"Jihyun, aku mau buat ramen, kau—"

Saya terdiam di tempat saya berdiri ketika melihat Jihyun yang sedang menatap Yoongi lamat-lamat dan dalam satu kedipan, dia mendaratkan sebuah ciuman di bibir itu.

.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

Bibir mereka hanya sekejap saling menempel. Jari-jari Jihyun bergerak menyapukan anak-anak rambut yang berantakan tutupi dahi Yoongi. Saya mendengar dia berbisik,

"Kau itu cantik. Tapi selain cantik kau pasti punya sesuatu yang bisa membuat kakakku bertekuk lutut padamu. Apa itu? Aku ingin tahu."

Jihyun memang seorang playboy kelas kakap yang hobinya menggoda orang. Ucapannya tak pernah serius, tak pernah benar-benar jadi sesuatu yang berarti. Dia hanya membual tentang cinta dan ini-itu. Tapi kali ini saya tak melihat Jihyun yang biasa. Kata-katanya terdengar jujur dan keluar dari hati. Pertanyaannya seolah menunjukkan bahwa ia memang ingin tahu lebih banyak tentang Yoongi. Dan ciuman itu, mungkin bukanlah ciuman asal semata.

Ah, tapi kenapa? Rasanya dada ini sesak. Nyeri. Lapar pun mendadak lenyap entah ke mana. Sebungkus ramen instan di tangan hanya bisa saya remat kemasannya. Saya tak paham apakah sesak ini karena saya kecewa atau marah. Atau mungkin keduanya. Saya pejamkan mata untuk menahan itu.

"H-hyung?"

Jihyun menyadari keberadaan saya. Dia yang gelagapan buru-buru berdiri.

"Aku mau pindahkan Yoongi. Dia tidak boleh tidur di sini," kata saya. Sebungkus ramen instan itu saya taruh di meja.

"O-oh, silakan, silakan."

Yoongi tidak terusik dengan percakapan kami. Dia tetap nyenyak bahkan ketika saya menyelipkan tangan di bawah lutut dan di bawah tengkuknya untuk menggendong. Yoongi hanya begumam, menggerakkan bibir tipisnya sedikit. Lalu dia mengusakkan hidungnya di dada saya ketika saya mulai berjalan untuk membawanya ke kamar.

"Hyung."

Saya mengabaikan panggilan Jihyun. Saya masuk kamar dan menutup pintu. Direbahkanlah Yoongi di atas kasur. Saya selimuti dia sampai ke bahu. Yoongi melenguh nyaman. Saya pandangi sampai dia kembali tenang dalam tidurnya.

"Selamat tidur," bisik saya.

Saya ingin bicara dengan Jihyun, tapi tak ingin Yoongi mendengar. Jadilah saya pindahkan dia ke kamar. Saya tak mau membuat masalah. Saya tak ingin Yoongi tahu seandainya saya dan Jihyun bertengkar. Sebetulnya saya tak mau memulai pertengkaran. Tapi kalau saya diam saja, esok hari Jihyun mungkin akan berbuat lebih jauh. Menggoda, kebablasan, lantas jadi suka. Siapa yang mau calon istrinya diganggu walau itu oleh adik sendiri?

"Jihyun."

"Iya?"

Saya kembali ke ruang tengah, lalu berdiri di hadapannya. Anak yang duduk di sofa itu meneguk ludah.

"Aku lihat apa yang kau lakukan pada Yoongi tadi."

"A-e-uung..."

Mungkin suara saya terlalu dingin hingga Jihyun tergugu dan mengkerut takut. Jujur saja saya tak mau begini. Saya mendesah. Resah rasanya. Memijat kepala pun tak membantu apa-apa. Saya bingung.

"Sebenarnya maumu apa?"

"M-maaf, Hyung. Maafkan aku."

Tiba-tiba dia meminta maaf dengan suaranya yang mencicit. Dia bangun dari duduknya. Di depan saya dia menundukkan kepala. Saya bisa melihat sirat sesal walau sebagian wajahnya tertutupi rambut.

"Aku ... menciumnya begitu saja tanpa berpikir dulu. Memang bodoh aku ini. Aku tahu kau pasti marah. Kau boleh pukul aku sepuasmu." Dia menatap saya dengan mantap, bibirnya terkulum, seperti sudah siap menerima ganjaran atas perbuatannya.

Benar, dia sadar dia salah. Tapi kalau sadar, kenapa masih melakukannya? Saya marah! Tapi saya tak punya hasrat untuk memukulnya. Saya tak mau menjadikan ini sebagai perkara dan memperpanjang masalah.

Sembari berlalu, saya berucap, "Sudah, tidurlah sana."

Akhirnya, saya putuskan untuk abaikan dia dan meninggalkannya di ruang tengah. Sejak kecil, kalau saya sedang benar-benar marah, saya tak pernah menunjukkannya dengan bentakan atau pukulan. Saya tak sudi melakukan itu, cuma buang-buang tenaga. Saya lebih sering memilih untuk diam dan menyendiri sampai suasana hati saya membaik.

"Selamat tidur, Hyung."

Sempat saya dengar ucapan Jihyun sebelum pintu kamar saya tutup rapat.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Pagi menjelang. Jam weker berbunyi tepat pukul lima lebih sepuluh. Saya bangkit dari duduk untuk mematikannya. Yoongi menggeliat di kasur. Pelan-pelan matanya terbuka. Melihat saya yang berdiri memegang jam weker, dia tersenyum.

"Pagi, Jimin."

Saya membalas senyumnya. "Pagi..."

Saya sedikit terkejut ketika suara yang keluar dari tenggorokan sedikit parau. Saya berdeham sembari kembalikan jam weker ke atas meja nakas (dengan harapan Yoongi tak sadar dengan parau suara saya barusan).

"Ada apa dengan suaramu itu? Kau tidak tidur semalam?"

Karena dia bertanya, terpaksa saya mengaku. "Tidak."

Semalam saya memang tak tidur sama sekali. Saya habiskan waktu dengan bermain gim. Berjam-jam saya duduk di depan laptop dengan telinga yang disumbat earphone. Tak ada keinginan untuk bergelung dalam selimut dan turut bergabung dengan Yoongi untuk tidur. Saya kecewa, ya. Saya marah, ya. Bermain gim adalah sebuah pengalihan supaya saya tak melulu memikirkan tentang apa yang saya lihat di ruang tengah itu—tentang Jihyun yang mencium Yoongi, dan Yoongi yang tak bereaksi apa-apa setelah dicium oleh adik saya. Ugh. Rasanya masih kesal. Gim tembak-tembakan ternyata belum cukup ampuh untuk melampiaskan kekesalan itu.

"Kemari," pintanya.

Saya naik ke kasur, lalu menyibak selimutnya. Dia menggeser badannya lantas bangun untuk duduk. Wajah saya dielus. Bagian bawah mata saya disentuh dengan jari telunjuk. Saya mengedip kaget. Untung Yoongi menyentuhnya dengan lembut, kalau tidak, mata saya bisa tercolok.

"Lusa kita menikah. Berani-beraninya kau begadang."

"Aku tidak bisa tidur, mau bagaimana?"

"Kenapa kau tidak bangunkan aku? Padahal kalau kau mau aku bisa memelukmu dan menyanyikan Nina Bobo sampai kau tertidur."

"Aku tidak bisa..." Saya menggeleng.

"Tidak bisa? Kenapa?"

"Kau tidur begitu nyenyak, aku tidak tega membangunkanmu."

"Tidak apa-apa, kau bisa bangunkan aku. Aku tidak keberatan."

"Tidak..."

Yoongi mendengus. Dia pegang tangan saya. "Jimin, kau tak perlu selalu pikirkan aku. Pikirkan dirimu sendiri. Kalau kau tak tidur, kau bisa sakit. Aku tak mau kau sakit."

"Aku baik-baik saja, begadang sudah biasa."

"Tapi kenapa kau begadang? Pasti ada sesuatu yang membuatmu tak bisa tidur. Benar, bukan?" Nada bicaranya mulai terdengar sarat kekhawatiran. Saya balik memegang tangannya untuk meyakinkan bahwa saya baik-baik saja.

"Tidak ada, hanya tidak mengantuk saja."

"Katakan."

Kalau dia sudah memaksa, tak akan ada habisnya. Saya bisa terus-terusan ditanyai sampai saya mau menjawab. Tapi bagaimana? Bagaimana caranya untuk mengatakan kalau semalam saya memergoki Jihyun yang sedang mencium bibirnya?

"Ayo, segera bersiap. Nanti kita terlambat ke sekolah." Saya memlih untuk mengalihkan topik. Saya berdiri sembari tetap memegangi tangan Yoongi, untuk mengajaknya turun dari kasur.

"Jimin."

"Pagi ini apa biar aku saja yang siapkan sarapannya?"

"Jimin, sudah kubilang tidak ada rahasia di antara kita!"

"Eh!"

Lengan saya ditarik. Karena tak punya pertahanan, saya terhuyung dan begitu saja Yoongi menangkap saya dalam pelukann. Sekali saya coba berontak untuk melepaskan diri dengan cara menggulingkan badan ke samping. Tapi bukannya melepaskan saya, Yoongi malah mengunci badan saya dengan lengan dan kakinya yang melingkar kuat. Dia mendorong saya sehingga saya mesti berguling satu kali lagi ke tepian kasur. Pergulatan itu berakhir setelah Yoongi duduk mengangkangi saya dan melepas kunciannya. Saya sesak napas, masih terkejut sekaligus lelah. Sedang Yoongi, cengingisan saja.

"Yoongi, apa yang baru saja kau—"

"Psst!"

Dia menaruh jarinya di depan bibir. Satu tangannya yang bebas dia gunakan untuk menopang badan. Dia membungkuk, merendah sampai hampir menempeli saya.

Di depan muka saya dia berucap, "Jangan berisik, nanti adikmu dengar."

"K-kau mau apa?"

"Aku hanya ingin kau bicara. Tapi tak perlu keras-keras. Ini antara aku dan kau saja. Cepat katakan. Suamiku tak bisa tidur dan aku harus tahu apa alasannya."

Saya tidak bisa bertatapan dengannya lama-lama. Wajah bangun tidurnya yang polos, rambutnya yang berantakan, dan kerah kaosnya yang miring itu, adalah pemandangan yang sebetulnya tak ingin saya lihat dalam keadaan seperti ini. Saya pun lantas berpaling muka untuk menghindari Yoongi.

"Jimin?"

"Sudahlah, kau tak perlu tahu."

"Kau tidak memercayaiku?"

"Bukannya begitu, astaga."

"Jimin, kalau ada sesuatu, katakan. Jangan dipendam saja. Kalau kau terus memendam perasaanmu, suatu saat kau tak akan lagi dapat menampungnya dan kau akan meledak. Itu merusak badan dan pikiran, tahu."

"Tapi Yoongi, aku—ck!" Saya mendecak menahan keki. Tangan saya terangkat untuk sedikit remat bahu Yoongi. "Ini bukan sesuatu yang penting. Sudahlah. Biarkan aku mandi dan siapkan sarapan, ya?"

Saya mencoba bangun. Dengan sedikit dorongan saya buat dia mundur. Tapi alih-alih turun dari atas badan saya, Yoongi malah balik mendorong dada saya hingga saya kembali berebah di kasur. Bantingan itu membuat kasur berderit. Dan Yoongi, tak juga mau beranjak.

"Jimin, jangan marah," katanya.

"Aku tidak marah."

"Lantas kenapa kamu mendecak, tadi? Ck, begitu." Dia menirukan apa yang sudah saya lakukan. "Aku minta maaf. Mungkin aku memang berlebihan. Maaf sudah membuatmu marah."

"Tidak, kau tak perlu minta m—"

Tanpa aba-aba, dia mencium bibir saya. Tangannya yang semula digunakan untuk menopang badan pun berpindah ke belakang kepala saya, menyelip di antara rambut dan bantal. Badannya yang tanpa topangan melandai rendah hingga dada dan perut kami saling bersentuhan. Ketika lidah Yoongi memaksa saya membuka mulut, sesuatu seperti menyetrum dan getarannya merambat sampai sekujur tubuh. Saya takluk, saya menyerah. Akhirnya saya memilih untuk menerima ciumannya. Kalau dipikir-pikir, secara tidak langsung Yoongi seperti mengembalikan ciuman yang sudah dicuri Jihyun. Tapi apa ini impas dan sepadan? Apa boleh saya menuntut lebih karena saya lebih berhak ketimbang adik saya itu?

"Ammh."

Yoongi meraup, mengulum, menggigit, mencecapi, hingga ciuman kami terasa basah dan panas. Saya sentuh punggung dan pinggangnya. Tak sengaja jari tengah dan jari manis menelusup ke dalam kaosnya. Kulitnya yang kenyal dan lembut itu saya belai-belai. Yoongi bergerak tak nyaman, mungkin karena kegelian. Dia melenguh tertahan dalam ciuman. Saya semakin menginginkan dirinya setelah mendengar lenguhan yang diredam itu. Tangan saya bergerak membelai tiap sisi punggungnya hingga ke tulang belakang dan tulang sayap. Ciuman kami semakin intim dan dalam. Dengan tangan yang masih bergerilya di dalam kaos itu, saya mendekapnya erat. Yoongi berjengit waktu tangan saya menyusup di ketiaknya.

Ciuman kami lepas karena paru-paru memberi peringatan untuk bernapas. Tapi itu hanya sesaat, sebelum bibir kami kembali bertemu. Saya baru sadar kalau Yoongi telah cukup lihai dalam berciuman. Sesekali dia mengambil napas pendek tanpa benar-benar melepas tautannya dengan bibir saya. Itu cara yang bagus untuk tetap mempertahankan ritme, bukan?

"E-eh."

Tahu-tahu Yoongi beralih mengulum dan menggigiti telinga saya. Giginya yang rata dan kecil-kecil membuat saya geli. Apalagi ketika dia melakukan itu sambil bernapas. Napasnya langsung berembus ke gendang telinga. Duh, embusannya bagai angin surga.

Cup! Pipi kiri saya dikecup. Tadinya saya kira dia hanya akan memberi kecupan singkat, nyatanya dia malah berusaha menyedot pipi saya.

"Y-yoongi," panggil saya, masih terkejut. Dia tertawa sembari menyeka bekas air liurnya yang membasahi pipi saya.

"Maaf ya," katanya. Kepalanya terantuk satu kali.

Saat itu, tanpa terhindarkan, saya melihat bukit dalam kerah kaosnya yang jatuh rendah. Saya menahan napas. Pikiran saya belum tertata, belum bisa berkata-kata. Saya tak mampu bicara di hadapan Yoongi yang (bisa dibilang) telah menyerang saya. Dia yang agresif tiba-tiba terlihat 1000 kali lebih memesona dari biasa.

"Kau mau ini?"

Yoongi menarik turun bagian tengah kerah kaosnya. Dia mengintip dadanya sendiri lalu menatap saya. Oh, sial! Saya sudah memandangi bagian itu selama sekian detik dan saya tertangkap basah!

"Mau pegang?"

Pertanyaannya yang terdengar sangat provokatif itu jelas-jelas sejalan dengan keinginan saya. Sembari menggigit bibir saya berpikir untuk cari keputusan. Rezeki memang tak boleh ditolak, apalagi ketika rezeki itu datang dan menawarkan diri untuk diambil oleh saya dengan cuma-cuma dan tanpa usaha. Tapi bagaimana bisa saya iyakan pertanyaannya barusan?

"T-ti-tidak. D-d-dilihat saja cukup, kok, hehe."

"...oke."

Yoongi membenahi pakaiannya. Dia juga hendak membenahi duduknya. Tapi saat dia melakukan itu, tiba-tiba dia berhenti dengan mata yang terbuka lebar. Rona di pipinya meluas seketika. Matanya berkedip-kedip cepat. Dia nampak resah dan saya tak tahu mengapa. Satu tangan yang tadinya menopang badan kemudian berpindah ke belakang punggungnya, turun, turun, lurus ke bokong, turun sedikit lagi, lalu jari-jari itu menyentuh sesuatu di tengah-tengah selangkangan saya.

"Ini kok...?"

Oh ternyata, teman saya turut terbangun gara-gara kegiatan pagi yang tak terduga ini!

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Walau Yoongi nampak cuek-cuek saja, malu yang saya rasa tak ada habisnya. Saya bahkan berdiam lama di kamar mandi hanya demi menuntaskan masalah dengan teman saya yang pagi-pagi sudah bagun dan susah tidur lagi. Gara-gara insiden itu, saya jadi tak punya muka di depan Yoongi. Tiap dia ajak saya bicara, selalu teringat saat di mana dia dengan polosnya memegang teman saya. Harusnya kemesraan kami di kasur subuh tadi berakhir dengan kecupan manis atau dekapan hangat, bukannya dengan hal memalukan seperti itu. Memang tak bisa dihindari, apalagi kalau sudah bernafsu. Hanya saja ... yaaah...

"Selamat pagi, Park-ssaem, Min-ssaem."

"Pagi."

Seorang guru menyapa, saya dan Yoongi menjawab serempak.

"Good morning to our lovey-dovey couple," sapa Kim-ssaem ketika kami sampai di meja masing-masing. Guru bahasa Inggris itu terlihat sangat rapi. Dia wangi.

Saya lihat Yoongi hanya tersenyum saja. Sikapnya yang seperti itu sungguh lain dengan dia di rumah. Memang masih manis, tapi sebetulnya Yoongi tak sepemalu ini.

"Mau buat kopi dulu ya," kata Yoongi sembari menggeluyur pergi. Dia minta izin tanpa menyebut nama saya. Ya tak perlu. Memang pada siapa lagi dia mau izin kalau bukan pada saya yang berstatus suami—eh, calon suaminya?

"Sit down." Kim-ssaem meminta saya untuk segera duduk. Entah dia mau bicara apa.

"Apa?" tanya saya.

"Tell me, what's good? Something happened last night?"

Saya bengong sejenak. Sudah tahu saya tak pandai bahasa Inggris, masih saja ditanya dengan bahasa asing itu. Saya kan mesti berpikir dulu untuk menjawabnya. Ah, tapi siapa dia? Kenapa harus saya jawab dengan bahasa Inggris juga?

"Tidak. Tidak ada apa-apa."

"Anda terlihat malu-malu. Apa semalam Anda berdua sudah melakukan praktek pra-malampertama?"

"Bicara apa, Anda ini!"

"Tidak ya? Ooh, saya kira. Ya sudah kalau begitu."

Melihat saya kesal, dia malah mengikik. Dasar orang jahil. Padahal masih pagi, tapi dia sudah memancing keributan.

Hari ini kami berangkat ke sekolah untuk mengajar selama setengah hari, seperti yang telah disepakati dengan Kepala Sekolah. Karena tidak ada guru pengganti untuk mata pelajaran yang kami ajar, kelas-kelas yang kami tinggalkan hanya bisa kami suruh menyalin buku teks dan mengerjakan soal latihan. Memang tak mengenakkan, karena rasanya seperti melepas tanggung jawab, yang mana kami seharusnya berada di kelas selama pelajaran berlangsung. Tapi lain guru, lain pula muridnya. Mereka nampak senang-senang saja ketika dibiarkan belajar sendiri.

Soal Jihyun, tadinya saya suruh dia menunggu di rumah, toh siang hari kami sudah kembali. Tapi bukannya menurut, dia malah menyusul kami ke sekolah. Anak itu memang tak bisa berdiam lama di suatu tempat. Dia seperti suatu organisme kecil yang mesti selalu bergerak dan berpindah untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Saya tidak bisa mengawasinya selama jam pelajaran. Mau disuruh menunggu di ruang guru pun percuma. Dia pastilah akan menggeluyur pergi ke tempat yang ingin dia kunjungi. Pada akhirnya saya lepaskan dia. Saya biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Tapi dengan peringatan untuk tak macam-macam tentunya. Waktu dia katakan ingin temui Jin-ssaem pun, saya wanti-wanti untuk tak berbuat yang aneh-aneh pada dokter itu.

"Namamu siapa? Kau manis juga."

"Aku Jungk—"

"Jangan ganggu Jungkook, dia milikku!"

"Oh, jadi namamu Jungkook? Kok temanmu galak sekali, sih?"

"Dia—"

"Biar aku galak! Yang penting Jungkook milikku!"

Saat sedang berjalan menuju kelas yang akan saya ajar di jam kedua, tak sengaja saya mendengar ribut-ribut orang bercakap. Tak diduga, saya mendapati Jihyun yang sedang bicara dengan Taehyung dan Jungkook di koridor. Seharusnya dia di ruang kesehatan bersama Jin-ssaem, kenapa malah berkeliaran?

"Salam kenal ya, Jungkook. Aku adiknya Park Jimin, salah satu guru di sini. Namaku Park Jihyun, bisa dipanggil Sayang."

"SAYAANG?!"

Habis Taehyung berteriak, saya tak mau peduli lagi. Saya pura-pura tak melihat mereka dan lanjut berjalan lewati koridor. Lebih baik diam-diam saja daripada berhenti untuk sekedar menegur. Bisa-bisa saya terlambat masuk kelas gara-gara anak-anak itu. Jihyun seorang saja sudah bikin pusing, apalagi ditambah dengan Taehyung dan Jungkook? Paket kombo. Saya pilih angkat tangan dan angkat kaki.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Istirahat siang adalah waktu yang paling saya nantikan. Selain karena ingin segera makan, saya juga ingin segera pulang. Yoongi bilang dia menunggu saya di atap sekolah untuk makan bersama. Awalnya mau senang, tapi tidak, dia bersama adik saya. Hancur sudah bayangan makan siang romantis ala-ala murid sekolah di drama tivi itu.

"Kau lama!" Jihyun meneriaki saya dari kejauhan. Suaranya berbenturan dengan angin.

"Akhirnya kamu datang juga," kata Yoongi, ketika saya menghampirinya. "Ini kotak bekalmu."

"Terima kasih."

"Lho? Jihyun mau ke mana?"

Pertanyaan Yoongi membuat saya mengalihkan atensi pada adik saya yang berdiri habis mengintip isi bekalnya. Dia memegang kotak bekal itu dengan kedua tangan, lalu tersenyum sampai giginya kelihatan. Saya jadi agak curiga pada apa yang dia maksudkan dari senyuman itu.

"Kalian makan berdua saja di sini, aku mau cari Jungkook dan mengajaknya makan bersama."

"Jungkook?"

"Yoongi-hyung, kenapa kau tak bilang kalau Jungkook sering main ke rumahmu?"

"He?"

"Sudah ya, aku mau cari Jungkook dulu. Bye."

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Lepas dari Yoongi, dia lari ke yang lain. Saya yakin pendekatannya tak akan mudah karena Jungkook punya pengawal yang melulu mengikutinya kemana-mana. Ah, tapi, masa bodoh. Itu bukan urusan saya. Yang penting, dengan perginya Jihyun, saya bisa berduaan dengan Yoongi.

Yes! Akhirnya!

"Sini! Kenapa duduknya jauh-jauh?" Yoongi menepuk spasi kosong di sampingnya. Saya melirik tepian bangku. Oh ya, saya memang mengambil tempat yang cukup jauh darinya. Seharusnya lebih dekat lagi.

"Yah, sumpitnya jatuh!" Karena rusuh, sumpit yang saya pegang terjatuh ke lantai. Alhasil, sumpitnya jadi kotor. Saya sangat menyesal, harusnya tak perlu buru-buru juga menggeser duduknya. Kalau tanpa sumpit, makannya bagaimana?

"Sepertinya ini pertanda kalau aku harus menyuapimu."

Ya ampun, Yoongi peka sekali. Terima kasih Tuhan.

"Kau keberatan?"

"Tentu tidak!" Dia terkekeh.

Sebuah bola nasi dia ambil dengan sumpitnya, lalu disuapkan ke mulut saya. Setelah itu, dia mengambil bola nasi lain untuk dirinya sendiri. Ternyata memang harus jatuh dulu sumpitnya supaya kami bisa bermesraan begini.

"Oh, ya. Tadi setelah mengajar, kakakku telepon," ucap Yoongi yang baru saja menelan makanannya.

"Apa katanya?"

"Dia dan orangtuaku sudah tiba di Seoul. Katanya mau jalan-jalan dulu dan nanti malam, mereka ingin makan bersama kita di penginapan."

"O-oh, oke."

"Bagaimana dengan orangtuamu?"

"Tidak tahu. Belum ada kabar. Mungkin nanti malam baru sampai, atau malah besok pagi. Entahlah. Aku masih menunggu telepon dari Ibu."

"Begitu ya. Padahal ingin sekali makan malam bersama mereka. Aku kan belum pernah bertemu ayahmu. Kira-kira apa yang akan dia katakan setelah bertemu denganku, ya? Apa dia akan menerimaku?" Pandangannya jauh mengawang.

"Kalau dia tidak menerimamu, dia tak akan merestui pernikahan kita."

"Benar juga. Tapi aku takut."

"Kenapa harus takut?"

Yoongi menaruh kotak bekal dan sumpitnya di atas bangku. Lantas dia mengepalkan tangan di paha. Raut wajahnya sedikit berubah jadi lebih serius. "Aku tidak cantik, tidak tinggi, tidak menarik. Aku hanya suka memasak dan bersih-bersih. Aku mungkin bukan menantu yang sempurna bagi—"

"Sst! Sudah, mari makan saja."

Saya ambil kotak bekal dan sumpitnya, lalu saya jejali mulutnya dengan telur gulung. Perihal ayah saya, Yoongi tak perlu khawatir sama sekali. Ayah saya memang tipe yang tak banyak bicara, tidak bertele-tele. Dia juga bukan tipe orang yang keras pada anak-anaknya. Apa mau saya, dia turuti. Tahu saya mau menikah, dia izinkan. Katanya saya bukan lagi anak kecil yang mesti diatur-atur. Saya sudah dewasa dan sudah seharusnya bisa mengatur kehidupan saya sendiri. Apa yang saya pilih, adalah tanggung jawab saya. Dia tidak lagi mau ikut campur. Kalau soal Yoongi, mungkin dari kemistri, ya? Ada yang bilang bahkan tanpa bertemu pun orang bisa saling menyukai. Ayah saya hanya tahu Yoongi lewat foto dan cerita dari Ibu. Tapi dia mau-mau saja menerimanya. Saya yakin, saat bertemu ayah saya nanti, Yoongi akan diperlakukan baik sebagaimana mestinya.

Ah, ya, saya jadi ingat dengan orangtua Yoongi. Ibunya ceria dan penuh semangat sementara ayahnya agak sulit untuk diajak berinteraksi dengan santai.

"Kenapa?"

Yoongi tahu saya melamun.

"Ehehe. Tidak. Sudah lama aku tak bertatap muka dengan orangtuamu. Aku merasa sangat gugup. Kau tahulah." Begitu jawab saya.

"Ya, aku tahu. Suamiku mungkin akan mencari seribu cara untuk terlihat baik di depan mertuanya. Tapi kuyakin apapun yang dia lakukan, meski hal bodoh dan tak penting sekalipun, mertuanya tetap akan menerima dia dengan senang hati."

Tunggu. Apa katanya tadi? Hal bodoh?

"Apa aku sering melakukan hal bodoh?"

"Apa harus kau bertanya?"

Yoongi tertawa. Langit siang begitu cerah dan biru. Saya memandang lansekap kota yang begitu luas di balik jaring kawat. Lusa saya sudah resmi jadi suami Yoongi. Saat pemberkatan nanti, ingin rasanya mencurahkan segenap perasaan saya di hadapannya.

Omong-omong, pengantin perlu pidato tidak, ya?

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

CONTINUED