Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Cincin sudah di tangan tapi rencana lamaran belum saya dapat. Dua hari ini saya gelisah. Mengajar pun rasanya tak tenang karena banyak pikiran. Bukannya menyiapkan diri untuk melamar, saya malah menyiapkan baju untuk dibawa ke Daegu.
"Yoongi, jangan makan ramen."
Saya mengambil kap ramen instan yang Yoongi keluarkan dari tasnya. Dia mau menyeduh ramen itu, sebab tidak punya waktu untuk pergi makan ke kantin. Pekerjaannya banyak. Saya tahu. Tapi ayahnya sendiri yang bilang kalau Yoongi tidak boleh sering-sering makan ramen.
"Kenapa?"
"Nanti perutmu buncit."
Yoongi langsung memegangi perutnya sendiri sambil berwajah takut. "Tapi Kim-ssaem sering makan ramen dan perutnya tidak buncit."
"Kim-ssaem suka olahraga, jadi tidak buncit."
Yoongi cemberut. Saya tidak ada niat untuk menyinggung dirinya yang jarang olahraga itu, tapi melihat cebikan lucu Yoongi saya jadi ingin tertawa. Senang rasanya mengerjai dia.
"Jangan marah. Kubelikan roti, mau?"
Saya mendapat anggukan samar. Bibirnya masih mengerucut. Ingin rasanya mencubiti pipi gembilnya itu, tapi saya masih sadar situasi. Ruang guru ramai dan saya tidak mau jadi bahan candaan gara-gara bermesraan dengan Yoongi. Jadi, saya pun keluar untuk membeli roti. Tak sangka, di lorong saya bertemu dengan Jungkook.
"Park-ssaem! Siang." Anak itu menyapa saya dengan riang, tapi bergegas jalan. Sebelum jauh, saya panggil dia.
"Kook, sini sebentar."
Jungkook membalik badan. Dengan tampang polosnya dia bertanya ada apa. Saya merogoh saku dan mengeluarkan sejumlah uang.
"Belikan roti dan susu melon. Susunya dua. Kembaliannya untuk kamu, siapa tahu mau jajan."
"Ih, ternyata saya dipanggil untuk disuruh beli makanan ke kantin," ucapnya penuh sesal.
"Kook, kalau ada guru yang minta tolong padamu, bantulah dia. Lagipula kamu saya beri komisi."
"Tapi Bapak tidak bilang tolong pada saya."
"Oh, iya ya?" Saya baru sadar. "Ya sudah, tolong ya muridku. Saya butuh roti dan susu itu segera, kasihan Min-ssaem kelaparan."
"Jadi ini untuk Min-ssaem?"
"Hu-um."
"Ngomong-ngomong, Park-ssaem cepat menikah ya. Nanti saya bantu habiskan makanan di pernikahan Bapak!"
"Jungkook!"
Anak itu berlari sambil tertawa. Saya hanya geleng-geleng kepala. Jungkook mengingatkan saya untuk cepat-cepat menikahi Yoongi. Huft, sebelum menikah, saya harus melamarnya dulu. Kesiapan hati. Ini. Ah, saya mengelus dada lagi. Butuh dukungan moril. Saya terlalu payah untuk mengandalkan diri sendiri.
Setelah Jungkook kembali, saya menemani Yoongi makan siang di ruang guru. Rotinya dia makan dengan lahap. Agak menyesal juga hanya membelikannya satu. Padahal kalau dua juga pasti habis. Bekerja butuh banyak energi. Banyak energi dihasilkan dari banyak makan. Saya menyeruput susu sambil corat-coret di kertas bekas.
"Jimin, kau kenapa? Seperti sedang banyak pikiran," tanya Yoongi. Wajahnya agak khawatir. Dia membuang plastik bungkus roti tanpa mengalihkan pandangannyad ari saya.
"Tidak apa-apa."
"Kalau itu tentang keluargaku, kau tenang saja. Jangan terlalu dipikirkan."
Dia tidak mengerti, justru yang saya pikirkan bukan tentang keluarganya. Melamarnya adalah yang paling berat sekarang ini. Saya mau membuat dia terkesan tapi saya belum menemukan caranya.
"Jimin, jangan diam terus..."
"Aku tidak diam kok, hanya sedang menggambar..."
"Menggambar apa? Kau hanya bikin benang kusut sejak tadi."
Benar. Kertas ini isinya hanya gumpalan benang kusut. Saya tertawa kering. Dia kembali pada laptop-nya dan saya corat-coret kertas lagi.
"Jimin, jangan diam saja..."
Saya bingung. Maunya saya tak mengganggu Yoongi yang bekerja agar dia bisa tetap fokus. Tapi dia malah tak suka kalau saya hanya teronggok di kursi tanpa bicarakan apa-apa. Jung-ssaem datang, dia menaruh bukunya di meja.
"Park-ssaem sedang sariawan mungkin? Lebih baik mengobrol dengan saya saja."
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Besok Sabtu. Saya harus pergi ke rumah orangtua Yoongi. Ke Daegu. Baju sudah siap, oleh-oleh sudah ada. Tapi hati ini belum mantap. Cincin untuk Yoongi masih saya pegang. Tiap hari saya bawa kemana-mana. Seharusnya sudah saya berikan ini padanya. Sore, saya duduk di tribun gimnasium sendirian. Seharian saya tidak banyak bicara dengan kekasih saya. Stres rasanya. Padahal saya bebas, tak ada jadwal mengajar sama sekali dan datang ke sekolah dengan sengaja hanya untuk melihat Yoongi. Tapi waktu yang ada tidak saya manfaatkan dengan baik. Tahu-tahu jam pelajaran sudah berakhir, dan sekolah menjadi sepi.
Terakhir saya lihat Yoongi sedang mengurusi nilai murid-muridnya. Dia juga sibuk membuat soal ujian. Saya dengar dia mengeluh pada Jung-ssaem waktu saya sedang menyeduh minuman. Katanya ujian tulis untuk seni musik tak seharusnya ada. Jadi ingat pembicaraan saya dengan Kim-ssaem sebelumnya. Ternyata saya dan Yoongi sependapat. Kami ini mengajar mata pelajaran yang melulu praktek. Ujian tulis itu apa? Saya mau menanggapi, tapi setiap mau dekati dia, beban lamaran itu muncul. Lagi-lagi, saya urungkan niat untuk bicara padanya.
Gimnasium kosong, tapi kepala saya ramai. Saya duduk menatap kaki saya sendiri. Sepatu pantofel ini jarang saya pakai. Kemeja dan celana katun yang saya kenakan juga jarang melekat di badan. Anak-anak yang berpapasan selalu memuji. Mereka bilang saya keren. Buat apa keren kalau bodoh? Bodoh dan pengecut. Merangkai kata indah saja saya tak bisa. Membuat kejutan yang spektakuler saya tak sanggup. Payah. Saya benar-benar payah.
Di tangan saya ada wadah cincin. Merah, beludru. Cuma bisa saya elus-elus permukaannya yang halus. Ketika diintip, isinya masih ada. masih mengkilap bersih.
Jimin, buat apa beli cincin kalau tidak diberikan? Kau tidak berniat menikahi dirimu sendiri, bukan?
Seperti ada bisikan gaib di telinga saya. Benar memang. Saya terlalu banyak berpikir dan tak kunjung bertindak. Saya banyak takut dan tak mau melihat risiko. Tidak, seharusnya saya tidak seperti ini. Lelaki sejati tidak seperti ini, Park Jimin! Dengan keberanian yang tiba-tiba muncul seperti sambaran petir, saya ambil ponsel dan ketikkan pesan singkat untuk Yoongi.
Yoongi, kalau kau sudah selesai dengan pekerjaanmu, datanglah ke gimnasium ya. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.
Hanya saja, yang saya kirimkan padanya adalah pesan yang sama sekali tidak jantan. Apa? minta dia yang datang ke rempat saya? Benar-benar payah Park Jimin ini... . Saya sangat menyesal. Ingin saya tarik kembali pesan itu tapi tak bisa. Saya susupkan ponsel ke dalam tas dengan terburu. Malu. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Yoongi membaca pesan itu. Saya tidak mau lihat seandainya ada balasan yang masuk.
Argh. Saya berakhir dengan pasrah, tiduran di tribun bersama kotak cincin yang saya pegang erat-erat. Langit-langit gimnasium begitu tinggi dan jauh. Pikiran saya mengawang. Lalu keheningan menelan saya. Lambat laun semua benar-benar terasa kosong dan hampa, sampai-sampai saya tertidur.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
"Jimin? Jimin?"
Saya bangun karena mendengar suara Yoongi yang memanggil. Belum sempat menyahut, seseorang muncul.
"Syukurlah kau masih di sini..." Di pintu dia berhenti, lalu tersenyum meski dadanya naik turun lelah. Saya tahu dia yang jarang olahraga itu mungkin kehabisan tenaga untuk datang ke gimnasium yang cukup jauh dari ruang guru. Tapi lelahnya terlihat benar-benar. Saya memerhatikannya, lalu baru sadar bajunya sedikit kotor dan dagunya berdarah.
"Y-Yoongi kau kenapa?!" Segera saya hampiri dia. Yoongi menyentuh luka itu dengan tangan. Dia meringis tapi masih tersenyum saja.
"Aku jatuh, tersandung," katanya. "Aku baru baca pesanmu tadi. Padahal kau kirim itu sudah dua jam lalu. Buru-buru aku datang ke sini, takutnya kau sudah pulang. Maaf... aku terlalu serius mengerjakan soal sampai-sampai ponsel pun tak kulihat."
"Kau tidak perlu minta maaf. Justru aku yang minta maaf. Kau jadi terluka begini. Sakit, ya?"
"Sedikit perih. Tapi tidak apa-apa."
"Yoongi..." Saya jadi sedih. Yoongi bahkan masih mau datangi saya meski terluka.
"Ngomong-ngomong," Dia menatap saya regu-ragu. "apa yang ingin kau bicarakan?"
"Sudahlah, itu nanti saja. Sekarang ayo kita pergi ke ruang kesehatan, minta Jin-ssaem mengobatimu." Saya mau mengamit tangannya, tapi dia menolak.
"Aku tidak apa-apa, Jimin. Sungguh. Apa yang ingin kau bicarakan? Sekarang saja, obati lukanya nanti."
"Tidak, kita ke ruang kesehatan dulu." Ini kedua kalinya saya mau amit tangan itu, dan Yoongi tetap menolak. Dia mundur selangkah. Wajahnya tak terlihat baik. Ada sesuatu.
"Jimin. Aku takut. Katakan sekarang," katanya. "Kemarin dan hari ini kau diam saja. Aku takut kau diam karena ingin menjauhiku..."
"Tidak, Yoongi. Mungkin memang benar kalau aku diam, tapi itu karena aku banyak berpikir."
"Berpikir tentang apa?".
"Ini." Saya sodorkan kotak beludru yang saya pegang. "Aku ingin melamarmu tapi tak tahu bagaimana caranya."
"Melamarku?"
Saya buka kotak itu dan saya tunjukkan cincinnya pada Yoongi. "Aku membeli cincin ini untukmu. Orang-orang ingin aku menjadi romantis di depanmu. Mereka bilang kejutan dan puisi yang indah akan membuat lamaran menjadi sempurna. Hanya saja aku tak bisa melakukannya. Bukannya tak mau. Yoongi, aku mau menjadi lelaki romantis, tapi susah. Aku payah. Aku ini lelaki dengan banyak kekurangan. Apa kau mau terima aku apa adanya?"
Yoongi menatap saya lama. Lalu dia menunduk sambil melepas kekeh pelan. "...aku mau." Wajahnya terangkat, dia menyunggingkan senyum. "Kau tidak perlu jadi romantis. Bagaimana pun, selama itu dirimu, aku terima."
Kata-katanya terasa amat tulus. Hati ini tersentuh. "Terimakasih...," ucap saya. Senyumnya saya balas. "Jadi ... kau mau menikah denganku?"
"Mau, tentu. Aku mau." Yoongi mengangguk antusias. Pipinya bersemu merah.
Saya ambil tangannya. Kemudian cincin perak itu saya sematkan di jarinya yang kurus dan lentik. Ini jari seniman. Jari seorang pemusik. Jari Yoongi yang saya cintai.
"Terimakasih, Yoongi ... terimakasih. Aku sangat senang karena kau mau menerimaku. Aku akan berusaha menjadi lelaki yang lebih baik untumu. Menjadi yang terbaik. Kita menikah, dan selamanya aku akan menjagamu."
Saya cium punggung tangannya. Yoongi terkekeh. Saya lihat matanya berkaca-kaca. Lalu dia berkata. "Jangan katakan hal yang membuatku ingin menangis."
"Apa yang barusan itu menyedihkan?"
"Tidak, justru sebaliknya. Dasar kau ini!" Yoongi memukul saya. Entah mengapa sakit yang dirasa justru membuat saya bahagia. Kami tertawa, bahkan tak peduli meski gema tawa itu memantul kembali ke telinga. Pukulan-pukulan itu melemah, berakhir pada sebuah pelukan. Yoongi memeluk dengan bersandar kepala di dada saya. Lantas dia tertawa ringan. "Lucu, ya. Rasanya baru saja aku memulai kehidupanku di sekolah ini, tahu-tahu aku sudah punya suami."
"Tapi kita belum resmi ... aku masih calonmu, Yoongi. Belum ada sepuluh menit aku melamarmu, bukan?"
"Tak apa. Sekarang sudah kuanggap kau sebagai suamiku. Tapi tak sabar juga rasanya ingin segera menikah denganmu. Di altar, bertukar cincin, lalu kau cium aku."
Kami melepaskan pelukan untuk saling bertatap. Iya, saya juga tak sabar. "Yoongi."
"Ya?"
"Aku bisa menciummu sekarang kalau kau mau."
"Hihi." Dia terkikik. "Kalau begitu cium aku. Sini."
Dia menengadah dan memejamkan matanya. Pelan-pelan saya gapai bibir itu. Saya cium dia. Kenyal. Lembut. Yoongi membalas saya. Kami saling meraup. Yoongi menaruh tangannya di leher saya ketika dia butuh pegangan. Dengan sengaja saya buat dia mundur supaya bisa bersandar di dinding. Kami berciuman lagi setelah mengambil napas sebentar.
"Ammh... mmhh..."
Tuhan, saya cinta dia. Orang inilah yang nanti akan menjadi istri saya. Rasanya cinta saya ini tidaklah cukup saya curahkan lewat ciuman...
Klontang!
Saat kami dengar itu, seketika kami melepas ciuman sampai ada bunyi kecup keras. Saya dan Yoongi sama-sama menoleh ke arah pintu di mana sebuah kaleng minuman menggelinding di lantai dan dua anak berseragam berdiri dengan wajah blank.
"Ah... em... sore, Park-ssaem, Min-ssaem..." Jungkook menyapa.
"Ngg... Sa-saya tidak berdelusi, kan? Apa barusan Park-ssaem dan Min-ssaem sedang berciuman?" Sementara Taehyung, menelan ludah dan bicara begitu pada kami.
"T-tidak, kami tidak sedang-itu, tadi hanya...," kata Yoongi terbata. Saya hanya bisa menelan ludah seperti yang Taehyung lakukan.
"Maaf, maafkan kami." Jungkook membungkuk dalam-dalam dua kali, lantas menggandeng tangan Taehyung. "Silakan lanjutkan. Maaf mengganggu. Ayo, Taehyung, kita main basketnya nanti saja."
Taehyung berjongkok untuk mengambil kaleng minumannya. Tanpa memutus tatapan, dia berjalan mundur dan melambaikan tangan untuk pamit. "Dadah, Park-ssaem, dadah Min-ssaem..."
Kemudian mereka menghilang di balik pintu. Saya dan Yoongi masih sama-sama menatap titik itu sampai beberapa saat. Lebih dari semenit mungkin. Sadar-sadar Yoongi mengubur wajahnya di dada saya.
"Bagaimana ini, aku malu ... mau ditaruh di mana mukaku, Jimin?" gumamnya penuh sesal.
Sebagai seorang guru olahraga yang sudah mengajar bertahun-tahun di sekolah ini, baru pertama kali, muncul keinginan untuk berhenti...
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Kami menjadi canggung gara-gara insiden itu. Saya mengantar Yoongi pulang dan kami hanya saling mendiamkan di perjalanan. Bahkan ketika saya duduk satu meja dengannya, tidak banyak yang kami lakukan selain makan dengan khidmat. Saya ingin mengakhiri kecanggungan ini, maka dari itu saya buka suara dan mencoba memulai percakapan.
"Besok mau pergi jam berapa?"
"Pagi-pagi saja," jawab Yoongi. Matanya ada pada isian mangkuk, bukan pada saya.
"Jam enam?"
Dia menggeleng. "Terlalu pagi. Jam sembilan."
"Bukankah itu terlalu siang? Bagaimana kalau jam delapan?"
"Hanya beda satu jam."
"Kalau begitu jam tujuh."
"Aku tidak yakin apa aku sudah bangun atau belum."
"Baiklah, jam delapan?"
"Deal."
Percakapan selesai. Kami makan lagi. Hening.
"Jimin."
"Ya?"
"Apa ibumu baik?"
"Baik. Bagaimana dengan ibumu?"
Yoongi mengerucutkan bibir. "Dia cerewet. Waktu mau pindah ke sini Ibu bilang aku harus bisa jaga pola makan supaya tidak gendut."
"Memangnya kenapa kalau gendut?"
"Katanya nanti tidak ada yang mau padaku."
"Aku mau."
"Tapi kau larang aku untuk makan ramen, katamu nanti perutku buncit."
"Kalau buncitnya karena ramen aku tidak mau, kalau buncitnya karena..."
"Eh? Apa?"
"Ah tidak. Boleh minta nasi lagi?"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Sabtu, kami pergi ke Daegu. Tidak perlu saya ceritakan bagaimana perjalanan kami sebab yang saya dan Yoongi lakukan sepanjang jalan hanyalah tidur. Serius. Tahu-tahu bus yang kami tumpangi sudah masuk daerah Daegu. Tanpa terasa 3,5 jam terlewati begitu saja. Untungnya kami bangun sebelum bus berhenti di terminal, kalau tidak, mungkin kami akan dibangunkan oleh penumpang lain dan itu sangatlah memalukan. Dari terminal, kami naik taksi. Setelah sekitar 30 menit, kami berhenti di depan sebuah rumah bergaya tradisional dengan benteng bergenteng dan pintu gerbang dari kayu. Saya membawakan tas Yoongi sementara dia membuka gerbang.
"Aku pulang..."
Ketika kami masuk, ada seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram tanaman. "Yoongi?" sahutnya.
"Ibu, aku pulang."
Itu ibunya Yoongi. Saya langsung membungkuk untuk berikan salam. "Selamat siang, Bu."
"Oh apa ini Jimin, ya?"
Saya bingung karena mata ibu Yoongi terlihat berbinar ketika memandang saya. "I-iya saya Jimin."
"Tampannya... di foto kau tampan, tapi yang asli jauh lebih tampan, Ibu tak sangka."
Yoongi tak pernah katakan kalau dia berikan foto saya pada orangtuanya. Waktu itu pun dia tak katakan kalau dia berikan nomor ponsel saya pada ayahnya. Sepertinya dia tak akan bicara apa-apa jika tak saya tanya. Hm... apakah ini patut jadi catatan?
Yoongi berjalan ke pelataran, saya ikuti dia dari belakang. Ibunya menyusul setelah mematikan keran dan menggulung selang.
"Ibu, Ayah mana?" tanya Yoongi di ambang pintu. Saya masih melepas sepatu.
"Yoongi. Dagumu kenapa?"
"Jatuh. Lecet sedikit." Yoongi mengelus dagunya yang ditempeli plester.
"Baru beberapa bulan di Seoul, pulang-pulang kau sudah mengembang seperti pangsit rebus begini, ya?"
"Ibuu!"
"Ibu bilang apa? Jaga makananmu. Kau kan gampang gendut, lemak dari makananmu akan langsung lari ke pipi, perut dan pantatmu."
"Ibu, jangan begitu aku malu!" Yoongi melirik saya. Ingin tertawa tapi tak tega. Jadi saya tahan saja dengan senyum yang dikulum. Dari mukanya, kelihatan sekali kalau Yoongi kesal. Yang saya heran, ternyata dia dan ibunya sangat berbeda. Komentar itu sedikit mencukil, tapi dikatakan dengan tampang lurus. Saya tak tahu bagaimana Yoongi yang lembut hatinya itu bisa kuat dicibir ibu sendiri.
"Ayah mana?"
Yoongi melenggang masuk. Sementara saya ditinggal dengan ibunya. Selesai saya melepas sepatu, saya jinjing dua tas yang semula saya taruh di samping. Ibu Yoongi menepuk pundak saya.
"Lihat itu, waktu masih tinggal di sini pantatnya seperti triplek, sekarang jadi besar begitu."
Saya meneguk ludah. Tidak tahu maksud dari ibu Yoongi. Tidak mau tahu. Gara-gara kata-katanya saya jadi terus memerhatikan bagian itu.
"Ayahmu sedang pergi dengan temannya!"
Kami disuruh istirahat. Saya dan Yoongi duduk di tangga menghadap pekarangan. Hijau-hijau tanaman begitu menyejukkan mata. Rumahnya asri. Kami menikmati siang yang cerah dengan kudapan kue dan teh. Karena saya berada di rumah orangtua Yoongi, rasanya jadi tak berani untuk dekat-dekat. Malu. Duduk pun berjarak. Sesekali Yoongi melirik saya. Pelan-pelan dia menggeser bokongnya supaya duduk kami tak terlalu berjauhan. Dia senyam-senyum. Tanpa bicara dia tunjukkan cincinnya pada saya. Lalu saya pegang tangan itu, saya genggam.
"Aku pulaang!"
Seruan itu mengejutkan kami. Langsung saya lepaskan tangan Yoongi. Kakak Yoongi datang. Dia menenteng dua keresek dengan daun-daun yang menyembul. Waktu melihat saya, dia langsung tersenyum.
"Oh Jimin! Kapan sampai?"
"Baru saja, Hyung," jawab saya.
"Aku habis dari pasar, membeli bibit bunga baru. Kau mau bantu aku untuk memindahkannya ke dalam pot?"
"Eh? Ah. Baik."
"Hyung, Jimin ini tamu. Jangan suruh-suruh dia!"
Yoongi saya lirik. Dia nampak tak suka saya mau membantu kakaknya.
"Kenapa? Tidak masalah. Lagipula dia mau, iya kan Jimin?"
Saya menjawab pertanyaan kakak Yoongi dengan anggukan ragu.
"Seoltang, aku tidak mungkin memintamu membantuku, kau takut cacing! Mana mau pegang-pegang tanah!"sinis kakak Yoongi. Dia masuk ke rumah, meninggalkan kereseknya di dekat tangga. "Aku mau ambil potnya dulu."
Ketika kakak Yoongi masuk, ibunya keluar. Saya melihatnya mengikat tali celemek. Kemudian dia bertanya pada saya dan Yoongi. "Ibu mau masak. Kalian mau Ibu buatkan sup ayam ginseng, tidak? Supaya kuat."
Tapi yang dia tatap hanya saya. Jadilah saya berinisiatif untuk menjawab. "Apa saja, Bu."
"Oke!" Ibu Yoongi mengacungkan jempol. Lalu saya terdiam, sadar ada yang aneh dari kata-katanya barusan.
Tunggu dulu. Supaya kuat?
Kuat apaa?
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
