"Fate"
[ fate, isn't a thing that you could refuse ]
Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.
Warning
OoC detected
Alternate Reality
Typo(s) may be found
Failed at genre(s)
Brothership and slash hints
Plot-bunnies(?)
And others
.
—shunshines
.
.
Latihan seperti biasa siang ini terasa tidak biasa. Menjadi tidak biasa dikarenakan ada seorang pendatang baru dari Tokyo yang terkenal oleh gelarnya dahulu, Tokyo MVP. Selain itu, penampilannya yang cukup mencolok pun membuatnya menjadi pusat perhatian. Siapa lagi kalau bukan Hayato Akaba sebagai pelakunya.
Sebagai murid yang dipercaya guru, Takeru menjadi school guide-nya Akaba, seperti saat ia membimbing Shun sebulan yang lalu. Ia seperti biasa menjelaskan seluk-beluk tentang Teikoku, juga bercerita tentang Teikoku Alexanders, berhubung Akaba akan bergabung dengan tim tersebut.
Setelah bel pelajaran terakhir berbunyi, mereka berdua, dipimpin oleh Takeru, bergegas menuju lapangan american football. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Takeru tidak menyusul dan menjemput adiknya di kelas 10-2, namun, Taka masih setia bersamanya. Tadi, ia mengirim e-mail untuk Shun dan mengatakan bahwa ia tidak akan menyusul ke kelas dengan alibi sedang ada urusan. Maksud hati, sih, tidak ingin adiknya menjadi dekat dengan si laba-laba merah di sampingnya ini.
Sesampainya di lapangan, Sang Kapten yaitu Heracles sudah stay di sana. Akaba pun disambut dengan lawakan khasnya yang sama sekali ... ehem, tidak lucu. Seperti halnya Shun yang diajak berkeliling sebelum memulai latihan, Akaba pun begitu.
"Akaba." Panggilan dari Takeru membuat si Maniak Musik berhenti melangkah, bahkan Heracles juga ikut berhenti. Akaba berbalik, langsung berhadapan dengan Eyeshield 21 Notre Dame yang memanggilnya. Anak laki-laki dengan rambut acak-acakan itu menatapnya dengan tatapan tajam yang tegas, juga tatapan kompetitif.
"Ada apa, Yamato?"
"Seharusnya, adikku yang menantangmu. Namun, aku yakin dia tidak akan melakukannya. Jadi, aku saja yang mewakilinya untuk menantangmu," ujar Takeru sambil tersenyum miring. "Aku hanya ingin membuktikan gelar Tokyo MVP-mu."
"Fuh, sepertinya tantangan ini menarik." Akaba menarik seulas senyum kecil. "Jadi, apa tantangannya?"
"Shun adalah mantan ace di Amerika, dan dia bisa naik ke Tim Tiga dalam waktu dua hari. Jadi, aku menantangmu untuk bisa naik ke Tim Tiga dalam satu hari, Eyeshield 21 Kanto," jawab Takeru dengan nada tidak terbantahkan. Kata-kata absolut yang tidak bisa diganggu gugat seperti biasa.
Akaba tampak tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti. Ekspresi yang terpancar dari dua iris merah gelap itu pun tidak terlalu berubah—Takeru lebih senang membaca ekspresi dan pikiran orang lewat tatapan mata.
Ia pun membenarkan kacamata birunya. "Fuh, kuterima tantanganmu, Eyeshield 21 Notre Dame."
"Teikoku akhir-akhir ini kedatangan orang-orang yang suka tantangan, ya! Semakin menarik!" timpal Heracles sambil tertawa, merusak atmosfer tegang di antara kedua Eyeshield 21 tersebut. "Aku belum bisa memperkirakan apa jadinya kalau Akaba dengan Kakei naik ke Tim Satu bersama kami—aku, Yamato, dan Taka."
"Pastinya Teikoku akan semakin hebat dan terkalahkan," ujar Takeru sambil tersenyum percaya diri. Secara tidak langsung, tadi ia juga memuji Shun—yang sekarang entah dimana—dan Akaba.
"Dan juga menakutkan," lanjut Taka yang baru keluar suaranya. Memang sejak tadi, si bungsu Honjo ini masih terfokus kepada buku yang dibacanya.
Setelah itu, Heracles benar-benar mengantar Akaba untuk berkeliling. (Salahkan Takeru Yamato yang tadi mencegat si newcomer itu). Dan panjang umur sekali, begitu Sang Kapten Teikoku dengan si Maniak Musikitu meninggalkan tempat untuk mengikuti tur singkat mengelilingi Teikoku Alexanders, orang yang tadi dicari Takeru pun muncul.
"Hei Shun, tumben sudah ke sini," sapa Takeru dengan senyum penuh kharismanya begitu ia menyadari keberadaan sang adik.
Shun sedikit mengedikkan bahunya, seperti melempar pertanyaan 'memang kapan seharusnya aku ada di sini?', namun ia tidak benar-benar berniat untuk bertanya. Ia tidak pernah benar-benar berniat untuk bertanya sesuatu di luar american football dan sedikit tentang pelajaran sekolah kepada kakaknya, yang dirinya sendiri tidak tahu apa alasannya. "Tidak ada guru di jam pelajaran terakhir. Kami sekelas langsung ke luar setelah bel berbunyi."
"Pantas saja," komentar Takeru sambil menepuk kepala dan mengacak helai indigo Shun. Kegiatan itu sudah menjadi rutinitas harian yang dilakukannya kapan pun dan dimana pun mereka berada.
Shun yang mendapati rambutnya menjadi acak-acakan, mengubah ekspresi wajahnya yang datar menjadi sedikit merengut. Ditambah lagi, ia terlihat seperti seorang bocah karena diperlakukan seperti itu. Mencoba cuek, ia pun menuruti keinginan hatinya semula, yaitu mencari seseorang.
Iris azure-nya tampak mencari-cari seseorang. Takeru yang lagi-lagi menangkap basah dirinya pun bertanya tanpa basa-basi, "Mencari Akaba, Shun?"
"A-apa-apaan! Siapa yang mencarinya juga." Shun berkelit, agak sedikit tergagap. Meskipun tebakan Takeru 100% benar, ia tidak mungkin melukai harga dirinya karena secara terang-terangan mengaku bahwa ia mencari sosok Hayato Akaba itu di depan kakaknya.
"Bilang saja kalau kau malu mengakuinya," goda Takeru, membuat Shun semakin merengut. Namun, Takeru tiba-tiba menyambung ucapannya, "Tidak, aku bercanda. Kau ke sini karena mencariku, kan?"
Shun memutar bola matanya. "Enak saja."
Ia tidak berniat melanjutkan debat karena ia menyadari ada seseorang yang berada di sisi kakaknya saat ini. Siapa lagi kalau bukan receiver andalannya Teikoku; kakak kelasnya; pacar kakaknya, Taka Honjo. Sebagai adik Takeru, Shun tidak seharusnya canggung karena ia menunjukkan kedekatannya dengan sang kakak. Tidak seharusnya.
Namanya kakak-adik, untuk apa canggung?
Tapi, Shun masih punya otak untuk berpikir. Meskipun ia tidak menunjukkan terang-terangan bahwa ia menyukai saat-saat Takeru menggodanya, namun, jauh di dalam hatinya tetap saja ada rasa suka. Rasa suka yang semakin berkembang. Rasa suka yang tidak bisa mendeskripsikan hubungannya dengan Takeru saat ini.
Dan bukankah ia sudah memendam perasaannya?
Well, akui saja, semakin Shun memendam perasaan cintanya terhadap sang kakak, semakin ia menginginkan kakaknya. Walau begitu, ia tetap tidak akan pernah menunjukkannya. Seumur hidup pun ia tidak akan pernah menunjukkannya. Ia masih dan sangat tahu diri.
Karenanya, Shun pun memilih untuk kembali ke ruang Tim Tiga daripadi berdiri berhadapan dengan sepasang ace itu.
Setelah pamit, ia pun meninggalkan tempatnya. Namun, belum dua langkah dirinya berjalan, Takeru sudah mencegatnya.
"Kenapa terburu-buru begitu, Shun?"
"Aku hanya ingin bergabung dengan yang lain. Lagipula, sebentar lagi latihannya dimulai," jawab Shun beralasan tanpa menatap Takeru. Setelah tidak ada halangan lagi, ia pun bebas untuk kembali ke ruang Tim Tiga.
Sementara di sisi Takeru. Ia mengajak Taka untuk segera berganti baju. Takeru tahu benar, sejak tadi, Honjo junior ini sudah gatal ingin berganti baju. Namun, Takeru juga tahu kalau Taka tidak pernah mendahuluinya. Tidak pernah sekalipun. Si bungsu Honjo itu selalu mendahulukannya dan jarang berbicara duluan. Kepekaan Takeru terhadap Taka sudah terlatih sejak beberapa bulan yang lalu, sehingga ia selalu berinisiatif duluan dalam melakukan hal apapun dengan kekasihnya. Cocok sekali dengan sifatnya yang lebih suka memimpin.
Mereka berdua pun berjalan memasuki sebuah gedung yang didesain ala Yunani Kuno—ciri khas Teikoku—yang diketahui adalah ruang klub Tim Satu. Namanya juga tim reguler, semuanya diistimewakan. Ruang klubnya berukuran cukup luas dengan fasilitas lengkap. Satu gedung itu terdiri dari beberapa ruangan. Ruang tempat berkumpulnya tim reguler untuk diskusi, ruang ganti, dan kamar mandi. Ada koridor yang menghubungkan gedung Tim Satu dengan ruangan tempat diskusi Tim Satu sampai Tim Enam di dalamnya.
"Taka."
Mendengar namanya dipanggil, Taka menghentikan sejenak kegiatan membacanya, lalu menengadah untuk menatap sepasang iris cokelat Takeru. "Ya?"
"Aku ingin mendengar pendapatmu," jawab Takeru sembari otaknya memutar kata-kata yang tepat untuk mewakili semua perasaannya.
(Kalau kalian bertanya perasaan apa, jawabannya adalah perasaan yang dinyatakannya semalam, tepatnya setelah ia mencium Shun yang sedang tertidur secara diam-diam.)
"Kalau kau memiliki seorang sahabat yang sudah kauanggap saudara, dan kalian bermain di klub amefuto yang sama. Kau berpikir bahwa kalian akan terus bersama dalam satu tim, berjuang bersama, dan meraih kemenangan bersama. Kalian membuat janji bahwa kalian akan tetap bersama, baik saat di dalam klub maupun di luar klub." Takeru memulai tanpa ragu. "Lalu, tiba-tiba sahabatmu mengingkari janji kalian dengan keluar dari klub amefuto dan bergabung dengan klub lain di sekolah yang sama. Apa yang akan kaulakukan, Taka?"
Taka diam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Yang namanya janji dan kepercayaan, kau tidak akan bisa kembali percaya dua hal itu sudah diingkari. Meskipun persahabatan kami menjadi renggang, aku tidak akan memaksanya untuk tetap di klub. Dia bebas melakukan apa yang dia mau."
Ada jeda sejenak, dan berhubung Takeru tidak mengisi jeda tersebut, Taka pun mengisinya dengan pertanyaan. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Takeru?"
"Random question of the day," jawab Takeru, sedikit berbohong. Ia tersenyum untuk menutupinya. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo masuk, kita sudah sampai di ruang ganti."
.
.
Shun berkali-kali harus meyakinkan dirinya kalau ia tidak salah lihat dan salah dengar. Namun, bagaimana pun usahanya untuk menetapkan bahwa ia salah melihat dan mendengar, tetap saja nihil. Semua orang—bahkan pelatih dan Tim Satu—berkata bahwa si anak baru maniak musik nyentrik yang memiliki gelar Tokyo MVP itu berhasil masuk Tim Tiga dalam satu hari, dan hanya dirinyalah yang tidak percaya. Bukannya Shun meremehkan, tapi, satu masalah kecil membuatnya mengeluh dalam hati, bertanya entah kepada siapa kenapa Eyeshield 21 Kanto freak itu harus berada di tim yang sama dengannya.
Jadi, di sinilah Shun Kakei—ralat, marga Kakei-nya sudah diganti dengan marga Yamato sejak sebulan yang lalu, di ruang ganti Tim Tiga, membereskan lokernya agar ia bisa melupakan fakta kalau ia berada di tim yang sama dengan Akaba. Sekaligus untuk membunuh waktu menunggu Takeru yang tadi memberitahunya bahwa ia akan bubar lebih telat dua puluh menit karena ada rapat khusus Tim Satu.
Ruang ganti sudah sepi. Tim Tiga yang lain sudah pulang duluan. Minus Shun dan si anggota baru—Hayato Akaba—yang sekarang entah ada di mana.
KRIET
Pintu terbuka saat Shun sedang fokus membereskan loker, membuatnya menolehkan kepala, kaget karena pintu itu tiba-tiba terbuka.
"Fuh, ternyata kau masih di sini."
Dan sosok Hayato Akaba muncul dari ambang pintu.
Shun menghela napas kecil. Ia baru saja memikirkan Akaba, dan tiba-tiba si laba-laba merah itu sudah ada di sini. Panjang umur sekali.
"Begitulah."
Akaba melangkah masuk ke ruang ganti setelah menutup pintu. Langkahnya bisa terdengar jelas oleh Shun—jelas saja, sekarang mereka hanya berdua, dan keadaan sekeliling sudah sepi. Akaba berjalan ke lokernya yang berjarak dua loker dari loker Shun, mengambil tas sekolah dan tas gitar, lalu berjalan lagi ke bangku yang berada di tengah ruang ganti. Tanpa berkata apa-apa kepada Shun.
Tanpa disadarinya, Shun menahan napas dan membeku di tempat saat ia berjalan ke lokernya.
Shun menggelengkan kepalanya, berusaha untuk lari dari suasana canggung sekarang. (Mungkin ia saja yang merasa canggung, toh, si Hayato Akaba itu dengan tenangnya mengeluarkan gitar dan mulai memetik nada-nada dari senarnya). Ia mengalihkan perhatiaannya kepada isi loker yang sudah tertata rapi, namun, ia tidak mau berdiam diri. Shun pun tidak begitu berniat untuk pamit duluan dan ke luar ruang klub, lalu menyendiri lagi di lapangan menunggu kakaknya.
"Kenapa masih di sini, Shun?" Akaba mengeluarkan suaranya, tanpa menoleh dan masih asyik memetik nada dari senar gitar merahnya.
"Aku menunggu kakakku," jawab Shun singkat, juga tanpa mengalihkan perhatian dari lokernya.
"Fuh, begitu."
Shun baru akan membuka mulutnya lagi, namun ia ragu—oh, astaga, aku ini kenapa sih. Ia menggelengkan kepalanya lagi, lalu benar-benar membuka mulut untuk bertanya, "Kau sendiri kenapa belum pulang, Akaba?"
"Aku menunggumu di sini."
Shun, untuk kesekian kalinya, harus merasakan darah naik ke pipinya. Ia tidak pernah membayangkan dan menerka hidupnya akan menjadi lebih berat seperti ini—setiap hari harus merasakan serangan jantung akut dan pipi yang memanas—semenjak ia masuk ke Teikoku. Bahkan sebelum masuk ke Teikoku, saat Shun mulai menjadi bagian dari anggota Keluarga Yamato, ia sudah merasakan hidupnya berubah.
Dan reaksi Shun pun selalu sama. Kalau tidak protes, ya diam. Diam, namun mengharapkan hal itu terjadi lagi.
Drrrt—suara handphone bergetar.
Shun amat bersyukur HP-nya bergetar. Ia bisa kabur dari suasana canggung yang tidak terelakkan ini. Ia mengambil HP dari saku, mengeceknya, dan satu e-mail dari Takeru Yamato-lah penyebab getaran pada HP-nya.
'Kau di mana?'
Shun mengetik pesan balasan dengan cepat. 'Masih di ruang ganti.'
"Fuh, Yamato, ya?" lagi, Akaba mengeluarkan suaranya, tapi masih asyik dengan gitarnya, tidak sekalipun menatap Shun. Dan juga masih bersikap cuek terhadap anak laki-laki yang lebih muda itu.
Padahal, ia peduli. Sangat.
"Iya," jawab Shun canggung sambil sedikit menggaruk pipinya.
Ini aneh. Atmosfernya berubah, sama seperti jika aku bersama dengan Takeru niisan, ujar Shun dalam hati. Keberadaan Akaba, sejak pertama kali bertemu dengan anak laki-laki bersurai merah itu pun ia sudah merasakan kehangatan yang menyerbu dadanya jika ia berada di dekat anak itu.
"Shun," panggil Akaba, menyadarkan Shun dari lamunannya. Shun menutup pintu lokernya, lalu sedikit berbalik ke belakang dengan canggung.
"Ya?"
Akaba berhenti memainkan Isabel-nya. Masih di posisi yang sama, ia berkata, "Kau menyukai Yamato?"
Pertanyaan yang hampir menjadi pernyataan itu membuat Shun nyaris terlonjak kaget.
"Fuh, kau tidak usah menyembunyikannya lagi. Aku tahu, kok," lanjut Akaba. Jemari rampingnya kembali memetik senar gitar tersayangnya lagi.
Shun terhenyak. Ia membalikkan badannya lagi, menatap loker di hadapannya.
"Dari mana kau bisa tahu...?" ia mendesis tidak terima.
"Ritme dan tatapan matamu saat bersama dengannya."
Jawaban simpel dari Akaba, membuat Shun terpekur.
"Fuh, adik menyukai kakaknya sendiri, meskipun bukan saudara kandung," ujar Akaba dengan nada menyindir. "Kau tidak menyesal, hm?"
"Tentu saja aku menyesal," jawab Shun cepat. Ia menundukkan kepalanya. Oh, akhirnya datang hari di mana ia akan dihakimi seperti ini. "Sudahlah, jangan bahas Niisan sekarang."
Akaba benar-benar berhenti memainkan gitarnya. "Dari ritmemu, aku tahu kau sangat menginginkan kakakmu. Kau ingin menjadikannya sebagai nada pelengkap dari lagumu." Ia menyimpan gitar yang dinamakan Isabel itu di sampingnya. "Benar, kan?"
Shun menghela napas, semakin menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa berkelit atau lari dari kenyataan lagi. Semua yang dikatakan Hayato Akaba tadi adalah fakta.
Fakta yang sangat menohok. Yang membuat jantungnya berdenyut nyeri.
"Bagaimana aku berani berharap lebih, kalau Niisan adalah kakakku sendiri, dan dia sudah bersama Taka-san," bisik Shun dengan lirih, namun masih bisa terdengar jelas oleh Akaba.
"Sederhana saja, Shun," ujar Akaba sambil melepas sunglass biru tuanya. "Berhenti mengharapkan orang yang tidak akan pernah bisa kaudapatkan."
Seperti ada panah yang menusuk tepat di jantung, mengoyaknya, dan menembus sampai ke belakang, Shun bisa merasakan dadanya menjadi sangat sakit. Sakit sesakit-sakitnya, dan ia bersumpah ia belum pernah merasa dadanya sesesak ini.
Anak laki-laki berhelai indigo itu menghela napas dan mendesah pelan. Shun menggigit bibir bawahnya, lalu senyum yang sangat tipis terulas di wajahnya. "Aku tahu kok, Akaba," balasnya pelan. "Tapi, seberapapun usahaku untuk melupakan perasaanku sendiri, hasilnya sama saja..."
Akaba tidak menjawab. Ia berdiri dan berjalan menghampiri Shun yang masih berdiri menghadap loker. Mendengar langkah kaki Akaba yang mendekatinya, Shun membalikkan badannya dengan ragu. Dan entah mau menyesal atau tidak, mata birunya langsung bertemu dengan mata merah Akaba.
Jarak keduanya kini tidak ada setengah meter lagi. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Akaba menatap Shun dalam, membuat yang ditatap menjadi beku mendadak. Bukan tatapan mengintimidasi, maupun tatapan nyalang karena marah. Tatapan lain yang jauh dari kemarahan atau kebencian.
Dan Shun bersumpah Akaba menatapnya dengan tatapan yang sama seperti saat Takeru menatapnya.
"Fuh, pintu ke luar terbuka lebar untukmu, Shun. Apa yang membuatmu masih diam di tempat?" Akaba membuka mulutnya, menanyakan hal yang bahkan Shun sendiri masih mencari tahu jawabannya. "Apa hanya Yamato, nada yang kauinginkan dalam lagumu?"
Shun terdiam. Ia menelan saliva-nya dengan susah payah. "Aku tidak tahu..."
"Fuh, begitu."
Shun menundukkan kepalanya lagi, tidak berani membalas tatapan Akaba.
TEP
Shun refleks menahan napas ketika ia mendengar langkah kaki Akaba mendekatinya—
"Lantas, apa ada lagumu yang lain, yang bisa kuisi dengan nadaku, Shun?"
—kemudian ia menengadah lagi, tidak percaya dengan ucapan Eyeshield 21 Kanto di hadapannya.
Shun masih diam tanpa suara, tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang memukul-mukul dari dalam, di dada sebelah kirinya. Jantungnya berdentum lebih keras saat Akaba menyentuh dagunya, sampai ia takut kalau Akaba mendengar detak jantungnya yang tidak normal itu.
Detik berikutnya, Shun bisa merasakan sesuatu yang lembut dan sedikit basah mengunci bibirnya.
.
.
Akaba menyentuh dagu Shun. Ia bisa mendengar detak jantung Shun yang semakin tidak beraturan, sama seperti jantungnya. Tanpa ragu, ia menempelkan bibirnya pada bibir Shun, lalu melumatnya. Ia memejamkan kedua matanya, merasakan sensasi hangat menjalar di dadanya. Juga manis di mulutnya.
Akaba mencium Shun tidak sampai dua puluh detik, karena ia bisa mendengar Shun mendesah pelan, menandakan bahwa anak laki-laki yang lebih muda darinya itu kehabisan napas. Pipinya pun memerah dan napasnya agak tersengal.
"Dasar pervert," ujar Shun pelan sambil memukul bahu Akaba. "Kau saja yang mencari lagunya dan masuklah sesukamu, Baka."
Akaba tersenyum kecil, lalu mengacak rambut Shun. "Terima kasih."
—to be continued—
a/n:
hai.
sekedar ngasih tau aja, chapter ini pas bagian2 akhirnya berisi curhatan yunna. cius deh.
dan info gak penting lainnya, fic ini jadi kenyataan. yunna ngerasain apa yg shun rasain di sini, meskipun cuma di RP. :")
kritik? saran? feel? eyd? sila dituangkan di kolom review. ㅇㅅㅇ
review-nya ditunggu yaa ㅇㅅㅇ
