"Halo?"

"Halo? Ada apa, Jimin-ie, telepon subuh-subuh begini?"

"Ibu."

"Ya?"

"Aku mau menikah."

Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Subuh, bangun tidur, saya menelepon Ibu. Dia terbatuk-batuk waktu saya bilang mau menikah. Katanya sedang minum. Gara-gara kaget airnya salah masuk ke tenggorokan. Kami bicara lagi setelah ibu saya hilang beberapa saat.

"Sebelumnya Ibu selalu tahu kalau kamu sedang pacaran karena apa-apa kamu selalu katakan pada Ibu. Tapi yang ini kamu tidak pernah cerita, hem? Baru? Tapi kenapa sudah yakin mau menikah? Apa kamu—"

"Ibu. Aku capek. Orang-orang juga katakan seperti yang mau Ibu katakan itu. Alasannya karena memang aku sudah mantap mau maju, bukan karena yang lain-lain, tidak terpaksa."

"Kamu cinta sekali ya pada pacarmu itu?"

"Ya, tentu. Eh." Saya sedikit menyesal sudah terlalu jujur. Ibu saya di sana tertawa terbahak-bahak. "Ibu!"

"Seperti apa wajah pacarmu, Ibu mau lihat?"

Ibu saya tiba-tiba memutus sambungan telepon. Tanpa perlu tanya kenapa saya sudah tahu kalau Ibu menunggu saya mengirimkan foto Yoongi lewat pesan singkat. Saya buka galeri, saya pilih salah satu—salah dua foto Yoongi yang ada di situ. Rasanya dada saya berdebar, bukan karena menanti jawaban Ibu, tapi karena wajah di foto itulah yang akan jadi istri saya.

Tak lama Ibu menelepon. "Jimin."

"Iya?"

"Dia seperti Jibang-ie."

"Iya, Bu."

"Lucu."

"Iya, lucu. Ibu suka?"

"Suka."

"Aku juga."

"Kalau kamu mau, nikahi saja. Tapi kapan kamu mau membawanya ke sini? Ibu juga ingin berkenalan dengan pacarmu. Eh, namanya siapa?"

"Yoongi, Min Yoongi. Aku mau pulang ke Busan tapi entah kapan. Sabtu sudah ada janji untuk ke rumah orangtuanya Yoongi, Bu..."

"Oh begitu? Ya sudah. Nanti pulang ke Busan setelah kamu temui orangtuanya. Jangan lupa oleh-olehnya ya? Ngomong-ngomong, rasanya baru kemarin Ibu pasangi kamu popok, sekarang kamu sudah mau menikah. Dulu kamu kalau mau poop diam-diam saja, tahu-tahu popokmu penuh."

"Eeeh. Ibu!"

"Sudah sarapan belum?"

"Ibu menanyakan sarapan setelah membicarakan tentang poop?"

Ibu saya baik, dia tidak pernah memaksakan kehendak, tidak pernah juga melarang saya untuk melakukan sesuatu, termasuk pada pilihan yang saya ambil. Asal saya yakin, Ibu mau terima. Tapi ya begini, kadang-kadang ibu saya agak mengganggu...

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Mungkin saya memang bukan orang yang romantis. Dulu, saya tak pernah benar-benar tahu apa yang diinginkan pasangan saya. Hadiah misalnya, ketimbang memilihkan untuk mereka dan kemudian diberikan sebagai kejutan, saya lebih seringnya membawa mereka untuk memilih sendiri barang yang diinginkannya. Malah terkadang, sayalah yang mendapat hadiah dari mereka. Misalnya saja seperti dibawakan bekal makanan atau dibuatkan kue. Sekarang, saya yang harus memberikan sesuatu untuk Yoongi. Sedikit banyak kalau melihat ke belakang saya jadi malu. Iya. Kami berkencan dan saya belum pernah memberikan apapun yang berkesan untuknya. Ini karena pikiran saya yang dangkal kemarin-kemarin. Orang kalau sudah saling mencintai, ya cukup. Tapi ternyata ketika melihat ke sisi lain, tak hanya cinta, tapi juga butuh sesuatu untuk membuat hubungan berjalan dinamis dan tak membosankan. Iya, hadiah, kejutan. Barang merupakan suatu pembuktian. Barang dapat disimpan atau digunakan. Barang itu kelihatan. Tidak seperti ucapan yang mungkin akan terlupa esok harinya.

Jadi, dengan otak yang diperas, saya pikirkan apa yang sebaiknya saya berikan untuknya. Dan lagi, ini untuk lamaran! Saya tidak bisa sembarangan. Salah-salah malah tak berkesan sama sekali. Kalau gagal total, bisa-bisa Yoongi membenci saya dan memutuskan hubungan ini. Ah, tidak. Pikiran negatif itu merusak. Saya tidak boleh sedikitpun memikirkan hal buruk. Pokoknya saya hanya harus yakin kalau rencana saya akan berjalan mulus dan saya akan mendapatkan hasil terbaik. Ya, itu.

"Sepertinya akan sangat romantis melamar di pantai," kata Kim-ssaem. Meski sudah berpikir keras, saya tetap tak dapat jawaban. Maka dari itu saya minta saran pada teman-teman saya. Kebetulan yang ada di jam ini hanya mereka. Jung-ssaem, ah, saya agak segan untuk bertanya padanya. Saya takut dia bersedih. Kemarin-kemarin saja dia bilang sendiri kalau masih ingin mengejar Yoongi. Meski saya tak suka itu, saya masih punya hati. Tak tega rasanya tiba-tiba katakan pada Jung-ssaem kalau saya akan melamar Yoongi dalam waktu dekat.

Kami duduk di ruang kesehatan. Saat itu sama sekali tak ada siswa yang sakit. Jin-ssaem bebas makan cemilannya. Dia memberi saya dan Kim-ssaem masing-masing sebungkus chocopie. Dokter sekolah itu menggigit chocopie-nya. Sebentar ujung lidahnya bersihkan cokelat-cokelat yang menyangkut di gigi. Dia bilang begini. "Joon, coba pikir. Park-ssaem ini mau melamar Min-ssaem sebelum hari sabtu. Mana ada waktu untuk pergi ke pantai? Tidak ada hari libur. Sampai jumat kita masih di sekolah. Kalian masih mengajar, bukan? Pulang sore. Sudah lelah, sampai sana bukannya beromantis ria nanti malah pingsan kecapekan."

"Benar juga."

"Kau jenius tapi kadang-kadang otakmu tak kau pakai untuk berpikir, ya!" cibir Jin-ssaem sambil mengetuk-ngetukkan dahi Kim-ssaem dengan ujung telunjuk.

Diperlakukan seperti itu, Kim-ssaem malah cengengesan bahagia. "Astaga, aku suka mulutmu. Dulu kau membuatku jatuh cinta ketika kau memarahiku seperti ini."

"Jadi kau suka kalau aku marah? Aku tak mau keriput dan darah tinggi kalau harus memarahimu terus. Kau mau aku cepat mati? Aku tidak mau mati lebih dulu darimu."

"Kau ingin aku yang mati duluan?"

"..." Jin-ssaem diam. Tatapannya sangatlah tajam. Tapi bukan pada Kim-ssaem, melainkan pada chocopie-nya yang berbentuk serupa bulan sabit.

Kim-ssaem menepuk pahanya. "Seokjin?"

"Jangan sentuh aku!"

"Jinseok-ah."

"Aay! Singkirkan tanganmu!"

Tangan Kim-ssaem digampar keras. Lalu dia mengadu pada saya. "Park-ssaem, dia tidak suka kalau saya bisa membalasnya," begitu dia bilang.

Saya yang dongkol. "Kalian. Cukup. Tak perlu bermesraan di depan saya. Tokoh utamanya saya, jadi tolong beri perhatian pada saya. Bisa kita kembali ke topik? Saya pikir kalian bisa membantu."

"Aam." Jin-ssaem menghabiskan sisa chocopie-nya sekali lahap. Pipinya yang menggembung saat mengunyah nampak menggemaskan. Dia seperti alpaca yang sedang memamahbiak. Sehabis menelan dia bicara. "Lamar dia di lapangan sekolah saja, Park-ssaem."

"Hah? Lapangan sekolah?"

"Sepertinya seru kalau Anda lamar Min-ssaem di jam olahraga. Anak-anak di lapangan akan soraki Anda berdua nanti."

"Ih, malu! Mana berani saya lakukan itu!"

"Tapi itu seru, Park-ssaem! Anda yang seleb sekolah ini makin nyeleb kalau Anda lakukan itu! Anda tidak mau terkenal, memangnya?"

"Tidak mau. Tidak perlu terkenal. Untuk apa? Saya bukan artis. Saya tidak suka juga disebut seleb. Yang saya tahu seleb itu belum tentu orang yang terkenalnya karena prestasi, bisa saja karena sensasi. Saya tidak mau kalau nantinya saya disebut sebagai guru olahraga tukang cari sensasi. Tidak. Tidak ada lamar-lamar di lapangan di depan murid," tolak saya.

Jin-ssaem berkedip-kedip melongo melihat saya. Waktu saya sadar, ternyata ini omongan terpanjang saya padanya. Apalagi kata-kata saya sepertinya terdengar menggurui Jin-ssaem.

"Jinseok, apa kau akan marah padanya karena dia bisa membalasmu?"

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Ternyata, bertanya pada Kim-ssaem dan Jin-ssaem tiada guna. Lalu, tidak mungkin juga saya bertanya pada Taehyung dan Jungkook. Mereka tahu apa? Mereka hanya bocah yang uang jajannya saja masih minta pada orangtua. Mau tanya pada guru-guru lain yang sudah menikah, saya malu. Mereka bahkan belum tahu saya sudah jadian dengan Min-ssaem. Ya begini, saya memang tak terlalu terbuka pada orang lain kecuali yang benar-benar dekat. Meski sudah lama saya mengajar di sekolah ini, tapi tak banyak guru yang betul-betul akrab dengan saya. Perbedaan usia membuat saya segan. Saya memang menjaga jarak untuk tetap menjaga hubungan profesional dengan mereka. Tapi lain dengan orang-orang semacam Kim couple dan Jung-ssaem, sih.

"Hei, Anda sedang apa? Tumben Anda ada di sini. Tak biasanya saya lihat Park-ssaem di perpustakaan. Janggal rasanya," ujar Jung-ssaem, ketika saya duduk di lantai perpustakaan siang-siang.

"Saya butuh pencerahan."

"Pencerahan apa? Semacam... wahyu Tuhan?"

Saya memandangnya dengan malas. Sedang stres begini diajak bercanda, jadi sebal. "Tidak, bukan. Mm, tapi iya, bisa jadi."

Jung-ssaem menyisir rak buku. Dia mengambil sebuah novel berjudul Norwegian Wood. Kertasnya sudah menguning, cetakan lama. Saya hanya diam saja sementara dia membuka-buka novel itu seperti hendak mencari sesuatu yang entah apa. Mungkin untuk bahan ajarnya, atau memang dia hanya iseng. Ah, bukan urusan saya juga. Tidak perlu terlalu peduli.

"Park-ssaem, saya lupa mau sombong pada Anda." Dia berjongkok, lalu setelah mengatakan itu dia duduk bersila di depan saya sambil memasang wajah berseri—tapi senyumnya ganjil.

"Apa?"

Bukunya dia tutup. "Tadi saya lewat di depan kelas 2-3, kelas PKK. Ada Min-ssaem di sana dan dia sedang di depan kelas sambil mengepal-ngepalkan nasi."

"Saya baru tahu dia merangkap jadi guru PKK." Iya, saya tak tahu ini. Yoongi tidak bilang apa-apa.

"Sepertinya dia hanya membantu. Lagipula gurunya ada kok."

"Lalu yang mau Anda sombongkan itu apa?"

Jung-ssaem terkekeh. "Dia melihat saya, tiba-tiba memanggil lalu menyuruh saya mencicipi nasi kepal jagung buatannya. Senang. Seperti dilayani seorang istri."

Saya diam agak lama. Lalu buang napas panjang. Maunya saya cemburu, tapi tidak. Ada hal penting yang sedang saya pikirkan jadinya perkataan Jun-ssaem tadi bukanlah apa-apa. "Jung-ssaem."

"Hm?"

"Saya mau melamarnya."

"Ooh..." Dia kembali membuka novel itu dengan santai. "APA? MELAMAR?!"

"Pssst! Berisik!" Saya bekap mulutnya dengan tangan. Saya tegur dia dengan bisikan kasar. Lalu cepat-cepat saya lirik kanan-kiri takut ada yang mendengar. "Jangan keras-keras! Anda mau bikin seisi perpustakaan ini ramai, hah?"

"Serius, Park-ssaem, Anda mau melamar Min-ssaem?"

"Iya."

"Bukankah kalian belum lama berpacaran? Kenapa buru-buru sekali? Jangan-jangan—oh astaga. Yang kemarin itu bukan asam lambung?"

Lagi-lagi, masalah itu. saya jadi capek mendengarnya. Padahal sudah jelas, tapi masih saja... Dengan gemas saya cubiti pipi Jung-ssaem. "Itu asam lambung, cintaku. Jangan menuduh sembarangan..."

"Eww! Lepaskan! Siapa yang Anda panggil Cinta!"

Akhirnya saya melepaskan dia. Jung-ssaem mengelus pipinya yang memerah bekas saya cubit. Wajahnya merana. Terkadang saya heran dengannya. Saya tak suka Jung-ssaem karena dia menyebalkan, tapi dia teman saya. Kami cukup dekat karena pertengkaran. "...ceritanya panjang. Saya tidak yakin Anda mau mendengarnya. Lagipula saya memang tak mau bercerita apa-apa pada Anda."

"Ya sudah tidak usah cerita. Saya juga tidak minta." Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana, kemudian memotret salah satu halaman dari novel itu. Semua orang tahu kalau alat komunikasi dilarang digunakan di perpustakaan, termasuk kameranya, apalagi untuk memotret konten yang ada dalam buku koleksi. Tapi guru ini memang tak patut dicontoh. "Lalu bagaimana rencana lamarannya?"

"Justru itu. Sampai sekarang saya masih bingung. Saya ingin melamarnya sebelum hari Sabtu karena kami harus pergi ke suatu tempat."

"Ke mana?"

"Rumah... orangtua Min-ssaem."

Jung-ssaem nampak terkejut. Mulutnya sedikit terbuka. "Ya Tuhan."

"Kenapa Anda kaget begitu?"

"Saya hanya tak sangka manusia satu ini bisa sebegini cepatnya mengambil langkah. Rasanya belum lama Min-ssaem datang ke sini tapi sekarang dia sudah mau Anda jadikan pasangan hidup. Astaga!"

"Anda tidak keberatan, bukan?"

"Tentu keberatan! Tapi sudahlah..." Jung-ssaem menjatuhkan kepalanya. Sungguh sedih.

"Katanya yang punya hati lapang itu pintu rejekinya akan dibuka lebar-lebar. Siapa tahu jodoh adalah salah satu dari rejeki yang akan keluar dari pintu itu, Jung-ssaem." Saya remat pundaknya untuk menyemangati. " Ngomong-ngomong Anda punya saran?"

"Beli cincin." Jari telunjuknya teracung.

"Di mana?"

"Saya punya rekomendasi. Ada satu toko di alun-alun kota, dekat restoran cepat saji. Dulu saya pernah membelikan kalung untuk kakak saya di sana. Perhiasannya bagus-bagus, sesuai dengan harganya."

"Anda memberikan perhiasan untuk kakak Anda?"

"Iya, romantis bukan? Dia ulangtahun dan saya belikan sebuah kalung yang liontinnya berbentuk bunga."

Iya, benar. Dia memang romantis. Dia ini guru sastra, tahu bagaimana caranya merangkai kata. Sudah begitu dia tahu bagaimana membuat orang lain senang. Kakaknya yang perempuan itu dibelikannya sebuah kalung sebagai hadiah ulangtahun. Lalu saya bayangkan ketika memberikannya, Jung-ssaem bicarakan hal-hal manis pada kakaknya. Sejak awal, kenapa tak saya coba tiru dirinya? Tapi—ng, yah. Saya ini munafik memang. Suka tak suka pada Jung-ssaem.

"Tapi saya tidak tahu di mana tokonya..."

"Bukankah sudah saya beritahu? Atau ini kode kalau Anda maunya diantar saya?"

Saya tersenyum, sedikit meringis. Jung-ssaem matanya tinggal segaris. Lalu pipi saya dicubit, dan saya balas cubit pipinya. Kami main cubit-cubitan.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Karena tidak mau meninmbulkan kecurigaan, sore itu saya antar Yoongi pulang ke rumahnya. Saya tidak mengatakan apa-apa tentang rencana saya dan lain sebagainya. Malam harinya saya jemput Jung-ssaem di stasiun. Dia mau mengantar saya membeli cincin. Kami naik motor berdua. Dia saya bonceng. Angin malam cukup dingin untuk ditantang. Untungnya saya pakai jaket tebal. Jung-ssaem juga. Tapi yang bikin saya sebal, dia duduk di belakang saya sambil memeluk erat. Pinggang ini, harusnya dipeluk oleh Yoongi seorang. Punggung ini pun, harusnya disandari oleh Yoongi. Tapi malah Jung-ssaem yang menempeli saya... . Malam-malam pergi berdua ke pusat kota, seperti sepasang kekasih yang hendak berkencan. Ini sangat menyebalkan.

"Park-ssaem, saya mau kopi dong!"

Jung-ssaem dengan seenak hati minta dibelikan kopi. Mudah saja baginya main tunjuk ini-itu. Isi dompet saya jadi korban. Meminta bantuannya memang perlu bayaran. Tapi kalau menolak, saya tak enak. Biarlah, hitung-hitung menyenangkan hatinya. Saya tahu Jung-ssaem masih dalam proses menerima hubungan saya dengan Yoongi.

"Nanti pulangnya beli churros ya!"

Tapi tetap saja... dia ini suka bikin saya dongkol. Pacar bukan...

"Ini tokonya."

Kami berhenti di depan sebuah toko. Masuk ke dalam, lampu-lampu yang menyorot perhiasan di etalase sangatlah terang. Kalau perempuan, matanya mungkin akan berbinar-binar melihat perhiasan-perhiasan yang berkilau seperti itu.

"Selamat malam..." Seorang pramuniaga menyapa kami. Habis membalas senyum pramuniaga itu, Jung-ssaem langsung menyikut lengan saya. Sejenak memang saya lupa kalau sayalah yang punya urusan di sini.

"Anu, saya mau cari cincin."

"Di sebelah sini."

Kami digiring ke etalase panjang tempat cincin-cincin dipajang. Semua nampak bagus. Saya tidak pandai memilih. Mata saya tidak terlalu jeli pula untuk membedakan satu dengan lainnya. Bingung. Saya lama diam. Tahu-tahu Jung-ssaem mengetuk kaca untuk menunjuk satu cincin.

"Ini bagus," katanya. "Maaf saya ingin lihat yang ini."

Sebuah kotak disodorkan pada kami. Isinya sebuah cincin perak yang tebal, berukir sulur-sulur yang sederhana namun elegan. Terkesan membumi.

Jung-ssaem mengambil cincin itu dan dia menarik tangan kiri saya. "Dicoba dulu. Sini."

"Tsche, jari saya gemuk, coba di jari Anda saja." Saya rebut cincin itu dari Jung-ssaem, kemudian saya sematkan di jari manisnya yang kurus. Tak sangka, cincinnya bisa masuk dengan mudah. "Pas. "

Kami sama-sama menatap cincin itu, tertawa sedikit, lalu saling bertatapan.

"Bagaimana?" tanya Jung-ssaem.

Saya mengangguk. "Bagus."

"Ambil kalau begitu."

"Iya."

"Aneh, tapi senang rasanya."

"Hehe... saya juga senang..."

Saat saya masih betah tersenyum, tiba-tiba Jung-ssaem melotot horor. Sadar-sadar guru sastra itu sudah memukul lengan saya sambil berteriak. "Tunggu dulu! Apa-apaan ini?!" Kemudian dia menarik tangannya dari genggaman saya. "Ew! Menggelikan!"

Pramuniaga toko hanya senyam-senyum memandang kami. Saya malu. Saya bisa tebak kalau dia pikir saya membelikan cincin ini untuk Jung-ssaem tapi tidak, astaga. Salah saya juga, dan benar kata Jung-ssaem, saya melakukan hal yang menggelikan. Memegang tangan seseorang sambil memandangi cincin yang tersemat di jarinya. Seharusnya saya hanya lakukan itu pada Yoongi. Aduh...

Jung-ssaem melepaskan cicin itu dan mengembalikannya ke dalam kotak. Si pramuniaga bertanya. "Apa cincinnya cocok, Pak?"

"I-iya. Saya mau ambil yang itu."

Akhirnya saya membeli sebuah cincin. Harganya memang tak bisa dibilang murah, tapi sepadan. Saya membayangkan Yoongi yang senang mendapatkan hadiah ini ketika saya melamarnya. Ngomong-ngomong, saya belum terpikirkan cara melamar yang bagus. Saran dari Jin-ssaem sudah saya tolak. Kemudian saya bertanya pada Jung-ssaem saat kami makan churros di pinggir jalan.

"Melamar seseorang dengan rangkaian kata-kata indah saya pikir adalah hal yang bagus. Melamar sambil baca puisi misalnya. Tapi kalau lihat tampang Anda, sepertinya tidak ada bakat untuk melakukan itu," katanya, yang memegang churros bersaus cokelat.

Saya mengernyit. "Kenapa dengan tampang saya?"

"Di muka Anda saya hanya bisa lihat bola basket, bola voli, ring, nett, lapangan, peluit ... tidak ada hal-hal bernuansa romantis. Lagipula Anda tidak biasa berpuisi, bukan? Di lapangan Anda biasa teriak-teriak suruh murid Anda melempar bola dengan benar."

"Ish." Agak sebal mendengarnya. Tapi dia ada benarnya juga. Rasanya seperti sedang dikritik secara tidak langsung. Saya memang tidak kenal dengan puisi dan hal romantis. Hidup saya ini orientasinya hanya pada olahraga saja. Tidak terpikirkan bahwa sedikit romantisme diperlukan dalam kehidupan. Setidaknya jika bukan untuk diri sendiri, romantisnya untuk orang lain. "Jadi bagaimana?"

"Tidak tahu. Kalau Anda pintar, Anda bisa pikir sendiri." Jung-ssaem menggedikkan bahu. Churros-nya sudah habis. "Park-ssaem, haus. Mau milk shake..."

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED