Bola yang tadinya sedang dipegang, saya taruh ke keranjang. Saya menepuk-nepuk tangan untuk menghilangkan debu yang menempel. Yoongi masih berdiri di sana. Saya maju beberapa langkah. Ya, hanya langkah-langkah kecil. Jarak kami tak menjadi dekat karena itu. Dia menunduk, saya memandangnya. Ketika tahu dia mau mengangkat wajah, saya lempar mata ke arah lain.

"Ya, bisa," kata saya.

What's on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Setelah saya menjawab begitu, Yoongi tersenyum. Tapi entah mengapa wajahnya terlihat sedih.

"Mm..." Yoongi bergumam. "Jimin, aku..." Suaranya bergetar. "Soal yang kemarin itu..."

Ada hehe di akhir kalimatnya. Saya dengar hehe itu meski cuma sedikit. Yang hendak dia bicarakan jelas tentang masalah yang membuat kami seperti ini seharian—dua hari, sebab Minggu pun kami sama sekali tak berkomunikasi. Saya lihat Yoongi menggigit bibir. Dia seperti ragu untuk mengatakan sesuatu yang sudah ada di ujung lidahnya.

"Aku ... minta maaf, ya," katanya. Dia menyunggingkan senyum simpul untuk saya. Tapi matanya berkaca-kaca.

Saya tahu, kelemahan terbesar saya adalah ketika saya melihat Yoongi terluka. Saya tak akan bosan untuk katakan bahwa hati Yoongi selembut kapas. Sensitif sekali. Saya tak pernah tega melihatnya menangis. Saya tak mau kalau air mata itu sampai tumpah. Maka, saya hampiri dia dan membawanya ke dalam pelukan.

"Aku yang harus minta maaf," bisik saya di telinganya. Dia menghambur, balas memeluk saya. Tangisannya tak bisa dicegah. Ada nyeri yang saya rasa. Saya menyesal sudah membuatnya begini. "Maaf..."

Yoongi mendongak. Matanya masih basah. Saya mencoba menyekanya tapi air asin itu masih terus mengalir. Dia berkata, "Aku bingung harus bersikap seperti apa. Kalau kau mau marah pada Daniel, tak apa, itu hakmu. Memang tak seharusnya juga dia bicara begitu di depanmu. Dan maaf karena aku pun mungkin sudah membuatmu tak nyaman... Tolong, jangan tinggalkan aku lagi seperti waktu itu..." kemudian kembali menyusupkan wajahnya di bahu saya.

Rasanya sesak. Yang saya perbuat memang keterlaluan. Hari itu emosi saya meluap hingga saya begitu saja tinggalkan Yoongi. Saya tak memikirkan apa efeknya. Kini, Yoongi menangis di bahu saya. Permintaannya benar-benar tamparan yang keras.

"Tidak akan, aku tak akan meninggalkanmu lagi. Maaf, Yoongi. Maaf ya, sayangku."

"Aku takut kalau kau marah, kau akan pergi..."

"Maaf, aku tidak akan seperti itu lagi."

Saya melepaskan pelukan hanya untuk melihat wajahnya. Yoongi menyeka kedua sudut matanya yang berair.

"Aku takut kau tak jadi menikahiku...," cicitnya.

"Tidaak!" Saya berteriak. "Aku akan menikahimu!" Lalu saya peluk lagi dia. "Jangan menangis, ya? Sudah, ya?"

"Iya—hiks, aku akan berhenti."

Bruk! Tiba-tiba Yoongi jatuh terduduk tanpa sempat saya tahan.

"Astaga! Kau kenapa?" Saya panik. Kedua tangannya saya pegangi.

"Ehe. Tidak apa-apa, hanya mendadak lemas..."

Sempat-sempatnya dia tersenyum pada saya. Padahal, saya sangat khawatir. Yoongi yang jatuh terduduk karena lemas itu pun akhirnya memilih untuk benar-benar duduk, bersandar di balik pintu. Dia mendongak tatap saya. Awalnya saya tak mengerti maksudnya apa. Tapi ketika dia terkekeh saya tahu kalau perasaan Yoongi sudah membaik setelah menangis.

Lalu, saya ambil tempat di sebelahnya. Saya tarik bahunya supaya dia bisa bersandar pada saya. Langit-langit jadi tempat saya menatap.

"Yoongi... kamu itu... memang orang yang terlalu baik. Aku tak bisa salahkan orang-orang yang suka padamu. Aku juga tak bisa salahkan kamu yang mudah dekat dengan mereka. Waktu itu aku takbisa mengontrol emosiku. Tapi besok-besok aku akan berusaha untuk menahan diri."

"Kau memang boleh cemburu... dan maafkan aku juga yang kadang tak mengerti. Lain kali tegur saja aku."

Dia menatap lantai. Beberapa detik saya diam memandangnya.

"Jimin."

"Ya?"

Dia memiringkan badannya lantas bergelung di dada saya. Secara otomatis, tangan saya memeluknya. Entah mengapa timbul rasa ingin melindungi.

"Tetaplah seperti ini sebentar saja," gumamnya.

Saya mengecup keningnya. "Ya."

Saya membelai-belai rambutnya pelan. Lama-lama saya sadar kalau Yoongi tidur. Pantas dia tak bicara apa-apa lagi. Napasnya terdengar teratur. Matanya terpejam rapat. Lagi-lagi langit-langit menjadi tempat saya memandang. Oh, ya. Yoongi mungkin merasa nyaman dalam pelukan saya karena (seperti yang Jin-ssaem bilang) pelukan adalah salah satu cara terbaik untuk menghilangkan stres dan menyembuhkan hati yang terluka.

Cahaya dari ventilasi mulai menghilang. Matahari sudah tenggelam. Ruang penyimpanan tempat kami duduk pun menjadi gelap gulita. Saya mau bangun untuk menyalakan lampu, tapi tak tega karena Yoongi masih tidur nyenyak.

"Jimin..."

Sadarnya dia adalah sesuatu yang saya tunggu. Jujur saja, bahu saya kebas. Kami berada di posisi seperti ini sudah cukup lama.

"Iya?"

"Kok gelap? Aku ketiduran, ya? Jam berapa ini?" Yoongi bertanya sembari menggosok mata.

Karena gelap, saya mesti memelototi jam tangan. "Jam... delapan. Lewat empat lima."

"Ha?" Yoong berdiri dengan hentakan. "Eeeh! Bukankah kita seharusnya pulang?!"

"...iya." Saya hanya mengangguk kikuk, terbawa oleh kepanikannya.

"Jimin, jam segini pintu gedung olahraga ini masih dibuka atau tidak?"

"OH IYA!" Kali ini saya yang bangun dengan hentakan.

Saya buru-buru lari keluar ruang penyimpanan untuk mengecek pintu gedung. Tapi saya sempat bermanuver kembali ke dalam hanya untuk menyalakan lampu. Lalu sambil berjalan ke pintu depan, saya pun menyalakan lampu-lampu lain di gedung itu. Sialnya, si pintu tak bisa saya buka. Dicoba berkali-kali pun tetap tak bisa. Pintu itu tertutup rapat. Terdengar bunyi rantai ketika saya coba mendobrak.

Ah, benar-benar...

Saya merosot ke lantai, meratap sambil jongkok.

"Dikunci?"

"Ya...," jawab saya. "Penjaga sekolah pasti tak tahu kalau masih ada orang di dalam gedung ini, maka dari itu pintunya dia kunci..."

"Astaga, lalu bagaimana?"

"Tidak tahu."

"Apa tidak ada orang yang bisa kita hubungi? Jimin, ponselmu masih hidup, tidak?"

Saya diam mengingat-ingat apa kabar ponsel saya. Oh, dia bahkan sudah mati sejak lama. Sejak sore ketika saya masih mengajar kelas terakhir.

"Tidak," kata saya. Yoongi nampak kecewa. Tapi tak berapa lama dia lari ke ruang penyimpanan. Mau ambil ponsel, katanya. Saat dia keluar dari ruangan itu, larinya tak secepat tadi. Malah terkesan tak mau lari kalau tak perlu.

"Kenapa?" Saya mulai curiga.

"Ponselku juga mati..."

"Kau tak bawa charger-nya?"

Yoongi mengerucutkan bibir sambil menggeleng.

"Aku bawa charger, tapi tasku pun ada di ruang guru, bukan di sini."

Kepalanya jatuh, lalu dia berjongkok dan memeluk dirinya sendiri. Benar-benar putus asa. "Bagaimana ini...?"

Sebetulnya perasaan saya juga sama dengannya. Saya tak mau terjebak semalaman di gedung olahraga. Saya ingin keluar dan pulang.

"Kalau kita membuat keributan, apa penjaga sekolah akan kembali?"

"Kau mau buat keributan seperti apa?"

"Ng... aku akan berteriak sambil menggedor-gedor pintu."

Lalu terbayang orang-orang akan datang kemari dan mengira teriakan Yoongi alasannya karena dia mau diperkosa di dalam gedung ini. Lalu mereka akan menuduh saya, si guru olahraga mesum yang sengaja menahan seorang guru musik tak berdosa supaya dia tak bisa keluar dari gedung olahraga semalaman.

Tidak. Berteriak sambil menggedor pintu bukan ide yang bagus.

Saya menghela napas. "Sekolah ini sangat luas. Posnya jauh dari sini. Seribut apa pun kita, tak akan terdengar..."

"Uukkh..."

Tak sangka, jawaban saya membuatnya makin suram. Yoongi setengah bersujud di lantai.

"Di dalam ruang penyimpanan ada matras, itu bisa dipakai untuk berbaring. Kalau kau lelah, tidurlah. Aku akan berjaga di depan pintu ini. Siapa tahu penjaga sekolah lewat, aku bisa langsung memanggilnya, nanti."

"Tapi aku tidak mau sendirian di dalam sana. Aku takut. Tempat ini menyeramkan, Jimin."

"Semua lampunya menyala, bukan?"

Yoongi menggeleng kuat. "Ya. Tidak. Kalau kau mau berjaga di sini, aku juga di sini bersamamu."

"Kau bisa sakit kalau tak tidur. Lagipula di sini dingin."

"Kau juga bisa sakit kalau tak tidur..."

"Tapi kalau aku tidur, aku tak akan tahu seandainya ada orang yang lewat sini. Dan kita mungkin baru bisa keluar besok pagi."

Yoongi merengut. "Jimin, aku tak mau berdebat denganmu."

"Aku juga tidak mau."

"Kalau begitu siapa yang harus menuruti siapa?"

"Kau turuti saja aku. Masuk ke ruang penyimpanan dan berbaringlah di sana."

Brang! Kami sama-sama tersentak gara-gara bunyi keras itu. Seperti bunyi logam yang dipukul, tapi tak tahu asalnya dari mana. Saya merinding. Yoongi merapat. Kami bergidik ngeri. Ternyata yang Yoongi katakan adalah benar. Suasana malam di dalam gedung olahraga begitu menyeramkan!

"Sudah kubilang, bukan, aku mau tetap bersamamu. Aku tak mau sendirian. Aku takut!"

Brang!

"KYAA!"

"Y-ya sudah... kalau begitu lebih baik kita masuk ruang penyimpanan sekarang juga."

Pada akhirnya, kami masuk ke ruang penyimpanan. Yoongi duduk di atas matras yang bertumpuk. Sepatunya dia lepaskan, lalu punggungnya dia tempelkan ke dinding. Dia memeluk lutut. Saat itu saya baru sadar kalau kaos kaki hitam yang dia gunakan bergambar muka kucing.

"Kau lapar, tidak?"

"Dalam situasi seperti ini, bagaimana bisa merasa lapar?"

Kruuuk. Baru saja saya katakan itu, perut saya berbunyi. Sialan memang. Ini sungguh tak saya kehendaki. Perut saya seperti tak sinkron dengan kepala dan mulut.

Yoongi cuma terkekeh. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Aku tidak punya makanan yang bisa mengenyangkan perut sih, tapi setidaknya ini bisa menyelamatkan kita, walau cuma untuk ganjalan." Dia membuka sebungkus biskuit dan menyodorkannya pada saya. "Ini, ambil."

Ahh, saya sangat beruntung terjebak bersama seorang malaikat. Terharu, jadinya.

"Terima kasih, ya."

"Sama-sama. Kalau kau mau minum, air di botol minumku masih ada, kok."

Sejenak saya lupa kalau kami sempat saling mendiamkan sebelum ini. Semuanya kembali seperti biasa dengan ajaib. Apapun masalahnya, saya rasa dapat selesai dengan mudah seandainya dua belah pihak mau terbuka.

"Dingin, ya."

Yoongi meringkuk. Kakinya menggesek-gesek permukaan matras. Bunyinya membuat saya ingin turut merebahkan diri. Saya pun melandai di belakangnya. Saya lingkarkan tangan di perutnya.

"Masih dingin, tidak?" tanya saya. Sebetulnya saya malu, tapi pura-pura saja jadi gentle.

Yoongi menjawab dengan badannya yang bergerak mundur, makin menempel pada saya. Setengah iseng saya pun menaruh kaki di atas pinggulnya.

"Sekarang masih dingin?"

"Sekarang gerah."

Tiba-tiba dada saya berdebar. "Ng... kalau begitu aku lepas pelukannya ya?"

"Jangan lepaskan pelukanmu. Sama sekali. Aku tidak akan bisa tidur kalau kau berhenti memelukku," katanya. "Omong-omong, tanganmu panas."

Tangan saya disentuh. Dia berbalik menghadap saya. Kemudian setelah tangan, dahi saya yang dia sentuh.

"Badanmu panas."

"Mungkin karena aku gugup."

"Bisa begitu ya kalau gugup?"

Saya hanya tersenyum.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

Saya bangun karena mendengar suara kikik yang menggelitik. Khas sekali. Setelah benar-benar membuka mata, saya baru sadar kalau saya berada di ruang kesehatan sekolah. Dan di samping saya, Jin-ssaem entah sedang menonton apa di ponselnya.

"Jin-ssaem...," panggil saya.

"Lho? Sudah bangun?"

Saya mau duduk. Tapi persendian saya ngilu. Entah mengapa Jin-ssaem bahkan sampai membantu saya untuk menyandarkan punggung di kepala ranjang. Saat itu selembar kain jatuh di pangkuan. Tadinya menempel di dahi. Rupanya saya sedang dikompres.

"Saya kenapa ya? Badan saya kok sakit semua...?"

"Jadi, begini. Anda ini demam. Pagi-pagi begitu gedung olahraga dibuka oleh penjaga sekolah, Anda dia bawa kemari oleh Min-ssaem supaya bisa diobati."

"Bawanya bagaimana?"

"Digendong, Park-ssaem, masak dilempar, sih?"

Lalu saya teringat kejadian beberapa waktu ke belakang di mana saya juga pernah digendong oleh Yoongi setelah tak sadarkan diri di sekolah. Ampun, itu memalukan sekali. Ini juga memalukan! Sudah dua kali saya digendong Yoongi, kalau begitu!

"Kenapa mukanya ditutupi?"

"Malu."

"Malu kenapa, sih? Min-ssaem belum cerita apa-apa pada saya, lho. Alasan mengapa kalian bisa terjebak di gedung olahraga semalaman, dan apa yang kalian lakukan selama berada di dalam sana pun saya belum tahu. Cerita, dong?"

"...Min-ssaem kemana?"

Jin-ssaem memajukan bibir karena pertanyaan isengnya tak saya jawab. "Beli bubur untuk sarapan."

Hening. Yang bersuara hanya ponsel Jin-ssaem. Videonya masih terputar. Tapi dia bukannya menonton, malah memandangi saya.

"Cepat cerita." Bicaranya pelan tapi nadanya memaksa.

Saya mencolek dagunya karena gemas sekaligus sebal. "Kami mengobrol, keterusan sampai malam dan penjaga sekolah tak tahu kami di sana. Itulah kenapa kami terpaksa bermalam di ruang penyimpanan. Dingin, tanpa selimut."

"Anda berdua tidak melakukan apa-apa? Padahal lumayan, toh tidak akan ada yang mengganggu sampai pagi, bukan?"

Saya rasa dia sudah tercemari virus mesumnya Kim-ssaem. "Jin-ssaem jangan ajak saya bicara lagi. Saya capek menjawabnya."

"Ututu, ya sudah istrirahatlah."

Dia menarik selimut tinggi-tinggi sembari menepuk-nepuk punggung saya. Rasanya saya diperlakukan seperti bayi.

"Permisi..."

Pintu terbuka. Saya melihat Yoongi dan Jung-ssaem.

"Perginya sendiri, pulangnya kok berdua?" tanya Jin-ssaem pada mereka.

"Kami bertemu di jalan." Yoongi menjawab kalem. Begitu masuk, dia langsung duduk di tepian ranjang saya.

"Min-ssaem bilang kalau Park-ssaem sakit, jadi saya ikut ke sini. Lihat, saya bahkan beli susu melon buat Anda!" Jung-ssaem menunjuk keresek putih yang dijinjingnya.

"Terima kasih ya. Maaf karena merepotkan kalian semua..."

"Kita ini teman, saling merepotkan itu sudah biasa," ujar Jin-ssaem dengan santainya. Mendengar itu, separuh beban saya menguap.

"Jimin, makan dulu ya? Aku sudah beli bubur untukmu."

Saya diam sebentar ketika mendengar suaranya. Sengau. Dia menyedot ingus. Katanya hanya flu biasa. Tapi itu pasti gara-gara kami tidur di ruang penyimpanan semalaman. Semoga saja dia tak sampai jatuh sakit seperti saya. Kasihan, si Sayang.

"Jin-aah?"

Ada lagi yang masuk ke ruang kesehatan. Semua menoleh ke arah yang sama. Kim-ssaem berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut.

"Kok ramai begini?"

"Iya, ada yang sakit tapi ramai, ya. Ampun, deh," jawab Jin-ssaem.

"Park-ssaem sakit?" Kim-ssaem mendekat. Saya hanya bisa menyunggingkan senyum padanya. "Kemarin katanya tidak sakit? Apa jangan-jangan ini cuma akal-akalan supaya bisa dirawat oleh pacar saya?"

Jung-ssaem tertawa. Pantat si guru bahasa Inggris itu ditampar.

"Kim-ssaem..." Saya memanggilnya dengan suara yang parau. Saya mau tertawa tapi tenggorokan saya sakit.

Lalu Kim-ssaem merengek. Jin-ssaem bahkan sampai harus berdiri gara-gara lengannya ditarik kencang. "Jin-aaah, aku juga mau kau rawat!"

"Memangnya kamu sakit apa!" sungut dokter itu.

"Sakit haid..."

"YAAK!"

Plak! Jin-ssaem memukul Kim-ssaem dengan papan dada. Semua terbahak menertawai mereka. Saya ikut tertawa meski pelan. Di balik selimut saya merasa jari-jari saya dipegangi. Lalu saya sadar bahwa pelakunya adalah Yoongi.

Dada saya menghangat. Sementara dia masih menertawai pasangan aneh itu, diam-diam saya genggam tangannya erat-erat.

.

.

.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED

Maapkan karena apdetnya yang moloor... heu. Saya bener-bener susah cari waktu dan cari mood untuk nulis. Saya butuh semedi dulu kalau mau apa-apa hehe. Maklum lah namanya juga kuncen (abaikan).