What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Jam istirahat siang telah tiba, satu-persatu guru-guru meninggalkan kursinya untuk pergi makan. Saat itu saya sedang duduk, memainkan gim di ponsel. Di sebelah saya Kim-ssaem tengah serius menyalin silabus ke komputer. Jung-ssaem melintas. Lelaki yang membawa dompet panjang itu berhenti untuk bertanya pada kami.
"Park-ssaem, Kim-ssaem, Anda berdua tidak makan siang?"
"Sibuk," jawab Kim-ssaem singkat. Pandangannya tak teralih dari layar komputer.
Pernah suatu kali Jin-ssaem bilang pada saya kalau Kim-ssaem cukup menawan kalau sedang serius. Memang, sih. Wajah seriusnya itu jarang-jarang saya lihat. Sebetulnya saya tidak begitu tahu juga bagaimana dia memasang muka di depan murid-muridnya saat sedang mengajar di kelas. Yang jelas, ketika begini, ada poin plus yang saya akui memang bisa memikat orang lain. Apalagi waktu dia membenarkan kacamatanya yang melorot. Dia nampak keren.
Bisa tidak ya, saya sekeren itu?
"Park-ssaem tidak menjawab pertanyaan saya."
"Oh?" saya tersadar dari lamunan. "Saya sedang menunggu Min-ssaem. Makannya nanti kalau dia sudah datang."
"Hemm, enaknya… makan bersama yang terkasih. Kalau sudah punya gandengan, kemana-mana berdua, apa-apa berdua. Bahkan sahabat pun sampai dilupakan."
"Sahabat?" tanya saya bingung. "Jung-ssaem, sejak kapan kita bersahabat?"
"Kapan ya?" Guru sastra itu memutar matanya, balik bertanya dengan nada mengejek yang kentara.
"Sahabat ya sahabat saja, tak perlu tanya kapan persisnya Anda berdua memulai. Menjadi sahabat tak perlu pakai ikrar pula, memangnya serah terima jabatan?"
Kim-ssaem bicara dengan nada yang tenang. Saya dan Jung-ssaem terdiam, saling memandang.
"Awas jangan lama-lama tatap-tatapannya, nanti jadi cinta," imbuhnya.
"EWWWH!" teriak kami kompak.
"Permisii~ apakah Park-ssaem ada?"
Pintu ruang guru digeser, seseorang menyembulkan kepalanya. Ketika Kim-ssaem berdiri antusias (bahkan hingga kertas dan buku di pangkuannya jatuh berserakan), saya tahu siapa yang datang.
"Seokjin, sayangku! Aku rindu," teriaknya. Guru bahasa Inggris itu berlarian dan menangkap lengan Jin-ssaem dengan manja. Dia mendadak seperti anak kecil yang senang dijemput ibunya di taman kanak-kanak.
"Apa, sih? Lepaskan tanganmu. Aku tidak ada urusan denganmu jadi menyingkir saja."
Kim-ssaem didorong. Dengan angkuhnya Jin-ssaem berjalan meninggalkan lelaki itu. Malang betul nasib Kim-ssaem. Oleh kekasih sendiri diperlakukan begitu. Anehnya dia bukannya marah atau apa, malah senyam-senyum tak jelas. Dasar budak cinta. Merana pun sepertinya tak mengapa.
"Ada apa Jin-ssaem? Kenapa Anda mencari saya?"
"Min-ssaem ada di ruang kesehatan. Tadi dia pingsan."
"APA?!" Saya kaget.
Akhirnya saya, Jung-ssaem, dan Kim-ssaem mengikuti Jin-ssaem pergi ke ruang kesehatan. Yoongi terkulai lemah di ranjang. Selimut putih tipis menutupi separuh badannya. Wajahnya sedikit pucat. Dia antara sadar-tak sadar. Waktu dipanggil dia masih menyahut, walau hanya dengan gumaman pelan. Saya tidak tahu kenapa dia bisa seperti ini. Padahal pagi tadi kami berangkat bersama dan semua baik-baik saja.
"Tolong ceritakan mengapa dia bisa pingsan," pinta saya pada Jin-ssaem.
"Jadi, saat itu saya hendak makan permen jelly. Saya punya empat bungkus dan saya bingung harus makan yang mana dulu. Ada yang bentuknya cacing, beruang, dinosaurus dan bintang—"
"Saya kan bertanya tentang Min-ssaem. Kenapa Anda malah cerita tentang permen jelly?"
"Tolong jangan memotong. Saya tidak suka diinterupsi. Kan Anda yang minta saya bercerita. Dengarkan saja. Saya ini orang yang detail, sehingga kalau bercerita mesti jelas. Dari A sampai Z, dari awal mula sampai tuntas. Biarkan saya lanjutkan. Begini. Saya menghitung bungkusannya sambil bernyanyi supaya lebih mudah memilih. Lagu yang saya nyanyikan berhenti di bungkus pertama, jadi saya ambil yang bentuknya cacing. Ketika hendak makan—"
"Cepatlah."
Wajah Jin-ssaem berubah masam. Saya bahkan diberi delikan tajam. Lantas setelah puas memberi tatapan itu pada saya, dia melanjutkan, "—datang Taehyung…"
"Astaga apa yang anak itu lakukan?"
"—bersama Min-ssaem. Park-ssaem, sudah saya bilang jangan memotong!"
"Taehyungnya kemana?"
"Sudah kembali ke kelasnya! Bisa Anda biarkan saya bicara sampai selesai?"
"…oke," cicit saya. Dibentak sambil dipelototi oleh Jin-ssaem itu benar-benar menakutkan.
"Dia menggendong Min-ssaem. Seperti menggendong seorang mempelai wanita. Dengan panik dia katakan pada saya kalau Min-ssaem tiba-tiba pingsan di koridor."
"Kenapa bisa pingsan?" Kali ini Jung-ssaem yang bertanya.
"Dugaan saya, karena dia kelelahan, atau mungkin salah makan, atau juga masuk angin. Tapi Taehyung bilang, Min-ssaem habis membantunya menaruh alat peraga sains ke ruang penyimpanan. Lalu, setelah keluar dari ruangan itu, baru beberapa langkah, dia tiba-tiba jatuh pingsan."
Ruang kesehatan mendadak hening. Saya mengelus tengkuk. Penerangan yang temaram, dan bau obat yang samar tercium hidung membuat hawa di sekitar saya terasa dingin.
"K-kenapa jadi mencekam begini?"
Rupanya saya dan Jung-ssaem merasakan hal yang sama.
"Mungkin ada yang menempelinya, atau menyentuhnya di dalam sana." Kim-ssaem berkata. Guru itu menaruh jarinya di tengah-tengah bingkai kacamata yang ia kenakan. "Ruang penyimpanan alat peraga itu kan katanya berhantu."
"Ih, jangan sebut-sebut hantu, saya takut!"
"Duh!" Saya disergap Jung-ssaem dari belakang. Karena tak terima, saya protes, "Lantas kalau Anda takut, Anda boleh memeluk saya begini eratnya?"
Guru sastra itu memandang saya dengan raut penuh penyesalan. "Maaf. Daripada memeluk Jin-ssaem, nanti ada Kim-ssaem yang akan marah pada saya."
Jin-ssaem mengecap-ngecap ludahnya dengan malas. Sedang Kim-ssaem hanya menggedikkan bahu tanda tak peduli.
"Jadi… ya, begitu… untuk sementara biarkan Min-ssaem istirahat. Mungkin setelah beberapa jam tidur di sini keadaannya akan membaik. Tadi saya juga sudah memberinya teh hangat."
"Terimakasih, Jin-ssaem."
"Kalau bisa, salah satu dari kalian bertiga belilah sesuatu untuknya. Bubur misalnya, atau makanan yang mudah dicerna dan tidak membuat mual. Ini sudah jam makan siang juga, bagaimanapun perutnya mesti diisi, tak boleh dibiarkan kosong."
"Park-ssaem, pergilah beli makanan untuk Min-ssaem," titah Kim-ssaem.
Saya mengangguk saja. Dia ada benarnya. Kalau bukan saya, siapa lagi? Bagaimanapun, saya adalah kekasihnya. Saya merasa bertanggung jawab pada Yoongi.
"Ya, Park-ssaem, belilah makanan. Biar saya yang jaga dia di sini," ucap Jung-ssaem menambahi.
Saya memandangnya sinis. "Jangan macam-macam. Sebentar lagi saya mau menikahinya."
"Saya tidak akan macam-macam. Hanya duduk di sampingnya, menjaganya dan memeluknya kalau dia butuh kehangatan."
"HIH!"
"Jangan lupa belikan makanan untuk kami juga, ya."
Terakhir Jin-ssaem yang berseru sambil melambai-lambaikan tangan. Saya keluar ruang kesehatan dengan langkah yang dihentak. Sebal sekali. Rasa-rasanya saya seperti dimanfaatkan oleh mereka. Kalau tak ingat pada Yoongi, mungkin saya sudah membanting pintu supaya telinga tiga orang menyebalkan itu pekak.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Anak kelas tiga bubar lebih awal karena di hari itu hanya ada jadwal simulasi ujian, tidak ada pembelajaran. Taehyung mengirim pesan singkat ketika saya masih mengajar di lapangan. Katanya dia sedang di ruang kesehatan dan Yoongi ingin pulang duluan. Anak itu mau mengantarnya sampai ke rumah. Berhubung mereka bertetangga, dan dalam keadaan seperti ini tak ada lagi yang bisa saya percayai selain dia, jadi Yoongi saya titipkan padanya. Jam dua siang mereka meninggalkan sekolah.
Sore hari, setelah jam pelajaran terakhir usai dan murid-murid saya pulang, saya duduk di tangga samping lapangan voli. Saya termangu memikirkan rencana hari esok yang entah bagaimana nasibnya. Yoongi sakit. Esok kami mesti berfoto. Kalau batal, sayang sekali.
"Park-ssaem, kenapa mukanya begitu, sih?"
Ketika saya mendongak, Jung-ssaem tengah berdiri di belakang saya dengan kerutan di dahi. Mungkin bingung karena saya duduk sendirian di tempat sepi.
Saya mendengus. Jung-ssaem memeluk buku-bukunya lantas ambil tempat di samping saya.
"Saya cemas," aku saya.
"Apa yang Anda cemaskan?"
"Besok saya dan Min-ssaem mau berfoto. Tapi dia sakit."
"Sayang sekali," katanya. Dia menengadah lihat lembayung senja. "Doakan saja supaya cepat sembuh."
"Anda benar."
"Jangan sedih begitu, bersemangatlah sedikit. Ekspresi melo sungguh tak cocok untuk Anda yang seorang guru olahraga ini."
"Harusnya bagaimana?"
"Sangar."
"Sudah ada yang sangar."
"Siapa?"
"Jin-ssaem."
"Hihihihihihi! Jin-ssaem guru kesehatan yang malah lebih mirip nenek lampir!"
Jung-ssaem tak bisa menahan tawa. Akhirnya dia tergelak. Saya pun geli kalau melulu diam. Gara-gara dia tertawa, saya jadi ikut tertawa. Jadi memang benar kalau tawa itu menular.
Jam enam sore, saya pulang ke rumah. Tak ada lampu yang menyala. Semua gelap. Saya masuk sembari menyalakan lampu-lampu di tiap-tiap ruangan. Saya pikir Yoongi sedang istirahat sampai tak sadar kalau malam menjelang. Begitu menginjak lantai kamar dan menyalakan lampunya, saya menemukan Yoongi tengah tertidur lelap di ranjang. Oh, benar dugaan saya. Sedikitnya saya merasa lega. Tapi yang tak saya sangka dan agak buat risih adalah Taehyung. Anak itu tidur di samping Yoongi, memeluk, mendengkur, seperti tidur bersama kekasih saya adalah hal ternikmat yang bisa dia dapat.
Kenapa mesti begitu? Argh.
"Aku pulang," ucap saya agak keras.
Mereka membuka mata perlahan. Taehyung yang bangun lebih dulu. Anak itu mendudukkan diri. Seragamnya masih utuh ia kenakan. Dia menggosok-gosok matanya lalu menguap lebar. Sadar ada saya di situ, Taehyung cengigisan.
"Ooh, Park-ssaem sudah pulang…"
"Kamu tidur di sini dari kapan?"
"Dari siang, Pak. Begitu sampai ke rumah, Min-ssaem langsung tidur. Jadi saya ikut tidur."
"Apa harus di ranjang juga tidurnya?"
"Kasihan kalau Min-ssaem tidur tidak ada yang memeluk."
Andai bisa, saya ingin menyedot ubun-ubunnya. Tapi anak ini telah berjasa menjaga Yoongi selama saya tak ada. Jadi saya pasrah saja. Terserah anak itu mau bicara apa.
"Kalian sudah makan?"
"Belum. Hoaaaam…" Taehyung menguap lagi.
Saya menyentuh kening Yoongi. Dia tersenyum tipis. Matanya berat, seperti masih enggan untuk bangun.
"Jimin," panggilnya.
"Ya. Aku di sini."
Yoongi ingin duduk, jadi saya membantunya untuk menyandarkan punggung di kepala ranjang.
"Aku lapar."
"Kau mau makan apa?"
"Mmm… mau bubur kacang merah."
"Saya juga mau, Pak," celetuk Taehyung tiba-tiba.
Saya mendesah pasrah. "Iya, nanti saya belikan."
"Asyiiik!" Taehyung berseru. Badannya sengaja diolengkan ke arah Yoongi. Lalu dia pun menjatuhkan kepalanya tepat di bahu guru musiknya itu.
Melihatnya begini, saya serasa telah miliki anak—anak yang tengah bermanja-manja pada ibunya. Saya yang jadi korban karena perhatian Yoongi untuk saya berkurang banyak.
"Jangan sampai kau pingsan lagi, aku takut."
"Maaf ya," kata Yoongi. "Aku masuk angin. Waktu mengajar di kelas 2-2 aku sudah merasa tidak enak badan. Ingin muntah tapi tak bisa. Kepalaku pening sekali. Selesai mengajar aku buru-buru keluar kelas supaya bisa cepat beristirahat di ruang guru. Tapi di tengah jalan aku melihat Taehyung sedang kerepotan membawa alat-alat peraga. Jadi aku membantunya. Tak sangka, aku pingsan setelah itu."
"Syukurlah kalau ternyata hanya masuk angin. Kukira kau ketempelan hantu."
"Hantu?!" pekik Taehyung.
Dia merapat pada Yoongi. Keduanya menatap saya dengan sorot takut. Saya mengelus dada karena terkejut. Sedang serius dia malah memekik seperti itu. Aduh. Kalau saya mati mendadak gara-gara serangan jantung, bagaimana?
"Kim-ssaem yang bilang."
"Jangan membuatku takut…," cicit Yoongi.
"Maaf, maaf. Aku tak bermaksud."
"Aku juga takut, Pak."
"Taehyung kamu ini, ikut-ikutan saja, ah!"
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Saya sangat bersyukur karena keadaan Yoongi membaik. Di pagi hari dia sudah sibuk menyiapkan sarapan. Dia mengucapkan selamat pagi dengan senyum yang merekah. Ternyata obat masuk angin untuk Yoongi hanyalah tidur dan makan yang cukup.
"Terimakasih, ya."
"Untuk apa?"
"Karena sudah kembali sehat."
"Hari ini kita akan berfoto. Aku tak boleh sakit."
Saya tersenyum. Tanpa sadar tahu-tahu kerah kaos saya ditarik Yoongi, lalu sekecup bibir dia berikan pada saya.
Dia berkata, "Cepat mandi dan bersiaplah, suamiku."
Saya terbang ke awang-awang.
Kami datang ke penginapan satu jam lebih cepat dari waktu yang sudah dijanjikan dengan si fotografer. Selagi menunggu dia datang, kami menyiapkan diri. Yoongi sengaja memisahkan keperluan foto dan keperluan menginap ke dalam dua tas yang berbeda. Supaya tidak pusing mencari, katanya. Di dalam kamar yang sudah kami sewa, Yoongi mendandani saya. Sebelumnya dia sudah berdandan sendiri. Wajahnya terlihat begitu cantik dan cerah dengan riasan yang tipis nan alami. Dia bilang pada saya kalau saya juga mesti dipulas bedak dan kawan-kawannya agar tak nampak kusam ketika difoto. Rambut saya juga dia sisir sedemikian rupa. Selesai mendandani saya dia merapikan baju yang saya kenakan. Kami duduk di lantai berhadap-hadapan. Aroma parfumnya merasuk ke sukma. Dia wangi. Ketika saya tatap matanya, dia menunduk malu sambil tersenyum seri.
"Yoongi, kau cantik hari ini."
Yoongi melepas tawa ringan, lantas bertanya, "Kemarin-kemarin aku tidak cantik?"
"Cantik, cantik, cantik!"
"Jangan begitu, sebut cantiknya sekali saja. Aku jadi malu."
Kekehnya amat manis. Saya mengelus tangannya. Ujung bajunya sedikit menghalangi ketika saya hendak mengecup punggung tangan itu. Lalu saya teringat kalau di hari pemotretan ini, baju yang akan Yoongi pakai semuanya berlengan panjang.
"Padahal cuaca begini cerahnya. Kenapa tak pilih baju berlengan pendek? Yang ukurannya pas di badan. Itu lebih memudahkanmu untuk bergerak, bukan? Lebih leluasa."
"Tidak. Nanti aku kelihatan gendut. Baju lengan panjang yang ukurannya agak besar begini setidaknya bisa menutupi bentuk badanku yang seperti galon. Coba sentuh. Lenganku tebal. Lemak semua, ini."
Saya sentuh lengannya. Memang kenyal, apalagi kalau sengaja dicubit. Sepertinya berat badan Yoongi bertambah. Meski tak signifikan, tapi terasa bedanya. Waktu pertama kali bertemu, pipinya tidak sepenuh ini. Lengannya juga tak setebal ini. Dulu dia seksi, sekarang seksinya bertambah berkali-kali lipat. Saya jadi tak sabar untuk menyentuh bagian lain yang lebih berlemak…
"Jimin?"
"Ya?"
"Ada yang menelepon."
Saya baru sadar kalau ada panggilan masuk ke ponsel saya. Ternyata yang menelepon adalah fotografer yang akan memotret kami. Dia menunggu saya di lobby penginapan. Saya pun mengajak Yoongi untuk menemuinya. Dia terlihat gugup, saya ingin tertawa. Ini hari yang penting. Yoongi mungkin terlalu bersemangat.
Kami melewati koridor yang panjang untuk sampai ke lobby. Lantainya yang terbuat dari kayu membuat langkah kami terdengar nyaring. Karena ada pelayan yang nampak terganggu, kami memelankan langkah. Diam-diam kami terkikik. Seperti anak kecil yang berbuat nakal. Sesampainya di lobby, saya melihat seorang pria sedang duduk santai sembari memainkan kamera. Dari situ saya sudah yakin kalau dialah fotografer yang mesti kami temui.
"Pak Cha?"
"Ah! Ya benar. Park Jimin-ssi, ya? Selamat siang. Saya Cha Seungwon."
Pria itu berdiri, lantas membungkuk sopan dan menyalami saya. Sekali lihat saya langsung merasa bahwa pria ini begitu tampan dan keren. Tubuhnya tinggi dan tegap. Pakaiannya begitu simpel, hanya kaos hitam dan celana jins. Dia punya kumis dan janggut tipis. Ada kerut-kerut alami di wajahnya. Usianya mungkin jauh di atas saya. Meski begitu, tetap saja, dia keren sekali! Mendadak saya seperti seekor ayam yang bertemu angsa. Saking bersinarnya pria itu, saya merasa kesilauan. Jadi tengsin.
Setelah saya mengenalkan diri, giliran Yoongi yang menyalami pria itu.
"Saya Min Yoongi."
"Saya Cha Seungwon."
Saya lirik Yoongi. Matanya begitu berbinar. Sesekali dia mengedip cepat. Tatapannya tak putus-putus dari Pak Cha. Dia baru memalingkan wajah ketika pria itu sadar sedang ditatap. Pelan-pelan Yoongi mundur, sedikit bersembunyi di belakang saya.
"Saya tak sangka yang mau berfoto prewedding bersama saya sekarang ini adalah sepasang anak muda. Masih kuliah?"
"Ah, tidak. Kami bukan mahasiswa. Kami guru sekolah menengah atas," jawab saya.
"Oh, yang benar? Kalian masih terlihat muda." Dia meneleng sedikit untuk mendapat perhatian Yoongi yang melulu bersembunyi. "Apalagi Anda, Min Yoongi-ssi. Wajah Anda sangat menggemaskan, manis, lucu. Seperti remaja belasan tahun."
"Terimakasih, tapi usia saya sudah 27 tahun," ucap Yoongi malu-malu.
Saya hanya bisa menahan napas. Mengapa sikap Yoongi begini manisnya di depan fotografer itu? Saya jadi takut Yoongi menyukainya. Apalagi pria ini sepertinya adalah tipe yang dapat dengan mudah mengambil hati orang lain lewat ucapan dan senyumannya. Kalau soal ketampanan, jangan ditanya. Saya kalah dari segala sisi.
"Sebentar lagi jam sepuluh. Apakah Anda berdua sudah siap untuk berfoto?"
"Sudah."
"Kalau begitu mari kita mulai berfoto di tempat yang teduh dahulu. Saya sudah melihat-lihat penginapan ini dan ada beberapa titik yang menurut saya cukup bagus. Setelah sesi indoor selesai, kita lanjutkan ke sesi outdoor. Itu untuk menjaga riasan juga. Supaya tak luntur duluan. Omong-omong, ada berapa setel baju yang Anda berdua siapkan?"
"Ada lima setel," jawab Yoongi. Pak Cha mengangguk dan memberikan jempolnya. Yoongi nampak polos sekali waktu dia melirik saya sambil tersenyum.
"Itu cukup untuk empat jam pemotretan."
"Baiklah, Pak Cha. Mohon kerjasamanya."
Kami memilih ruang minum teh sebagai tempat pertama. Namanya saja ruang minum teh, padahal ruangannya tidak difungsikan untuk acara minum teh, hanya didekorasi seperti itu. Ada meja kecil, lengkap dengan gelas-gelasnya. Pelayan penginapan bilang ini salah satu titik favorit pengunjung yang hendak berfoto.
"Sebentar ya, saya mau mengatur kameranya dulu."
Saya mengangguk. Pak Cha mengotak-atik kameranya. Pria itu bersenandung santai, memotret sudut-sudut ruangan beberapa kali sebelum kembali mengatur pencahayaan dan lain-lainnya.
"Yoongi, apa kau suka Pak Cha?" Saya beranikan diri untuk bertanya begini pada Yoongi. Sedikit banyak saya merasa cemburu ketika tatapan memuja itu tak lagi tertuju pada saya.
"Bukan begitu." Yoongi mendekat. Amat dekat hingga kalau dia memajukan mukanya sedikit lagi, hidung kami bisa saja bersentuhan. Dia berbisik, "Aku suka pria yang seperti Pak Cha. Kumisnya, janggutnya. Aku juga ingin melihatmu berkumis dan berjanggut."
Yoongi tersenyum lebar, gigi-gigi kecilnya sampai kelihatan. Bahkan matanya tenggelam. Dia menangkup wajah saya, lantas mengadukan dahi kami pelan-pelan.
Saya masih tertegun. Jadi dia ingin lihat saya berkumis dan berjanggut? Oh mengapa? Mengapa saya malah mencukur bakal-bakal kecintaan Yoongi itu sebelum pemotretan ini?
"Oke. Bagus. Tahan dulu. Tetap begitu. Satu, dua, tiga."
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Pemotretan telah selesai. Saya bersyukur semua berjalan lancar. Walau kemarin Yoongi sempat sakit, hari ini dia begitu bugar. Kalau boleh dibilang, baterainya seperti tak habis-habis. Dia bisa terus memasang senyum di depan kamera. Dia bahkan menyemangati saya terus-menerus. Beberapa hasil foto yang menurut Pak Cha paling bagus ditunjukkan pada kami. Katanya dia mau minta pendapat. Sebab kadangkala, yang menurut fotografer bagus belum tentu sesuai dengan selera modelnya. Lantas saya dan Yoongi pun memilih beberapa foto. Tapi Pak Cha bilang, lebih leluasa memilih jika sudah ditransfer ke komputer. Setelah beristirahat sejenak ia akan tunjukkan semuanya pada kami. Saya setuju-setuju saja.
Kami duduk di atas sebongkah kayu. Panas terik terhalang dedaunan di pohon. Angin berembus sejuk. Kalau memandang langit, rasanya jadi mengantuk. Untung saja sesi pemotretan sudah selesai, jadi saya tak perlu merasa bersalah kalau tiba-tiba saya jatuh tertidur karena terlalu menikmati suasana penginapan yang asri. Yoongi meninggalkan saya dan Pak Cha di taman itu. Dia pergi mengambil air minum. Saya sudah katakan padanya untuk memanggil pelayan, tapi dia malah ingin mengambil minuman sendiri. Alasannya, tak ingin kami menunggu lama. Kalau pesan dan minta diantar, bisa-bisa kami keburu kering di taman.
"Astaga!"
Pak Cha tiba-tiba berteriak. Untung saja kamera yang dia pegang dikalungkan ke leher, sehingga tidak jatuh. Pria itu mengelus dada. Matanya mengikuti arah terbang seekor kupu-kupu bersayap kuning.
"Saya kaget," katanya, sembari terkikik.
"Saya juga kaget, Pak. Apa Bapak takut kupu-kupu?"
"Tidak. Kaget saja karena tahu-tahu dia melintas dari belakang saya."
"Ooh…" Saya tak bisa mengaku padanya kalau saya takut kupu-kupu. Barusan ketika dia bilang kupu-kupu itu melintas dari belakangnya, saya mendadak merasa geli di bagian tengkuk. Takut ada yang hinggap atau lewat juga di belakang saya.
"Ih! Apa itu?!" Pak Cha berteriak lagi. Kali ini lebih keras.
Saya bingung karena tak lihat apa-apa di belakang saya. Tapi ketika melihat ke depan, ternyata ada sekawanan kupu-kupu yang terbang bersamaan ke arah kami!
"AAAAA!" kami berteriak.
"Usir mereka, saya takut!" Pak Cha beringsut melilit tubuh saya. Dia menggeliat-geliat tak tahan saat kawanan kupu-kupu itu terbang di sekitar kami. Tapi jangankan untuk mengusir, menyentuh mereka pun saya tak berani!
"Pak Cha! Jangan suruh saya! Saya juga takut kupu-kupu!"
"Apalagi saya! Usir, usir!"
"Hii! Bapak saja yang usir!"
"Saya takuut!"
"AAAK!"
Kami begitu panik. Sekawanan kupu-kupu itu tak juga mau pergi. Kami yang takut hanya mengusir mereka dengan gerakan tak jelas. Mungkin saking tak jelasnya, sampai-sampai tangan dan kaki kami berbenturan, lalu kami hilang keseimbangan dan terjungkal dari bongkahan kayu tempat kami duduk.
Gedubrak! Bunyinya begitu keras. Walau tanah gembur tertutupi rerumputan, tetap saja tak membuat landasan jatuhnya menjadi empuk. Punggung dan kepala belakang saya sakit. Tapi sakitnya tak seberapa ketimbang berat yang saya rasa. Waktu membuka mata saya terkejut karena Pak Cha jatuhnya menindih saya. Pak Cha mencoba bangun, pun dengan saya. Trang! Saat itu pula saya mendengar kaca berdentingan. Saya temukan Yoongi tengah berdiri membawa nampan dengan tiga gelas air di atasnya.
"J-Jimin? Pak Cha?"
Mata kucingnya melotot. Saya memandangnya horor.
"Yoongi, anu—"
"JELASKAN PADAKU APA YANG TERJADI?!"
.
.
.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
CONTINUED
Halo. Ini kuncen. Baru kembali setelah sekian lama. Makasih buat yang udah baca sampai sini. Maafkan typo yang merajalela. Saya nulisnya di kantor, sambil kerja. Multitasking memang nggak enak. Konsentrasi terbagi-bagi. Tapi apalah daya. Orang kerja mah begini. Mau seneng juga curi-curi. Ah, abaikan curhatan ga penting ini. Salam sayang saja buat kalian semua.
Muach.
