Saya buru-buru pulang ke rumah. Yoongi saya bawa. Katanya, ini kesempatan bagus untuk bertemu dengan keluarga saya. Tak usah ditunda-tunda.
"Jimin-aaah!"
Waktu saya habis memarkirkan motor di garasi apartemen, saya mendengar teriakan. Saya kenal itu suara siapa. Adik saya. Dia memanggil dari tangga. Sedang Ibu saya melambai-lambaikan tangan minta saya cepat naik ke sana. Yoongi saya gandeng.
"Aduh aku deg-degan," bisiknya ketika kami baru menaiki tangga.
Saya hanya tersenyum. Tiap kali bertemu Ibu, tak pernah ada perasaan yang aneh, selalu biasa, paling-paling rindu. Tapi kali ini karena membawa calon istri, saya jadi gugup juga.
.
.
.
Whats on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Kami duduk beralas bantal, mengelilingi sebuah meja kecil di ruang tengah. Ibu berkali-kali mengedarkan pandang untuk mengecek kerapihan isi apartemen saya. Memang banyak barang yang tak tertata rapi. Di kamar lebih parah, banyak baju kotor yang belum saya cuci. Sementara Ibu seperti petugas kesehatan yang sedang inspeksi, adik saya membuka-buka bungkus oleh-oleh. Saya tahu itu Ibu bawa untuk saya di sini, tapi adik saya malah memakannya sendiri.
"Ini, silakan."
Yoongi kembali dari dapur membawa gelas-gelas sirup melon. Tadinya saya yang mau menyuguhkan minum, tapi dia bilang saya mesti duduk saja bersama Ibu dan adik saya.
"Terimakasih yaa...," ucap Ibu.
Lalu Yoongi menaruh satu gelas di depan adik saya. Saat itu tangan mereka tak sengaja bersentuhan. Saya lihat adik saya tersenyum. Tapi senyumnya lain. Setelah Yoongi duduk di tempatnya saya menatap tajam adik saya itu.
"Apa?" Dia bertanya.
"Minum." Begitu saja yang saya katakan.
Dia minum dengan cuek kemudian. Ibu saya berwajah bingung tapi setengah tak peduli. Dia sudah biasa melihat kami begini. Sebetulnya hubungan saya dengan adik saya itu tak terlalu baik. Saya lebih sering menjadi ketus padanya karena dia adalah orang yang cukup mengganggu. Dia suka bicara dan tertawa. Dia juga suka menggoda. Adik saya masih kuliah semester muda, tapi pacarnya mungkin sudah tak terhitung berapa banyak. Dasar playboy. Kalau ada dirinya saya merasa tersaingi. Apalagi dalam situasi sekarang ini, di mana calon istri saya satu meja dengan kami.
Tadi, ketika Yoongi menaruh gelas sirup untuknya, saya tahu apa yang dia lakukan. Dia punya mata yang mampu menyedot perhatian orang. Saya takut yang barusan itu sedikit dari banyak triknya untuk memikat. Saya tak mau Yoongi jadi korban jeratannya yang sesat.
"Jimin dan adiknya sangat mirip, ya."
Yoongi menunjuk kami malu-malu. Saya saling melirik dengan adik saya. Memang, orang bilang wajah kami serupa. Yoongi bukan yang pertama mengatakan itu.
"Mereka sangat mirip, tapi tak pernah mau disamakan. Iya, kan?"
Ibu saya minta konfirmasi. Saya cuma diam saja, sementara adik saya mulai mengoceh sambil mengunyah makanannya.
"Aku lebih tampan dari Jimin-hyung," katanya. Saya ingin menjulurkan lidah untuk mengejek. "Aku juga lebih gaya darinya. Dia tak tahu apa itu fashion. Dia sudah tua dan seleranya kolot. Dia tidak pandai menyenangkan hati orang dan tidak romantis. Yoongi-hyung kenapa mau berpacaran dengan kakakku ini? Padahal pacaran denganku saja. Aku suka yang lebih tua, kok—AH! IBU!"
Saya tertawa puas ketika Ibu menjewer telinga adik saya. Padahal belum selesai dia mengejek, tapi pembalasannya langsung datang begitu saja. Karma, karma...
"Tidak usah menggoda, kau kan sudah tahu Yoongi akan menikah dengan kakakmu..."
"Ibu benar, Yoongi milikku." Yoongi saya peluk. "Kau cari saja yang lain untuk kau jadikan pacar. Jangan jadi perebut istri orang."
"Ya ampun, percaya diri sekali kau, Jimin-sshi, padahal resmi menikah pun belum!"
"Biar saja, meski belum resmi tapi sudah pasti akan terjadi."
Lidah saya gatal kalau bicara dengannya. Kami tak pernah cocok dan dia selalu membuat saya sebal sampai tak tahan untuk tak membalas. Saya dengar Yoongi dan Ibu tertawa. Saya berhenti berdebat dengan adik saya karena malu.
"Maaf ya, jadi ribut," ucap Ibu.
"Tidak apa, justru ramai. Saya juga begini dengan kakak saya di rumah."
"Nah, dari nada bicaranya, sudah bisa ditebak kalau Yoongi-hyung orang yang lembut. Apa Hyung pintar memasak? Aku mau dong, dimasakkan sesuatu olehmu... Kurasa kalau orang cantik memasak, makanannya akan jadi cantik dan enak juga..." Adik saya menggombal sampai-sampai kepalanya jatuh ke meja. Tangannya yang terulur pelan-pelan coba gapai Yoongi. Secepat kilat saya sambar tangan Yoongi sebelum adik saya dapat menyentuhnya.
"Aduh maaf ya, anak Ibu yang bungsu ini benar-benar memalukan. Tapi Jimin bilang kau pandai memasak. Apa benar begitu? Ibu ingin tahu."
"Kalau begitu saya akan memasak, kebetulan ini waktunya untuk makan malam, bukan?"
"Oh, iya benar makan malam!" Ibu bertepuk tangan, baru ingat.
Ketika saya dan Yoongi di restoran, saya tak sempat makan. Pastanya masih utuh di piring. Cuma sepotong bola dagingnya yang masuk ke mulut. Saya tak membawa pulang makanan itu karena lupa juga. Sebab setelah membayar kami segera keluar restoran. Jadi di antara saya, Yoongi, Ibu, dan adik saya, mungkin hanya Yoongi seorang yang sudah makan.
"Yoongi, Yoongi."
"Ada apa, Bu?"
Yoongi yang mau jalan ke dapur berhenti dan membalik badan karena panggilan Ibu.
"Ibu hanya mau bilang kalau Ibu senang melihatmu. Kau seperti Jibang-ie. Hehehe."
Yoongi hanya memberinya senyum tipis lalu melanjutkan langkahnya dengan setengah berlari. Saya tak tahu dia malu atau apa. Saya menyusulnya. Tapi ketika jalan saya mendengar Ibu bergumam.
"Lucu sekali cara kaburnya itu."
Entah kenapa Ibu jadi seperti pemangsa.
Karena sayuran yang ada di kulkas hanya ada kol saja, akhirnya Yoongi memutuskan untuk membuat okonomiyaki. Yoongi bilang itu sangat praktis. Tak perlu waktu lama untuk membuatnya. Meski tak bisa dimakan pakai nasi, setidaknya okonomiyaki bisa mengganjal perut. Lagipula, saya juga baru ingat kalau tadi pagi saya tak memasak nasi. Rice cooker saya kosong. Cuma ada kerak nasi yang mengering dan belum dikeluarkan.
Yoongi minta saya untuk menunggu bersama Ibu dan adik saya di ruang tengah. Mereka asyik-asyik saja tiduran sambil menonton tivi. Tapi saya tak enak kalau hanya menunggu makanannya jadi. Saya pun tetap tinggal di dapur, dengan niat untuk membantu Yoongi. Kalau-kalau dia butuh sesuatu, akan saya ambilkan.
"Yoongi."
Dia sedang memotong-motong kol. Kemeja flanelnya digulung sampai siku. Dia melirik waktu saya bersandar bokong di tepian konter. Saya sedikit meneleng untuk melihat lebih jelas wajahnya. Ada yang aneh saat itu.
"Kenapa kau cemberut? Apa ibu dan adikku menyebalkan?"
"Tidak, tidak." Yoongi menggeleng. Dia berhenti memotong kol sejenak. "Aku hanya terpikirkan sesuatu setelah ibumu bilang aku seperti Jibang-ie."
"Jibang-ie itu lucu, Ibu suka Jibang-ie. Aku juga. Apa yang kau pikirkan?"
Tak dinyana Yoongi memberi delikan tajam pada saya.
"Aku mau diet," katanya.
"Diet? Untuk apa?"
"Jibang-ie itu gempal, Jimin-ie! Kalau ibumu bilang aku seperti Jibang-ie, berarti aku gempal! Aku mau diet mulai sekarang!"
"Eh! Tidak usaaahh! Maafkan ibuku, maafkan aku juga. Jibang-ie memang gempal, tapi dia lucu. Kau pun lucu, Yoongi. Aku suka pipimu yang tembam dan badanmu yang berisi."
Dia menaruh pisaunya lantas menyilang tangan di depan dada sambil memajukan bibir dengan kesal. "Apanya yang mesti disuka dari aku yang mengembang bulat begini?"
Saya tangkup wajahnya. Pipinya saya cubiti. Kenyalnya membuat tak tahan. Bukan untuk dicubiti saja, tapi juga untuk dihujani kecupan. "Kau begitu sehat dan menggemaskan. Jangan membuat pipi ini hilang karena kau diet."
"Rasa-rasanya di wajah ini hanya ada pipi. Pipi semua..." Wajah Yoongi mengendur sedih. Saya tak tega. Harusnya dia bahagia karena saya sudah jujur padanya tentang gempal badan dan gembil pipinya yang saya sukai itu.
"Jangan sedih. Tak apa walau wajahmu pipi semua. Aku tetap suka."
"Pokoknya aku mau diet."
"Kumohon jangaan!" Saya merengek. Rupanya dia tak tergugu. "Kalau begitu lupakan saja ucapan ibuku, ya? Lupakan juga ucapanku yang tadi."
Saya berusaha menghiburnya. Yoongi mengangguk pelan. Dia melanjutkan acara memotong kolnya lagi. Saya kira, dia sensitif terhadap topik yang menyangkut tentang penampilannya (berat badan lebih tepatnya). Mungkin ke depannya, saya tak akan sering-sering membahas hal ini lagi. Saya takut membuat mood-nya memburuk. Kasihan dia.
"Nanti kalau sudah menikah, aku akan menemanimu memasak seperti ini."
Dia menunduk sembunyikan pipinya yang sedikit memerah. Sepertinya saya harus banyak-banyak bicara tentang khayalan-khayalan pernikahan kami.
Kira-kira jam delapan, makanan siap. Kami makan bersama di ruang tengah. Ibu terlihat senang memakan masakan Yoongi. Adik saya, lagi-lagi, dengan segala jurusnya mencoba untuk gombali kekasih saya sambil minta disuapi. Saya heran kenapa Yoongi mau-mau saja menuruti keinginannya. Sekali suap tak apa, tapi berkali-kali? Karena kesal saya rebut sumpit Yoongi dan gantikan tangannya untuk suapi adik saya. Dia menggebrak meja karena kesal dikerjai. Kami semua menertawainya.
Setelah makan, Ibu dan adik saya mandi. Mereka mau menginap. Kasur saya dipakai untuk mereka tidur. Saya tak kebagian tempat. Terpaksa tidur di ruang tengah. Yoongi belum pulang dan malam sudah larut. Saya pikir saya harus mengantarnya ke rumah.
"Biarkan aku menginap di sini." Hanya, ketika diajak pulang, diabilang begitu.
"Tapi tak ada kasur lagi... masa' kau mau tidur di lantai?"
"Ada karpet, bukan?"
"Tetap saja keras dan dingin. Kau bisa sakit badan."
"Tidak apa-apa."
Dia tetap kukuh. Saya memikirkan cara supaya Yoongi bisa tidur nyaman meski tanpa kasur. Selimut masih sisa satu, tapi apa yang bisa membuat alas tidurnya jadi empuk?
Tiba-tiba saya memikirkan diri saya sendiri. Kalau Yoongi tidur di atas saya mungkin dia tak akan kedinginan dan sakit badan...
"Jimin?"
"Oh, i-iya?"
"Kau memikirkan apa?"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Seperti biasa, saya bangun pagi. Tapi kali ini lebih pagi dari biasanya. Waktu mengecek di ponsel pun, ternyata masih jam empat. Saya ini tipe yang kalau sudah bangun susah tidur lagi. Mencoba kembali tidur pun, mata saya tak kunjung bisa rileks. Saya memiringkan badan ke samping. Yoongi masih tidur dengan nyenyaknya. Kalau diingat-ingat lagi, semalam saya mengucapkan selamat tidur sambil mencium kening Yoongi.
Dia yang masih tidur itu tak akan tahu kalau saya senyam-senyum di depannya. Duh, sungguh, wajah damainya itu memang patut dikagumi.
Trang! Saya mendengar bunyi benda yang jatuh. Itu seperti suara logam; sendok atau garpu. Samar saya juga mencium aroma asin kuah kaldu. Lantas karena ingin tahu siapa yang subuh-subuh memasak, saya pergi ke dapur. Ternyata di sana ada Ibu di depan kompor sedang memasak ramen.
"Pagi, Sayang," sapa Ibu.
"Ibu masak ramen jam empat subuh?"
"Ibu lapar, tidak bisa ditahan. Kamu mau ramen juga?"
Saya bengong sejenak, lalu menggeleng. "Aku hanya mau minum."
Saya membuka kulkas untuk mengambil sebotol air mineral dingin. Ibu mematikan kompor. Ramen-nya sudah jadi. Entah kenapa baunya makin menyengat tercium. Saya tiba-tiba merasa lapar. Saya tengok ke belakang, Ibu sedang tersenyum miring. Itu senyum mengejek! Dia tahu saya tak bisa menahan godaan dari ramen yang baru matang (apalagi ramen-nya pakai telur dan potongan sosis).
"Kau tidak mau, kan? Karena kau tidak mau Ibu akan habiskan ini sendirian."
Begitulah caranya menawarkan. Kadang-kadang dia suka iseng membuat saya keki—itu sama seperti adik saya. Habis minum saya hendak kembali ke ruang tengah dan membiarkan Ibu makan sendirian. Tapi waktu mau pergi Ibu minta saya untuk duduk bersamanya di dekat konter.
"Ibu pingin mengobrol denganmu."
"Soal Yoongi?"
"Ya tentu."
Slurrp! Ibu menyeruput kuah ramen-nya dengan nikmat. Saya mau pinjam sumpit untuk comot sepotong sosis dari panci kecil itu. Tapi Ibu keburu menjauhkan sumpitnya. Saya gigit jari.
"Bu, Ayah suka tidak padanya?"
"Suka. Ayahmu setuju kau menikah dengannya. Ibu telepon Ayah waktu itu."
Ayah saya bekerja di luar negeri. Jarang sekali pulang. Komunikasi dengan Ibu hanya lewat ponsel. Jadi ketika meminta izin, Ibu yang menyampaikannya di telepon.
"Ibu suka tidak padanya?"
"Suka. Dia sangat cantik dan kulitnya terlihat sangat mulus. Ibu penasaran berapa ukuran pinggangnya."
"Ibu, jangan jadi mesum."
"Ibu tidak mesum! Yang disebut mesum itu ketika kau mengkhayalkan sesuatu yang bagus tapi tak kau katakan." Sumpit Ibu menunjuk-nunjuk muka saya. Sedikit cipratan kuahnya mengenai mata dan bikin perih. "Barusan Ibu katakan kalau Ibu ingin tahu berapa ukuran pinggangnya, bukan? Ibu ini jujur. Tidak seperti kamu."
"Eh! Jadi Ibu menuduh aku mesum?" pekik saya tak terima.
"Tidak usah kaget begitu, akui saja. Aku ini ibumu, apa yang tidak kutahu? Waktu kita makan malam Ibu lihat kau tidak putus-putus melihat wajahnya—sesuatu di wajahnya. Dan setelah Ibu telisik akhirnya Ibu tahu kalau kau melulu memerhatikan tahi lalatnya. Ibu akui itu mempermanis wajah Yoongi, tapi kalau dia sadar kau terus-terusan memandanginya begitu apa kau tak akan malu? Kurang profesional, kau ini."
Saya terdiam. Ibu melanjutkan makannya dengan santai.
"Waktu kau ke Daegu, kau bicara apa saja dengan orangtuanya?" Selesai menelan dia bicara begini.
"Yaa... aku minta izin untuk menikahinya, lalu kami bicarakan... hmm... macam-macam."
"Macam-macam itu yang seperti apa?"
"Ibunya Yoongi ingin kami menikah secepatnya, Bu."
"Lalu? Lalu?"
"Kakak Yoongi belum menikah, jadi sepertinya orangtua Yoongi sangat berharap pada kami."
Saya terkesiap ketika tangan saya tiba-tiba digenggam Ibu. Matanya berbinar. Di sana seperti ada kobaran semangat, entah mengapa. "Ibu juga berharap padamu. Waktu kau bilang ingin menikah, Ibu kira kau sudah menghamilhmphhhtt—"
Saya bekap mulutnya. Dari tempat saya duduk, saya menengok ke ruang tengah untuk melihat apakah Yoongi masih tidur atau tidak. "Ibu! Aku takut dia dengar!"
Ibu melepaskan bekapan saya. Setelah itu dahi saya disentil.
"Dan ternyata kau belum sampai ke sana. Payah kau. Ibu kira anak Ibu seorang jagoan," katanya sambil cemberut.
"A-aku jagoannn!"
"Kalau kau jagoan, apa pernah kau menidurinya?"
"Pe-pernah, kok. Aku sudah sering tidur dengannya."
"Apa kau mengerti maksud Ibu dengan tidur-meniduri? Tidak, bukan? Ibu yakin tidurnya kalian hanya tidur sekasur saja tanpa melakukan apa-apa."
Skakmat. Kenyataan memang menyakitkan. Ibu tahu persis apa yang saya lakukan. Beberapa kali tidur dengan Yoongi, saya memang tak pernah berbuat terlalu jauh padanya. Malah bisa dibilang tak pernah jauh sama sekali. Saya sudah berjanji pada kekasih saya. Itu tak bisa dilanggar. Tapi bagi Ibu lelaki seperti saya ini rupanya dinilai payah.
"Ibu saja coba-coba dengan ayahmu dulu sampai jadi kamu. Setelah itu baru kami menikah."
Saya melongo. Fakta ini tak pernah saya ketahui sebelumnya. Ternyata selama ini saya punya seorang Ibu yang suka coba-coba...
"Jadi aku ini anak yang takdirencanakan?"
Ibu mengangguk. "Makanya waktu kau telepon, Ibu kira kau sudah—"
"Sudah cukup. Habiskan saja ramen Ibu. Aku mau tidur lagi."
Ibu menarik tangan saya. Terpaksa saya duduk lagi. "Tunggu dulu. Duduk. Ibu belum selesai. Tunggu sampai Ibu habiskan makanan ini."
Saya benar-benar menunggu Ibu menghabiskan ramen-nya. Bahkan sampai dia bersendawa keras satu kali. Ibu saya ini cantik, tapi kadang saya menyayangkan karena dia tak selembut dan seapik Yoongi. Dia tak malu setelah sendawa, malah tertawa di depan saya.
"Ibu mengerti kenapa orangtuanya Yoongi ingin cepat punya cucu. Karena, yaa... Ibu juga ingin. Adikmu sudah besar, Ibu tak bisa mengurusnya seperti mengurus anak kecil lagi. Karena ayahmu jarang pulang juga, Ibu kesepian. Semua orang di rumah pergi satu-persatu. Nanti adikmu setelah lulus kuliah mungkin juga akan pindah dari Busan."
"Jadi maksudnya Ibu juga ingin cepat punya cucu karena ingin ada yang menemani? Ibu ingin tinggal denganku kalau aku sudah punya anak?"
"Atau kau bisa titipkan anakmu pada Ibu. Ibu akan mengasuhnya di Busan."
"Maunya. Nanti siapa yang akan aku dan Yoongi urus kalau anak kami di Busan?"
"Kau buat saja lagi..."
"Memangnya buat anak semudah buat ramen?"
Ibu saya hanya cengengesan."Ibu ingin banyak cucu. Kalau bisa yang perempuan satu, laki-laki satu. Kalau tak adik-kakak, yang kembar juga boleh."
"Ibu."
"Ibu sudah bisa membayangkannya, Nak. Bayi-bayi yang lahir dari istri cantik seperti Yoongi pastilah berwajah lucu, manis dan menggemaskaan! Nanti mereka duduk di kursinya masing-masing, pakai serbet lalu makan bubur sambil belajar bicara. Ibu akan ajarkan mereka bahasa Inggris supaya mereka tak seperti kamu."
"Ibu, astaga."
"Ngomong-ngomong Yoongi kan juga bekerja sepertimu, nanti pakai suplemen saja supaya kandungannya kuat. Berikan dia apapun yang bisa dia minum rutin selama hamil."
"Ibu, bisa kita bicarakan perkara pernikahannya dulu? Jangan terlalu jauh, aku tak sanggup mengikuti..." Saya memeluk Ibu. Memikirkan tentang masa depan saya dan Yoongi terasa menambah beban.
"Nanti sering-sering pulang ke Busan, atau Ibu yang datang ke Seoul untuk temui cucu-cucu Ibu."
"Bu." Saya memohon. Saya keluarkan jurus aegyo supaya Ibu mau mendengar. Tapi alih-alih tergugu, Ibu malah berwajah jijik.
"Ya sudah kalau mau urusi perkara pernikahan, ayo bicarakan dengan Yoongi."
Ibu menuntun saya ke ruang tengah dengan tergesa. Yoongi tak terusik meski langkah kami dag-dug berisik. Dia tetap tidur.
"Wuaah..." Nada Ibu penuh kekaguman. Ibu berjongkok di dekat Yoongi dan saya hanya bisa waspada karena tak tahu apa yang akan Ibu lakukan. Dia adalah wanita yang tak mudah ditebak. Saya bahkan tak sangka kalau Ibu akan membelai pipi kekasih saya. "Kulitnya benar-benar mulus, bahkan lebih dari yang Ibu bayangkan!" Dia bicara dengan gemas. Pipi Yoongi yang kenyal dicubit-cubit. Rambut hitam Yoongi diusak-usak. Lama-lama saya merasa kalau Ibu seperti anak kecil yang baru menemukan kucing ras yang bagus. "Ya ampun dia manis sekali..."
"Ibu, hentikan. Kalau dia sampai bangun bagaimana?!"
Badan Ibu yang kecil saya sergap dan saya tarik ke belakang supaya dia sedikit menjauh dari Yoongi. Ibu tak rela. Dia memukul saya. Saya masih menguncinya karena takut Ibu akan berbuat macam-macam lagi. Tapi makin kencang saya kunci Ibu, makin keras juga dia memukul saya.
"Enghh..."
Yoongi melenguh. Kami menghentikan pertengkaran tak penting itu.
Ibu membalik badan dan memegang dua tangan saya. "Jimin, kau harus menjaganya baik-baik. Kalau tidak Ibu akan mencoretmu dari daftar keluarga Park."
"Mana bisa begitu?!"
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
Ibu memutuskan untuk pulang menjelang siang. Tadinya saya ingin mengantarnya sampai ke stasiun, hanya saja Ibu menolak. Mau jalan-jalan dulu, katanya. Ibu saya memang suka keluyuran sendiri. Kebetulan saja kali ini ada adik saya bersamanya. Mereka akan naik taksi sampai ke stasiun. Mungkin juga di jalan akan mampir ke beberapa tempat. Entahlah, saya pun tak tahu Ibu maunya apa.
"Buru-buru sekali, Bu. Padahal pulangnya nanti saja, besok-besok." Begitu kata Yoongi ketika Ibu mau pamit. Kalau hanya Ibu seorang, saya tak apa. Tapi karena Ibu membawa adik saya, inginnya mereka cepat pulang saja.
"Ibu masih banyak urusan di Busan, belum lagi anak bungsu Ibu ini besok masih harus kuliah. Kalian juga besok bekerja, bukan? Ibu tak mau mengganggu hari Senin semua orang."
Ibu tertawa, Yoongi hanya tersenyum maklum. Adik saya yang lain. Dia malah merengek tak mau pulang.
"Benar kata Yoongi-hyung, Bu. Kita pulangnya nanti saja."
"Tidak, besok kamu kuliah. Sekarang kita pulang, jangan membantah."
"Aahh, Ibu..."
Salah satu cara supaya dia diam adalah dengan memberinya makanan atau uang. Saya masuk ke kamar sebentar untuk mengambil dompet. Sudah dapat, buru-buru saya keluar lagi. Saya mengambil sejumlah uang dan langsung saya berikan pada adik saya.
"Ini. Untuk jajan. Jangan langsung dihabiskan."
Dia diam. Uangnya sudah di tangan. Setelah berdehem satu kali dia masukkan uang itu ke dalam saku jaketnya.
"Bilang apa?" tanya saya memancing.
"Terimakasih."
Saya agak dongkol karena dia mengucapkan itu sambil memalingkan wajah.
"Kalau libur, main saja ke Seoul." Yoongi berkata. Itu ditujukan untuka adik saya. Saya tahu niat Yoongi adalah menghibur adik saya yang sedikit bad mood karena harus pulang. Tapi Yoongi salah orang! Biarkan saja adik saja begitu, tak usah dihibur segala.
"Ah, tentu!" Adik saja menyahut dengan antusias. "Kalau begitu aku boleh minta nomor ponselmu, tidak, Hyung?"
"Boleh..."
Yoongi malah memenangkan hatinya. Yoongi belum tahu tabiat adik saya. Kalau sudah diberi hati, minta jantung. Kalau Yoongi terlalu baik, melunjaklah dia.
Ponsel adik saya dikembalikan setelah Yoongi mengetikkan nomornya di sana.
"Akan kusimpan ini. Kapan-kapan aku akan datang lagi ke Seoul untuk menemuimu, Hyung cantik."
"Tidak usah! Tidak usah! Kuliah saja yang rajin!"
"Apa sih, Jimin-hyung ini! Kau jealous ya?"
Ingin rasanya saya usir dia segera. Kalau sudah begini, adik saya tak ada bedanya dengan Jung-ssaem. Besok-besok, Yoongi mungkin akan diganggu olehnya. Saya tak bisa membayangkan kalau nanti adik saya tahu-tahu menelepon Yoongi tengah malam untuk menanyakan kabar, mengobrol dan menggombalinya...
"Nak, kalau kau mau yang seperti Yoongi, nanti Ibu carikan. Jangan berebut dengan kakakmu, Ibu pusing."
Saya tak tahu Ibu sedang membela saya atau membela dirinya sendiri. Dia terlihat capek dengan pertengkaran kami. Kalau Yoongi, hanya tertawa-tawa saja. Mungkin baginya saya dan adik saya terlihat konyol.
"Ibu pulang ya? Kalian baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa tolong kabari. Dan, sampaikan salam Ibu untuk orangtuamu di Daegu ya, Yoongi."
"Iya, Bu."
Saya dan Yoongi membantu Ibu membawakan tas dan barangnya sampai ke bawah. Di pinggir jalan saya menyetop taksi. Adik saya duduk di depan, Ibu di belakang.
"Dadah Jimin, dadah Yoongi!"
Ibu melambaikan tangan pada kami. Adik saya juga turut melambaikan tangan, tapi bukan pada saya melainkan pada Yoongi seorang, disertai bonus flying kiss untuknya. Sial! Ingin sekali saya lempar bocah kurang ajar itu dengan sandal!
Taksi semakin menjauh dan tak lagi terlihat setelah berbelok.
Saya menghela napas. Setelah ini masih banyak yang harus diurus. Oh ya, besok senin pula. Saya harus mengajar di sekolah.
"Jimin."
"Hm?"
Ketika Yoongi tertawa kecil, saya baru sadar kalau sedari tadi tangan saya bertengger di pinggangnya. Padahal mau saya lepaskan karena takut dia merasa risih, tapi tangannya menarik tangan saya supaya memeluk pinggangnya lebih erat. Dia merapat dan bersandar kepala di bahu saya dengan manja.
"Ternyata kau posesif juga, ya? Apa selama ini kau tak nyaman tiap aku dekat dengan orang lain?" Yoongi bertanya dengan polosnya. "Siapa saja yang kau cemburui?"
Saya mengulum tawa di bibir.
Jawabannya adalah semua lelaki di muka bumi.
...Whats on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
.
.
.
.
.
.
Halo. Maapkan saya yang udah lama banget membiarkan epep ini menggantung tanpa lanjutan. Semoga ke depannya saya bisa nyicil lanjutin yang chapteran walau setiap hari waktu saya habis buat kerja lembur bagai quda. Ini kebetulan aja lagi libur panjang aja makanya bisa nulis. Kalo libur biasa mah dipake buat molor hwhwh.
Jangan bosen-bosen sama Park-ssaem ya... cerita ini mungkin masih akan berlanjut entah sampai kapan...
