"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Brothership and slash hints

Plot-bunnies(?)

And others

—shunshines


Suasana ramai di suatu hall hotel bintang lima yang mewah dan elegan itu tidak membuat Shun betah. Minggu malam ini, ia dan Takeru ikut orangtua mereka dalam acara gala dinner yang digelar oleh kantor ayah mereka. Karena dalam acara tersebut wajib membawa anggota keluarga masing-masing, jadi mereka datang berempat. Shun maupun Takeru sudah protes tidak mau ikut dari beberapa hari yang lalu, karena hari Minggu ini ada latihan fisik dari pagi sampai sore yang pasti akan membuat stamina mereka terkuras habis. Meskipun gala dinner dimulai pada pukul tujuh malam, tetap saja mereka masih butuh istirahat. Tapi, protes mereka tidak dihiraukan oleh Satoshi. Mereka harus tetap ikut ke acara tersebut, kalau tidak, mereka tidak diperbolehkan mengikuti latihan fisik.

Jadi, ujung-ujungnya mereka berdua pun menghadiri gala dinner itu bersama Satoshi dan Haru, tentunya dengan badan luar biasa pegal dan lelah.

Shun berkali-kali menghela napas, mencoba meredam ngilu saat badannya bergerak. Seumur hidupnya, ia belum pernah mengikuti latihan fisik sekeras tadi. Bahkan waktu di Amerika pun ia tidak pernah mendapat porsi latihan seberat itu. Karena kurangnya 'pengalaman' bagi ototnya, efek latihan fisik seharian tadi terasa begitu nyeri sekarang.

Sekarang, ia dan Takeru harus mengikuti Satoshi dan Haru berkeliling untuk saling sapa dengan kerabat Satoshi. Bisa dibayangkan betapa ngilu badannya.

Takeru selalu berjalan di samping adiknya. Ia diam-diam memperhatikan Shun yang tampak kesulitan berjalan. Berbeda dengan sang adik, ia sudah cukup terbiasa difisik berat, sehingga ia tidak begitu merasakan sakit di ototnya saat bergerak.

"Daijoubu ka?" ia pun memilih bertanya. Ia agak cemas melihat Shun yang kesakitan seperti itu, takut kalau ternyata rasa sakit itu malah karena cedera.

"Ittai..." Shun mengeluh pelan. Ia tidak yakin akan menjawab "tidak apa-apa" karena pada kenyataannya, ia sedang tidak dalam keadaan yang baik.

Mendengar jawaban jujur dari Shun, Takeru pun mengangguk mengerti. Ia merengkuh pinggang Shun dari samping, seakan membantu adiknya untuk berjalan.

Bersamaan saat lengannya menyentuh pinggang Shun, detak jantungnya mendadak menjadi tidak beraturan. Ada perasaan tidak ingin melepaskan rengkuhannya yang tidak beralasan.

Takeru sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa ia enggan melepas Shun dari pelukannya.

Shun mendapati tubuhnya berada di dalam rangkulan Takeru merasakan kehangatan yang aneh itu datang lagi. Meskipun ia sangat ingin melepaskan lengan kakaknya lalu mengomel karena sudah bertindak aneh-aneh, ia tidak bisa. Ia pun berkali-kali menolak kalau ia menyukai saat Takeru berada di dekatnya—apalagi menyentuhnya, tapi pada ujung-ujungnya, penolakannya itu hancur oleh dirinya sendiri.

Hal ini semakin menjadi-jadi. Setiap waktunya bertambah, terhitung sejak kejadian sebulan yang lalu.

(Tentu saja kalian masih ingat saat Takeru memeluknya dari belakang sekaligus mencium lehernya. Kejadian itu yang ia maksud.)

Setiap harinya, Shun harus dibuat jantungan oleh Takeru. Harus. Tiada hari tanpa kejutan dari kakak pervert-tukang modus-doyan tebar pesona-nya itu. Tiada hari juga kalau ia tidak memarahi dan mengatai kakaknya. Shun sudah lelah dengan semua perbuatan kakaknya yang kelewat unexpected itu, tapi di saat yang bersamaan pun ia merasa ada yang kurang kalau Takeru tidak modus dan ia tidak marah-marah.

Dan tentu saja—meskipun melelahkan, Shun tetap menyukainya.

Termasuk yang sekarang. Tadi, Haru bertanya kepada Takeru kenapa ia merengkuh pinggang Shun. Dengan ringan, anak laki-laki personifikasi musim gugur itu menjawab, "Aku membantu Shun berjalan karena badannya sakit, efek dari latihan tadi." Membuat Haru dan Satoshi—yang juga ikut mendengarkan—memuji Takeru karena begitu memperhatikan Shun.

Oh, ya, satu lagi bonusnya. Mereka berdua pun diperbolehkan duduk duluan di meja yang sudah ditentukan itu—karena Satoshi tidak sampai hati untuk terus menyiksa anak bungsunya.

"Arigatou, Niisan," ujar Shun singkat begitu ia dengan kakaknya berhasil duduk. Perasaannya memang tidak menentu saat Takeru memeluknya, tapi bukan dirinya kalau tidak bisa menyembunyikan perasaan di balik wajah yang miskin ekspresi itu. "Dan kau ini keterlaluan sekali, sih. Memelukku di depan banyak orang seperti itu. Bagaimana kalau mereka berpikiran macam-macam?"

Takeru pun tertawa. Ia menilik Shun yang menatapnya dengan tatapan kesal tapi suka ditambah dengan pipinya yang sedikit memerah dengan geli. "Biarkan saja. Mereka ya mereka, kita ya kita. Memang, berpikiran macam-macam dalam artian apa, Shun?"

Shun memutar bola matanya. Nah, mulai, kan. Si Takeru Yamato itu mulai menggodanya. "Bukan apa-apa! Dan apa maksudmu 'kita'?" ia pun berhenti sejenak, malu dengan pikiran tentang kata 'kita' itu. Aish, salahkan saja Takeru Yamato yang selalu ambigu itu! "Aku ya aku, kau ya kau."

Takeru terkekeh, lalu menampilkan smirk andalannya. Ia menatap iris biru Shun lekat, membuat sang empunya semakin bertambah malu. Sungguh, menggoda Shun sampai pipinya memerah seperti itu adalah hal yang menyenangkan baginya. "Begitu, ya? Tapi, aku maunya kita."

"Modus." Shun membuang mukanya untuk menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah itu. Perpaduan kata-kata seperti dasar, tukang modus, bodoh, sialan, menyebalkan, bahkan mati kau pun memenuhi benaknya yang tengah sibuk mengutuk kakak tersayang. Dengan nada seketus mungkin, ia pun kembali berkata, "Stop saying stupid things, Moron."

Lagi, reaksi Takeru hanya tertawa.

Kalau mau jujur, Shun menyukai saat-saat seperti ini. Saat dimana kakaknya akan menggodanya dan ia senantiasa menunjukkan dirinya yang tidak terpengaruh itu. Saat dimana ia akan mengutuk kakaknya meskipun hanya di dalam hati. Kalau ditulis, mungkin kutukannya itu sudah berlembar-lembar kertas F4 bolak-balik.

Tapi—hey, sebagai orang yang penuh logika, Shun pun pernah menyesal menyukai Takeru. Menyukai saudaranya sendiri, terlebih Takeru adalah kakaknya sendiri, bukankah itu dilarang? Meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali, tapi, saudara tetap saudara, bukan?

Bahkan mengingat fakta ini pun membuat perasaan hangat yang hinggap di dadanya tadi menghilang begitu saja. Setelah terbang ke langit, kini jatuh ke jurang yang dalam.

Sadar tidak sadar, Shun mengepalkan tangannya. Rasanya, ia ingin menampar pipinya lagi. Ini juga termasuk kebiasaannya setelah menyadari bahwa rasa senang kelewat batas saat berada di dekat Takeru itu tidak wajar. Karena kenyataannya; ia sangat menyukai saat Takeru bersamanya, cemburu melihat Takeru bersama dengan orang lain, dan juga menyukai saat Takeru menyentuhnya. Tentu saja ia menolak mentah-mentah fakta-fakta itu, setiap saatnya. Namun, bukankah usaha lari dari kenyataan itu selalu gagal?

Lalu, fakta-fakta itu menumbuhkan fakta baru lainnya.

Bahwa pertama, Shun menyukai Takeru—ah tunggu, sepertinya kata 'menyukai' itu kurang tepat.

Shun mencintai Takeru, lebih dari adik kepada kakaknya.

Bahwa kedua, Shun tahu benar kalau hal itu salah.

Dan kesimpulannya, Shun harus segera membuang jauh-jauh perasaan gila itu. Apapun yang terjadi.

Ya, apapun yang terjadi.


Sudah satu jam Satoshi dan Haru Yamato itu berkeliling, dan akhirnya mereka berdua berjalan menuju meja yang sudah ditentukan. Mereka berempat bersama kedua anak mereka memang datang satu jam sebelum acara dimulai, karena sebagai direktur perusahaan, Satoshi harus datang lebih awal untuk menyambut para tamu. Tentu saja karena jabatannya itu, Keluarga Yamato mendapat meja VIP.

Satoshi dan Haru tidak berjalan berdua, melainkan bersama dengan tiga orang lain—dua laki-laki dan satu perempuan. Terlihat bahwa tiga orang itu adalah sebuah keluarga kecil. Anak dari pasangan suami-istri tersebut terlihat seperti anak SMA, sepantar dengan Takeru. Penampilannya yang nyentrik itu membuatnya menjadi pusat atensi dan pujaan para kaum hawa di sana.

"Hei, Takeru, Shun. Kenalkan, ini adalah Keluarga Akaba," ujar Satoshi saat dirinya dengan Haru sudah berada di meja mereka. Shun dan Takeru pun langsung berdiri dan memberi salam untuk sopan santun. Kedua bersaudara Yamato ini pun saling bertemu pandang dengan anak laki-laki Keluarga Akaba, seperti senang karena mendapat teman baru. Rata-rata anak-anak di sini adalah remaja putri dan anak laki-laki yang masih umur SD dan awal SMP, sehingga rasanya sedikit lega begitu mereka bertemu dengan anak SMA dan laki-laki pula.

Tidak mau kalah dengan anak dan suami masing-masing, kedua ibu rumah tangganya pun saling menyapa dan berkenalan juga, lho.

"Jadi ini keluarga barumu, Satoshi." Sang Kepala Keluarga Akaba tersenyum ramah dan berwibawa setelah kedua anak sahabatnya itu memberi salam kepadanya. "Katamu, yang bungsu sama-sama atlet american football juga ya? Kalian bertiga bisa jadi teman yang cocok."

"Begitulah," jawab Satoshi sambil tertawa renyah. Ia menoleh ke arah Shun dan Takeru, juga anak laki-laki Keluarga Akaba itu. "Kalian bertiga, aku sudah memesan tempat untuk kalian bertiga. Lebih baik kalian saling berbincang di sana." Ia pun menunjuk ke arah meja kosong bertuliskan reserved tidak jauh dari meja yang mereka duduki sekarang.

"Hai, Tousan," sahut Takeru sambil bangkit dari duduknya. Ia melempar tatapan 'kau-bisa-berdiri-sendiri-tidak' kepada Shun di sebelahnya, yang dibalas dengan isyarat 'iya-aku-bisa'.

"Fuh, baiklah, Jiisan." Anak laki-laki berhelai merah itu pun mengikuti.

Sesuai perintah, mereka bertiga pun pindah ke meja yang dimaksud Satoshi. Sebagai orang yang dari sananya pandai bergaul dan berbicara—dan juga sudah menjadi pekerjaan setiap harinya, Takeru pun mulai membuka topik ringan. "Nah, semenjak kita belum berkenalan, Takeru Yamato desu."

"Fuh, Hayato Akaba desu. Kuharap ritme kita cocok," ucap Akaba, membuat Shun bingung, sementara kakaknya tertawa renyah.

"Ya, semoga ritmenya menjadi harmonis, Akaba," sahut Takeru, sehingga Shun menetapkan bahwa dua orang di sebelahnya itu memang freak.

Akaba menatap Shun, seperti meminta anak itu untuk mengenalkan diri juga. Shun pun mengerti, lalu berdehem sedikit. "Shun ... Yamato desu."

"Fuh, kenapa nadamu terdengar fals saat menyebut namamu sendiri, Shun?" komentar Akaba dengan bahasa musik yang kembali membuat Shun memasang wajah 'you-don't-say' di dalam hati(?). Shun tidak habis pikir dengan bahasa orang freak berkacamata biru tua di sampingnya. Nggak kakak, nggak teman baru, sama-sama f-r-e-a-k, sungutnya dalam hati. Karena tidak mengerti, ia pun menatap kakaknya, meminta tolong untuk dijelaskan. Bukankah tadi kakaknya mengerti apa yang diucapkan Hayato Akaba dalam bahasa musiknya itu?

"Shun masih canggung saat menyebut marga barunya," timpal Takeru, menyadari tatapan Shun, dengan nada geli. "Padahal sudah nyaris sebulan dia menggunakan marga Yamato."

"Begitu, ya," sahut Akaba singkat. Ia pun membenarkan kacamata biru tuanya, membuat warna asli dari irisnya itu sedikit terekspos.

Shun yang kebetulan tengah menatap Akaba (ia hanya tidak tahu kemana ia harus memandang, jadi ia dari tadi ia hanya menatap Takeru dan Akaba secara bergantian—berhubung ia tidak mendapat ide apa yang dibicarakan oleh kedua freak ini.) mendadak takjub melihat sepasang iris berwarna crimson itu. Berbeda dengan mata kakaknya yang cenderung menyiratkan keyakinan yang kuat juga tidak bisa dibantah dan cenderung menghangatkan, menatap mata Akaba ini malah membuatnya ... terpikat?

Efek melihat sepasang manik crimson itu, Shun pun akhirnya memiliki tujuan kemana matanya harus memandang. Kemana ia harus memindahkan pandangan matanya. Yaitu ke arah pangkuannya sendiri.

Shun bahkan tidak tahu kenapa darahnya kembali berdesir kencang seperti saat ia menatap Takeru.

Beberapa menit kemudian, setelah Satoshi dan beberapa orang lainnya berbicara di podium untuk mengucapkan selamat datang dan selamat makan, para pelayan di hotel itu mulai menyajikan makanan dan minuman yang sudah dipastikan harganya mahal. Kini, di atas berpuluh meja di ruangan itu pun sudah tersajikan makanan dan minuman menggugah selera. Para tamu pun segera menyantap makanannya masing-masing.

Selagi makan, Takeru tidak bisa berhenti melirik kedua anak laki-laki yang berada di meja yang sama dengannya. Tentunya secara diam-diam. Ia tidak semudah itu untuk tertangkap basah sedang memperhatikan orang. Bagaimana caranya? That is God's given tallent.

Ia memperhatikan Shun yang tampak enggan melempar pandangannya dari makanan yang tengah dimakannya. Lalu, ia juga berhasil menangkap basah Akaba yang sedang menatap Shun. Tadinya, ia berpikir kalau Akaba hanya sedang iseng memandang adiknya, sementara adiknya yang cuek itu tidak menyadarinya. Tapi, ia berkali-kali menangkap pemandangan Akaba yang sedang memperhatikan Shun diam-diam.

Takeru pun sudah bisa menyimpulkan bahwa Akaba tertarik kepada Shun saat pandangan pertama, dan itu sudah absolut.

Tapi, pernyataan absolut itu membuatnya menyernyit. Ia tidak ingin adiknya ditatap seintens itu oleh orang lain, kecuali dirinya. Ia mengakui, sebagian dari dirinya tidak menyukai saat Akaba menatap Shun dengan tatapan itu, dan Shun sendiri berusaha menghindari tatapan itu dengan mengalihkan perhatiannya pada makanannya, tapi dengan pipi sedikit memerah.

Tunggu. Memerah, katanya?

Kalau pipi Shun memerah, berarti ia sudah menyadari kalau Akaba tengah menatapnya. Lantas, kenapa ia tidak protes—seperti yang dilakukannya kepadaku saat pertama kali bertemu? Pikir Takeru, berusaha merangkai fakta-fakta absolut yang tadi keluar dari otaknya. Setelah menyimpan sendok dan garpu berdampingan arah jam lima di piringnya, ia pun mulai meminum minuman di dalam gelasnya sambil memperhatikan Shun dan Akaba bergantian. Masih seperti tadi, Shun tidak berani menengadahkan kepalanya barang sedikit, sedangkan ia melihat senyum—sangat—tipis di wajah Akaba saat maniak musik itu menatap wajah adiknya.

Sial, kenapa Shun tidak memprotes Akaba? Rutuk Takeru di dalam hatinya. Jauh di dalam batinnya, ia tidak menyukai—membenci—saat adiknya 'takluk' pada orang lain. Karena ia sudah menetapkan, entah sejak kapan, kalau hanya ialah yang bisa merebut hati adiknya dan menaklukkannya. Hanya dirinya.

Aku hanya salah lihat. Itu sudah pasti. Shun tidak pernah semudah itu jatuh kepada orang lain, sisi lain dari Takeru pun memungkiri, disetujui dengan sisi lain yang tadi merutuk.

"Takeru." Suara Satoshi merambat masuk ke dalam telinga Takeru. Pria mapan itu sudah berdiri di samping anak sulungnya, memberi isyarat untuk mengikutinya.

Takeru pun mengangguk. Ia berdiri dari kursinya, lalu menoleh ke arah Shun dan Akaba—yang juga sedang menatapnya. "Aku ke sana dulu, ya," pamitnya sebelum ia meninggalkan meja tersebut.

Takeru benar-benar ingin segera kembali ke mejanya meskipun ia baru saja berjalan beberapa langkah dari sana. Ia hanya ingin memantau adiknya. Ia hanya ingin memastikan bahwa adiknya tidak benar-benar jatuh ke tangan si maniak musik Akaba itu. Jangan tanyakan kenapa ia terlihat over protektif kepada adiknya sekarang, karena ia pun tidak juga menemukan jawabannya.

Takeru bersyukur bahwa Satoshi memanggilnya hanya untuk memberitahu bahwa pria itu akan mengantar dirinya dengan adiknya pulang ke rumah setelah ia dan Shun sudah selesai makan. Dengan alasan karena mereka membutuhkan istirahat, sementara Haru tetap menunggu di sini. Setelah itu, Satoshi akan kembali ke hotel ini untuk mengurus para tamu. Pengumuman singkat juga melegakan.

Dengan begitu, Shun akan kembali bersamanya dan meninggalkan Akaba itu, kan?

Dengan perasaan puas, Takeru berjalan kembali ke mejanya. Namun, beberapa langkah dari meja itu, ia berhenti. Dilihatnya dengan kedua manik cokelat kehitaman itu, Shun yang mukanya jelas memerah karena malu dan Akaba yang sedang tersenyum puas.

Dan Takeru harus menarik kata-katanya tadi. Ia tidak salah lihat bahwa Shun-nya itu malu karena Akaba, benar begitu?

What the heck, umpatnya dalam hati. Dadanya terasa terbakar melihat pemandangan itu. Ingin sekali Takeru segera menarik Shun dari sana, meskipun sebenarnya ia tidak ada masalah sama sekali dengan Akaba. Ia hanya ingin Shun-nya, kemudian memilikinya tanpa gangguan orang lain.

Takeru pun tidak punya ide kenapa sekarang ia malah mengeratkan kepalan tangannya untuk menahan amarah dan sedikit berusaha menenangkan dirinya. Ia menghela napas kesal. Ia kemudian segera berjalan mendatangi kedua orang itu.

Demi Tuhan, ia tidak tahu kenapa ia harus cemburu seperti itu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, Akaba?"

Akaba ber-fuh ria mendengar protes dari anak laki-laki di depannya. Setelah beberapa kali menatap Shun diam-diam, akhirnya anak itu 'melabraknya', karena ia tahu, sejak tadi si bungsu Yamato itu sudah menyadarinya. "Karena ritmemu ternyata menarik, Shun."

Dengan pipi memerah, Shun menatap Akaba dengan tatapan tidak percaya. Kali ini, ia mengerti maksud Akaba yang dikatakan dalam bahasa musik itu. Singkat kata, anak laki-laki crimson itu mengatakan bahwa dirinya menarik. Ia mendengus pelan. "Jangan menggodaku."

"Fuh." Akaba melepas kacamata berlensa birunya. Warna crimson dari matanya menatap Shun dengan tatapan ... intens. "Tidak—aku tidak bercanda. Kurasa ritme kita berada di satu tempo yang sama."

Shun membuang mukanya, tentunya dengan muka masih memerah. Ia tahu. Ia jelas tahu. Tadi, Akaba baru saja mengumumkan bahwa anak laki-laki itu tertarik kepadanya. Baru kali ini ia menemukan orang yang sefrontal itu—tentunya setelah kakaknya. Walaupun ia mencoba untuk tidak terpengaruh, namun ia tidak bisa menahan detak jantungnya untuk berdetak secara normal.

Belum lagi dengan kedua manik merah itu. Ia tidak bisa memungkiri kalau ia menyukai sepasang mata merah itu saat menatapnya.

Ternyata, berada di dekat Akaba sama dengan berada di dekat Takeru.

Kedua manik birunya menemukan Takeru sedang berjalan ke arah meja mereka. Sosok tinggi tegap itu pun berdiri di sampingnya dengan Akaba, membuatnya menengadah untuk bertanya 'ada apa' melalui tatapan mata.

"Sudah selesai makannya, Shun?" tanya Takeru. Suaranya terdengar sedikit lebih dingin dari biasanya. Yang Shun ketahui, kalau Takeru sudah menjadi lebih dingin dari biasanya—meskipun hanya sedikit, berarti ia sedang dalam mood yang tidak baik.

Shun mengangguk, meskipun dengan perasaan bingung menyelimuti hatinya.

"Kalau begitu, ayo pulang," ujar Takeru. "Tou-san akan mengantar kita. Badanmu juga sedang sakit, kan?"

"Hai," sahut Shun begitu mendengar kata 'pulang'. Ia benar-benar ingin pulang sekarang. Fisik maupun batinnya sudah lelah, minta diistirahatkan. Maka, ia pun menoleh ke arah Akaba, berniat berpamitan. "Kami duluan, ya, Akaba."

Sebenarnya, ada perasaan tidak enak meninggalkan Akaba sendirian. Shun tidak habis pikir kenapa kakaknya mendadak menggenggam tangannya dan sedikit menyeretnya. Tapi, merasa bahwa aura Takeru tidak seperti biasa, ia pun mau tidak mau mengikuti kakaknya.

"Tunggu, Shun."

Tangan kanan Shun yang bebas dari genggaman Takeru, kini digenggam Akaba. Shun—juga Takeru—menoleh ke arah Hayato Akaba itu, yang satu dengan tatapan penasaran, yang satunya lagi dengan tatapan tidak suka. Shun merasa jantungnya kembali berlomba mempercepat detak saat ia berkontak fisik dengan Akaba, sementara perasaan cemburu yang aneh kian memenuhi dada Takeru.

"A-ada apa, Akaba?"

"Fuh." Setelah melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Shun, Akaba merogoh saku dan menarik handphone-nya. Ia memindahkan ponsel merahnya ke tangan anak laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu. "Boleh kuminta e-mail-mu, Shun?"

"Ah." Shun menatap Akaba dengan pandangan heran, lalu melempar pandangannya ke arah handphone merah yang sekarang ada di tangannya. Diam-diam, ia pun melirik Takeru yang berdiri di sebelahnya.

Kalau Shun adalah Sena Kobayakawa, mungkin ia sudah bergidik ketakutan karena atmosfer Takeru yang berubah drastis. Meskipun ia masih Shun Kakei—maksudnya, Shun Yamato, sekarang pun ia sudah terserang goosebump.

Ada apa dengannya, sih, monolog Shun dalam hati sambil buru-buru mengetik alamat e-mail-nya. Setelah mengecek kembali, ia pun menyerahkan handphone itu kepada sang empunya. "Ini."

"Fuh, arigatou," balas Akaba setelah mendapatkan kembali ponselnya—beserta tambahan alamat e-mail seorang Shun Yamato di kontaknya. Ia pun menarik sudut kiri otot di sekitar mulutnya. "Maaf sudah mencegat kalian. Kalian boleh pulang."

"Baguslah," ujar Takeru agak sarkastik. Ia melirik adiknya, dan setelah itu menatap Akaba untuk yang terakhir kalinya malam ini. "Kami pulang duluan."


to be continued