"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Brothership and slash hints

Plot-bunnies(?)

And others

shunshines


Setelah kejadian kecil tapi berdampak besar di dapur tadi, Shun jadi merasa gentar untuk kembali ke kamar. Padahal, ia berencana untuk mengerjakan tugas sekolahnya dan juga belajar untuk besok. Tapi, niat tersebut menjadi terancam batal karena ia sendiri mendadak segan untuk ke kamar.

'Si Baka Takeru itu sudah berhasil menaklukanku,' gerutu Shun dalam hati. Sekarang, ia berdiri tidak jauh dari pintu kamarnya dengan Takeru, masih galau mau masuk atau tidak. Ia menyentuh bagian leher yang diberi tanda oleh kakaknya, tidak bisa menahan darahnya untuk tidak naik ke pipi. Setelah mencuci piring tadi, Shun tidak sengaja menemukan tanda kemerahan di bagian lehernya, sehingga ia pun menyumpahi Eyeshield 21 Notre Dame yang ternyata bisa dibilang pervert itu.

"Sedang apa di sana, Shun?" suara Takeru yang terdengar dari belakang Shun membuat jantungnya seperti lepas dari tempatnya. Kalau di kartun, ekspresi Shun saat itu kira-kira seperti ini (=_=).

"Kenapa kau ada di sini, Baka Aniki?" tanya Shun pelan, berusaha menenangkan dirinya dan tidak bersikap lebih absurd. Lebih absurd dalam artian 'menimbulkan kecurigaan pada Takeru sehingga membuat anak laki-laki yang lebih tua darinya itu mencari kesempatan untuk mem-bully-nya lagi'.

"Hm? Aku baru memberi makan Mako," jawab Takeru santai, lalu berjalan mendekati adiknya. Tentu saja jarak yang semakin berkurang itu membuat usaha menenangkan jantung Shun menjadi sia-sia lagi. Astaga, Shun bahkan takut kalau ia memiliki kelainan detak jantung sekarang. "Dan kau belum menjawab pertanyaanku."

"Aku ... baru mau masuk kamar," jawab Shun setelah meneguk saliva-nya dengan kesusahan. Ia menanamkan keyakinan kepada dirinya untuk tetap bisa mempertahankan wajah stoic-nya dan menahan rona kemerahan di pipinya untuk tidak muncul. Ia yakin bisa—

"Oh, kebetulan. Ayo masuk. By the way, kau juga masih hutang penjelasan, lho."

—tapi lagi-lagi niat dan keyakinannya GAGAL TOTAL setelah Takeru menarik lengannya menuju kamar mereka berdua.

"Apa-apaan!" hanya kata-kata itu yang ke luar dari pita suara Shun sebagai bentuk protes. Ia mengutuk dalam hati, karena ia tidak punya kekuatan untuk menolak dan karena ia membiarkan panas di pipinya kian merambat hingga ke telinga. 'Kusooooo!'

CKLEK

Suara pintu yang tertutup sempurna membuat Shun kembali meneguk air liurnya. Ia tidak punya nyali untuk menatap mata kakaknya secara langsung. Ia juga tidak bisa kabur karena Takeru punya kekuatan dan kecepatan yang jauh di atasnya, sehingga jika ia kabur, maka hasilnya akan sama saja—atau bahkan lebih parah.

Lebih parah bagaimana, Shun?

Menahan kesal yang naik ke ubun-ubun dan mengalahkan rasa segan yang tidak beralasannya, Shun pun berjalan menuju meja belajarnya yang membelakangi tempat tidur (ia sengaja memilih tempat itu karena Takeru akan duduk di kasur, setidaknya ia bisa membelakangi sang kakak). Ia menghela napas panjang, tidak putus asa menetralkan detak jantungnya. Untuk mengalihkan perhatiannya, ia pun membuka dan mencoba membaca buku kimia yang berada di meja belajarnya.

(Aku ini kenapa, sih...)

Takeru mengamati adiknya yang menjadi salah tingkah sejak ia sedikit 'bermain' dengan anak laki-laki itu. Benar, kan—tahap awal dari rencananya sudah berjalan mulus. Shun sudah kehilangan 'pertahanan dirinya', dengan begitu, Takeru akan lebih mudah mengorek kebenaran di balik sikap anehnya empat hari ke belakang.

"Shun," panggilnya dengan nada lebih serius. "Kenapa kau bersikap aneh sejak empat hari yang lalu? Tidak menganggapku sebagai kakakmu, melarangku untuk memanggil nama kecil, tapi itu hanya berlaku di sekolah. Nande?"

Shun—yang sejak tadi tidak benar-benar bisa menyerap kata-kata yang tertulis di buku kimianya—berhenti membaca. Sebelum detik ini, ia akan langsung menjawab "tidak apa-apa" dengan dingin dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Tapi, beda lagi dengan sekarang. Lidahnya mendadak kelu dan otaknya tidak tahu harus menjawab apa.

Tetap bohong atau jujur?

Takeru berjalan menuju Shun, lalu membungkuk dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang adik. Lengannya digunakan lagi untuk memeluk adiknya dengan lembut. "Maaf kalau membuatmu tertekan. Aku hanya ingin kau menjawab jujur."

Shun membelalakan matanya lagi, lalu mengeratkan genggamannya pada buku ekonomi malang yang hanya digunakan untuk pelampiasan. Harum shampoo yang digunakan Takeru menguar ke indra penciumannya, membuatnya semakin tidak bisa tenang.

Ini sudah jauh dari yang kuperkirakan. Baka...

"Aku..." Setelah bergelut dengan pikiran dan hatinya, Shun pun membuka suaranya pelan. "Aku hanya iri."

Takeru tidak membalas apa-apa, dan Shun bisa mengambil kesimpulan kalau kakaknya itu menanti penjelasan darinya. Ia pun menghela napas, lalu kembali melanjutkan kata-katanya. "Aku iri kepadamu, Niisan. Aku iri karena prestasimu. Kau jenius di setiap bidang, terutama amefuto. Dibandingkan denganmu, aku ... sudah tertinggal sangat jauh."

Jeda. Takeru masih ingin mendengarkan, sehingga ia sengaja tidak berkomentar apa-apa. Sangat langka baginya karena berniat mendengar cerita panjang-lebar dari orang lain tanpa memotongnya. Ia selalu menginterupsi orang-orang yang sedang bercerita kepadanya. Sudah kebiasaan, mungkin. Ditambah dengan kata-katanya yang sudah ditetapkan sebagai pernyataan absolut, membuat orang-orang tidak bisa membantah lagi.

"Kupikir, kalau semua orang tahu kalau aku adalah adikmu, aku hanya akan dibanding-bandingkan denganmu. Aku selalu di bawah bayang-bayangmu, dan itu ... tidak mengenakkan. Aku tidak suka dibanding-bandingkan," lanjut Shun setelah jeda tadi. Ia menghela napas dan menundukkan kepalanya. Entah kenapa, perasaannya sekarang sudah terasa lebih lega dari sebelumnya. "Hanya itu. Aku tahu ini konyol, tapi setidaknya aku jujur."

"Souka." Takeru pun melepas pelukannya dan kembali berdiri tegak di belakang Shun. Ia tersenyum puas, berhasil mendapatkan jawaban dari semua sikap aneh adiknya selama empat hari ke belakang. "Tidak apa-apa. Aku malah salut mendengarnya."

"Gomennasai...," ucap Shun lirih. Ia masih tidak berani menatap kakaknya, sehingga yang ditatapnya sekarang hanyalah warna cokelat dari meja belajarnya.

"Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti," sahut Takeru dengan nada bijak. "Hei, Shun, bisakah kau menatapku, sebentar saja?"

Seperti sihir, Shun menuruti perintah Takeru. Ia menghadap kakaknya yang sudah bertekuk lutut di sebelahnya. Menatap dua pasang manik cokelat yang seakan menghipnotisnya itu.

"Kau tidak usah cemas seperti itu, Shun. Kau tidak melihat kelebihan dalam dirimu sendiri. Sudah kubilang, kau punya kemampuan untuk menyamaiku—bahkan melampauiku," ujar Takeru serius, tapi lembut dan menenangkan. "Buktinya, kau berhasil masuk ke Tim Tiga dalam waktu dua hari. Kautahu sendiri, untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi, kau harus berjuang keras. Dan menurutku, masuk Tim Tiga dalam waktu dua hari itu hebat."

Shun terhenyak. Kata-kata Takeru seakan menghanyutkannya. Kalimat yang bermakna sama seperti beberapa hari yang lalu, kini terdengar lebih dalam. Ia tahu, kakaknya tidak pernah berbohong. Ia bisa melihat sorot mata kakaknya yang mencerminkan kejujuran dan keyakinan pada kata-katanya. Dan itu membuatnya tersentuh.

Takeru tersenyum, lalu menyentuh pipi Shun dengan tangan kirinya. Ia mengelus pipi mulus adiknya memakai ibu jarinya dengan lembut. "Kalau orang lain membandingkanmu, kau tidak usah memasukkannya ke dalam hati. Aku tidak akan mengalah, tapi aku akan menunjukkan kepada semua orang kalau kau sama denganku. Mengerti, Shun?"

Shun mengangguk pelan. Rona merah kembali menghiasi pipinya—terlihat sangat manis.

Takeru pun kembali berdiri, lalu mengacak helai indigo milik adiknya seperti biasa. Sekarang, ia tidak perlu pusing lagi memikirkan perubahan sikap Shun yang cukup drastis itu. Ia sudah menemukan jawabannya, sesuai yang sudah dikatakannya sebagai pernyataan absolut.

Case closed.

Kini, Shun kembali membuka buku kimianya yang sempat ia tutup. Ia benar-benar akan membaca materi-materi di dalam buku itu sekarang, berhubung perasaan aneh dan tanda-tanda abnormal seperti detak jantung tidak normal dan panas yang naik ke pipinya seperti tadi sudah berkurang.

Ia benar-benar dibuat takjub oleh kehebatan kakaknya dalam menaklukan orang.

Di sela-sela kegiatan membacanya, Shun teringat pemandangan yang dilihatnya tadi saat latihan amefuto. Takeru dan Taka yang berjalan berdua ke ruang ganti lalu kembali lagi ke lapangan. Ia merasa ada sesuatu di antara kakaknya dan sahabat kakaknya itu. Dan masalah itu membuatnya penasaran. Shun sendiri tidak tahu ia kerasukan setan apa sehingga mendadak penasaran dengan hubungan keduanya.

"Niisan," panggil Shun kepada Takeru. Ia berhenti membaca dan saling beradu pandang dengan kakaknya.

Takeru balik membalasnya. "Ya, kenapa?"

"Aku hanya ingin tahu apa sebenarnya hubunganmu dengan Taka," ujar Shun agak canggung, takut kakaknya memikirkan yang lain-lain. "Aku hanya ingin tahu saja, ya!"

"Ooh, itu." Takeru tersenyum, lalu menjawab dengan ringan, "Aku dan Taka berpacaran, sayang sekali dia tidak mau menyebarluaskan tentang hubungan kita. Dasar kuudere."

Seperti melihat sepasang lengan pucat yang tidak jelas pemiliknya ke luar dari lemari pakaian dan bertepuk tangan tepat di depan muka, Shun terhenyak lagi.

Dasar Tukang PHP.


Hari ini adalah hari kesembilan setelah acara saling jujur di malam itu. Takeru masih mengingat dengan jelas saat Shun mulai berterus terang tentang alasannya menjaga jarak yang sangat logis. Alasan yang lucu, malah. Bukan lucu yang konyol dan membuatnya ingin tertawa remeh, tapi lucu yang membuatnya gemas.

Sudah kubilang, kau itu masih seperti anak-anak, Shun, pikir Takeru sambil tertawa dalam hati.

"Takeru?"

Panggilan Taka memecahkan lamunannya. Takeru tidak benar-benar melamun, ia hanya mendadak teringat adik tiri kesayangannya. Sebelum kembali bertemu dengan Shun, ia kadang tiba-tiba teringat dengan adik laki-lakinya yang sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Entah kenapa, kebiasaan aneh itu kembali muncul, tapi dengan objek berbeda.

"Kenapa?" sahut Takeru tenang. Ia menyesap kopinya yang sudah terasa lebih dingin. Kali ini, ia sedang berada di café bersama Taka. Kalau istilah gaulnya sih, dating.

"Kau memikirkan adikmu, ya?" tanya Taka tepat sasaran setelah selesai meneguk kopinya. Berada di dekat Takeru sejak berbulan-bulan yang lalu membuatnya sudah bisa menebak isi hati Eyeshield Notre Dame itu, hanya melalui sorot mata.

Merasa tidak perlu mengelak, Takeru mengangguk. "Hanya tiba-tiba teringat. Kebiasaanku."

"Yang mana?"

Takeru mengangkat sebelah alisnya, belum mengerti arti dari pertanyaan Taka. Beberapa detik kemudian, ia pun bersyukur karena sudah diberi otak yang jenius karena ia sudah menemukan arti dari pertanyaan ambigu itu. "Shun."

Taka mengubah sorot matanya, yang asalnya penasaran menjadi sorot mata yang tidak bisa dijelaskan. Takeru yang juga sudah tahu arti setiap sorot mata kekasihnya pun tidak punya ide menebak apa yang dipikirkan Si Bungsu Honjo itu. Tapi, bukan Taka kalau tidak bisa mempertahankan pokerface-nya. "Oh, begitu."

Merasa atmosfer di antara keduanya menjadi lebih tegang secara tiba-tiba, Takeru pun merasa harus berbicara sesuatu kalau ia tidak mau 'membeku'. Sambil tertawa renyah, ia pun menimpali, "Aku teringat Shun karena ia memiliki sisi kekanakan yang selalu membuatku ingin tertawa. Hanya itu saja, kok. Kau tidak usah cemburu, Taka!"

Warna merah muda yang sangat tipis seketika menghias pipi Taka. Anak laki-laki yang mendapat julukan "Elang yang Berjalan di Udara" itu membuang muka. "Aku tidak cemburu, Takeru." Ia memungkirinya dengan datar, membuat Takeru tidak jadi berhenti tertawa.

"Kalau yang ini beda," ujar Takeru setelah selesai menertawakan Taka. "Susah untuk flirting denganmu. Untung saja, aku bisa melihat pipimu yang sedikit memerah itu. Kau senang, kan?"

Taka mendelik sedikit, lalu kembali cuek. Sementara yang dikacangin pura-pura asyik meminum kopinya agar tidak terbawa pundung karena gagal modus.

Setelah itu, keduanya kembali hening. Takeru ingin mengajak Taka untuk mengobrol lagi, tapi entah kenapa, di otaknya sekarang hanya terpikirkan sosok adiknya. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia teringat Shun secara tidak sadar seperti ini. Ia tidak mungkin mengutarakan isi pikirannya semenjak Taka memberi tatapan tidak terima saat ia menyebut nama Shun tadi.

Maka dari itu, Takeru pun berdiri. Ia menatap Taka lembut dengan senyum di wajahnya. "Sudah selesai minumnya, kan? Ayo pergi ke tempat lain."

Taka menengadahkan kepalanya, lalu bertanya, "Pergi ke mana?"

"Terserah padamu."

Tanpa kata atau pun senyum, Takeru pun tahu kalau mood Taka sudah kembali normal. Atau mungkin naik. Karena ia tahu pasti, toko buku adalah moodbooster Taka sejak dulu.


Mereka berdua berjalan menuju mobil Takeru yang berada di tempat parkir yang sudah disediakan. Setelah keduanya masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu, Takeru pun men-starter mobilnya, kemudian mobil sedan hitam itu pun melaju di jalan raya Kota Osaka yang cukup padat. Sabtu saat malam hari memang selalu ramai.

"Taka," panggil Takeru di sela kegiatan menyetir mobilnya.

Dengan singkat, Taka menyahut, "Hm?"

"Kenapa kau terlihat tidak terima saat aku sedikit berbicara tentang Shun tadi? Kau cemburu?"

Pertanyaan Takeru yang sangat frontal itu membuat Taka enggan menjawab. Pertama, pertanyaan itu sangat tepat sasaran (dalam artian; mengenai sesuatu yang selalu dipikirkannya akhir-akhir ini), dan yang kedua, pertanyaan itu retoris. Taka tahu kalau Takeru sudah menemukan jawabannya—ia memang cemburu. Lantas, kenapa harus bertanya?

"Sudah kubilang, kau tidak usah cemburu," ujar Takeru ringan, tidak menyadari ada perubahan emosi yang kentara pada anak laki-laki di sebelahnya.

Taka mengeraskan rahangnya, berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa meskipun ia ingin protes. Oke, ia mengakui kalo ia cemburu karena Takeru membicarakan Shun di depannya, padahal Shun sendiri adalah adik Takeru. Ia menyadari kalau cemburunya itu tidak wajar. Namun, ada sebuah tapi. Ia tidak pernah melihat hubungan kakak-adik yang sedekat 'itu'.

"Bagaimana aku tidak cemburu kalau sikapmu terhadap adikmu itu sudah lebih dari kakak kepada adiknya?" tanya Taka pelan, tidak mau terdengar marah atau semacamnya. Ia sangat ingin menunjukkan ketidakterimaannya, tapi entah kenapa ia tidak bisa semudah itu menjadi blak-blakan.

Takeru terhenyak. Ia mengerti maksud Taka. Ia sangat mengerti. Tapi ... benarkah?

"Hanya perasaanmu, Taka," balas Takeru dengan nada tenang. "Aku dengan Shun hanya kakak-adik. Itu saja."

Merasa tidak punya hak untuk memungkiri lagi, Taka pun diam. Ia masih ingin protes, karena ia masih memiliki fakta (bahwa selama sembilan hari sejak Shun bersekolah di Teikoku, Takeru lebih sering memikirkan adiknya) untuk menjadi bahan debat. Ia bisa maklum kalau Takeru memikirkan Shun saat hari pertama dan kedua. Tapi kenyataannya, Takeru memikirkan anak laki-laki jangkung itu sampai sejauh ini.

Tidak—ia tidak marah kepada Shun yang mencuri perhatian Takeru darinya. Tidak ada perasaan marah kepada siapapun, sungguh.

Taka hanya takut kehilangan Eyeshield 21 Notre Dame itu.

Sementara di sisi Takeru. Pertanyaan—yang malah terdengar seperti pernyataan—dari Taka itu mengusik batinnya. Memang iya, ia selalu memperhatikan Shun. Ia juga sering memikirkan adiknya. Bahkan di rumah pun ia berlaku sama—kurangi saat ia mencium leher Shun pada malam itu (lagi pula, ia melakukannya hanya untuk umpan saja).

Tapi, benarkah sikapnya terhadap Shun lebih dari sikap kakak kepada adiknya?


Shun sedang asyik bermain dengan susunan angka yang rumit di buku matematikanya, kemudian konsentrasinya buyar begitu mendengar langkah kaki yang berjalan menaiki tangga. Ia memang sedang belajar di ruang TV—masih di lantai yang sama dengan kamarnya. Kondisi rumah malam ini memang agak lengang, sehingga ia memutuskan untuk belajar di luar sambil menyalakan TV. Ayah dan ibunya belum pulang dari kantor, katanya ada dinner di kantor masing-masing. Lalu, kakaknya pergi berkencan sejak sore tadi.

Lagi-lagi ditelantarkan.

Shun tidak mau menoleh untuk melihat siapa yang datang, karena ia sudah tahu, Takeru Yamato-lah yang tengah berjalan itu. Panjang umur sekali, ia baru saja memikirkan kakaknya, lalu tiba-tiba anak laki-laki dengan helai cokelat ikal itu menampakan dirinya.

"Belajar saat hari libur? Rajin sekali," celetuk Takeru begitu melihat Shun yang asyik berkutat dengan buku matematikanya. "Tahu begitu, kuajak pergi ke luar."

Shun sweatdrop, kemudian kembali mengutuk kakaknya dalam hati karena terlalu lempeng*. Siapa yang meninggalkannya sendirian di rumah sehingga ia merasa seperti forever-alone? Siapa lagi kalau bukan Takeru Yamato!

"Untuk apa?" tanya Shun meremehkan. "Lagi pula, kau kan ada kencan dengan Taka, Niisan."

Shun secara tidak sadar mengatakan kalimat terakhir tadi dengan nada menyindir. Ia tidak tahu mengapa, ia merasa ada yang kurang saat Takeru tidak ada di rumah, meskipun hanya empat jam. Dan ia tidak menyukai saat-saat ditinggalkan itu.

"Minggu depan kau yang berkencan denganku," ujar Takeru ringan sambil terkekeh, membuat efek besar kepada Shun. Pipinya memerah lagi karena malu. Ia merasa dadanya menjadi hangat, seperti saat Takeru memeluknya beberapa waktu yang lalu.

Menyadari hal bodoh yang tiba-tiba terpikirkan olehnya, ia pun membuang muka.

Tunggu, apa-apaan tadi? Yang benar saja! Aish, jangan mau terpancing kata-katanya, Shun!

"Sudah makan malam, kan?" tanya Takeru perhatian. "Awas saja kalau belum. Aku tidak mau kau sakit."

Shun tidak bisa tidak mengakui kalau hatinya kembali terbang. Dulu, ia akan mengatakan bahwa kakaknya itu kelewat bawel, tapi sekarang, ia malah senang karena diperhatikan. Jangan tanya kenapa, ia pun tidak akan tahu jawabannya. Dengan muka yang—masih—datar, ia menjawab, "Sudah. Niisan?"

"Sudah juga."

Setelah itu, Shun tidak berkata apa-apa lagi, sehingga Takeru pun memutuskan untuk masuk ke kamar untuk ganti baju.

Shun menghela napas saat mendapati siluet kakaknya itu menghilang dari pandangannya. Ia menyentuh dada kirinya. Jelas terasa degup jantungnya yang tidak normal itu. Perasaannya menjadi lebih lega saat melihat Takeru sudah pulang, tapi juga ia kesal karena bertemu dengan kakaknya.

Iris birunya menangkap buku tulis tempatnya menulis jawaban dan pensilnya yang tergeletak di sebelah bukunya, seakan meminta benda mati itu untuk menjawab pertanyaan yang terus terngiang di benaknya. Pertanyaan tidak terjawab yang sudah membuatnya pusing sejak seminggu yang lalu. Semenjak kejadian saat Takeru menyentuhnya.

Kenapa ia merasa senang hanya karena melihat kakaknya? Dan kenapa juga ia harus terkena serangan jantung mendadak saat bersama kakaknya, meskipun tidak bertatapan sama sekali?


to be continued


*lempeng: semacem muka datar dan watados dalam bahasa Sunda xD


a/n:

hai, aku kembali. kali ini update 2 chapter sekaligus, berhubung mood nulis seketika naik. sebagaipelampiasangalausih.

maaf kalau membosankan. biasanya 1 chapter ada sekitar 2,3 K words, dan entah kenapa akhir2 ini malah jadi 2,6 K ke atas. mungkin karena mood nulisku yang naik itu.

berhubung aku lagi ga mood ber-emot karenasedanggalau, langsung saja. review-nya ya, minna. aku butuh banget review. pengennya sih no silent readers, ya. concrit lebih dibutuhkan lagi.

salam author galau, yunna.