? Park-ssaem dan Min-ssaem diminta ke Daegu untuk bicarakan pernikahan?"

Tapi, ujung-ujungnya saya bercerita juga pada mereka (minus penyebab kekacauannya, bahaya kalau mereka tahu tentang leher Yoongi yang berbercak biru karena gigitan saya). Jungkook lebih cepat paham. Otaknya bekerja lebih baik ketimbang Taehyung.

Kami bertiga duduk di tangga menghadap matahari yang hampir tenggelam. Anak-anak ini tak langsung pulang ke rumah setelah pelajaran selesai. Jungkook berujar. "Menurut saya, Park-ssaem maju terus saja. Bukankah dengan begini bapak bisa cepat menikah dengan Min-ssaem tanpa perlu lewati jalan yang panjang dan berliku? Bapak cinta Min-ssaem, kan? Kalau Park-ssaem cinta, nikahilah dia."

"Kook, kenapa kata-katamu mirip dengan kata-kata Yoongi?"

"Yang mana?"

Saya ingat Yoongi mengatakan ini sewaktu dia mabuk. Kemudian ketika berdebat waktu itu, secara tidak langsung juga di depan kakaknya dia katakan kalau dia ingin saya nikahi. "Kalau saya cinta dia, saya harus menikahinya."

"Min-ssaem bilang begitu?!" Jungkook menutup mulut dengan tangan. "Membayangkannya saya jadi malu, Pak!" Reaksinya persis dengan Yoongi waktu itu.

"Park-ssaem takut pada orangtuanya Min-ssaem?" Taehyung bertanya sambil mengunyah permen jelly bentuk dinosaurus. Saya jadi kesal sendiri karena dia tak sampai pada pokok permasalahannya.

"Ah, kalian memang tak akan mengerti. Belum saatnya. Kalian masih anak-anak. Sudahlah, tak usah memikirkan kami. Nanti kalian ikut pusing. Belajar saja yang rajin."

"Belajar yang rajin dan tahu-tahu mendapat undangan pernikahan Park-ssaem dan Min-ssaem, begitu?"

"Heh, Taehyung! Jangan menggoda saya! Anak nakal!" Saya jewer telinganya. Dia mengaduh sakit.

"Bapak melakukan kekerasan terhadap murid! Ini harus dilaporkan pada Komisi Perlindungan Anak!"

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya menunggu dengan gelisah di ruang guru. Matahari sudah tenggelam tapi Yoongi belum juga terlihat. Seharusnya dia sudah keluar kelas sejak satu jam yang lalu.

"Sudah mulai membuat soal untuk ujian tengah semester?" Kim-ssaem bertanya.

"Belum." Saya menggeleng malas. Kalau dia tak bicara, saya tak akan ingat kalau ada pekerjaan yang harus saya lakukan.

"Saya juga." Saya kira dia si rajin yang bicara untuk mengingatkan orang. Ternyata, dia pun sama lalainya seperti saya.

Dua tangan saya menopang dagu. "Aneh memang, untuk apa pelajaran olahraga ada ujian tulisnya? Anak-anak itu mana hapal berapa kali berapa luas lapangan voli? Lebar gawang. Apalagi anak perempuan, mana tahu nama atlit bola legendaris? Mereka olahraga ya olahraga saja. Main voli, main bola, ya main saja, yang penting menang, aman. Hitung-hitungan di lapangan, teori dan sejarah tidak pernah dipedulikan. Saya yakin kalau nilai mereka tak akan bagus-bagus amat seperti pada ujian-ujian sebelumnya."

"Kasihan. Jadi kalau nilai mereka buruk itu salah siapa?"

"Bukan salah saya," jawab saya ketus.

"Park-ssaem, ini." Kim-ssaem membawa dua buah cangkir. Aroma kopi begitu lembut masuk ke hidung. Lalu dia berikan satu cangkir untuk saya. Saya pikir dia sangat baik karena mau membuatkan saya kopi. Ternyata saat dilihat isinya, punya saya warnanya bukan hitam melainkan putih. Saya cium baunya, bau susu. Sialan memang, dia mengerjai saya. Dia pikir saya anak-anak yang butuh susu di kala suntuk!

"Park-ssaem, apa bahasa inggrisnya terimakasih?"

"Thank you..."

"You are welcome!"

Sungguh menyebalkan. Saya seruput susu hangat buatannya sambil mengumpat dalam hati. Dia kembali ke mejanya dan saat itu di ruang guru hanya ada kami berdua.

"Oh! Min-ssaem! Ngajarnya sudah selesai?" seru Kim-ssaem.

Saya lihat kekasih saya masuk ke ruangan. Dia menghempaskan diri di kursinya. Lalu saya tanya dia, "Yoon, kenapa lama?"

"Habis konseling. Ada anak yang tak mau ketika kusuruh main piano. Padahal dia pemain piano terbaik di kelasnya. Selesai mengajar, dia hampiri aku dan bercerita. Ternyata dia bertengkar dengan ibunya karena tak ingin dipaksa les piano. Dia tidak mau jadi pemain piano, maunya jadi pemain bisbol," katanya panjang lebar.

Saya duduk tegak untuk lihat dia yang terhalang sekat. Ternyata wajahnya pucat. Buru-buru saya hampiri dia. Lalu saya bersimpuh di hadapannya. Punggung tangannya saya elus-elus. Yoongi terlihat mengkhawatirkan, saya jadi takut.

"Kau sakit?"

"Pusing. Perutku juga rasanya diaduk-aduk. Mual sekali."

Saya elus-elus perutnya. "Apa kau salah makan?"

Yoongi menggelengkan kepala. Dia melenguh sakit. "Jimin-ie, aku ingin ramen." Tiba-tiba dia bilang begitu. "Ramen..."

"Kau lapar ya? Pasti karena lapar kau jadi pusing dan mual begini. Kenapa kau tahan kalau lapar? Padahal bawa saja biskuit ke kelas supaya bisa kau makan sambil—"

"Sst!" Yoongi tepuk-tepuk bibir saya dengan risih. Jelas saya bingung ada apa. Biasanya dia tak pernah menyela tiap kali saya bicara. Kali ini dia bahkan nampak tak suka mendengar suara saya. Tapi ketika dia bicara dengan Kim-ssaem, nadanya melembut. "Kim-ssaem, punya ramen tidak?"

"Ada. Selalu ada persediaan ramen di laci saya."

"Boleh saya minta satu?" pintanya manja. Saya heran.

"Tentu!" Kim-ssaem berjalan ke mejanya, masih sambil memegang gelas kopi. Ketika menunduk untuk membuka laci, kacamatanya turun sedikit dan dia benarkan. Kemudian dia tinggalkan kopinya untuk menyeduh ramen instan itu. Dia bawakan pada Yoongi ramen yang hanya tinggal menunggu tiga menit sampai matang. Tutupnya dijepit mainan kecil berbentuk kucing yang menggantung di tepian. Lucu. Tapi saya masih khawatir pada kekasih saya.

"Hah... masih harus menunggu," ucapnya tak sabaran. Kalau bisa saya buat ramen itu matang seketika, saya akan buat! Tak tega rasanya melihat dia merengut selama tiga menit.

"A-yo ladies and gentleman... Junbiga dwaessdaamyeon bureulge..."

"Sebentar, Yoongi. Ponselku berbunyi." Saya mengitari meja untuk ambil ponsel. Sewaktu dilihat nomornya, tidak dikenal. Saya angkat saja, siapa tahu dari orang penting. "Halo?"

"Halo. Siang. Apa benar ini nomornya Park Jimin?" Di seberang ada suara lelaki.

"I-iya, maaf siapa ini?"

"Ayahnya Yoongi."

Langsung saja saya jauhkan ponsel itu dari telinga. Saya segera lari pada Yoongi dan menunjukkan layar ponsel saya padanya. Dia hanya diam angkat sebelah alis. Setelah saya bisikkan kalau itu ayahnya, dia nampak terkejut.

"Darimana ayahmu dapat nomor ponselkuuu?" saya jauhkan ponsel itu, sengaja agar tak terdengar apapun dari sana.

"Aku yang berikan. Ayah minta."

Saya menutup mata pasrah. Akhirnya saya loud speaker supaya Yoongi bisa mendengar juga.

"Halo?"

"I-iya, Pak. Saya di sini."

"Sabtu datang ke Daegu ya? Dengan Yoongi. Mari kita mengobrol sambil bakar jagung."

"Ah i-iya, bakar jagung ya Pak."

"Atau mau bakar ubi?"

"Apa saja, Pak. Saya suka dua-duanya, kok."

"Yoongi sedang bersamamu?"

"Dia sedang makan ramen di depan saya, Pak."

"Ambil ramen-nya. Dia punya penyakit lambung, tidak baik makan makanan instan seperti itu."

Dengan reflek saya menurut, tangan saya terjulur untuk ambil kap ramen yang Yoongi pegang. Tapi buru-buru dia hempaskan. Yoongi mengaduk-aduk ramen-nya dan langsung makan. Ditiupnya sebentar saja, seperti tak takut lidahnya terbakar. Entah karena dia begitu lapar, atau memang dia tahan panas.

"Sudah dulu ya? Pokoknya sabtu saya tunggu."

"Iya, pak, terimakasih."

Telepon ditutup. Perhatian saya kembali pada Yoongi. Saya kira dia akan berwajah puas ketika mengunyah mie itu, tapi dia malah mengernyit, bahkan sampai mienya ditelan dia masih begitu. Dia seruput kuah ramen. Kernyitan itu tambah jelas.

"Tidak enak?" tanya saya.

"Jimin, aku ingin muntah. Ubh." Yoongi tiba-tiba menutup mulutnya menahan mual.

"Eh apa? Ayo kita ke toilet!"

"Aku tidak tahan. Hoek!"

"Tungguuu!"

"Hueeek!"

Tanpa bisa dihindari, dia muntah di baju saya...

"Min-ssaem kenapa?!" Kim-ssaem berlari kecil hampiri kami. Saat itu keadaan saya sudah sangat mengenaskan. Muntahan Yoongi terasa panas, merembes dari jaket ke kaos yang saya kenakan.

"Ueek!"

"Nghh..." saya tahan napas. Meski begitu bau menyengat dari ramen bercampur asam tetap tercium di hidung. Kim-ssaem ambil tisu bantu Yoongi untuk bersihkan mulut dan dagunya. Yoongi masih mual, ingin muntah lagi.

"Tahan sedikiit!" teriak Kim-ssaem. Meninggalkan saya yang masih syok dimuntahi, Yoongi dibawa ke toilet.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

"Jadi, Park-ssaem, katakan pada saya, sudah sejauh mana hubungan Anda dengan Min-ssaem?"

Saya ganti baju. Jaket dan kaos saya dicuci seadanya, lalu dimasukkan ke dalam keresek untuk saya bawa pulang. Ketika mengenakan hoodie yang dipinjamkan Kim-ssaem, saya ditanya. Tapi ini seperti interogasi. Kim-ssaem sangat serius wajahnya. Bahkan kacamata itu tidak dapat menyembunyikan tajam matanya.

"Ayo Park-ssaem, katakan."

"Belum sampai mana-mana, Kim-ssaem. Kenapa Anda bertanya seperti itu?"

"Saya curiga kalau hubungan kalian sudah jauh, tapi sengaja ditutup-tutupi seperti tak terjadi apa-apa."

"Maksud Anda ini bagaimana?"

"Saya yakin ramen yang saya beri itu tidak bermasalah, karena itu merek favorit saya dan saya juga memakannya hampir tiap hari. Ini pasti karena—" dia mendekat dan berbisik. "Min-ssaem hamil?"

Saya langsung menjauhkan kepala saya darinya.

Dia tersenyum ganjil. "Kapan kalian melakukan itu? Kenapa tak bilang-bilang?"

"ANDA INI BICARA APAA?"

"Aduuh! Kenapa saya ditendang!"

Saya tendang tulang keringnya biar dia tahu rasa. Seenaknya saja bicara. Mana mungkin Yoongi hamil? Melakukan itu pun kami tidak pernah. Tapi kalau tidur bersama sering.

Ketika saya sedang memberi pelajaran pada Kim-ssaem, masuklah Jung-ssaem ke ruang guru. Saya tak tahu kenapa manusia ini belum pulang. "Kalian ini kenapa? Bertengkar menjelang malam," komentarnya.

Dengan semangat Kim-ssaem mendekati lelaki itu meski langkahnya tertatih. "Jung-ssaem, kemari. Min-ssaem mual-mual. Kupikir itu karena orang ini." Dia menunjuk saya.

"Hah?! Dia sakit? Sekarang di mana dia?"

"Di ruang kesehatan."

"Saya mau melihat keadaannya!" Tanpa basa-basi Jung-ssaem menaruh bukunya di meja dan langsung berbalik hendak pergi. Tapi saat itu juga tangannya ditarik oleh Kim-ssaem dan dia ditahan agar tak kemana-mana.

"Eh tunggu, Anda tidak terpikirkan hal lain, selain sakit? Saya sudah beri klu, lho."

"Apa?" tanyanya yang panik.

"Min-ssaem mual-mual pasti karena orang ini."

"Maksudnya?"

"Aduh, masa' Anda tidak mengerti? Kemari biar saya bisikkan. Psst..."

"YANG BENAR SAJA?!" teriak Jung-ssaem keras. "Yoongi jangan dulu hamil, aku masih mau mengejarmuuuu!"

Dia berlari tinggalkan ruang guru. Saya sengaja menjatuhkan diri ke lantai dan telentang berebahan. "AARRGHHH!"

Saya betul-betul geram karena keadaan tambah runyam.

Yoongi terbaring lemah di kasur tipis ruang kesehatan. Pintu ditutup dan Jin-ssaem berdiri menjegal kami. Tidak ada satupun yang diizinkan masuk, bahkan saya yang kekasih Yoongi sekalipun. Jin-ssaem jadi galak begini karena Jung-ssaem yang panik datangi dia untuk menanyakan keadaan Yoongi dan memastikan perkataan Kim-ssaem. Saya tahu masalahnya bukan seperti yang mereka pikirkan, dan Jin-ssaem pastilah sama tahunya. Dia dokter yang memeriksa Yoongi. Kepastian informasi ada padanya juga. Lagipula, begitu konyol mereka berdua yang dengan mudahnya beranggapan seperti itu.

"Ini karena asam lambungnya naik, bukan karena dia hamil! Dasar kalian ini kurang ilmu. Seharusnya kalian tahu kalau kumat asam lambung itu gejalanya hampir mirip seperti orang hamil, sama-sama merasakan yang namanya perut mual dan ingin muntah. Sebelum berspekulasi macam-macam, pastikan dulu kebenarannya. Paham?" terang Jin-ssaem, seperti guru yang sedang ceramah di kelas. Kalau dia kesal, bicaranya panjang lebar dan cepat seperti kereta.

Kami bertiga saling melirik. Tapi terakhir saya yang dilirik oleh Kim-ssaem dan Jung-ssaem secara bersamaan.

"Anda tak pernah melakukan itu dengannya atau pernah tapi belum jadi anak?" bisik Kim-ssaem. "Aah! Sakit!"

Saya menendang tulang keringnya lagi. "Jangan urusi saya! Pertanyaan Anda itu melanggar privasi, tahu! Kalau sudah ketahuan penyebabnya karena asam lambung, ya sudah!"

"Sekarang apa kami boleh melihat keadaan Min-ssaem?" tanya Jung-ssaem.

"Boleh. Tapi jangan macam-macam. Jangan berisik. Jangan bertengkar. Jangan menendang. Meski kurang ajar pun, itu pacar saya. Ya, Park-ssaem?"

"Iya..." Saya hanya bisa mengangguk. Jin-ssaem seperti seorang ibu tiri kalau sedang galak begini.

"Sekarang kalian boleh masuk. Awas saja kalau tak menurut!"

"Siap!" jawab kami kompak. Padahal tidak direncanakan sama sekali.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Setelah diberi obat Yoongi membaik. Dia mau diajak pulang oleh saya. Tadinya Kim-ssaem menawarkan tumpangan di mobilnya, tapi Yoongi menolak dengan alasan dia sudah tak apa-apa. Karena khawatir pada Yoongi yang rentan sakit, Jung-ssaem meminjamkan jaketnya. Sebetulnya saya agak cemburu melihat kekasih saya mengenakan pakaian orang lain, tapi apa boleh buat. Saya sendiri tak bisa meminjamkan hoodie yang saya pakai ini. Kalau dipinjamkan, saya telanjang dada. Mengendarai motor telanjang dada, sungguh tidak waras sama sekali.

Di rumahnya, dia bicara begini sambil menahan tawa. "Ini sangat lucu. Aku hamil? Kenapa mereka berpikiran seperti itu?"

"Entah, mungkin karena mereka bodoh." Saya telah katakan padanya apa yang terjadi ketika dia berada di ruang kesehatan. Reaksi Yoongi begitu manis seperti biasa. Dia hanya tertawa-tawa saja.

"Kita bahkan belum pernah..." Tapi tawanya itu berhenti ketika dia menatap saya. Saya tak tahu apa yang dia pikirkan, tapi saya kira itu sama dengan yang ada di kepala saya.

"Iya."

"Jimin, aku deg-degan, kenapa ya?"

"Tidak tahu, kau kenapa?"

Pelan-pelan dia memeluk. Wajahnya terkubur di dada saya. "Maaf ya aku memuntahimu."

"Tidak apa-apa, sudah kulupakan itu."

Kami saling memeluk. Saya pikir berpelukan adalah hal ternyaman yang bisa saya lakukan dengan Yoongi. Sedikit banyak dia seperti menularkan perasaannya lewat pelukan ini. Saya mencintainya dan kalau boleh saya yakini, dia juga mencintai saya.

"Yoongi, di luar sana orang bercinta tanpa beban. Bagiku bercinta itu berarti pertanggungjawaban. Kau tak bisa meniduri orang sembarangan. Bahkan dengan kekasih sekalipun. Jika kita sudah terbiasa melakukan itu, apa pentingnya menikah? Di mana sakralnya malam pertama? Sedang aku berpikir kalau aku bisa menjagamu sampai kita menikah nanti, malam pertama kita akan jadi sebuah hadiah yang luar biasa bagiku..."

Perlahan dia angkat kepalanya. Dia menatap saya lama, hanya sekali-dua kali berkedip. Matanya yang berbinar itu disertai alisnya yang naik. Lalu saya sadar kalau sudah mengatakan hal yang sangat memalukan.

"Eh tunggu. Aku ngomong apa ya barusan?"

Yoongi terkekeh. "Astaga." Dia tatap saya lagi dan matanya berkaca-kaca. "Aku terharu, sungguh. Kau benar-benar lelaki baik. Aku bersyukur punya kekasih sepertimu. Menikahlah denganku, Jimin!"

Kembali dia peluk saya. Kali ini amatlah erat. Saya membalasnya dengan rangkulan di pinggang. Di bahu saya Yoongi masih terkekeh-kekeh. "Apa yang barusan itu lamaran?"

"Kau mau anggap itu lamaran?" tanyanya polos.

Saya tentu tidak setuju. "Tidak mau. Aku yang akan melamarmu."

"Jadi nanti di Daegu kita akan benar-benar membicarakan tentang pernikahan pada orangtuaku?"

Tiba-tiba saya terpikirkan tentang uang yang selama ini saya simpan di bank dan sengaja tak pernah diusik untuk keperluan apapun. Kalau dihitung-hitung jumlahnya cukup banyak. Benar juga, uang itu bisa saya gunakan untuk biaya pernikahan. Salah satunya untuk lamaran. Membeli hadiah. Membeli cincin. Dan, kalau ditelusuri ke belakang, sejak saya berkencan dengannya, belum ada hadiah yang saya berikan untuk Yoongi. Jadi, jika saya lamar dia, berarti cincin adalah hadiah pertama saya untuknya!

Memikirkan ini saya jadi ingin tertawa sendiri. Bahagia rasanya.

Kepala Yoongi terkulai manja di bahu saya. Rambutnya saya elus-elus dengan sayang. Hanya saja, ketika saya sedang enak-enaknya membelai, dia melepaskan pelukan begitu saja. Wajahnya kaget, seperti baru teringat akan sesuatu.

"Kenapa?"

Seketika matanya membola. "ASTAGA! JEMURANKU!"

Yoongi seperti ibu-ibu, panik mengingat jemuran. Saya hanya tertawa sambil mengikutinya naik tangga ke atap. Yaah, mungkin begini ceritanya kalau kami sudah menikah nanti. Dia sibuk urusi jemuran dan saya yang ambilkan keranjang untuk tempatnya menaruh pakaian-pakaian kering itu.

"Min-ssaem!" Kami mendengar suara Taehyung. Begitu ditengok ke bawah, anak itu memanggil dari jendela kamarnya. "Baru angkat jemuran? Ada satu yang terbang ke halaman rumah saya!" katanya dengan sedikit keras.

"Apa yang terbang?" tanya Yoongi sama kerasnya.

Taehyung menghilang, dalam sekejap dia kembali ke jendela itu sambil melambai-lambaikan sesuatu berwarna hitam. "Celana dalam!"

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED

By the way, saya open PO untuk fanbook Dreaming (kolaborasi saya dan Tersugakan)! Orderlah dan kalian tydack akan menyesal sebab isinya kami tulis penuh cinta. Silakan cek status saya untuk lihat detil lengkapnya ya.

Daan... satu lagi, berhubung sebentar lagi tamat, kira-kira pada minat nggak ya kalo kisah Park-ssaem ini dijadikan fanbook? Tulis pendapat kalian di kolom komentar, oke!