"Jadi, bagaimana Seonsaengnim?"
"Ya begitu. Saya ingin kamu buatkan desain undangan untuk pernikahan saya."
"Komisinya?"
"Saya mau lihat dulu seberapa bagus desain yang kamu buat."
"Tapi saya sudah punya patokan harga minimum, Pak." Jungkook mengambil sebuah pena dari meja saya, lalu menuliskan angka-angka di kertas bekas. Itu nominal uang. "Segini."
"Kalau desainmu bagus, saya bisa kasih segini." Saya rebut penanya. Saya coret angka terdepan.
Jungkook protes, "Pak, itu lebihnya cuma sedikit."
"Jungkook, kerjakan saja dulu, apa salahnya?" Saya jadi kesal juga. Anak ini orientasinya melulu pada uang. Urusan negosiasi bayaran kerja rasa-rasanya bakal sulit menemukan titik terang.
.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Jungkook mengiyakan permintaan saya untuk bertemu. Kami ambil kesempatan di jam istirahat siang. Yoongi diajak Jin-ssaem makan di luar sekolah. Tadinya saya pun diajak, tapi karena punya janji dengan Jungkook, terpaksa saya tetap di sekolah dan membiarkan mereka pergi berdua. Di meja ada sebungkus camilan permen jelly. Sembari bicara saya dan Jungkook ganti-gantian mencomot permen itu.
"Baiklah. Bapak mau desain undangan yang seperti apa?"
"Yang sederhana saja."
"Yang sederhana itu yang bagaimana, Pak? Mesti ada temanya."
"Bebas."
Saya ini orangnya simpel. Tidak mau dibikin repot. Bahkan ketika Jungkook tanyakan itu, saya tidak terpikirkan apa-apa selain undangan yang biasa disebar orang-orang. Yang penting ada nama kami dan tanggalnya, itu saja. Jungkook adalah anak yang kreatif, jadi tanpa perlu saran pun, saya pikir dia bisa membuat desain undangan yang bagus.
"Tidak, tidak. Saya mau bertema. Bapak yang memutuskan."
Saya diam. Sebutir permen jelly tertahan di bibir.
"Oh, satu lagi. Saya juga butuh referensi. Apa boleh saya lihat foto prewedding Park-ssaem dan Min-ssaem?"
"Prewedding?"
"Bapak belum berfoto untuk itu?" Mata besar anak itu membelalak bulat seperti bola ping-pong. Dia kaget. Badannya mundur ke sandaran kursi lalu tangannya dia lipat di depan dada sembari melayangkan tatapan remeh pada saya. "Ah, saya curiga. Jangan katakan belum."
"Belum." Saya menggeleng. Memang benar. Mau jawab apa lagi?
"Astagaaa!" Jungkook menjatuhkan kepalanya ke permukaan meja. "Lebih baik Park-ssaem foto prewedding dulu. Masak mau menggelar acara pernikahan tanpa foto prewedding? Nanti display di lokasi mau pajang apa? Poster sedot wese? Atau iklan lowongan kerj—"
Saya ambil beberapa butir permen, lalu saya jejali mulutnya dengan itu. Jungkook terlihat marah dan saya merasa perlu untuk menenangkannya. "Sabar, Nak," kata saya. "Saya tahu. Kamu memang benar. Mungkin saya akan tanya Yoongi soal ini."
Wajah Jungkook mengendur. Dia mengunyah permen-permen yang tadi saya jejali. "Omong-omong, saya punya rekomendasi fotografer yang sudah pro, Pak. Hasil fotonya tidak perlu diragukan lagi. Bagus."
"Siapa?"
"Ini akun media sosialnya." Jungkook mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dia menunjukkan sebuah akun media sosial pada saya. "Tim Teater Merah sekolah kita bernah difoto olehnya, Pak. Hasilnya luar biasa. Bapak lihat yang setengah mukanya tertutupi topeng? Itu Taehyung waktu memerankan salah satu tokoh antagonis di teater tahun lalu."
"Saya tidak ingat dia pernah jadi tokoh antagonis. Tak terbayang."
"Saya juga tak bisa membayangkannya, Pak. Saya tidak nonton teaternya waktu itu."
"Kenapa?"
Jungkook menggedikkan bahu. "Persiapan ujian. Tahun lalu saya belum jadi siswa di sini, pula."
"Uuugh, waktu itu kamu masih SMP, ya Kook?" Saya cubit dia. Saya jadi gemas mengingat Jungkook yang begitu culun waktu pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Rambutnya seperti mangkok dan pipinya gembul.
"Pak, hentikan." Raut muka Jungkook berubah risih. "Bukankah kita sedang bicarakan fotografer ini?"
"Ah, ya. Betul. Sampai mana tadi?"
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Saya bicara banyak dengan Jungkook. Anak itu sebetulnya sama cerewetnya dengan Taehyung. Bedancya, yang keluar dari mulut Jungkook lebih berbobot. Kalau Taehyung sedang berceloteh, saya lebih banyak diam, cukup didengarkan supaya nanti dia berhenti sendiri. Kalau Jungkook, ya pada dasarnya karena dia pintar, jadi topik yang dia angkat ketika berbicara dengan pria seusia saya bukan lagi tentang kucing berwajah aneh yang vidionya viral di internet, melainkan isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan dan salah satunya adalah urusan uang semester sekolah kami yang katanya mau dinaikkan sekian persen.
Waktu makan siang saya yang pendek akhirnya saya manfaatkan dengan makan mie instan. Kebetulan, karena Kim-ssaem duduknya di sebelah saya, jadi saya bisa meminta satu kap tanpa perlu jauh-jauh membeli ke kantin.
Tepat sekali, ketika mie saya habis, Yoongi kembali ke ruang guru. Saya lebih dulu menenggak sebotol air mineral sebelum menggapai-gapaikan tangan padanya dan memintanya duduk.
"Yoongi, aku mau bicarakan sesuatu," kata saya.
"Apa itu?"
"Foto prewedding. Kita belum punya, bukan?"
"Ah, benar!" Yoongi menepuk dahi. Dia sedikit tertawa. "Kenapa tak ingat?"
"Saat jam makan siang tadi aku bicara dengan Jungkook. Dia merekomendasikan seorang fotografer yang hasil jepretannya bagus. Aku suka. Mungkin dia bisa memotret kita nanti."
"Kalau begitu ayo segera berfoto!"
"Kau maunya kapan? Di mana? Aku akan menghubungi fotografernya."
"Akhir minggu ini, kalau bisa. Hari sabtu. Tanyakan saja apakah dia punya waktu luang atau tidak di hari itu."
"Tempatnya di mana?"
"Aku ingin berfoto di tempat yang bernuansa Jepang."
"Saya tahu, saya tahu!"
Saya dan Yoongi menoleh. Secara tiba-tiba Kim-ssaem menginterupsi. Kami bahkan tak tahu kalau sedari tadi dia masih duduk di kursinya dan mencuri dengar pembicaraan kami.
"Di kota ada sebuah penginapan tradisional Jepang, Park-ssaem. Tempatnya bagus, walau kecil sih. Biaya sewa permalamnya sangat ramah di kantong. Perizinan untuk foto komersil pun sangat mudah."
"Benarkah?" Yoongi bertanya dengan antusias.
Saya menatap sangsi. "Kenapa Anda hapal sekali?"
"Tiga kali saya ke sana dengan Seokjin. Pernah ditawari untuk berfoto juga."
"Kalian..."
Mereka yang tanpa ikatan pernikahan itu berdua-duaan di penginapan, kiranya apa yang dilakukan? Apalagi sampai tiga kali. Berarti tempat itu sangat kondusif untuk—ah, terlalu dini memikirkan ini.
"Ayo kita berfoto di sana!" Yoongi mengguncang lengan saya. Dan seperti biasa, jika dia menginginkan sesuatu, tugas saya memenuhi keinginannya.
"Oke... kita berfoto di sana."
"Astaga. Tiba-tiba aku jadi sangat bersemangat," kata Yoongi. Memang nampak sekali dari wajahnya. Begitu berseri bak bunga yang mekar sempurna.
"Apa karena kau senang berfoto?" goda saya.
"Bukan. Ini karena aku akan berfoto denganmu."
Mendadak wajah saya terasa panas. Saya menutupi muka menahan malu. Di belakang saya Kim-ssaem cekikikan dengan puasnya. Tadinya saya berniat menggoda Yoongi, tapi malah saya yang kena umpan sendiri.
"Bagaimana kalau sehabis mengajar kita pergi ke mal untuk beli baju?"
"Beli baju?"
"Supaya serasi ketika berfoto."
"Yaay! Begitu, dong!"
Kim-ssaem bersorak. Dia dan Yoongi berselebrasi. Saya melongo lihat kekompakan mereka.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Sore hari, sepulang mengajar, saya dan Yoongi pergi ke mal. Untungnya hari ini saya tak mengajar olahraga sambil praktik, jadi saya tidak perlu khawatirkan badan yang bau keringat. Saya hanya menerangkan teori dan saya biarkan anak-anak murid saya yang belajar sendiri. Badan saya aman. Kim-ssaem sempat menyemprotkan parfumnya ke pakaian saya sesaat sebelum saya berpamitan. Aromanya maskulin. Jujur saya lebih suka parfum beraroma buah. Tapi Kim-ssaem bilang, apa yang saya sukai tak begitu penting ketimbang apa yang Yoongi sukai. Kalau Yoongi suka, mestinya saya juga suka. Siapa tahu parfum maskulin seperti milik Kim-ssaem ini memang seleranya Yoongi.
"Jimin, bajunya bagus," seru Yoongi. Kami masuk ke sebuah toko yang menjual pakaian dan sepatu. Dia menunjukkan dua stel baju yang modelnya beda tapi warnanya senada. Seperti apa yang Kim-ssaem bilang, kalau Yoongi suka, mestinya saya suka juga.
"Iya." Saya mengangguk. Yoongi menenteng baju-baju itu seraya memilah-milih yang lain.
"Yang ini juga bagus."
"Iya."
Sebetulnya saya sendiri sedang melihat-lihat, tapi tak kunjung selesai kalau Yoongi melulu memanggil saya untuk minta pendapat. Pada akhirnya saya menyerah. Biar Yoongi saja yang memilih. Saya menggeluyur ke bagian di mana sepatu-sepatu dipajang rapi. Modelnya biasa saja. Orang bilang barang bagus akan muncul sendirinya tanpa perlu dicari. Saat itu memang belum ada yang klop di hati. Saya hendak kembali ke bagian pakaian, tapi sesuatu menarik perhatian. Di samping saya ada display sepatu anak-anak dan sepatu bayi. Bentuknya memang sederhana, tapi ukurannya yang mini membuat gemas. Saya ambil sepasang yang warnanya putih.
"Jimin?"
Saya agak terkejut, tahu-tahu dia berdiri di belakang saya.
"Sedang lihat apa?"
"Ini bagus," kata saya. Sepatu mungil itu saya tunjukkan pada Yoongi.
"Kau suka itu?"
"Ya. Sepatu ini mungil dan terlihat lucu."
Nampaknya Yoongi setuju. Dia tersenyum lebar.
"Kau sudah selesai memilih baju?"
"Sudah."
Dia menyampirkan beberapa potong baju di lengannya. Saya rasa itu terlalu banyak untuk sekadar berfoto. Ah, atau, karena foto prewedding adalah momen spesial, Yoongi ingin menyiapkan yang terbaik.
"Kemarikan semua baju itu. Aku yang bayar."
"Terima kasih!"
Kami ke kasir. Seorang nona yang melayani kami sempat takjub karena semua pakaian yang kami pilih berpasang-pasangan. Kalau punya Yoongi yang biru muda, saya biru tua, punya Yoongi blus, saya kemeja. Beda bahan tapi masih mirip. Nona itu tersenyum sendiri, entah membayangkan apa.
"Terima kasih, ini belanjaannya."
"Sama, sama. Terima kasih juga, Nona."
Kami keluar toko. Saya jalan duluan, tidak bisa menggandeng Yoongi karena dia terlihat sibuk mengecek sesuatu di dalam tasnya.
"Yoongi, habis ini apa yang ingin kau lakukan?"
Saya bertanya, herannya mengapa tidak ada yang menjawab? Saya pikir sedari tadi Yoongi mengekori saya. Tapi dia tak ada!
"Yoongi? Yoongi?"
Dengan panik saya celingak-celinguk mencarinya. Entah karena insting atau apa, saya memutuskan untuk kembali ke toko yang barusan saya kunjungi. Hampir saya jatuh lemas ketika mengetahui Yoongi ada di sana, sedang berdiri di depan kasir. Saat dia keluar dari toko itu saya buru-buru memeluknya.
"Jimin, kau ini kenapa?"
"Aku sempat khawatir kau hilang di antara keramaian."
"Tidak usah berlebihan!" Dia terbahak.
Saya melepas pelukan. Saya lihat dia menjinjing kantung kertas kecil yang berisi sebuah kotak yang sama kecilnya pula. "Kenapa tidak sekalian saja tadi? Apa yang kau beli?"
"Sepatu."
"Sepatu? Kok kotaknya kecil?"
"Karena sepatunya kecil. Katamu kau suka sepatu ini."
Yoongi mengeluarkan kotak dari dalam kantung itu. Dia buka kotaknya, lalu dia perlihatkan pada saya bahwa sepatu yang dia maksud adalah yang sempat saya tunjuk ketika menunggunya memilih pakaian sebelum ini. Saya terharu sekaligus malu. Padahal saya tak benar-benar serius menginginkan sepatu mungil itu.
"Kenapa kau membelinya? Aku memang suka, tapi kau tak perlu sampai membelinya, Yoongi. Lagipula kita belum ... punya bayi."
"Tak apa. Sepatu tidak akan basi. Ini bisa dipakai setelah kita punya bayi nanti."
"Apa kau ingin cepat punya bayi?"
Tiba-tiba Yoongi menempeli saya lantas berbisik, "Kau mau buatkan untukku?"
Saya merinding.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Malam hari, kami baru tiba di rumah. Habis berbelanja baju kami makan malam dahulu di restoran pizza. Katanya Yoongi sedang ingin makan makanan yang banyak kejunya. Seloyang pizza medium dia habiskan sendiri. Terbayang jika nanti dia mengandung anak saya, akan sebanyak apa makannya?
Begitu pulang kami langsung mandi supaya bisa cepat beristirahat. Baju-baju yang kami beli masih di dalam kantung. Saya terlalu malas untuk merapikannya. Mungkin nanti Yoongi yang akan lakukan.
Saya sempat melupakan benda mungil yang Yoongi beli. Sebelum naik ke kasur saya mengambil kotak sepatu itu. Saya duduk di tepian ranjang dan menaruh kotak itu di pangkuan. Saya pandangi sepatunya yang putih bersih. Wangi toko. Masih berlabel.
"Kenapa dilihat terus?" Yoongi masuk ke kamar. Rambutnya basah. Dia membuka laci meja riasnya untuk mengambil sebuah hairdryer. Di depan cermin dia keringkan rambut. Alat itu bedengung nyaring. Nguuung.
"Ini sangat menggemaskan. Entah mengapa dadaku terasa hangat. Apa begini perasaan seorang ayah?"
Di antara dengungan itu terdengar kekeh geli. Yoongi menoleh. "Nanti juga kau akan jadi ayah."
Saya tersenyum. Benar. Nanti juga saya akan jadi ayah. Saya harap segera setelah kami menikah, kami bisa miliki anak.
"Oh, ya, katanya mau menghubungi fotografer itu?"
"Ah, sampai lupa!" Saya bangkit, mengambil ponsel di meja nakas.
Saya hendak menekan tombol call ketika saya mengingat sesuatu. Seharusnya sebelum hubungi fotografer, saya hubungi dulu pihak penginapan. Huh, padahal saya kira berfoto itu hal yang tak begitu susah, tapi ternyata cukup membuat repot juga.
Lantas, saya pun menghubungi pihak penginapan. Mereka bilang di akhir minggu ada banyak orang yang ingin berfoto di sana. Saya sempat bingung mesti mengubah hari atau bagaimana. Tapi kemudian mereka beritahu saya kalau pengunjung yang hendak berfoto sekaligus menyewa kamar lebih diutamakan. Tanpa pikir panjang saya pun menyewa salah satu kamar di penginapan itu. Saya tak mau Yoongi kecewa. Dia ingin sesegera mungkin berfoto dan saya tak bisa katakan padanya kalau jadwal foto prewedding kami mesti diundur sampai penginapan itu agak sepi.
"Syukurlah ... aku senang kita bisa berfoto di sana sabtu ini!" Yoongi berjingkrak. Ranjang sampai berdecit-decit. Saya masih memegang ponsel dan tugas saya belum berakhir sampai di sini.
"Sebentar ya, mungkin kau harus menunda kesenanganmu dulu karena aku harus memastikan apakah fotografernya bisa memotret kita atau tidak di hari itu."
Bahunya merosot. Dia mengerucutkan bibir lantas bersandar punggung di kepala ranjang.
"Ya sudah, telepon fotografernya..."
"Iya, Sayang."
Saya hubungi fotografer itu. Orangnya ramah. Dia menyambut telepon saya dengan ucapan yang sopan. Saya tanya padanya apakah dia ada waktu luang atau tidak di hari sabtu ini. Sayangnya, dia bilang tidak. Dia sudah punya janji untuk memotret orang lain. Saya mengelus dahi. Padahal penginapan sudah saya dapat, tapi kalau fotografernya tidak bisa, untuk apa?
Lantas saya pun mencari solusi sendiri. Saya biarkan Yoongi menonton vidio lucu binatang di ponselnya. Saya biarkan dia cekikikan sendiri sementara saya bicara dengan si fotografer di sudut kamar. Dari lini seberang saya mendapat usul, katanya hari jumat jadwalnya benar-benar kosong. Dia minta saya mundur satu hari. Saya tak mau ambil pusing lagi. Saya tak punya kenalan fotografer, dan saya tak mau susah-susah mencari yang lain. Akhirnya saya setujui usulannya itu.
Urusan fotografer, ceklis. Setelah itu saya segera menelepon pihak penginapan dan meminta pembatalan sewa di hari sabtu. Saya ingin pindah ke jumat. Untunglah mereka tak mempersulit saya. Jadi saya bisa berfoto di sana hari jumat nanti. Fuh, lelah juga menghubungi sana-sini. Saya membaringkan diri di ranjang selesai bertelepon. Mungkin saya tak cocok bekerja jadi customer cervice atau bagian yang melulu bicara di telepon dengan orang lain.
"Jadi? Aku sedari tadi memerhatikanmu. Kau bertelepon sembari bolak-balik, mondar-mandir. Aku memang tak sepenuhnya mendengarkan, tapi apa betul kita tak bisa berfoto di hari sabtu?"
"Betul. Fotonya hari jumat saja."
"Lho? Jumat? Lalu fotografernya?"
"Justru aku yang mengikuti jadwal fotografer itu. Bagaimana? Tak apa kalau kita berfoto di hari jumat?"
"Tak apa. Mangkir satu hari tak masalah, bukan?" Yoongi terkikik. Saya pikir dia orang yang rajin dan bertanggungjawab, ternyata mangkir dari pekerjaan juga menjadi godaan yang sangat menggiurkan baginya. Yoongi berguling, menelungkup, lalu bicara pada saya dengan badan yang ditopang siku, "Ahh aku senang. Semangat ini tak boleh sampai luntur. Terimakasih karena telah mewujudkan keinginannku untuk segera berfoto!"
Pipi saya dicium. Lalu setelahnya dicubit dengan gemas. Rasanya sakit. Mungkin karena melihat saya merengut, dia cium pipi saya lagi.
"Kok cuma di pipi? Yang di sini mana?" Saya memajukan bibir, sedikit bercanda. Yoongi lebih dulu terkekeh sebelum mencium bibir saya.
"Sudah," katanya.
"Lagi."
"Dasar manja..." Dia mengeluh sembari mengusakkan dahinya di dahi saya. Rambut-rambutnya menusuk mata. Saya tertawa. Pipi saya ditangkup, lalu Yoongi mencium saya lagi untuk yang kedua kali. Bibirnya begitu lembut ketika dipagut. Saya sudah tahu rahasia bibir lembut ini. Selama berhari-hari tinggal dengannya, saya hampir selalu melihat Yoongi yang menyempatkan diri untuk mengoles pelembab bibir. Suatu kali ketika dia sedang mandi saya pernah iseng mengambil benda itu dari meja untuk mencium baunya. Wangi buah berry.
Saya menjulurkan lidah supaya Yoongi mau membuka mulutnya lebih lebar. Lidahnya menyambut dengan belitan. Saat ciuman kami menjadi dalam, taruh tangan di tengkuknya. Jari tengah saya mengelus, Yoongi sedikit berjengit. Dia meremat bahu saya kemudian mundur untuk melepas ciuman kami. Oh ya, saya lupa. Lebih dari semenit kami berciuman. Paru-paru kami tentu butuh udara.
"Ssshh, maaf." Yoongi menyeruput air liurnya sendiri. Dengan ibu jari, saya bantu bersihkan yang di dagu. Pipinya merah, bibirnya basah. Kami jarang bermesraan, mendapat kesempatan seperti ini adalah sesuatu yang patut disyukuri. Yoongi begitu luar biasa menggairahkan. Seperti buah lemon yang baru saja dibelah dan keluar airnya sedikit.
"Ukh." Dia bergumam. Lantas tanpa mengatakan apa-apa dia membaringkan badan dan memunggungi saya. Di antara kami bahkan ada jarak yang cukup jauh. Saya jelas panik. Tanpa tahu-menahu sebabnya kenapa, Yoongi tiba-tiba meninggalkan saya dan mengakhiri percumbuan kami.
"K-kenapa?" Saya bangun. Pundaknya saya sentuh. Saat saya tanyakan ini, Yoongi hanya menggeleng dan tak lantas membalik badan.
"Tidak apa-apa," jawabnya singkat.
"Maaf, apakah aku membuatmu—"
"Jimin, kau tahu tidak?" Yoongi menyela. Saya diam seketika. Perlahan dia membalik badannya menghadap saya. Dia seperti gugup tapi juga tidak. Matanya menatap saya, tapi ketika ditatap balik (maksudnya supaya saya lebih fokus mendengar), dia menghindar.
"Kenapa?" tanya saya lagi. Saya cemas.
"Sejujurnya ... yang paling menarik dari dirimu adalah matamu itu. Waktu pertama kali bertemu, dan kita berkenalan, aku merasa tersedot ke sebuah dimensi yang asing ketika kita bertatap mata. Tapi barusan kau menatapku dengan cara yang berbeda dari biasanya. Aku tak bisa, jangan seperti itu lagi. Aku akan berpaling kalau kau menatapku seperti tadi."
Dua tangannya menutupi muka. Dia kembali memunggungi saya.
Saya bingung. "Apa aku salah?"
"Tidak, tidak!" Yoongi membalik badannya lagi. Lama-lama dia seperti daging panggang yang perlu dibolak-balik supaya cepat matang.
"L-lalu?"
"Kau tidak salah apa-apa. Hanya saja ini memang tak baik untuk kesehatan jantung. Dadaku berdebar. Kau mau dengar? Bunyinya seperti genderang."
Tangan saya ditarik. Mungkin karena tenaganya terlalu besar, atau saya yang tak siap untuk ditarik begitu, saya terhuyung dan tak lagi dapat menjaga keseimbangan. Hingga bukan telinga saya yang mendarat di atas dada kanannya, melainkan keseluruhan wajah saya...
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Jam setengah sepuluh pagi, sebelum jam pelajaran kedua dimulai, saya masuk ke ruangan Kepala Sekolah untuk menyerahkan surat izin. Pria gemuk itu duduk di kursinya yang sempit. Dia memainkan dagunya yang bergelambir. Dia memerhatikan saya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Begitu terus selama kurang lebih lima kali. Saya jadi gugup. Sebetulnya saya sangat jarang bertatap muka langsung dengan Kepala Sekolah. Dia orang sibuk, jarang ada di tempat. Jika ada di tempat pun, jarang menemui guru-guru.
Dia menatap saya sembari berkerut wajah. Saya yang tak mau ditatap kemudian menjatuhkan pandangan ke sembarang arah. Kebetulan terbaca nama BANG SHIHYUK di atas meja Kepala Sekolah.
"Apa ini? Izin untuk tidak mengajar?"
"Satu hari, Pak. Hanya di hari Jumat ini." Saya mengacungkan jari telunjuk.
"Tapi kenapa harus dengan Min-ssaem juga?"
"Ya k-karena kami mesti menyelesaikan urusan itu bersama, Pak. Tidak bisa oleh saya sendiri."
"Ya saya tahu." Surat yang sedari tadi digenggam kemudian dia taruh di meja. Saya kira dia akan langsung menandatangani surat yang saya ajukan, ternyata dugaan saya salah. Dia malah bicara begini, "Tapi kenapa harus di hari kerja? Tidak bisa diundur? Masih ada sabtu dan minggu, bukan? Saya sudah dengar kalau kalian akan menikah dalam waktu dekat ini tapi apa mesti mengorbankan jadwal mengajar? Kalian tentu tak boleh melalaikan kewajiban sebagai guru yang harus masuk kelas di waktu-waktu yang sudah ditentukan. Jangan mangkir. Nanti kalau saya beri izin pada kalian, guru lain akan ikut-ikutan ambil cuti di hari kerja. Karena itu, meski sekolah ini mengizinkan suami-istri untuk bekerja bersama, kami juga ingin kewajiban Anda tetap terlaksana sebagaimana mestinya. Anda ingat tentang ... blabla ... blabla..."
Saya mendesah pasrah.
Keluar dari ruangan itu, saya membawa kekecewaan. Ketika hendak kembali ke ruang guru, saya berpapasan dengan Yoongi. Dia baru selesai mengajar di kelas dua.
"Kepala Sekolah tidak mau menandatangani surat izin kita," kata saya, putus asa.
"Kalau begitu biar aku saja yang membujuknya."
"Hah? Apa kau bisa?"
Yoongi menggedikkan bahu. Surat itu diambilnya. Kemudian dia yang masuk ke ruang Kepala Sekolah. Pintu ditutup. Saya tak bisa mendengar apa-apa. Saya putuskan untuk menunggu. Sesekali saya ditegur oleh guru atau siswa yang lewat. Katanya aneh melihat saya berdiri di depan ruang Kepala Sekolah. Seperti seorang murid yang sedang kena hukuman saja.
"Terima kasih, Pak! Terima kasih."
"Astaga." Saya terkejut waktu melihat Yoongi membuka pintu. Dia tak lagi memegang surat. Senyumnya lebar sekali.
"Kau dapat tandatangannya?"
"Dapat!"
"Hebat! Ini belum sepuluh menit! Kenapa sebentar sekali? Aku bahkan diceramahi dulu sampai kakiku pegal karena terlalu lama berdiri."
"Tidak perlu lama-lama, untuk apa?"
"Bagaimana caramu membuat Kepala Sekolah mau menandatangani surat izin itu?"
"Kami hanya bicara, mengobrol sedikit, lalu kuajukan suratnya, dan dia menandatangani. Sudah, begitu saja. Apa ada yang aneh?"
Saya menggeleng kikuk. Sepertinya saya tak perlu curiga padanya—tapi pada Kepala Sekolah.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Jam sepuluh. Saya keluar gedung untuk mengajar di lapangan sepakbola di bagian timur sekolah. Mumpung cuacanya mendukung, saya pilih untuk belajar di lapangan terbuka. Anak-anak murid saya berduyun-duyun penuhi tribun. Mereka bersiap untuk memulai pelajaran. Saya memegang map absen, memastikan kalau absen yang mesti saya ceklis adalah benar untuk kelas 3-4. Kelasnya Taehyung.
Aduh ... Taehyung lagi.
Seperti yang sudah saya duga (dan saya takuti), Taehyung menggeser duduknya semakin dekat pada saya. Memang, di tempat saya duduk, ada pohon yang menaungi, jadi tidak panas. Saya tak tahu apakah dia mendekat karena ingin mengganggu saya atau karena ingin berlindung dari sinar matahari.
"Park-ssaem, tali sepatunya lepas."
"Ah?"
Saya membungkuk untuk memastikan, ternyata tali sepatu saya tidak ada yang terlepas sama sekali. Setengah geram saya tatap anak itu.
"Maaf, bercanda. Jangan marah, Pak..."
"Saya kasih nilai E baru tahu rasa, kamu."
"HUWEE, JANGAAN!"
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
CONTINUED
Halo semua. Maapkan saya karena cerita ini molornya lama pake banget. Benar-benar tidak kondusif untuk nulis. Apalagi kalau libur. Herannya, tiap-tiap saya ngantor di hari minggu, malah jadi aja cerita sblewel hasemeleh macem beginian wkwk.
Makasih buat yang udah baca! Maapkan typo yang merajalela.
Salam sayang dari Kuncen. Lavlau.
