What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Minggu malam, undangan pernikahan saya dan Yoongi sampai ke rumah. Tanpa mau menunda, kami segera membuat daftar tamu yang akan kami undang. Tentu saja menyesuaikan dengan jumlah undangan yang dicetak. Yoongi bilang, untuk yang tempatnya jauh cukup dikirim undangan online saja. Zaman sekarang segalanya serba praktis. Mau mengundang orang pun hanya tinggal unggah gambar. Sempat saya berpikir, kenapa tidak semuanya saja dikirim undangan online? Lebih hemat. Tapi, rasanya agak kurang sopan kalau hanya mengirim gambar. Lagipula kurang puas juga kalau tidak pegang bentuk fisiknya.
"Untuk saudara sudah, sekarang untuk teman-teman."
"Teman-teman…"
Kami di ruang tengah, duduk di lantai. Setumpukan undangan ada di meja. Yoongi memainkan penanya di depan bibir. Dia nampak bingung memutuskan siapa yang akan dia undang. Mungkin karena temannya sedikit, atau entah. Belum setahun saya mengenal Yoongi. Saya belum cukup tahu latar belakangnya. Saya bahkan tak kenal juga dengan teman-temannya di Daegu.
"Kau mau tulis untuk siapa saja?" tanyanya, ketika saya hendak minum.
"Untuk teman-teman di sekolah, dan teman-teman lamaku."
"Apa itu termasuk mantan pacarmu?"
"Uhuk!" Pertanyaannya membuat saya tersedak. Untung kertas-kertas di atas meja tak jadi basah karena cipratan air. Saya menggeram sebentar karena kerongkongan yang mendadak sempit. Yoongi hanya menatap saya dalam diam.
"…apa boleh?" cicit saya.
"Ya. Boleh saja."
Yoongi bilang begitu, tapi wajahnya dingin. Dia mengambil gelas dan menggoyang-goyangkannya sampai kedengaran bunyi es batu yang berbenturan. Saya jadi sangsi. Jangan-jangan boleh itu hanya boleh di bibir saja.
"Kalau kau tak suka, aku tak akan mengundang mereka."
Mata Yoongi membulat seperti kelereng. "Mereka? Jadi selain anak Pak Dokter waktu itu, masih ada yang lain?"
"Ah, eng…" Saya gelagapan, sadar sudah salah bicara. Beberapa dari mantan pacar saya memang sekaligus adalah teman dekat, jadi saya terpikirkan untuk mengundang mereka. Tapi, melihat reaksi Yoongi yang seperti itu, rasanya saya mesti mengurungkan niat.
"Terserahmu saja, mau undang siapa," kata Yoongi.
Sebetulnya saya paling tak suka dengan kata terserah, sebab saya tak tahu apakah dia akan menerima keputusan saya atau tidak. Membingungkan. Kalau dengan Yoongi, saya tak terbiasa membuat keputusan sendiri. Seringnya saya ikuti saja apa maunya. Dalam kasus ini, saya rumuskan saja kalau terserahnya itu sama dengan tidak setuju.
"Baiklah, aku tak akan mengundang mereka. Aku hanya akan mengundang teman-teman dekat saja. Kalau kau?"
"Aku juga mau mengundang teman-teman dekatku."
Tiba-tiba saya teringat seseorang. "Termasuk temanmu yang guru olahraga itu?"
"Kalau kau tak suka, aku tak akan mengundang Daniel."
Benar dugaan saya. Yoongi berniat mengundang temannya yang satu itu. Apa Yoongi tak ingat kalau saya pernah berselisih paham dengan Kang Daniel beberapa waktu lalu? Bagaimana kalau dia datang ke pesta pernikahan kami? Apa dia akan mencerca saya lagi? Saya tak siap. Daniel seperti seseorang yang agresif. Mungkin maksudnya tak buruk tapi saya merasa tersudutkan ketika berhadapan dengannya.
"Jimin?"
Saya menggeleng, mencoba bersikap santai. "Tak apa. Undang saja dia."
Yoongi menekuk bibirnya ke bawah. Dia mengulurkan tangannya untuk menjangkau jari telunjuk saya.
"Jangan cemburu. Dia tidak akan mengambil aku, karena aku sudah jadi milikmu," katanya, dengan ekspresi yang mantap. Dia bilang, dia telah jadi milik saya. Ada desir yang menggelitik di dada. Perkataan Yoongi ada benarnya juga. Untuk apa saya takut?
"Aku … aku juga. Aku tak akan diambil oleh mantan pacarku, karena aku sudah jadi milikmu."
Segera setelah saya berucap, Yoongi melepaskan genggaman tangannya dan kembali menekuk bibir. Dia bahkan membalik badan, memunggungi saya dan mengalihkan perhatiannya ke layar tivi. Apa salah saya? Saya hanya mengembalikan ucapannya karena rasanya Yoongi juga tak perlu takut pada para mantan pacar saya.
"Jadi bagaimana?"
Saya colek punggungnya dengan ujung pena. Yoongi menggedikkan bahu.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Hari Senin, undangan disebar. Guru-guru sempat bersorak ketika saya berikan undangan itu pada mereka. Rasanya senang ketika orang-orang menerima hubungan saya dan Yoongi dengan baik.
"Jung-ssaem, datang ya," kata saya pada Jung-ssaem yang sedang menyerut pensil di mejanya.
"Iya, saya pasti datang kok. Kan sayang kalau tak melihat Min-ssaem di hari pernikahannya. Dia pasti cantik jelita seperti bidadari surga."
Saya hanya memberinya senyum simpul. Jung-ssaem sungguh menggemaskan. Ingin saya gigit hidung lancipnya.
"Apa boleh saya ajak kakak saya ke pesta pernikahan Anda?"
"Ya tentu boleh. Kenapa tidak? Ajaklah dia, supaya Anda punya gandengan."
"Eeh, mulut Anda ya, Park-ssaem! Sungguh terlalu!"
Jung-ssaem berdiri. Ujung pensil tajamnya dia arahkan pada saya. Karena takut dicolok, saya buru-buru ambil langkah seribu.
Untuk guru yang sedang mengajar, undangannya saya taruh di meja masing-masing. Ada satu sisa undangan yang masih saya pegang. Punya Jin-ssaem. Dia tak berada di satu ruangan yang sama dengan saya dan para guru lainnya, jadilah saya putuskan untuk mengantarkannya ke ruang kesehatan. Sebetulnya bisa saja saya taruh di meja Kim-ssaem dan saya titipkan padanya. Tapi ada keinginan untuk bertemu langsung dengan Jin-ssaem. Saya masih merasa tak enak hati. Percakapan kami di sabtu malam itu benar-benar meninggalkan bekas di pikiran saya. Saya pikir saya mesti minta maaf.
"Jin-ssaem?"
Waktu saya buka pintu ruang kesehatan, tidak ada lampu yang menyala. Hening sekali. Saya menemukan gundukan di atas kasur, terbungkus selimut. Setelah didengarkan, itu seperti suara napasnya Jin-ssaem. Karena tak mau mengganggu, saya berjalan mengendap-endap, hendak menaruh undangan di atas meja. Tapi baru beberapa langkah, saya dikejutkan oleh sibakan selimut yang tiba-tiba.
"Siapa itu!"
"S-saya! Park Jimin!"
"Ooh? Maaf. Tolong nyalakan lampunya."
Saya menekan sakelar lampu. Seketika terang-benderang dan saya melihat Jin-ssaem dengan rambutnya yang agak kusut. Dia melihat ke arah saya, tapi tatapannya setengah kosong. Mungkin masih loading?
"Ada apa?" tanyanya.
"Ini, saya mau memberikan undangan pernikahan. Datang, ya."
"Ya, terima kasih. Taruh saja di meja."
Saya melakukan apa yang dia minta. Undangan itu saya taruh di atas meja. Waktu saya lirik, Jin-ssaem sedang melamun. Tidak melakukan apa-apa, hanya duduk di kasur, masih dengan tatapan kosong itu. Saya jadi khawatir.
"Jin-ssaem, Anda baik-baik saja?"
"Saya baik. Hanya tidak bisa tidur sejak semalam, jadi lemas."
"Saya kira Anda sakit."
"Tidak." Dia mengibaskan tangannya, lantas menatap saya lamat-lamat. "Kenapa Anda masih di situ? Apa masih ada perlu?"
Saya memang belum beranjak dari tempat saya berdiri. Saya ingin bicara padanya, tapi ragu, tapi ingin, tapi ragu. Duh, bagaimana mengatakannya?
"Park-ssaem?"
"Anu. Saya … saya mau minta maaf soal yang kemarin itu."
Jin-ssaem memicingkan mata. "Yang mana ya?"
"Jangan pura-pura tidak ingat."
"Saya betulan tidak ingat."
"Ish. Anda ini."
Saya tak percaya kalau dia tak ingat tentang percakapan kami malam itu. Saya tatap dia dengan penuh kecurigaan. Jin-ssaem berdeham. Ternyata benar dugaan saya. Dia mencoba berbohong.
"Ya memangnya kenapa?"
"Saya merasa … saya sudah terlalu lancang. Mungkin tak seharusnya saya bicara seperti itu pada Anda."
"Sudahlah. Itu tak penting."
Jin-ssaem bersila dalam selimut. Dia menjatuhkan pandang pada jari-jarinya sendiri. Saya tak tahu mesti lakukan apa. Tak seharusnya kami canggung begini. Permintaan maaf saya bukannya mencairkan suasana, justru malah menambah kecanggungan di antara kami.
"Maaf, Jin-ssaem. Tapi saya harap hubungan Anda dengan Kim-ssaem akan baik selamanya."
"Ish!" Jin-ssaem mendesis, ujung selimut diremat kuat. Dia memandang saya dengan gurat marah di wajahnya. Tapi matanya memerah dan nampak basah.
"Eng … k-kenapa?"
"Jangan bicara seperti itu, saya jadi kepingin nangis."
"Jangan menangis."
Ketika dia berkedip, air matanya jatuh. Dia menggunakan tangannya untuk menyeka air mata itu. Karena merasa bersalah, saya hampiri dia, lalu gantikan tangannya untuk menyeka. Sungguh, saya tak bermaksud untuk membuatnya menangis! Saya bahkan tak mengira orang galak seperti dia bisa menangis!
"Aduuh, jangan menangis … maafkan saya…"
Air matanya meleleh banyak dan tak juga berhenti. Saya makin merasa bersalah. Lantas saya peluklah dia. Saya usap punggungnya. Saya biarkan dia meluapkan emosinya di pundak saya.
"Park-ssaem—hiks, tolong lepaskan saya. Nanti ada yang lihat."
"Oh iya."
Saya melepaskan pelukan. Tangis Jin-ssaem sudah berhenti. Sisanya hanya isak pelan. Saya diam memerhatikannya menenangkan diri. Jin-ssaem mengembuskan napas dengan berat. Kepalanya menunduk dalam.
"Maaf ya, tiba-tiba jadi emosional."
"Apa terjadi sesuatu antara Anda dan Kim-ssaem?"
"Tidak, hubungan kami baik-baik saja. Ini bukan karena Namjoon."
"Lalu apa? Jika Anda mau bercerita, saya bersedia mendengarkan."
Dia mengerutkan dahi. Seperti tak yakin. Saya beri senyuman untuk coba menyakinkannya. Kata Ibu, menceritakan suatu masalah pada orang lain memang belum tentu berujung pada solusi. Tapi setidaknya, beban bisa sedikit terangkat.
"Benar mau mendengarkan?"
"Ya, saya akan mendengarkan."
"Baiklah."
Saya membenahi duduk. Jin-ssaem masih terlihat ragu untuk bicara. Setelah sekitar dua menit menunggu, akhirnya dia buka suara.
"Jadi dulu saya—aargh, kok tiba-tiba kesal, ya?" Dia mengepalkan tangan sambil merengut. Padahal, baru saja dia menangis tersedu-sedu, tapi dalam sekejap emosinya bisa berubah.
"Jin-ssaem, saya tidak mengerti. Cerita dulu sebelum menggeram begitu."
"Saya tak pernah ceritakan ini pada orang lain, lho. Selain pada Namjoon."
"Ya, ya. Jadi tolong, ceritakan saja."
"Oke. Maaf."
Dia menegakkan punggung, menarik napas panjang, seperti orang hendak beryoga.
"Dulu … saya punya pacar, namanya Ken. Saya dan Ken sudah saling mengenal lama, sejak di sekolah menengah. Saya kenal orangtuanya juga, sebagaimana dia mengenal orangtua saya. Kami sangat dekat sebagai sahabat. Kemana-mana selalu bersama; untuk main, mengerjakan tugas dan lain-lain. Kalau bukan dia yang bertandang ke rumah saya, saya yang bertandang ke rumahnya. Di awal masa kuliah, dia menyatakan cintanya pada saya dan kami pun mulai berpacaran sejak saat itu. Rasanya nyaman dan dekat karena, ya, anda berpacaran dengan sahabat Anda sendiri; dengan orang yang sudah Anda kenal betul sifat dan perangainya. Setelah lulus kuliah, frekuensi pertemuan kami mulai berkurang. Ken sibuk bekerja, begitupun dengan saya. Tapi kami tetap menjaga komunikasi. Kami masih sering menyempatkan diri untuk bertelepon, atau kencan di akhir minggu. Suatu ketika dia menyampaikan keinginannya untuk menikahi saya. Jelas saya terkejut dan tak percaya. Anda mengerti, kan? Aneh saja ketika orang dulunya sering mencontek jawaban soal dari Anda tahu-tahu mengajak Anda menikah. Setelah dia mengatakan itu, saya mulai mempersiapkan diri. Orangtua saya pun sudah tahu kalau kami berencana naik ke pelaminan. Tapi…"
"Tapi apa?"
"Ken menghilang selama beberapa minggu. Saya pikir dia mungkin terlalu sibuk hingga tak sempat memberi kabar. Tapi di hari ulangtahun saya, dia muncul, lantas bersujud di kaki saya sambil menangis. Dia mengaku sudah menghamili seorang perawat di tempatnya bekerja—dan dia diminta pertanggungjawabannya dengan menikahi perawat itu. Mungkin saya memang terlalu polos. Saya menaruh kepercayaan penuh kepada pasangan saya tanpa pernah sekalipun merasa awas atau menaruh curiga padanya. Saya tak pernah berpikir kalau dia akan berselingkuh, apalagi sampai menghamili selingkuhannya. Selama dia berpacaran dengan saya, dia tidak pernah macam-macam. Mau peluk atau cium saja izin dulu. Ternyata di belakang saya, dia tak seperti itu. Saya kecewa ... benar-benar kecewa…. Gara-gara Ken, saya meninggalkan pekerjaan saya begitu saja dan sempat berniat untuk bunuh diri."
"Astaga."
"Itulah kenapa saya tak suka topik pernikahan. Saya tak mau menikah. Saya takut—takut ditinggal, takut ditipu, takut dihempaskan."
Sebelah tangan Jin-ssaem terangkat untuk tutupi muka, dan dia mulai menangis lagi. Saya hanya bisa terdiam. Tak saya duga kalau Jin-ssaem punya masa lalu yang pahit. Apa kekasihnya tak punya hati? Mengapa tega sekali? Mengapa lelaki bernama Ken itu bisa berbuat sebegitu kejamnya? Dia telah berkhianat, menghancurkan kepercayaan dan harapan kekasihnya sendiri. Sungguh tak habis pikir kenapa bisa ada orang seperti itu.
"Hidup saya hancur setelah Ken pergi," ucapnya.
"Sekarang bukankah ada Kim-ssaem bersama Anda? Saya yakin dia adalah orang yang baik dan setia, berkomitmen."
Jin-ssaem mengekeh, menyedot ingus, lalu mengekeh lagi. Wajahnya merah dan matanya sembab. Tapi dengan tawanya itu, dia mungkin sedang mencoba menjadi tegar.
"Ya, si bodoh itu datang di saat saya terpuruk. Dialah yang menyelamatkan saya. Secara ajaib dia bisa mengerti saya, apa mau saya, bagaimana pemahaman saya mengenai suatu hal, dan dia menerima saya dengan segala ketakutan yang saya bawa. Dia bilang tak apa jika saya tak ingin menikah. Orang tak selalu butuh ikatan resmi untuk menunjukkan cinta. Tapi tetap saja, semakin lama saya bersamanya, saya semakin merasa bahwa sayalah yang telah menuntut banyak darinya. Dan apa yang telah saya berikan pada Namjoon? Apa benar dia menerima saya apa adanya? Apa benar dia tak apa dengan keputusan saya untuk—tak menikah?"
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Saya mulai paham bahwa yang namanya pernikahan itu tidak didasari oleh romantisme melainkan ikatan janji; janji yang disepakati secara bersama. Dalam janji itu ada pengertian yang lebih banyak. Mencintai berarti menerima dan memaklumi. Rumah tangga dibangun dan dipertahankan bersama. Tak hanya satu tiang pancang, tapi mesti dua-duanya sama kuat menopang. Dasarnya pada kemauan, kerelaan hati, dan kesetiaan.
Keraguan dan ketidakpastian akan selalu ada dalam sebuah hubungan. Mungkin Jin-ssaem dan Kim-ssaem belum sampai pada keyakinan untuk mengikat janji dalam pernikahan. Padahal sudah lama menjalin asmara. Tapi memang tak ada jaminan kalau yang lama berhubungan akan lebih mantap untuk menikah. Saya termasuk berani ambil resiko karena berkeputusan untuk melangkah lebih jauh dalam tempo yang singkat.
Makan malam ini menunya sup ayam. Yoongi mengajak saya untuk turut memasak di dapur. Dia sengaja menyetel radio supaya suasana lebih hidup. Selagi dia memasak kuah sup dan memotong sayuran, saya diminta memipil jagung. Tapi cerita Jin-ssaem masih terbayang-bayang, dan itu membuat saya tidak konsentrasi. Beberapa kali, bukannya lepas dari tongkolnya, biji jagung yang saya pipil malah hancur karena tekanan.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Ah? Tidak," sanggah saya.
"Jangan bohong. Ayo jujur. Aku ini istrimu, tidak ada rahasia di antara kita."
Saya tak ingin bercerita. Saya tak ingin Yoongi ikut-ikutan membatin seperti saya. Mungkin cerita Jin-ssaem dan apa yang ada di pikiran saya tak perlu saya sampaikan.
"Jimin?"
Tapi saya juga butuh sesuatu untuk mengenyahkan kegamangan. Yoongi adalah jawabannya. Ya, dialah jawabannya.
"Yoongi, aku … aku hanya ingin katakan kalau … aku mencintaimu dengan sebenar-benarnya." Saya menggigit bibir. Sebetulnya tak tahu mesti mengatakan apa. Saya ingin mengungkapkan perasaan saya padanya, tapi apakah kata cinta sudahlah cukup?
Yoongi tertawa. "Jangan tiba-tiba jadi gombal begitu."
"Aku serius. Kita … memang belum lama saling mengenal. Mungkin ada hal-hal yang sama-sama belum kita ketahui. Aku masih harus banyak belajar darimu, tentangmu. Walau begitu, aku merasa menikahimu adalah sebuah keputusan yang tepat. Aku tak pernah sebegini yakinnya tentang perasaanku pada orang lain. Hanya padamu. Itu hebat. Kau istimewa. Aku mau berada di sisimu sekarang dan seterusnya. Aku mau mengasihimu dan membuatmu bahagia. Aku mau tua bersama kamu dan anak-anak yang kamu lahirkan. Jadi aku berharap kau mau menerima aku, memaklumi aku dengan keikhlasan dan apa adanya..."
Senyum Yoongi mengembang perlahan. Dia menarik saya ke dalam pelukan. Tangannya mengelus rambut saya dengan sayang. Saya lingkarkan tangan di pinggangnya. Saya sandandarkan kepala di bahunya sambil sesekali mengecupi tengkuk dan lehernya.
"Ya, Jimin, aku mau … tentu aku mau."
Suaranya begitu tenang. Yoongi mencium bibir saya dengan lembut, penuh perasaan. Setelah ciuman itu lepas, kami bertatapan. Matanya teduh. Dia sedikit menunduk ketika saya mencium keningnya. Saya belai rambutnya dan saya cium dia. Bibirnya saya lumat, saya cecapi. Kami melepaskan tautan bibir karena kami butuh udara untuk dihirup. Kening kami bersentuhan, dan Yoongi sedikit tertawa ketika tahu yang saya tatap hanya bibirnya—bibir merahnya yang basah dan licin. Dia mendongak tatap saya dengan matanya yang berkilauan. Saya tak kuasa, ingin menciumnya lagi. Saya sentuh kedua sisi pinggangnya. Yoongi mengalungkan tangannya di leher saya. Musik di radio mengajak kami untuk berdansa.
"Aku mencintaimu, Jimin."
"Ya. Aku juga mencintaimu, Sayang."
Kami berciuman lagi. Saya merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan dengannya. Saya bersyukur karena dialah tempat di mana hati saya berlabuh.
Snif! Saya mengendus. Kemesraan kami terganggu oleh bau gosong yang menyengat.
"Yaak! Kuah supnya!"
Yoongi berteriak. Ia segera mematikan kompor dan mengangkat panci panas yang kosong. Didihan kaldu ayam telah lenyap menjadi uap. Rupanya kami terlalu asyik bermesraan sampai lupa pada kuah sup.
.
.
.
CONTINUED
