Sebetulnya Yoongi tak marah, hanya kaget. Yaa jelas saja, mengingat posisi jatuh saya dan Pak Cha sama sekali tak wajar. Kami seperti dua orang yang sedang bercumbu di rerumputan. Pak Cha meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Saya juga minta maaf padanya dan Yoongi. Konyol memang, tapi sudahlah. Kadang-kadang ada saja hal tak terduga yang bisa membuat situasi jadi ramai.
"Foto yang sudah diedit akan saya kirim paling lambat seminggu dari sekarang."
"Terima kasih Pak Cha."
Pak Cha berpamitan. Kami berpisah di lobby penginapan.
Satu urusan selesai. Saya bisa bernapas lega sedikit.
"Yoongi, setelah ini apa yang ingin kau lakukan?"
"Masih sore, ya? Hmm … mau apa ya?" Yoongi mendengung. Kalau sedang berpikir seperti itu dia terlihat sangat menggemaskan. Pipinya yang penuh jadi makin penuh saja karena digembungkan.
"Mau apa?"
"Ah! Di penginapan ini kan ada pemandian air panas. Kau mau mandi air panas?"
"Kalau di pemandian air panas kan harus telanjang sama-sama…"
"Tidak mau?"
"Hehe." Saya mengekeh. Yoongi sudah tahu, kalau saya diam, berarti saya tak mau. Lagipula, saya takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan seandainya kami pergi ke pemandian. Saya tak mau melihat tubuh polosnya. Selain itu, saya juga tak mau orang lain melihatnya. Yang namanya pemandian umum, pasti ada banyak orang, bukan? Lantas saya pun mengusul begini, "Ayo jalan-jalan saja, jalan-jalan ke sekitar penginapan. Siapa tahu ada jajanan kaki lima yang enak."
"Benar juga."
"Mandinya nanti malam, habis jalan-jalan dan makan. Supaya setelah mandi, bisa langsung tidur."
"Baiklah kalau begitu. Ayo!" seru Yoongi dengan semangat.
What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Kami berjalan-jalan santai. Pepohonan membuat teduh. Terik matahari tak menyengat, malah menghangatkan. Lembayung senja begitu jelas di langit. Saya bersandingan dengan orang yang saya cintai sambil menikmati sepoi angin. Duh, sore yang indah.
"Jimin, kalau nanti ketemu stand cumi bakar, aku mau ya?"
"Iya." Saya mengangguk.
Selain kami tak banyak orang berlalu lalang. Mungkin karena belum waktunya orang pulang bekerja. Ketika melihat segerombolan anak-anak berseragam, saya ingat pada murid-murid saya di sekolah. Kalau yang tidak ada kegiatan klub, pasti sudah pulang seperti mereka.
"Jimin, tunggu."
"Kenapa?"
"Ponselku bergetar."
Yoongi melepaskan tautan tangan kami. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Saya tak tahu apakah ada yang menelepon atau apa. Saya hanya diam menunggu. Yoongi mengulurkan tangannya di depan muka. Saya baru sadar kalau itu panggilan video ketika melihat layar.
"Min-ssaem!"
Di layar ada Taehyung. Anak itu tersenyum sampai matanya hanya tinggal segaris. Di belakangnya ada Jungkook yang berusaha untuk terlihat di kamera.
"Kenapa video call? Tumben? Ada apa?" tanya Yoongi.
"Park-ssaem mana?"
"Ini." Yoongi menarik saya supaya lebih dekat lagi dengannya. Wajah saya ada di kamera. Anak-anak itu tertawa keras ketika saya muncul.
"Park-ssaem kok ganteng!" teriak mereka kompak.
"Apa, sih?" Sedkitnya saya jengkel.
Kami memang belum menghapus riasan setelah berfoto. Mungkin anak-anak itu kaget melihat saya seperti ini.
"Jungkook bilang tolong cek pesan masuk, Pak! Dia kirim pesan tapi tak juga dibalas oleh Bapak!"
Ketika mengecek ponsel, memang ada pesan dari Jungkook. Baru sadar. Saya lupa kalau ponsel saya ini masih dalam mode silent.
"Min-ssaem sedang apa?" tanya Taehyung.
"Sedang jalan-jalan."
"Kenapa Min-ssaem dan Park-ssaem jalan-jalan di hari Jumat? Tadi kelas saya kosong di jam pelajaran musik."
"Kami ada perlu, bukan jalan-jalan saja, sebetulnya kami—"
"Sudahlah," bisik Yoongi. Dia mungkin tak ingin saya bicara panjang lebar hanya untuk menjelaskan alasan kami mangkir mengajar.
"Park-ssaem! foto prewedding-nya sudah, belum? Kalau sudah, saya mau lihat sample fotonya supaya bisa buat undangan secepatnya." Ini Jungkook yang bicara.
"Iya, iya. Nanti saya kirim fotonya."
"Saya masih tak percaya Park-ssaem bisa setampan ini!" Taehyung cengingisan. Saya hanya menghela napas lelah. Memangnya mustahil ya saya menjadi tampan?
"Apa ada yang mau kalian katakan lagi selain memuji ketampanan saya?"
Mereka tertawa lagi. Astaga. Mereka yang cekikikan, saya yang capek.
"Tidak ada!" kata mereka.
Percakapan kami selesai setelah anak-anak itu melambaikan tangan. Sebenarnya saya tak mau diganggu, tapi apa daya, tak ada yang tahu juga kalau mereka akan video call sore-sore begini. Saya tebak, pasti anak-anak itu baru saja keluar dari kelasnya. Benar-benar tidak ada kerjaan. Hobi sekali mengganggu kencan gurunya.
"Kenapa wajahmu masam begitu?"
"Ini karena anak-anak itu."
"Sudahlah. Tidak perlu marah. Ayo kita jalan lagi. Aku tak akan pulang ke penginapan sebelum menemukan stand cumi bakar."
"Kalau begitu kau cari stand itu sendiri, aku akan pulang."
"Aah, Jimiiiin!"
"Dadah!"
"Jimiiin!"
Saya berlari, Yoongi mengejar. Kami mungkin jadi pusat perhatian orang-orang di jalan. Tapi saya tak peduli. Saya terus berlari sampai Yoongi berhasil menangkap. Asyik juga main kejar-kejaran begini.
Malam tiba. Sempat Yoongi minta saya untuk ke pemandian, tapi tetap, saya menolak. Kami pun mandi sendiri-sendiri. Yoongi yang lebih dulu selesai. Ketika saya kembali ke kamar, dia sudah mengenakan kimono dan bersiap untuk tidur. Sebelum ini, saya tak pernah melihatnya mengenakan kimono. Dia lucu. Mungkin lebih lucu lagi kalau bagian kerahnya dibuka sampai dadanya kelihatan.
"Jimin? Ayo tidur!" Yoongi menepuk-nepuk kasur.
Kami tidak tidur di kasur busa, melainkan di kasur tradisional yang digelar di lantai. Ini mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Waktu masih di Busan, saya lama tinggal di rumah nenek dan saya tidur dengan kasur tipis seperti ini. Memang tak lebih nyaman ketimbang kasur moderen, tapi kalau tidurnya bersama Yoongi, kasur tipis pun tak jadi masalah.
"Lampunya bikin silau, matikan saja ya?" pinta saya.
"Aku tak terbiasa tidur dengan lampu mati. Biarkan menyala saja."
"Aku tak bisa tidur kalau lampunya menyala…"
"Kita suit saja, kalau aku menang, lampunya biarkan menyala, kalau kau yang kalah, kita tidur gelap-gelapan."
"Oke…"
Kami duduk berhadap-hadapan.
"Batu, gunting, kertas!"
"Aku menang."
"Hah…" Yoongi kecewa karena kalah. "ya sudah, matikan lampunya."
"Terima kasih~"
Lampu mati. Yoongi segera bergelung setelah saya kembali ke kasur. Dia meringkuk, merapat pada saya seperti kucing. Saya tidak tahu dia takut atau apa, yang jelas, karena dipeluk Yoongi adalah sesuatu yang enak, jadi saya tak boleh melewatkan kesempatan. Saya pun balas memeluknya, lalu menutupi badan kami dengan selimut.
"Selamat tidur, Jimin-ie."
"Ya, selamat tidur, Sayang."
Saya memejamkan mata. Tapi karena belum benar-benar mengantuk, saya tak bisa langsung tidur. Yang saya lakukan hanyalah bernapas sembari memandangi wajah Yoongi. Memang gelap, tapi masih kelihatan sedikit. Pipi mulusnya saya belai. Yoongi nampak tak terganggu. Entah berapa lama saya memandanginya. Itu cukup lama, karena Yoongi sudah dua kali berubah posisi. Saya bosan karena tak kunjung mengantuk. Tak mungkin pula mengajaknya mengobrol, jadi saya memainkan ponsel untuk mengusir kebosanan. Siapa tahu dengan melihat ponsel, mata saya lama-lama jadi lelah dan kantuk akan datang.
"Hoaaammm…"
Cara itu ampuh. Mata saya memberat.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Di tengah malam saya terbangun. Karena lampu mati, saya tak bisa melihat jam di dinding. Akhirnya saya nyalakan ponsel. Angka satu lebih sedikit tertera di layar. Saya mendengus. Kenapa pula harus terbangun di waktu seperti ini? Mestinya saya masih tidur nyenyak dan bermimpi. Saya membalik badan untuk melihat apakah Yoongi masih terlelap atau tidak. Tapi, Yoongi tidak ada di samping saya. Seketika saya bangkit dudukkan diri. Saya celingak-celinguk kebingungan karena Yoongi tak ada di sudut manapun di sepetak kamar sewaan kami. Lantas saya pun menyalakan lampu, untuk memastikan. Saat itu saya baru sadar pintu kamar kami terbuka.
"Yoongi?"
Saya keluar dan menemukannya sedang duduk di koridor menghadap kolam. Yoongi menoleh ketika dipanggil. Dia memegang gelas kecil. Di sebelahnya ada botol kaca yang ditaruh di atas nampan.
"Kau sedang apa?" tanya saya, sembari mengambil tempat untuk duduk di dekatnya.
"Minum."
"Minum apa?"
"Arak…"
Saya ambil botol kaca itu dan saya baui. Benar, bau arak. Untuk apa Yoongi minum arak sendirian tengah malam? Apalagi tanpa mengajak-ajak saya. Saya tak paham. Lantas saya pun bertanya padanya soal ini. "Kau kenapa? Apa ada sesuatu? Aku bangun dan tak menemukanmu di sampingku. Kenapa kau keluar tengah malam begini?"
"Aku stres."
Tak sangka, itu jawaban yang keluar dari bibirnya.
"Stres?"
"Aku mimpi buruk, Jimin." Yoongi mengakhiri kalimatnya dengan desahan panjang. Bahunya melorot.
Saya bergeser duduk lebih rapat dengannya. Tangan putih itu saya genggam. "Mimpi apa? Kalau kau mau, kau bisa ceritakan mimpimu itu padaku. Siapa tahu dengan bercerita, stresmu hilang. Daripada kau minum arak."
"Aku…"
"Kenapa?"
Yoongi terlihat ragu. Kepalanya tertunduk dalam. "Jadi…" Gelas araknya dia taruh di atas nampan. Dia menghela napas, lalu saya ditatap. "Di mimpi itu aku menikah, tapi bukan denganmu."
Deg. Jantung saya terasa seperti berhenti sejenak. Setelah itu ada degup yang tak mengenakkan. Saya menggigit bibir, berpaling wajah. Yoongi meremat tangan saya.
"Saat hendak berikrar, aku menengadah. Di hadapanku, bukan kau yang berdiri. Entah siapa. Karena itu bukan kamu, aku pun tak jadi berikrar. Kulepaskan tangan orang itu dan aku turun dari altar. Aku mau mencarimu. Aku bertanya pada seluruh tamu undangan di mana Park Jimin, mempelai priaku. Tiada dari mereka yang menjawab. Aku tetap mencarimu meski aku tak tahu kau ada di sana atau tidak. Selamat ya, Yoongi. Aku mendengarmu mengatakan itu. Lalu kau pun kutemukan, di bangku paling belakang, sedang berdiri sendirian. Saat kuhampiri, kau bicara lagi. Selamat atas pernikahannya, begitu katamu."
Saya terdiam. Yang bisa saya rasakan hanyalah sakit yang menyergap dan mata saya yang memanas. Itu mimpi? Ya, saya tahu itu mimpi. Tapi mengapa? Mengapa mimpi itu harus tentang pernikahan kami? Dan mengapa bukan saya yang menikahinya? Kenapa saya yang harus mengucapkan selamat padanya? Rasanya menyesakkan. Sungguh menyesakkan.
"Jimin?"
Air mata saya jatuh. Sadar akan itu, saya menyekanya cepat-cepat. "Ah, maaf."
"Jimin, kau menangis?"
"Maaf, maaf."
Yoongi terlihat khawatir. Dia menghapus jejak tangisan itu lalu menangkup wajah saya dengan kedua tangannya. "Tidak, maafkan aku. Ya Tuhan, maafkan aku. Tak seharusnya aku menceritakan mimpi buruk ini padamu. Tolong jangan menangis…"
Saya tak bisa menghentikan hujan. Air mata saya terus jatuh. Saya memejamkan mata untuk mengakhirnya, tapi percuma, malah bulir yang lebih besar keluar. Yoongi kemudian mengecup kedua kelopak mata saya. Padahal basah dan asin, tapi kenapa dikecup?
"Jangan menangis…"
Lemah memang, saya ini. Bagaimana bisa saya menunjukkan sisi melankolis seperti ini di depan Yoongi?
"Memalukan, ya? Astaga." Saya mencoba tertawa. Air mata itu saya seka asal. Saya menatapnya sambil memberi senyum. "Aku tak ingin menangis, tapi entah mengapa ini tak bisa ditahan."
"Maafkan aku, Jimin."
Yoongi menarik saya ke dalam pelukannya. Punggung saya dielus. Padahal saya sudah berniat untuk berhenti menangis, tapi di bahunya, saya malah menangis lagi untuk yang kedua kali. Saat itu saya membayangkan mimpinya. Tidak ada yang tahu akan masa depan. Tidak ada yang bisa menebak nasib akan membawa kita ke mana di hari esok. Saya mencintai Yoongi sepenuh hati. Saya tulus ingin menikahinya. Saya mau esok dan ke depannya dia terus bersama saya. Ya Tuhan, semoga semua baik. Semoga saya sampai pada hari yang bahagia itu….
"Yoongi," panggil saya. Pelukannya saya lepas. Saya ingin bertatap langsung dengan matanya. Pantulan lampu dan bulan ada di manik sekelam malam itu. Saya mengamit tangannya erat. "Aku … aku sangat ingin menikahimu. Aku yang akan jadi suamimu. Aku yang akan berdiri denganmu di altar itu. Aku yang akan berikrar di sana. Aku tak akan membiarkanmu menikah dengan orang lain. Tidak akan."
Yoongi mengukir senyum simpul. "Ya. Kaulah yang akan jadi suamiku. Kaulah yang akan berdiri di altar bersamaku. Kaulah yang akan berikrar di sana. Jadi mari kita lupakan mimpi buruk itu, dan berhentilah menangis karena aku juga jadi ingin menangis. Aku sedih melihatmu begini."
"Mengapa aku sangat bodoh? Harusnya aku menghiburmu supaya kau tak stres. Tapi aku malah menangis begini. Aku malah menambah bebanmu."
Saya mendengar Yoongi terkekeh. Dia kembali menyeka air mata saya dengan tangannya.
"Yoongi, maaf jika aku tak sempurna. Maafkan aku yang lemah ini."
"Tak apa. Seperti apapun kamu, aku tetap mencintaimu."
"Terima kasih. Aku juga mencintaimu, sangat."
Dia tersenyum lagi. Tatapannya meneduhkan, senyumnya mendamaikan. Harusnya saya tak perlu menangis karena hal sepele. Benar-benar bodoh dan memalukan.
"Aku malu karena sudah menangis seperti bayi di depanm—"
Belum selesai saya bicara, bibir saya dibungkam dengan ciuman.
"Tidak, tangisan adalah kejujuran. Maaf membuatmu terluka. Tapi terima kasih sudah jujur padaku," katanya, setelah melepas ciuman kami.
"Aku sangat mencintaimu…"
"Kau sudah mengatakan itu barusan."
"Aku ingin mengatakannya lagi. Yoongi, aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu."
"Jimin, astaga."
Kami tertawa bersama. Kesedihan saya sirna. Terkadang ada hal dari Yoongi yang membuat saya terluka, tapi dia pulalah obatnya. Yoongi adalah segalanya bagi saya. Dia layak mendapatkan cinta yang lebih besar dari dunia.
"Kau mau bantu aku habiskan arak ini?"
Yoongi menuang arak ke gelasnya, lalu gelas itu dia sodorkan pada saya.
"Baiklah."
Akhirnya kami minum berdua, berganti-gantian menggunakan satu gelas yang sama. Kalau saya, memang tak mudah mabuk, jadi tak masalah minum-minum lewat tengah malam begini. Apalagi kalau cuma minum setengah botol. Masalahnya ada pada Yoongi. Dia adalah tipe orang yang mudah mabuk. Seperti waktu kami minum bersama teman-teman guru di sekolah, dia termasuk yang paling cepat teler (setelah Jung-ssaem). Habis minum beberapa gelas, dia sudah tak fokus. Dia minta saya cerita tentang masa kecil saya di Busan, tapi saat saya cerita dia hanya menatap tanpa mendengarkan. Saat dia yang bicara, malah melantur dan tak jelas juntrungannya ke mana.
"Yaa, araknya sudah habis," katanya. Dia mengerucutkan bibir penuh sesal.
"Ya sudah, karena araknya sudah habis, mari kita kembali ke kamar. Lama-lama di luar begini bisa membuatmu sakit."
"Apa kau tidak mau menikmati bulan dan keheningan malam ini, Jimin-ie? Lihat, bulan begitu indah. Penginapan ini begitu sepi. Orang-orang pasti sudah tidur. Ah, tidak. Kalau yang sudah punya pasangan, mungkin belum, ya?"
"Ayo masuk."
"Berbaringlah di situ."
"He?"
"Berbaringlah."
Dengan sedikit ragu, saya berbaring. Yang saya pikirkan adalah dia yang ingin tidur-tiduran sambil memandang langit bersama saya. Yaa, kalau sebentar saja mungkin mengapa. Saya bisa memeluknya kalau dia kedinginan. Yang penting saya mengamini permintaannya.
"Ayo, kau juga berbaring. Bukankah mau melihat bulan?"
"Aku tidak akan berbaring." Yoongi menaruh kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepala saya. Dia mengungkung dari atas. Bibir tipisnya melengkungkan senyum yang ganjil. "Aku akan duduk."
"Y-yoongi?"
Dia menaiki saya. Dia menaiki saya!
Tubuh saya menegang tak siap diserang begini. Yoongi yang mabuk benar-benar tak terduga. Dia bisa dengan tiba-tibanya menduduki saya tanpa pikir panjang. Bahkan dia sengaja mencari posisi yang enak. Belahan kimono-nya melebar karena dia duduk mengangkang. Paha putih dan dalaman celana pendek hitamnya yang ketat tersuguh langsung di depan mata saya. Ya Tuhan! Godaan macam apa ini!
"Karena tadi kau sudah menangis, akan kukecup matamu. Mmuach."
Mata saya dikecup.
"Karena tadi kau minta maaf melulu, akan kukecup bibirmu. Mmuach."
Bibir saya dikecup.
"Dan karena hatimu terluka, akan kukecup dadamu."
"Eh! Tunggu!" Dengan sigap saya cengkram kedua pergelangan tangannya. "Yoongi, apa yang kau lakukan?"
"Membuka bajumu? Kan mau kukecup?"
Saya mematung sesaat. Muka saya panas. Mungkin jadi memerah seperti kepiting rebus. Karena tak bisa melawan tatapan polos-polos memelasnya, akhirnya saya putuskan untuk menyerah. "Y-ya sudah kecup saja. Tapi jangan lama-lama."
Yoongi tersenyum lebar, lalu dia menunduk dan mengecup dada saya. Bibirnya lembut dan basah. Sensasinya bikin geli. Saya merinding seketika. Setelah dia selesai mengecup, buru-buru saya rapatkan kerah kimono seperti semula.
"Kok ditutup? Buka saja! Buka semua!"
Saya merasa heran, sebab Yoongi mendadak marah. "M-memangnya kau mau apa?"
"Kau mau sudahi saja? Tidak mau lanjutkan ke babak yang lain?"
"T-tunggu dulu. Kau, kau lupa kalau aku punya janji?"
"Janji apa?"
"Janji untuk tak menyentuhmu sampai kita sah menjadi suami-istri."
"Tapi aku yang akan menyentuhmu, bukan sebaliknya. Jadi apakah masih ada hubungannya dengan janji itu?"
"Y-yoongi!"
"Apa?"
"Yoongi, jangan!"
Kerah kimono saya dibuka lebar-lebar. Saya menutup muka dengan kedua tangan karena malu (sekaligus takut).
"Kau mau, kan?"
"A-aku, aku t-t-tidak—"
"ASTAGA!"
Seseorang berteriak. Saya sontak berjengit kaget. Di belakang Yoongi ada seorang pelayan. Dia memandang kami dengan mata membulat dan mulut yang sama bulatnya juga.
"Ada apa, sih?"
Mendengar nada tak ramah itu, saya sontak mengalihkan perhatian pada Yoongi. Kekasih saya nyatanya tak ikutan kaget, malah menggeram dengan wajah kesal.
"M-maaf. Sa-saya hanya mau lewat. Ah, tidak, lebih baik saya lewat koridor lain. Permisi!" Pelayan itu lari terbirit menjauhi kami.
"Mengganggu saja."
"Ayo kita tidur, Yoongi! Tidur! Masuk ke dalam!"
Saya menunjuk-nunjuk kamar, tapi dia masih saja menduduki perut saya. Bahunya merosot, seperti kecewa karena saya menyuruhnya tidur. Bibirnya tertekuk ke bawah.
"Aku belum mau tidurrr!"
"Ayo tidurr!"
"Jimin, kau menyebalkaaan…"
Dada saya dipukul, lantas dia melandai dan menempelkan badannya pada saya. Jelas saya tak berkutik! Saya bisa apa untuk melawan? Saya sudah hampir pasrah bila dia hendak melakukan sesuatu pada saya. Setengah berharap juga sih.
"Yoongi?"
Hanya saja, apa yang saya tunggu tak kunjung terjadi. Dia tak melakukan apa-apa. Rupa-rupanya, dia jatuh tertidur di atas saya.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Matahari sudah naik. Saya mengeluarkan pakaian ganti dari dalam tas dan bersiap untuk mandi. Siang nanti kami sudah harus check out dari penginapan, jadi sebelum itu saya mesti sudah rapi. Sementara saya menyiapkan pakaian, Yoongi masih tidur nyenyak. Mungkin efek arak juga, jadi dia tak bisa melawan kantuk yang berat. Tentang semalam, tentu saya tak bisa lupa. Yoongi benar-benar agresif. Saya tak kira. Mungkin arak perlu saya masukkan dalam daftar apa-apa saja yang bisa membuat seorang Min Yoongi mengeluarkan sisi liarnya.
"Jimin…" Yoongi bergumam. Saat berbalik, saya lihat dia sedang menggeliat di atas kasur.
"Ini sudah hampir siang, Sayang. Kita melewatkan sarapan."
"Benarkah?" Mata Yoongi langsung terbuka sepenuhnya. Dia mendudukkan diri, lantas memijat-mijat keningnya sendiri. "Aduh. Kepalaku sakit. Sepertinya aku baru benar-benar tidur lewat tengah malam."
"Memang."
Saya menatapnya. Keheningan di antara kami mungkin menjadi sesuatu yang janggal bagi Yoongi. Dia berherut dahi.
"Kau kenapa?"
"Yoongi, apa kau tak ingat apa yang terjadi semalam?"
Mata kucingnya lari-lari, mencoba mengingat. Kelihatan sekali dia bingung. "T-tidak. A-apa? A-ada apa? Apa telah terjadi ses-sesuatu semalam? Apa kau—"
"Ah, tidak. Itu bukan apa-apa. Lupakan saja," kata saya santai. Lucu memang melihat Yoongi seperti itu. Tapi saya bukan orang iseng yang mau membuat pasangannya gagap lama-lama.
"Jimin, k-katakan ada apa!" Yoongi memaksa.
"Tidak, bukan apa-apa."
"Serius!"
"Iya, aku serius."
"Kita tidak…?"
Dia menutup kerah kimono-nya rapat-rapat, seolah-olah semalam saya telah menodainya. Padahal kenyataannya, malah saya yang hampir dinodai.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
CONTINUED
