Tak terasa pernikahan saya dan Yoongi tinggal menghitung minggu. Hanya tiga minggu lagi. Tiga minggu!

Satu kebiasaan baru yang sering saya lakukan adalah mengecek kalender dan menghitung mundur sampai hari H. Harusnya, semakin dekat, semakin mantap. Tapi apa yang saya rasakan justru sebaliknya. Saya dibebani rasa takut dan keraguan. Apakah semua akan berjalan lancar? Apakah setelah sah kami akan baik-baik saja? Beberapa hari lalu saya sempat bertelepon dengan Ibu perihal ini. Katanya memang, tiap orang yang akan menikah pastilah merasakan kecemasan. Tapi menurut Ibu, kecemasan saya ini berlebihan. Ya memang, saya jadi stres sendiri, banyak melamun. Saya hanya tak percaya kalau hari besar itu akan tiba sebentar lagi. Apakah saya sudah siap? Saya bertanya-tanya pada diri sendiri. Lain dengan Yoongi yang malah cuek-cuek saja. Meski mengaku pada saya kalau dia juga cemas, gelagatnya tak menunjukkan itu dengan kentara. Dia dapat dengan mudah mengikuti arus. Lebih luwes ketimbang saya. Lantas saya pun berpikir, tak boleh saya melulu begini. Saya harus tetap positif dan optimis. Tapi…

"Park-ssaem, awas!"

What's on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

"Ah, aduh, pelan-pelan."

"Nikmat?"

"Sakit."

"Tapi sakit itu mesti dinikmati, Park-ssaem."

"Aduuuh … serius, sakit. Jin-ssaem, jangan terlalu bersemangat…"

"Saya bukannya terlalu bersemangat—uh. Di sini?"

"Aduh, iya. Iya, iya. Astaga. Aaah!"

Saya sedang diurut. Akibat melulu melamun, sewaktu habis mengajar, saya terjerembab ke parit yang baru dibuat di dekat lapangan olahraga. Kaki saya terkilir. Saya berjalan terpincang-pincang ke ruang kesehatan. Sebetulnya ada anak-anak murid yang mau membantu, tapi saya malu. Jatuh saja sudah bikin malu, apalagi kalau mesti dipapah oleh mereka sepanjang jalan.

Krek! Ada bunyi. Saya menggigit bibir untuk menahan jeritan. Jin-ssaem tersenyum puas dengan tangan yang masih memegangi kaki saya. Sesuatu mungkin telah berhasil ia lakukan, tapi saya tak tahu itu apa dan saya merasa betul-betul kesakitan. Kaki saya patah atau bagaimana?

"Sudah selesai. Tinggal diberi salep supaya tidak membengkak dan membiru. Hei, ada apa dengan wajah Anda?" Jin-ssaem menaruh kaki saya dengan hati-hati, lantas mengambil langkah untuk berdiri di dekat kepala saya. Mungkin apa yang saya rasakan terlihat dari muka, makanya mendadak dia berubah cemas.

"Sakit … hengg…," adu saya—dengan sengaja. Sebab wajah merengutnya sama lucunya dengan Yoongi.

"Cup, cup, maaf ya…"

Jin-ssaem membantu saya untuk duduk. Rasa sakitnya tak separah sebelum diurut, tapi masih ada. Apalagi waktu mencoba mengenakan kaos kaki. Linu. Pada akshirnya, Jin-ssaem meminjamkan saya sandal. Untung setelah ini saya tak ada jadwal mengajar lagi. Kalaupun ada, mungkin akan saya suruh anak-anak murid saya belajar di kelas dan mengerjakan di buku teks saja.

"Terima kasih, Jin-ssaem. Saya … mau ke ruang guru sekarang. Nanti sepatunya saya ambil sebelum pulang."

"Oke."

Saya berdiri, Jin-ssaem mundur untuk memberi spasi. Sayang waktu melangkah, keseimbangan saya goyah dan—grep! Berakhirlah saya di pelukannya.

"Anda ini! Kalau mau dipapah, bilang, dong!"

"Maaf!"

"Tapi kok, snif. Park-ssaem, ada bau matahari di rambut Anda."

Hidung mancung dan bibir tebal itu serta-merta mencium ubun-ubun saya. Ya, saya tahu kalau tinggi Jin-ssaem jauh melebihi saya. Tapi apa pantas mencium ubun-ubun orang lain hanya karena baunya seperti matahari? Jantung saya berdegup tak karuan. Apalagi karena sisian wajah saya menempel di dadanya.

"A-anda … suka bau matahari?" tanya saya.

"Suka. Seperti kucing-kucing atau binatang kecil berbulu yang suka main di bawah sinar matahari, badan mereka hangat dan baunya khas."

Pelukannya sedikit merenggang. Saya menengadah untuk lihat wajahnya.

"Jin-ssaem."

"Apa?"

"Anda … manis—"

Bruk! Bruk! Bruk! Kami tersentak saat mendengar bunyi benda-benda yang berjatuhan. Di lantai ada buku-buku berserakan. Di ambang pintu, ada Kim-ssaem yang berang.

"OH, GOD! WHY?!" teriaknya.

Sepertinya saya harus siap kena semprot.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Kami duduk bertiga di ruang kesehatan. Saya tak jadi pergi ke ruang guru karena Kim-ssaem menginterogasi. Dia paksa saya untuk menjelaskan kenapa saya dan Jin-ssaem bisa berpelukan. Untung Jin-ssaem menyuruhnya untuk tak lagi membahas soal itu. Jadi saya tak perlu capek-capek menjelaskan dengan panjang lebar.

"Seokjin, kau sedang apa, sih? Jangan malah asyik dengan ponselmu sendiri."

Jin-ssaem tidak menggubris. Dia malah bersenandung seolah Kim-ssaem tak eksis di depannya. Sebetulnya sikapnya yang begini agak menyebalkan juga, sih. Kalau Yoongi yang bersikap begitu, mungkin saja saya akan menangis minta perhatian.

"Seokjin?"

"Apa? Aku sedang baca pesannya Min-ssaem."

"Kalian chatting membicarakan apa?" Kim-ssaem mencondongkan badan sampai dagunya hinggap di pundak Jin-ssaem. Belum satu detik, dia sudah didorong supaya menjauh.

"Ish! Ingin tahu saja."

"Seokjin, beri tahu akuuu!"

Jin-ssaem mendengus jengah. Dia ketuk kepala Kim-ssaem dengan ponsel. "Aku mengajaknya ke karnaval akhir minggu ini."

"Kalian mau kencan?"

"Ya. Lalu kenapa?"

"Ajak akuuu!" Seperti bocah yang sedang merajuk, Kim-ssaem menghambur ke pangkuan Jin-ssaem.

Saya, sebagai pihak ketiga di antara dua sejoli itu hanya bisa tertawa kering. "Omong-omong, Yoongi tidak mengatakan apa-apa pada saya."

Jin-ssaem menepuk lutut saya. "Belum, Park-ssaem. Tapi kalau Anda mau ikut, boleh. Min-ssaem pasti juga senang kalau Anda pergi bersama kami."

"Ajak aku juga."

"Cih. Tidak usah memelas begitu, kau jelek!"

"Seokjin jahaat!"

Lama-lama saya juga jadi ikut sebal pada guru bahasa Inggris itu.

Sorenya, setelah semua jam pelajaran usai, sembari membereskan meja saya bertanya pada Yoongi tentang ajakan Jin-ssaem ke karnaval itu. Yoongi bilang, ia memang sangat ingin pergi ke karnaval karena selama di Daegu ia jarang bepergian apalagi ke tempat yang ramai. Saya ingin menemani Yoongi, tapi mengingat kaki saya baru saja terkilir, saya mesti menunggu esok atau lusa untuk memastikan apakah saya bisa pergi atau tidak. Dipakai berjalan dari ruang kesehatan ke ruang guru saja sudah sakit, apalagi untuk berkeliling di tempat karnaval? Yoongi bahkan sampai menawarkan diri untuk menggendong saya sampai ke depan gerbang sekolah. Katanya lebih baik kami pulang naik taksi. Tapi, sebagai lelaki sejati, mana mau saya digendong calon istri (untuk yang kesekian kali)? Saya pun agak memaksakan diri untuk terlihat baik. Kami tetap pulang dengan sepeda motor, walau sesampainya di rumah kaki saya bengkak. Bagaimanapun, saya tidak boleh membuatnya kerepotan, apalagi mengecewakannya. Akhir minggu nanti, sepertinya saya lebih baik pergi bersamanya ke karnaval.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Seperti apa yang sudah saya lakukan beberapa waktu belakangan, saya menatap kalender. Ini hari sabtu dan itu artinya kami semakin dekat ke pernikahan. Undangan yang Jungkook buat masih di percetakan dan belum selesai. Karena bukan hari kerja saya tak bisa menghubungi percetakannya. Rasanya kepala saya pusing. Menonton tivi tidak membantu. Yang ditonton apa, yang dipikirkan apa. Karena bosan, saya gesek-gesek karpet bulu dengan kaki. Bekas terkilirnya sudah tak begitu terlihat. Tak begitu sakit juga ketika pergelangannya diputar-putar. Ternyata Jin-ssaem andal dalam urut-mengurut. Waktu kuliah, saya sempat diajari dasar-dasar fisioterapi juga. Karena bagi orang-orang yang berolahraga, cedera begitu dekat dan akrab. Saya memang bisa mengurus cedera ringan begini, tapi kalau diri sendiri yang terluka, maunya diurusi orang lain.

Kim-ssaem akan menjemput kami jam tiga sore. Saya sudah rapi tanpa perlu memikirkan setelan baju. Sebab, Yoongi yang memilihkan. Dia bilang dia mau menyisir rambut saya setelah dia selesai berpakaian. Lama saya di depan tivi, Yoongi tak juga keluar dari kamar. Saya mulai penasaran apa yang dia lakukan di dalam sana. Lantas saya pun beranjak dari ruang tengah ke kamar kami. Di depan pintu saya berdiri. Kenop saya pegang dengan ragu. Buka tidak, ya? Saya takut Yoongi masih telanjang. Tapi tak mungkin juga. Sudah hampir satu jam. Kalau dia telanjang satu jam, bisa-bisa dia masuk angin.

"Yoongi?" Saya pun memutuskan untuk mengetuk dahulu.

"Masuk saja!" seru Yoongi dari dalam kamar.

Saya pun membuka pintu, melangkah masuk dan mendapatinya sedang membenahi kaos. Ah sial, saya terlambat. Kalau lebih cepat sedikit, saya mungkin bisa melihat kulit mulusnya sebelum dia mengenakan kaos itu.

"Kenapa pakai kaos? Katanya kau mau pakai kemeja favoritmu?"

"Tidak jadi."

"Lho? Kenapa?"

"Kemejanya sempit di dada."

Saya bengong.

Din, din! Ada bunyi klakson. Rupanya Kim-ssaem datang lebih cepat dari waktu yang sudah dijanjikan.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Kami tiba di lokasi karnaval sekitar jam setengah lima sore. Gara-gara macet, waktu tempuh bertambah. Di akhir minggu orang-orang memang lebih memilih untuk keluar rumah dan mencari hiburan. Apalagi dengan adanya karnaval ini, jalanan menuju pusat kosa semakin padat.

"Yoongi, ayo—"

"Ayo ke sana!"

Tadinya kami berjalan berpasang-pasangan. Tapi baru saja saya mau menggandeng Yoongi dan mengajaknya ke sisi timur karnaval, Jin-ssaem sudah menggiringnya duluan untuk pergi ke arah yang berlawanan. Saya tak sempat mencegah mereka. Saya hanya bisa terdiam menggigit bibir. Sedih.

"Kita ditinggal berdua," kata Kim-ssaem. "Ini memang acaranya mereka, sih."

Saya menegok ke belakang. Kim-ssaem menggedikkan bahu dengan santai. Sepertinya dia tak ada masalah walau ditinggal pergi oleh kekasihnya. Beda dengan saya. Saya tak suka ini! Saya mau kencan, tapi bukan dengan dia!

"Jangan sedih begitu, di sini banyak hiburan, ayo kita nikmati."

Saya digandeng. Tangannya yang kasar membuat saya merasa geli. Sekali tarik saya lepaskan gandengan tangan itu.

"Waa! Boneka Ryan!"

Belum jauh berjalan, tahu-tahu Kim-ssaem berlari ke satu stand yang menjual boneka. Saya hanya mengikutinya dengan malas. Kalau itu Yoongi, akan dengan semangat saya ekori. Tapi kalau itu Kim-ssaem, rasanya ogah. Apalagi saat dia, dengan sengaja, memanfaatkan saya untuk memegangi benda-benda yang dia beli.

"Waa! Gulali!"

Kesana-kemari dia pergi. Walau saya tak lagi mengikuti, mungkin dia tak akan peduli. Tapi mau bagaimana lagi, saya tetap di belakangnya meski beberapa kali Kim-ssaem lenyap dan saya mesti berusaha keras menembus keramaian demi menemukan dia. Kim-ssaem benar-benar seperti anak kecil. Dia suka boneka dan makanan manis. Dia juga berjingkrak-jingkrak kesenangan ketika menemukan barang favorit. Kalau muridnya tahu dia seperti ini, hancur sudah imej kerennya.

"Waa! Waa!"

"Sudah, Anda jangan keliaran seenaknya begitu. Tak ingat ada saya? Kalau kita terpisah, susah ketemunya lagi."

"Kan ada ponsel. Buat apa teknologi ini diciptakan? Supaya orang yang terpisah tak perlu bingung mencari, tinggal kirim pesan atau telepon dan katakan di mana Anda berada."

Saya menghela napas panjang. Capek juga meladeni dia. "Sudah, kita cari Jin-ssaem dan Yoongi saja! kalau keburu malam, susah mencarinya."

"Baru pisah sebentar sudah kangen…" Kim-ssaem menggoda.

Saya pukul dia dengan boneka titipannya. "Memangnya Anda terima saja kalau harus jalan-jalan tanpa kekasih Anda?"

"Nanti juga ketemu lagi."

Dia mencubit pipi saya. Karena merasa tak terima, saya cubit balik dia. Kim-ssaem hanya tertawa. Sambil bercanda dia minta maaf pada saya karena sudah membuat saya ikut repot membawa boneka-bonekanya. Kami pun menepi, sedikit menjauhi keramaian. Ada kursi-kursi dan meja kecil yang disediakan untuk pengunjung yang ingin beristirahat. Kami memilih satu tempat yang paling dekat dengan stand kopi. Kim-ssaem memesan dua gelas, satunya untuk saya.

"Mereka sedang apa ya?" Saya melihat pada keramaian. Orang-orang berlalu lalang. Semakin malam semakin ramai.

"Mungkin sedang nonton atraksi di tong setan?"

"Ya ampun, saya saja tak pernah melihat yang seperti itu!"

"Seokjin suka yang menantang. Kalau ada atraksi dia pasti akan tertarik. Atraksi lumba-lumba saja dia suka."

"Tapi tong setan beda dengan lumba-lumba."

Dia terkekeh, seperti tak peduli walau apa yang dibandingkan olehnya sangat jauh beda jenisnya.

"Park-ssaem." Kim-ssaem memanggil waktu saya mereguk kopi.

"Hm?"

"Apa yang Anda suka dari Min-ssaem?"

Saya terdiam. Kap kopi saya taruh di atas meja. "Saya … tidak tahu."

"Dia manis dan baik. Saya yakin kehidupan cinta kalian akan melulu dipenuhi bunga-bunga."

"Yaa … saya hanya berharap kami akan baik-baik saja sampai besok dan seterusnya."

Dia menyalami saya sambil tersenyum lebar. Entah maksudnya apa. Kami diam setelah itu. Karena merasa tak enak, saya cari-cari obrolan.

"Omong-omong tentang hubungan Anda dan Jin-ssaem, bagaimana Anda merawatnya hingga selanggeng itu? Padahal kalian … suka bertengkar."

"Tidak tahu. Kami tidak mengusahakan supaya hubungan kami langgeng. Justru benar apa yang Anda katakan, kami sering bertengkar. Itu memang momen yang tak mengenakkan. Apalagi kalau bertengkarnya karena masalah serius. Tapi entah mengapa baik saya ataupun Seokjin tak bisa saling mendiamkan lama-lama. Setiap melihat wajahnya yang pipi semua itu, saya selalu tak tahan untuk menjahilinya dan membuatnya tertawa, walau dia sedang marah besar sekalipun. Begitu juga dengan dia pada saya. Kalau tahu saya sedang dalam mood yang buruk, dia akan bicara tentang hal-hal yang menggelikan dan saya pun begitu saja luluh. Caranya tidak spesial, biasa saja sih, sehari-hari kan memang begitu. Tidak ada perjanjian yang disepakati. Kalau si A marah, si B harus begini, kalau si B sedih si A harus begitu, tidak ada. Semua berjalan alami. Dan saya percaya kalau di masa depan pun, kami akan baik-baik saja jika kami bersikap apa adanya seperti ini."

"Apa adanya, ya…"

"Bukankah yang natural selalu lebih baik daripada yang dibuat-buat?"

Kim-ssaem menopang dagu. Senyumnya simpul. Mungkin yang membuat Jin-ssaem jatuh cinta padanya bukan gara-gara otak encernya atau fisiknya yang keren semata, melainkan sikapnya yang bijak. Yaa, dia memang punya pesona kalau bicaranya benar.

"Duh, jadi rindu wanginya Seokjin. Semalam dia wangi sekali, lho."

Padahal baru dipuji, tapi dengan tiba-tibanya dia mengatakan hal semesum itu. Saya hanya bisa mngurut dahi. Geram.

"Semalam Anda…"

"Park-ssaem suka tidak, bahas yang seperti ini?"

"Seperti ini apa?"

"Jangan pura-pura tidak tahu ah, Anda ini."

Saya memang tidak tahu arah pembicaraannya ke mana. Gelagatnya terlihat mencurigakan. Apalagi dengan senyum lebarnya yang jahil. Kim-ssaem mengetuk-ngetukkan jarinya di layar ponsel. Sesaat kemudian dia menunjukkan ponsel itu pada saya.

"Ini. Foto Seokjin yang diambil tadi pagi setelah dia mandi dan berpakaian. Dia ini narsis, padahal rambutnya belum kering tapi sudah berfoto. Bagaimana menurut Anda?"

"Ng …"

"Jujur!"

"Cantik."

"Begitu saja? Tidak ada yang lain yang ingin Anda katakan? Anda tidak merasakan sesuatu?"

"A-apa? Merasakan apa?"

"Lihat lagi."

"Tapi, saya tidak merasakan apa-apa … emm, anu, hanya, yaah, Jin-ssaem terlihat sedikit berbeda dari biasanya."

"Jadi Anda sudah paham apa yang sedang kita bicarakan ini?"

"Tidak…"

"Astaga. Park-ssaem, kita sedang bicara mengenai sex appeal. Daya tarik seksual. Dan sex appeal ini, percaya atau tidak, akan semakin terpancar setelah Anda melakukan hubungan intim dengan pasangan Anda."

Setelah dia bicara, tanpa basa-basi saya langsung menyambar ponsel yang Kim-ssaem pegang lantas saya tatap lekat-lekat wajah Jin-ssaem dalam foto barusan. Dia memang cantik. Hidungnya bangir, bibirnya merah merekah. Lehernya jenjang. Dan tatapannya sedikit—err, membuat saya bergidik. Secara tak langsung, Kim-ssaem mengatakan kalau dia dan Jin-ssaem habis bercinta semalam. Duh, saya tak bisa membayangkannya!

"Kim-ssaem, saya tak menyangka. Padahal Jin-ssaem terlihat biasa saja. Maksud saya, jika semalam kalian habis … anu, bukankah akan melelahkan? Tapi dia begitu bugar dan bersemangat."

Kim-ssaem tertawa keras selesai saya bertanya. Dia mengambil kembali ponselnya lantas menanggalkan kacamata. "Dia itu tangguh. Bahkan kadang-kadang dia yang minta tanding ulang."

Saya mengernyit. Tanding ulang? Apakah urusan di atas kasur sama dengan adu tenaga? Yang satu lawan satunya demi menjadi juara, begitu? Tapi kalau dipikir-pikir, dengan tipe hubungan mereka yang tak keruan itu, bisa saja keduanya bertanding di atas kasur sampai lawannya K.O. Lantas kalau nanti tiba giliran saya untuk melakukan ini-itu dengan Yoongi, kiranya akan seperti apa pergulatan kami? Sedang beberapa waktu lalu, dia sempat mengeluarkan sisi yang tak pernah saya duga akan dia miliki.

"Park-ssaem, apa yang sedang Anda pikirkan?"

"Mungkin Yoongi akan menyiksa saya di ranjang."

"HAHAHA, APA!"

Kim-ssaem tertawa, dan saya baru sadar kalau saya sudah salah bicara. Untuk apa saya mengatakannya pada guru mesum ini! Orang-orang yang bahkan berada jauh dari tempat kami duduk pun sampai menoleh. Benar-benar memalukan!

"Jadi Anda sukanya disiksa?"

"Tidak, tidak, tidak! Lupakan saja yang tadi itu! Saya hanya asal bicara!"

"Waw … apakah Min-ssaem yang lemah lembut itu punya sisi liar? Seperti kucing hutan yang masih terlihat manis tapi ternyata cakaran dan gigitannya tajam menusuk? Saya jadi penasaran. Apa boleh saya coba?"

"Apa maksud Anda?!"

Tawa Kim-ssaem begitu keras, dia begitu senang mengerjai saya. Untung rekan, kalau orang lain, tanpa ragu akan saya jejali mulutnya dengan sepatu.

"Park-ssaem, Seokjin mengirimi saya pesan. Katanya dia ingin naik bianglala. Dia sudah menunggu kita di antrean."

"Owalah?"

Buru-buru kami habiskan kopi.

Melawan arus dan menyelinap di antara pengunjung yang penuh sesak butuh tenaga. Sesampainya di pintu masuk bianglala, saya kelelahan. Tapi melihat senyum sumringah dari Yoongi tiba-tiba energi saya kembali sepenuhnya. Dia terlihat senang. Dia gandeng saya untuk turut mengantre tiket. Saya berdiri di sampingnya dengan gugup. Saya ingat kalau beberapa waktu lalu saya dan Yoongi juga pernah naik bianglala. Sayangnya waktu itu kami tak cuma berdua, ada Taehyung dan Jungkook. Mungkin kali ini, adalah kesempatan bagi kami untuk bermesraan tanpa gangguan. Akhirnya!

"Silakan!"

Tiba giliran kami untuk naik. Jin-ssaem dan Kim-ssaem masih mengante. Biarlah, saya tak mau acuh juga. Yang penting saya dengan Yoongi, berdua. Dan saya merasa bebas tanpa mereka. Jangan berpikiran aneh, bebas maksud saya adalah bebas untuk bicara tanpa jadi bahan olokan.

"Hati-hati."

Kami masuk. Setelah pintu ditutup, bianglala mulai berputar. Saya memerosotkan punggung untuk melepas lelah. Yoongi yang duduk di depan saya memandang lansekap kota dengan mata berbinar. Lampu-lampu yang berwarna-warni di bawah sana memang indah, tapi dia lebih indah. Jauh lebih indah.

"Jimin." Dia beralih memandang saya.

"Ya?"

"Terima kasih, ya," katanya.

"Terima kasih untuk apa?"

"Ya terima kasih saja. Tidak untuk apa-apa."

"Kau aneh, kenapa sih?" Saya mencondongkan badan untuk menggapainya. Saya usak rambut hitamnya dengan gemas. Yoongi terkikik.

"Jimin, ingin cepat-cepat 3 September."

"Iya."

"Aku ingin cepat-cepat menikahimu."

"Lalu kamu ingin apa setelah menikahi aku?"

"Ingin punya anak denganmu."

Ya, saya juga mau. Apalagi prosesnya mungkin akan sangat menyenangkan.

"Ciuman, yuk?"

Saya kaget waktu dia katakan ini. Wajahnya begitu polos tapi ajakannya bukan sesuatu yang biasa saja. Saya meneguk ludah. Pelan-pelan saya dekatkan wajah dengannya, lalu saya cium bibirnya. Selesai mencium, saya menjilat bibir. Ada rasa manis gulali yang tertinggal.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

"Seokjin, kau yang menyetir, ya."

"Lho, kenapa aku?!"

Jam sepuluh malam, kami memutuskan untuk pulang. Karnaval masih dibuka sampai jam dua belas, tapi kami merasa sudah cukup puas. Tak perlu berlama-lama lagi, istirahat lebih penting.

"Aku ngantuk. Min-ssaem juga sama," tunjuk Kim-ssaem pada Yoongi yang bergelayut manja di lengan saya. Saya lihat Yoongi, matanya memang sudah meremang seperti lampu yang hampir padam.

"Ngantuk … capek," kata Yoongi.

"Kami duduk di belakang saja ya? Yang masih kuat duduk di depan."

"Ya ampun, Kim Namjoon!"

Jin-ssaem berteriak, sedang saya hanya bisa diam ketika Yoongi mau-mau saja digandeng Kim-ssaem sampai ke dalam mobil….

Karena Yoongi dan Kim-ssaem sudah tak bisa diganggu gugat, akhirnya saya mesti pasrah duduk di depan. Jin-ssaem duduk di kemudi tanpa peduli pada kekasihnya yang tidur bersandar di bahu calon istri saya. Dengan cuek dia menyetir. Sesekali hanya satu tangannya yang bertengger di stir, satunya lagi dia pakai untuk merogoh snack keju yang dia taruh di pangkuan. Sebetulnya makan sambil menyetir tidak baik, tapi apalah daya kalau memang gayanya seperti itu.

"Park-ssaem, saya tahu saya luar biasa, tapi tak usah ditatap sampai selama itu, dong. Saya kan jadi ge-er."

Astaga, saya pun tak sadar kalau sudah melakukannya. Saya berdeham, memalingkan wajah ke kaca jendela dan pura-pura melihat pemandangan kota. Selanjutnya saya diam, dan Jin-ssaem pun sama. Mungkin karena terasa sepi, dia pun menyetel radio. Sebuah lagu lama terputar, temponya lamban. Cocok sekali dengan suasana malam. Saya membenahi posisi duduk, mengarah ke jalanan di depan. Snack Jin-ssaem sudah habis. Saya ambilkan tisu dari atas dashboard supaya dia bisa membersihkan remah-remah di jari-jarinya. Jin-ssaem tersenyum, untuk ganti terima kasih.

Saya masih ingat, suatu ketika Kim-ssaem pernah bilang, Jin-ssaem bahagia saat bersama saya. Kalau dilihat ke belakang, selama saya mengenal dia, memang tak pernah ada hal yang membuat saya benci atau menjauhinya. Dia ini orang yang menyenangkan, meski pemarah dan sedikit kurang ajar. Perlu saya akui, saya juga senang saat bersamanya.

"Jin-ssaem."

"Ya?"

"Ayo menikah."

Jin-ssaem menoleh sekilas. "Park-ssaem, Anda melamar saya?"

"B-bukannya begitu, maksud saya, ayo menikahlah dengan Kim-ssaem, biar seperti saya dan Yoongi."

"Oooh …" Dia mengangguk. Perlahan raut mukanya berubah. Tidak ada lagi senyum jahilnya. "Itu biar saya pikirkan nanti."

Atmosfer di antara kami tak lagi nyaman. Ada apa dengan Jin-ssaem dan isu pernikahan? Mengapa dia nampak tak suka ketika saya bicarakan ini?

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

CONTINUED