What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
"Karena kita adalah guru-guru berjiwa muda, mari kita pergi ke bioskop untuk menonton film yang sedang hits sekarang ini bersama-sama!"
"Yaaayy!"
Lima orang guru makan bersama di satu meja di kantin sekolah. Empat dari lima orang itu bersorak. Satu yang tidak adalah saya. Saya celingak-celinguk melihat sekitar sebab takut menjadi pusat perhatian. Di jam makan siang kantin ramai dan apa yang saya takutkan benar terjadi. Hampir semua yang ada di kantin melihat ke arah kami. Kawan-kawan saya seperti tak sadar akan hal itu. Mereka tetap bercengkrama sambil tertawa membahas film yang (rencananya) akan kami tonton sepulang mengajar. Yang mencetuskan ide adalah Jin-ssaem. Saya paham kalau dia pasti jenuh setiap hari berdiam di sarangnya yang bau obat. Tapi, mengumumkan acara kami di depan banyak orang rasanya bukan sesuatu yang bagus.
Saya colek paha Yoongi untuk minta perhatian. Dia menoleh.
"Ada apa?"
"Kau yakin mau ikut menonton bersama mereka?" bisik saya.
"Mau. Bukankah ini akan menyenangkan? Pergi ramai-ramai bersama teman-teman. Memangnya kau tidak mau ikut?"
"Aku-"
"Ikut saja Park-ssaem ... jangan jadi orang kurang gaul. Masa' pulang mengajar diam di rumah saja? Sekali-kali ayo jalan ke mal, berbelanja, makan bersama, nonton film di bioskop."
Saya memicingkan mata untuk Kim-ssaem yang tahu-tahu menyahut. Dia memang tukang menguping, sukanya iku-ikut dalam pembicaraan orang. Padahal tadi dia sedang tawa-tiwi dengan Jin-ssaem dan Jung-ssaem.
"Min-ssaem, Anda ikut, kan? Kalau Anda mau popcorn nanti saya belikan. Yang ukurannya ekstra besar."
"Jung-ssaem ... tidak perlu..." Yoongi menolak secara halus. Jung-ssaem tetap senyam-senyum mengaguminya. Rasanya saya ingin menumpahkan bubur kacang yang sedang saya makan ke ubun-ubun guru sastra itu.
"Sepertinya ada seseorang yang tak begitu senang dengan rencana ini. Kenapa Park-ssaem? Apa Anda sedang banyak pikiran?"
Ucapan Kim-ssaem membuat sendokan bubur saya tertahan di ujung lidah. Saya diam menatap empat orang di sekitar saya secara bergantian. Mendadak hening di meja kami.
"Jimin, ayo ikut saja. Aku tak mau kalau kau tak ikut." Yoongi memegang tangan saya.
Tak sangka, Jung-ssaem menyahuti. "Saya juga tak mau ikut kalau Min-ssaem tak ikut."
"Kalau Park-ssaem tak ikut, Min-ssaem tak ikut, dan Jung-ssaem juga tak ikut, sisanya hanya saya dan Namjoon berdua, dong?" Jin-ssaem melirik Kim-ssaem.
Guru bahasa Inggris itu menyahuti. "Apa bedanya dengan kencan kita yang kemarin-kemarin? Batalkan saja kalau memang sisanya hanya kita berdua."
"Ah! Jangan! Saya mau ikut! Saya suka berkumpul dengan Anda sekalian. Saya ingin menghabiskan waktu bersama Anda-anda lagi seperti waktu itu, waktu kita sama-sama minum di kedai!" Yoongi nampak tak rela kalau acara ini sampai batal.
"Kalau begitu kita minum saja, jangan nonton film." Ide ini keluar dari mulut Kim-ssaem.
"Ayo minum bersama!" Jung-ssaem menepuk tangannya satu kali, mukanya senang. Dia melihat Yoongi sambil tersenyum lebar. Tulang pipinya jadi menonjol. Saya diam-diam hanya menatap tajam. Saya tahu kalau toleransi alkoholnya tidak seberapa. Dia paling payah kalau urusan minum. Tapi gelagatnya ... aduh.
"Tapi ... ingin nonton film," ucap Jin-ssaem merajuk. Bibir tebalnya mengerucut. Bentuknya seperti hati. Sambil menyendok bubur saya kagumi itu. Pst, jangan katakan pada Yoongi.
"Kalau begitu lebih baik kita minum sambil nonton film. Filmnya tidak usah yang sedang tayang di bioskop. Yang pernah ditonton saja, yang sampai sekarang masih disukai. Tivi di rumah saya layarnya cukup lebar untuk kita menonton bersama. Bagaimana?" Kim-ssaem bertanya pada kami, tapi melihatnya pada Jin-ssaem.
Si dokter itu kerucut bibirnya mengendur pelan-pelan. Dia mengangguk setuju. Entah mengapa saya sedikit iri pada mereka, sebab ketika melirik ke samping Yoongi tak juga dijauhi oleh Jung-ssaem. Si guru sastra itu masih betah duduk merapat pada calon istri saya.
"Itu ide yang bagus. Kita bisa menonton film lama, tinggal sewa DVD," kata Jung-ssaem.
"Tapi apa semua ikut? Kalau seperti tadi sih, percuma saja," timpal Kim-ssaem. Mata saya dan Kim-ssaem berserobok. Dia menopang dagu menunggu saya menjawab. Satu tangannya iseng mengacungkan sedotan bekas ke ujung hidung saya. "Park-ssaem?"
"Ya sudah saya ikut," ucap saya setengah hati.
"YAAY!"
Kawan-kawan saya bersorak. Yang paling keras adalah Kim couple. Sebab dengan ikutnya saya, Yoongi dan Jung-ssaem juga masuk ke daftar orang yang akan hadir.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Sore, waktu saya kembali ke ruang guru habis mengajar di kelas terakhir, banyak kursi yang kosong. Sebagian guru sudah pulang. Hanya sisa beberapa orang. Mereka masih berkutat dengan pekerjaannya yang belum selesai.
PE di kelas terakhir cukup menguras tenaga karena saya mesti jadi wasit tanding basket. Saya sempat salah perhitungan karena telah mendahulukan pertandingan antara para siswi. Seharusnya saya dahulukan saja yang laki-laki. Sebab, anak lelaki lebih bersemangat, ritmenya bagus. Mereka sangat enerjik. Lain dengan perempuan yang lebih banyak teriak-teriaknya ketimbang memasukkan bola. Kalau saja saya taruh pertandingan anak perempuan di akhir, saya mungkin tak akan berkeringat begini. Lewat di belakang Yoongi pun saya bahkan sedikit was-was, takut bau badan saya menyengat tercium sampai ke hidungnya.
"Jimin~"
Saya tak tahu kenapa ujung panggilan itu bernada. Dia seperti senang saya kembali ke ruang guru.
"Sore, Yoongi."
"Sore juga. Baru selesai mengajar?"
"Hu-um." Saya mengangguk seraya duduk pelan-pelan. Jaket saya rapatkan, takut kalau dibuka, bau tak sedap menguar kemana-mana.
Dari balik sekat saya intip dia. Yoongi menunduk, tangannya sibuk menulis. Kacamatanya entah sengaja entah tidak, ada di ujung hidung. Itu sedikit merosot dan dia terlihat lucu.
"Kau sedang apa?"
Dia sadar kalau saya memandanginya. Dengan gugup saja menjawab. "Eng... menunggumu?"
"Jimin, kau pulang duluan saja. Tidak usah menunggu aku. Jadwalmu sudah kosong, bukan? Aku masih harus mengecek tugas murid-muridku. Ini banyak," kata Yoongi, sambil mengangkat tangan dan menunjukkan beberapa lembar kertas pada saya.
"Apa aku diusir?"
"Aku tidak mengusiir!"
Alisnya menyatu dan bibirnya maju. Kalau diingat-ingat, ketika merajuk Yoongi sering seperti ini. Bibirnya maju-maju mengerucut. Sungguh mengundang...
"Aku takut kau lelah dan bosan. Lagipula nanti malam kita akan bertemu lagi di rumahnya Kim-ssaem."
Saya memutuskan untuk menurut saja. "Kalau aku pulang sekarang, nanti kau mau kujemput?"
"Aku pergi sendiri saja, tak apa."
"Memangnya kau tahu rumahnya Kim-ssaem?"
"Aku bisa tanya." Yoongi menunjuk pada Kim-ssaem yang ternyata masih ada di kursinya.
"Kujemput saja ya?"
"Tidak usah... sudah pulanglah, mandi. Kau bau."
Ketika saya mencium ketiak, Yoongi tertawa puas.
"Pulang dan mandilah. Aku suka lelaki yang bersih, rapi dan terawat."
Senyumnya manis sekali, tapi saya jadi tersindir karena saya adalah lelaki yang tak cukup bersih, rapi dan terawat. Mandi saja kadang butuh waktu lama sebab saya perlu mengumpulkan motivasi untuk menyentuh air. Tapi, daripada membantah, saya pilih untuk turuti keinginannya. Saya pun membereskan meja, memasukkan barang-barang bawaan ke tas dan bersiap untuk pulang. Saya mengitari meja untuk sampai padanya.
"Kalau begitu aku pamit, ya," ucap saya.
Yoongi menengadah dan hendak memegang tangan saya, tapi saat itu pula pena yang dia tinggalkan di meja jatuh tersenggol siku.
"Jatuh," katanya.
Saya segera berjongkok untuk mengambilnya. Pena itu menggelinding ke kolong meja. Saya mesti membungkuk. Dengan sedikit menjulurkan tangan saya dapatkan si pena. Saya mundur sedikit untuk menegakkan badan. Hanya saja, ketika saya keluar dari kolong dan membalik badan, muka saya disapa dada Yoongi.
"Eh, maaf, maaf!" Dia mendorong kursinya mundur sembari menutupi dada dengan tangan. Saya terpaku di tempat dengan kepala yang masih memproses kejadian barusan. Mungkin saja ketika saya masuk ke kolong, Yoongi turut membungkukkan badannya untuk memastikan apakah pena itu dapat saya jangkau atau tidak.
Ini rejeki tak terduga. Wangi cologne Yoongi rasa-rasanya masih tercium di hidung.
"Ini penanya."
"Terimakasih."
"Aku pulang sekarang."
"Hati-hati, ya."
Sekelebat ide saya dapatkan ketika saya mau berdiri. Lantas saya pun menahan diri dan tetap berjongkok di depan Yoongi. "Apa aku boleh dapat ciuman?" pinta saya dengan suara pelan. "Ciuman pamit."
"Ini saja." Yoongi mengecup ujung-ujung jarinya, lantas dia memberikan bekas kecupannya pada saya. Jari-jari itu dia taruh di bibir saya dengan sedikit tekanan. Ganti ciuman, katanya. Dia hanya tertawa karena kemesraan kami mesti ditahan dulu. Bukan tempat yang tepat untuk itu, saya seharusnya tahu. Walau sembunyi-sembunyi pun pasti ada saja mata yang diam-diam melihat.
"Mesranya."
Tuh, kan.
"A-apa, sih, Kim-ssaem?" Saya jadi malu. Padahal seingat saya dia sedang khusyuk menulis. Ternyata cuma tangannya yang di sana, matanya tidak.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Seperti yang diminta Yoongi, saya mandi dan berbenah diri sebelum berangkat menemui teman-teman saya di malam hari. Saya tiba di rumah Kim-ssaem sekitar pukul tujuh. Waktu hendak mengetuk pintu saya diam dahulu sambil memegang helm yang sudah dilepas.
"Ah, Namjoon, sakit. Berhenti, pabbo!"
Saya mendengar suara Jin-ssaem. Di jendela ada sedikit celah dari tirai yang tak tertutup sempurna. Karena ingin tahu apa yang sedang Jin-ssaem lakukan di dalam sana, diam-diam saya mengintip.
"Pelankan suaramu, nanti tetangga dengar."
"Biar saja mereka dengar! Biar kau digerebek!"
"Ssst!"
"Sudah hentikaaan ... please..."
Selama saya bekerja di satu sekolah yang sama dengan Jin-ssaem, baru kali ini saya mendengar dia memohon dengan lirihannya yang bernada-ah, saya tak mau bilang. Saya meneguk ludah waktu tahu apa yang ternyata sedang dilakukannya bersama si empunya rumah.
Iya, mereka sedang bercumbu! Apa lagi?
"Kau mau membuatnya membiru...?"
Jin-ssaem yang berebahan di lantai itu memegangi lengan bagian dalamnya sembari merengut sakit. Saya lihat memang ada bekas-bekas kebiruan di sana. Kim-ssaem cuma jilat-jilat bibir seperti habis memakan sesuatu. Mendadak saya jadi tegang. Di balik jendela saya yang dapat seintipan adegan plus-plus dari sepasang guru itu hanya bisa menutup mulut.
Brang! Sayang ketika mau mengangkat tangan, helm yang tergantung di lengan saya membentur kaca dan membuat gaduh. Mereka di dalam sana seketika menoleh. Mereka menemukan saya!
"Siapa itu?!"
Kim-ssaem berteriak. Dia bangun. Sebelum dia meraih kenop pintu saya buru-buru lari. Saya mau kabur. Saya telah mengintip percumbuan sepasang kekasih dan itu tak seharusnya saya lakukan! Aaah, malah saya yang jadi malu!
"Lho? Pak-ssaem! Park-ssaem, ya?!"
Dang, dang, dang! Saya menuruni tangga. Kim-ssaem masih memanggil. Saya takut dia akan marah dan menghajar saya karena telah mengintipnya. Saya tak berhenti berlari. Sial, sebelum berhasil menapaki anak tangga terakhir, Kim-ssaem menangkap lengan saya.
"Park-ssaem!"
Saya hendak menoleh, tapi takut. "Anu ... Kim-ssaem..."
"Sepatunya ketinggalan!"
Saya terbelalak, lalu menatap ke bawah. Oh, benar. Sebelah kaki saya tak beralas. Waktu menoleh ke belakang, Kim-ssaem mengangkat sepatu saya tinggi-tinggi.
"Sepatunyaa...," kata Kim-ssaem.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Saya berakhir di dalam rumah Kim-ssaem, duduk bersila setengah kikuk. Tivi bersuara cukup keras. Saat itu sedang tayang drama kolosal. Pria-pria kekar menggeram ayunkan senjata. Kim-ssaem memegang rimot di atas meja.
"Saya ... tidak sangka kalau Anda akan datang cepat." Dia bicara sembari membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot. Sesaat dia melirik ke arah dapur di mana Jin-ssaem sedang memasak.
Saya tak tahu apakah itu cara Jin-ssaem untuk menghindari saya karena kejadian tadi. Mungkin dia malu. Ah, tapi saya pun malu. Bukan salah dia atau Kim-ssaem yang bermesraan. Mereka punya hak untuk melakukan itu. Saya saja yang mungkin datang di saat yang kurang tepat. Malah rasa-rasanya, saya telah mengganggu keasyikan mereka.
"Maafkan saya."
Kim-ssaem mengibaskan tangan. Dia tahu maksud maaf saya untuk apa. "Tak apa. Itu bisa dilanjut nanti."
Tanggapannya membuat saya tertohok. Dilanjut nanti? Lalu lanjutannya bakal sampai mana? Sedang tadi saja mereka sudah hampir bertindihan di lantai (meski masih pakai baju). Tiba-tiba terbayang Jin-ssaem yang telanjang dan dia mengatakan 'please' lagi.
"Park-ssaem? Jangan dipikirkan! Waah, Anda ini!"
Saya digebuk boneka. Kim-ssaem nampak sedikit marah. Wajar memang, barusan saya sudah mengkhayalkan kekasihnya. Harusnya saya khayalkan Yoongi saja, bukan Jin-ssaem. Aduh, gara-gara sekelebat bayangan tadi, ketika melirik Jin-ssaem di dapur pikiran saya jadi berantakan.
Kim-ssaem beralih mengganti saluran tivi. Lalu saya menatap boneka Ryan yang tergeletak di meja. Dia seperti sedang menertawakan saya
"Yang lain kemana?" tanya saya, memulai percakapan.
Kim-ssaem membalik badannya sebelum menjawab pertanyaan saya. Dia mengapit boneka Ryan itu di ketiak. "Yang satu diare gara-gara makan ayam pedas. Yang satunya saya tidak tahu. Saya pikir Park-ssaem lebih tahu?"
"Hah?" Saya diam mencerna perkataannya. Dari tiga orang selain kami, satu di dapur, satu diare, dan satu sayalah yang paling tahu. Siapa?
"Park-ssaem, apa Anda perlu berpikir dulu untuk itu?"
"Astaga!"
Kim-ssaem menyadarkan saya bahwa Yoongi-lah orang yang dia maksud. Saya buru-buru merogoh saku celana untuk mengecek ponsel. Seperti yang saya duga, benar ada pesan darinya yang masuk ke nomor saya sejak setengah jam yang lalu. Saya sama sekali tidak menyadarinya. Saya tidak tahu karena dalam perjalanan saya tak pernah sengaja menepi untuk sekedar melihat ada pesan masuk atau tidak.
Jimin, aku tak bisa pergi ke rumahnya Kim-ssaem, maaf ya. Ibunya Taehyung minta aku membantu menyiapkan idangan untuk acara kumpul keluarga di rumahnya. Aku tak enak kalau mesti menolak. Sampaikan saja salamku untuk yang lain. Selamat malam Sabtu!
Begitu yang tertulis. Saya menghela napas. Kalau tahu begini, saya tak akan datang ke rumahnya Kim-ssaem. Andai saja Yoongi mau saya jemput, dan saya mendatangi rumahnya, saya mungkin akan ikut dengan dia membantu mengurusi idangan untuk acara keluarganya Ibu Taehyung. Saya sedikit menyesal karena terlambat tahu. Melihat Jin-ssaem yang meletakkan panci sup kimchi di atas meja, saya jadi tak enak hati karena merasa telah mengganggu malam sabtunya dengan Kim-ssaem.
"Apa saya mesti pulang saja, ya?" kata saya ragu.
"Eh! Mau kemana, baru juga datang! Makan dulu!" sahut Jin-ssaem. Nadanya sedikit tinggi, mungkin kaget karena saya baru saja datang tapi sudah berniat pulang.
"Kalian saja yang makan, saya lebih baik pulang."
"Park-ssaem ini batu, ya? Tidak mau menurut." Kim-ssaem menggelengkan kepala. Dia mengambil mangkuk nasinya dengan santai.
"Tapi saya-"
Belum selesai saya bicara, Jin-ssaem sudah memotong. "Tidak ada tapi-tapi. Duduk dan makan!"
"O-oke..." Tangan saya disambar. Mau tak mau saya duduk satu meja dengan mereka.
Tutup panci Jin-ssaem buka, menguarlah aroma daging dan kimchi yang sedari tadi hanya tipis-tipis lewat di hidung. Mendadak perut saya lapar. Tapi saya tak mau akui ini. Malu karena tadi sudah berniat pulang.
"Ayo, Park-ssaem, makan!"
"Jin-ah, kau galak sekali. Kau lapar ya?"
"Iya! Tidak usah tanya!"
"Kalau kau lapar, aku juga."
"Ya sudah kalau lapar, makan nasimu, jangan curhat!"
"Lihat dia, Park-ssaem. Kalau perutnya lapar, dia akan menjadi naga. Semua disembur api."
Pacarnya menyalak-nyalak, Kim-ssaem malah laporan pada saya. Dia senyam-senyum bahagia. Sungguh aneh. Kalau Yoongi seperti Jin-ssaem, saya tak yakin masih bisa hidup tanpa penyakit. Penyakit batin.
"Aku mau ambil rice cooker dulu. Takutnya kalian mau tambah nasi nanti."
Setelah Jin-ssaem jauh, saya berbisik. "Tapi Anda suka, bukan?"
"Iya, itulah yang membuat saya jatuh cinta padanya."
"Saya tak tahu apa bagusnya dimarahi, Kim-ssaem. Anda pernah bilang kalau Anda jatuh cinta pada Jin-ssaem ketika dia sedang marah, kenapa itu?"
"Tak tahu. Tak ada alasannya." Dia menggedikkan bahu. "Lagipula, saya merasa lebih cocok dengan orang seperti Seokjin. Dia akan memarahi saya seandainya saya melakukan sesuatu yang salah atau yang tak dia sukai. Saya tak akan tahan seandainya saya punya kekasih seperti Min-ssaem."
"Tak tahan?"
"Iya, tak tahan. tak tahan ingin menggaulinya."
Pletak! Tiba-tiba dari belakang kepala Kim-ssaem dipukul dengan sendok nasi. Saya belum sempat marah. Saya keburu terkejut karena tahu-tahu Jin-ssaem sudah kembali (dengan peringatan berupa pukulan sendok itu).
"Jangan bicara hal tak senonoh tentang orang lain, dasar tidak sopan."
Saya melihat ada rona merah di pipi Jin-ssaem.
"Aku hanya bercanda, Jin-ah ... aku mau bilang kalau Min-ssaem itu terlalu lembut dan menggemaskan untukku...," bela Kim-ssaem.
"Oh, begitu, jadi kau suka yang bagaimana?"
"Suka yang seksi dan gahar seperti kamu."
"Grrr!" Tiba-tiba Jin-ssaem menggeram.
Saya tak kuasa untuk tidak tertawa. Jin-ssaem kalau dipancing malah makin menjadi.
"Ini nasi Anda, kalau nanti mau tambah, bilang."
"Iya, terimakasih."
Melihat Jin-ssaem yang menyodorkan mangkuk nasi, saya teringat Yoongi. Yoongi yang lemah lembut lebih lemah lembut lagi ketika dia sedang di dapur atau di meja makan. Jin-ssaem yang galak pun kalau sedang begini punya sisi lembut juga.
Waktu saya mau mengambil sumpit, Jin-ssaem bicara begini. "Omong-omong, bagaimana hubungan Anda dengan Min-ssaem?"
"Eh?"
"Kemajuannya. Terakhir kali Anda cerita pada saya, Anda mau melamarnya bukan? Lalu waktu itu Anda juga sempat ikut ke kampung halamannya Min-ssaem di Daegu. Jadi, sudah sampai mana?"
"Saya... saya sudah melamarnya, dan kami sudah minta izin orangtua. Ayah dan Ibu Min-ssaem ingin kami menikah sesegera-"
"Park-ssaem, ternyata Anda melesat cepat seperti kilat!" Dia mengguncang-guncang bahu saya. Untung mangkuk nasi di tangan tidak terlepas.
"Saya belum selesai bicara, Jin-ssaem. Tolong jangan memotong..."
"Saya terlalu exited! Senang saja rasanya melihat guru yang populer tapi culun seperti Anda ini ternyata bisa melangkah lebar-lebar untuk sampai ke tujuan!"
"...Jin-ssaem..." Ingin rasanya mengumpat. Dia senang, tapi dalam kalimatnya itu terselip kata-kata yang bikin kesal. Culun... Apa benar saya culun?
"Lalu Anda dan Min-ssaem akan menikah di mana dan kapan? Sudah diputuskan?"
Saya reflek mengengok pada kalender yang terpajang di dinding. Kapan? Di mana? Saya bahkan belum memikirkan tentang itu. Entah dengan Yoongi.
"Apa saya mesti biarkan Min-ssaem yang memutuskan?"
"Anda ini ... mau jadi suami macam apa kalau keputusan penting mau begitu saja Anda serahkan pada calon istri Anda?" kata Kim-ssaem. Saya meliriknya.
Jin-ssaem mengerutkan dahi. "Memangnya calon istri tak boleh memilih?"
"Bolehnya menurut," jawab guru bahasa Inggris itu.
"Ih!" Jin-ssaem mengangkat sumpit hendak mencolok mata Kim-ssaem. Tapi itu hanya lagak, tidak benar-benar dia lakukan.
"Saya sama sekali belum membicarakan itu dengan Min-ssaem. Secara serius."
"Bicarakanlah. Bukankah sudah mantap? Kenapa tidak disegerakan? Kalau kalian cepat menikah, kan kami pula yang senang," ujar Kim-ssaem. Ooh, hati saya menghangat. Meski teman-teman saya adalah orang-orang yang tak bisa saya bilang waras, tapi merekalah yang paling peduli. Sejak awal mereka yang telah mendukung saya. Bahkan Jung-ssaem yang sering menggoda Yoongi pun punya andil. Seharusnya memang saya bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka ini.
"Nanti tinggal cerita-cerita habis malam pertama."
Tapi saya tak mesti bersyukur untuk bagian ini. Kim-ssaem entah terlalu mesum atau apa. Hal seperti malam pertama apa harus diceritakan pada orang lain? Ada-ada saja memang.
Lalu, makan malam itu kami habiskan bertiga. Setelah kenyang, kami hanya berleha di depan tivi. Jin-ssaem berebahan sembari memainkan game di ponselnya. Saya memandang dia. Bibirnya mengerucut beberapa kali. Mungkin karena dia salah pencet tombol atau kalah dalam permainan. Sedikit dari biru di lengannya bisa saya lihat kala dia mengangkat tangan. Kim-ssaem mungkin sering melakukan itu padanya. Kalau saya, baru sekali saja sudah hampir dihajar oleh kakak Yoongi. Untung gara-gara itu kami disuruh segera menikah. Kalau disuruh berpisah? Hih, saya tak mau membayangkannya.
Malam semakin larut dan saya tak ada niatan untuk menginap. Acara nonton DVD pun tak jadi pula. Kim-ssaem hanya gonta-ganti saluran karena tayangannya tak ada yang seru.
"Kim-ssaem, Jin-ssaem, saya pulang, ya?"
"Ya sudah kalau mau pulang, pulang saja cepat. Saya mau bikin anak dengan Jin-ssaem."
Saya sedikit tersinggung. "Jadi Anda memang menunggu saya pulang?"
"Iya. Kan saya sudah bilang dari awal kalau saya mau lanjutkan yang tadi itu."
"NAMJOOON!"
Begitu Jin-ssaem mengaum, saya buru-buru berpamitan. Setelah pintu ditutup, suara mereka masih terdengar sampai ke luar. Mereka bertengkar. Kadangkala saya heran mengapa hubungan mereka bisa bertahan lama. Kim-ssaem dan Jin-ssaem sudah berpacaran kurang lebih tiga tahun. Selama itu pula mereka tak pernah berubah. Kim-ssaem tetap menjadi guru bahasa Inggris yang mesum, dan Jin-ssaem tetap menjadi dokter yang pemarah. Mereka tak jarang ribut karena hal sepele. Tapi itu tak menjadikan hubungan keduanya menjadi rapuh. Saya sering melihat mereka bersenda-gurau, padahal kemarinnya habis bertengkar. Mereka tertawa-tawa seolah-olah, yang diributkan kemarin hanya catatan tak penting.
Orang bilang hubungan sepasang kekasih harus berdinamika supaya tak membosankan. Saya berpikir, apakah hubungan saya dengan Yoongi sudah berdinamika? Pengalaman masa lalu saya tak banyak membekas hingga saya tak tahu apa yang disebut dinamika itu. Lagipula, saya sudah melangkah jauh. Apakah bekal saya sudah cukup untuk membina hubungan yang lebih serius dengan Yoongi?
Saya akan menikah dengannya, dan itu butuh persiapan yang matang. Moril, materil. Semuanya. Selama ini saya sering tak yakin pada diri sendiri. Sekarang mantap, besok ragu lagi. Sedang orang-orang di sekitar mau saya terus maju, tak diam di tempat apalagi menunggu. Saya seharusnya sama seperti mereka, atau bahkan lebih. Saya yang berencana dan saya pula yang akan melaksanakannya. Harusnya saya percaya diri saja, ya. Betul, kan?
Ah, Park Jimin, sebentar lagi kau akan jadi suaminya Min Yoongi. Tidak usah bertele-tele.
Sebelum sampai ke tempat saya memarkirkan motor, saya memutuskan untuk menelepon Yoongi untuk mengatakan sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam benak.
"Ada apa Jimin?" jawabnya setelah semenit saya menunggu.
"Yoongi, aku ingin menikah di bulan September tanggal tiga."
.
.
.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
Halo, guru cadut is back! Maapkan apdetnya yang molor banget. Saya nggak punya banyak waktu dan motivasi untuk menulis. Sehari-hari qerja lembur bagai qudanil. Giliran weekend tepar. Yang nunggu notif murudul dari Kuncen harap bersabar saja. Doakan semoga saya nggak mesti lembur-lemburan lagi TT
