What's on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Pernikahan adalah satu hal yang bercabang banyak. Apalagi jika kita bicara tentang persiapannya. Selama ibu saya dan (calon) ibu mertua saya ada di Seoul, saya dan Yoongi benar-benar dipaksa untuk mengikuti irama mereka yang serba cepat. Kesannya seperti terburu-buru, tapi memang, kalau dibandingkan dengan pasangan lain, persiapan pernikahan kami terbilang cukup singkat waktunya.

Ibu kami tinggal di Seoul selama lima hari. Lima hari itu pula kami disuruh kesana-kemari. Tanpa jeda, tiap pulang mengajar kami diminta untuk datang ke tempat A, tempat B, tempat C, untuk mengurusi macam-macam hal mulai dari sewa tempat resepsi, dekorasi, pakaian, hantaran, suvenir, katering, dan lain-lain. Kami benar-benar dibuat sibuk. Seperti tidak dibiarkan mengambil napas barang sebentar. Alasannya, mumpung mereka masih di Seoul bersama kami. Katanya begitu. Saya berterimakasih karena mereka mau repot-repot mencari dan memutuskan, sehingga saya dan Yoongi tinggal membuat janji. Tapi di sisi lain, jujur saja saya merasa bahwa kami sebetulnya tak benar-benar diberikan kepercayaan untuk mengurusi pernikahan kami sendiri. Mungkin pikir mereka, kami yang tiap hari kerja ini tidak akan sanggup melakukannya tanpa bantuan.

Ini hari Sabtu. Orangtua kami telah kembali ke rumahnya masing-masing kemarin malam. Riuh telah hilang. Sebenarnya ada rasa kosong ketika tiba-tiba rumah Yoongi jadi sepi tanpa mereka. Tapi saya bersyukur karena di hari libur ini saya bisa beristirahat dengan tenang. Badan saya sudah letih. Saya tidak mau sakit hanya gara-gara terlalu sibuk. Omong-omong, saya sudah resmi pindah ke rumahnya Yoongi. Pakaian saya mengisi spasi dalam lemarinya. Beberapa barang kecil milik saya ada di atas meja riasnya. Yang lain-lain masih di dalam kardus, belum sempat dikeluarkan apalagi dirapikan. Belum ada waktu untuk mengurusi.

"Jimin, apa kau hanya akan tiduran di kasur sampai besok?"

Saya menengok. Tadinya sedang main gim di ponsel. Tapi Yoongi yang datang dan menegur seketika mengalihkan perhatian. Saya menjawab, "Ng… ya, mungkin."

"Tidak ada rencana?"

"Rencana apa?"

"Apapun?"

"Tidak." Saya menggeleng. Yoongi menekuk bibir ke bawah. Dia duduk di tepian kasur dan memunggungi saya. Saya tak mengerti kenapa tiba-tiba dia nampak kecewa begitu. "Kenapa? Apa ada yang kamu inginkan?"

Yoongi akhirnya membalik badan. "Kemarin-kemarin kita sangat sibuk. Aku sampai stres karena mesti mengurusi persiapan pernikahan juga tugas anak-anak murid. Rasanya ingin menyegarkan pikiran. Pergi ke suatu tempat, misalnya. Tapi sepertinya kau sedang lelah ya? Jadi ingin di rumah saja?"

Saya mengurut kening. Memang benar apa yang dia katakan. Karena lelah, seharian ini saya hanya berleha di kasur tanpa ada niatan untuk turun sama sekali. Hanya saja, ketika dia inginkan sesuatu, kenapa saya justru tidak paham? Mengapa sulit untuk membaca ekspresi atau gelagat yang dia tunjukkan pada saya? Seharusnya saya tahu. Ah, memang bodoh Park Jimin ini.

"Kau ingin ke mana?" Saya pegang tangannya. Saya elus-elus. Pelan-pelan cemberut Yoongi berubah jadi senyuman. Wajahnya kembali melembut.

"Aku ingin ke bioskop."

"Mau nonton apa?"

"Tidak tahu. Pokoknya ingin ke bioskop."

"…oke…" Saya mengangguk lambat. Saya benar-benar tak paham mengapa bisa dia menginginkan sesuatu padahal tak jelas alasannya karena apa. Saya kira ada film yang ingin dia tonton, nyatanya tidak.

"Ayo ke bioskop. Kita sangat jarang berkencan, bukan? Aku ingin seperti pasangan lain yang menghabiskan hari liburnya dengan pergi ke bioskop," katanya. Jari-jari saya ditarik-tarik. "Aku akan mandi dan berdandan."

Yoongi membuka lemari, mengambil baju. Dia terlihat asyik memilah-milih. Saya masih di kasur memandanginya. Saya baru berhenti ketika dia memanggil nama saya.

"Jimin."

Pura-pura saya mainkan gim. "Apa?"

"Aku tidak pernah melihatmu memakai celana jins ini." Dia menarik sepotong celana jins biru dari tumpukan pakaian saya.

"Aku… jarang sekali pergi keluar mengenakan celana itu."

"Kalau begitu hari ini kau pakai jins ya?"

Celana itu ditaruh di atas kasur. Yoongi kembali memilah-milih pakaian. Saya kira dia sedang memilih pakaian untuk dirinya sendiri, ternyata sedari tadi dia mencari pakaian untuk saya.

"Sepertinya akan bagus dengan kaos Polo ini. Warnanya senada dengan celana jinsmu, juga sepatu olahragamu yang biru tua itu."

Satu stel pakaian kencan sudah lengkap. Saya cuma diam. Rasanya seperti kembali ke masa kecil di mana Ibu yang pilihkan baju untuk saya. Bedanya, ketika Yoongi yang memilihkan, ada rasa malu sekaligus senang. Mungkin benar kalau selera berpakaian saya terlalu kolot dan monoton sehingga dia ingin saya tampil beda saat berkencan dengannya.

"Kau mau tunggu aku atau mandi denganku?"

"A-apa?" Saya terkejut.

Yoongi yang memeluk potongan kemejanya kemudian mengulang pertanyaan yang tadi, "Kau mau tunggu aku atau mandi denganku?"

Cepat-cepat saya menggeleng. "T-tidak, tidak. Aku akan mandi setelah kau selesai."

"Oke."

Yoongi menggeluyur keluar kamar. Saya mengelus dada sembari menghela napas panjang. Selama lima hari ini saya tidak pernah mengusik Yoongi kalau dia sedang mandi. Saya tidak pernah pula punya usulan untuk mandi bersama. Maka dari itu saya kaget, karena malah Yoongi yang mengusul. Tampangnya polos pula. Saya tak habis pikir, apa mandi bersama saya adalah hal yang sebegitu biasa baginya sehingga dia tak merasa takut atau khawatir? Sedang saya sendiri tak pernah bisa sebegitu tenangnya. Tidur di sebelahnya pun saya mesti banyak bersabar, apalagi untuk mandi dengannya. Saya belum siap melihatnya telanjang secara langsung (walau pernah terbayang di mimpi-mimpi malam saya, tapi kenyataannya saya belum tahu persisnya seperti apa). Untung saja dia selalu keluar dari kamar mandi dengan pakaian utuh. Kalau hanya dengan selembar handuk, atau tanpa handuk sama sekali, bisa-bisa saya khilaf dan lompat menerjangnya. Saya tak mau itu terjadi. Bagaimana pun, seperti yang sudah saya katakan berkali-kali, kami belum resmi. Dia belum sepenuhnya menjadi hak saya. Dia masih hak orangtua dan keluarganya.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

Kami sampai di bioskop mendekati jam tujuh malam. Banyak pasangan, sudah saya duga. Mereka bergandeng-gandengan tangan juga berjalan rapat dengan mesranya. Kalau lihat diri sendiri, tak jauh beda. Sedari masuk mal, Yoongi melulu mengalungkan tangannya di lengan saya. Seperti takut saya hilang, lucu sekali.

"Aku tidak akan hilang di keramaian, kenapa kamu begitu erat memegangi aku?"

"Orang-orang memerhatikan kamu. Aku takut kamu diambil oleh mereka."

Saya benar-benar tertawa ketika dia mengatakan itu. Tapi memang benar, beberapa kali saya mendapati orang-orang yang tengah memerhatikan saya. Entah karena apa. Yoongi bilang karena saya berdandan. Padahal dia sendiri yang memilihkan pakaian saya, dia juga yang menyisir rambut saya dengan tatanan sedemikian rupa, tapi dia malah takut kalau saya jadi pusat perhatian.

"Katakan saja kalau orang tampan ini sudah ada yang punya," bisik saya jahil.

"Ah, kamu ini."

Ya, seperti yang kamu kira, saya mendapat pukulan sayang darinya.

"Aku masih takut sampai sekarang. Nanti kalau aku tidur lalu mimpi buruk kau harus bertanggung jawab, ya!"

"Apa urusannya dengan aku? Kan kau yang mau nonton film itu!"

Kadang-kadang, saya bingung. Jika saya pergi bersama Yoongi berduaan, seperti ada magnet yang mendekatkan orang-orang yang kami kenal sehingga kami dan mereka (bahkan tanpa dikehendaki) bertemu di suatu tempat. Ribut perdebatan itu saya tahu dibuat oleh siapa. Ketika hendak mengantre tiket, saya melihat Jungkook dan Taehyung keluar dari lorong. Kenapa pula mereka mesti berada di satu bioskop yang sama dengan kami? Kapan saya bisa bebas berkencan tanpa ada gangguan dari anak-anak itu? Apa saya mesti kencan ke planet Mars?

Saya memutuskan untuk pura-pura tidak melihat. Saya diam-diam saja, memandangi layar jadwal tayang film.

"Ah! Taehyung! Jungkook!"

Sialnya, Yoongi malah menyapa mereka. Saya cuma bisa menggelus wajah. Kencan kami tak akan tenang kalau begini.

"Min-ssaem!"

"Oh! Ada Park-ssaem juga!"

Anak-anak itu berlarian. Orang-orang yang mengantre sampai-sampai mengengok pada kami. Saya malu sekali. Saat mereka menghampiri, saya masih pura-pura tidak peduli. Tapi lain saya lain pula Yoongi. Dia menyambut anak-anak itu dengan ramah.

"Kalian habis nonton?"

"Iya, Min-ssaem. Habis nonton film horor," jawab Jungkook.

"Waah? Apa filmnya seru?"

"Tentu saja."

"Taehyung. bagaimana kamu tahu filmnya seru atau tidak? Dua jam di dalam sana kamu hanya menutup mata dan bersembunyi di belakang punggungku."

"Aku takut, Jungkook!" Taehyung seketika memeluk Jungkook dari belakang.

Belum beberapa detik, tangan yang memeluk itu dihempaskan. Jungkook menggeleng-geleng. "Padahal dia yang membelikan aku tiket untuk nonton film itu, Seonsaengnim. Dan dia juga yang menghabiskan uangnya untuk hal yang sia-sia."

"Apakah seseram itu?" Yoongi menggigit jari.

"Seram, tapi ceritanya sangat menarik."

Obrolan mereka berlanjut. Ketika Jungkook menyebut judul, saya melihat jadwal tayangnya. Kurang lebih lima belas menit lagi film itu akan tayang di teater satu. Ada perasaan bahwa Yoongi akan mengajak saya menonton film itu pula…

"Jimin, ayo kita nonton film itu."

Benar, bukan? Saya mendengus pasrah.

"Omong-omong, Park-ssaem pasif sekali sejak tadi."

Saya menoleh. Dalam hati saya bertanya-tanya kenapa anak bermata besar itu menggunakan kata pasif untuk menunjuk saya yang diam. Dia habis belajar apa di sekolah?

"Tidak tahu. Mungkin saja takut nonton film horor?" Yoongi menjawab.

Saya tersenyum kering. Bukan karena takut atau apa. Saya bahkan tak memikirkan filmnya. Kediaman saya punya tujuan, supaya kami tak perlu berlama-lama berbincang dengan anak-anak itu.

"Tumben sekali Park-ssaem terlihat gaya," celetuk Taehyung.

Yoongi tersenyum bangga. "Saya yang dandani."

"Woah, kalau begitu tiap hari Min-ssaem saja yang dandani Park-ssaem!"

"Maunya memang begitu. Lagipula saya senang dandani dia."

"Enak ya. Kook, aku juga mau siapkan baju untukmu. Aku punya macam-macam baju peri dan puteri raja bekas teater dulu."

"Ih, aku tak perlu kau dandani! Siapa pula yang mau pakai itu!"

Lama-lama saya bisa migrain kalau mereka terus bertengkar seperti itu. Aneh saja, Yoongi malah tertawa-tawa. Pertengkaran mereka seperti sebuah hiburan baginya.

"Kalian lucu, ya. Bertengkar melulu."

"Saya tidak pernah mau bertengkar dengannya, Min-ssaem, tapi entah kenapa Taehyung selalu membuat saya kesal sampai ke ubun-ubun."

"Maaf, semua. Saya mau beli tiket dulu ya." Karena tak tahan, saya berpamitan. Mereka saya tinggalkan di luar garis antrean.

...What's on Park-ssaem's Mind?...

Menonton film horor adalah hal yang tak menyenangkan. Saya tak mau bilang kalau saya penakut. Tapi, film yang kami tonton memang benar-benar menegangkan. Saya lebih memilih untuk menonton film horor berdarah-darah ketimbang horor yang mengangkat tema mistis penuh keheningan dan kesenyapan. Saya lelah karena melulu dibuat merinding bulu kuduk. Keluar dari bioskop tampang Yoongi terlihat biasa saja. Tapi ketika ditanya, dia takut. Dia bilang hantunya menyeramkan. Saya jadi ingat kata-kata Jungkook soal Taehyung yang melulu bersembunyi dan bukannya menonton. Yoongi pun sama begitu. Dia duduk di kursinya dan memegang basket popcorn bukan untuk menikmati film, tapi untuk menyusup di belakang punggung saya…

Kami sampai di rumah sekitar pukul sebelas malam. Jalanan menuju rumah Yoongi sudah mulai sepi. Orang-orang mungkin sudah tidur. Sebetulnya kami selesai menonton pukul sembilan, tapi Yoongi masih ingin jalan-jalan di alun-alun kota. Katanya dia ingin mencicipi jajanan yang hanya ada di malam hari di tempat itu. Jadilah kami berkeliling dulu. Kami membeli banyak makanan (yang sebagian besar bukan saya yang memesan). Saya agak takjub juga melihat Yoongi yang begitu lahap memakan jajanan-jajanan itu. Seperti orang balas dendam, begitu bernafsu. Padahal kemarin dia sempat bilang pada saya kalau dia tak mau berat badannya bertambah terus. Dia takut pakaian yang sudah diukur di penjahit tak akan muat ketika hari pernikahan kami nanti.

"Aku makan seperti babi."

Saya hanya tertawa. Kami baru selesai sikat gigi. Sebelum ini dia sempat menyantap sepotong kue tiramisu. Sedang tidak bisa mengontrol nafsu makan, katanya. Saya maklum saja.

"Terimakasih untuk hari ini. Aku senang." Yoongi mematikan lampu kamar. Hanya lampu di atas meja nakas yang dibiarkan menyala. Cahayanya temaram, tapi cukup untuk membuat saya bisa melihat wajahnya yang manis.

"Kau tidak akan mimpi buruk, kan?"

"Kalau begitu peluk aku semalaman supaya aku tak mimpi buruk."

"Baiklah…"

Kami naik ke kasur bersama. Selimut ditarik. Saya merangkulnya. Saya bawa dia ke dalam pelukan. Yoongi menggerakkan kepalanya, mencari posisi nyaman.

Dengan suara yang lembut dia berkata, "Selamat malam, suamiku."

Yoongi menyusup di ketiak saya. Dia memeluk saya erat. Dada saya terasa sesak, entah mengapa. Saya harap degup jantung saya yang tak karuan ini tak sampai terdengar olehnya. Pelan-pelan saya kecup keningnya, lalu saya balas ucapan selamat malamnya.

"Ya, selamat malam… istriku."

...What's on Park-ssaem's Mind?...

Minggu pagi, Yoongi mencuci. Dia suruh saya untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, seperti menyapu dan mengepel lantai. Padahal saya berniat untuk ikut mencuci, berhubung yang kotor dan menumpuk bukan hanya pakaian miliknya saja, tapi milik saya juga. Ada celana dalam saya di situ. Yoongi bilang biar dia cuci saja semua sekalian, tak perlu dipisah-pisah. Saya hanya mengiayakan tanpa bisa banyak protes. Yang paling bikin malu adalah ketika dia teriaki saya dari ruang cuci sambil tertawa. Katanya dia tak percaya kalau saya punya celana dalam kuning bergambar bebek…

Siang hari, kira-kira jam sebelas, pekerjaan kami selesai. Lantai sudah bersih. Pakaian sudah dijemur. Sebentar lagi waktunya makan siang dan Yoongi sedang bersiap-siap untuk memasak di dapur. Dari ruang tengah saya mengintip. Memang paling cantik ketika dia kenakan celemek dan menggulung lengan kaosnya sampai ke siku. Sungguh pemandangan yang indah.

"Kau mau masak apa?" tanya saya. Saya ke dapur hampiri dia.

"Tempura?" jawabnya setengah bertanya. Ekspresinya sangat lucu.

"Permisi! Min-ssaem!"

Ketika ada hidung bangir yang muncul dari pintu dapur, saya sudah siap untuk mengeluh.

"Oh, Taehyung, ada apa?"

Yoongi meletakkan pisau dan terung di atas talenan. Dia berjalan ke pintu untuk menyambut. Kalau saya, hanya berdiri sembari menggerutu dalam hati. Taehyung lagi, Taehyung lagi…. Baru kemarin kami bertemu. Ah, saya baru ingat. Dia bertetangga dengan Yoongi. Jika saya tinggal di sini, ada kemungkinan setiap hari saya akan bertemu dengan dia. Ya Tuhan, sabarkan saya.

"Ibu buat pudding roti. Katanya Min-ssaem harus dapat satu loyang."

"Aah, terima kasih! Maaf merepotkan! Saya pindahkan dulu ya, piringnya saya cuci dulu. Sebentar."

"Tidak apa, Seonsaengnim, nanti saja. Saya mau pulang, tadi sedang main gim, tanggung."

"Tidak akan makan di sini?"

"Min-ssaem sedang masak?"

"Iya."

"Kalau begitu saya mau ikut makan di sini saja. Masakan Min-ssaem lebih enak dari masakan Ibu."

Anak itu menutup pintu dapur, serta-merta duduk di kursi tinggi depan meja bar. Saya memandangnya penuh keheranan. Dan seperti biasa, tanpa adanya rasa bersalah atau apapun, dia menunjukkan senyum kotaknya pada saya.

"Kenapa Park-ssaem jadi sering ada di sini?"

"Karena dia sudah pindah ke rumah saya," jawab Yoongi yang sedang memindahkan pudding ke wadah lain.

"Pantas saya lihat jaket olahraga punya Park-ssaem di jemuran." Taehyung menunjuk ke atas.

Iya, baru saja, jaket saya dijemur. Mungkin anak ini melihat ada kejanggalan di antara pakaian-pakaian basah yang dijemur di balkon lantai dua. Tapi kenapa dia bisa tahu? Jangan-jangan dia selalu memerhatikan apa-apa saja yang Yoongi cuci?

"Kalau tidak mau membantu, kalian tunggu di ruang tengah saja, jangan di sini. Hush, hush."

Yoongi mengusir. Saya tertohok. Keberadaan saya di dapur memang tak ada guna. Begitu pula Taehyung yang hanya cengengesan sambil menonton kegiatan Yoongi. Akhirnya saya tuntun anak itu ke ruang tengah. Saya nyalakan tivi. Yang tayang adalah kartun siang. Karena tak suka, saya pindahkan salurannya. Tapi Taehyung bilang jangan, dia mau nonton kartun. Rimot direbut. Dia kembalikan ke saluran kartun. Saya tidak menanggapi apa-apa. Mungkin karena lapar juga saya jadi malas untuk meladeninya.

Kami duduk di sofa. Taehyung sibuk dengan ponselnya sendiri. Tivi tidak dia tonton. Saya bingung. Fokusnya ke mana? Nonton kartun atau main gim? Saya mendengus lalu ambil rimot dan pindahkan ke saluran berita.

Taehyung memekik, "Jangan dipindahkan!"

Perebutan ini tak akan ada akhirnya. Saya pun memutuskan untuk turut sibuk dengan ponsel sendiri. Saat hendak main gim, saya teringat sesuatu. Ada satu hal yang belum sempat saya dan Yoongi urus selama beberapa hari ini. Karena kesannya sepele kami jadi tak terlalu peduli. Padahal, itu juga penting.

"Oh ya, Taehyung, berapa nomor ponsel Jungkook? Beritahu saya."

"Kenapa Bapak minta nomornya Jungkook?"

"Ada perlu. Sudah, berapa?"

"Saya tidak hapal."

"Lihat di ponselmu."

Taehyung diam lama, lalu mengangguk. Apa gunanya benda pipih yang dipegangnya sedari tadi itu? Saya kesal. Ingin dilampiaskan tapi tak bisa. Akhirnya saya cuma membelai-belai rambutnya penuh sayang—tidak, itu kekesalan.

"Ini, Seonsaengnim," unjuknya pada saya. Selagi saya mengetik nomor Jungkook, dia bertanya, "Serius saya tidak akan diberitahu?"

Saya menatap Taehyung. Dia berkedip polos. "Ck. Saya mau minta Jungkook buatkan desain undangan pernikahan."

"Oooh!" Anak itu bersorak. "Kalau begitu biar saya saja yang beritahu dia. Saya chat Jungkook sekarang."

Taehyung ketak-ketik, padahal saya belum bilang iya untuk izinkan. Saya hanya bisa menunggu. Percuma kalau saya yang kirim pesan pada Jungkook. Sudah pasti pesan Taehyung lebih dulu sampai.

"Jungkook mengetik…"

Apa perlu dia laporkan itu pada saya?

"Dia jawab begini, Pak."

Dia berikan ponselnya pada saya. Kemudian sebaris jawaban di aplikasi chat itu saya baca dalam hati.

Boleh saja asal ada komisi. Park-ssaem bilang tidak aku mau dibayar berapa?

Saya mendecak. Sungguh perhitungan anak satu itu. Dia bahkan langsung menanyakan nominal yang akan saya bayarkan untuk pekerjaannya.

"Katakan saja padanya, untuk harga pasti nanti temui saya langsung hari Senin di jam istirahat siang. Mesti dibicarakan dulu."

"Siap!"

Taehyung ketak-ketik lagi.

"Jungkook mengetik…"

"Pasti jawabannya cuma oke."

"Benar sekali. Apa Park-ssaem cenayang?"

Saya mengambil napas panjang, lalu membuangnya panjang-panjang juga.

Satu jam berselang. Saya sudah bosan main gim. Taehyung masih asyik. Dia tak lagi peduli meski saya pindahkan saluran tivi. Di Minggu siang, tak ada acara yang seru. Suntuk sekali. Mungkin mereka yang hidup di dunia pertelevisian tahu kalau di hari Minggu tidak ada yang mau menghabiskan waktunya untuk duduk menonton. Orang-orang lebih memilih untuk pergi keluar, refreshing, jalan-jalan, makan, berkendara, berkumpul bersama keluarga dan kawan-kawan. Maka dari itu, konten di hari Minggu seperti tak jadi prioritas, apalagi Minggu siang.

Saya menengok ke dapur. Saat itu pula Yoongi berjalan ke ruang tengah. Saya dengar dia terisak. Matanya basah dan hidungnya merah.

Dengan panik saya gapai dia, "Yoongi, kamu menangis?"

"Iya," katanya.

"Astaga. Kenapa? Apa kau terluka ketika memasak?"

"Tidak. Aku hanya menangisi kebodohanku."

Saya yang sedang memeriksa jari-jarinya seketika berhenti. "Apa maksudnya?"

"Aku masak nasi. Seingatku aku sudah tekan cook, ternyata belum. Padahal aku sudah menunggunya satu jam … hengg…. Pantas saja, pikirku kenapa tak matang-matang juga nasinya, ternyata memang belum kutekan cook…. Maaf ya…"

"Kau tidak perlu menangisi nasi! Itu bukan masalah besar!" Saya mencoba memenangkan hatinya.

"Itu masalah besar, karena aku lapar dan aku masih harus menunggu, Jimin…"

Yoongi masih menangis, saya bingung mesti apa. "Sudah, jangan menangis, ada anak muridmu di sini. Malu."

"Tidak apa-apa, Seonsaengnim. Saya juga pernah menangis waktu Jungkook janji mau buatkan saya jus mangga tapi tidak jadi-jadi," sahut Taehyung. Yoongi setengah meringis. Air matanya terus mengalis sementara mulutnya ditutupi karena tak mau tertawa. Tak lama dia menghapus sendiri jejak airmatanya.

"Kalau begitu aku kembali ke dapur dulu ya. Aku sedang merebus kuah sup miso."

Dia cekikikan sendiri. Saya heran. Mood-nya bisa berubah drastis sebegitu cepatnya. Apa ini karena Taehyung?

"Park-ssaem sangat beruntung."

"Huh?"

Saya mendadak kikuk. Tidak tahu maksud dari anak ini tapi kata-katanya terdengar tak biasa. Begitu … pas di hati.

"Ehem, ehem." Supaya tidak canggung saya mengganti topik, "Taehyung, apa kamu sudah memutuskan untuk kuliah di mana? Atau bekerja sebagai apa. Ujian tak lama lagi, bukan? Setelah ujian selesai, dan kamu lulus SMU, kamu bukan lagi anak-anak. Dunia yang sesungguhnya menantimu. Maka dari itu kamu sudah harus memutuskan segalanya mulai dari sekarang."

"Saya mau kuliah, Park-ssaem. Saya ingin kuliah di universitas X, jurusan komunikasi."

"Nah, bagus itu. Sudah ada tujuan. Tinggal meniti jalannya saja untuk sampai ke sana."

"Tapi melihat Park-ssaem dan Min-ssaem, saya jadi ingin menikah saja."

"HEH? APA KATAMU?"

"Saya ingin menikah, Pak."

...What's on Park-ssaem's Mind?...

CONTINUED

Halo. Masih adakah yang nunggu kisah kasih guru cadut satu ini?

Maafkan saya yang apdetnya lama pake banget. Bulan ini kondisi saya sedang tidak kondusif untuk nulis. Tapi hari ini, entah kenapa nyambi ngantor malah nyambi bikin cerita ini wkwkwk. Maso emang…

Yaudah deh, saya nggak mau banyak cing-cong. Mau bilang makasih aja buat yang udah baca. Maafkan bila banyak typo yang merajalela. Salam sayang dari Kuncen.