What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
.
Hari pernikahan sudah di depan mata. Kalender bulan Agustus sudah hampir habis saya coreti tiap tanggalnya. Tinggal sepuluh hari, dan itu terasa dekat sekali. Apalagi, karena saya seorang pekerja, waktu berlalu begitu cepat. Pagi berangkat ke sekolah, pulang-pulang sudah hampir malam. Begitu pula dengan esok harinya, berangkat pagi, pulang menjelang malam. Saya mulai tak sabar. Segala sesuatunya sudah siap, termasuk pakaian pengantin yang sudah selesai dijahit dua hari lalu. Sepulang mengajar, saya dan Yoongi pergi ke butik untuk melihat hasilnya. Kami tidak tahu akan seperti apa baju pernikahan kami itu, karena dari awal, orangtua kamilah yang mengurusinya. Saya ingat, waktu pertama kali datang ke penjahit, ibu saya dan ibunya Yoongi begitu sibuk memilih bahan dan model baju sementara anak-anaknya hanya celingak-celinguk. Kalau dipikir-pikir, kami benar-benar pasrah. Lucu juga, karena kami yang sama-sama sudah dewasa ini tak jauh beda dengan anak-anak yang menurut saja pada pilihan orangtuanya.
"Ini bajunya. Yang ini untuk pemberkatan dan yang ini untuk resepsi. Karena resepsinya malam hari, jadi pakaiannya sedikit lebih santai. Bagaimana? Apa Anda sekalian suka?"
Tuan penjahit memperlihatkan dua pasang pakaian pengantin pada kami. Pakaian-pakaian yang nampak indah itu melekat di badan licin manekin. Yoongi menyentuh ujung-ujung lengan pakaiannya sembari mengembangkan senyum. Matanya yang berbinar menatap saya dan menularkan antusiasme yang besar.
"Suka! Suka sekali! Padahal saya tidak pernah memimpikan pakaian pernikahan seperti ini, tapi tiba-tiba ini jadi pakaian impian saya. Terima kasih ya, Pak!"
"Tidak, tidak. Tidak perlu berterimakasih. Orangtua kalianlah yang memilihkan desain dan bahannya. Saya hanya menjahit saja."
Yoongi mengekeh. Dia jelas puas. Hanya melihatnya tertawa seperti itu saja, saya merasa bahagia. Semoga saja dia selalu bisa tertawa manis seperti itu sampai esok dan seterusnya.
"Silakan kalau mau dicoba dahulu. Di sebelah sana ada ruang ganti."
Tuan penjahit menunjukkan ruang ganti. Pakaian-pakaian itu dilepas dari manekin kemudian. Masing-masing diberi gantungan supaya tidak kusut dan mudah dibawa. Saya dan Yoongi masuk ke ruang ganti yang sekaligus juga menjadi ruang rias. Tapi bukannya segera mengganti baju, kami malah diam saling menatap.
"Kenapa, sih?" tanya Yoongi sambil tertawa setengah geli.
"Tidak…"
Sedari tadi saya memang hanya mengikutinya, mengangguk atau menggeleng ketika ditanya, dan tak kunjung bicara karena tak tahu mesti bicara apa. Mungkin bagi Yoongi saya terlihat konyol. Tapi bukankah orang akan sedikit melayang kalau sedang bahagia? Atau hanya saya saja? Rasanya tidak bisa fokus pada sesuatu. Inginnya hanya diam, cengangas-cengingis.
"Mau ganti bersama?" Ibu jarinya menunjuk satu bilik sempit yang tertutup tirai putih.
Saya menggeleng. "Kau duluan saja, nanti aku menyusul."
"Baiklah."
Yoongi menghilang di balik tirai. Saya duduk di sofa yang menghadap cermin untuk menunggu giliran. Cermin itu ukurannya ¾ badan. Di posisi yang tepat, bayangan seluruh badan bisa terlihat. Karena sedikit penasaran dengan bayangan diri sendiri, saya beranjak dari kursi itu dan berdiri di depan cermin. Mungkin karena jarang berkaca lama, saya kaget juga sewaktu melihat pipi saya yang ternyata tak segembil biasanya. Agak tirus. Bakal kumis dan janggut pun rupanya sudah tumbuh. Kadang saya merasa tak nyaman dengan ini. Sebab ketika mengelus dagu atau mengusap filtrum, ada rambut-rambut kasar yang mengganjal. Tapi berhubung Yoongi suka dengan pria berkumis dan berjanggut, apa saya biarkan saja bakal-bakal ini tetap bertumbuh sampai di hari pernikahan, ya?
"Jimin, aku sudah selesai."
Sempat saya kira Yoongi akan berdiam lama di sana. Ternyata tidak. Hanya berkisar sepuluh menit dia berganti baju. Tirai disibak. Yoongi muncul dengan pakaian putihnya. Dia mendekati saya, lantas turut berdiri di depan cermin. Rambut hitamnya yang agak berantakan dia rapikan dengan sentuhan jari.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya.
Saya memerhatikan dia dari atas ke bawah. Kemeja di balik jas putihnya itu bukan hanya kemeja polos. Ada renda di bagian depan dan di ujung lengannya. Tangan Yoongi yang lentik sedikit tertutupi karena renda. Kesannya klasik, seperti pakaian orang Eropa zaman dahulu. Walau begitu, dia tetap terlihat manis. Manis sekali, malah.
"Kau sangat menawan. Baju itu cocok sekali denganmu. Kau cantik, Yoongi."
"Benarkah? Apa tak kelihatan aneh? Aku merasa sedikit … kesempitan."
"Sempit bagian mananya?"
Yoongi menegakkan badan, menarik napas dan menahannya sebentar. Dia memegang dadanya dengan kedua tangan, "Kemejanya, agak sempit di bagian dada dan ketiak."
Mendengar perkataannya yang seperti itu, otomatis mata saya terarah pada bagian yang dia sebutkan. Kancing-kancing di dadanya memang seolah berusaha saling mengait.
Saya menelan ludah. "Sesak?"
"Lumayan."
"Yang sempit hanya bagian itu saja?"
"Hmm … celananya," dia sedikit menyerongkan badan. Posisinya yang seperti itu sekaligus juga memunggungi saya. Bagian bawah jasnya diangkat, lalu dia sentuh bokongnya sendiri, "sempit di bagian pinggang dan bokong."
"Yang benar?"
"Eh!"
Plak! Tangan saya digampar. Yoongi menunjukkan wajah sebal tapi ada tawa yang tertahan di bibirnya. Saya meringis sambil berusaha tersenyum. Barusan saya tanpa sengaja menangkup bokongnya untuk memastikan apakah celananya benar sempit atau tidak. Aduh, salah memang. Dasar tangan nakal! Seenaknya main pegang tanpa izin!
"Kaget, tahu," gumamnya. Dia sedikit mundur untuk jauhi saya. Kini bokong sintal itu ditutupinya dengan kedua tangan.
"M-mungkin ukuran baju itu memang dibuat pas dengan badanmu, Yoongi."
Atau juga badanmu sudah tak sama seperti ketika kamu mengukur baju itu, batin saya. Yoongi mendengung tak yakin. Saya hanya bisa tersenyum untuk memenangkan hatinya. Kalau Yoongi bad mood, agak bahaya juga.
"Jimin, apa aku benar-benar gendut sekarang?"
"Tidak, kau tidak gendut." Saya menggeleng, berusaha tak katakan apapun yang bisa menyinggungnya. Sebab saya sudah tahu kalau Yoongi tak suka disebut gendut.
"Bohong. Jujur saja, aku gendut, kan?" Yoongi mendelik tanda tak percaya. Saya hanya bisa menggeleng lagi.
"Tidak, kau masih sama dengan dirimu beberapa waktu ke belakang."
"Aku tidak percaya."
Saya mendengus. "Iya kau gendut."
Wajah Yoongi berubah masam seketika. Dia cemberut. Pipinya menggembung. Dia menatap cermin dengan raut kesal. Saya bingung! Bagaimana cara menghadapi dia yang susah dimengerti itu?
"Kalau kusebut kau kurus, kau juga tak akan percaya, bukan?"
"Iish, Jimin!"
"Aw-aw-aw-aw!" Saya menjerit. Pinggang saya dicubit.
"Secara tidak langsung kau memang mengakui kalau aku gendut."
"Maaf..."
Saya bisa apa? Dulu sewaktu Ibu saya bilang dia seperti Jibangie, dia tak terima. Lalu kalau sekarang saya sebut dia kurus dan langsing, dia juga pastilah tak akan dengan mudahnya percaya. Kadang saya heran dengan orang yang begitu menganggap penting berat badan. Gendut salah, kurus salah.
"Ayo cepat ganti bajumu, aku juga ingin lihat suamiku mengenakan baju pengantin," titahnya. Perdebatan itu diakhiri, dan Yoongi mendorong saya masuk ke bilik.
Beberapa menit saya berkutat dengan pakaian saya sendiri. Karena ini barang baru (dan barang penting, tentu), mengenakannya tak bisa buru-buru. Mesti perlahan, satu-satu dan hati-hati. Tidak boleh sampai ada yang rusak.
"Jimin, sudah belum?"
"Iya, sebentar lagi."
Saya segera keluar setelah menarik ritsleting celana. Padahal celana duluan yang saya pakai tapi ritsletingnya adalah hal terakhir yang saya ingat.
"Bagaimana?"
Mata Yoongi melebar, senyumnya mengembang. Dia menyentuh kedua pundak saya, lalu mengarahkan saya untuk menghadap cermin.
"Apa pakaian ini cocok denganku? Apa tidak terlalu … mewah?"
"Kau itu tampan, pakai baju apa saja cocok. Harusnya kau percaya diri. Lihatlah, kau begitu gagah dan berkharisma."
Saya tersipu. Dipuji itu rasanya enak. Seperti ada sesuatu yang membuncah di dada. Lantas untuk membuktikan ucapan Yoongi, saya menegakkan badan, berdiri tegap dan sedikit mengangkat dagu.
"Tuh, kan. Kau itu keren, tahu." Dengan jarinya, dia sedikit menyisir rambut saya supaya dahi saya bisa terlihat lebih jelas. "Tidak kalah keren dari Kim-ssaem."
Lagi-lagi, dia membuat saya tersipu. Kalau dipuji terus, rasanya saya bisa terbang tinggi ke awang-awang.
"Coba setelan yang satu lagi, ya?"
"Iya."
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Kami pulang dari butik dan sampai di rumah kira-kira pukul setengah delapan malam. Perut saya sudah perih, minta diisi. Sebetulnya di jalan kami sempat membeli es krim, tapi tetap saja itu tak cukup untuk menahan lapar. Kalau belum menyentuh nasi, rasa lapar tidak akan berujung.
Tadinya Yoongi hendak mandi sebelum memasak makan malam, tapi mendengar dendang cacing dari perut saya, dia putuskan untuk memasak dahulu. Ah, benar-benar istri idaman. Sungguh peduli pada kebutuhan suaminya.
"Jimin, persediaan di kulkas hanya tinggal kimchi dan telur. Makan malamnya nasi goreng kimchi saja, ya?"
"Ya, apa saja. Yang penting makan."
"Kalau apa saja, aku beri mie kering juga mau?"
Kami tertawa. Saya merangkul Yoongi dan kami berjalan bersama ke dapur. Saat hendak menyiapkan bahan masakan, kami baru sadar kalau ada bunyi dar-dor dari luar rumah. Kalau ditebak, asalnya dari halaman belakang. Bunyinya seperti bunyi petasan atau yang sejenisnya. Yoongi menyuruh saya untuk melihat ke luar. Lantas saya pun membuka pintu dapur. Dari situ saya melihat sesuatu yang melesat terbang lalu meletus di udara; menjadi kembang api. Saya dengar suara-suara tawa yang riuh, dan nampak bayang dua orang yang sedang berdiri.
Ah, saya tahu mereka siapa.
"Hei, kalian! Sedang apa malam-malam begini?"
Saya mendekat, lalu berhenti di belakang pagar pendek pembatas halaman rumah Yoongi dan rumah Taehyung. Dua anak itu lebih dulu melesatkan kembang api sebelum menjawab pertanyaan saya. Syuut! Duarrr! Kembang api meletus, langit menjadi warna-warni.
"Main kembang api, Pak!" jawab salah satu dari mereka.
Saya lihat Taehyung sedang memeluk sebuah bungkusan plastik. Sedang, Jungkook berjongkok untuk siapkan kembang api lainnya.
"Ada acara apa, main kembang api?"
"Tidak tahu! Taehyung yang mau, Pak! Padahal tahun baru juga belum!" kata Jungkook, setengah berteriak. Anak itu menyulut api, lalu tanpa perlu menunggu lama, petasannya melesat, dan kembang api meletup-letup lagi di udara.
"Taehyung, yang ini tidak mau menyala!"
"Yaaah!"
Anak-anak itu terlihat sibuk mengurusi mainannya. Sebetulnya tiap kali kembang api itu meletus, saya terkejut, ada rasa pekak di telinga, dan sakit di dada. Anehnya mereka santai-santai saja. Langit memang menjadi indah dengan adanya letupan-letupan berwarna-warni itu. Tapi di perumahan seperti ini, apa tidak mengganggu ketentraman tetangga?
"Jimin, ada apa!" Yoongi muncul dari ambang pintu dapur, bertanya dengan suara lantang.
Duarr! Letusan itu menjawab pertanyaannya. Kami semua sama-sama memandang langit untuk sekian detik, sampai percik-percik itu habis. Saya tak tahu kapan Yoongi keluar dari rumah, tahu-tahu dia berdiri di samping saya.
"Indah, ya?" katanya.
"Iya."
Yoongi bersandar manja. Dari belakang saya rangkul pundaknya. Mengabaikan ribut-ribut dari dua anak itu, kami nikmati indahnya kembang api di langit malam.
Tiba-tiba Taehyung berteriak, "Yaah! Habis! Jungkook, aku belum puaas, mau lagi!"
"Tidak bisa! Sudah habiis!"
"Mau laaagiiii!" Taehyung merengek kecewa. Dia melempar plastik kosongnya ke tanah lalu menyergap Jungkook dari belakang.
"Kalian sudah makan malam belum? Kalau belum, ayo makan bersama di rumah saya," seru Yoongi.
Pergulatan dua anak yang seperti ulat itu pun kemudian berhenti. Mereka menjawab serempak, "Belum! Mauuu!"
Saya yang tidak mau. Tadinya saya membayangkan malam damai dengan Yoongi. Berdua saja, nikmati makanan sambil bercengkrama tentang hal-hal sederhana yang telah kami alami hari ini. Sayang, gara-gara dua anak itu, saya tak bisa tenang.
"Min-ssaem mau buat apa?"
"Nasi goreng kimchi."
"Jungkook menginap di rumah Taehyung?"
Kami di dapur. Taehyung dan Jungkook duduk di depan meja bar dekat konter. Saya yang tak kebagian duduk hanya bisa bersandar di kulkas. Yoongi hendak menyiapkan bahan masakan. Beberapa butir bawang dia ambil dari rak penyimpanan.
Jungkook yang ditanya, Taehyung yang menjawab. "Iya, Min-ssaem. Keluarga Jungkook pergi ke luar kota, dan dia tidak mau ditinggal sendirian di rumahnya. Takut, katanya, takut ada maling atau orang mesum masuk ke—aaah! Sakit! Kenapa kau cakar pahaku?!"
"Tidak usah bilang-bilang juga! Dasar mulut ember."
Anak bergigi kelinci itu hanya cemberut saja. Sepertinya malu karena Taehyung sudah begitu jujurnya. Setahu saya Jungkook anak yang tangguh. Tak sangka saja dia takut sendirian di rumah.
"Min-ssaem, Jungkook pandai memasak. Bagaimana kalau Jungkook saja yang membuat nasi gorengnya? Hitung-hitung berbakti pada guru."
"Kamu bicara begitu, tapi kamu tidak berniat membantu…," ujar kawannya yang tak terima.
"Aku takut dapurnya Min-ssaem rusak gara-gara aku."
"Huh. Alasan."
"Kasihan Min-ssaem, sudah kelihatan lelah."
"Tidak, tidak apa-apa." Yoongi hanya mengekeh.
Memang, Yoongilah yang selalu menyiapkan makanan di rumah ini. Padahal dia juga mungkin merasa lelah setelah melakukan pekerjaan lain, seperti bersih-bersih misalnya. Apalagi kami habis mengunjungi butik tadi sore. Dia belum istirahat sama sekali. Dia butuh waktu untuk bersantai dan merenggangkan otot. Karena tak tega membiarkannya terus bekerja, akhirnya saya putuskan untuk menggantikannya memasak makan malam.
"Ya sudah, biar saya saja yang masak. Kalau nasi goreng, saya masih bisa buat," kata saya.
Tahu-tahu Jungkook menyela. "Saya tidak percaya."
"Nasi goreng, Kook …. Sebelum ini saya tinggal sendiri, jadi mana mungkin masak nasi goreng saja tidak bisa?"
Anak itu menggeleng, tangannya terlipat di depan dada. Gayanya sudah seperti juri-juri lomba masak di tivi. "Tetap saja saya tidak percaya. Saya akan pantau Bapak, takut-takut rasa atau tampilannya tidak layak."
"Sekalian bantu kalau begitu."
"Iyaaa, saya yang goreng telurnya deh, nanti," katanya, "tapi Taehyung juga harus bantu. Enak saja cuma menonton."
"Oke aku juga bantuuu…"
"Nah, begitu dong. Kan mau berbakti pada guru," sindir Jungkook.
"Jungkook! Kamu sangat menyebalkan, suka sekali membolak-balik ucapan orang!"
"Iiih, apa, sih?! Singkirkan tanganmu!"
Di depan saya anak-anak itu main gelitik. Jungkook berteriak protes sambil marah-marah, tapi Taehyung tak juga berhenti menggodanya. Dari pada kawan yang bertengkar, mereka malah terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
"Ayo cepat masak! Aku lapar!"
Dua tangan Yoongi terangkat ke udara, lalu setelahnya mendarat di meja. Dia melipatnya dan menjadikan tangannya yang tertekuk itu sebegai alas untuk bersandar kepala. Dengan tingkahnya yang menggemaskan, dia menginterupsi. Rupanya kami memang tak boleh berlama-lama main-main di dapur.
"Sebentar, ya."
Saya mengulurkan tangan lewati meja bar hanya demi menggapai dia. Pipinya yang penuh itu membuat saya tak tahan untuk mengoyak dan mengigitnya.
Saya buka rice cooker. Masih ada sisa nasi dan itu cukup untuk makan kami berempat. Saya pindahkan nasi panas itu ke wadah. Jungkook saya beri pisau dan nampan untuk memotong bawang. Sedang Taehyung, saya biarkan saja dia berdiri di pojokan. Tadi ketika ditanya bisa memotong bawang atau tidak, dia bilang tidak bisa. Ditanya bisa menggoreng telur atau tidak, dia juga bilang tidak bisa. Lalu bisanya apa? Mungkin bisanya jadi penyemangat.
"Min-ssaem, sadar tidak kalau pantatnya Jungkook dan Park-ssaem itu bagus?"
Tapi bukan penyemangat yang seperti ini juga…
"Bagus bagaimana? Saya tidak pernah memerhatikan sampai ke situ." Yoongi menutup mulut, menahan kekeh.
"Ya bagus saja, seperti pantatnya Ronaldo dan David Beckham. Padat dan berisi."
"Kenapa kamu tahu pantatnya Ronaldo dan David Beckham padat dan berisi? Memangnya kamu pernah pegang pantat mereka?"
"Tidak, sih."
Topik yang Taehyung angkat memang menggelikan, sekaligus bikin gemas. Sebetulnya saya ingin membalas anak itu, tapi saya sibuk menyiapkan kimchi. Saya lirik Jungkook, dia diam saja menunggu minyak di penggorengannya memanas. Mungkin sama dengan saya, supaya makanannya cepat jadi, dia tak mau recok. Padahal kesal juga, ugh.
"Jungkook, saya mau telur yang sempurna ya, yang kuningnya masih utuh," pinta Yoongi.
"Iya, Seonsaengnim. Saya tidak pernah gagal kalau cuma goreng telur."
"Untukku juga ya Kook, aku request telurnya yang sempurna." Taehyung ikut-ikutan.
"Untukmu aku campurkan bubuk kulit telurnya saja supaya crispy."
"Aaahh! Jungkook jahat!"
Saya memang harus ekstra sabar jika berada di antara mereka.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Kami makan bersama, mengelilingi meja di dapur. Menunya memang sederhana, tapi segini saja sudah saya syukuri—syukur karena makanannya layak untuk manusia. Saya merasa senang melihat Yoongi makan dengan lahap. Dia bilang masakan saya enak. Tidak terlalu asin. Rasanya pas. Sedikit bibit kepercayaan diri tumbuh di dada. Mungkin saya berbakat. Sepertinya nanti saya perlu belajar memasak makanan lainnya.
"Min-ssaem nanti kalau sudah menikah jangan lupakan saya, ya."
Di tengah-tengah kekhidmatan, Tehyung bicara begitu. Saya agak bingung juga kenapa dia mendadak melankolis.
"Bagaimana bisa saya melupakan kamu? Kita kan bertetangga."
"Karena … nanti kalau sudah kuliah, saya mungkin tidak akan tinggal di sini lagi."
"Tak apa. Ada kalanya kita mesti hidup sendiri dan jauh dari orang-orang di sekitar kita. Tapi itu namanya perjuangan. Sebelum Park-ssaem tinggal di sini, saya pun hanya sendirian. Itu tak apa. Dengan hidup mandiri, kamu diberikan kesempatan untuk berkembang dan menjadi dewasa."
"Min-ssaem…"
"Nanti setelah kuliah, sekali-sekali pulanglah ke rumah ibumu, mampirlah ke rumah saya, dan mampirlah juga ke sekolah."
"Rasanya tidak ingin berpisah dengan semuanya."
Yoongi mengambil butir nasi yang menempel di ujung bibir Taehyung dengan sayang. Anak itu mengunyah makanannya pelan-pelan. Setelah dirasa Taehyung sudah tenang kembali, saya melanjutkan makan dan tak lagi memerhatikan.
Prak! Tapi baru saja menelan nasi, saya dikejutkan oleh bantingan sumpit dan mangkuk. Meja sempat bergetar. Isian gelas sampai tumpah sedikit. Untung saja tidak ada barang yang pecah.
"Taehyung, kamu ini kenapa, sih?" Saya bertanya padanya sembari menahan kesal. Ingin sekali memarahinya!
"Heeng… saya tidak mau kuliaah!" teriaknya, ngotot.
"Kau harus kuliah!" Teriakan Taehyung dibalas Jungkook. Anak itu sama ngotot-nya. Dia terlihat marah.
"Jungkook kalau aku tidak kuliah, tapi langsung menikah saja apa tidak apa-apa?"
"Heh! Jangan seenaknya bicara!" Sumpit besi milik Jungkook teracung-acung. "Berhitung saja tidak becus! Sekolah dulu yang tinggi, supaya orangtuamu bangga. Setelah itu bekerjalah sampai kamu mapan, baru pikirkan pernikahan."
"Bagaimana kalau jodohnya sudah ada sebelum aku mapan?"
"Pokoknya mapan dulu!"
"Nanti jodohnya keburu kabur."
"Min-ssaem, saya capek meladeni dia! Boleh tambah nasi gorengnya lagi, tidak?"
"Ah, eng, boleh…"
Yoongi menyauk nasi goreng di wadah besar. Jungkook tak sabar menunggu. Taehyung si biang kerok sadar kalau saya sedang memegangi dahi.
"Park-ssaem kenapa?"
"Darah tinggi!" pekik saya keki.
Kenapa selalu begini? Kenapa selalu ada hal yang membuat darah saya naik ke ubun-ubun?
.
.
.
CONTINUED
