"Fate"
[ fate, isn't a thing that you could refuse ]
Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.
Warning
OoC detected
Alternate Reality
Typo(s) may be found
Failed at genre(s)
Brothership and slash hints
Plot-bunnies(?)
And others
—shunshines
Hari ini adalah hari Senin. Hari yang sungguh sangat dibenci sekali oleh rata-rata pelajar maupun pekerja di dunia ini. Dua hari dipakai libur dan lima hari sisanya dipakai untuk belajar dan bekerja. Yang menjadi alasan utama kenapa monster day itu jatuh pada hari Senin adalah karena jarak hari Senin ke Minggu ada tujuh hari, sementara Minggu ke Senin hanya satu hari. Singkatnya, hari libur lebih banyak dari hari bekerja.
Hal ini pun berlaku kepada dua bersaudara yang baru saja benar-benar bersatu dalam ikatan keluarga dua hari ke belakang. Wajar saja kalau Shun maupun Takeru tidak benar-benar niat untuk pergi ke sekolah. Bisa dibilang mereka hanya ingin ke sekolah untuk latihan amefuto, bukan belajar—dasar atlet. Walau pun begitu, toh, keduanya tetap pergi ke sekolah.
Setelah keduanya ke luar mobil dan Takeru mengunci pintu, mereka pun berjalan dari tempat parkir ke koridor utama SMU Teikoku (kalau kalian bertanya tentang mobil, maka akan kujelaskan. Saat mau berangkat sekolah tadi, Takeru membawa Shun ke carport dengan membawa kunci mobil. Shun pun bertanya, "Kau akan bawa mobil?" dan hanya dijawab anggukan oleh Takeru, sehingga membuatnya harus lebih mempelajari bagaimana hidup ala kaum elite). Seperti halnya pangeran sekolah, saat berjalan menuju kelas, ada saja berpasang-pasang mata memperhatikan Sang Pangeran itu. Baik Takeru yang sudah lama berada di Teikoku atau Shun yang notabene datang sebagai murid baru sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan itu.
"Itu yang di sebelah Yamato-san murid baru, ya?"
"Iya sepertinya. Ganteng, ya?"
"Hu-um. Keren pula!"
"Jangan-jangan atlet amefuto juga?"
"Bisa jadi!"
Sekiranya komentar-komentar itulah yang didengar Shun saat berjalan berdampingan dengan kakaknya. Karena saat di Kyoshin pun ia selalu menjadi pusat perhatian, makanya ia sudah terbiasa—meskipun agak nervous, berhubung ini adalah sekolah barunya.
Shun tidak bersama Takeru karena mereka berada di kelas yang berbeda—ia di kelas 10 sementara kakaknya di kelas 11. Sebagai kakak yang merangkap menjadi school guide, Takeru membawa Shun ke kelas 10-2. Ia tidak sampai hati menelantarkan adiknya di koridor sekolah, yang kemungkinan akan membuat adiknya itu seperti anak hilang.
Oke, lupakan yang sebelumnya.
Omong-omong tentang kelas, penempatan kelas di Teikoku mungkin agak spesial. Penempatan kelasnya berdasarkan kemampuan otak. Tidak heran kalau misalkan di kelas A, seluruh muridnya ber-IQ tinggi, sedangkan di kelas B tidak ada seorang pun yang menonjol dalam bidang apapun (sebenarnya, waktu SMP, orang-orang itu termasuk yang terbaik, tapi karena standar SMU Teikoku yang kelewat tinggi, mereka jadi 'kebanting'). Tampak seperti diskriminasi, sih, tapi sesungguhnya, pembagian kelas yang tidak adil ini semata-mata untuk bisa memotivasi yang berada di bawah untuk berjuang keras agar bisa menjadi yang terbaik.
Well, kembali ke tokoh utama. Shun berada di kelas 10-2 dan kelas itu adalah kelas unggulan kedua tempat para jenius berada. Entah kesalahan dewan sekolah saat melihat nilai rapotnya waktu di Kyoshin, atau memang kemampuan intelegency-nya yang tinggi, ia bisa berada di kelas unggulan. Ia sendiri tidak menyangka otaknya sejenius itu—atau mungkin ia menyadarinya, namun bersikap cuek saja.
"Ini kelasmu, Shun." Takeru berkata begitu keduanya sudah sampai di depan kelas 10-2. Tepat saat keduanya baru menginjakan kaki di depan kelas itu, beberapa anak perempuan yang berada di dalam langsung antusias melihat siapa-yang-baru-saja-datang. As expected, mereka langsung memekik girang.
"Baru hari pertama sekolah saja sudah dapat fans," ujar Takeru sambil menyikut Shun. Meskipun dibilang menyikut, tapi bukan benar-benar menyikut ala orang biasa. Menyikut ala pemain amefuto, atau apalah itu, yang tentunya cukup kuat. "Perlu kuantar masuk, hm?"
Shun mendelik karena kakaknya mulai menggodanya. Apa harus setiap hari ia di-bully oleh kakaknya sendiri? "Tidak perlu, ya. Aku bisa sendiri."
"Hahaha, ya sudah kalau begitu, Shun," balas Takeru sambil tertawa. Entah apa yang membuat anak itu mudah tertawa kalau Sang Adik membalas perkataannya, hanya saja ia memang benar-benar ingin tertawa.
"Ya, ya, terserah." Baru saja Shun akan melangkah masuk kelas, ia berbalik lagi menghadap kakaknya. "Dan sudah kubilang, jangan panggil aku dengan nama kecilku. Panggil dengan margaku yang dulu."
Takeru terlihat sedikit mendengus, balik membalas Shun. "Memang sebenarnya ada apa? Kenapa meminta untuk merahasiakan kalau kita adalah saudara?"
Shun menatap Takeru sengit. Ia sedikit menyipitkan matanya yang dari lahir sudah sipit itu. "Bukan urusanmu, Yamato."
Takeru merasa hatinya agak mencelos begitu Shun memanggilnya dengan nama marga. Ia juga harus memanggil Shun dengan nama marganya yang dulu. Kemarin, adiknya meminta agar hubungan mereka yang sebenarnya dirahasiakan di depan murid-murid SMU Teikoku, kecuali Tim Satu Teikoku Alexanders (karena Tim Satu ikut diundang saat acara pernikahan kedua orangtua keduanya, jadi mereka sudah tahu semuanya). Takeru sudah memaksa Shun untuk memberikan alasan—sungguh, ia merasa tidak rela ketika adiknya sendiri memintanya untuk berpura-pura menjadi orang lain. Bahkan sampai sekarang, Shun tidak memberikan alasannya.
Dan akhirnya, demi sang adik, Takeru pun hanya mengedikkan bahu. Ia menoleh ke samping, dan hampir seluruh siswi di kelas—ada beberapa yang berasal dari kelas lain—tengah memperhatikan dirinya dengan Shun. Melihat kerumunan fangirls yang antusias itu, ia pun memutuskan untuk memberi mereka sedikit fanservice. Tanpa ba-bi-bu lagi, Takeru pun menampilkan senyum 1000 watt-nya yang sangat biadab itu. Kenapa author menyebutnya biadab? Karena senyumnya membuat kerumunan fangirls itu nyaris pingsan berjamaah.
Tidak cukup puas, Takeru pun memberikan satu fanservice lagi. "Ohayou, minna-san."
Dan pekikan yang berasal dari cewek-cewek pemuja itu pun memenuhi ruang kelas 10-1.
Shun yang melihat fanservice-fanservice tadi langsung mendelik ke arah Takeru. Selain tukang modus, kakaknya pun doyan tebar pesona, dan ia sudah bisa memperkirakannya. Sambil mendelik, ia pun berkata dengan sinis. "Dasar tebar pesona."
"Bilang saja kau cemburu, Shun," ujar Takeru sambil tertawa kecil, membuat ikon perempatan kecil di kepala Shun muncul.
"Enak saja," balas Shun membela diri. "Dan jangan panggil aku dengan nama kecilku, Baka!"
"Ssstt. Jangan protes lagi." Takeru menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Shun dengan sedikit smirk di wajahnya. "Lebih baik sapa penggemarmu itu. Mereka ingin berkenalan."
Shun sedikit menggigit bibir bawahnya sambil kembali mendelik. Saat jari telunjuk Takeru menempel di bibirnya, ia tidak dapat memungkiri kalau pipinya memanas. Oh, sepertinya, mulai kali ini ia harus segera belajar kiat-kiat kebal modus dari seorang Takeru Yamato.
"Jadi, siapa nama anak laki-laki itu, Yamato senpai?" seseorang dari kumpulan fangirls itu pun memberanikan diri bertanya. Anak perempuan dengan tinggi badan di atas rata-rata, rambut cokelat panjang bergelombang, dengan iris biru jernih asli—maksudnya, bukan memakai soft lens. Bahasa Jepang-nya pun beraksen. Mungkin blasteran, pikir Shun.
"Perkenalkan." Takeru pun menepuk bahu Shun sambil tersenyum. "Namanya Shun Kakei—"
(Shun pun melirik Takeru untuk memastikan bahwa ia tidak akan membocorkan rahasia mereka berdua.)
"—dia teman masa kecilku yang sempat pindah ke Tokyo." Shun menghela napas perlahan karena Takeru mau diajak kompromi. Meskipun tadi sempat menjahilinya dengan memanggil nama kecil secara sengaja.
Sementara anak-perempuan-blasteran dengan kumpulan fangirls-nya sibuk berkomentar sendiri, Takeru sengaja menoleh ke arah Shun sehingga keduanya saling bertatapan. Ia bisa mengerti arti tatapan Shun—anak itu berterimakasih kepadanya. Ia hanya tersenyum sambil mengacak helai biru gelap milik adik tersayangnya itu.
Meskipun begitu, Takeru masih merasa ada sesuatu mengganjal di hatinya.
Bahwa sesungguhnya ia tidak mau menuruti keinginan adiknya.
Bahwa adiknya itu menyembunyikan sesuatu darinya.
Pelajaran di hari Senin itu berjalan dengan lancar. Seperti yang sudah Shun perkirakan sebelumnya, materi yang diberikan sama saja dengan sekolah lain. Hanya saja, materi yang belum dibahas di Kyoshin sudah dibahas di Teikoku dan itu hanya masalah kecil. Anyway, ia sendiri sudah duluan mempelajarinya.
Bel pun berbunyi tujuh kali, tanda jam belajar di hari itu sudah berakhir. Murid-murid kelas 10-2 membereskan barang-barangnya setelah guru biologi mereka ke luar kelas. Hal ini juga berlaku bagi Shun.
Tadi, ia mendapati handphone-nya bergetar dan ada satu e-mail masuk. Takeru mengiriminya e-mail yang mengatakan bahwa ia akan menjemputnya di depan kelas.
Baru saja akan melangkah menuju pintu, sosok putra pertama Yamato itu datang bersama seorang anak laki-laki berhelai keperakan panjang yang tengah membaca buku. Shun bertemu dengan anak laki-laki itu saat acara pernikahan orang tuanya, dan Takeru memperkenalkannya. Anak laki-laki itu adalah receiver Tim Satu yang merupakan putra bungsu fielder ternama Masaru Honjo. Si Elang yang bisa berjalan di udara, pemegang rekor lompat jauh tertinggi tingkat SMU di Jepang, Taka Honjo.
"Bagaimana harimu?" Takeru bertanya pada Shun saat keduanya—maksudnya ketiganya, ada Taka di samping Takeru—berjalan ke luar kelas.
"Biasa saja," jawab Shun pendek seperti biasa.
"Dasar jenius," ucap Takeru sambil menepuk bahu adiknya.
Berhubung di antara mereka bertiga, hanya ada satu orang yang pandai berbicara—Takeru Yamato seorang, ia berinisiatif untuk mencari topik baru yang bisa dibicarakan oleh mereka bertiga. Tanpa berpikir lama pun ia sudah menemukan topik itu.
"Oh, ya, Shun. Kau sudah tahu, kan, Teikoku Alexanders memiliki enam tim. Semua orang yang bergabung akan masuk Tim Enam. Untuk bisa naik ke Tim Lima, kau harus bisa mengingat seluruh isi playbook Teikoku yang secara kasar memuat 1000 jenis play di American Football," ujar Takeru, menjelaskan informasi penting 'tata-cara-bermain-sebagai-anggota-Teikoku-Alexand ers' sebagai topik barunya. "Aku dan Taka berhasil naik ke Tim Satu hanya dalam waktu sehari. Aku yakin kau juga bisa naik ke Tim Satu secepat kami."
"Melihat gelar ace-mu waktu di Amerika, kurasa kau bisa naik ke Tim Satu dengan cepat," timpal Taka datar. Ia masih fokus membaca buku sambil berjalan. Bahkan author pun nggak tahu lagi bagaimana caranya konsentrasi membaca buku sambil berjalan tanpa menabrak.
Takeru tersenyum kecil mendengar Taka yang menimpali ucapannya. Hanya pada waktu dan suasana tertentu sahabatnya itu mau ikut berbicara seperti tadi. Ia bersyukur dalam hati karena tidak salah memilih topik. Ia sedang gatal ingin menyemangati Sang Adik agar termotivasi untuk berjuang keras. Well, meskipun ia tahu benar, tanpa diberi support, Shun pasti akan tetap berusaha.
Tapi, bukankah menambah kebaikan itu akan menjadi lebih bagus?
"Tidak usah melebih-lebihkan seperti itu," ujar Shun dingin, membuat Takeru menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. "Hasilnya tidak akan sama. Aku ya aku, kalian ya kalian."
Bahkan bukan hanya Takeru yang terhenyak, Taka pun tampak berhenti membaca dan melirik saudara sahabatnya itu.
Takeru baru akan mengatakan sesuatu untuk meringankan obrolan mereka (reaksi Shun tadi benar-benar tidak disangkanya). Namun, melihat sikap yang ditunjukkan adiknya tadi, ia tidak jadi berkomentar. Ia tahu adiknya adalah seseorang yang sensitif, tapi ia tidak pernah mengira kalau topik amefuto pun bisa menyinggung perasaannya.
Jadi yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menepuk bahu adiknya sambil tetap berjalan dalam diam.
Dalam suasana hening itu, Takeru sibuk bergelut dengan pikirannya. Sepertinya, ia harus meralat pernyataan absolutnya yang mengatakan bahwa ia sudah mengerti Shun. Tidak dikatakan absolut juga, sih, karena ia hanya mengutarakan pikirannya.
Dalam sejarah hidupnya, Takeru tidak pernah bertemu dengan orang yang jalan pikirannya terlalu rumit untuk dimengerti. Sekarang, ia bertemu dengan seseorang yang menjadi saudara tirinya, dan anak itu memiliki jalan pikiran yang rumit. Bahkan sifatnya tidak mudah ditebak—Taka saja tidak serumit anak itu.
Shun Kakei atau yang sekarang berganti marga menjadi Shun Yamato.*
Melarangnya membocorkan rahasia bahwa mereka berdua adalah saudara, melarangnya memanggil dengan nama kecil, lalu tadi, mendadak menjadi sosok dirinya yang seperti es.
Kenapa?
Karena terlarut dalam pikirannya, Takeru baru sadar kalau mereka bertiga sudah berada di area lapangan amefuto Teikoku. Di sana sudah ada Tim Enam sampai Tim Tiga dan beberapa dari Tim Dua dan Tim Satu. Di Tim Satu, ada lineman yang bernama Aki Reisuke—Achilles—dan Hera Kureji—Heracles, kicker Tenma, dan satu-satunya pemain perempuan yang bermain di posisi quarterback, Karin Koizumi.
"Oi, Yamato! Ternyata adikmu benar-benar bergabung, ya!" ujar Heracles bersemangat saat Takeru, Shun, dan Taka berjalan mendekati bench. Anak laki-laki bertubuh kekar itu menatap Shun. "Selamat datang di Teikoku Alexanders—tunggu, bagaimana kami memanggilmu? Kau dan kakakmu bermarga sama! Nama kecil?"
"Tidak usah," balas Shun dingin. Ia melirik Takeru, seperti meminta pengertian darinya. Yang dilirik hanya mengedikkan bahu. "Panggil aku dengan margaku yang dulu saja."
"Lho, kenapa?" kali ini Achilles yang bertanya, tapi 50% kepo-nya langsung menghilang begitu Takeru meniliknya dalam. Selain memberi isyarat kepada Achilles—agar tidak bertanya lebih lanjut, ia juga menatap dua orang sisanya.
"Baiklah, selamat datang di Teikoku Alexanders, Kakei!" sambut Heracles, masih bersemangat. "Aku akan sedikit memandumu sebelum latihan dimulai—aku yakin Yamato sudah memberi tahu semua tentang Teikoku."
"Hai," jawab Shun sambil mengangguk, lalu mengikuti Heracles yang memberi isyarat untuk ikut dengannya.
Sementara itu, Takeru hanya menatap punggung adiknya yang semakin lama semakin menjauh. Ia menghela napas pelan, berusaha tidak memikirkan sikap aneh adiknya sejak tadi pagi.
"Ayo ganti baju," ujarnya sambil membalikkan badan, dan tentu saja Taka, Karin, dan Achilles langsung mengikutinya.
Taka yang dari tadi tepat berada di samping Takeru dan melihat perselisihan Takeru dengan Shun diam, tampak memikirkan sesuatu juga. Ia menutupinya dengan berpura-pura fokus pada buku di tangannya.
"Tidak usah terlalu memikirkannya. Nanti kau akan tahu sendiri." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Taka, tentu saja dengan nada datar. Takeru menoleh ke arahnya, lalu senyum kecil terulas di wajahnya. Anak laki-laki berambut liar itu menepuk bahu sahabatnya.
"Terima kasih."
Tapi tetap saja, Takeru pasti akan segera mencari tahu kenapa Shun bersikap aneh seperti itu. Ia tidak mau Shun-nya yang manis berubah kembali menjadi Shun yang dingin yang tidak dikenalnya.
Ia akan tetap mengorek kebenaran agar Shun-nya tidak akan dan tidak pernah kembali menjadi sosok dingin seperti dulu. Dan itu adalah absolut.
to be continued
* oke, itu kedengerannya mereka kayak bukan bersaudara, tapi keluarga XDDD /woy
a/n:
hwaiiii ouo
maaf agak lama updatenya(?), biasa, rada mandek. lalu, mau ada pengumuman(?) nih. fateini bakal jadi slash, kok. tapi tunggu 1 chapter lagi ya. rencananya sih chapter 1-4 itu masih brothership, konfliknya masih konflik kakak-adik biasa. setelah itu ... ya gitu –u-
terima kasih yang sudah review di chapter sebelumnya. review-review dari kalian itu moodbooster lho 3 sini yunna cium mumumu :* /inimodus.
sekarang, review lagi? ouo
iklan dikit(?)
bagi yang muslim, happy eid mubarak! yunna mohon maaf lahir batin ya. yang mudik, selamat mudik, semoga selamat di jalan! THR-nya ditunggu ya :3
