What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
"Jimin!"
Saya tak mau acuh.
"Tunggu dulu!"
"Apa!"
Di ambang pintu, sebelum saya benar-benar keluar dari rumahnya, Yoongi menarik tangan saya. Dia membuat saya berhenti dan sekonyong-konyong saya berteriak padanya. Dia terdiam setelah itu. Membatu. Tangan saya masih di genggamannya.
Lalu Kang Daniel datang sambil bicara begini, "Maaf kalau saya lancang. Tapi apakah perlu Anda bersikap seperti itu? Anda meninggalkan meja makan. Jangan katakan kalau Anda tak suka dengan kedatangan saya kemari."
Saya menggeleng. "Saya tidak ada masalah dengan itu. Kalian berbincanglah kembali."
"Kalau Anda tidak ada masalah, lalu kenapa Anda ingin pulang?"
"Saya akan mengganggu nostalgia dua teman lama yang temu kangen di rumah ini."
Daniel tiba-tiba tertawa, tapi wajahnya seperti jijik pada saya. "Anda bicara seolah yang kami lakukan ini salah."
"Daniel," sela Yoongi.
Lelaki itu berkata lagi. "Katanya mau menikah? Kenapa harus cemburu pada hal sepele? Dulu kami memang pernah pergi ke bioskop berdua, makan malam berdua, memasak, mengajar, dan banyak hal. Kalau Anda mau tahu, sekali waktu celana dalam saya bahkan Yoongi yang cucikan! Tapi itu tak berarti apa-apa kalau sekarang Yoongi bersama Anda, bukan?"
"Daniel, tolong jangan katakan apa-apa lagiii," kata Yoongi.
"Aku ingin katakan segala hal yang pernah kita lakukan bersama. Aku mau tahu apa calon suamimu ini sepencemburu itu."
"Jaangan!"
"Sudahlah!" Saya yang jengah melihat pertengkaran mereka. "Memang lebih baik aku pulang. Yoongi, lepaskan tanganku."
Yoongi berteriak. "Jimin!" Dia tak terima. Dia mau genggam tangan saya lagi. Tapi saat itu saya menepisnya. Lalu saya kepalkan tangan kuat-kuat. Yoongi memanggil saya untuk ke sekian kali. Dan yang ini sarat nada frustrasi. "Aah, Jimin!"
"Sampai jumpa lusa, di sekolah."
Saya tak bicara apa-apa lagi padanya. Dia pun tak lagi mengejar setelah saya mengatakan itu. Saat hendak melajukan kendaraan yang saya tunggangi, sekilas saya berbalik untuk lihat wajah Yoongi. Dia seperti mau menangis. Tapi, itu tak membuat saya urung untuk meninggalkan rumahnya. Sebab, ketika melihat Daniel yang berdiri di belakang Yoongi, kepala saya panas...
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Hari Minggu. Saya bangun jam 10 pagi. Sisa waktu di hari Sabtu kemarin benar-benar saya habiskan dengan melakukan hal tak jelas. Pulang dari rumah Yoongi, banyak yang jadi pikiran. Makan pun tak nikmat. Biasanya saya bersemangat menantikan pertandingan bola di tivi, tapi semalam saya melewatkannya begitu saja. Berebahan di kasur, mata tak kunjung terpejam. Saya baru tidur lewat jam tiga subuh. Semalaman yang terbayang-bayang hanya Yoongi dan Daniel. Saya mungkin telah terbakar cemburu. Rasanya menyiksa. Marah tapi juga ada rasa bersalah. Saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah saya sudah berlebihan? Tapi, jika saya cinta Yoongi, bukankah saya punya hak juga untuk merasa cemburu seperti ini? Apalagi Kang Daniel seolah-olah sedang menyulut api. Seolah-olah ingin lihat saya meledak. Mungkin kata-katanya dibumbui, mungkin sebagian hanya bualan. Tapi apakah salah jika saya merasa tak nyaman dengan itu?
Ah, bingung. Saya cuma menatap semangkuk sereal warna-warni yang mulai menciut karena disiram air, sebelum pintu saya diketuk oleh seseorang.
Dok,dok!
"Park-ssaem?"
Sebetulnya, tak pernah saya duga kalau dia akan datang ke tempat saya. Sendirian, tanpa teman-teman lain yang ikut serta. Waktu saya buka pintu, dia cengar-cengir. Tadinya saya ingin mengusir, tapi terlalu malas untuk mengatakan kalau saya tak suka dia berdiri di depan pintu apartemen saya. Akhirnya saya membiarkannya masuk, dan menyuguhinya segelas susu. Sedang, sereal saya melempem, tenggelam dalam lautan susu di dalam mangkuk...
"Jadi, Jung-ssaem," kata saya. "apa yang membawa Anda kemari?"
Dia menyeruput susunya, lantas menjilat sisa susu yang tertinggal di bibir. "Kakak perempuan saya pergi ke luar kota sejak kemarin. Saya kesepian di rumah."
Saya mengerutkan dahi. "Kenapa saya yang Anda datangi?"
"Oh, benar." Dia berwajah terkejut. "Kenapa malah Anda yang saya datangi, bukan Min-ssaem?"
Mendengar nama Yoongi disebut, saya berhenti menyendok makanan. Yang masih di dalam mulut jadi terasa hambar.
"Park-ssaem? Anda kenapa?"
"Tidak apa-apa." Saya berpura-pura.
"Jangan begitu, Anda seperti sedang banyak pikiran, apa Anda butuh hiburan?"
"Aish! Apa-apaan sih, Anda ini?!"
Saya menoyor kepalanya. Bukannya saya yang galak, tapi tiba-tiba dia membelai pipi saya. Geli! Mana mau saya dibelai oleh Jung-ssaem? Saya cuma mau dibelai Yoongi—oh, Yoongi. Mengingatnya hati saya sakit.
"Tapi serius, apa Anda sedang ada masalah?"
"Tidak ada."
"Bohong."
Jung-ssaem mencondongkan badan. Mukanya tepat berhenti beberapa senti di depan muka saya. Matanya berkedip. Sebelum napas kudanya berembus, saya jauhkan muka itu dengan dorongan tangan.
"Saya tidak bohong," kata saya.
"Bohoong! Park-ssaem bohong!" sungutnya tak percaya.
"Saya tidak bohong!"
"Bohong, bohong, bohong!" Jung-ssaem menggebrak meja. Lantas dia menunjuk saya. "Ayo jujur! Anda sedang masalah dan pura-pura baik-baik saja di depan saya. Cepat cerita! Kalau tidak saya akan pulang!"
"Mau pulang ya pulang saja, siapa juga yang akan melarang Anda?"
"Ahh, jangan begitu," Jung-ssaem tahu-tahu bersandar manja di bahu saya dan memeluk saya erat-erat. "saya kan datang ke sini karena kesepian di rumah. Jangan usir saya, ya Sayang..."
"Ya tapi tidak usah peluk-peluk! Apa pula itu Sayang?!"
Akhirnya pelukannya dia lepas setelah saya memaksa. Saya kembali melanjutkan sarapan yang tertunda. Sereal yang sudah tak renyah itu sama sekali tak perlu dikunyah. Begitu diseruput bersama susu, sudah langsung masuk ke kerongkongan. Jung-ssaem juga minum susunya kembali. Tapi setelah itu dia melihat saya dengan raut yang sedih. Dia seperti sedang berempati.
"Park-ssaem sedang ada masalah dengan Min-ssaem?"
Saya terdiam.
"Tuh, kan. Sudah saya duga kalau Anda berbohong. Anda ini tak punya bakat untuk menipu orang lain, Park-ssaem. Muka Anda begitu jujur. Kalau sedang senang, sedih, sedang ingin sesuatu, atau sedang memikirkan yang jorok-jorok pun semua kelihatan. Apa yang terjadi antara Anda dan Min-ssaem sampai-sampai Anda begini?"
Jung-ssaem melipat tangna di depan dada. Dia mendengus. Saya tahu kalau pun saya bungkam, dia akan tetap menunggu sampai semua keluar dari mulut saya. Tapi apa perlu dia tahu? Sedang sehari-hari, termasuk dirinya lah orang yang suka membuat saya kesal kalau dia sedang dekati Yoongi.
"Saya tak boleh tahu? Ya sudah." Dia menopang dagu di atas meja. "Omong-omong, saya sempat cerita tentang Anda dan Min-ssaem pada kakak saya. Dia bilang kenapa saya ketinggalan dari Anda berdua. Katanya lama-lama saya bisa jadi bujang lapuk kalau terus single begini. Tapi saya pikir, urusan asmara tidak bisa dipaksakan. Awalnya saya suka pada Min-ssaem, tapi setelah tahu kalau dia punya perasaan pada Anda, saya memutuskan untuk menyerah. Lagipula, menjadi temannya saja sudah syukur. Saya tahu kalau Anda mungkin sering keki melihat saya. Tapi Park-ssaem, saya tahu, sedekat apapun saya dengannya, mau saya paksa dia untuk sukai saya pun, kalau dia cintanya pada Anda, tidak akan dia berpaling pada yang lain."
Di mangkuk hanya tersisa genangan susu. Saya tercenung lama setelah mendengar tuturannya. Bahkan belum saya katakan apa yang jadi beban pikiran, tapi Jung-ssaem telah mengatakan jawaban yang saya cari. Seolah-olah, dia mengerti tanpa perlu mendengar cerita saya.
"Jadi, masalah Anda itu, cemburu?"
"S-saya mau cuci mangkuk dulu," kata saya sembari gelagapan. Mangkuk dan sendok saya bawa ke dapur. Jung-ssaem mengekori.
"Park-ssaeeemm! Katakan siapa yang sudah membuat Anda cemburu! Saya juga jadi cemburu kalau itu karena ada orang lain yang dekati Min-ssaem!"
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Karena sama sekali tak ada kegiatan berguna yang kami lakukan di apartemen, akhirnya Jung-ssaem mengajak saya untuk jalan-jalan ke alun-alun kota. Saya pikir tak ada salahnya untuk pergi, sebab berdiam diri di rumah sementara ada banyak hal di kepala sungguh membuat jenuh. Jung-ssaem bilang saya mesti refreshing. Ya, saya butuh kedamaian. Setidaknya untuk berpaling sejenak dari kerumitan hidup.
"Harusnya kita tak cuma bawa nasi kepal buatan minimarket begini," kata Jung-ssaem ketika kami tiba di taman. Dia duduk selonjor kaki di bawah pohon. Saya melakukan hal yang sama. Ada empat buah nasi kepal yang kami beli. Niatnya itu untuk camilan. Jung-ssaem membuka bungkus satu nasi kepal sambil bicara. "Lebih enak kalau bawa sepaket nasi kotak dan lauk-lauknya. Lalu menggelar alas dan piknik sambil nikmati langit cerah. Lihat, orang-orang saja melakukan itu."
"Tapi kita bukan pasangan yang harus melakukan itu."
"Saya kan bilang orang-orang, bukan pasangan, Park-ssaem."
"Tapi Anda menunjuk pasangan di sana tadi."
Yang dia tunjuk adalah sepasang suami-istri yang sedang suap-suapan roti lapis. Jadi tak salah bukan, kalau saya sebut pasangan?
"Lho? Park-ssaem? Jung-ssaem?"
Ada yang memanggil kami. Saya kenal suara itu. Tak salah lagi, Taehyung.
"Kebetulan sekali bisa bertemu di sini!" serunya. Dia mendekati kami. Mungkin dia merasa kurang sopan bicara sambil berdiri, hingga ia pun berlutut dan melepaskan seekor anjing yang tadinya sedang dia gendong.
"Kamu sedang apa, Tae?" tanya Jung-ssaem.
"Jalan-jalan dengan keluarga!"
"Mana keluargamu? Kamu hanya sendirian dengan seekor anjing."
"Mereka di bagian lain taman ini. Saya mau bawa Yeontan keliling taman. Dia milik sepupu saya. Dia bukan anjing yang penurut. Tapi kalau dia mau menurut pada saya, dia akan menjadi milik saya. Saya sedang membangun kemistri dengannya, nih, Seonsaengnim."
Saya menyeruput jus sementara Taehyung mendongeng. Sebetulnya baik saya atau pun Jung-ssaem tak ada yang tanya detailnya, tapi dia bercerita sendiri tentang dirinya dan anjing itu. Ya sudahlah. Dia memang anak yang cerewet.
"Namanya Yeontan?"
"Iya, Jung-ssaem!"
Guk, guk! Yeontan menyalak. Anjing itu tak lantas kabur meski dilepaskan pemiliknya. Dia malah jalan ke kanan-ke kiri, berputar-putar seperti sedang linglung. Kaki-kakinya begitu kecil. Kalau lari pun sepertinya tak sulit untuk dikejar.
"Dia sangat lucu. Saya ingin menggendongnya, boleh?"
"Boleh!"
Anjing itu Jung-ssaem angkat, lalu ditimang layaknya bayi. Saya dibuat tersenyum melihat interaksi mereka.
"Park-ssaem kok diam saja sih? Cuma senyum sedikit. Sedang sariawan?" tanya Taehyung. Sorot matanya penuh keingintahuan. Tapi dia polos. Saya jadi tak tega. Saya pun mengelus-elus kepalanya.
"Saya tidak sedang sariawan."
"Lalu kenapa? Bad mood, ya?"
"Tidak..." Saya menggeleng sambil mencoba tetap tersenyum padanya.
"Dia sedang ada masalah, biar saja," ujar Jung-ssaem.
"Masalah?" Taehyung tahu-tahu menatap saya dengan alis menyatu dan dahi mengkerut. Ini tanda kalau dia sedang berpikir keras. Saya sudah hapal. Tapi saya tak tahu apa yang dipikirkannya. Pada mulanya begitu. Hanya saja ketika dia berteriak, "OH! YA AMPUN SAYA JADI INGAT! KEMARIN—", saya melotot. Mendadak saya bisa tebak apa yang akan keluar dari mulutnya. Taehyung sempat menangkap mata saya sepersekian detik sebelum dia bicara dan menatap Jung-ssaem.
"Kemarin saya sempat mengintip dari beranda rumah. Saya lihat Park-ssaem pulang dan setelah itu Min-ssaem bicara di teras dengan tamunya. Tamunya seorang lelaki, dia—"
Mata saya makin terbuka lebar. Taehyung terperangkap dalam tatapan saya sampai-sampai mulutnya lupa dia tutup. Anak itu baru mengatupkan bibir ketika dia mau menelan ludah.
"Park-ssaem, jangan tatap saya seperti itu. Bapak seram sekali seperti hantu. Saya tidak jadi bicara, deh. Saya mau tutup mulut saja," cicitnya, sembari membungkuk rendah lalu memeluk lutut sendiri.
"Lho! Kok begitu! Lantas hanya saya seorang dong, yang tak tahu kelanjutannya? Tamunya Min-ssaem itu siapa? Dia kenapa? Apa yang terjadi setelah Park-ssaem pulang?!" Jung-ssaem protes. Otomatis saya menoleh dan mengganti arah pandang padanya.
"...P-P-Park-ssaem, tidak usah tatap saya seperti itu juga, dong. Jadi takut."
Akhirnya mereka berdua bungkam. Hanya Yeontan yang menyalak keras.
Guk!
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Senin tiba. Saya datang terlalu pagi. Ruang guru masih sepi. Hanya ada beberapa orang. Itu bisa dihitung jari. Lima guru, kurang lebih. Yoongi adalah salah satu yang biasa datang paling pagi. Dan benar saja, belum lama saya duduk di kursi, dia masuk ke ruang guru sambil menjinjing totebag.
Kami secara tak sengaja bertemu mata. Dia berkedip, mulutnya terbuka sedikit selama beberapa saat, tapi kemudian ditutup lagi dan dia pun duduk di kursinya tanpa mengatakan apa-apa pada saya. Dia mungkin bingung harus bicara apa. Biasanya kami saling menyapa. Biasanya kami saling mengucap selamat pagi—lalu saya menggodanya dan dia tersenyum manis. Tapi Senin pagi itu tidak ada apa-apa. Sekat meja memang jadi penghalang sejak lama. Hanya saja di antara kami tidak ada yang berusaha untuk melewati penghalang itu.
"Good morning everyone! Good morning, Min-ssaem."
Kim-ssaem datang. Dia menyapa Yoongi ketika lewat di belakangnya. Yoongi membalas dengan ucapan good morning juga.
"Mata Anda jernih sekali. Apa Anda pakai lensa kontak?"
"Ah? Tidak."
"Tapi serius. Itu bagus. I adore your eyes. So pretty."
"Terima kasih," kata Yoongi. Dia tertawa kikuk.
Kim-ssaem berlalu, menuju mejanya di pojok. Saya sudah tak aneh dengan pujian Kim-ssaempada indah mata Yoongi. Dia sering mengatakannya. Yang membuat saya tak nyaman adalah ketika Yoongi memaksakan diri untuk tertawa di depan guru bahasa Inggris itu. Kekehnya bahkan terdengar tak tulus.
Kemudian, guru-guru lain mulai berdatangan, mengisi kursi-kursi yang semula kosong. Ruangan jadi ramai. Meski begitu antara saya dan Yoongi tetap tak ada percakapan. Jung-ssaem yang biasa mengusik pun begitu tenang. Mungkin dia memilih untuk tak ikut campur dalam kediaman kami. Tapi, ah. Saya tak kuasa jika mesti begini terus. Saya ingin memulai, tapi Yoongi melulu menghindar. Dia pergi ke kelasnya tanpa bicara pula.
Saya tak bisa melepaskan beban pikiran ini. Ketika saya mengajar, berkali-kali anak-anak murid saya bertanya mengapa saya terus melamun. Saya bahkan membiarkan mereka belajar sendiri sementara saya duduk di tribun memikirkan Yoongi. Siang hari, selesai mengajar, saya hendak ke ruang guru untuk menaruh map absen dan beristirahat. Tapi di jalan saya bertemu dengan Kim-ssaem.
"Ayo ke kantin! Makan siang!" serunya.
"Saya tidak lapar."
"Lho..." Bahu Kim-ssaem merosot. Dia mendengus. "Anda terlihat lesu sejak pagi."
"Ah, masa' iya?"
"Iya."
Saya menunduk, melihat lantai. Saya memang tak bersemangat untuk melakukan apapun. Mungkin ini juga terlihat oleh orang-orang di sekitar saya. Sejujurnya saya akan lebih nyaman jika mereka bersikap seperti biasa seolah-olah tak melihat keadaan saya yang seperti ini. Tapi, ketika ada yang peduli, saya jadi tak enak hati.
"Park-ssaem, ikut saya."
"Kemana?"
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Kim-ssaem merangkul bahu saya. Dia membuat saya terpaksa mengikuti langkahnya. Saya tak tahu mau dibawa kemana. Saya hanya bisa pasrah. Kadang sulit menebak isi kepala Kim-ssaem. Tak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini.
"Henyapa halian hemari?" Itu sambutan yang kami dapat ketika masuk ke ruang kesehatan. Jin-ssaem sedang makan sepotong kue. Mulutnya penuh. Bingungnya dia atas kedatangan kami, adalah sama dengan bingungnya saya yang dibawa menemui dokter ini.
"Kupikir Park-ssaem sakit, Jin-ah."
"Sakit?"
"Saya tidak sakit."
Jin-ssaem menatap saya tajam. Dia menelan makanannya lalu berdiri. Dia melangkah dan berhenti persis di depan saya.
Tiba-tiba, wajah kerasnya mengendur, berubah ekspresi, kemudian dia menyebut nama saya dengan lirihan. "Park-ssaem..."
Greb. Saya dipeluk. Map absen yang saya pegang lepas dari tangan.
Kim-ssaem memekik. "LHO, KENAPA DIPELUK?!"
Jujur saya sempat blank sejenak ketika aroma cologne Jin-ssaem terhirup. Seperti terlempar ke dunia lain.
"Seokjin!" Kim-ssaem memekik lagi.
"Luarnya tidak sakit, Monie, tapi dalamnya. Pelukan adalah salah satu cara terbaik untuk menghilangkan stres dan menyembuhkan hati yang terluka."
"Tapi kau memeluk lelaki lain di depan pacarmu sendiri! Di depan aku!"
"Ssst! Jangan ganggu seorang dokter yang sedang mengobati pasiennya. Kau cukup diam di situ sampai Park-ssaem merasa pelukanku sudah cukup membuatnya tenang," kata Jin-ssaem. Dia memeluk saya lebih erat. Tahu-tahu rambut saya dibelai. "Utututu..."
Saya tak tahu bagaimana ekspresi Kim-ssaem ketika Jin-ssaem memperlakukan saya seperti ini. Saya tak bisa melihatnya. Iya, tak bisa, sebab muka saya terperangkap di dadanya Jin-ssaem.
"Omong-omong lelaki mini macam Park-ssaem begini enak juga ya untuk dipeluk. Lucu. Monie, kenapa kau seperti titan, sih? Aku mau yang mini."
"Jin-aaah!"
Dalam hati saya menggerutu. Rasa-rasanya tiada guna datang ke ruang kesehatan ini kalau yang saya dapat adalah rengekan Kim-ssaem dan kata mini yang melulu keluar dari bibir tebal Jin-ssaem.
Saya lelaki mini.
Ya, Park Jimin, si lelaki mini, adalah seorang guru olahraga keturunan kurcaci.
Dongkol sekali, Tuhan.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Sempat saya dan Yoongi bertemu di ruang guru di jam pergantian pelajaran. Tapi itu pun hanya sebentar, dan Yoongi masih menghindari saya. Dia menunduk, menekuk wajah, seperti tak mau bertatap muka dengan saya. Jelas saya makin tak nyaman. Ingin menggapainya, dia keburu pergi untuk mengajar.
Berada dalam situasi seperti ini benar-benar tak bagus. Jika saya menunggu Yoongi yang menghentikan ini, sampai kapan? Jika tidak saya yang menghentikannya, lalu siapa? Saya pikir sepulang sekolah saya harus bicara dengannya. Ahh, walau ada enggan yang berkuncup.
"Kami pamit, Pak!"
Anak-anak perempuan itu membungkuk sembari berpamitan pada saya. Mereka, dan kawan-kawannya yang lain berduyun-duyun tinggalkan gedung olahraga. Jam terakhir pelajaran PE sudah selesai. Waktunya para murid untuk pulang.
Sebetulnya saya sudah benar-benar lelah, tapi saya mesti membereskan ruang penyimpanan alat olahraga. Murid-murid saya sudah disuruh melakukan itu. Tapi tetap saja, anak-anak kerjanya serampangan. Mereka bahkan tak menaruh bola-bola di tempatnya. Waktu saya cek, bahkan bola kempes dimasukkan ke keranjang yang sama dengan bola lain. Hidup saya memang tak bisa dibilang teratur, tapi kadang saya tak suka melihat ketidakberaturan. Seperti bola-bola ini. Saya merasa bertanggung jawab untuk membereskannya.
Nut, nut. Ponsel saya berbunyi. Saya rogoh saku jaket.
"Park-ssaem, Anda di mana? Jajan es krim yuk!"
Habis membaca pesan itu, ponsel saya mati. Habis baterai. Saya pun lantas memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku. Walau saya belum sempat membalas pesannya, saya pikir itu tak apa. Saya merasa pesan dari Jung-ssaem tak benar-benar wajib saya jawab. Selain itu, saya sedang tak ingin makan es krim. Lelah, entah mengapa. Saya hanya ingin pekerjaan saya cepat selesai supaya saya bisa pulang dan berebahan di kasur.
"Jimin."
Tadinya, saya pikir suara itu hanya khayalan. Saya tak berhenti memilah bola.
"Jimin."
Kedua kali nama saya disebut. Barulah saya sadar kalau itu bukan sekadar imajinasi. Karena ketika saya menoleh, dan pintu ruang penyimpanan ditutup rapat, saya melihat Yoongi berdiri dengan wajahnya yang serius.
"Aku ... ingin bicara denganmu. Bisa, kan?"
.
.
.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
