"Fate"
[ fate, isn't a thing that you could refuse ]
Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.
Warning
OoC detected
Alternate Reality
Typo(s) may be found
Failed at genre(s)
Brothership and slash hints
Plot-bunnies(?)
And others
—shunshines
family is the most important thing in the world.
-princess diana-
"Ohayou."
Shun sepenuhnya terbangun begitu sapaan hangat itu masuk ke dalam telinganya. Ia pun duduk di kasurnya sambil mengucek mata. Perlu beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa tempatnya sekarang terasa berbeda. Ditambah sosok anak laki-laki yang sedang berdiri tegap di samping tempat tidurnya.
Yang benar saja. Bagaimana ia bisa lupa kalau ia sudah pindah rumah?
"Ohayou mo," balas Shun dengan suara agak serak. Takeru tersenyum sambil mengacak rambut adiknya—yang sudah acak-acakan itu.
"Cepat mandi dan kutunggu untuk sarapan, ada sesuatu yang ingin kulakukan denganmu," ujarnya ambigu. Melakukan apa, Eyeshield?
Oh tunggu—untung saja cerita ini bukan cerita mesum atau apalah itu. Jadi pikirannya tidak usah melenceng, ya.
Shun hanya mengangguk, lalu turun dari tempat tidurnya. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan menuju kamar mandi, bertepatan dengan Takeru yang melangkah ke luar kamar.
Tidak perlu waktu lama, Shun sudah selesai membersihkan tubuhnya. Setelah mengeringkan tubuhnya yang terbalut kulit putih hampir pucatnya dan mengenakan pakaian, ia pun segera turun ke ruang makan untuk sarapan—sesuai yang diperintahkan Takeru. Matanya yang bebas dari rabun menangkap figur Takeru dan ibunya di ruang makan.
"Ohayou, minna," sapanya begitu mencapai ruang makan. Perlu waktu setengah menit berjalan ke ruang makan dari tangga tadi. Ingat-ingat bahwa rumah keluarga Yamato ini—sungguh—besar dan luas.
"Ohayou mo," balas dua orang yang ada di sana. Takeru sudah duduk di meja makan, sementara Haru tengah menyajikan sarapan. Shun pun menarik kursi di sebelah kakaknya, lalu duduk.
"Wah, sudah mau sarapan, ya?" sebuah suara baritone yang diyakini milik Satoshi membuat ketiga orang di ruang makan itu menoleh ke asal suara. Pria itu sudah berpakaian rapi, sama seperti calon istrinya. Baik Shun maupun Takeru sudah bisa menebak bahwa kedua orangtua mereka akan pergi memastikan perlengkapan untuk besok.
"Begitulah, Tou-san," jawab Takeru sambil tersenyum. "Kaa-san dan Tou-san sudah akan pergi?"
Haru mengangguk sambil menatap Satoshi (pria itu pun balas menatapnya). "Iya. Jaga baik-baik, ya, adikmu yang satu itu! Kami akan kembali setelah makan malam, jadi makan duluan saja."
"Baiklah, sampai nanti, Anak-Anak," sambung Satoshi sambil mengacak rambut kedua anak laki-lakinya. Setelah itu, mereka berdua pun benar-benar meninggalkan rumah.
Dan jadilah Shun hanya berdua dengan Takeru.
Mereka berdua memakan sarapan masing-masing dalam diam. Hanya ada suara berisik di dapur dan pekerjaan-pekerjaan rumah lain yang dikerjakan oleh pembantu-pembantu rumah tangga.
Setelah menelan makanan untuk yang terakhir kali, Shun pun memutuskan untuk membuka topik pembicaraan dengan kakaknya. Ia bukanlah tipe orang yang punya banyak topik untuk dibicangkan, dan sangatlah jarang bagi seorang Shun Kakei(yang sekarang akan berganti marga menjadi Yamato) untuk memulai pembicaraan duluan. Namun, sesuatu yang dijanjikan Takeru saat membangunkannya tadi itu cukup menggelitik rasa penasaraannya.
"Nii-san, tadi kau mengatakan ingin melakukan sesuatu denganku. Apa itu?"
Takeru yang baru saja meneguk tehnya, meletakkan kembali cangkirnya di meja. Ia balas menatap Shun, lalu tersenyum—tampak bersemangat. "Oh, itu. Aku ingin mewujudkan janji yang sudah kita buat waktu SMP. Aku ingin bertanding denganmu, sekarang."
Kalau Takeru sudah selesai minum, kini giliran Shun yang meneguk air berwarna kecokelatan yang manis itu. Sayangnya, ia nyaris tersedak begitu mendengar pernyataan Takeru. "A, apa? Bertanding ... sekarang?"
Takeru tertawa—lebih tepatnya, menertawakan—reaksi Shun yang bisa dibilang lucu itu. Ia bahkan tidak berhenti tertawa kecil begitu Shun melempar death glare kepadanya. "Iya, sekarang. Keberatan? Atau mau saat latihan Teikoku Alexanders?"
Shun memutar bola matanya, mendengus perlahan. Takeru terdengar seperti menyindirnya begitu mengatakan 'saat latihan Teikoku Alexanders'. Terdengar seperti meremehkannya dan ingin mempermalukan dirinya di depan anggota tim terkuat se-Kansai—bahkan seantero Jepang. Atau mungkin hanya perasaannya saja—ia sudah bisa mengenal bahwa seorang Takeru Yamato itu blak-blakan, mengatakan apa yang ada di pikirannya tanpa takut menyinggung perasaan orang, dan tentu saja, absolute.
"Tidak, terima kasih—aku menolak untuk pilihan kedua," ujar Shun datar. Ia melihat Takeru tersenyum begitu mendengar ucapannya. Lalu, kakaknya itu menepuk bahunya. Terasa sekali bahwa ia sedang bersemangat.
"Dengan begitu, kauterima pilihan pertama, kan? Kalau begitu, ayo bertanding sekarang!" ajaknya seraya bangkit dari kursi.
Shun menghela napas. Seperti biasa, tidak ada kesempatan baginya untuk menolak lagi. Takeru sudah keukeuh dan kepercayaan dirinya pun terlihat jelas.
Bukan berarti Shun tidak mau bertanding dengan sang Eyeshield 21 Notre Dame. Bukan berarti ia menyerah sebelum bertanding. Ia hanya tidak siap untuk melawan Takeru sekarang. Ia masih merasa kurang latihan selama berada di Kyoshi. Belum lagi, hari ini terlalu mendadak—bukankah begitu?
Tapi di sisi lain, bertanding dengan Eyeshield 21 asli adalah impiannya sejak dulu. Sejak dua tahun yang lalu, tepatnya saat SMP di Negeri Paman Sam. Ia—jelas—mengingat janji Takeru Yamato itu, tapi tidak disangkanya hari itu datang secepat dan semudah ini.
Ya, semudah ini.
"Sudah siap?"
Kali ini, Shun dan Takeru sudah berada di halaman belakang rumah mereka yang bisa dibilang luas. Cukuplah, untuk pertandingan kecil-kecilan ini. Takeru sudah menggenggam bola berwarna cokelat bernama bola american football itu. Begitu pula Shun, ia sudah siap di posisinya. Berjarak beberapa meter dari posisi Takeru.
Dengan mantap, Shun mengangguk. "Ya, Eyeshield."
Adrenalin keduanya sedang berada di garis atas. Jiwa atlet amefuto tiba-tiba saja membara begitu menapakkan kaki di 'lapangan' ini. Keyakinan 'aku pasti menang' sudah kembali menancap di otak masing-masing. Bukankah semua atlet sejati akan selalu berpikiran begitu?
Takeru mengambil ancang-ancang lalu kemudian berlari. Berlari dengan kecepatan di atas rata-rata orang Jepang—atau mungkin sedunia. Untuk sepersekon detik, Shun takjub dengan kecepatan cahaya yang dimiliki kakaknya itu. Tapi, ia jelas sadar, sekarang bukan tempatnya untuk mengagumi sang Eyeshield 21 Notre Dame. Ia harus melawannya—bahkan mengalahkannya.
Begitu Takeru sudah ada di depannya dan akan melakukan step ke samping kiri, Shun tanpa ragu men-tackle-nya. Kalau saja Takeru adalah pemain standar, ia pasti akan jatuh karena kekuatan lengan Shun.
Sayang sekali, kekuatan dan keseimbangan Takeru Yamato masih berada di atasnya. Bukan dirinya yang jatuh, tapi malah Shun yang terdorong dan jatuh. Saat Shun men-tackle-nya, ia mengelak dengan cara mendorong adiknya dan tetap mempertahankan keseimbangannya dan berlari melewati sang adik.
Benar—Eyeshield 21 memang tidak terkalahkan, batin Shun dalam hati. Dalam ekspetasinya, Takeru pasti akan menertawakan kelemahannya dan meremehkannya yang tidak berkembang sejak dua tahun yang lalu. Aku tidak akan bisa mengalahkannya, setidaknya untuk sekarang.
Shun baru saja bangkit untuk berdiri, tapi tangan Takeru terulur untuknya. Ia menengadah dan menemui kakaknya yang tersenyum kepadanya. Bukan senyum meremehkan atau senyum sinis—itu adalah senyum dan tatapan mata yang seolah berkata 'tidak apa-apa' dan cenderung menenangkan.
"Ayolah, tidak apa-apa. Kau hanya gagal sekali. Lain kali, kau tidak boleh gagal lagi," ujar Takeru, masih dengan senyum terpatri di wajahnya. Seakan terpengaruh oleh pernyataan tadi, Shun pun menyambut uluran tangan kakaknya. Takeru pun menarik lengannya sampai Shun berdiri.
"Tapi—" ujar Shun dengan nada kekecewaan yang tersirat, membuat Takeru menatapnya heran. "—tetap saja, aku yang selalu kalah."
Takeru menepuk bahu adiknya, lalu melengkungkan sebuah senyum lagi di wajahnya. "Kau kalah sekarang. Besok, atau suatu hari nanti, aku yakin kau bisa lebih baik dari sekarang. Dan juga bisa mengalahkanku."
Mata Shun membelalak sedikit. "Apa katamu? Mengalahkanmu? Bukannya kau selalu membuat pernyataan bahwa kau tidak bisa dijatuhkan oleh siapa pun?"
"Lantas?"
"Oh, ya ampun." Shun menggaruk pipinya (yang sebenarnya tidak gatal) dengan jari telunjuk kiri. "Dengan kata lain, kau hanya mengizinkanku untuk mengalahkanmu, bukan? Aku yakin kau tidak pernah mengatakan hal itu kepada siapapun. Yah—pokoknya seperti itu."
Takeru tertawa mendengar 'analisis' anak laki-laki yang lebih muda di hadapannya itu. Analisis yang cukup bagus. Sehingga ia bisa menyimpulkan kalau Shun adalah anak yang kritis dan ... peka terhadap kata-kata 'ambigu'?
(Bahkan Takeru sendiri mengakui bahwa terkadang kata-katanya terkesan ambigu.)
"Ayolah, apa yang diinginkan seorang kakak dari adiknya? Kalau kau pernah merasakan menjadi seorang kakak, kau pasti tahu benar—seorang kakak selalu menginginkan yang terbaik untuk adiknya. Begitu pula denganku," ujar Takeru, lalu mengambil napas. Sebuah lengkungan bernama senyuman kembali merekah. "Karena kau adikku, makanya aku berharap kau menjadi lebih kuat dan bisa mengalahkanku."
Shun takjub dengan perkataan Takeru. Kalau boleh jujur, penjelasan dari Takeru itu sudah mulai menggelitik hatinya yang paling dalam. Shun bisa mengatakan kalau ia bukanlah tipe orang yang mudah dan cepat percaya pada orang lain. Bisa dibilang ia agak skeptis. Jangan harap bisa membuat Shun Kakei takluk hanya dengan kata-kata dari mulut manismu.
Tapi, rasanya kali ini berbeda. Dengan Takeru, ia sangat merasa prinsip 'tidak akan mudah percaya kepada orang lain' itu berubah. Entah karena faktor kata-kata absolute Takeru, atau hal-hal yang tidak masuk akal lainnya, yang jelas Shun merasa ada perubahan yang berarti.
Ia sudah bisa menerima keluarga barunya, hanya dalam waktu sehari, karena kakaknya. Karena seorang Takeru Yamato itu. Juga, mengubah prinsipnya.
"Terima kasih, Nii-san."
Dan baru kali ini pula Shun tersenyum karena Takeru.
"Nah, begitu," ujar Takeru sambil mengacak helai indigo milik Shun. "Jadi, bagaimana kalau kita latihan amefuto kecil-kecilan sekarang? Aku ingin mengajarkan teknik memblok dan men-tackle. Dan sebaiknya, kita pemanasan lagi."
Mendengar tawaran yang sangat menggiurkan—yaitu belajar teknik memblok dan semacamnya, langsung dari Eyeshield 21 Notre Dame, Shun tidak bisa menolak lagi. Ia langsung mengikuti kakaknya yang akan berlari keliling kompleks perumahan mereka sebagai pemanasan.
Sudah hampir jam makan siang, tapi dua bersaudara itu masih asyik dengan latihan amefuto mereka. Kali ini, mereka pindah lokasi. Setelah lari keliling kompleks tadi, mereka tidak langsung ke rumah, tapi ke lapangan yang masih berada di lingkungan perumahan mereka. Sudah hampir tiga jam lebih keduanya berada di sana.
Takeru tersenyum melihat kemampuan adiknya dalam mencerna semua pelajaran yang ia berikan tentang teknik memblok dan men-tackle lawan. Dari semenjak pertama kali bertemu dengan Shun pun ia sudah bisa menebak bahwa anak itu berbakat dalam olahraga amefuto. Pertemuan paling pertama, dua tahun yang lalu.
"Hey, Shun. Latihannya cukup untuk hari ini," ujarnya kepada Shun yang sedang duduk meluruskan kakinya sambil mengatur napas. Ia bisa saja lanjut latihan sampai sore tanpa makan siang dulu, tapi melihat adiknya yang kalau diperhatikan sudah kelelahan, ia tidak akan mungkin memaksa.
"Padahal, aku masih mau latihan," balas Shun pelan, tapi masih bisa terdengar sampai ke telinga kakaknya. Memang iya, ia tidak merasa benar-benar fit hari ini. Makanya, hanya berlatih tiga jam saja sudah kelelahan. Tapi, bukan Shun namanya kalau mengeluh karena hal sepele tadi. Selama ia masih kuat, bantai saja porsi latihannya.
"Oh, ayolah, kau sudah kelelahan begitu," ujar Takeru, kali ini sambil menepuk kepala adiknya. "Kalau kelelahan sekali, bisa sakit—apalagi sekarang kau tidak benar-benar sehat, kan?"
Shun hanya mengiyakan asal—mulai nih, bawelnya.
"Anyway, besok kita ada acara penting. Jangan sampai kau sakit, aku tidak mau dimarahi Kaa-san karena menelantarkan Adik Kecil ini," canda Takeru, lalu tertawa begitu melihat ekspresi Shun yang menatapnya dengan tatapan bilang-sekali-lagi-aku-tidak-segan-memukulmu. Tatapannya yang seakan marah itu kontras sekali dengan pipinya yang bersemu merah—malu karena menjadi bahan tertawaan kakaknya.
"Jangan cemberut, nanti kucium kau baru tahu rasa," modus(?) Takeru dengan smirk yang bisa membuat cewek normal manapun kena serangan jantung (termasuk yang nulis). Ia pun bangkit dari posisi duduknya dan mengulurkan kembali tangannya kepada Shun., biar bisa pegangan tangan lagi ceritanya.
Duh, Eyeshield, modus banget sih kamu.
"Siapa juga yang cemberut," sungut Shun sambil menatap kakaknya dengan judes. Meskipun kesal, tetap saja ia menyambut uluran tangan dari kakaknya itu. Sadar tidak sadar, kamu pun sama-sama modus, Shun.
Takeru hanya tertawa, menahan keinginannya untuk mencubit pipi adiknya. Ia tahu benar, sesempurna apapun topeng berupa image dingin dan kalem itu, masih ada sifat kekanakan di baliknya. Shun sangat pandai menyembunyikan sifatnya yang satu itu, bahkan semua orang pun beranggapan bahwa ia adalah sosok yang dewasa. Tapi, tidak untuk Takeru. Meskipun baru mengenal Shun beberapa minggu, meskipun tidak pernah benar-benar bisa mengobrol santai dengan adiknya, tapi ia merasa sudah mengenal sosok Shun sampai ke dalamnya.
Tapi, masih banyak lagi yang harus dikoreknya.
Angin semilir berhembus pelan, membawa sedikit rasa sejuk di akhir musim panas ini. Menggelitik tengkuk dua bersaudara yang tengah berjalan berdampingan menuju tempat peraduan selanjutnya—rumah mereka. Masing-masing tidak ada yang berinisiatif untuk membuka topik pembicaraan, setidaknya ada obrolan ringan agar suasana tidak terlalu kaku. Tapi, meskipun kelihatannya kaku, baik Shun maupun Takeru bisa merasakan ada suatu kehangatan yang menjalar di dada keduanya. Rasa hangat yang belum pernah dirasakan Shun seumur hidupnya. Bagaimana dengan Takeru? Ia sudah pernah merasakan perasaan ini, meskipun hanya beberapa tahun.
Rasa hangat dalam hubungan kakak-adik.
Shun tidak pernah merasakan bagaimana punya kakak atau adik. Punya sepupu pun rasanya tidak sama. Ia selalu kesepian—dan ia menutupinya. Ia hanya memiliki seorang ayah dan seorang ibu. Setidaknya, orangtuanya yang masih lengkap itu sudah membuatnya senang. Semuanya tidak lagi sama ketika ayahnya memutuskan untuk meninggalkan dirinya dengan Sang Ibu berdua. Bisa dibayangkan betapa kesepiannya Shun Kakei waktu itu.
Sementara Takeru, ia sudah pernah merasakan memiliki adik. Adiknya berjenis kelamin sama, memiliki ketertarikan yang sama dengannya pula. Umurnya hanya berbeda dua tahun. Sayang beribu sayang, ia pun mengalami mimpi terburuk dalam hidupnya. Saat dirinya sedang bersekolah di Amerika, ibu dan adiknya mengalami kecelakaan lalu lintas dan mengalami masa kritis di rumah sakit. Takeru jelas ingat, waktu itu ia sedang ujian semester, dan ayahnya tetap menyuruhnya untuk menyelesaikan ujiannya terlebih dulu. Persetan dengan ujian, ia sungguh ingin pulang ke Jepang untuk melihat kondisi dua orang yang dicintainya itu. Tapi, ia tetap tidak punya izin untuk kembali ke Jepang.
Sampai akhirnya, Sang Ibu harus kembali ke sisi Tuhan. Nasib tidak segan-segan menambah luka, Sang Adik pun menyusul tiga jam kemudian. Masa lalu itu sangat kelam, dan hanya sedikit yang tahu tentang peristiwa menyakitkan itu. Takeru sudah terlalu pintar memasang wajah yang seolah mengatakan hidupku-selalu-bahagia-tidak-ada-cacat-sama-sekali .
Terlalu asyik bergelut dalam pikiran masing-masing, Shun dan Takeru tidak sadar bahwa mereka sudah berada di gerbang rumah. Masih tanpa suara atau obrolan ringan, mereka berjalan menuju pintu rumah. Sampai akhirnya—
"—Shun?"
"—Nii-san?"
—keduanya bersama-sama memanggil nama saudaranya.
"Yang muda duluan," ujar Takeru mempersilakan Shun untuk berbicara.
Shun menggaruk pipi dengan jari telunjuk kanannya, agak gugup. Sebenarnya, wajahnya sudah memerah karena gugup mengatakannya, tapi disembunyikannya dengan sekuat tenaga. "Aku hanya mau bilang ... terima kasih."
Takeru tersenyum. Ia—jelas—mengerti maksud terima kasih itu. Ia pun mengacak-acak helai indigo Shun dan berkata, "Sama-sama. Dan aku juga ingin berterima kasih kepadamu karena sudah menjadi adikku."
Di hari Jumat yang cerah ini, es yang membatasi hubungan antara Shun dengan Takeru sudah melumer sedikit demi sedikit. Lalu, es itu pun sudah sepenuhnya mencair sekarang. Digantikan dengan matahari yang bersinar hangat yang juga menjadi multifungsi seperti angin; mendekatkan jarak di antara keduanya.
Ya, es itu telah menghilang sepenuhnya.
-to be continued-
hai! yunna is back!
oke, ini update-annya. setelah stuck beberapa hari, akhirnya bisa lanjut nulis gara-gara dapet inspirasi sama teman sekelas yang baru yang doyan modus(?). makanya chapter ini banyak modusnya. belum lagi acara fangirling di twitter (sampai PA-ku lebih cocok disebut sebagai fanacc daripada PA =_=v).
well, intinya idenya mengalir lancar. =))
yap, sampai jumpa di chapter 3! berhubung ide lagi mengalir, jadwal sekolah lagi renggang dan bakal tetep renggang(?), mana sebentar lagi libur, aku usahakan update terus, hoho :3
the last but not least, review? ;u;
