"Jangaan! Jangan ambil yang itu! Aku mau yang rasa madu!"
"Tidak! Ini buatku saja, biar kamu makan yang lain!"
"Tidak mauu! Hyung jahaaat!"
Saya sedang menonton tivi. Dag-dug bunyi langkah-langkah kaki yang turun tangga bersahutan dengan suara keras dua anak yang berdebat. Saya sudah biasa mendengar ributnya Taehyung dan Jungkook, tapi kali ini rasanya ingin marah karena mereka sudah mengganggu kekhusyukan saya menonton siaran smackdown favorit.
Saya menoleh ke belakang karena risih. "Kalian!"
Dua anak yang berdiri di belakang saya itu ternyata adalah bocah-bocah kecil. Yang badannya lebih besar pegang sebungkus snack, satunya mau menangis. Saya diam karena terkejut. Jelas-jelas suara ribut tadi sudah bisa saya pastikan keluar dari siapa. Tapi?
"Ayah! Hyung mau merebut makananku!"
"Dia tidak mau berbagi, Yah! Padahal makanannya banyak!"
Ayah?
"Jimiin, bisa kemari untuk bantu aku?"
Yoongi memanggil, saya bergegas ke dapur. Sekali saya lirik bocah-bocah yang masih berebutan makanan itu. Mereka benar-benar mirip Taehyung dan Jungkook! Tapi apa tadi? Mereka memanggil saya Ayah? Sungguh aneh.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya saya.
Yoongi membalik badan. "Tolong pipil jagung ini, ya?"
"Ng?"
Saya tercenung. Yang jadi perhatian bukan jagung yang dipegangnya, melainkan perutnya yang besar...
What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
"Jimin? Hei. Nyawamu belum ngumpul?"
Pipi saya ditepuk. Waktu melihat wajah bingung Yoongi, dan kamarnya yang luas, saya baru sadar kalau yang barusan selewat mimpi belaka.
"Eh! kenapa?" pekiknya.
Saya merasa terganggu karena mimpi itu masih menempel di kepala. Jadilah saya pegang perut Yoongi. Saya mengelus-elusnya dengan penasaran. Memang tidak benar-benar rata tapi ini tak sebesar yang di dalam mimpi saya.
"Ada apa, Jimin-ie?" tanyanya sembari menyedot ingus. Pipinya merah. Entah mengapa pilek dan rona malu bisa jadi kombinasi yang bagus.
"Aku bermimpi." Akhirnya saya putuskan untuk mengaku.
"Mimpi apa?"
"Mimpi kita punya dua anak ... tapi mereka mirip Taehyung dan Jungkook," kata saya.
Alis Yoongi naik satu. Dia bahkan meng-hah-kan saya. Mungkin dia terkejut mendengar ini.
"Lalu, kau sedang hamil..."
Saya tatap matanya. Dia berkedip-kedip cepat. Kikuk sekali. Tanpa memutuskan pandangan, dia timpa tangan saya yang masih ada di perutnya.
"Aku hamil? Berapa bulan?"
"Perutmu besar ... jadi mungkin sudah delapan atau sembilan bulan."
"Kalau begitu sebentar lagi aku akan melahirkan."
"Mau sesar atau normal?"
"Katanya ada metode melahirkan dalam air, ya?"
"Bayinya begitu keluar langsung disuruh berenang, begitu?"
"Napasnya bagaimana, ya?"
"Iya, bagaimana?"
"Tunggu. Jimin, kenapa kita jadi terbawa suasana begini, sih?"
Yoongi terkikik. Dia memukul bahu saya. Seperti biasa, rasanya sakit walau pukulannya pakai gaya manja. Saya pun berhenti mengingat-ingat mimpi yang lucu itu. Saya bangun dan dudukkan diri di ranjang. Kening saya disentuh Yoongi.
"Sudah agak turun demamnya."
Kemarin gara-gara insiden di ruang penyimpanan, saya sakit. Seharian saya berbaring di ruang kesehatan, menunggu sampai jam pelajaran selesai. Yoongi yang masih cukup sehat itu mendatangi saya seusai mengajar. Lalu saya dibawa pulang olehnya (maksudnya ya seperti ini, benar-benar dibawa pulang ke rumahnya).
Tadinya saya enggan, sebab saya rasa Yoongi tak mesti ikut repot karena sakitnya saya. Saya juga takut flunya jadi parah. Kalau dia tidak istirahat, yang semula hanya pilek-pilek biasa bisa saja menjadi demam, sakit kepala, bahkan batuk, bukan? Tapi dia malah memilih untuk mengurus saya. Benar-benar tipikal istri yang berbakti. Terimakasih, Tuhan. Saya sangat bersyukur dipertemukan dengannya.
"Aku tadi mau memasak makan malam. Aku ke dapur dulu ya? Nanti aku kembali lagi ke sini," katanya. Dia menyedot ingus sambil bicara.
"Di sini saja."
Saya tidak berniat mengatakan itu, sumpah. Saya sendiri kaget waktu tangan saya tahu-tahu sudah menarik lengan baju Yoongi.
"Eh, tidak. Ke dapurlah kalau kamu memang mau memasak."
"Jimin, kamu marah padaku? Aku akan tetap di sini kalau kau mau." Dia kembali duduk dan memegang tangan saya.
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu."
"Sungguh?"
"Iya." Saya mengangguk mantap.
"Kalau begitu aku masak dulu, ya?"
Mmuach! Kening saya dikecup. Ada bunyinya...
Yoongi tersenyum lebar seraya beranjak dari ranjang dan keluar kamar. Saya ditinggalkan dengan debaran. Enak juga dimanja begini. Saya pikir sakitnya saya bisa jadi alasan supaya bisa mendapat lebih banyak perhatian dari Yoongi.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Yang saya ingat dari malam tadi, adalah resah. Saya tidak bisa tidur dengan tenang. Badan saya ngilu. Dahi saya sudah ditempeli gel penurun panas oleh Yoongi tapi tidak terasa apa-apa. Saya pun tak tega untuk membangunkannya. Dia sudah cukup lelah mengurusi saya. Dia butuh istirahat.
Mungkin saya baru bisa tidur pukul tiga pagi. Ketika bangun, hidung saya perih sekali. Lalu saya menunduk dan ada setitik merah yang jatuh di atas selimut. Ternyata hidung saya mengeluarkan darah.
"Jimin, kau mimisan!"
Saya menoleh ke arah pintu. Yoongi sudah rapi. Dia pasti mau berangkat mengajar. Dia buru-buru menaruh nampan di meja dan mengambil tisu untuk mengelap darah saya. Karena darahnya keluar terus, tisunya cepat basah. Yoongi mengambil lembar-lembar lain dengan panik.
"Aku tak jadi ke sekolah. Kita ke dokter saja ya?"
Dari dua lubang hidung, satu sudah tak mengeluarkan darah. Tapi yang satunya masih saja. Alhasil Yoongi menyumpalnya dengan pilinan tisu. Setelah meminjamkan saya mantel, segeralah kami keluar rumah. Dia menyetop taksi.
"Bawa kami ke dokter terdekat," pintanya pada Pak supir.
Kami dibawa ke sebuah klinik di area pertokoan. Pak supir bilang ini klinik baru.
Nama dokternya Kang. Waktu turun taksi saya sempat membaca plang yang terpampang di depan klinik itu. Mulanya saya tak terpikirkan apa-apa, tapi ketika masuk, saya terkejut. Karena Dokter Kang pemilik klinik ini ternyata adalah ayahnya mantan pacar saya!
Alamak!
"Lho?"
Bahkan dengan mudah dia mengenali wajah saya. Saya hanya bisa memberinya senyum kaku.
"Duduk, duduk! Sakit apa?"
"Demam, Dok. Sebelum ini dia mimisan." Yoongi yang menjawab.
"Ohh... mari kita periksa."
Saya diminta pindah ke kursi dekat Pak Kang.
"Ini Nak Jimin, kan? Apa kabarnya?"
"Saya baik, Pak," jawab saya setengah bergumam. Saya liriki Yoongi di tempatnya duduk. Pembicaraan kami pastilah terdengar. Dia pasti bertanya-tanya kenapa dokter Kang menanyakan kabar orang yang baru pertama kali ditemuinya.
"Kamu tidak tanya bagaimana kabar anak saya?"
Oh, apalagi ini. Pasti menimbulkan tanda tanya besar di kepala Yoongi.
"S-seulgi baik, Pak?"
"Baik. Orangnya ada di toilet sekarang. Katanya dia mulas gara-gara makan mie yang terlalu pedas semalam."
Saya melotot. Gawat! Gawat! Kenapa harus begini?! Saya sedang bersama Yoongi dan kenapa ayahnya Kang Seulgi yang harus kami temui? Kenapa pula Seulgi ada di klinik? Saya harus salahkan siapa? Supir taksi?
"...sembelit ya, Pak?"
"Iya."
Saya hanya berharap supaya Seulgi tak keluar dari toilet sampai saya dan Yoongi pulang.
"Ayaah! Obat sakit perut yang itu tidak berpengaruh apa-apa! Aku—he?"
Seulgi muncul. Dia melihat saya. Kami saling menatap. Sebetulnya dalam diam, saya ingin teriak. Ingin lari.
"Jimin? Jimin ya?" kata Seulgi.
Saya menoleh pada Yoongi. Dia nampak bingung.
"Kebetulan sekali kita bisa bertemu!"
Seulgi tertawa. Lagi-lagi, untuk kesekian kali saya hanya bisa tersenyum kaku. Diam-diam saya lirik Yoongi, dia pun sama. Senyumnya masih disertai kebingungan.
"Kau... tinggal di sini?" tanya saya, berbasa-basi.
"Tidak. Ayah baru buka klinik, aku hanya membantunya beres-beres di sini."
"Oohehe begitu, ya."
Ayah Seulgi lanjut memeriksa saya. Setelah selesai, dia menyiapkan obat. Yoongi mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya untuk membayar. Saat itu saya mau hentikan dia. Biar saya yang bayar. Tapi ketika pegang tangannya saya sadar kalau di saku mantel ataupun celana saya tak ada dompet. Saya tak bawa uang. Yoongi menggeleng-geleng sambil tersenyum. Akhirnya saya biarkan dia untuk menaruh lembar-lembar uang itu di meja.
Saya mendapati Seulgi yang memandang cincin perak di jari manis Yoongi.
"Oh, apa kalian...?" tunjuknya pada cincin itu.
Yoongi turut memandang jarinya sendiri. Lalu dia menatap saya. Secara tak langsung, minta saya yang beri jawaban.
"Eng... Ini calon istriku. Namanya Yoongi."
"Kalian akan menikah?"
"Ya, dalam waktu dekat ini."
Seulgi menutup mulutnya dengan dua tangan. "Astaga, Jimin. Kau tak pernah datang reuni, tahu-tahu sudah mau menikah saja!" Kemudian dia mengguncang bahu ayahnya dengan penuh antusiasme. "Jimin mau menikah, Yah! Dia mendahului aku!"
"Selamat ya, Nak Jimin."
"Terimakasih, Pak..." Saya tertawa kering.
"Tolong beri aku undangannya... please, please. Aku ingin datang ke pernikahan kalian." Seulgi mengatupkan tangan di depan saya dan Yoongi. "Nanti akan kuberitahu pada teman-teman yang lain supaya mereka juga tahu Jimin mau menikah."
Oh sial. Jangan, jangan teman-teman saya. Teman-teman yang dia maksud juga temasuk pada mantan pacar saya yang lain. Saya tahu itu. Saya tidak sanggup membayangkan mereka yang akan bermunculan di hari pernikahan saya.
"Mukamu pucat, Jimin," kata Yoongi.
"Yoongi aku pusing, aku ingin segera pulang." Alih-alih mengaku tertekan, saya lebih memilih untuk berbohong sembari menyungkurkan kepala di bahunya, Yoongi merangkul saya kemudian.
"Ya sudah, kita pulang sekarang juga. Terima kasih banyak, Dok. Kami permisi."
"Dadah! Jangan lupa undangannya ya!" Seulgi melambaikan tangan. Saya hanya membalasnya pelan-pelan.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Begitu sampai di rumahn Yoongi, saya langsung disuruh berbaring dan istirahat. Dia selimuti saya. Saya pikir dia akan temani saya di ranjang, tapi tidak. Dia malah pergi entah kemana, sementara saya ditinggalkannya sendirian di kamar. Sampai siang, Yoongi baru kembali dengan senampan makanan. Dia suapi saya tapi tak katakan apa-apa. Kami bahkan tak mengobrol sejak pagi, sepulang dari klinik. Saya mulai merasa ada yang tak beres. Apalagi sampai sore, Yoongi masih bersikap seperti itu. Yang mengajak saya bicara hanya Taehyung. Dia sempat menjenguk sebentar. Tapi itu tak cukup, saya butuh Yoongi.
Lantas saya pun bertanya padanya ketika dia masuk kamar untuk membawakan saya makan malam. "Kau mendiamkanku, kenapa?"
Sebetulnya saya tahu kenapa, tapi saya perlu memastikan. Sebab belum pernah Yoongi sebegini diamnya. Saya ingin tahu apakah dia sedang cemburu atau tidak.
"Yoongi?"
"Yang di klinik itu ... siapa?"
Oh, benar. Dia cemburu. "Bukan siapa-siapa. Hanya teman lama."
"Kau bohong."
"Serius!"
"Aku tidak percaya. Ayo jujur."
Saya menghela napas, menatap langit-langit, mengelus selimut, melirik makanan di meja nakas, menghela napas lagi, baru bicara. "Dia ... mantan pacarku waktu kuliah dulu..."
"O-ohh..."
Oh-nya terbata. Itu kedengaran jelas di telinga saya.
"Waktu kuliah ... sudah lama sekali, ya?"
Iya. Waktu kuliah, saya pernah berpacaran dengan Kang Seulgi. Tapi itu pun hanya sebulan. Tidak lama. Teman-teman bilang kami cocok, maka dari itu kami coba menjalin hubungan. Tapi kalau memang tak cinta, untuk apa juga? Seulgi bahkan mengaku kalau dia tak betul-betul cinta saya. Kami sama. Seperti korban perjodohan. Akhirnya kami memutuskan untuk berteman saja. Itu lebih nyaman. Dia bebas bergaul dan bebas melakukan apa yang dia mau. Saya pun begitu. Kami tidak perlu terikat.
Sampai tiba waktu kelulusan, kami masih sering bertemu karena kami bertetangga di tempat kuliah. Tapi selepas itu, kami sama-sama sibuk bekerja. Saya tak pernah menghubunginya lagi. Sudah sangat lama. Mungkin sudah hampir delapan tahun. Makanya ketika bertemu, jadi canggung. Apalagi bertemunya di situasi yang kurang tepat.
"Jimin, sebelum bertemu aku, kau pernah berpacaran berapa kali?"
"...tidak tahu. Lupa," ucap saya takut-takut.
Saya memang butuh waktu untuk mengingat berapa persisnya orang yang pernah saya kencani. Dan saya takut untuk berkata jujur pada Yoongi. Apalagi, pengalaman asmaranya tidak seperti saya yang dulu gampang jadian tapi pula gampang berpisah. Kakaknya sendiri yang bilang kalau Yoongi itu tak mau berpacaran kalau tak serius. Daftar kekasihnya mungkin kurang dari jumlah jari tangan dan jari kaki.
"Itu tak penting, bukan? Hehe."
Saya mencoba memenangkan hatinya. Saya tertawa sembari mengelus-elus tangannya. Saya pikir Yoongi yang lemah lembut itu akan dengan mudah mengakhiri topik ini dan kembali memberi senyum malaikatnya pada saya. Ternyata, yang saya dapat malah delikan tajam nan menusuk.
"K-kau kenapa?"
"Aku marah!"
Saya tersentak. Baru kali ini Yoongi membentak.
"Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu ketika Daniel bertamu kemari. Sebaaal, sekali! Rasanya ingin menggigit sesuatu."
"Gigit... apa?"
"Gigit kamu!"
Bruk! Yoongi menerjang. Saya jatuh di ranjang. Dia memegang rahang saya supaya kepala saya menyamping. Selanjutnya, dia benar-benar menggigit saya!
"Yoongi, sakit! Aw, awh!"
Saya tidak bohong waktu mengatakan itu sakit. Memang sakit! Gigi-gigi kecilnya itu menggerogoti leher saya dengan ganas. Dia bahkan sempat menjepit kulit leher saya lama.
"Yoongi, sudah. Aduh!"
Gigitannya berhenti. Saya memegangi leher. Yoongi mengangkat kepala. Rambut depannya berantakan dan sebelah matanya tertutupi. Meski begitu saya masih bisa melihat ekspresi sesalnya.
"... maafkan aku...," cicit Yoongi.
Dia menarik tangan saya karena ingin melihat bekas gigitannya di leher saya. Itu jadi luka. Perih. Sesal di wajah itu makin menjadi.
"Kerasukan apa aku tadi, ya? Aku benar-benar marah, tapi melihatmu begini aku benar-benar merasa bersalah. Maafkan aku, Jimin. Aku tidak bermaksud..."
Belum menikah saja Yoongi bisa seganas ini, bagaimana nanti? Terbayang Yoongi yang akan meninggalkan bekas-bekas gigitan gemasnya di sekujur tubuh saya setelah kami menghabiskan malam pertama. Saya bukan tipe pria masokis tapi sepertinya disiksa istri sendiri asyik juga.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa."
"Gigitanku pasti keras sekali tadi."
"T-tak apa." Lidah saya jadi kelu ketika saya jatuhkan pandangan ke bibir mungil Yoongi.
"Omong-omong, waktu itu kau juga pernah gigit leherku. Jadi apa kita impas?"
Dia mengingatkan saya pada hari di mana kakak Yoongi hampir menghajar saya gara-gara menemukan ada bekas gigitan siluman nyamuk di leher adiknya. Marah sekali dia waktu itu. Sekarang kalau Ibu tahu saya digigit Yoongi, Ibu pasti tak akan marah. Malah mungkin menyuruh saya untuk membalas dengan cara yang lebih ekstrim...
"Aku akan cari obat untuk lukamu."
Benar juga, balas dengan cara yang lebih ekstrim.
"Tidak."
Saya menarik tangannya. Yoongi jatuh terduduk. Sekali dorong saya buat dia berbaring di ranjang. Walau kaki kami sama-sama menggantung, saya tak peduli.
"Tidak boleh kemana-mana."
"Kau mau apa?"
"Cium aku."
Ibu, anakmu jagoan.
"Jimin..."
"Tidak mau, ya?"
Dia menggigit bibir, lalu menangkup wajah saya dengan kedua tangan. Selanjutnya dia cium saya. Sebentar, sih. Hanya menempel beberapa detik.
"Kau manja kalau sakit," bisiknya.
"Heheh—ah!"
Baru saja mau tertawa, dagu saya digigit tiba-tiba. Yoongi mendorong saya kemudian lari terbirit keluar kamar.
"Sudah! Jangan manja terus! Aku tidak mau jadi pelayanmu!" teriaknya sembari tertawa-tawa.
Saya bengong sambil pegang dagu.
Bercanda boleh, tapi kenapa saya mesti digigit lagi?.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
Saya tidur nyenyak efek obat. Begitu bangun Yoongi sudah bersiap pergi ke sekolah. Katanya dia punya jadwal mengajar di jam pertama, makanya harus pergi pagi-pagi. Sedang saya masih berantakan di ranjang.
"Nanti kunci pintunya ya? Begitu jam pelajaran berakhir aku akan langsung pulang. Kau tunggu saja di sini."
"...iya."
Rasa-rasanya ada yang terbalik. Bukankah kalimat itu seharusnya saya yang katakan? Tiba-tiba saya merasa seperti sayalah yang menjadi istri Yoongi.
"Aku pergi ya." Yoongi mau mengecup kening saya, tapi saya menelengkan kepala hingga kecupannya meleset.
"Jangan kecup aku, aku yang akan mengecupmu."
"Bukankah itu sama saja?"
"Beda." Saya menyapu rambut depannya supaya bisa mengecup lebih leluasa. "Aku akan menyusulmu ke sekolah."
Saya kecup keningnya lama. Setelah itu kami saling bertatapan. Pipi gembil Yoongi sedikit merona. Dia menatap saya dengan tatapannya yang lucu.
"Kenapa?"
Yoongi mengelus bekas kecupan saya. "Entah mengapa kecupan yang barusan begitu lembut. Aku merasa sangat dicintai."
"Aku memang mencintai kamu."
"Jangan menggombal pagi-pagi, Park-ssaem... Aku jadi tidak mau berangkat ke sekolah kalau kau begini..."
"Kalau begitu tidak usah berangkat saja, ayo kita membolos sama-sama."
"Iih tidak boleh begitu ... nanti kamu makan gaji buta! Hihi!"
Saya cuma colak-colek pinggangnya. Tapi dia malah membalas saya dengan cubitan yang cukup keras. Ah, benar. Mungkin kalau sudah menikah saya akan disiksa tiap hari olehnya.
Lalu, jam delapan Yoongi berangkat. Karena saya berniat menyusulnya ke sekolah, saya pulang dulu ke apartemen untuk berganti pakaian. Saya rasa saya harus menghadiri kelas PE di jam ketiga. Berhubung badan saya juga sudah terasa lebih baik. Tapi memang, yang tersisa dari sakit adalah rasa malas. Saya antara semangat tidak semangat untuk masuk kelas.
...What's on Park-ssaem's Mind?...
"Wah Park-ssaem, sudah sehat?"
Di sekolah, guru-guru menyambut ramah. Mereka senang saya kembali. Saya pun senang bisa masuk sekolah lagi.
Saya bersiap untuk mengajar. Hanya saja belum sampai ke gedung olahraga, saya merasa ingin kencing. Saya pun berbelok ke toilet perpustakaan. Itu tempat terdekat dari tujuan. Di sana saya sempat berpapasan dengan Jungkook. Anak itu hanya membungkuk pada saya karena sedang buru-buru. Dia ditunggu teman-temannya. Melihat wajah Jungkook saya jadi ingat pada salah satu bocah yang memanggil saya Ayah di mimpi waktu itu.
"Ayah! Hyung mau merebut makananku!"
Terngiang-ngiang.
Habis buang air kecil saya cuci tangan. Ketika melihat cermin, saya baru tahu kalau retsleting jaket saya sedikit turun. Padahal dari pagi sudah saya jaga supaya tetap menutup leher.
"Aduh..."
Luka bekas gigitan Yoongi terasa nyeri ketika disentuh.
"Eh, ada Park-ssaem," sapa Kim-ssaem riang. Retsleting jaket buru-buru saya tarik ke atas.
"Park-ssaem, kenapa malah berjaket di hari yang panas begini?"
"Saya meriang. Dingin."
"Belum sembuh betul, ya?"
"Iya."
"Itu dagu Anda, kenapa?"
Saya menatap cermin. Astaga, ini pun terlihat.
"...terbentur."
Saya tidak mungkin mengaku pada Kim-ssaem kalau saya digigiti Yoongi habis-habisan semalam. Kalau biang gosip ini tahu, bisa-bisa aib saya disebar pada teman-teman yang lain dan saya jadi bahan olok-olok...
...What's on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED
Karena libur, saya nulis hehe. Doakan Park-ssaem dan Min-ssaem cepet nikah ya. Biar saya bisa tamatin juga cerita ini. Maapkan karena Park-ssaem nggak akan sepanjang jalan kenangan, atau juga sepanjang fanfic-fanfic chapteran punya orang. Jujur aja berat buat bikin yang kontinyu-kontinyu. Untung yang ini genrenya banyol jadi saya bikinnya enjoy. Tapi ya begitu, sedikit lagi mau sampe ke tujuan. Jadi mungkin bakalan saya sudahi di waktu yang tepat.
Baidewei, makasih buat yang udah bacaaaa~
Maapkan typo yang merajalela~
Silakan voment bila berkenan~
