What's on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Kami makan malam. Lauknya benar-benar mewah. Yang Yoongi buat adalah sup nabe dengan isian lengkap mulai dari daging, sayuran hingga jamur-jamuran. Ibu saya makan dengan lahap. Dia bahkan minta tambah nasi sampai dua kali. Ibu saya, kalau sudah merasa nyaman dengan orang lain memang begitu. Dia tak malu-malu untuk menunjukkan diri yang sebenar-benarnya. Untung saja Ibu tidak sampai menaikkan satu kakinya ke atas kursi. Itu satu kebiasaan Ibu yang paling buruk ketika dia makan. Kadang saya melakukan itu juga, tapi saya masih awas pada situasi. Jadi di hadapan (calon) mertua dan (calon) istri begini, saya menjaga sikap, seelit mungkin, seanggun mungkin—setidaknya menunjukkan kalau saya lelaki beradab.

"Jimin, kenapa makannya sedikit? Ayo tambah!"

"I-iya..."

Saya hanya tersenyum kering ketika ibunya Yoongi menunjuk mangkuk sup saya yang lama saya biarkan kosong. Dia serta-merta mengambil mangkuk itu dan mengisinya dengan kuah nabe dan potongan daging serta jejamuran.

"Sudah, sudah, Bu. Terima kasih..." Kalau tak saya hentikan, ibunya Yoongi mungkin akan mengisi mangkuk saya sampai penuh.

"Kenapa, Jimin-ie? Kau sakit gigi?" Yoongi bertanya dengan suara lembut.

Dia mungkin begitu karena saya mengunyah dengan lamban. Tapi alasannya bukan karena sakit gigi, melainkan urusan pindah apartemen yang sempat kami bicarakan di supermarket sebelum ini. Itu bukan hal sepele. Masakan Yoongi memang enak, tapi belum bisa mengalihkan fokus. Saya mesti mempertanggungjawabkan keputusan yang sudah saya ambil. Masalahnya, saya belum siap sama sekali.

"Sakit gigi?" Pertanyaan itu diulang. Yoongi menatap saya dengan wajah kasihan.

.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

.

Saya duduk di atas dipan, sementara Yoongi menaruh jemuran keringnya di keranjang. Hari sudah malam dan yang terdengar di telinga adalah suara serangga bersahut-sahutan. Sayup-sayup ada musik, entah dari mana. Musim panas telah datang sejak beberapa waktu lalu. Hawa sejuk hanya bisa di dapat di malam hari.

"Yoongi, kau lihat apa?"

Saya bertanya pada Yoongi yang tengah membungkuk dengan kepala yang tertunduk ke bawah. Dia di tepian tembok pembatas balkon. Bahunya naik turun, dia berbalik dengan tawa.

"Lucu," katanya.

Saya beranjak dari dipan, mau tahu apa yang dia lihat. Ketika saya sampai ke tempatnya dan turut melihat ke bawah, yang saya dapati adalah murid saya yang sedang konser di kamarnya. Iya, itu si Taehyung. Pantas Yoongi tertawa. Betapa hebohnya murid saya itu. Padahal tak ada penonton, suaranya pun tak dia keluarkan sama sekali. Tapi gerakan dan ekspresinya benar-benar menghayati lagu. Bahkan mukanya sampai mengkerut. Dia berlagak seperti seorang rapper. Ketika saya ikuti irama lagunya, ternyata lagu ini sering diputar oleh Kim-ssaem di sekolah. Kalau tidak salah, judulnya Cypher...

"Kenapa dia bisa sampai begitu ya?" tanya saya pada Yoongi.

"Mungkin dia suka sekali pada lagunya, sampai-sampai dia menyanyikan itu dengan sepenuh hati."

"Tapi, dia tak bernyanyi, cuma komat-kamit."

Yoongi terbahak. Dia memukul dada saya. Karena tawanya keras, saya minta dia untuk memelankannya. Takut Taehyung dengar. Nanti konsernya bisa berhenti di tengah jalan. Kasihan dia. Saya juga tak mau kepergok sedang berada di rumah Yoongi. Taehyung akan bertanya macam-macam dan saya paling malas menjawab pertanyaan yang keluar dari anak itu.

"Oh ya, jemuranku sudah masuk keranjang semua."

"Kau mau kembali ke dalam?"

"Tidak, aku ingin menikmati angin malam dulu. Lagipula, rasanya masih agak canggung juga untuk berinteraksi dengan ibumu. Ketika aku ingin bicara denganmu, atau duduk denganmu, rasanya aku jadi malu...," ujar Yoongi. Dia mengulum bibirnya menahan senyum.

Saya mengerti apa yang dia rasakan, sebab saya pun tak bisa seenaknya bicara atau berdekatan dengan Yoongi di depan ibunya. Memang canggung. Mungkin karena belum terbiasa. Lagipula kami belum resmi.

Saya mengambil keranjang jemuran yang dipegangnya. "Ya sudah, kita duduk di sini saja dulu."

Yoongi mengangguk. Selanjutnya, kami duduk berdua di atas dipan. Langit malam yang cerah membuat bintang-bintang terlihat. Indah betul. Di perkotaan, jarang sekali bisa mendapatkan pemandangan malam yang bagus. Hanya di waktu-waktu tertentu saja langit bisa secerah ini. Beruntung sekali saya bisa melihatnya bersama yang terkasih.

Duh, duduk berdua, di malam sunyi, menikmati angin yang berembus lembut. Betapa tenangnya.

Saya melirik Yoongi. Dia melirik saya juga. Kami bertatapan sembari sama-sama melempar senyum. Kulitnya yang putih bersih terlihat begitu bersinar. Mungkin bulan menjelma jadi dirinya.

"Yoongi, aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu," kata saya. Ini jujur, mengalir mulus tanpa perlu dipikir. Saya lihat Yoongi melebarkan senyum, tersipu.

"Aku juga."

"Dalam waktu dekat, kita akan menikah dan kau akan menjadi istriku. Kupikir aku adalah lelaki paling bahagia sedunia."

"Aah, Jimin..." Dia tak tahan mendengarnya. Rona di pipi itu menjalar ke telinga. Dia bergelayut manja di lengan saya. Samar wangi pelembut pakaian menguar. Saya sedikit mundur untuk merebahkan diri. Saat itu Yoongi masih tersenyum lebar.

"Aku mencintaimu," bisik saya. Tangannya saya ambil untuk saya taruh di atas dada.

"Aku juga mencintaimu." Yoongi merendahkan badan. Separuh badannya menindih saya. Tangan kami bergenggaman. Lalu Yoongi berkata, "Aku mencintaimu, Ji—"

Tapi tiba-tiba saja dia berhenti. Saya yang bingung hanya bisa berkedip. Sedang, air muka Yoongi berubah. Seperti ada yang mengganggunya hingga dia merengut dan mencebikkan bibir.

"Tunggu," katanya. Tangan yang sedang saya genggam itu dia tarik. Lalu badannya dia tegakkan untuk kembali duduk.

"K-kenapa?"

Yoongi menyusupkan tangan ke dalam kaos hingga bagian bawahnya sedikit tersingkap—dan saya bisa melihat kulit perutnya tanpa perlu meminta.

"Tidak tahu, tiba-tiba putingku gatal."

Puting? Saya meneguk ludah seketika. Yoongi dengan santainya haha-hehe di depan saya sambil menggaruk-garuk dada. Selesai menggaruk, tonjolan yang katanya gatal itu nampak mencuat di balik kaos putihnya. Secara tak langsung dia memberi saya sesuatu untuk dipandangi terus-menerus. Tapi tak etis juga kalau cuma putingnya yang saya perhatikan.

.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

.

Kami di ruang tengah. Ibu kami entah sedang bicarakan apa di dalam kamar. Malam ini ranjang akan dipakai oleh mereka. Yoongi dan saya tak kebagian tempat tidur.

Ah, apa saya belum katakan kalau saya diminta menginap juga?

Ya, setelah mengurusi jemuran, saya membantu Yoongi menyetrika dan melipat pakaian. Saat itulah Yoongi meminta saya untuk bermalam. Begini kira-kira pembicaraan kami;

"Sementara mereka tidur di kamar, kita bisa gunakan sofa dan karpet di ruang tengah."

"Aanu, aku, mungkin akan pulang."

"Kau mau pulang karena tidak ada tempat tidur?"

"Bukan, bukan begitu."

"Apa aku saja yang ikut kamu ke apartemen? Biar aku tidur di sana denganmu."

"Yoongi, kau tak bisa tinggalkan ibumu di sini."

"Kalau begitu, kau akan menginap, kan?"

"...ya."

Seringkali sayalah yang menjadi pihak paling penurut. Padahal tadinya saya akan pulang ke apartemen. Setidaknya cukup ibu saya yang merepotkan, saya tidak perlu. Sebab jika saya menginap, Yoongi mesti menyiapkan alas tidur, selimut, dan sandaran kepala. Itu benar-benar terjadi ketika saya memutuskan untuk bermalam di rumahnya. Saya duduk di sofa sementara Yoongi melapisi karpetnya dengan matras (yang hampir serupa dengan karpet bulu). Lalu dia mengambil bantal-bantal sofa dan menatanya sedemikian rupa. Hanya satu yang tidak dia bereskan, selimut. Selembar selimut kuning cerah itu dia sampirkan di pangkuan saya, seraya dia angkat badannya untuk turut duduk di sofa.

"Nah, begini lebih nyaman. Kalau mau tidur tinggal berebahan saja. Tapi selimutnya hanya satu, kecil dan pendek pula. Kita pakai bersama tak apa, ya?"

"Tidak apa," jawab saya. Rambutnya saya elusi. Dia terlihat senang. Lantas saya lanjutkan acara elus-mengelus itu. Saya baru berhenti ketika dia merapat, memeluk, dan menyerukkan wajahnya di leher saya. Saya bertanya, "Kenapa?"

"Tidak, aku hanya ingin memelukmu saja." Dia mengeratkan pelukan, kemudian melepasnya dengan cara yang lembut. "Ini salah satu cara untuk ... recharging energi. Recharging cinta."

Yoongi terkekeh. Saya terkesima. Rambut depannya yang sedikit berantakan, dan matanya yang setengah tertutup itu amatlah lucu. Dia mengantuk tapi seperti masih ingin bicara banyak dengan saya.

"Tidurlah, kau pasti lelah."

"Ayo, kau tidur juga. Kita tidur sama-sama."

Kami turun dari sofa, meluruskan kaki di atas karpet. Selimut ada di ujung kaki kami.

"Jimin, aku jadi ingat waktu kau mencuri ciuman pertamaku, lalu setelah itu kau kabur."

Saya diam. Rasanya ada sesuatu dari diri saya yang tercukil. Yoongi mengatakannya dengan wajah biasa. Saya agak kesal juga, tapi sudahlah.

"Jangan ungkit itu. Masa lalu biarlah masa lalu."

Yoongi tertawa remeh. Dia menyamankan posisinya dan menarik selimut tinggi-tinggi, bahkan sampai menutupi ujung kepala. Kami dalam selimut saling berpelukan. Rasanya sesak.

"Bukankah jadi gerah?"

Yoongi nampak tak peduli.

Saya mencecapi ludah sendiri. Wajah Yoongi ketika disentuh terasa lembab, kulitnya menempel dengan telapak tangan saya yang mengelus. Saya cium pipi gembilnya. Yoongi tertawa dengan suara yang amat kecil. Karena ingin mendengar tawanya yang lebih lepas, saya cium telinganya.

"A-akh."

Rupa-rupanya yang saya dapat bukan tawa, melainkan lenguh pendek nan rendah yang bikin merinding. Saya menjauhkan bibir dari telinganya hanya untuk melihat bagaimana ekspresi Yoongi setelah dicium. Dia memalingkan wajah. Matanya sama sekali tidak terarah pada saya.

Pelan-pelan dia berbisik, "Jimin, jangan ... bernapas di telingaku. Itu geli."

Kata-katanya seperti mendorong sesuatu dalam diri saya untuk bertindah lebih jauh. Saya merubah posisi, separuh badan saya ada di atasnya. Saya gunakan siku sebagai tumpuan. Tatapan Yoongi begitu polos tapi juga menggoda. Saya belai bibirnya dengan ibu jari. Lembut, lembab pula seperti kulitnya.

"Gerah," kata saya.

Saya cium bibir itu kemudian.

Tangan Yoongi mengalung di leher saya. Gerahnya makin menjadi. Tapi tiada dari kami yang berniat untuk menyibak selimut. Kami tetap berciuman meski rasanya seperti dipanggang dalam oven. Mungkin inilah yang membuat orang-orang suka bermesraan di tempat sempit. Ruang yang terbatas justru membuat pergumulan lebih intens. Pasokan udara yang tipis memacu adrenalin.

Saya menciumnya dengan berantakan. Saya gelisah. Walau suara Yoongi terkesan ditahan-tahan, tapi itu cukup membuat saya frustrasi. Ketika merasakan bibirnya, lidahnya, dan gigi-gigi kecilnya itu, di kepala saya terbayang hal yang lebih dahsyat. Apalagi ketika Yoongi tak segan meremat rambut saya kuat-kuat.

Kami lepaskan ciuman untuk bernapas. Tapi baru dua-tiga kali menarik napas, leher saya kembali dikalungi. Yoongi mengecupi ceruknya. Saya pun tak mau ketinggalan. Saya kulumi daun telinganya. Saya gigiti tulang rawan itu dengan gemas. Yoongi meredam suara seksinya ketika saya dengan iseng meniup-niupkan udara ke lubang telinganya.

Aah, ini menyenangkan. Begitu nikmat dan intim. Kapan terakhir kali saya bermesraan dengannya? Saya tak begitu ingat. Yang jelas, kami belum pernah sampai seperti ini sebelumnya.

"Yoongi, kau berkeringat."

"Hu-um." Dia hanya mengangguk pelan ketika saya sibak rambut lepeknya ke belakang.

Setelah rehat sejenak kami berciuman lagi. Saya ketagihan. Entah dia pun mungkin juga ketagihan mencium saya. Bibir saya dikulumi. Bibir mungilnya menyedot dengan kuat.

"Uh, yah! Uh, ngh! Teruskan!"

Ciuman kami terhenti ketika suara itu masuk ke telinga. Saya dan Yoongi saling bertatapan. Terkejut, takut. Dada kami menempel. Detak jantungnya terasa menggebu. Yoongi mungkin juga merasakan kencangnya detak jantung saya. Masih dalam selimut kami melempar mata ke kanan-kiri. Kami memastikan apa suara yang tadi itu nyata atau tidak.

"Kok berhenti?"

Ada suara lain. Yang ini besertaan dengan langkah mendekat. Tiba-tiba selimut yang tutupi badan saya dan Yoongi terangkat tinggi. Ketika menengok ke atas, ada ibu kami tengah berdiri dengan senyuman yang menyeramkan.

"UWAAH!"

Kami berteriak kaget. Saya buru-buru bangun dan menggeser pantat untuk duduk jauh dari Yoongi. Dia melakukan hal yang sama. Jadilah kami duduk berjauh-jauhan. Ibu saya membuang selimut kuning itu sembarang. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ternyata kalian masih pakai baju?"

Saya dan Yoongi melirik pakaian masing-masing. Kami memang masih pakai baju! Belum buka-bukaan sama sekali! Mendadak telinga saya terasa panas.

"Ibu kira kalian mau buatkan cucu malam ini."

Wajah Yoongi merah padam gara-gara perkataan ibunya. Dia bahkan sampai harus menutupi muka dengan kedua tangan—yang ujung-ujung jarinya sama-sama merah juga. Saya menjatuhkan mata ke kolong meja tivi ketika tahu ibu saya sedang menatap.

Ibu berkata, "Apa kalian mau pindah ke kamar? Biar kami yang tidur di sini?"

Saya mengubur kepala di sudut sofa. Dipergoki oleh (calon) mertua dan ibu sendiri ketika sedang asyik-asyiknya bermesraan dengan kekasih adalah hal yang sangat memalukan. Apalagi ketika mereka mengira kami sedang dalam proses produksi cucu...

.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

.

Kami tetap tidur di ruang tengah. Setelah kejadian memalukan itu, tak ada apa-apa lagi. Kami mencoba tidur dengan cara biasa. Lalu di pagi buta, saya bangun. Saya pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan buang air kecil. Saat kembali ke ruang tengah, Yoongi sedang duduk. Dia sudah bangun. Mungkin sensornya berbunyi ketika saya tidak ada di sampingnya.

"Kau mau ke mana?" tanyanya yang masih mengantuk.

"Aku mau pulang ke apartemen dan mengambil pakaian. Mungkin juga aku akan langsung berangkat ke sekolah."

"Jadi kita tidak berangkat bersama?"

"Kau mau berangkat bersamaku? Aku bisa menjemputmu nanti."

Bahunya merosot. "Apa mesti kau pulang ke apartemenmu subuh-subuh begini?"

"Aku tak bawa baju, tidak mungkin aku mengajar dengan pakaian seperti ini, bukan?" Saya berjongkok di depannya. Rambut Yoongi yang berantakan saya rapikan sedikit.

"Kau tidak mau sarapan?"

"Tidak usah."

"Kalau begitu aku akan bawa roti lapis untuk kau makan di sekolah. Aku juga akan buat bekal makan siang."

"Tidak usah repot-repot," kata saya, "Tapi kalau memang kau tak terburu-buru, ya tak apa."

"Baiklah."

"Kalau begitu aku pulang dulu ya? Aku akan menjemputmu jam tujuh." Saya mengecup bibirnya. Baru dilepas sebentar, Yoongi menangkup wajah saya dan balik mencium. Bibir saya dilumat, lalu digigit.

"Iya, suamiku."

Saya terdiam gara-gara itu. Sedang, Yoongi cekikikan di depan muka saya.

.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

.

Sekembalinya ke apartemen, saya langsung mandi dan berpakaian, tak lupa membereskan barang dalam tas yang mesti dibawa ke sekolah. Jam tujuh lewat saya menjemput Yoongi. Lalu kami berangkat ke sekolah bersama. Begitu sampai, dia langsung membukakan kotak bekalnya dan menyuruh saya sarapan. Seperti yang dia janjikan, dia benar-benar membuat roti lapis. Ada dua kotak lain, katanya itu untuk makan siangnya dengan saya. Sungguh indah senin saya. Serasa telah resmi beristri.

"Mereka akan pergi ke mana, ya?"

"Katanya tidak usah khawatir, Jimin. Mereka mau temui kenalannya sekaligus jalan-jalan di Seoul."

Orangtua kami tak tinggal di rumah. Apa yang mereka katakan tentang membantu mengurus pernikahan kami adalah benar. Sungguh bersemangat dua ibu itu.

"Yoongi. Omong-omong, enak ya jadi kita."

"Enak bagaimana?"

"Mau menikah tak perlu repot. Ada orangtua yang dengan senang hati mau mengurusi."

"Tapi kita juga harus bantu, meski tak tahu apa."

Kami tertawa. Karena kami datang lebih awal, kami masih punya cukup banyak waktu untuk bersenda gurau dan berleha sebelum dimulainya jam pelajaran. Dari jendela ruang guru, kami bisa melihat siswa-siswi yang mulai berdatangan ke sekolah.

"Jimin, kau dipanggil."

Yoongi menyenggol lengan saya. Di bawah sana ternyata penjaga gerbang sekolah tengah melambai-lambaikan tangannya dan memanggil saya untuk turun.

"Tolong gantikan saya ya, Pak? Perut saya mulas, mesti tuntaskan urusan di toilet. Saya mungkin agak lama. Dan saya titip juga anak-anak yang datang terlambat, biar mereka diberi sangsi. Mereka suka menyepelekan saya, tak mau menurut. Lebih takut pada gurunya," kata Pak Satpam ketika saya menghampirinya. Saya cuma mengangguk-angguk pasrah. Padahal sedang santai-santainya nikmati pagi bersama calon istri. Tapi, mau bagaimana lagi? Tak hanya sekali ini saja saya gantikan tugas penjaga gerbang sekolah untuk menindak siswa-siswi yang datang terlambat. Sudah sering...

Saya melirik jam tangan. Menjelang waktu ditutupnya gerbang, siswa-siswi berbondong-bondong datang. Mereka berlarian. Saya berdiri melipat tangan. Saya marahi mereka yang jalannya masih santai padahal tahu kalau gerbang akan ditutup lima menit lagi. Anak-anak perempuan mencoba merayu dengan sapaan manis. Saya tak menggubris.

Waktu habis. Saya mesti menutup gerbang.

"Tunggguuu!"

Tinggal sedikit lagi gerbang tertutup sempurna. Tapi saya sisakan sedikit celah untuk mengintip. Dari kejauhan ada seorang anak yang menggendong temannya di punggung. Yang bilang tunggu tadi suaranya saya hapal. Lama-kelamaan sosok-sosok kecil nan buram itu menjadi jelas dan akhirnya saya bisa kenali siapa mereka. Siapa lagi kalau bukan dua murid kesayangan saya?

"Kenapa kalian terlambat?"

Kedatangan mereka disemprot oleh pertanyaan saya. Ini penting. Keterlambatan siswa harus ada alasannya. Tapi alih-alih menjawab, yang satu ngos-ngosan dan satunya malah menangis. Saya jelas bingung mengapa mereka begini.

"Taehyung?"

Anak itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Saya alihkan pertanyaan pada temannya di gendongan.

"Jungkook, kenapa kamu menangis?"

"Heengg... hiks, saya, hiks, heenggg..."

Taehyung sudah selesai menata napas. Dia mendongak untuk tatap saya. "Sudahlah, Seonsaengnim, dia tidak bisa diajak bicara kalau sedang menangis."

"Ya sudah, saya bertanya padamu saja. Jungkook kenapa?"

"Kakinya terkilir, tapi dia ngotot mau sekolah. Dia minta saya menjemputnya ke rumah. Di jalan saya yang mesti memapahnya. Karena dia lambat jadi saya gendong saja."

"Tunggu, saya masih tak paham apa alasan yang bikin Jungkook menangis sampai terisak-isak begini."

"Dia, dia, dia menggerutu terus sepanjang jalan!" adu Jungkook. Lantas kepala temannya digampar. "Kalau tidak mau ya tidak usah membantu! Kamu bisa tinggalkan aku di halte bus tadi!"

"Memangnya aku tega?!" teriak Taehyung.

Dia menegakkan badan dan otomatis Jungkook merosot turun. Saya yang panik berlari untuk menangkap anak itu, takut-takut dia jatuh. Untungnya Jungkook masih bisa mempertahankan keseimbangannya dengan mencengkram seragam Taehyung.

"Makanya pegangan yang benar, supaya tidak jatuh!"

"Tuh, kan! Dia juga memarahi saya, Pak! Makanya, hiks, saya... uhhh, ngggg—hik..."

Tangis Jungkook becampur cegukan. Dia marah pada temannya tapi masih menggelayuti lengan Taehyung dengan erat. Sebelah kakinya diperban dan dia hanya mengenakan sandal rumah. Saya baru sadar ketika memerhatikan.

"Aku capek. Punggungku pegal!"

"Kau tidak mau menggendongku lagi?"

"Kau kira badanmu seringan kapas? Aku tidak mau osteoporosis sebelum lulus SMU! Sudah, kau jalan saja, biar kupapah."

"Gendong..."

"Tidak mau!"

"Taehyung, tumitku sakit..."

"Siapa suruh kepeleset di kamar mandi?!"

Saya memijat kening. Sebetulnya mereka tak harus bertengkar. Alasannya bahkan tak jelas sama sekali.

"Taehyung, sebelum masuk kelas antarkan Jungkook ke ruang kesehatan. Dan Jungkook, kamu tidak usah memaksakan diri. Kalau sekiranya kakimu sakit dan kamu tidak bisa berjalan, pulang saja ya? Katakan pada wali kelasmu dan buat surat pernyataan." Saya minta mereka turuti perkataan saya. Keduanya menatap jari telunjuk saya yang teracung. "Paham, anak-anak?"

Taehyung dan Jungkook mengangguk.

Mereka tak lagi berdebat atau saling meneriaki. Taehyung kembali membungkukkan badan supaya Jungkook bisa naik ke punggungnya. Bocah bergigi kelinci itu digendong temannya lagi.

Setelah berterimakasih, mereka berlalu. Saya menutup gerbang rapat-rapat. Tugas saya selesai. Waktunya saya kembali ke ruang guru dan mempersiapkan diri untuk mengajar di kelas PE pertama.

"Eh, Taehyung, bibirnya Park-ssaem kok bengkak begitu, sih? Habis berkelahi apa, ya?"

"Hah? Masak? Berkelahi dengan siapa?"

Saya menutup mulut, lalu menengok ke belakang. Dua anak itu ternyata tengah menatap saya dengan sorot menelisik.

"CEPAT MASUK KE KELAS, SANA!" teriak saya dengan emosi.

.

.

.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED