Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
"Kenapa kau beli juga? Kan sudah kubilang kalau tiketnya beli satu gratis satu. Kau tidak usah beli."
"Kau memang bilang begitu, tapi kau tak bilang kalau kau yang akan beli tiketnya."
"Harusnya kau sudah paham meski aku tak bilang, karena aku yang mengajakmu berarti aku yang beli tiketnya."
"Kukira dengan kau yang memberitahuku itu artinya kau minta aku yang beli?"
"Bukaaan! Aku yang beli, kau dapat bonusnya!"
"Makanya bicara yang jelaas!"
"Masa' kau tak mengerti, kau kan pintar, Jungkook!"
"Pintar-pintar pun kalau dapat informasinya tak jelas ya mana tahu, aku! Salahmu juga bukannya beritahu aku kalau kau yang akan beli tiketnya!"
"Jangan menyalahkan aku, kau sendiri tak tanya apa-apa padaku waktu di telepon kemarin!"
"Eh! Sebelum aku tanya harusnya kau bicara dulu sejelas-jelasnya!"
Sore itu jam pelajaran sudah habis. Siswa-siswi sudah pulang ke rumahnya masing-masing terkecuali mereka yang melakukan kegiatan klub. Awalnya saya kira kelas tiga sudah benar-benar kosong, ternyata ketika lewat ada satu yang lampunya masih menyala. Saya mendengar ribut-ribut orang bertengkar dari dalam sana. Karena penasaran saya menengok ke kelas yang pintunya terbuka lebar itu. Di sana saya menemukan Jungkook yang sedang menjambak rambut Taehyung.
"Kalian sedang apa?" tanya saya di ambang pintu.
"Park-ssaem!"
Jambakan Jungkook dilepas paksa. Tahu-tahu Taehyung meninggalkan kursinya dan berlari lantas bersembunyi di belakang punggung saya. Saat itu wajah Jungkook benar-benar tak ramah. Saya jarang-jarang menemukannya begini. Biasanya dia tersenyum manis dan menatap orang dengan matanya yang besar berbinar.
"Sebenarnya ada apa, ini?"
"Dia marah pada saya gara-gara tiket," jawab Taehyung. Bocah jangkung itu memeluk saya dari belakang. Serta-merta saya hempaskan tangannya. Tidak enak dipeluk olehnya. Kalau dipeluk Yoongi saya mau.
"Tiket apa?" Saya melirik Jungkook. Anak itu mengulurkan tangannya dan menunjukkan empat lembar kertas. Masih dengan Taehyung yang menggelayut di belakang, saya berjalan dekati Jungkook dan ambil salah satu kertas di tangannya itu. "Tiket masuk taman hiburan?"
"Iya. Kami beli itu untuk main ke taman hiburan sabtu ini. Tiketnya beli satu gratis satu. Saya beli satu dan Taehyung dapat bonusnya. Tapi ternyata dia malah membeli tiket juga. Jumlah tiketnya jadi empat, sedangkan kami hanya berdua. Bukankah itu mubazir? Ini sama saja dengan membayar untuk dua tiket, padahal seharusnya cuma satu." Jungkook bersungut.
"Jungkook, kau kedengaran tak mau rugi, ya?"
"Memang, Seonsaengnim! Di masa seperti ini kita tak boleh melupakan hitung-hitungan untung rugi!"
Rasanya kecut. Saya terdiam dibuat sadar. Saya sendiri jarang hitung-hitungan uang. Selama hajat hidup saya masih aman sampai tiba hari di mana upah saya dibayar, saya tak apa. Sedang Jungkook berbeda. Usianya masih belasan tahun tapi dia sudah segini perhitungannya pada uang. Mungkin dia ada potensi jadi seorang ekonom di masa depan.
"Padahal kalau tak dibelikan tiket, uangnya bisa dipakai untuk jajan," kata Jungkook sambil menatap saya minta persetujuan. Saya sendiri menegok pada Taehyung yang (lagi-lagi, masih saja dan tak bosan-bosan) menempel di punggung saya.
"Ya sudah kalau kau tak mau rugi, jual saja tiketnya pada Park-ssaem!"
"Hah?"
Tercetus ide dari Taehyung. Saya menatapnya setengah terkejut karena nama saya yang tiba-tiba disebut.
Jungkook melotot dan mulutnya terbuka, dia seolah-olah baru saja mendapat ilham dari ilahi. Saya yang was-was.
"Oh, iya, kau benar. Ternyata kau jenius, Taetae-ah!" serunya girang.
Saya sudah tahu kemana juntrungan pembicaraan ini. Maka saya memilih untuk segera angkat kaki dari kelas itu. "Saya permisi, ada pekerjaan yang mesti saya selesaikan," pamit saya.
Belum selangkah, tangan saya ditarik Jungkook. Pintu ditutup oleh Taehyung. Saya terjebak dalam situasi di mana saya tak bisa lagi mengelak dari bujuk rayu bocah-bocah ini.
"Park-ssaem mau tidak beli bonus tiket kami...?" Jungkook bertanya dengan nada halus dan wajah yang melas-melas lucu. Saya tahu itu dibuat-buat tapi tetap saja, melihat matanya yang besar itu menatap saya dengan sirat permohonan, saya tak tega. Apalagi setelah dia katakan ini. "Bapak bisa gunakan tiketnya untuk kencan dengan Min-ssaem. Ayolah, beli ya, beli?"
Saya diam lama. Jungkook makin memelas. Taehyung menambah-nambahi beban hati ini dengan mencatut nama Yoongi sebagai alasan terbesar saya untuk membeli tiket mereka. Akhirnya, saya menyerah. Saya lepaskan tangan Jungkook lalu merogoh saku.
"Jadi... berapa saya harus membayar?"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Anak-anak zaman sekarang memang suka uang. Tadinya saya diminta untuk membayar dua tiket itu. Tapi karena saya sudah tahu kalau aturannya beli satu gratis satu, saya hanya mau membayar untuk satu tiket saja. Setelah nego yang alot, akhirnya saya bayarlah satu tiket itu, dan satunya saya dapatkan sebagai bonus. Di jalan saya berpikir, begini mudahnya saya menghamburkan uang. Padahal tak ada rencana sama sekali untuk membeli tiket masuk taman bermain. Mana lagi harganya tak bisa dibilang murah. Saya benar-benar telah melakukan pemborosan. Hanya saja, ketika saya masuk ruang guru dan melihat Yoongi sedang duduk di bangkunya, penyesalan itu sedikit berkurang...
"Sore, Yoongi," sapa saya. Dia sedikit berjengit terkejut dan memukul bahu saya kemudian.
"Sudah selesai mengajarnya?"
Mumpung guru yang duduk di sebelah Yoongi sedang tak ada, saya ambil kursinya untuk saya duduki. "Sudah. Kau sedang apa?"
"Bercermin," jawabnya jujur. Saya memang lihat dia memegang sebuah cermin kecil. Satu tangannya yang lain memegang tisu. "Apa di pipiku ada hitam-hitam?"
"Hitam-hitam apa?"
"Waktu kembali ke sini Kim-ssaem bilang padaku kalau di pipiku ada hitam-hitam. Mungkin dari spidol atau apa, aku tak tahu. Aduh, aku malu sekali. Kalau Kim-ssaem melihatnya, berarti aku jalan dari kelas sampai ke sini dengan coreng hitam..." Yoongi mengeluh dengan raut khawatir dan bibir yang mengerucut. Dia menunjuk bagian pipi kanannya dan bertanya pada saya. "Masih ada tidak?"
"Ada sedikit."
"Ah? Yang benar?"
Saya usap-usap pipinya dengan ibu jari. Mata Yoongi sedikit menutup ketika saya lakukan itu. Diam-diam saya menahan tawa. Lucu melihatnya seperti ini. Sebetulnya saya tak lihat apa-apa di pipinya. Hanya pipi gembil yang mulus, itu saja. Noda hitam itu mungkin sudah hilang setelah dia hapus dengan tisu. Tapi saya memang ingin menyentuhnya sebentar. Ehe.
"Sudah," kata saya. Yoongi membuka mata lalu berkedip-kedip. Saya heran kenapa bulu matanya seindah itu.
"Kenapa kau tertawa...?"
"Aku tidak tertawa, aku hanya menunjukkan gigi."
"Iihhh, kau pasti mau menertawai aku, bukan?"
"Ah-eh, aduuh!"
Lengan saya dicubit. Saya cuma bisa meringis sambil pura-pura tersenyum seolah itu tak sesakit yang saya rasa. Yoongi kembali bercermin. Ekspresinya sedikit lebih cerah mungkin karena dia tahu kalau di pipinya sudah tak ada lagi noda hitam yang mengganggu.
"Ngomong-ngomong..." Saya sempat melirik kanan-kiri sebelum melanjutkan bicara. Banyak meja yang kosong karena sebagian besar guru sudah pulang, kecuali Kim-ssaem yang masih asyik bertelepon (dan Jung-ssaem yang entah di mana). "Apa kau mau kencan denganku hari sabtu ini? Aku punya tiket masuk taman hiburan."
Yoongi menatap saya dan dua lembar tiket yang saya sodorkan. "Aahh... taman hiburan..."
Saya pikir dia akan bereaksi antusias ketika melihat apa yang saya punya. Nyatanya dia seperti sedikit memaksakan senyum. Jarinya di bibir, setengah digigit.
"Kenapa?"
"Sebetulnya aku jarang sekali pergi ke taman hiburan, mungkin yang terakhir kali itu waktu aku masih sekolah. Aku takut naik wahana..."
Ah, harusnya memang saya bertanya padanya apakah dia suka naik wahana atau tidak. Harusnya saya tahu itu sebelum saya membeli tiket ini dari Jungkook dan Taehyung. Saya sendiri sebetulnya tak begitu suka pergi ke taman hiburan. Ada banyak wahana yang menurut saya benar-benar menakutkan dan sampai sekarang tak berani saya naiki. Dengan dua alasan itu seharusnya tiket ini tak saya beli. Tapi apalah daya, saya tak kuasa jika dihadapkan pada murid-murid saya yang memohon dengan wajah memelas minta dikasihani.
"Oh begitu... jadi apa kita tak usah pergi ke taman hiburan saja, ya?"
"Kita pergi!" Yoongi memegang kedua lutut saya. "Aku memang takut naik wahana tapi aku tidak mau selamanya jadi penakut. Aku sudah terlalu tua untuk jadi pecundang."
Dia hanya bicara dengan mulut tapi rasanya saya tertampar. Entah saya yang sensitif atau kata-katanya memang tajam. Mungkin Yoongi tak bermaksud apa-apa tapi saya merasa kalau sejak awal harusnya saya berpikiran seperti dirinya. Usia kami sudah tak lagi muda dan apakah masih pantas untuk takut naik wahana? Seharusnya tidak.
"Lagipula kau sudah beli tiketnya. Sayang kalau tak digunakan."
Dia tersenyum. Yang tadi saya pikirkan menjadi hal konyol sekarang. Tanpa bisa ditahan saya pun tertawa. "Iya, kalau begitu kita pergi ke taman hiburan sabtu ini."
"Nanti kita beli gulali, ya?"
"Min-ssaem mau gulali?"
Kami sontak menengok. Jung-ssaem tahu-tahu berdiri di dekat kami. Entah dari mana dia muncul. Guru sastra itu tak segera berlalu, malah mendekati Yoongi.
"Di alun-alun kota ada yang jual gulali pelangi, mau? Kita bisa pergi untuk membelinya."
"Tapi aku—"
"Tunggu." Saya berdiri. Saya sengaja menyela. Ini sudah yang kesekian kali Jung-ssaem menggoda Yoongi secara terang-terangan di depan saya. Tak tahan jika hanya diam. Kalau tak ditegur dia akan terus begitu mungkin sampai kiamat. "Anda tidak perlu membelikannya gulali pelangi, kalau pun itu ada, saya yang akan belikan untuk dia. Jangan lupa, ini calon istri saya... Hargai saya sedikit, apa tak bisa?"
Jung-ssaem dan saya saling bertatapan. Wajahnya antara kaget dan takut. Tatapan kami baru putus setelah Yoongi menarik lengan baju saya dan membuat saya menengok padanya.
"Sudah, sudah."
Nadanya yang lembut membuat saya sadar kalau tadi saya sedikit keterlaluan. Padahal mungkin saja Jung-ssaem spontan mengajak Yoongi membeli gulali karena mendengarnya membicarakan makanan manis itu. Saya merasa bersalah. Waktu saya melihat Jung-ssaem, wajahnya masih tak berubah.
"Park-ssaem, apa Anda belum makan?" Jung-ssaem bertanya.
Saya memeluknya. "Maaf, maafkan saya. Saya memang belum makan, dan ucapan saya sudah kelewatan. Maaf ya Jung-ssaem."
"Saya juga minta maaf, Park-ssaem. Saya kadang lupa kalau Anda sudah jadi calon suaminya Min-ssaem."
Jung-ssaem balas memeluk saya. Kemudian Yoongi terkekeh sambil bertepuk tangan. Ketika dilihat, dia sepertinya senang kami begini.
"Jangan sampai kalian bertengkar, bukankah kalian sahabat baik?" katanya.
Saya menatap Jung-ssaem, Jung-ssaem menatap saya. Dalam sekali hitungan kami melepaskan pelukan. Ada sensasi geli yang saya rasa setelah mendengar perkataan Yoongi. Sepertinya selama bertahun-tahun saya dan Jung-ssaem mengajar bersama di sekolah ini, kami tak pernah jadi sahabat baik. Bagaimana Yoongi bisa mengira hubungan kami sejauh itu?
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Hari Sabtu yang kami nantikan tiba. Yoongi tidak mau saya jemput ke rumahnya. Dia bilang dia mau membeli sesuatu dahulu sebelum pergi ke taman hiburan. Dia minta untuk bertemu langsung di taman hiburan saja. Saya mengiyakan. Saya tak mau banyak membantah. Bukannya saya tipe pria yang penurut, tapi terkadang kita memang mesti membiarkan pasangan kita melakukan apa yang ia mau. Terkadang kita tak perlu paksakan kehendak. Walau sebetulnya, saya sangat ingin mengetuk pintunya dan ucapkan selamat pagi (sambil memastikan dia sudah berdandan atau belum).
"Jimin-ie!"
Kami sepakat untuk bertemu di gerbang masuk taman hiburan. Dari kejauhan Yoongi melambaikan tangan. Dia tersenyum lebar. Sambil jalan saya balas lambaian tangan dan senyumnya. Ketika dekat saya baru sadar kalau penampilannya benar-benar trendi. Dia tak mengenakan baju formal seperti sehari-hari di sekolah. Bajunya kemeja flanel dengan dalaman kaos. Celananya jeans. Sepatunya sneakers. Lalu ketika saya melihat diri saya sendiri, penampilan saya begitu kuno dengan kemeja polos, celana katun dan sepatu pantofel.
Aduh... saya benar-benar seperti orang yang salah kostum.
"Kau rapi sekali." katanya.
"Aku tidak tahu harus pakai baju seperti apa." Saya menggeleng pasrah. Yang saya lakukan untuk terlihat gaya hanyalah menyisir rambut saya. Yoongi bilang lebih keren kalau dahi saya kelihatan. Jadi demi dirinya, saya melakukan itu. Tapi untuk pakaian, saya benar-benar tak bisa memilih apa yang pantas. Apalagi ketika melihat Yoongi secara langsung sekarang. Dia tahu apa yang mesti dipakai ketika mengajar dan ketika jalan-jalan di luar.
"Tak, apa. Aku suka. Kau terlihat amat dewasa dan sesuai dengan usiamu."
"Kau mau bilang aku tua?"
"Kau memang sudah tua, ahjeosshi!"
"Aku terlihat seperti orang tua dan kau terlihat sangat muda... Aku jadi malu. Apa aku harus pulang dulu ke rumah dan ganti baju?"
"Jangan konyol! Aku suka kau begini, mau apa lagi? Lelaki yang mengenakan pakaian rapi adalah yang terbaik!"
"Tapi gayamu sangat santai dan aku tidak..."
"Sudahlah! Tak usah dipikirkan! Apapun yang kau kenakan, kau tetap tampan!"
Kata-katanya terasa mengena di hati. Saya bahagia sekaligus malu karena Yoongi bilang pipi saya sedikit memerah.
Kami berjalan dengan bergandengan tangan. Ada banyak wahana di taman bermain ini dan saya tak tahu mau mencoba yang mana dulu. Mendengar teriakan orang-orang, rasanya nyali saya ciut. Tapi saya tak katakan apa-apa pada Yoongi. Saya hanya diam dan biarkan dia menuntun saya berjalan ke arah yang dia inginkan.
"Park-ssaem! Min-ssaem!"
Saya otomatis menoleh ketika mendengar panggilan itu. Dua suara dalam teriakan serempak yang ditujukan pada saya dan Yoongi asalnya tak lain tak bukan adalah dari Taehyung dan Jungkook. Saya tahu kalau mereka juga datang ke taman hiburan ini tapi tak sangka kalau kami akan bertemu. Padahal taman bermain ini luas. Tapi memang, dunia itu sempit. Mau seluas apapun kalau sudah takdirnya bertemu ya bertemu saja.
"Wee... Park-ssaem benar-benar kencan dengan Min-ssaem di sini..." Taehyung menggoda sambil cengengesan dan menarik-narik ujung lengan baju saya. Agak sebal juga karena bagi anak ini mungkin saya sudah tak punya wibawa.
"Ya lalu kenapa? Kalian juga kencan, kan?" sinis saya.
"Kami tidak berpacaran jadi tidak bisa disebut kencan." Jungkook menjawab pertanyaan saya dengan mantap sambil menutup mata. Saya lihat dahi Taehyung mengkerut sehabis dia katakan ini.
"Kenapa tidak kau anggap saja begitu? Sebentar lagi aku akan lulus dari sekolah kita dan kalau aku sudah kuliah mungkin kita tidak bisa lagi main ke taman hiburan berdua seperti ini."
"Y-ya... tapi kenapa harus disebut kencan? Kenapa harus disebut pacaran?"
"Jungkook, itu tak harus, kubilang anggap saja kita—"
"Hei, hei." Sebelum pembicaraan mereka berubah menjadi drama, saya mesti hentikan. Saya kibaskan tangan untuk mengalihkan perhatian mereka. Dua anak itu melihat saya. "Sudah."
Jungkook menggigiti bungkus pasta cokelatnya sambil berwajah masam. Taehyung wajahnya tak jauh beda. Saya yang tak enak karena mereka mendadak saling mendiamkan seperti itu.
"Anggap saja saya tak pernah memulai percakapan itu. Sekarang kalian mainlah yang puas di taman ini. Taehyung, kau memang benar, sebagai anak kelas tiga, sebentar lagi kau akan lulus. Gunakan waktu luangmu sebaik mungkin. Sekarang kau boleh main tapi besok kau mesti belajar untuk ujian. Jungkook, temani dia, kasihan temanmu, dia ingin main bersamamu."
Mereka saling melirik.
"Ya sudah kalian ikut dengan kami saja, ayo!"
Saya terkejut oleh ajakan Yoongi yang tiba-tiba. Tahu-tahu tangan dua anak itu diamit dan dia menuntun mereka jalan ke depan sementara saya ditinggal di belakang dengan tanda tanya yang besar. Serius? Yoongi mau mengajak bocah-bocah menyebalkan itu jalan bersama? Lalu saya bagaimana?!
"Yoongi! Yoongi!"
Saya berlari mengejarnya dengan tak rela.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Seperti yang sudah saya duga, ketika Yoongi membawa Jungkook dan Taehyung, otomatis kencan berdua saya dengannya jadi terganggu. Sedikit-sedikit mereka berhenti di toko suvenir dan kedai makanan. Yoongi ikut-ikutan. Waktu mereka mau naik wahana ekstrem, Yoongi juga ujung-ujungnya dia muntah juga karena tak kuat...
Saya yang lelah karena harus mengatur Jungkook dan Taehyung yang cukup liar. Mereka susah diatur. Mau ini, mau itu. Saya berusaha supaya mereka tak terpencar, karena kalau ada salah satu yang hilang, bakal susah dicari. Taman hiburan di hari sabtu benar-benar ramai entah itu oleh keluarga atau pasangan. Saya sedikit iri ketika melihat sepasang kekasih berbagi semangkuk es krim berdua. Saling menyuapi, saling membersihkan sisa es krim yang tertinggal di bibir. Mereka menikmati waktu kencannya. Sedang saya, ingin naik bianglala berdua saja tak bisa. Yoongi malah ajak anak-anak itu untuk duduk di satu bianglala yang sama dengan kami. Maka, tiadalah momen romantis di bianglala seperti yang ada dalam adegan drama-drama tivi di mana sepasang kekasih duduk melihat lansekap kota, bertatapan, menyatakan cinta, lalu berciuman.
"Park-ssaem sedang memikirkan apa?"
Saya mundur sampai kepala terbentur kaca gara-gara Jungkook yang bertanya sambil menaruh wajah persis di depan saya.
"Tidak ada, tidak memikirkan apa-apa."
Jungkook ber-oh ria sambil mengangguk. "Ngantuk sekali. Jadi ingin tidur..."
Kepalanya jatuh di bahu saya. Waktu saya tengok, mata Jungkook sudah tertutup. Bianglala kami sebentar lagi mencapai titik tertinggi. Langit sore terasa dekat dan kota semakin jauh. Saya melirik Yoongi di kursi depan. Waktu masuk bianglala inginnya saya duduk dengannya, tapi saya keburu diserobot oleh Taehyung. Sekarang anak itu malah tertidur pulas di pangkuan Yoongi.
"Hari ini sangat menyenangkan," kata Yoongi. Wajahnya terarah ke kaca, tapi saya bisa lihat senyumnya yang mengembang.
"Tapi... aku tak bisa berduaan denganmu gara-gara mereka." Saya putuskan untuk berkata jujur. Kalau tak mengaku, rasanya jadi beban di hati ini.
"Masih banyak waktu untuk berduaan, Jimin-ie..." Dia menengok pada saya sambil sedikit tertawa. "Lagipula menghabiskan seharian ini dengan mereka membuatku merasa seperti sedang mengasuh anak. Lucu melihatmu kerepotan menjaga mereka agar tak saling berjauh-jauhan. Lucu juga ketika mereka inginkan kamu untuk sukai apa yang mereka sukai. Seperti berondong jagung dengan sirup warna-warni, misalnya. Kau bilang kau suka yang pakai karamel saja tapi akhirnya kau makan yang warna-warni itu bersama mereka. Kalau mereka membuatmu sebal dan lelah, kau tak marahi mereka dengan bentakan. Aku suka itu. Kupikir kau akan jadi ayah yang baik seandainya kita punya anak nanti..."
"Yoongi..."
Saya terenyuh. Ingin rasanya gapai dia tapi apa daya, hanya tangan yang sampai. Ketika saya mencondongkan badan ke depan, kepala Jungkook otomatis terantuk ke belakang dan menyangkut di punggung saya. Karena kasihan, saya buru-buru memindahkan kepalanya ke pangkuan saya supaya dia lebih enak bersandar. Saya lanjutkan untuk menggapai Yoongi lebih dekat. Saya minta dia condongkan badan juga. Lalu dahi kami pun bisa saling bersentuhan. Saya bisikkan sesuatu di depan wajahnya.
"Kau membuatku semakin ingin menikahimu segera..."
"Kalau begitu buatlah itu terjadi Park-ssaem..."
"Nanti kau juga akan disebut Park-ssaem di sekolah, ya?"
Kami tertawa. Bianglala telah lewati titik tertingginya. Tak lama lagi kami akan tiba di daratan. Saya menatap mata Yoongi yang berbinar dan membiaskan oranye senja. Dia benar-benar cantik seperti malaikat.
"Apa bisa... aku... meminta sebuah ciuman darimu?"
Matanya tertutup. Sungging bibirnya menunjukkan kalau dia merasa lucu atas apa yang saya katakan. Tapi setelah itu dia berkata. "Boleh."
Kepalanya sedikit meneleng ke samping. Saya ikuti dia sambil menutup mata.
Kami berciuman. Sekilas tapi manis. Yoongi senyam-senyum malu seraya mundur lalu bersandar punggung di kursi. Jarinya menyentuh bibir pelan-pelan.
Oh, walau kencan kami terganggu dengan ribut dua anak murid, setidaknya sebagai penutup saya bisa mendapat satu hadiah yang membuat semua itu terbayar.
"Terimakasih ya."
"Semoga mereka tak lihat yang tadi," katanya.
"Saya lihat, Seonsaengnim."
"EEH!" Saya dan Yoongi menjerit bersamaan.
Taehyung di pangkuan Yoongi berkedip-kedip polos. Sedang ketika saya melirik Jungkook, dia melotot.
"Apa? Apa yang aku lewatkan?"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Taehyung dan Jungkook masih betah bermain walau matahari sudah tenggelam. Sulit untuk memisahkan diri dari mereka karena dua anak itu tak mengijinkan saya dan Yoongi untuk pulang. Setelah Yoongi yang menyuruh mereka untuk pulang cepat, barulah mereka menurut. Alasannya supaya mereka tak ketinggalan kereta. Saya tak tahu memang murni begitu atau ada alasan lain yang dia simpan. Waktu saya tanya, dia tak mau mengaku. Katanya dia hanya khawatir pada anak-anak yang pulang malam, pasti dicari orangtua. Padahal saya curiga kalau dirinya inginkan quality time berdua saja dengan saya tanpa anak-anak itu...
Setelah puas berkeliling taman hiburan, kami mampir di sebuah restoran. Seperti kendaraan yang mesti diisi bensin sebelum jalan, kami pun mesti mengisi perut sebelum pulang. Kalau tak diselingi acara makan dahulu, saya khawatir Yoongi (atau saya juga) akan masuk angin. Walau cuaca masih bersahabat, tetap saja angin malam itu tak baik.
"Ayah tanya padaku kapan kita akan memastikan tanggal pernikahan... dan aku tak tahu harus menjawab apa..."
Makanan yang kami pesan baru saja disajikan di meja oleh pelayan. Saya lebih dulu menyeruput minuman sebelum menanggapi ucapan Yoongi.
"Kita belum ke Busan, belum menemui ibuku. Setelah mendapat restu darinya, baru kita bisa menentukan tanggal pernikahan."
"Iya. Kapan kita akan ke sana? Menjelang ujian semester sulit sekali cari waktu luang. Pekerjaan semakin banyak..."
"Kapan, ya...?"
Waiting for you Anpanmaaan~
Waiting for you Anpanmaaan~
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Saya tak tahu ini mesti disebut berkah atau apa. Begitu kami membicarakan tentang Ibu saya di Busan, tiba-tiba ada panggilan masuk darinya. Sungguh kebetulan.
Yoongi menggerakkan mulutnya dan bertanya tanpa suara. Saya katakan padanya kalau ini telepon dari Ibu saya. Dia mengangguk paham dan melanjutkan makannya, tapi masih sambil memerhatikan saya.
"Ibu, ada apa?"
"Kau sedang di mana? Tidak taruh kunci cadangan di pot bunga? Ibu capek berdiri lama di sini. Adikmu mengoceh terus."
Saya jauhkan ponsel dari telinga. Ucapan Ibu saya cerna di kepala. Aneh. Apa maksudnya saya masih belum paham. Saya dekatkan lagi ponsel itu. Ibu di sana entah sedang mengomel apa. "Tunggu. Apa maksud Ibu? Ibu di mana?"
"Jawab dulu pertanyaan Ibu, kau di mana?"
"Aku? Di... restoran, sedang makan."
"Cepat pulang dan buka pintu ini untuk Ibu dan adikmu!"
Tut! Sambungan diputus. Saya terdiam mungkin lebih dari lima detik. Yoongi yang menyadarkan saya dengan tepukan di bahu.
"Kenapa?"
"Ibuku ada di rumah. Rumahnya kukunci."
Dia melongo sejenak. Lalu dengan cepat dia menyambar tisu dan mengelap mulutnya yang sedikit mengkilap karena saus pasta. "Kalau begitu ayo cepat pulang!" serunya. "Ibumu pasti menunggu!"
"Bagaimana dengan makanannya?"
"Kau bungkus saja itu, aku sudah selesai."
"He?"
Saya lihat piringnya bersih. Pasta yang dipesannya sudah ludes tak bersisa. Padahal milik saya saja masih utuh tak tersentuh (hanya bola dagingnya yang baru dibelah). Saya menatap takjub pada Yoongi yang ternyata memiliki kecepatan makan di atas rata-rata.
Dia menenggak habis airnya. "Ayo!"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
