"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Brothership and slash hints

Plot-bunnies(?)

And others

shunshines


"Niisan! L-Lepas!"

Takeru tetap menyeret Shun ke kamar meskipun adiknya sudah meronta untuk dilepaskan. Meskipun adiknya berposisi sebagai linebacker yang memungkinkan tenaganya kuat, sayang beribu sayang, tenaga Takeru sebagai almighty runningback masih berada di atasnya. Dari badan pun Takeru masih unggul, sehingga pekerjaan mudah baginya untuk tetap menyeret Shun meskipun anak laki-laki itu sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa lepas dari genggamannya.

Takeru berhasil membawa Shun ke kamar mereka. Ia menutup—tidak, tapi mengunci—pintu untuk mencegah adiknya kabur dari kamar. Sesungguhnya, ia tidak perlu mengunci pintu, karena memang tidak ada yang bisa melewatinya semudah itu.

"Niisan, hanasetekudasai!" Takeru tidak sekalipun melepas pergelangan tangan Shun saat ia mengunci pintu. Semakin adiknya berontak, semakin ia mengeratkan genggamannya. Ia tidak tahu—ia tidak mau tahu. Memang ia menyiksa saudaranya sendiri sekarang, namun ia tetap tidak mau tahu.

Shun menggeram kesal—atau mungkin merintih—karena ia sudah mencapai batasnya. Bayangkan saja, Takeru Yamato itu tiba-tiba menyeretnya, baik saat di hotel tadi maupun saat baru sampai di rumah, tidak mau melepaskannya barang sekali, dan semakin mencengkeramnya kalau ia terus berontak, sementara ia sudah terlalu lelah untuk berdebat baik secara fisik maupun batin. Ia menghela napas, lalu menyentak Takeru untuk yang terakhir kalinya. "Lepas—"

BRAK!

Shun meringis saat merasakan sakit menjalar di punggungnya. Ia tidak tahu ada apa, dan setelah ia membuka kelopak matanya, kedua matanya membelalak, menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Takeru mendorong Shun ke pintu dan menahannya agar tidak pergi kemana-mana. Tangan kanannya berada di pintu, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk menahan tubuh adiknya. Jarak keduanya begitu dekat. Mereka bahkan bisa merasakan napas masing-masing menerpa wajah.

Napas Takeru memburu. Ia berusaha meredam emosinya yang meledak-ledak karena peristiwa tadi. Saat ia melihat adiknya dengan Hayato Akaba itu, ia cemburu. Sangat.

Kecemburuannya itu mengakibatkan emosinya menjadi meledak-ledak. Ia sangat ingin marah saat itu juga, tapi ia berusaha mengubur keinginan itu dalam-dalam. Rupanya, seperti magma di dalam gunung api yang berstatus awas, kemarahannya pun meledak sekarang. Meskipun ia tidak membentak Shun, tetap saja ia sudah menyakitinya tadi.

Shun tidak pernah melihat Takeru marah. Tidak pernah sejak pertama kali mereka bertemu. Dan sekarang, ia sudah mendapati kakaknya itu mengeluarkan emosinya. Terlebih lagi, kakaknya marah kepadanya, namun dengan alasan yang tidak jelas. Melihat Takeru marah seperti ini membuatnya bergidik dan lemas seketika. Ia mungkin berniat untuk menjatuhkan dirinya ke lantai kalau anak laki-laki berambut liar sewarna maple itu tidak menahan tubuhnya.

"Niisan ... kenapa?"

Iris cokelat gelap yang tadi menatap lantai, kini mulai menatap kedua iris sebiru langit tepat di hadapannya. Tatapan nyalang penuh emosi tadi sudah berubah menjadi tatapan bersalah. Tepat saat ia melihat ketakutan dan kesakitan yang terpancar dari mata biru Shun, ia ingin sekali menghajar dirinya sendiri atas kelakuan konyolnya tadi.

"Gomen," lirih Takeru, setelah menyadari hal bodoh apa yang baru saja dilakukannya. Ia menarik tangannya dan melepaskan Shun dari kekangannya, lalu menghela napas dalam. "Maaf karena aku sudah menyakitimu tadi. Kau baik-baik saja, kan?"

"Aku baik...," jawab Shun, masih dalam mode kagetnya. Ia menatap Takeru yang tengah gusar itu, tampak mencari tahu apa yang menyebabkan kakaknya sedikit bermain fisik beberapa menit yang lalu. Tapi, sama halnya seperti dirinya, Takeru juga pintar menyembunyikan perasaannya walaupun ia sempat meledak-ledak.

Sekali lagi, Takeru menghela napas. Ia pun melempar senyumnya kepada Shun. "Yokatta. Kau boleh istirahat sekarang. Tampaknya kau sangat kelelahan. Kauyakin akan berangkat sekolah besok?"

Pertanyaannya hanya dibalas anggukan.

Tidak mendapatkan protes dari Shun, Takeru pun memutuskan untuk ke luar kamar. Tentu saja ia tidak ada niatan untuk mengunci adiknya sendirian. Ia menutup kembali pintunya dan membiarkan kuncinya tergantung di lubang kunci dalam kamar.

Shun masih harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa kejadian beberapa menit tadi benar-benar terjadi kepadanya. Ia dengan mata kepalanya sendiri melihat Takeru marah sampai bermain fisik dengannya, lalu mendorongnya ke pintu, kemudian tersadar dan meminta maaf karena sudah menyakitinya. Dan itu benar-benar nyata.

Masalahnya, ia tidak pernah bisa menebak apa yang sebenarnya dipikirkan dan dirasakan kakaknya. Berbeda dengan Takeru yang setidaknya bisa memprediksi apa yang akan dilakukannya, ia tidak bisa memperkirakan pikiran dan perasaan anak laki-laki yang lebih tua darinya itu.

Kalau begitu, tidak ada salahnya, kan, kalau Shun mencoba menebak hal random yang menyebabkan Takeru marah seperti itu?

Sambil berpikir, Shun mengambil handuk dan bajunya, lalu masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ia berniat untuk mandi air hangat sebentar, lalu segera pergi tidur untuk mengistirahatkan badan dan hatinya. Untuk meringankan sedikit bebannya, mandi air hangat sebelum tidur bisa menjadi pilihan yang baik.

Setelah membuka kemeja dan celananya, ia segera memutar kran shower dan air hangat pun mengalir membasahi kulit putih pucatnya. Seperti kata banyak orang, kamar mandi dan saat-saat ber-shower adalah tempat untuk berpikir yang tepat, sehingga ia pun mulai memutar memori yang terekam hari ini.

Seingatnya, Takeru masih 'baik-baik saja' tadi pagi, sepulang latihan fisik, juga masih 'baik-baik' saja saat gala dinner. Bahkan kakaknya dengan sukarela memapahnya berjalan dikarenakan badannya yang sakit. Lalu, saat bertemu anak laki-laki merah bernama Hayato Akaba itu pun kakaknya masih dalam suasana hati yang baik.

Tunggu, rasanya Shun mulai menemukan jawabannya.

Ia merasakan perubahan suasana hati Takeru saat kembali ke meja mereka setelah anak itu dipanggil sang ayah. Mungkin saja Satoshi yang menyebabkan Takeru badmood, tapi masalah kedua muncul. Kalau iya Satoshi yang menjadi moodbreaker Takeru, apa mungkin sejak tadi ia dijadikan pelampiasan kekesalan kakaknya?

Tidak—Shun menggelengkan kepalanya. Nyaris sebulan ia satu sekolah, satu rumah, dan satu kamar dengan Takeru, ia bisa mengenali bahwa kakaknya bukanlah tipe orang yang melampiaskan kekesalannya kepada orang lain. Takeru memilih mengerjakan sesuatu yang lebih berguna atau dapat mengembalikan mood-nya saat ia tidak enak hati.

Kemudian, Shun teringat suatu hal lagi. Ia ingat, genggaman tangan Takeru saat akan pulang dari hotel itu mengerat saat Akaba mencegat mereka dan meminta alamat e-mail-nya.

Arienai! Tolak Shun mentah-mentah di dalam hatinya. Meskipun tidak mungkin, tapi, gagasan kalau Takeru cemburu karena ia dekat dengan Akaba tadi bisa saja terjadi, kan? Bukankah setiap gagasan pasti selalu ada kemungkinan akan terjadi walaupun persentasenya hanya nol koma sekian persen?

Tapi itu tetap tidak mungkin, Shun kembali berperang di dalam batinnya. Mencoba memikirkannya dari sudut logika dan juga dari perasaan. Niisan tidak mungkin cemburu hanya karena aku yang notabene adiknya dekat dengan anak laki-laki lain. Takeru niisan bukanlah aku yang suka cemburu melihatnya berada di dekat orang lain, karena Takeru niisan hanya menyayangiku ... sebatas adik saja.

Ya, benar...

Saat mengatakan gagasan tadi, Shun harus menyicip pahit lagi. Tadi, bahkan kemarin dan beberapa waktu yang sudah lewat, ia berkali-kali membulatkan tekad untuk membuang perasaan cintanya kepada Takeru jauh-jauh. Ia tidak mau menghancurkan keluarga barunya hanya gara-gara ia jatuh cinta dengan saudaranya sendiri. Menurutnya, hancurnya keluarga jauh lebih menyakitkan daripada mengubur perasaan dalam-dalam dan tidak akan memberitahu siapa pun.

Shun membasuh wajahnya. Di dalam hati, ia menyesal kenapa ia harus memiliki hati yang lemah.


Takeru menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menjernihkan pikiran dan menetralkan perasaannya yang kacau. Ia memilih pergi ke balkon untuk melakukan terapi kecil untuk menenangkan diri.

Ia benar-benar merasa sinting saat menyakiti adiknya sendiri, dan ia mengakui hal itu. Ingin sekali ia memukul dirinya sendiri, dan berterimakasihlah kepada angin malam yang ikut menampar dirinya—bukan dalam artian sebenarnya—karena kesalahan yang tadi diperbuat olehnya.

Takeru memejamkan matanya, menikmati angin yang seakan mengejeknya, tapi juga menenangkannya. Ia terlalu pusing untuk berpikir apa yang membuatnya menjadi kelewat batas seperti tadi. Emosinya memuncak tanpa alasan yang logis karena adiknya tersayang dekat dengan seorang anak laki-laki yang baru mereka kenal hari ini. Dan hal itu menimbulkan tanda tanya besar kepada dirinya sendiri.

Sebenarnya aku ini kenapa?

"Damn," umpat Takeru pelan sambil mengacak rambut ikalnya. Otak jeniusnya tidak berfungsi dengan baik sekarang, membuatnya ingin menghantam kepala sendiri dengan sesuatu yang keras atau apalah itu.

Shun, Shun, dan Shun. Ah, hanya nama itu yang memenuhi kepalanya sekarang.

Takeru tahu jelas apa yang tadi diperbuatnya. Ia juga tahu jelas kenapa ia menyakiti Shun tadi. Ia tahu dan sangat tahu.

Takeru tahu ia marah kepada adiknya yang dekat dengan anak laki-laki bernama Hayato Akaba itu. Dan ia tahu ia marah karena cemburu. Jawabannya sudah absolut.

Tapi, ia tetap tidak mengerti. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa ia bisa cemburu hanya karena Shun dekat dengan Akaba itu.

Bagi Takeru, Shun adalah adik tersayangnya. Adik yang paling ia sayangi. Takeru bisa menjamin Shun tidak akan kehilangan rasa kasih sayang darinya sampai kapanpun, karena ia begitu menyayangi sang personifikasi langit itu. Shun adalah segalanya baginya, yang bisa melengkapi hidupnya yang tidak seutuh dulu.

Maka dari itu, Takeru menganggap Shun adalah malaikatnya. Malaikat yang tidak akan dibiarkan pergi.

Tapi, benarkah? Benarkah hanya sebatas 'adik tersayang' saja?

Takeru mendadak teringat kata-kata dari kekasihnya, Taka, sebulan yang lalu. Anak laki-laki yang mendapat julukan Elang itu berkata bahwa ia terlalu dekat dengan Shun. Anak itu mengatakan bahwa hubungannya dengan Shun melebihi hubungan antara kakak dengan adik.

Benarkah?

Takeru menghela napas kesal, galau akan perasaannya sendiri. Merasa bahwa menyendiri di balkon tidak juga membantunya untuk menemukan jawaban, ia pun memutuskan untuk masuk dan kembali ke kamar. Sekarang sudah jam setengah sepuluh, dan ia harus segera beristirahat kalau tidak mau badannya luar biasa lelah esok pagi.

Setelah masuk ke kamar, Takeru mendapati adiknya sudah tertidur dengan pulas. Suara desah napas halus yang teratur merambat ke indra pendengarannya. Mendengar suara itu membuatnya menahan napas, menahan sensasi aneh yang menyebabkan tubuhnya merinding.

Takeru menggelengkan kepalanya—tampaknya otakku mulai korslet sekarang—dan segera berjalan menuju kamar mandi. Ia harus memastikan bahwa dirinya masih 100% waras. Ia tidak mungkin tergoda dan tiba-tiba menyerang adiknya sendiri saat sedang tertidur seperti itu, kan?

Sepertinya, mandi air panas bisa sedikit 'mendinginkan' kepalanya.

Setelah beberapa menit berada di kamar mandi, Takeru pun ke luar dengan handuk menutupi daerah pinggang ke bawah, sehingga pinggang bagian atasnya terekspos, memperlihatkan bentuk badan yang sempurna hasil latihan keras bertahun-tahun. Helai cokelatnya masih agak basah, sehingga setetes-dua tetes air masih mengalir dari sana. Kalau fangirl-nya melihat penampilannya saat ini, mungkin mereka sudah pingsan kehabisan napas dan darah karena nosebleed.

Ketika Takeru memakai pakaiannya, ia sengaja membelakangi Shun yang sedang tertidur. Air panas yang tadi diharapkan bisa 'mendinginkan' kepalanya hanya bekerja selama beberapa menit saja, karena ia masih saja tidak bisa menguatkan imannya.

Namun pada ujung-ujungnya, Sang Kaisar pun menyerah. Selesai memakai pakaiannya, Takeru berbalik dan berjalan mendekati adiknya. Ia pun menekuk lututnya, menyamakan tingginya sehingga sejajar dengan Shun. Tangannya menyentuh pipi Shun dengan lembut. Dengan jarak dekat seperti ini, Takeru bisa mendengar desah napas Shun dengan sangat jelas. Raut wajah adiknya saat tertidur begitu polos layaknya anak-anak dan juga manis.

"Who you are to me, Shun?" bisik Takeru sambil mengelus pipi adiknya perlahan. "Aku tidak pernah membayangkan kalau hal ini akan terjadi."

Takeru menghela napas pelan, lalu mencondongkan badannya lebih dekat terhadap Shun. Dengan lembut, ia menempelkan bibirnya dengan bibir adiknya. Ia pun memejamkan mata, merasakan betapa hangat dadanya sekarang.

Takeru mencium Shun untuk beberapa detik saja. Ia tidak mau adiknya terbangun, dan semakin lama ia menciumnya, ia semakin tidak bisa menahan diri. Takeru pun bangkit, namun masih menatap adiknya dengan tatapan penuh sayang.

Dengan begini, setidaknya ia bisa tidur tenang, karena ia sudah menemukan jawabannya.

Takeru menyayangi adiknya. Namun, menyayangi dari sudut yang berbeda.

Bukan dari sudut kakak kepada adik.

Shun bukan lagi adik di matanya, namun sebagai orang yang dicintainya.

Sebelum naik ke tempat tidurnya, Takeru berujar pelan kepada Shun yang sedang tertidur—atau lebih tepatnya, bermonolog—sebagai pernyataan absolutnya.

"Bukan salahku kenapa aku mencintaimu, tapi, itu semua salahmu, Shun."


Pelajaran kimia sudah berakhir, waktu istirahat telah tiba.

Sejak pagi tadi, Shun seringkali menguap secara diam-diam. Setelah difisik seharian dan malamnya menghadiri gala dinner untuk menemani ayahnya, tidur kurang lebih selama sembilan jam ternyata masih sangat kurang. Tubuhnya masih terasa pegal dan lelah walaupun sudah tidak sesakit kemarin. Ingin hati tidur sekarang juga, tapi tidak. Sekarang, ia harus berkonsentrasi pada pelajaran dulu. Lagipula, ia tidak mungkin merusak imejnya sendiri dengan tidur di dalam kelas.

Setelah guru kimia ke luar kelas, murid-murid pun ikut menghambur ke luar, termasuk Shun. Ia ingin ke kamar mandi sekarang juga untuk mencuci muka. Setelah itu, kembali ke kelas untuk belajar—kalau dirinya tidak bertemu dengan kakak tersayang. Kalau bertemu dengan si Eyeshield 21 Notre Dame itu, kemungkinan ia akan dibawa untuk ikut dengan si personifikasi musim gugur itu.

Baru saja Shun akan melangkah masuk menuju kamar mandi, sebuah suara yang sangat familiar memanggilnya. Tanpa menoleh ke sumber suara pun ia sudah tahu jelas bahwa yang memanggilnya adalah Takeru. Namun, tetap saja ia menoleh kepada orang yang memanggilnya itu.

"Kau kenapa? Matamu agak merah," tanya Takeru langsung begitu jarak di antara mereka berdua sudah tereliminasi. Takeru menyentuh pipi Shun, lalu kembali mengeliminasi jarak di antara mereka berdua. Semalam masih merasa kurang, modusnya balik lagi, kan.

Shun menggelengkan kepalanya, lalu segera menyingkirkan tangan kakaknya dari pipinya. Tentu saja pipinya menjadi agak panas gara-gara modus kakaknya itu. "Aku nggak apa-apa. Hanya mengantuk."

Takeru menatap Shun lekat. "Begitu, ya. Kalau nggak kuat, jangan dipaksa."

Shun tidak bisa menahan darahnya untuk tidak naik lagi ke pipi, namun, egonya untuk tidak memperlihatkan perasaan yang sebenarnya masih lebih kuat. "Iya, iya. Kau bawel sekali, sih, Niisan."

Karena tadi sedang 'asyik' dengan kakaknya, Shun tidak menyadari seseorang yang sedari tadi bersama kakaknya. Bukan Taka, tapi, seseorang yang nyentrik yang baru ditemuinya kemarin—ia masih ingat jelas itu.

Hayato Akaba.

Menyadari perubahan ekspresi Shun yang tampak kaget karena makhluk(?) di sebelahnya, Takeru pun berkata, "Oh, ya, Akaba pindah sekolah ke Teikoku karena ayahnya pindah ke Osaka. Akaba sekelas denganku, sehingga aku bertugas untuk mengajaknya berkeliling sekolah."

Shun pun ber-ooh kecil mendengar penjelasan Takeru. Ia diam-diam mencuri pandang ke arah si Mata Merah yang membawa tas gitar hitam itu. Akaba tetap menggunakan sunglass biru tuanya, dan entah kenapa Shun sangat bersyukur akan hal itu.

"Fuh, Shun, senang bertemu kembali denganmu. Ritmemu masih sama seperti kemarin," ujar Akaba sambil membenarkan sunglass biru tuanya. Shun tidak bisa langsung mengerti apa yang diucapkan maniak musik itu, sehingga ia diam saja. Sejak awal bertemu, bukankah hanya Takeru saja yang langsung mengerti apa yang diucapkan si maniak itu?

"Akaba juga akan bergabung dengan Teikoku Alexanders," tambah Takeru sambil tersenyum—agak sedikit—dipaksakan. Hanya sedikit. "Dia adalah MVP di Tokyo."

Mendengar itu, Shun nyaris saja tersedak saliva-nya sendiri. Bukan karena gelar yang didapatkan Akaba, tapi karena pengumuman bahwa Hayato Akaba itu akan bergabung dengan Teikoku Alexanders.

"Fuh, kenapa denganmu, Shun? Jangan terlalu kaget, ritmemu jadi berantakan sekarang," ujar Akaba lempeng*, kemudian mendapat death glare dari orang yang bersangkutan sekarang.

"Apaan," tukas Shun ketus sambil mendelik, dengan pipi yang masih setia memerah. Ia secara halus dipermalukan oleh si maniak musik itu, di depan kakaknya pula.

"Well, lima menit lagi bel masuk. Aku masih harus mengajak Akaba berkeliling sekolah." Takeru pun angkat bicara, mengatasi rasa tidak sukanya saat ada orang lain yang dengan mudah menggoda adik kesayangannya, padahal mereka baru bertemu kemarin. "Kami duluan, ya, Shun!"

Shun pun mengangguk mengiyakan seadanya.

Selepas dua orang itu pergi, Shun terpekur.

Satu kejutan hari ini; anak laki-laki bernama Hayato Akaba itu bersekolah di sekolah yang sama dengannya dan Takeru dan akan bermain di tim yang sama pula.

Memangnya kenapa kalau si maniak musik itu berada di Teikoku? Batin Shun sambil berjalan kembali ke kelasnya.

Tapi, satu hal yang masih mengganjal di otaknya sejak tadi malam membuat Shun berpikir dua kali. Ia sempat berpikir bahwa Takeru marah kepadanya karena ia dekat dengan Akaba. Ia sempat berpikir bahwa Takeru cemburu. Meskipun Shun merasa hal itu sangat tidak mungkin, namun, bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia?

Ah, ingin sekali dirinya membenturkan kepalanya ke meja atau sesuatu yang keras lainnya, menyadarkan otaknya untuk berhenti berpikir dan berharap tentang sesuatu yang terdengar muluk dan mustahil. Mungkin tempo hari, dirinya memang benar-benar terbentur sesuatu yang membuatnya berpikir bodoh seperti ini.

Dan bukannya merasa lebih baik, Shun malah merasa pusing karena hal tadi.


to be continued—


*lempeng: muka datar-cuek dalam bahasa sunda(?)


a/n:

malah jadi singkat, ya? emang iya. aku rada-rada mentok di sini, jadi tolong dimaafkan.

UTS-ku baru kelar, terus ke depannya mungkin bakal sibuk banget. kemungkinan ff ini telat updatenya, terus pasti bahasanya jadi kaku lagi. / ㅅ \

last, mind to give me some review? ㅇㅅㅇ