"Kalau begitu... besok datang ke rumahku. Kita bicarakan ini."

.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Saya sengaja datang ke rumah Yoongi menjelang jam makan siang. Hitung-hitung menumpang makan, tak ada salahnya, bukan? Lagipula kesempatan bagus harus diambil. Yoongi tak akan pernah membiarkan tamunya kelaparan. Saya yang membawa perut kosong ke rumahnya sudah pasti akan disuguhi makanan. Dia bilang kalau saya ingin makan sesuatu, tinggal katakan saja, nanti dia akan buatkan. Saya terpikirkan kalau nanti-nanti saya mungkin akan minta dibuatkan katsudon dan lain-lain.

Sayang makan siang kala itu tak jadi momen romantis yang bisa kami nikmati berdua. Kadang saya bertanya-tanya mengapa kami sulit terbebas dari yang namanya gangguan.

"Min-ssaem saya tidak suka brokoli."

Kali ini, yang mengganggu adalah Taehyung. Bocah itu ikut makan bersama saya dan Yoongi. Katanya karena semalam rumahnya ramai, dia sengaja mengungsi supaya bisa tidur nyenyak. Jadi sementara Yoongi membantu ibunya, dia enak saja tidur di sini. Dan sampai siang ini, dia tak juga pulang.

"Makan saja, sayur itu bagus untuk percernaanmu."

"Tapi saya tidak suka. Wortel juga tidak suka."

"Apa sayurnya mesti dicincang lalu dicampur ke dalam perkedel baru kamu mau makan?"

"Ya, nanti buatkan."

Nanti buatkan...?

Sedikit saya merasa cemburu. Padahal bocah tengil itu bukan anaknya, bukan apa. Tapi dengan seenaknya dia minta dibuatkan perkedel pada Yoongi. Keinginan saya untuk minta dibuatkan katsudon saja bahkan belum terlaksana, tapi sudah keduluan oleh dia.

"Tapi sekarang makan ini dulu." Yoongi hendak menyuapi Taehyung dengan sedikit memaksa. Tapi bocah itu menggeleng tak suka.

"Iiih ... tidak mauu... Park-ssaem saja yang makan." Dia menunjuk saya dengan ujung-ujung sumpitnya. Lalu saya melirik mangkuk saya sendiri. Tak ada brokoli atau sayur lainnya yang saya taruh di atas nasi. Cuma daging.

"Tidak mau?" tanya Yoongi ketika saya hanya diam saja.

"Eh, aku-"

"Hah, ya sudah. Aku saja yang makan." Dia menyela sebelum saya sempat untuk bicara. Yoongi mengunyah potongan brokoli itu dengan sedikit kecewa. Saya jadi merasa bersalah...

"Aku... aku akan makan, kok!" kata saya, mencoba memenangkan hatinya.

"Bukannya kau tak suka?"

"Aku memang tak begitu suka sayuran tapi aku akan makan." Saya mengambil sepotongan brokoli. Bentuknya seperti pohon beringin. Aneh. Terbayang rasanya yang pahit. Tapi demi Yoongi saya mesti memakannya. "Lihat? Aam. Aku makan."

"Jangan memaksakan diri..."

"Tidak apa-apa."

"Tapi aneh juga, kenapa guru olahraga seperti Park-ssaem tidak suka sayur? Berarti Park-ssaem tidak benar-benar menjalankan gaya hidup sehat, dong?" celetuk Taehyung.

Saya tercenung. Omongan anak ini ada benarnya. Sehari-hari saya memang lebih suka makan ramen dan makanan instan lainnya.

"Omong-omong... soal yang semalam itu, nanti kita bicarakan setelah makan, ya?" kata Yoongi. Saya berhenti mengunyah. Sejenak saya lupa kalau kedatangan saya kemari bukan hanya untuk minta makan tapi juga untuk membicarakan tentang pernikahan kami.

"Soal yang semalam apa, Min-ssaem?"

Pertanyaan polos Taehyung membuat saya dongkol. Memang tak seharusnya bocah itu ada di sini. Saya jadi tak tahan ingin bicara. "Taehyung, ini urusan orang dewasa, kamu tak perlu tahu."

"Wow! Urusan orang dewasaaa! Jangan-jangan..." Taehyung berwajah takjub. Dia melihat kami dengan mata berbinar.

"Apa yang kamu pikirkan?" Yoongi bertanya, setengah menahan tawa.

"Tapi Min-ssaem kan semalam ada di rumah saya, membantu Ibu."

"Ya memang apa yang kamu pikirkan?" Dia bertanya lagi.

Bocah itu diam. Mukanya lucu. Ingin saya tampar, tapi tak bisa. Nanti saya dilaporkan ke komisi perlindungan anak karena telah melakukan kekerasan terhadap murid. Saya tahu apa yang dia pikirkan. Benar-benar tidak sopan.

"Pokoknya ini urusan orang dewasa, kamu tak perlu tahu. Titik. Tak usah bertanya juga," tegas saya.

Tapi dia malah mengalungkan tangannya di lengan Yoongi sembari bertanya dengan nada manja memelas. "Apa, Min-ssaem, apa? Saya ingin tahuuu..."

"Tidak, ah. Saya malu."

"Min-ssaem..." Taehyung menyeruduk dan bersandar di bahu Yoongi. Saya segera menaruh mangkuk dan sumpit lantas mendoncongkan badan untuk menarik bocah itu menjauh.

"Apa, sih, Park-ssaem?"

"Tidak usah nempel-nempel begitu, Min-ssaem bukan ibumu!"

"Kalau begitu Park-ssaem yang beritahu."

"Kan saya sudah bilang kalau kamu tak perlu tahu. Sudah, habis makan, pulanglah ke habitatmu. Biarkan kami mengurus apa yang mesti kami urus."

"Min-ssaem, Park-ssaem mengusir saya," adu Taehyung. Dia memasang ekspresi mau menangis yang dibuat-buat. Saya cuma bisa menepuk dahi.

"Kami memang ada urusan penting, kalau kamu belum ingin pulang, nonton tivi saja. Atau main piano."

Setelah Yoongi bicara, bocah itu cemberut. Dia melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda. Nasinya pelan-pelan dia masukkan ke mulut. Saya tahu dia inginnya diberitahu soal apa yang hendak kami bicarakan. Tapi apa gunanya pula memberitahu anak kecil seperti Taehyung? Belum saatnya untuk mengerti hal-hal mengenai pernikahan.

Habis makan saya membantu Yoongi mencuci piring. Taehyung di ruang tengah sedang menonton tivi. Saya mau bicara dengan Yoongi setelah ini. Tapi saya bingung harus bicara di mana. Di ruang tengah, ada Taehyung. Di dapur tak ada kursi. Di meja makan, bakal kedengaran juga sampai ke ruang tengah.

"Yoongi, kita mau bicara di mana? Aku tak mau Taehyung mengusik."

"Di kamar saja. Dia tak akan berani masuk kalau pintunya ditutup."

Saya menatapnya tak percaya. Dengan cuek Yoongi mengatakan itu. Tiba-tiba terbayang banyak hal selain duduk dan membicarakan tentang pernikahan kami. Yaa, misalnya saja bercumbu seperti yang Kim-ssaem dan Jin-ssaem lakukan semalam. Atau...

Prok! Yoongi bertepuk tangan di depan muka saya. Seketika saya sadar dari lamunan.

"Hei? Kau kenapa?"

"...tidak apa-apa..."

"Aku sudah selesai. Ayo kita ke kamar."

Dia menggandeng tangan saya. Keluar dari dapur saya melirik Taehyung yang tertawa-tawa entah menonton apa. Saya pikir anak itu benar tak akan mengusik seandainya kami sudah masuk ke kamar...

...What's on Park-ssaem's Mind?...

"Semalam ... kau bilang kalau kau ingin menikah di bulan September tanggal tiga, bukan?" tanyanya.

Saya duduk di lantai, sementara Yoongi duduk di tepian ranjang.

"...ya."

"Itu hanya beberapa bulan lagi. Apa tak terlalu terburu-buru...?"

"Apa kau ingin menundanya? Kalau tak mau September, kita bisa menikah di bulan lainnya. Oktober, November, Desember, atau tahun depan-"

"Tidak, tidak, bukan begitu maksudku. Aku juga ... ingin cepat menikah denganmu. Tapi aku masih terkejut setelah semalam kau katakan itu. Tak sangka saja."

Jari-jari kakinya menekuk. Saya jadi fokus ke situ. "Aku juga tak tahu kenapa, tiba-tiba terpikirkan saja. September tanggal tiga."

"Itu tanggal yang bagus, aku suka angka tiga."

"Kau suka angka tiga?"

"Hu-um." Yoongi mengangguk. Itu menggemaskan.

"Kalau begitu apa kau juga suka kalau kita punya anak tiga?"

"He?"

Saya menepuk mulut sendiri. "Ah, maaf, abaikan saja itu. Jadi, kalau kau setuju, selanjutnya kita pikirkan mengenai tempatnya."

"Aku tak ingin ramai-ramai. Cukup dengan keluarga dan teman dekat saja."

"Kau benar. Tak perlu ramai-ramai. Lebih privat lebih sakral. Cukup orang-orang terdekat saja yang diundang. Dan itu ... di mana kira-kira? Tempat yang bagus untuk sebuah pernihakan kecil."

"Di Daegu? Di Busan? Tapi kasihan juga teman-teman kita kalau mesti pergi jauh ke luar Seoul hanya untuk menghadiri undangan."

"Kalau begitu kita menikah di Seoul saja. Kita cari tempat yang bagus."

"Cari di mana?"

"Di internet, Sayang..."

Yoongi membulatkan mulutnya. "Ooh... hehe." Dia raih ponselnya kemudian diberikan pada saya. "Ini."

Saya mulai berselancar di internet sambil bersandar punggung pada ranjang. Yoongi di belakang saya ikut melihat layar ponsel. Di Seoul ada banyak sekali pilihan tempat yang bisa disewa untuk acara pernikahan. Karena tak tahu apa-apa, saya hanya melihat-lihat ulasannya saja. Lama-lama saya jadi bingung. Mau yang ini, mau yang itu. Yang ini cocok, yang itu juga cocok. Saya pilih A, Yoongi pilih B.

Dia menopang dagu. "Pusing ya? Jadi ingin minta dicarikan saja oleh Ibu."

"Apa itu tak merepotkan?"

"Ibu akan sangat senang. Apalagi kalau sudah tahu tanggalnya. Dia akan cari tempatnya dengan semangat," ujarnya. "Tapi kita juga butuh rekomendasi. Kalau andalkan internet saja rasanya kurang bagus."

Saya dan dia mendengung lama. Sama-sama berpikir.

"Oh iya! Jung-ssaem katanya suka jalan-jalan dengan kakak perempuannya. Apa kita minta rekomendasi darinya saja ya?"

Jung-ssaem? Mendengar namanya disebut saja sudah membuat saya sensi. "Kurasa tidak perlu."

"Kenapa? Dia suka jalan-jalan! Apa perlu aku telepon dia sekarang, ya?"

"Yoongi..."

Awalnya saya kira dia memang dengan polosnya akan menghubungi Jung-ssaem. Ternyata dia cuma iseng mengerjai saya. Setelah terkikik puas, dia merebahkan diri di ranjang. Cuaca di luar sedang panas. Di siang hari seperti ini, kalau tak ada kegiatan memang paling pas untuk tidur dan bermalas-malasan. Apalagi ada ranjang. Rasanya tak salah juga mengapa Yoongi tak sesemangat saya untuk browsing.

"Kau mengantuk?"

"Tidak juga."

Sebelah kakinya menggantung di tepian ranjang. Melihat Yoongi yang berebahan, saya jadi kepingin juga. Akhirnya saya naik kasur dan mengambil tempat di sebelahnya.

"Apa kau selalu tidur seperti itu? Meringkuk," tanya saya pada Yoongi yang memunggungi.

"Kenapa?"

"Tak apa. Itu bukan masalah. Kalau tidurmu meringkuk, aku bisa memelukmu dari belakang."

Yoongi melepas tawa ringan. "Aku juga ingin memelukmu." Badannya dia balik mengahadap saya. Lantas tangan itu meraih pundak saya untuk memeluk. Kepalanya menyusup di antara leher dan dada saya. "Jimin, kamu punya tahi lalat di sini, ya?"

Tangan yang semula dia pakai memeluk, pindah memegang dada saya. Tulang selangka saya ditunjuknya. Mendadak saya seperti tersetrum. Apalagi dia bicara dan bernapas tepat di leher saya.

"Mungkin setelah menikah aku tak perlu guling karena aku punya kamu."

Dia memeluk lagi, lalu mengangkat kaki dan menaruhnya di atas pinggang saya. Perkataannya benar mengenai saya yang jadi pengganti guling. Kalau sudah menikah nanti, mungkin saya tak apa. Tapi sekarang, dalam keadaan seperti ini, saya tidak bisa katakan kalau saya baik-baik saja. Saya tidak baik-baik saja!

"Karena tidak ada pekerjaan yang mesti kubereskan, kupikir aku bisa tidur siang sebentar...," gumam Yoongi.

Saya diam. Wangi shampoo-nya merasuk. Rambut hitam legamnya yang halus membuat saya ingin mengecup. Dan tanpa pikir panjang lagi, saya memberi sebuah kecupan di ubun-ubunnya.

"Hm?"

Rupanya dia belum benar-benar tidur, karena setelah dikecup dia mengangkat kepalanya dan menatap saya dengan sirat tanya. Saya merasa seperti sedang ditatap seekor kucing.

'Yoongi, kemarin di sekolah aku tak dapat ciuman darimu. Sekarang tak ada orang yang akan menegur kita. Apa kau mau berikan ciumanmu padaku?" Saya tak tahu kenapa mulut saya bisa lancar mengatakan ini.

Dia terkekeh. "Ya."

Wajah saya ditangkup sebelah tangan. Dia mencium saya kemudian. Bibirnya dan bibir saya menempel sebentar. Saya senang, tapi rasanya masih kurang.

"Satu ciuman lagi, ya?" pinta saya.

Dia cuma tersenyum malu, lantas mencium saya lagi. Kali ini ciumannya sedikit lebih lama dari yang tadi. Tapi saya masih belum puas.

"Kalau aku yang cium, boleh?"

Yoongi mengangguk.

Saya cium dia. Entah karena dorongan saya yang terlalu kuat atau apa, posisi kami berubah. Yoongi berbaring di bawah saya. Ajakan saya untuk memperdalam ciuman itu dia sambut baik. Tangannya membelai rambut saya. Bibirnya yang lembut dan lidahnya yang basah membuat saya tak ingin berhenti.

"Mh!"

Tiba-tiba Yoongi memekik. Seketika saya melepaskan bibirnya dari pagutan. Sadar-sadar tangan Yoongi memegang pergelangan tangan saya. Lalu ketika saya melirik ke situ, ternyata...

"Kenapa kau meremas dadaku...?"

Kata-katanya membuat saya panik. Saya langsung membuang muka ke samping. Malu sekali. Waktu berniat melepaskan tangan dari pegangan Yoongi, tanpa sadar saya meremas dadanya lagi.

"Ungh...," rintihnya.

Sumpah, saya tak beniat melakukan itu!

Saya menarik tangan jauhi dada Yoongi. Lidah saya kelu. Rintihan Yoongi masih terngiang. Dia yang menatap saya dengan mata sayu itu membuat saya tak bisa berkutik.

"Jimin ... dadaku ... jadi sakit..."

"Apanya?"

"Itunya..."

Mata saya langsung jatuh pada satu titik yang mencuat di balik bajunya.

"Bagaimana ... caranya supaya tidak sakit?"

"Aku tidak tahu...," katanya resah. Dia merentangkan tangan dan menangkap saya ke dalam pelukan. Itu membuat saya menunduk lebih rendah sampai-sampai dada kami saling bersentuhan.

Alamak, kalau sudah begini? Apa yang harus saya lakukaan?

Dok, dok, dok!

"Min-ssaem saya tak mau mengganggu, tapi ada tamu!" seru Taehyung.

Saya bertatapan dengan Yoongi dan kami segera bangun. Dia dan saya turun dari ranjang. Saya membenarkan baju sementara Yoongi bercermin membenarkan muka. Dia nampak sedikit panik. Pipinya masih merah, begitupun dengan bibirnya.

"Min-ssaem?"

"Iya, Taehyung, sebentar!" serunya. Kemudian dia bertanya pada saya. "Apa aku terlihat berantakan?"

Saya menggeleng kikuk. Dia buru-buru membuka pintu dan melesat keluar kamar. Setelah bayangnya menjauh gantian saya yang bercermin. Waduh, wajah saya juga sama merahnya seperti Yoongi. Yang barusan kami lakukan kalau dilanjutkan entah bakal jadi apa. Untung juga Taehyung mengetuk pintu. Kalau tidak, mungkin saya bisa kebablasan...

Setelah memastikan kalau penampilan saya tak mencurigakan, saya keluar kamar. Saya mau cari Yoongi. Penasaran juga siapa gerangan orang yang bertamu. Kalau itu kakaknya, saya mesti menyiapkan mental.

"Kenapa kau tak kabari aku kalau kau ke Seoul?"

Di balik tembok menuju ruang tamu saya mendengar percakapannya. Yang kelihatan cuma Taehyung yang berdiri sambil memegang rimot. Yoongi mungkin saja benar-benar di depan pintu. Maka dari itu saya maju sedikit.

"Aku hanya sedang kunjungan kerja dan kebetulan punya waktu senggang. Dulu sebelum pindah, kau kan pernah memberitahu alamat rumah barumu padaku. Mumpung sedang di Seoul, sekalian saja aku mampir, hehe."

"Tapi mestinya kau kabari aku dulu, jadi aku bisa siapkan makanan untuk menyuguhimu."

"Tak apa. Kau memang tak berubah, ya. Selalu perhatian pada orang lain."

Saya terperangah. Saya melihat seorang lelaki yang asing. Dia membelai rambut Yoongi sambil tertawa. Itu bukan kakaknya. Bukan!

"Ah, Jimin!" Yoongi menoleh, menemukan saya di belakang. "Kenalkan, dia rekan kerjaku waktu aku masih mengajar di Daegu. Dia juga guru olahraga seperti kamu, lho."

"Halo, saya Kang Daniel," ucap lelaki itu, sembari mengulurkan tangannya pada saya.

Saya menyalaminya dengan ragu. "Park Jimin."

Lelaki bernama Kang Daniel itu lalu melirik Yoongi sambil menunjuk saya. "Pacarmu?"

"Iya." Yoongi menunduk malu. "Sebenarnya ... calon suamiku."

"Wah? Kau akan menikah?"

"Iya." Yoongi mengangguk.

"Kau tak pernah cerita! Aduh, maaf ya. Aku jadi tak enak..."

"Tak apa, tak usah sungkan. Jimin orang yang baik. Kupikir kalian bisa mengobrol, karena sama-sama guru olahraga. Aku akan buatkan teh dulu."

Sampai sini saya baik-baik saja karena saya pikir Daniel bukan ancaman. Lagipula dari gelagatnya, dia seperti memang tak enak pada saya. Beda dengan Jung-ssaem yang sering terang-terangan menggoda Yoongi.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

Taehyung pulang ke rumahnya. Dia bilang pada saya kalau dia tak leluasa jika ada tamu. Tinggallah saya, Daniel dan Yoongi. Daniel dan saya duduk berdua sementara Yoongi menyiapkan teh dan suguhan. Nampak sekali kalau Daniel canggung. Dia cuma tersenyum kalau tatapan mata kami berserobok. Dilihat-lihat, dia cukup tampan. Yang aneh, kenapa mesti ada saja lelaki tampan yang dekat dengan Yoongi?

"Jadi, Anda mengajar di mana?" tanyanya pada saya. Mungkin berusaha cari topik supaya duduknya kami berdua ini tak benar-benar hening.

"Di sekolah yang sama dengan Yoongi," jawab saya.

"Aah... begitu."

Sudah saja. Hening lagi. Saya sendiri tak tahu apa yang mesti saya obrolkan dengannya. Saya memilih untuk membiarkan kecanggungan ini sampai Yoongi datang. Mungkin dialah yang bisa mencairkan suasana.

"Ini tehnya." Yoongi menaruh cangkir-cangkir teh di atas meja, lalu menarik kursi dan duduk. "Sedang kunjungan kerja? Berapa lama?"

"Tiga hari," jawab Daniel.

"Omong-omong, kalian sudah mengobrol apa saja selama aku di dapur?"

Sementara saya diam, Daniel tertawa sambil meringis. Kami tak bicarakan apa-apa. Meski sama-sama guru olahraga, rasanya tak ada topik yang pas untuk diangkat. Toh, saya belum mengenalnya juga.

"Kapan ... kalian akan menikah?"

"Tahun ini, September tanggal tiga." Ini saya yang jawab.

"Waa, itu hanya beberapa bulan lagi. Selamat, selamat!"

"Kau harus datang ke pernikahan kami," kata Yoongi.

"Iya, kalau kau mengundangku, aku akan datang."

Yoongi lantas tersenyum. "Baik-baiklah di Daegu. Jangan makan junk food terus."

"Kau tahu saja aku masih suka makan junk food."

Dari pembicaraan mereka, saya bisa tebak kalau dulunya Yoongi dan lelaki ini mungkin adalah teman akrab. Partner di sekolah, bekerja bersama, atau mungkin sering juga menghabiskan waktu berdua sepulang mengajar. Sampai-sampai Yoongi tahu kalau Daniel suka makan junk food.

"Jangan karena aku pindah kemari dan tak ada yang menegurmu, lantas kau bisa hidup semau-mau," katanya lagi. Lalu dia berujar, seperti hendak bercerita pada saya. "Dulu dia begitu serampangan dan tidak acuh. Aku bahkan mengajarinya bagaimana cara mencuci baju dengan benar. Dia tak pernah mengantongi payung walau di musim hujan. Aku yang mengurusnya ketika dia sakit. Menyebalkan. Dia benar-benar tak bisa mengurus dirinya sendiri."

"Tapi terimakasih karena kau sudah mau peduli, Yoongi."

Daniel tertawa, Yoongi menyesap tehnya. Saya cuma diam memegang cangkir.

"Aku pulang."

Saya bangkit dari duduk dan meninggalkan meja makan. Tak terpikirkan apa-apa lagi kecuali meninggalkan tempat itu. Sesuatu terasa membuat dada sesak. Ubun-ubun saya panas. Saya tak pernah suka pada para lelaki yang dekati Yoongi. Tapi kali ini saya juga tak bisa salahkan Kang Daniel. Saya kesal pada Yoongi. Dia bersikap terlalu baik pada lelaki itu dan saya tak suka. Saya tidak mau Yoongi memberi perhatian seperti itu selain pada saya.

Ah, saya benar-benar ingin pulang!

"Jimin, tunggu!"

Saya terus berjalan tanpa mau mendengar panggilannya.

.

.

.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED