What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran

.
.

Ctik! Saya klik ujung pulpen, hendak menulis. Sayang tak ada tinta yang membentuk huruf di atas kertas. Oh ternyata, isian pulpen saya habis.

"Kim-ssaem, pinjam pulpen."

"Ambil di tas."

Siang yang panas, siang yang suntuk. Hari libur, tidak ada kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Guru-guru sudah tentu tak ada di kursinya. Siswa-siswa mungkin sedang tidur nyenyak di kamarnya masing-masing. Hanya saya dan Kim-ssaem yang ada di ruang guru waktu itu. Kalau dia, memang sering datang ke sekolah meski bukan di hari kerja. Katanya sekolah itu tempat yang bagus untuk mencari inspirasi, atau untuk membaca dengan tenang. Dia lelaki yang akrab dengan buku-buku tebal. Saya percaya waktu Jin-ssaem bilang Kim-ssaem ini dulunya siswa terpandai di sekolahnya. Matematika, bahasa, ilmu alam, ilmu sosial, semua bisa dikuasainya. Dia orang berilmu, orang pintar. Saya rasa dia patut untuk disegani—sebetulnya, jujur saja. Tapi mengingat kemesumannya yang tiada tara, tiga perempat dari keseganan itu hilang entah ke mana.

"Kok tidak ada?" Saya merogoh tasnya yang tergeletak di lantai. Sejak ruang guru kena perombakan beberapa hari lalu, mejanya yang semula ada di pojok (yang baginya adalah tempat paling stategis) dipindah ke samping saya. Jadilah kami bersebelahan.

"Ada, cari saja," katanya santai. Dia bicara dengan tetap menghadap jendela dan langit biru.

Jari-jari saya masih bekerja untuk mencari. Dia tidak menyimpannya di tempat pensil. Ah, bahkan tak ada tempat pensil di tas itu. Hanya ada buku catatan, buku bacaan, file holder, kertas struk penarikan uang tunai, sampah, dan sebuah bungkusan berbentuk kotak kecil bergambar perempuan dan laki-laki yang berpose erotis.

"...Kim-ssaem... ini..." Saya diam sejenak. Kotak itu saya angkat pelan-pelan. Saya eja mereknya. "D-du..."

"Waduh! Apa yang Anda pegang itu! Masukkan kembali ke tas!" Kim-ssaem berteriak panik.

Saat itu saya pun sadar kalau yang saya eja adalah merek ... pengaman. Kotak yang saya pegang dia sambar dan dia susupkan ke tasnya cepat-cepat. Masih dengan muka syok dia tatap saya.

"Bukannya Anda mau ambil pulpen, kok malah ambil itu, sih?!"

"...t-tidak sengaja...," cicit saya. Memang tak sengaja. Saya sendiri tak sangka akan menemukan benda itu dalam tasnya. "Tapi kenapa ... Anda bawa itu?"

"Safety first! Anda tidak boleh melupakan itu! Harus siap sedia ke manapun Anda pergi, supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan."

Hening. Saya tidak bisa mengutarakan apa yang saya pikirkan. Yang jelas seketika terbayang dirinya dan Jin-ssaem yang melakukan aktivitas seksual di malam hari sepulang mengajar...

"Park-ssaem, tak usah dibayangkan, bisa?"

...What's on Park-ssaem's Mind?...

Pekerjaan yang sudah tertunda sekian hari, saya tunda lagi karena secangkir kopi dan topik yang sengaja-tak sengaja terangkat dalam obrolan kami. Kim-ssaem duduk menyilang kaki dengan elegan sembari menyesap kopi hitamnya. Kacamatanya dia lepas karena tak mau jadi berembun gara-gara kopi yang panas. Saya duduk di sampingnya dengan tangan yang mengetuk-ketukkan ujung pulpen ke meja. Kopi masih utuh di gelas. Saya biarkan sampai agak dingin.

"Jadi ... apa Anda berdua sudah sering melakukannya?"

"Ya Anda paham sendiri lah, kami kan sudah hampir tiga tahun berpacaran."

Saya mengangguk. "O-ooh..."

"Bagaimana dengan Anda?"

Tadi mengangguk, sekarang saya menggeleng. "Saya ... belum pernah melakukannya dengan Yoongi."

"Serius? Saya kira Anda... uh," katanya menggantung. Lalu dia lanjutkan lagi, "makanya waktu itu, saat Min-ssaem muntah-muntah saya kira Anda sudah mengha—"

"Ish, hentikan. Saya berjanji padanya untuk tidak melakukan apapun sampai kami sah menjadi suami-istri."

"Tidak melakukan apapun? Termasuk cium dan kawan-kawannya?"

Saya tak tahu kengapa dia pakai pilihan kata seperti itu. Cium dan kawan-kawannya.

"Y-ya... bukan begitu, maksud saya..."

"Ooh, saya paham. Ya, ya." Kim-ssaem menaruh cangkirnya di meja. Lalu dia geser kursinya mendekati saya seraya berbisik, "Sekuat apa iman Anda untuk tetap memegang janji itu?"

"Astaga, Anda ini!"

"Keheheheehe! Park-ssaem lucu sekalii!" Kim-ssaem malah tertawa keras meski telah saya teriaki. "Eh itu, ponsel Anda bergetar, ada telepon?"

One incoming call. Waktu saya ambil ponsel, di layar tertera nama Yoongi. Tanpa harus berpikir, saya angkat teleponnya.

"Halo?"

Saat itu, Kim-ssaem memberi saya privasi dengan beranjak dari tempatnya duduk.

"Jimin, kau masih di sekolah?"

"Masih, kenapa?"

"Bisa tidak kau ke rumahku?"

"Kapan?"

"Sekarang juga. Darurat."

"Hah? Darurat? Kau kenapa? Apa yang terjadi di sana?"

"Kau tidak perlu panik, aku baik-baik saja. Daruratnya bukan karena apa-apa, tapi..."

"Tapi apa?"

"Di rumahku sekarang ada ibuku, dan ibumu juga... Mereka ... mau bertemu kamu."

"APA?"

Pundak saya ditepuk. Saya berjengit kaget.

Kim-ssaem bertanya pada saya, "Park- ssaem, ada apa, sih? Pakai teriak segala?"

"Anu, itu..." Saya jauhkan ponsel dari telinga. "Mertua saya ada di Seoul—eh, calon mertua."

"Waw! Luar biasa!" Mata Kim- ssaem terbelalak. Dia bertepuk tangan lantas menggeluyur pergi entah kemana.

Saya kembali pada telepon yang masih tersambung. "Kenapa tiba-tibaa?"

"Nanti aku ceritakan kalau kau sudah di sini. Jadi sekarang pulanglah ke rumahku, ya?"

"Tapi—"

"Bye, Jimin-ie."

Tut! Sambungan diputus dari seberang. Saya menatap layar beberapa detik sampai dia menggelap dan terkunci sendiri. Setelah itu, saya angkat si ponsel dan mengarahkan layar gelapnya ke depan muka. Di sana ada pantulan wajah saya.

Ah, wajah inikah yang kala itu dipuji tampan oleh ibunya Yoongi?

"Kim-ssaem, kenapa mata saya sembab dan pipi saya tembam?"

"Hah, apa?"

Guru bahasa Inggris itu tak menangkap apa yang saya ucapkan. Waku menengok ke belakang, rupa-rupanya dia sedang sibuk merogoh kue kering dalam toples di meja guru lain.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

Tanpa membereskan pekerjaan, saya buru-buru pergi ke rumah Yoongi. Saya membawa rasa gugup dalam perjalanan. Sempat karena tak fokus, saya salah ambil jalan hingga mesti memutar jauh untuk kembali ke jalur yang benar. Yang jadi pikiran saya, kenapa ibu Yoongi dan ibu saya datang ke Seoul dengan begitu tiba-tibanya? Bahkan tidak ada dari mereka yang memberitahu saya tentang ini sebelumnya. Saya kira Yoongi juga tak tahu kalau ibu kami membuat janji untuk bertemu di Seoul. Sebab jika dia tahu, harusnya dia katakan pada saya sejak kemarin-kemarin.

Saya memarkirkan kendaraan di halaman rumah Yoongi. Cuaca yang panas membuat saya lemas. Yang saya inginkan saat itu hanyalah segelas susu melon dingin dengan banyak es.

Saya berdiri di depan pintu, mengetuk sembari memanggil si empunya rumah.

"Yoongi, Yoongi?"

Pintu dibuka. Yoongi muncul. Dia langsung berbalik, lalu berjalan cepat dan berkata, "Ayo masuk!"

"Di mana mereka?" Saya mengekorinya.

"Di meja makan."

Dada saya dag-dig-dug tegang. Ketika sampai di dapur saya melihat dua wanita paruh baya yang sedang duduk bercengkrama.

"Ibu, Jimin sudah datang," kata Yoongi memberitahu.

Mereka menoleh pada kami. Saya tersenyum sembari sedikit membungkuk untuk beri salam. Tapi setelah saya lakukan itu, yang saya dapat bukannya senyum ramah. Dua-duanya memandang saya dengan ekspresi yang aneh. Seperti heran, tapi heran kenapa?

Tahu-tahu Yoongi menoleh dengan bibir yang dikulum.

"Jimin, jadi dari tadi kau belum lepas helm?"

Ibu saya dan ibu Yoongi cekikikan. Yoongi ikut-ikutan tertawa pula.

Ah, saya cuma bisa tertawa kering menahan malu. "Maaf, lupa..."

Setelah saya menaruh helm, saya dituntun Yoongi untuk duduk di meja makan. Yang bikin takjub, saya bahkan tak katakan padanya kalau saya ingin susu melon dingin. Tapi tiba-tiba dia menaruh segelas susu melon dingin di depan saya. Tanpa basa-basi saya reguk susu itu untuk hilangkan dahaga. Nikmatnya tiada tara.

"Kau datang tanpa membawa apa-apa? Memalukan sekali sih, anakku ini."

Susu yang tengah saya minum hampir saja tersembur keluar gara-gara serangan tak terduga dari ibu saya. Sembari bermuka jijik dia mengambil tisu dan mengelap mulut saya yang basah.

"Harusnya kamu membawa hantaran, masak tidak beri apa-apa untuk ibunya Yoongi?"

"Ah, tidak, tidak apa-apa. Itu tak harus. Lagipula saya sudah dapat oleh-oleh dari Ibu," kata ibunya Yoongi sambil tertawa.

Saya tercenung. Meski terasa pedas, kata-kata ibu saya ada benarnya juga. Seharusnya saya membawakan sesuatu untuk ibunya Yoongi. Sungguh tak sopan hanya membawa diri. Meski ibunya Yoongi bilang tak apa, tapi saya merasa tak enak juga.

"Maaf... Ibu mau apa? Nanti saya belikan," kata saya.

"Tidak usah. Ibu tidak mau apa-apa lagi. Bertemu kamu saja Ibu sudah senang," ujarnya. "Kamu terlihat makin tampan dan sehat ya."

Saya elusi pipi sendiri. Jadi benar kalau pipi saya mengembang. Ibu Yoongi tak akan bilang saya sehat kalau dia tak melihat ini.

"Kalau Ibu mau tahu, waktu kecil dulu Jimin gemuk, pipinya penuh. Mana lagi karena bibirnya seperti itu, kalau dia sedang merajuk kelihatan lucu sekali."

"Ish," saya mendesis.

Tawa ibu saya sungguh tanpa beban sama sekali. Membongkar aib saya adalah hal yang dia sukai. Kini di depan calon mertua saya, dia mulai mempermalukan anaknya sendiri.

"Oh begitu? Lucu yaa... jadi ingin lihat Jimin semasa kecil."

"Kapan-kapan datanglah ke Busan, saya akan tunjukkan foto-foto Jimin dari dia masih bayi sampai sebesar ini."

"Saya akan ke Busan dengan senang hati!"

Mereka tawa-tiwi lagi. Lalu seperti ibu-ibu lainnya, mereka ceriwis obrolkan ini-itu. Saya hanya duduk menyeruput susu. Begitu pula Yoongi yang hanya senyam-senyum (padahal entah mengerti entah tidak).

Ketika susu di gelas saya sudah habis, saya sadar akan sesuatu. "Engg. Sepertinya ada yang terlupakan..."

"Apa itu?" tanya ibu saya dan ibunya Yoongi kompak.

"Sebenarnya, apa yang membuat ibu-ibu sekalian berkumpul di Seoul?" Saya melirik dua wanita itu bergantian.

"Mungkin Jimin belum tahu, Bu," kata ibunya Yoongi.

"Memang belum tahu. Jadi begini, kami berkumpul untuk membicarakan tentang pernikahan kalian. Berhubung belum ada progres berarti, jadi yaa ... kami berinisiatif untuk membantu supaya kalian bisa menikah sesegera mungkin."

Ibu Yoongi menambahkan, "Ibu bisa bantu carikan tempat yang bagus untuk kalian. Kenalan ayah Yoongi banyak yang tinggal di Seoul. Beberapa orang yang dekat dengan keluarga kami punya tempat-tempat yang bisa disewa untuk acara besar."

"Selain mencari tempat, kita juga bisa bantu mencari penjahit dan katering, ya, Bu?"

"Benar. Supaya kalian tinggal menikah saja tanpa perlu pusing-pusing memikirkan persiapannya. Ah, ya, paling-paling pikirkan yang sederhana saja seperti undangan. Karena kami tak tahu siapa yang mesti kami undang nantinya."

Saya dan Yoongi saling memandang. Dia tersenyum pada saya. Sementara saya terkejut. Tak kira saja kalau malah ibu kami yang gerak cepat.
Saya pegang tangan ibunya Yoongi dengan penuh haru. "Maaf harus merepotkan Ibu, tapi sungguh, terima kasih."

"Iya, sama-sama..."

"Jimin, pada ibumu sendiri kau tak mau bilang terima kasih?" Ibu saya mendelik. Rupaya dia iri.

"Iya, terima kasih ibuku sayang."
Saya peluk Ibu. Yoongi dan ibunya tergelak.

"Yoongi, Ibu mau kamu masakkan makanan enak untuk makan malam nanti."

"Mau makan apa?"

"Sup nabe."

"Oh ya, karena ibunya Jimin akan menginap di sini jadi besok tolong kamu siapkan sarapan juga ya."

"Maaf ya saya jadi merepotkan...," kata ibu saya malu-malu. Gelagatnya dibuat manis.

"Tidak apa! Saya malah senang!" sahut ibunya Yoongi. Wanita itu meninggalkan kursinya, mengikuti sang anak yang sudah lebih dulu berjalan ke dapur.

Saya agak kaget juga karena ibu saya mau menginap di rumah Yoongi, bukannya tidur di apartemen saya. Saya tatap Ibu sambil bertanya-tanya. Tapi dia hanya cengengesan saja. Saya sudah bisa tebak kalau dia tidak mau tidur di apartemen saya yang berantakan. Maunya tidur di tempat yang nyaman, luas, dan rapih. Memang benar-benar pandai cari kesempatan, ibu saya ini.

"Ibu, kalau bukan sup nabe, tak apa ya? Aku belum membeli bahan makanan, hanya ada sedikit daging dan kimchi."

Plak! Kami reflek menoleh ketika mendengar suara itu.

Tak sampai sedetik Yoongi berteriak, "Ibu, kok pantatku ditampar sih?!"

"Kalau begitu belilah, kamu ini. Ibu tak mau kalau cuma masakan sederhana. Ibu mau yang enak, banyak dan mewah. Malu pada tamu, Yoongi."

"Iya, iya."

Yoongi menutup pintu kulkas, lantas dia pun berjalan ke kamar. Ibunya menggeleng-gelengkan kepala lalu menyusul anaknya masuk kamar.
Saya tak lagi memberi atensi ketika mereka sudah tak terlihat. Saya kembali pada Ibu yang sibuk mengunyah manisan. Dia pura-pura cuek, padahal saya tahu apa yang dia lakukan sebelumnya.

"Ibu, jangan melihat Yoongi dengan tatapan seperti itu. Ibu seperti predator. Aku heran kenapa Ayah mau pada Ibu."

"Jangan mengejek, ayahmu mau karena Ibu cantik, memangnya dari mana kau dapat wajah itu kalau bukan dari Ibu? Dari mana kau dapat mata itu? Dari Ibu."

"Jangan sampai aku dapat sifat Ibu yang mesum."

"Lalala, dasar munafik. Tidak sadar diri."

Sebal sekali saya dibuatnya. Waktu masih kecil, kalau sedang merajuk gara-gara ucapan Ibu, saya akan menyusup di perutnya dan menarik-narik bajunya keras-keras. Sekarang karena saya sudah dewasa, saya tak bisa melakukan itu lagi. Padahal ingin. Supaya baju Ibu kusut.

"Bu, aku mau tanya soal kedatangan Ibu dan ibunya Yoongi ke Seoul."

"Apa?"

"Kenapa mendadak sekali? Ibu bahkan tak bicara apa-apa padaku."

Ibu menutup wadah manisan. Dua buah yang tadinya digenggam kemudian dimasukkan ke dalam mulut. "Kami hanya tidak mau mengganggu kalian yang sibuk bekerja."

"Ini pasti idenya Ibu, ya?"

"Ah, bukan."

"Ibu bohong. Wajah Ibu tidak bisa menyembunyikan kebohongan itu."

"Ish." Ibu memukul bahu saya. "Bisa tidak sih, sekali saja tidak menuduh?"

"Jimiin?"

Saya dengar Yoongi memanggil. Ah, Yoongi sang penyelamat! Dengan semangat saya tinggalkan Ibu untuk menghampiri Yoongi yang keluar kamar.

"Iya, apa?"

Ibu Yoongi yang muncul setelahnya kemudian menepuk pundak saya. "Tolong antarkan Yoongi beli bahan sup nabe, ya?"

"I-iya."

Saya lihat Yoongi mengapit dompet di ketiak. Dia tersenyum tipis, seperti tak enak pada saya yang diminta mengantar. Padahal tak apa, sih. Saya tak masalah.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

Kami tiba di supermarket sekitar jam lima sore. Begitu masuk, Yoongi langsung mengambil troli. Sebagai calon suami yang baik, saya mengajukan diri untuk mendorong troli itu, supaya dia bisa bebas melenggang. Walau tadinya Yoongi sungkan, tapi dengan sedikit bujukan akhirnya dia mau menyerahkan troli itu pada saya. Kami pun mulai mencari bahan makanan yang ingin dibeli. Ah, tunggu. Bukan kami, tapi Yoongi. Saya hanya mengikuti kemana dia pergi. Mana saya tahu soal kelengkapan bahan makanan? Memilih pun tak bisa.

Dalam satu jam troli kami sudah hampir penuh. Bahan untuk membuat sup nabe tak seberapa banyak, sisanya adalah barang-barang lain yang sebagian menurut saya tak perlu dibeli kalau memang tak butuh. Seperti kotak tisu, keset, gelas-gelas bergambar kucing, wadah bumbu, atau juga rol rambut. Rasanya seperti sedang menemani Yoongi belanja bulanan. Kalau sudah menikah, mungkin Yoongi akan memenuhi troli dengan barang-barang yang beraneka seperti ini juga tiap bulannya. Setengah capek saya dorong troli. Inginnya sudahi acara jelajah supermarket ini. Saya ingin cepat pulang dan beristirahat. Makan. Lama berkeliling bikin lelah, heran saja mengapa Yoongi masih nampak antusias.

"Yoongi, belanjanya sudah selesai belum?" Akhirnya saya beranikan diri untuk memberi kode supaya dia mau berhenti.

"Sebentar," katanya. Dia berhenti di depan jejeran sereal. "Jimin, kamu suka sereal yang manis atau yang biasa saja?"

"Aku lebih suka sereal yang biasa saja, tak terlalu manis. Misalnya, sereal jagung dengan susu plain. Omong-omong, kenapa kamu menanyakan itu?"

Dia tersenyum simpul. Tangannya mengambil sekotak sereal jagung ukuran besar. "Aku mau membelikan sereal untukmu. Supaya kalau kau mau sarapan sereal, tinggal ambil."

"Ambil di mana?"

"Di lemari penyimpananku. Di dapur, yang di atas kompor itu."

Saya merengut. Maksudnya apa?

"Sebentar, aku tak paham."

Tiba-tiba raut wajah Yoongi berubah. Dia sedikit menunduk. Kotak sereal jagung itu dipeluk. Yoongi sempat menggigit bibir waktu dia tatap saya. Kemudian, dengan suara pelan dia bicara, "Jimin, jujur saja aku ... eng..."

"A-apa?" Entah kenapa, saya mendadak gugup. Sensor di kepala saya seolah berbunyi, memberitahu saya bahwa di antara kami ada sesuatu. Suasana yang berbeda. Saya tak tahu apa yang hendak Yoongi katakan tapi saya rasa itu mengarah pada sesuatu yang... err, serius?

Ujung jari kelingking saya dipengangnya. Saya tatap, dia tak mau membalas. Matanya dia lempar ke samping.

"Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?"

Yoongi menatap saya lurus akhirnya. Mungkin itu cuma sedetik. Karena setelahnya dia mengangguk-angguk cepat dan memalingkan wajahnya lagi. Saya lihat ada semburat merah di pipinya.

Duh, saya makin gugup karena ini.
"Apa ... kau tak keberatan kalau aku memintamu tinggal ... di rumahku...?"

"E-eh?"

Barusan apa yang dia bilang? Tinggal di rumahnya?

"Yaa, kau tahu, kita sudah sering tidur bersama dan aku merasa nyaman kalau ... ada kau di sampingku."

Saya menutupi hidung dengan tangan. Sesuatu di dalam sana seperti menyempit dan membuat sakit. Saya tak tahu ini tanda jelang mimisan atau apa. Yang jelas setelah mendengar perkataan Yoongi, saya serasa ingin berjingkrak, melompat, atau meledak sekalian. Antara bahagia dan terkejut, iya begitu.

"Aduh, apa yang barusan aku katakan?!" Yoongi memekik. Dia memukul kepalanya sendiri dengan kotak sereal. "Uh, tolong lupakan saja yang tadi! Sungguh memalukan, aku ini!"

Padahal saya masih butuh waktu untuk memproses kejadian (mendadak romantis) tadi. Tapi tahu-tahu saja Yoongi sudah berjalan menjauhi saya.

"Yoongi, tunggu!" Saya kejar dia. Saya tangkap lengannya. "Aku..."

"Apa?" Dia menoleh dengan malu.

"Kalau kau inginnya begitu, aku bisa ... pindah dari apartemenku dan tinggal bersamamu."

"Sungguh?"

Sungguh, sungguh sebuah petaka. Bagaimana bisa saya mengamini permintaannya sementara selama ini saya tak pernah tenang setiap tidur di sampingnya? Mau seberat apa ujian saya nanti kalau tiap hari saya mesti seranjang dengan Yoongi? Ya Tuhan, kadang saya menyesal kenapa bibir saya lebih cepat kerjanya ketimbang otak. Saya jadi ingat Kim-ssaem yang mempertanyakan seberapa kuat iman saya untuk tetap bisa menahan diri sampai saya dan Yoongi sah menjadi suami istri.

"Sungguh?" Yoongi mengulanginya. Dia bertanya dengan binar di mata. Saya tak tega untuk meralat jawaban saya tadi.

"Iya..." Saya mencicit.

"Kalau begitu kapan kau akan pindah? Malam ini? Atau besok? Atau ... lusa? Atau—"

"Sekarang lebih baik kita ke kasir dulu, ya, Yoongi? Yang di rumah pasti sudah menunggu kepulangan kita."

Yoongi cemberut. Saya merangkul pundaknya.

"Mereka pasti sudah lapar, jadi ayo kita pulang sekarang, ya?"

"Tapi kau tidak bohong, kan? Kau benar-benar mau tinggal bersamaku, kan?"

Saya cuma bisa mengangguk dan tersenyum pedih. Pedih sekali memikirkan hari esok dan esoknya lagi...

...What's on Park-ssaem's Mind?...
CONTINUED

Yaaak, dan fanfic bulukan ini kembali, hehehehe. Maapkan apdetnya lama yah, saya belum punya waktu untuk semedi dan menikmati libur. Sekalinya dapet libur saya malah molor seharian seperti beruang hibernasi. Terus bangun-bangun bengong, ga dapet ide atau apa-apa. Nulis, gambar, ngapa-ngapain mager. Beneran tidur doang bisanya. Apalagi waktu pulkam, ada kali saya tidur siang sampe 8 jam. Kurang ajar banget kan?

Baidewei, makasih yang udah baca dan setia nungguin guru cadut ini. Walau tak sempurna, semoga masih ada cinta untuk dirinya (dan diriku—apasih)

Sekali lagi, makasih buat semua. Maapkan typo yang merajalela.
Salam damai dari penghuni kamar, penjaga kasur.