Whats on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Saya membantu kakak Yoongi untuk memindahkan bibit bunga dari polybag ke dalam pot. Kami main-main tanah di pekarangan sementara Yoongi membantu ibunya memasak makan siang. Sebetulnya saya ingin melihat Yoongi memasak, tapi apalah daya, saya tidak bisa tiba-tiba menolak permintaan kakaknya. Saya ini seperti berada di kandang macan. Saya baik, mereka baik. Kalau saya macam-macam, takut diusir. Agak susah juga tapi yah, saya memang wajib beradaptasi.

Ketika makan siang, kakak Yoongi absen karena dia maunya makan di luar. Katanya saudara mereka punya restoran dan makanannya sangat enak. Kakak Yoongi terkesan tak menghargai masakan ibunya sendiri, tapi si ibu malah nampak biasa saja meski anaknya kabur. Yang buat saya heran, dia benar-benar membuat sup ayam ginseng dan sengaja menaruh pancinya di hadapan saya dan Yoongi kemudian dengan senang bicara begini. "Ibu mau menyusul kakak Yoongi ke restoran, rasanya ingin ayam bumbu pedas yang pedasnya seperti api. Habiskan ya! Satu ekor ayam ini harus habis berdua kalau tidak Ibu akan biarkan kalian kelaparan sampai besok!"

Dengan sedikit terpaksa, kami menghabiskan satu ekor ayam itu. Ukurannya cukup besar. Yoongi yang sudah kekenyangan tak mau lagi makan, takut muntah katanya. Untung porsi makan saya banyak, jadi sup ayam ginseng itu saya habiskan sampai bersih (hanya tersisa tulang).

Habis makan, kami hanya berleha di depan televisi. Ibu Yoongi baru sorenya kembali dengan sekap es krim. Ternyata habis makan di restoran dia dan kakak Yoongi jajan es. Lucunya mereka tak ingat pada kami. Sebagai ganti es krim, kakak Yoongi memberikan es bon-bon yang sudah didinginkan di kulkas. Saya mau-mau saja menerimanya, sementara Yoongi tak peduli. Dia tergeletak tak berdaya efek kekenyangan dan kantuk yang membabi buta.

Tepat menjelang waktu makan malam, ayah Yoongi pulang. Inilah yang paling saya takutkan. Beda dengan ibu Yoongi yang cukup ramah meski mulutnya tajam, ayah Yoongi dari mukanya saja sudah membuat segan.

Seperti tadi siang, Yoongi membantu ibunya menyiapkan makanan. Saya, kakak Yoongi, dan ayahnya duduk bertiga menunggu. Saya benar-benar merasa canggung. Kakak Yoongi tak banyak bicara dengan ayahnya. Dia asyik saja memainkan ponsel, sedang si ayah memerhatikan saya.

"Jimin," panggilnya.

"I-iya, Pak?"

"Sudah berapa lama kau berhubungan dengan Yoongi?"

Saya tahu maksud dari pertanyaan itu. Ayah Yoongi mau tahu sudah seberapa serius saya berhubungan dengan anaknya. Tapi, saya tak mau berbohong dengan tiba-tiba mengatakan kalau kami sudah berpacaran lama. Takut tidak sinkron jika saja nanti si ayah juga tanya Yoongi. Jadinya saya jujur saja. "Mmm... belum lama Pak."

"Tapi mereka sudah pernah tidur sekamar, Yah." Tiba-tiba kakak Yoongi ikut bicara. Saya hanya bisa tertawa masam di depan ayahnya.

Wajah ayah Yoongi tetap datar. "Sekamar tapi tidak melakukan apa-apa, kan?"

"O-oh, tidak Pak. Itu, anu, apa-apanya nanti saja. Setelah menikah. Hehe."

"Benar?"

Melihat ekspresi ayah Yoongi yang sama sekali tidak berubah, saya jadi tak enak bicara sambil cengengesan. Akhirnya saya hanya membungkuk saja, melunturkan sendiri tawa itu. "Iya, Pak..."

Ibu Yoongi datang membawa piring-piring lauk. Yoongi mengekori di belakangnya. Mereka mirip. Muka, postur, dengan celemek merah muda bergambar bunga lotus kecil di tengahnya.

"Jimin-ah, jangan segan-segan, anggap saja rumah sendiri. Ini nasinya." Ibu Yoongi memberi saya semangkuk nasi. Yoongi ambil tempat di samping saya. Dia maunya duduk merapat, tapi saya diam saja. Jadinya dialah yang geser-geser pada saya. "Sudah mengobrol apa saja dengan mereka ini?"

Saya hanya menjawab pertanyaan ibu Yoongi dengan senyuman kering. Kami tidak ngobrol apa-apa malah.

"Yah, Yoongi sudah dilamar Jimin," kata si ibu. "Mana cincinnya, Yoongi perlihatkan pada ayahmu."

"Ini." tunjuk Yoongi malu-malu. Dia memperlihatkan cincin pemberian saya yang tersemat di jari manisnya.

"Jadi kalian mau menikah kapan?"

Pertanyaan dari ayah Yoongi itu membuat saya berpikir. Saya dan Yoongi saling menatap, lempar-lempat jawaban yang kami sama-sama belum tahu. Bahkan hingga kemarin, sehabis saya melamarnya, belum sempat kami bicarakan kapan kami akan menikah.

Saat itu ibu Yoongi tiba-tiba bicara. "Kakaknya Yoongi belum menikah. Setidaknya kalau bukan anak sulung Ibu yang memberi cucu, Yoongi si anak bungsu yang beri. Ibu yakin Yoongi subur. Dari badannya saja sudah ketahuan."

"Subur... kekekeke!" Kakak Yoongi menertawakan adiknya tanpa beban, sedang Yoongi sebagai pihak yang tersudutkan hanya kunyah-kunyah makanan tanpa membalas apa-apa. Sedikit banyak saya kasihan padanya. Terbayang masa-masa ketika Yoongi masih tinggal bersama keluarganya di sini. Tiap hari mungkin dia jadi sasaran empuk.

"Ibu maunya punya cucu berapa?" tanya si ayah.

"Berapa ya? Yang banyak. Supaya Ibu banyak teman di sini. Tapi ingin cepat-cepat, takut Ibu keburu tua dan osteoporosis. Nanti tidak kuat menggendong anak-anak Yoongi dan Jimin, Yah."

Yoongi melahap nasinya sambil memalingkan wajah. Dia malu, saya malu. Apalagi tadi ibu Yoongi menyebut anak-anak, banyak cucu. Ini secara tidak langsung terasa seperti sebuah tuntutan bagi saya untuk bekerja keras.

"Kalau kalian menikah di musim gugur, bagaimana?"

"Itu sekitar 3 sampai 4 bulan lagi, bukan? Terlalu lama, Yah!"

"Ibu maunya kapan?"

"Ayah..." Yoongi mau menginterupsi.

"Kalau bisa menikah besok, ya besok saja, Yah."

"Ibu..." Tapi dia tak didengar.

"Mau besok? Bagaimana caranya?"

"Heei!" Akhirnya dia berteriak. Tak tak tak tak! Yoongi menggunakan sumpit besinya untuk mengetuk-ketuk mangkuk nasi. "Kalau kalian mau cepat punya cucu, ternak marmut saja dan anggap anak-anak marmut itu sebagai cucu kalian!"

"Yah, Bu, Yoongi marah!" Kakak Yoongi tertawa lagi. Padahal adiknya sedang berwajah sangar. Baru kali ini saya melihat Yoongi yang marah. Ternyata dia cukup menyeramkan.

Saking kesalnya, Yoongi menghabiskan nasi dan lauknya buru-buru. Dia menenggak air minum sampai tandas, lalu pergi begitu saja. Saya hanya bengong. Ibu Yoongi yang menyuruh saya menyusulnya.

"Paling-paling dia masuk ke kamar," katanya.

Saya habiskan nasi di mangkuk, lalu minum, dan berterimakasih pada mereka yang ada di meja makan. Saya susul Yoongi ke kamarnya. Pintunya tidak di tutup. Di dalam dia hanya sedang duduk di kasur dengan kaki lurus ke lantai.

"Jimin?"

"Benar kata ibumu, kau di sini rupanya."

"Kau sudah selesai makan?"

"Sudah."

Dia diam. Saya ikut duduk di sampingnya. Mata saya mengedar ke seisi kamar. Sederhana. Tidak banyak tempelan di dinding. Hanya beberapa foto. Salah satunya foto wisuda Yoongi. Dia sangat lucu. Ibu Yoongi bilang dia kurus sebelum pindah ke Seoul. Tapi di foto wisuda itu pipinya berisi. Apa pipi itu bagian dari babyfat yang tak akan hilang meski berat badan berubah-ubah sekalipun?

Karena spreinya lembut, saya tertarik untuk merebahkan diri. Saya pun melakukan itu, dan tanpa diminta Yoongi berebahan juga. Kaki kami menggantung di lantai. Hanya separuh badan di kasur. Entah berapa lama kami seperti itu, sadar-sadar, ada suara ayah dan ibu Yoongi. Mereka di depan pintu kamar dan saya sontak bangun.

"Jimin, sudah mengantuk, ya?" tanya ibu Yoongi.

"Ibu, kamar tamu sudah dibereskan?"

"Belum, masih banyak jemuran di kasurnya. Belum ibu bereskan. Lupa. Ayah, karena kamarnya tidak ada lagi, Jimin tidur dengan Yoongi saja ya, berdua?"

Saya menunggu jawaban ayah Yoongi dengan was-was.

"Iya."

Tapi ternyata, si ayah menurut saja pada ibunya Yoongi. Syukurlah. Saya tidak perlu khawatir. Tadinya saya takut disuruh tidur di luar karena ketahuan berbaring bersama Yoongi di kasur ini.

"Tapi jangan macam-macam, kalian belum resmi," kata ayah Yoongi, mengingatkan. Saya hanya mengangguk-angguk patuh. Sadar diri. Ini di rumah (calon) mertua saya, jadi harus bersikap sebaik mungkin di depan mereka.

"Ayah, biarkan saja mereka mau apa, lagipula dua-duanya sudah dewasa."

Tiba-tiba ayah Yoongi bertanya pada saya. "Jimin, berapa umurmu?"

"Tigapuluh, Pak..."

Ibu Yoongi menggumamkan wah. "Sudah matang, harus cepat punya anak. Yoongi juga, meski belum tigapuluh, jangan dinanti-nanti, susah mengejannya kalau mau melahirkan."

"Ibuu!" Yoongi berteriak kesal.

"Baiklah. Tidur yang nyenyak. Ayo, Yah."

Pintu digeser, tapi tak sampai benar-benar tertutup. Ada celah beberapa senti dan saya masih bisa melihat sosok ibu Yoongi berdiri di sana. Mengintip. Dengan muka datar.

"Ibu! Tidur!" Yoongi memekik, mau menutup pintu. Barulah ibunya tersenyum.

"Selamat malam," katanya.

Brak! Bunyinya keras. Pintu sudah tertutup. Yoongi menoleh ke arah saya dengan pipi yang bersemu merah. Wajahnya nampak kesal, tapi saya tak tahu juga alasannya karena kesal pada ibunya semata atau ada selip-selip malu pada saya.

"Maaf...," kata Yoongi sambil menunduk.

"Maaf untuk apa?"

"Ibuku, dan semuanya." Dia duduk. "Ingin cepat-cepat ke Seoul saja."

"Lho? Belum sehari kita di sini. Kamu tidak suka pulang ke rumahmu sendiri?"

"Mereka sangat menyebalkaan!"

Yoongi benar-benar kesal, bahkan sampai menginjak-nginjak lantai. Lalu saya peluk dia supaya tenang sedikit. "Sudahlah... apa yang bisa kulakukan untuk menghiburmu? Supaya kau tidak kesal, hem?"

Dia mengembuskan napas panjang, punggungnya melorot. Dia tatap saya dengan mata memelas dan bibir mengerucut. Kami bertatapan saja tanpa bicara selama beberapa saat. Cuma mendengarkan napas, saya coba dengarkan detak jantungnya tapi percuma, yang kedengaran hanya milik saya sendiri. Padahal kami sudah pernah tidur satu kamar, tapi kenapa kali ini rasanya dada saya berdebar?

"Jimin, kau kenapa?"

Saya mengelus dada sambil meringis.

"Sakit?" Tangan Yoongi menyentuh dada saya. Telapak tangannya tepat di jantung saya yang berdetak-detak keras. Dia kedap-kedip sementara saya bingung harus berkata apa. Yoongi terkikik. "Kau deg-degan?"

Dengan pasrah saya mengangguk. Ini sangat tiba-tiba, tidak terkontrol. Biasanya juga tidak begini. Apalagi Yoongi tidak sedang melakukan sesuatu yang mengundang debaran. Aneh memang. Ya, cinta itu aneh. "Uuh..."

Saya benar-benar pasrah ketika dengan sengaja Yoongi menaruh telinganya di dada saya. Supaya dapat pengalihan, saya peluk saja dia sambil lempar-lempar mata. Ke figura di dinding, ke lampu meja, ke karpet, ke tumpukan buku, kemana saja.

Yoongi mengusak manja. "Ibu mau kita cepat menikah, bagaimana ini?"

"Iya, bagaimana, ya?"

"Aku juga mau kita cepat menikah. Tapi aku bahkan belum menemui orangtuamu."

"Iya."

"Ngomong-ngomong, kita mau menikah di mana?"

"Tidak tahu, tidak ada ide."

"Sama. Aku pun tidak ada ide. Ternyata pernikahan itu rumit ya." Yoongi melepaskan pelukan. Lalu dia bersandar di bahu saya.

"Mau melamarmu saja aku sampai stres. Kalau stres aku susah makan."

"Jangan susah makan, nanti kamu kurus! Tapi enak ya. Daripada aku, kalau stres makan melulu." Dia bicara begini sambil mengelus-elus perutnya sendiri.

"Tidak apa-apa. Makanlah terus supaya sehat."

"Jimin, jangan seperti ibuku!"

Saya dipukul. "Eh apa aku salah bicara?"

"Kau menyebalkan! Aku mau tidur saja!"

Yoongi menarik selimut, berbaring memunggungi saya. Dengan ragu saya ikut berebahan, sedikit-sedikit juga saya tarik selimut untuk tutupi badan. Yoongi masih begitu meski sudah saya panggil namanya. Akhirnya saya menyerah. Mungkin dia memang mau tidur tanpa dinganggu. Saya yang belum mengantuk ini tak bisa memaksakan diri untuk terpejam. Kasurnya nyaman. Tapi saya tetap tak bisa tidur. Jadilah saya pandangi punggung Yoongi. Kaosnya hitam. Beberapa waktu lalu lehernya sempat saya gigit hingga berbekas. Saya sentuh bagian lembut itu tanpa niat mau menggigit lagi. Lalu tangan saya bertengger di pundaknya. Rasanya posisi kami agak berjauhan. Maka, saya merapat. Saya selipkan tangan untuk memeluknya. Badannya sama sekali tidak berotot, apalagi perutnya. Kenyal daging dan lemak. Tapi tak apa. Ini hangat. Saya suka. Yoongi tidak protes apa-apa. Saya pikir dia sudah berlayar jauh ke alam mimpi. Saya pun memeluknya lebih erat, dan mencoba tidur.

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

Saya terbiasa bangun pagi, bahkan di tempat asing sekalipun. Waktu menengok ke jendela, langitnya masih biru-biru gelap. Fajar belum menyingsing. Saya kembali ke kasur karena tak enak mau keluyuran sendirian mencari kamar mandi. Yoongi masih tidur dengan lelapnya. Saya tarik selimutnya sebatas bahu, lalu saya belai-belai rambut hitam itu. Damai sekali wajahnya. Padahal semalam dia marah-marah pada ayah-ibunya. Lucu memang Yoongi ini.

Pelan-pelan Yoongi bergumam. "Jimin...?"

"Iya?" Saya jawab panggilannya. Mata Yoongi masih tertutup rapat. Tangannya menggapai-gapai mencari saya untuk disentuh. Saya arahkan saja dia untuk memeluk saya. Badan ini pun saya bawa merapat padanya. Kebetulan ada celah, jadi saya bisa menyusupkan wajah saya di dadanya.

"Jimin... aku mimpi punya bayi," kata Yoongi.

"Seperti apa dia? Apa itu anak kita? Apa dia mirip kau? Atau mirip aku?"

Yoongi mendengung lama. Jari-jarinya di rambut saya. "Tidak tahu... pokoknya mereka gemuk."

"Mereka?"

"Iya, mereka... ada banyak, Jimin... mungkin ada... sebelas..."

Saya menelan ludah, agak kaget juga mendengar ucapan Yoongi. Jangan-jangan, mimpinya itu gara-gara obrolan ibunya semalam. Membayangkan punya banyak anak bersama Yoongi memang seharusnya membahagiakan, tapi separuhnya adalah beban. Pikiran saya makin bercabang. Belum tuntas urusan pernikahan, sudah tambah lagi soal anak. Aduh, aduh...

"Yoongi?"

Yoongi tidak menyahut. Waktu saya angkat kepala, saya dapati dia tidur lagi. Mungkin tadi dia hanya mengigau, tapi saya pun tak tahu.

Kira-kira jam sembilan pagi, kami dibangunkan oleh ibu Yoongi yang masuk ke kamar. Katanya ayah Yoongi mengajak kami ikut ke kebun untuk melihat ubi dipanen. Saya jadi ingat, waktu itu ayah Yoongi menawarkan bakar ubi. Pantas, ternyata dia punya kebun ubi, toh. Yoongi dibangunkan ibunya dengan susah payah, sementara saya disuruh mandi duluan. Ketika mau pergi ke kamar mandi, saya melihat ayah Yoongi yang sedang menyeruput kopi. Pakaiannya sudah rapi dan saya rasa dia sudah siap pergi. Maka tanpa banyak basa-basi saya hanya menyapa lalu buru-buru mandi.

Jam sebelas, kami pergi. Hanya saya, Yoongi dan ayahnya. Kami bertiga berjalan kaki ke kebun karena jaraknya tidak terlalu jauh. Ayah Yoongi bilang orang-orang di sini punya kebun masing-masing. Punya tanah. Biasanya mengurus kebun sendiri, tapi si ayah tidak mau. Maunya diurusi oleh orang lain, supaya gampang, tinggal duduk menunggu hasil panen. Sepanjang jalan Yoongi menempeli saya. Tetangga yang melihat kami hampir semua bertanya siapa saya. Selalu ayah Yoongi yang menjawab, sementara saya hanya bisa senyam-senyum canggung. Pasalnya dia langsung menyebut saya sebagai calon menantunya. Saya kan jadi malu...

"Yoongi!"

Saat kami tiba di kebun, ada seorang lelaki yang menyapa Yoongi dari kejauhan. Dia melambai-lambaikan tangannya dengan wajah berseri. Saya lihat Yoongi, dia membalas sapaannya dengan seulas senyum. Lelaki itu pun mendekat seraya melepaskan sarung tangan. Dia membungkuk dalam untuk menyapa ayah Yoongi. Sedang ketika melihat saya dia seperti agak terkejut.

"Ini Jimin, Chiyeul-ah," kata ayah Yoongi.

"Ah, salam kenal Jimin-sshi. Saya Hwang Chiyeul."

"Salam kenal..."

Saya bersalaman dengannya. Diam-diam Yoongi menggandeng tangan saya di belakang punggung. Saya tidak bertanya apa-apa padanya, sebab di depan Chiyeul dia hanya tersenyum saja.

Kemudian ayah Yoongi membawa Chiyeul kembali ke kebun sambil berbincang. Saya tak tahu apa yang mereka bicarakan. Saya lebih peduli pada Yoongi yang tak kunjung melepaskan genggaman tangannya dari saya. Mungkin, ada sesuatu antara dirinya dan Hwang Chiyeul itu.

"Yoongi, ada apa?"

"Jangan jauh-jauh dariku ya."

"Kenapa?"

Yoongi menatap saya sebentar, lalu menghela napas. "Aku tak suka padanya." Dia celingak-celinguk, lalu menuntun saya untuk duduk di tumpukan keranjang kosong yang dibalik. "Chiyeul itu aneh. Sejak SMP dia mengejarku. Dia sering mengintip aku dari jendela kelas. Dia juga sering menitipkan surat pada temanku supaya mau kubaca. Dia ada di mana-mana, bahkan sampai SMU, meski kami beda sekolah. Dulu aku menghindarinya, tapi ayah bilang aku tak boleh begitu. Chiyeul anak temannya Ayah. Aku harus bersikap baik padanya. Tapi aku tidak mau, aku takut..."

Ibu jari Yoongi diadu-adukan. Dia menggigit bibirnya, seperti memang cemas karena adanya Chiyeul di tempat itu. Lalu saya genggam tangannya. Cincin peraknya saya elus-elus. "Yoongi, jangan khawatir. Sekarang kau punya aku."

"Iya."

"Memangnya dia belum tahu kalau kita-"

"Tadi saja Ayah mengenalkanmu padanya hanya sebut nama, bukan?"

"Kalau begitu kau katakan saja padanya kalau aku calon suamimu."

"Tapi Jimin, dia itu sulit. Kalaupun kukatakan itu padanya aku tak yakin dia akan berhenti. Apa yang harus kulakukan supaya dia mundur dengan sendirinya?"

Saya berpikir. Waktu otak saya dipakai bekerja, mata saya tak sengaja jatuh di tulang selangka Yoongi. Diterpa sinar matahari, kulitnya makin terang saja.

"Yoongi, bagaimana kalau kita ... bermesraan di depan Chiyeul?"

Dan keluarlah ide gila itu...

...Whats on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED