"Yoongi, bagaimana kalau kita ... bermesraan di depan Chiyeul?"
Dan keluarlah ide gila itu...
Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
"Yoongi! Paman Min bilang, mau bantu cabut ubi?"
Kami sama-sama mendengar seruan Chiyeul. Tanpa aba-aba Yoongi langsung menarik tangan saya supaya jatuh di pundaknya sampai-sampai terasa kalau dada kami berbenturan. Saya melirik Chiyeul ragu-ragu, sedang tangan Yoongi melingkar di pinggang saya dengan erat.
"O-oh?" katanya, gagu.
"Maaf, Chiyeul. Maaf ya." Yoongi tertawa malu-malu dengan ujung jari di bibir. Lalu dia memukul lengan saya. "Jimin ini suka tak tahu tempat, memang."
Saya hanya tertawa meringis. Sakit.
"Apa dia pacarmu, Yoongi?" tanya lelaki itu.
"Oh bukan." Sontak saya melirik Yoongi dengan tajam sewaktu dia mengatakan ini. Tapi hanya berselang beberapa detik dia melanjutkan ucapannya. "Dia calon suamiku."
Lega hati saya mendengar ini. Tadinya saya kira dia mendadak terpikirkan ide lain untuk mengerjai Chiyeul.
"Calon suami?"
"Iya, dan kami akan menikah dalam waktu dekat ini."
"Ooh..." Chiyeul mengangguk-angguk.
Kami diam sejenak, yang ribut hanya para pekerja yang bercengkrama. Saya perhatikan wajah Chiyeul. Kalau dilihat-lihat dia tampan juga. Pasti banyak yang mau padanya. Kenapa dia tak memilih mereka? Malah melulu mengejar Yoongi. Lalu saya lirik Yoongi, dia sangat cantik. Wajar jika seseorang mengejarnya sampai sejauh itu. Jadi? Ah. Saya bingung sendiri.
"Yang di sana juga cabut, ya," kata ayah Yoongi ketika saya dan Chiyeul memanen ubi bersama para pekerja lainnya. Yoongi dengan ayahnya hanya duduk-duduk di dipan sambil makan camilan. Saya melihat kalau ... Yoongi punya sisi pemalas. Mungkin itu didapatnya dari sang ayah.
"Jimin-sshi."
"Ya?" Saya agak kaget juga waktu Chiyeul mengajak saya bicara.
"Kamu dan Yoongi benar mau menikah?"
"I-iya."
"Saya sudah lama suka padanya. Waktu sekolah dia sangat menggemaskan. Badannya kecil. Dia selalu canggung kalau berada di dekat saya."
Saya jadi ingat perkataan Yoongi. Bukan canggung, Yoongi justru takut pada Chiyeul.
"Sudah berapa lama kamu mengenalnya?" Dia bertanya lagi.
"Belum lama. Saya baru mengenal Yoongi sewaktu dia masuk ke sekolah tempat saya mengajar."
Kami diam. Cabut ubi. Saya merasa ingin bicara banyak padanya.
"Chiyeul-sshi, mungkin dibanding kamu, saya tidak tahu apa-apa tentang Yoongi. Bagaimana dia semasa sekolah, apa yang dia sukai sejak kecil. Tapi saya mau menikahinya karena yakin kalau dialah pasangan hidup saya. Saya berpacaran tak hanya sekali, dan sebelum bertemu dengannya saya tak pernah merasa seyakin ini. Perasaan saya padanya ... begitu kuat. Kalau bukan karena saya mencintainya, saya tak mungkin berada di sini untuk menemui orangtuanya," tutur saya. Chiyeul menatap dengan ekspresi yang sulit dibaca. Saya tak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi tak lama kemudian dia mengangguk-anggukkan kepala.
"Begitu." Dia berdiri membawa beberapa ubi yang telah dicabut. "Apa Yoongi juga mencintaimu?"
Chiyeul jauh menatap Yoongi di sana. Saya pun melakukan hal yang sama. Yoongi menyadari sedang dipandangi. Tapi matanya tak terarah pada Chiyeul, melainkan pada saya. Dia tersenyum sedikit, menahan keripik camilannya di bibir.
"Ya, dia mencintai saya..." tanpa sadar jawaban itu keluar.
Kami telah selesai memanen ubi. Keranjang-keranjang yang semula kosong telah penuh. Meski kelihatannya sepele, tapi cukup berat juga pekerjaan memanen seperti ini. Ayah Yoongi seperti sengaja memanfaatkan saya. Kalau Chiyeul mungkin sudah biasa. Punggung saya sakit karena terlalu lama membungkuk dan berjongkok untuk cabuti ubi.
Makan siang diantarkan ke kebun. Bungkusnya bercap nama sebuah restoran. Saya tebak kalau itu dipesan dari restoran milik saudaranya Yoongi. Kami makan, setelah itu seperti yang pernah ayah Yoongi janjikan, kami membakar ubi.
"Jimin. Ini. Aaa..." Yoongi membelah ubi. Isiannya matang sempurna. Dia memberikan separuh pada saya dengan cara disuapi. Rasanya manis legit. Amat legit karena Chiyeul melihat kami dengan tatapan kosong dan kunyahan lamban.
"Ayah juga mau."
Ketika saya mengunyah, ayah Yoongi bilang begitu. Anaknya langsung saja menyahut. "Ubinya kan masih banyak, Yah."
"Maksudnya Ayah juga mau disuapi."
Permintaan ayah Yoongi sungguh kekanak-kanakan. saya menahan tawa dengan mengulum bibir. Takut dimarahi kalau menertawainya. Yoongi pun menyuapi ayahnya. Saya melihat si ayah cukup senang dilayani anaknya (meski wajahnya masih datar-datar saja).
"Yoongi, kau tidak menyuapi aku?" tanya Chiyeul.
Yoongi hanya tertawa masam. "Aduh... aku tak enak pada calon suamiku... bagaimana ya? Jimin ini mudah cemburu, aku jadi tak berani untuk menyuapimu."
"Sudah, Chiyeul-ah, makan saja ubimu sendiri. Apa bedanya? Ubinya sama."
Chiyeul nampak kecewa. Lucu. Tapi kasihan. Entah. Rasanya sedikit sama seperti ketika saya melihat Jung-ssaem yang musti mengalah. Saya ini kadang egois kadang mudah iba. Jadi tak tega melihat Chiyeul mengupas ubinya dengan tak semangat. Akhirnya saya berinisiatif.
"Anu, Chiyeul-sshi. Bagaimana kalau saya saja yang suapi? Mau?"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Kami berniat pulang di sore hari. Tak bisa tinggal lebih lama karena ada pekerjaan yang menunggu. Yoongi tak mau membolos. Dia terhitung masih baru di sekolah kami dan tak mau banyak-banyak absen. Takut dinilai buruk oleh Kepala sekolah. Saya menurut saja. Saya ikuti apa maunya.
Sebelum pulang kami mandi dahulu. Saya duluan. Yoongi masih sibuk membantu ibunya untuk menyiapkan bekal makan kami. Siapa tahu lapar di jalan. Selesai mandi dan berpakaian, saya membereskan isi tas dan mengecek barang bawaan supaya tidak ada yang tertinggal. Saya cabut kabel charger ponsel. Baterainya sudah penuh. Waktu melihat foto wisuda Yoongi, ada rasa ingin memotretnya. Lantas saya pun mengambil foto diam-diam. Untuk koleksi pribadi. Yoongi tak perlu tahu. Saya hanya ingin mengingat wajah lucu ini untuk waktu yang lama. Yoongi muda benar-benar lucu. Saya yakin kalau saya kirimkan foto ini pada Ibu, dia akan suka. Meski dulu Yoongi tidak benar-benar mirip dengan Jibang-ie.
"Jimin, aku mandi dulu, ya!"
Saya hampir menjatuhkan ponsel karena Yoongi yang tiba-tiba muncul. "I-iya, hehe."
Sambil menunggu, saya berebahan. Jendelanya tidak ditutup. Katanya supaya sirkulasi udara di kamar ini baik. Rasanya memang segar. Angin sepoi-sepoi yang malu-malu masuk ke kamar lama-lama membuat saya mengantuk. Akhirnya saya memilih untuk tidur sebentar, lima menit atau sepuluh menit mungkin cukup.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Entah karena apa, saya terbangun. Padahal masih ingin tidur. Ketika memandang jendela, saya dapati Yoongi tengah duduk di sana. Barulah saya ingat kalau kami harus kembali ke Seoul sebelum malam.
"Jimin," katanya.
Tirai tipis tak berkibar. Yoongi tersenyum pada saya. Pikiran saya melayang jauh. Nanti, tiap hari kami mungkin akan begini. Tiap saya bangun tidur, yang saya lihat pertama kali adalah dirinya.
"Ya?" Setengah sadar saya menjawab. Yoongi masih duduk di sana.
Tapi sekejap mata seseorang datang dan menyergap seraya mengatakan sesuatu yang membuat saya seketika terjengit. "Yoongi milikku!"
"HUWAAA!"
Itu Chiyeul! Yoongi berteriak ketika dia ditarik turun keluar dari jendela. Saya buru-buru melompati bingkai kayu itu untuk mengejar. "Yoongi! Yoongi!"
Kekasih saya dipanggul seperti karung beras. Dia meronta-ronta sambil berteriak. "Jimin! Jimiiin! Jimiiiiin!"
Saya tak peduli walau kaki tak beralas. Saya sangat panik. Chiyeul larinya gesit meski di bahu ada beban. Saya terus mengejar. Dia berbelok-belok masuk ke gang-gang sempit antar rumah. Saya yang tak kenal daerah itu hanya berlari mengandalkan bayangan yang dia tinggalkan dan suara Yoongi yang coba saya tebak dari mana arahnya. Capek! Tapi Chiyeul masih seperti ular yang licin! Saya tak boleh menyerah. Bisa-bisa dia membawa Yoongi ke antah-berantah dan melakukan sesuatu yang tidak senonoh padanya. Tidak! Saya tak rela! Bahkan saya yang telah melamarnya pun belum pernah mencicipi barang sedikit!
"Yoongiiii!"
"Jimiiiinnn!"
Rumah-rumah sudah habis, di depan saya ada rawa-rawa yang ditumbuhi teratai. Byur! Chiyeul menceburkan diri. Yoongi cuma saya lihat kepala dan bahunya saja. Dia dibawa Chiyeul meski jalan untuknya kabur hanya lewat rawa itu. Tanpa ba-bi-bu saya turut masuk ke air. Dingin! Kaki saya berkali-kali terjerembab lumpur dan tersangkut akar teratai. Melihat ke depan, Chiyeul seperti tak terhalang aral sama sekali. Dengan cepatnya dia dapat sampai di ujung rawa, naik ke permukaan dan memanggul Yoongi lagi seperti sebelumnya. Setengah frustrasi saya mengerahkan tenaga untuk dapat keluar dari rawa-rawa itu. Chiyeul masuk ke bibir hutan. Saya kelelahan. Suara Yoongi makin jauh. Ingat belum menikah, muncul dorongan. Saya tak mau kalah. Saya lari lagi, tapi dari kejauhan seperti ada banyak titik hitam beterbangan. Lama-lama titik itu makin dekat dan makin jelas. Mereka mengepakkan sayapnya dan mengerubungi saya.
"AAAAKKKK!"
Saya menutup mata rapat-rapat dan menyilangkan tangan di depan kepala.
"Jimin!"
Tapi waktu membuka mata, saya mendapati wajah Yoongi di atas wajah saya.
"Kau kenapa?"
Saya lihat sekitar, badan saya di kasur. Cahaya oranye dari langit sore masuk ke kamar. Yoongi wangi sabun. "Astaga!" Saya bangun duduk, tak sengaja membenturkan dahi dengan Yoongi. Dia meringis tapi tertawa. "Maaf! Maaf!"
"Tak apa. Kau kenapa? Kenapa berteriak?"
Saya lihat badan saya sendiri. Pakaian yang saya gunakan masih kering. Di kanan-kiri tidak ada yang beterbangan. Saya menggosok muka, merasa lega. "Syukurlah yang tadi hanya mimpi."
"Mimpi? Mimpi apa? Kau seperti ketakutan."
"Aku takut kupu-kupu!"
"Hah?"
"Eh maksudku aku takut kau diculik Chiyeul!"
Dia bingung. Alisnya naik satu. "Diculik bagaimana?" Tapi sebentar saja dia berekspresi seperti itu, selanjutnya tangan saya digoyang-goyangkan dengan semangat. "Ayo cerita! Kurasa itu menarik!"
Saya bergidik. "Menarik dari mananya? Di mimpi itu aku melihat Chiyeul menculikmu dan membawamu pergi. Aku mengejar kalian, sampai masuk ke rawa-rawa. Ciyeul seperti siluman air, berenangnya sangat cepat, bahkan melebihi atlet. Dia masih kuat lari setelah keluar dari kolam itu. Aku terus mengejarnya sampai masuk ke hutan, tapi tiba-tiba aku diserang sekumpulan kupu-kupu dan itu sangat mengerikaan! Aku takut kupu-kupu!"
Yoongi terdiam. Matanya membola. Dia berkedip beberapa kali dan saya hanya bisa mengatupkan bibir. "Jimin. Aku baru tahu kau takut pada makhluk seperti kupu-kupu. Pfftt..." Dia menggunakan tangannya untuk menahan tawa. "Seorang Park Jimin takut kupu-kupu?"
Tanpa bicara apa-apa lagi tiba-tiba Yoongi turun kasur dan membuka jendela lebar-lebar, dia menekuk kaki di bingkai, hendak keluar dari sana. Dia menoleh pada saya. "Aku mau cari kupu-kupu untuk kutunjukkan padamu. Di pekarangan sering hinggap kupu-kupu cantik yang mau hisap sari bunga punya Ibu," katanya.
"Eh! Jangaan!"
Saya sampai terjatuh dari kasur untuk mencegah dia. Baru satu kaki Yoongi saya pegangi, pintu kamar digeser.
"Ada apa ini, kenapa Ayah mendengar gedebak-gedebuk dan suara ribut dari kamar ini?" Ayah Yoongi di ambang pintu. Mukanya yang serius makin terlihat serius kala dia mengerutkan dahi. Yoongi berhenti tertawa dan turun dari jendela. Saya berdiri dan membenahi wajah serta rambut yang berantakan habis bangun tidur.
"T-tidak ada... tidak ada apa-apa, Pak," kata saya.
"Tadi Jimin—" Segera saya peluk Yoongi erat-erat hingga mukanya menubruk dada saya. Yoongi tak bersuara, mungkin dia terkejut tiba-tiba dipeluk. Saya memasang tawa kering di depan ayahnya.
"Jimin apa?" Mata ayah Yoongi makin memicing.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Kami hanya ... sedang bercanda, tadi. Ehehe."
Dia menatap saya tajam. "Bercanda apa yang sampai ribut begitu? Kukira kalian sedang bertengkar?"
"Tidak, Pak, bertengkar apa? Saya sangar mencintai Yoongi, tidak mungkin saya bertengkar dengannya."
"Ah, gombal mulutmu."
Saya tercenung waktu ayah Yoongi berkomentar seperti itu. Dia berlalu begitu saja, meninggalkan saya yang setengah kosong.
"Hiik!" Setelah ayahnya pergi, Yoongi menjauhkan diri dari saya. Napasnya dia tarik sampai berbunyi. "Jimin! Aku sesak napas!"
"Maafkan aku..." Saya sedikit merasa bersalah. "Aku hanya tak mau ayahmu tahu kalau aku takut kupu-kupu... . Itu sangat memalukan."
"Itu memang sangat memalukan," ujarnya. Saya menatapnya heran. "Tapi tak masalah. Kalau kau takut kupu-kupu, aku takut cacing. Hanya saja, aku baru tahu, jadinya merasa lucu. Hihi. Maafkan..."
Dia memeluk saya sambil terkikik. Tadinya saya mau marah, tapi, ah, sudahlah. Saya punya hak apa untuk marah padanya? Salah saya juga tak pernah mengatakan ini sedari awal. Wajar bila dia terkejut dan menganggap phobia saya sebagai sebuah lelucon.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa mimpikan aku diculik Chiyeul?"
"Tak tahu. Mungkin aku terlalu khawatir."
"Tenanglah. Ketika kau tidur, Chiyeul sempat datang kemari dan bicara."
"Bicara apa?"
"Maaf, katanya. Dia akan berhenti mengejarku karena sekarang aku sudah memilikimu. Dia doakan supaya aku bahagia bersamamu. Agak sedih mendengarnya. Tapi aku amini doanya. Dia juga memberiku hadiah sebagai ucapan selamat mau menikah."
"Hadiah apa?"
"Kerajinan tangan, gantungan dari kerang. Ada sepasang. Dia bilang itu untuk aku dan kamu."
Saya tak menyangka kalau Chiyeul yang Yoongi bilang sulit itu ternyata mau mengerti keadaan kami dengan mudahnya. "Dia baik ya."
"Waktu pamit ... dia sempat mencium pipiku," aku Yoongi.
"Ohh." Saya mengangguk. Sedetik kemudian baru sadar kalau ada yang salah dari perkataannya. "APA?!"
Yoongi mencebikkan bibirnya malu. Pipinya merah sedikit. Dia melirik saya lantas tertawa meringis.
"Sudahlah, lupakan tentang Chiyeul. Sekarang ayo kita kembali ke Seoul. Besok hari Senin, kita masih harus mengajar!" Yoongi berjalan cepat keluar kamar. "Yaah! Ayaaah! Ibuuu! Kakak! Aku mau pamiiit!" Saya mendengar Yoongi memanggil keluarganya, sementara saya masih di tempat. Berdiri setengah sedih.
Si Chiyeul itu ternyata sudah mencuri satu ciuman di pipi calon istri saya...
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Kami kembali ke Seoul. Ibu Yoongi memberi banyak oleh-oleh hingga bawaan kami bertambah. Ketika sampai, sudah sangat larut. Lelah sekali. Yoongi pulang ke rumahnya diantar taksi. Dia tak mau saya ikut karena kasihan pada saya. Dia mau saya istirahat yang cukup. Akhirnya kami berpisah di terminal. Saya pulang ke apartemen. Di jalan saya baru ingat kalau di hari Senin saya ada kelas pagi. Mau tak mau harus bangun lebih awal. Libur dua hari ini terasa kurang. Huft. Tapi memang ya, orang kalau diberi libur, masih ingin ditambah-tambah.
Senin pagi, saya lihat Yoongi di ruang guru. Dia tiba di sekolah lebih dulu dari saya. Yoongi sibuk membagi-bagikan oleh-oleh pada rekan-rekan kami. Saya berdehem supaya dia sadar kalau saya sudah datang. Yoongi menoleh. Dia tersenyum. Saya membalasnya dengan senyuman juga. Ketika melirik jari manisnya yang tersemat cincin, senyum saya makin lebar.
"Selamat pagi, Park-ssaem...," katanya.
"Pagi..."
"Pagi juga, Min-ssaem."
Saya hampir jatuh saking kagetnya gara-gara Jung-ssaem yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang saya dan menjawab sapaan Yoongi.
"Jung-ssaem!" tegur saya.
Dia menatap saya malas. Dagunya terangkat sombong. "Apa?"
"Jung-ssaem belum kebagian oleh-oleh. Saya bawa oleh-oleh dari Daegu."
"Oohhh! Mana, mana? Terimakasih! Aduh padahal tak usah repot, Anda ini. Min-ssaem benar-benar ya, sudah cantik, baik hati pula."
Yoongi terkikik. Dia jalan untuk mengambil sesuatu dari paperbag merah di atas mejanya. Jung-ssaem hendak mengikuti Yoongi sambil memulas senyum lebar yang bahagia.
"Eh tunggu." Saya hadang dia. "Anda lupa kalau saya calon suaminya? Jangan terlalu terang-terangan begitu kalau mau menggoda kekasih saya."
Jung-ssaem menepuk dahinya sendiri. "Oh iya! Maaf ya! Saya tak akan begitu lagi!" Lalu dia mengatupkan dua tangannya di depan muka. Dia lanjut berjalan selesai meminta maaf. "Min-ssaem! Anda bawa apa memangnya?"
Aish. Saya dongkol. Si guru sastra ini memang susah diberitahu!
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Saya bosan. Masih ada banyak waktu untuk istirahat sampai saya masuk kelas lagi di jam ke-3. Ingin berduaan dengan Yoongi, tak bisa. Dia sedang mengajar. Waktu saya lewat ke ruang musik, sengaja saya intip sebentar untuk melihat apa yang dia lakukan di kelasnya. Yoongi berdiri di depan, menerangkan tentang gambar-gambar melodi yang tak saya mengerti. Dia nampak bersinar dan saya bangga.
Aduhai, calon istriku...
Saya mengelus dada.
Untuk menghilangkan penat, saya keliling kompleks sekolah. Karena belum jam istirahat, di luar amat sepi. Paling-paling kedengaran ribut haha-hihi dari kelas yang gurunya absen. Jungkook sempat melambaikan tangannya diam-diam ketika saya lewat. Anak itu menempel pada kaca jendela. Seperti mengadu pada saya kalau dia tak mau di kelas. Saya ingat kalau Jungkook tak suka bahasa Inggris. Jadi mungkin saja saat itu Kim-ssaem sedang mengajar dan Jungkook merasa seperti terdampar di planet lain. Saya suruh dia untuk kembali fokus belajar. Dia cemberut. Saya melambaikan tangan untuk pamit dan saya pun pergi.
Lebih jauh berkeliling, saya menemukan anak-anak yang sedang mencuci tabung reaksi dan gelas takar di luar laboratorium. Mereka mencuci sambil bercengkrama dan berkelakar. Main air. Mentang-mentang gratis, dibuang-buang. Ada yang lengan jas lab-nya basah karena lupa digulung. Mereka menyapa saya dengan hormat waktu saya lewat. Saya hapal wajah-wajah itu. Mereka anak-anak yang sekelas dengan Taehyung. Yang aneh, saya tak melihat batang hidung si bocah tukang cengengesan itu. Tadinya saya pikir dia mungkin masih ada di dalam lab, ternyata ketika saya sampai di kebun milik klub tani, saya melihat Taehyung yang sedang membungkuk, seperti mengambil sesuatu di antara dedaunan.
"Taehyung?" Saya panggillah dia.
"Hm?" Anak itu menoleh. Dia tersenyum waktu melihat saya. Badannya langsung berbalik. "Park-ssaem!"
"Kamu sedang apa di situ?"
Dia berlari pada saya dengan semangat, membawa sebuah gelas ukur yang ditutup rapat dengan tangan. "Lihat apa yang saya temukan!"
Dia mengangkat tangannya dan seketika seekor kupu-kupu besar terbang ke arah saya. langsung saya saya berteriak keras-keras. "HUWAAA!"
Saya lari terbirit. Tak tahu kaki ini melangkah ke mana. Di pikiran saya saat itu, yang terpenting adalah kabur. Pergi sejauh mungkin.
"Park-ssaem?"
Saya tak sadar kalau ada Jung-ssaem di depan saya. Terlambat sekali untuk tahu. Saya mau mengerem sebelum menubruknya. Tapi sial, kaki saya tersandung tali sepatu yang terlepas ikatannya hingga pada akhirnya saya jatuh (dan menubruk Jung-ssaem juga). Bruk! Buku-buku yang dia pegang berserakan. Saya buru-buru bangun. Jung-ssaem merintih. Dia memegangi belakang kepalanya waktu saya bantu untuk duduk.
"Aduhh Anda ini kenapa?! Kepala saya sakit, tahu!" keluhnya kesal. Bibir yang melengkung ke bawah dan tatapan sakit itu dia layangkan pada saya. Buru-buru saya minta maaf.
"Maafkan saya, tak sengaja!"
Jung-ssaem tak mengatakan apa-apa. Masih dengan rengutan muka, dia beralih mengumpulkan kembali buku-bukunya. Saya mau bantu dia, tapi keburu ingat kalau waktu jatuh tadi sepatu saya lepas sebelah. Jadinya saya ambil dulu sepatu itu lantas mengenakannya kembali. Sayup saya mendengar suara Taehyung memanggil. Makin lama suara itu makin terdengar jelas. Kemudian saya lihat dia berlari membawa gelas kosong bekas wadah kupu-kupu itu.
"Park-ssaeeeem!"
Saya mundur waktu dia semakin dekat. Taehyung berhenti dengan napas putus-putus.
"Park-ssaem kenapa kabur?" tanyanya.
Jung-ssaem menepuk-nepuk pantatnya yang kotor kena debu. "Sebenarnya ada apa ini?"
Saya tahu Taehyung anak yang jujur. Terlalu jujur. Sebelum saya dipermalukan, saya memutuskan untuk berlalu. Pura-pura punya urusan yang lebih penting. Baru beberapa langkah dari tempat mereka berdiri, saya mendengar Taehyung menjawab pertanyaan Jung-ssaem. "Saya juga ingin tahu ada apa. Waktu saya tunjukkan kupu-kupu yang saya tangkap, Park-ssaem tiba-tiba lari."
"Taehyung, mana kupu-kupunya?"
"Tidak tahu, Jung-ssaem. Tadi terbang. Eh tunggu. Itu! Sepertinya dia hinggap di tengkuknya Park-ssaem."
Saya terdiam kaku. Waktu saya angkat tangan dan taruh telapak di tengkuk, saya mendapati sesuatu yang halus. "TIDAAAK!" Saya berteriak sambil menggeliat dan mengibas-ngibaskan tangan yang telah bersentuhan dengan kupu-kupu itu. Saya tak ingat pada rasa malu. Saya terlalu takut. Jung-ssaem dan Taehyung tertawa keras. Yang paling keras adalah Jung-ssaem. Dia terbahak-bahak puas melihat saya yang menderita. "Jung-ssaeeeem!"
Dia bahkan masih tertawa meski saya panggil namanya untuk minta tolong.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
