"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Brothership and slash hints

Plot-bunnies(?)

And others

shunshines


"Wah, kau benar-benar hebat, Shun! Dalam satu hari bisa naik ke Tim Empat!"

Dalam perjalanan ke rumah, Takeru kembali memuji Shun yang duduk di sebelahnya. Sambil tetap terfokus pada jalan, ia mengacak-acak rambut adik tersayangnya itu—mungkin mengacak-acak rambut sang adik sudah menjadi hobi bagi Eyeshield 21 Notre Dame itu, bahkan frekuensi kegiatan mengacak rambut itu semakin meningkat tiap harinya.

Shun yang sedang asyik membaca buku biologi yang baru didapatkannya beberapa hari ke belakang itu berhenti melakukan kegiatannya. Ia menghela napas, merasa bahwa perkiraannya benar-benar terjadi.

Perkiraan?

"Bukan apa-apa," balas Shun singkat, lalu berusaha mengembalikan konsentrasinya ke materi biologi yang tadi dibacanya. Ia bahkan tidak memedulikan Takeru yang meliriknya heran.

"Kaubicara seolah itu bukan hal yang membanggakan," komentar Takeru agak sinis, kesal karena adiknya tidak kunjung 'sembuh' dari sifat dinginnya itu. "Ayolah, aku saja bangga melihatmu. Kenapa kau tidak?"

Lagi, Shun menarik napas panjang. Gara-gara komentar kakaknya, ia jadi gagal untuk menyerap kata-kata yang dibacanya. Ia juga merasa tersinggung dengan ucapan tadi. Jadi, ia memilih diam.

Mobil yang dikendarai Takeru mulai memasuki kompleks perumahan mereka. Tidak ada percakapan dan hanya suara deru mesin yang terdengar. Baik Shun maupun Takeru sama-sama tidak mau bicara duluan—terutama Shun, ia benar-benar tidak dalam mood untuk berbicara.

Sampai akhirnya, mobil sedan hitam itu memasuki car port rumah Keluarga Yamato. Shun melepas safety belt-nya duluan dan ia baru saja akan membuka pintu kalau saja lengan kirinya tidak ditahan oleh Takeru, membuatnya menoleh menatap saudaranya. "Lepas—"

"—kenapa denganmu hari ini?" Takeru menilik iris azure milik Shun dalam saat menanyakan hal yang membuatnya pusing sejak beberapa jam yang lalu. Kedua pasang mata dwiwarna itu saling beradu pandang karena sang pemilik warna biru tidak mau menjawab.

"Bukan urusanmu, Niisan." Shun menepis tangan Takeru yang menahan lengan kirinya, sehingga dengan terpaksa anak laki-laki yang lebih tua itu melepaskan tangannya. Setelah lengannya bebas, Shun meninggalkan Takeru sendirian di dalam mobil dan terus berjalan masuk ke rumah.

Takeru menghela napas, lalu mengacak-acak helai burgundy-nya gusar. Setelah mengambil tasnya yang disimpan di belakang, ia pun ke luar mobil dan mengunci kendaraan beroda empat itu.

Takeru boleh saja mengatakan bahwa ia akan menemukan alasan di balik sikap aneh Shun hari ini, tapi ia tidak pernah merasa segusar ini karena tidak kunjung menemukan jawaban. Berbeda waktu di Amerika, saat ia di-bully rekan-rekan setimnya dan dituduh atas kejahatan yang tidak dilakukannya—yang menyebabkannya harus keluar sekolah. Ia tahu jawabannya, karena mereka iri dengan kemampuannya dan memanfaatkan kesalahannya saat ia tidak bisa menghentikan lari seseorang berkulit hitam bernama Panther.

Dan ia tidak perlu merasakan pusing akibat memikirkan jawaban itu.

"Tadaima," ucap Takeru setelah memasuki rumahnya. Ia yakin tidak ada yang akan menjawabnya—setiap hari pun begitu. Para pembantu rumah tangga sibuk di belakang dan ayahnya masih bekerja. Ia sangat rindu saat dirinya masih berada di sekolah dasar. Saat ia dengan adik kandungnya pulang sekolah dan masuk rumah, mereka akan disambut dengan Sang Ibu. Sang Ibu akan bertanya, "Bagaimana hari kalian?" setiap keduanya pulang sekolah, lalu menyuruh mereka berganti baju dan istirahat.

Berbanding terbalik dengan sekarang. Tidak ada yang menyambutnya pulang sekolah. Adik tirinya itu sudah masuk duluan dan tidak akan memedulikannya karena masalah tadi. Lalu, tempo hari ia mendengar bahwa ibu tirinya pun tetap bekerja. Apa harus kucingnya saja yang menyambutnya saat pulang?

Omong-omong tentang kucing—

"GYAAA!"

Teriakan itu bersumber dari kamar tidurnya bersama Shun. Terdengar samar, tapi Takeru yakin itu adalah suara adiknya. Teriakan itu membuatnya kaget dan mendadak cemas terhadap anak laki-laki beriris secerah langit itu. Tidak perlu berdiam diri lagi, ia pun langsung berlari menuju kamarnya yang berada di lantai tiga dengan kecepatan cahayanya.

Saat ia sudah berada di depan kamarnya—

"Takeru niisaaaan! Kucing siapa ini?!"

—dilihatnya seekor kucing angora berwarna keemasan yang dengan antengnya tengah mandi dan Shun yang berada di pojok kasurnya dengan pandangan syok.

"Meong~." Dengan watados, kucing dengan kalung merah di lehernya itu melompat naik ke kasur. Alhasil, Shun pun menjerit lagi sambil melempar bantalnya ke arah kucing malang itu.

Takeru yang melihatnya butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi. Bukannya ia bodoh—ia hanya sangat takjub melihat Shun yang menjerit OOC seperti tadi.

Satu detik. Dua detik.

"GYAHAHA!" Takeru terbahak begitu menyadari apa yang sebenarnya terjadi. ("Ne, Baka Takeru! Kenapa malah tertawa?!" begitulah reaksi Shun begitu dirinya tertawa.) Tanpa memedulikan cercaan adiknya, ia pun berjalan menuju kucing angora yang baru saja dilempar bantal itu—masih sambil tertawa. Ia menggendong kucing itu, lalu menoleh ke arah Shun yang menatapnya dengan horor. "Astaga, kauteriak gara-gara Mako? Kukira ada apa!"

Masih dengan ekspresi kesal, Shun pun mulai mengomeli kakaknya. "Singkirkan si Mako atau siapalah itu! Jangan sekali-sekali membiarkan kucing itu masuk ke kamar atau mendekatiku!"

Dengan ekspresi yang sudah agak tenang, sambil menggelitik leher kucing peliharaannya, Takeru bertanya, "Memang kenapa? Kautakut kucing, hm?"

Kali ini, tidak hanya kucing bernama Mako itu yang dilempar bantal, tapi Takeru juga. Shun membuang muka karena ia merasa pipinya memanas. Eh, kenapa bisa? "Ti-tidak. Aku hanya alergi terhadap bulu kucing dan semacamnya."

Takeru mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum. Senyum jahil.

"Kalau hanya alergi, jarak segini pun tidak apa-apa, kan?" Takeru meletakkan kembali si Mako di kasur Shun, dengan jarak sekitar tiga puluh sentimeter dari adiknya. Baru saja kucing angora itu diletakkan, Shun langsung turun dan menjauhi kasurnya. "Sudah kubilang, jangan taruh kucing itu di kasurku, Baka Takeru!"

"Hai, hai," ujar Takeru sambil tertawa lagi. Ia menggendong kucing kesayangannya, lalu berbalik menatap Shun. Ia tampak tidak peduli dengan cercaan-cercaan tadi. "Dan terima kasih, lho, Shun."

"Hm? Untuk apa?"

Takeru berbalik lagi, hendak berjalan ke luar kamar. Ia tersenyum dan kali ini bukan senyum jahil atau senyum ambigu lagi. Ia benar-benar tersenyum, karena ia menemukan hatinya tidak sebeku dulu. Tidak sebeku saat Shun kembali bersikap dingin di sekolah.

Meskipun ia belum tahu jawaban tentang sikap aneh adiknya, ia merasa baik-baik saja sekarang.

"Terima kasih karena sudah menghiburku."

Di balik punggung Eyeshield 21 Notre Dame itu, Shun merasakan pipinya memanas kembali. Ia masih tidak mengerti 'menghibur' yang dikatakan Takeru itu dalam artian apa. Tapi, mendengar kata-kata itu, detak janjungnya menjadi lebih cepat sehingga membuat darahnya naik ke pipi.

"Sama-sam—hatchi!"

Ah, sial. Alerginya benar-benar datang sekarang.


"Yak, kerja bagus, Kakei!" seru pelatih Teikoku Alexanders begitu Shun berhasil mengalahkan beberapa pemain dari Tim Tiga. Setiap latihan, dari Tim Satu sampai Tim Enam bertanding satu sama lain untuk mengukur kemampuan mereka. Jika pemain di Tim Enam bisa mengalahkan beberapa pemain yang sudah ditentukan di Tim Lima, maka ia bisa naik ke Tim Lima. Lalu seterusnya, sampai ia bisa masuk ke Tim Satu.

"Kau secara resmi naik ke Tim Tiga. Omodettou," lanjut sang pelatih, lalu tersenyum kecil—tidak bisa dibilang senyum, malah. Shun menatap pelatihnya dengan tatapan tidak percaya dan juga senang dalam waktu yang bersamaan. Beberapa pemain di Tim Empat dan Tim Tiga pun memberinya ucapan selamat karena sudah naik ke Tim Tiga.

"Naniii? Itu tidak adil!" seseorang yang diketahui adalah quarterback Tim Empat asal Tokyo protes sambil menunjuk Shun dan pelatih itu sendiri. Anak itu adalah Kirio Ibarada, dulunya quarterback Bando Spider. Merupakan salah satu ace di Tokyo. Tapi itu cerita lama. "Dia—yang nomor 41 itu—baru saja masuk dua hari yang lalu, kenapa sudah di Tim Tiga lagi?!"

"Karena kemampuan Kakei sudah melampaui pemain di Tim Empat," ujar sang pelatih singkat dan tegas. "Meskipun kalian sama-sama dari Tokyo, tapi kemampuannya sudah berada di atasmu, Ibarada-san."

"Setelah si Karin itu, sekarang ada lagi musuh," gerutu Ibarada, kali ini volumenya lebih kecil. Lalu, ia kembali mengacungkan jari telunjuknya, hanya ke arah Shun. "Hei, kau, dari Kyoshin Poseidon, kan? Padahal Bando berada di atas timmu itu, kenapa kau bisa mengalahkanku, hah? Itu tidak adil!"

"Karena kemampuan Kakei sudah berada di atasmu, dan itu absolut!" Shun menoleh ke arah seseorang-yang-sudah-membelanya dan mendapati Takeru sudah berdiri di sampingnya. Ia bisa melihat kakaknya tersenyum bangga kepadanya. Dan lagi, ia memalingkan wajahnya.

Lalu, tidak ada lagi perdebatan tidak penting itu. Ibarada yang sudah panas diseret oleh rekan Tim Empat yang lain untuk kembali berlatih.

PUK

"Omodettou, Shun," bisik Takeru, tepat di telinga Shun. Ia tersenyum. "Dua hari sudah berada di Tim Tiga, itu hebat."

DEG

Jantung Shun absen satu ketukan. Lagi, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya karena Takeru. Ia tidak bisa menahan darahnya untuk naik ke pipi. Ia yakin pipinya sudah merah sekarang.

(Tapi, tidak. Ia tidak akan terbawa oleh pujian kakaknya. Tidak akan.)

—karena rasa itu masih ada. Rasa iri itu jelas masih ada.

Maka dari itu, Shun membuang rasa senang yang tidak jelasnya itu, sehingga merah di pipinya menghilang.

"Terima kasih," jawabnya singkat, lalu segera meninggalkan Eyeshield 21 Notre Dame itu.

Takeru menghela napas. Adiknya sudah kembali berubah menjadi es. Dan ia belum menemukan jawabannya.

Ia berjalan menuju bench, berniat mengambil sport drink-nya. Ia melihat Taka yang tengah duduk sambil membaca buku, sehingga ia pun langsung duduk di samping Honjo Junior itu.

"Masih musuhan dengan adikmu?" tanya Taka datar tanpa mengalihkan pandangannya dari buku saat Takeru duduk di sebelahnya.

"Tidak juga," jawab Takeru singkat, lalu meminum sport drink-nya. "Di sekolah saja ia berubah menjadi es. Di rumah, ia bahkan bisa menghidupkan suasana."

"Souka," balas Taka, lalu menutup bukunya. "Kau bisa bertanya kepadanya saat di rumah."

Takeru hanya mengangguk mendengar saran dari sahabatnya. Ia bangkit dari bench, mengikuti Taka ke ruang ganti. Tim Satu mendapat jadwal pulang lebih awal dibanding dengan tim lainnya, karena porsi latihannya tidak sebanyak Tim Dua sampai Tim Enam. Pelatih sudah bisa mengukur kemampuan mengembangkan teknik yang dimiliki pemain Tim Satu, sehingga dengan porsi latihan sedikit pun mereka bisa mengembangkan diri dengan cepat.

Kebetulan di ruang ganti, hanya mereka berdua yang berada di sana. Mereka berdua pun mengganti seragam amefuto dengan seragam Teikoku. Keduanya sama-sama hanya menyampirkan jas almamater di bahu—memakai jas tersebut hanya akan menambah suhu tubuh mereka.

Takeru maupun Taka tidak mengeluarkan suara apapun. Yang ada sekarang hanya Takeru yang berjalan mendekati anak laki-laki berhelai keperakan panjang itu. Jarak mereka semakin sempit ketika Takeru mendorong Taka ke dinding. Takeru menyentuh dagu Taka, lalu detik berikutnya, ia melumat bibir anak laki-laki yang menjabat sebagai kekasihnya sejak beberapa bulan yang lalu itu.

(Jadi, kata 'sahabat' dengan huruf miring itu hanya untuk menyamarkan saja. Untuk arti sebenarnya, kalian sudah bisa menyimpulkannya.)

Takeru melepas ciumannya setelah mendengar Taka yang mendesah pelan—meminta dilepas karena kehabisan oksigen di paru-parunya. Keduanya saling menatap satu sama lain sambil mencari oksigen sebanyak-banyaknya.

"Ayo ke luar," ajak Taka dengan pipi yang masih merah, disetujui oleh anggukan Takeru.

Walaupun seluruh anggota Tim Satu sudah tahu mengenai hubungan Takeru dengan Taka, mereka berdua tidak mau mengumbar hubungan mereka di depan Tim Dua ke atas. Sebenarnya yang enggan hanya Taka, sementara Takeru sendiri biasa skinship di depan banyak orang. Seperti halnya uke tsundere(?), Taka akan 'ngambek' kepada Takeru kalau Eyeshield 21 Notre Dame itu mulai banyak melakukan skinship di hadapan khalayak.

Sementara itu di sisi Shun. Dari tadi, ia melihat Takeru dan Taka berjalan ke arah ruang ganti berdua, lalu sekarang kembali lagi dengan seragam sekolah. Ia tidak memperhatikan pergantian seragam atau hal-hal lain. Ia memperhatikan gerak-gerik keduanya.

Seakan-akan kedua kakak kelasnya itu berhubungan lebih dari sahabat. Seakan-akan mereka sudah melakukan sesuatu.

Jauh di lubuk hatinya, Shun merasa panas melihat kedekatan kakaknya dengan sahabat kakaknya itu. Selain itu, ia merasa ... sakit. Senyum maupun sentuhan Takeru yang biasa ditujukan kepadanya, kini ia harus membaginya dengan receiver Tim Satu itu. Di sekolah pun Takeru lebih sering bersama Taka daripada dengan dirinya.

Shun hanya iri.

Bukan—bukan iri. Tapi cemburu.

Tidak tidak tidaaak, rutuk Shun dalam hati. Ia menjadi malu sendiri karena berpikir seperti itu. Tidak mungkin ia cemburu! Dan buat apa ia cemburu? Lagipula, Takeru hanya kakaknya. Kakaknya yang almighty, yang menyebalkan, yang tukang modus, yang suka mem-bully-nya—

—yang juga menyayanginya sepenuh hati.

Tapi, untuk apa seorang adik cemburu karena kakaknya dekat dengan orang lain?

Shun menggelengkan kepalanya. Ingin rasanya memukul kepalanya sendiri untuk berhenti berpikiran yang tidak-tidak.

Tidak mungkin. Dan ini sudah absolut—kalau meminjam kata-kata Takeru.

Pertama, Shun hanya iri karena perbedaan fisik dan kemampuannya dengan Takeru.

Tidak ada di daftar kedua, yang mengatakan bahwa Shun cemburu karena Takeru dekat sekali dengan Taka.

TIDAK AKAN!


Ini sudah hari keempat Shun di Teikoku—yang berarti empat hari ia bersikap sangat dingin di sekolah dan menghindari kakaknya, tapi Takeru belum menemukan jawabannya.

Takeru sudah bertanya berjuta kali di rumah, tapi Shun keras kepala tidak menjawab dengan jujur. Anak laki-laki personifikasi langit itu hanya menjawab "tidak apa-apa" dan langsung menyibukkan diri lagi. Takeru tidak memaksa, karena ia tahu orang seperti Shun pasti akan merasa tertekan jika 'diinterogasi' seperti itu.

Karena planning A tidak berjalan mulus, maka sekarang waktunya melaksanakan planning B.

Takeru sedang duduk di meja makan, memperhatikan Shun yang sedang mencuci piring bekas makan malam. Orangtua mereka selalu pulang setelah jam makan malam, lalu saat pelayan di rumah mereka akan memasak untuk makan malam, Shun menolak dan menggantikan tugas pelayan itu—sehingga membuat Takeru takjub. Takeru lebih takjub lagi karena masakan Shun ternyata sangat enak dan tidak mengandung racun yang bisa membuatnya kabur ke WC.

Takeru bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Shun. Tanpa basa-basi, Takeru pun memeluk Shun dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu adiknya itu. Harum mint mulai memasuki indra penciumannya, membuatnya malah 'ketagihan'.

Shun merasa jantungnya meloncat ke luar begitu sepasang lengan atletis itu merengkuhnya dari belakang. Ia membeku dengan pipi memerah. Jantungnya kembali berdegup kencang, bahkan ia takut Takeru mendengar detak jantung yang tidak normal itu.

"Niisan, hanasetekudasai ...," pintanya pelan, berusaha melepaskan rengkuhan Takeru. Masih dengan perasaan abstrak, tentunya. Shun tidak habis pikir kenapa kakaknya tiba-tiba-tiba memeluknya seperti ini.

Bukannya menjawab, Takeru malah bertanya, "Ada apa denganmu empat hari ke belakang, hm?" Ia pun kembali mengeratkan pelukannya, merasa senang karena Shun sudah kembali 'jinak'.

"Ti-tidak apa-apa," jawab Shun gugup. Aish, kenapa dirinya malah gugup sendiri?

Takeru tersenyum miring. Sebentar lagi, ia akan mendapatkan jawabannya. Ia hanya akan sedikit bertindak lebih lanjut. Maka, Takeru pun sedikit menjilat dan menggigit leher mulus adiknya. "Benarkah? Jangan bohong."

Shun berjengit begitu lehernya digigit. Ia menunduk dengan muka memerah.

Iya, dirinya memang 'lemah' kalau sudah skinship dengan Takeru. Iya, dirinya memang terlalu lemah karena ia sudah menyerah sekarang.

Iya, Shun berhasil takluk di tangan Takeru.

Melihat gelagat adiknya, Takeru melepas pelukannya. "Sudahlah, jangan berbohong seperti itu. Aku tahu kau tidak bisa menyembunyikannya."

Langkah kaki Takeru yang semakin menjauh menyadarkan Shun untuk segera melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Ia pun menghela napas, menenangkan jantungnya juga perasaannya yang mendadak abstrak. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba melupakan apa yang terjadi beberapa detik yang lalu.

Untuk pertama kalinya, Shun merasa perasaannya abstrak seperti ini.

Dan untuk kedua kalinya, Shun berhasil ditaklukan kembali oleh kakaknya.


to be continued


a/n:

iya, chapter ini panjang banget. salahkan ide yang tiba-tiba ngalir gara-gara maraton nonton junjo romantica.

chapter ini udah ada slash hints-nya, itung-itung bonus kan :3 ff ini diketik tiga hari tapi misah(?), start nulis sehari setelah publish chapter 3—fyi aja sih XD

karena aku terlanjur pegel(?), langsung closing aja ya.

mind to review? C:


super supporting biography

1. Haru Kakei:

Ibu kandungnya Shun dan ibu tirinya Takeru. Ciri-cirinya, tubuh tinggi mencapai 170 cm (emang dasar Tower Family), rambut biru panjang bergelombang, warna mata azure, kerjanya jadi desainer baju. Keibuan dan mewariskan ke-tsundere-annya kepada Shun. Bisa dibilang, Shun adalah duplikatnya dalam wujud laki-laki, baik fisik atau sifat. =_=v

2. Satoshi Yamato:

Ayah kandungnya Takeru dan ayah tirinya Shun. Ciri-ciri, tubuh tinggi tegap, atletis juga, rambut hitam agak ikal, warna matanya hitam, kerjanya jadi direktur perusahaan saham. Suka kucing, makanya memelihara Mako. Takeru adalah duplikatnya.

3. Gadis Blasteran Yang Menyapa Shun dan Takeru (Misa Akiyama):

Teman sekelas Shun. Dulunya fangirl Takeru, tapi mendua(?) jadi fangirlnya Shun diam-diam. Blasteran Inggris-Jepang.

4. Mako:

Kucing angora berwarna keemasan peliharaan Keluarga Yamato. Karena Satoshi suka kucing, ia memelihara Mako sejak Mako masih kecil, sekitar tiga tahun yang lalu. Mewarisi kesukaan ayahnya, Takeru pun ikutan merawat kucing angora berwarna keemasan ini.