"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Brothership and slash hints

Plot-bunnies(?)

And others

shunshines


.

Perjalanan pulang ke rumah terasa sepi. Hanya suara mesin mobil yang mengisi.

Shun tidak menghiraukan suasana sepi tersebut. Biasanya, Takeru akan mencari topik agar ia mengeluarkan suaranya dan mereka akan mengobrol sepanjang jalan pulang. Kali ini, kakaknya tidak bersuara. Meskipun heran, tapi ia bersyukur karena tidak ada yang mengganggunya dari dunianya sendiri.

Pikirannya masih mengulang video saat anak laki-laki bernama Hayato Akaba itu menciumnya di ruang ganti. Saat Eyeshield 21 Kanto itu menyatakan perasaannya menggunakan bahasa musik—dan Shun harus mengakui di dalam hatinya, bahwa cara 'nembak' Akaba adalah cara paling manis yang pernah ada di dunia.

Ah, hanya mengingatnya kejadian yang terjadi beberapa puluh menit yang lalu itu membuat dada Shun menjadi terasa hangat lagi.

Sementara itu, Takeru menyetir dengan fokus tanpa mengeluarkan suara—tidak seperti biasanya. Seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, ia seharusnya mengajak adiknya mengobrol. Seharusnya begitu.

Tapi, kejadian yang beberapa puluh menit yang lalu itu membuat Takeru bad mood seketika.

Takeru melihatnya. Ya, ia jelas-jelas melihatnya. Tidak perlulah ia mengucek matanya untuk memastikan kalau pemandangan yang ditangkap korneanya itu salah.

Ia melihat adiknya jatuh kepada orang lain.

Masih terlintas dengan jelas bayangan saat Shun dengan Eyeshield 21 Kanto bernama Hayato Akaba itu hanya berdua di ruang ganti. Lalu, si rambut merah itu berjalan mendekat dan terus mendekati adiknya, lalu mencumbunya saat itu juga. Oh, mungkin sebelum Akaba menempelkan bibirnya dengan bibir Shun, anak itu mengatakan sesuatu. Kata-kata romantis, seperti yang Takeru katakan saat hanya berdua dengan Taka.

Yang Takeru ketahui saat itu, ia mengepalkan tangannya dan mencoba untuk tetap tenang. Niatnya tadi datang menjemput adiknya, takut kalau adiknya kenapa-kenapa karena sendirian di ruang klub. Namun, ekspektasinya berbanding terbalik dengan realita.

Ada orang lain yang menggantikan dirinya menemani sang adik tercinta.

Takeru melirik Shun sekilas. Anak laki-laki itu tampak sedang melihat ke luar. Pemandangan Kota Osaka yang diguyur hujan yang tidak begitu deras, namun tidak bisa dibilang rintik pula. Ia di dalam hatinya ingin tahu apa yang sedang dipikirkan adik tirinya itu. Saat dirinya mulai menebak, nama yang pertama kali terngiang di otaknya adalah nama Hayato Akaba—sialan—itu.

"Shun." setelah berdehem sedikit, Takeru pun memutuskan untuk memulai pembicaraan. Seperti biasa, karena dialah yang tidak tahan dengan keheningan seperti ini. Semarah dan sekesal apapun ia terhadap sesuatu yang berhubungan dengan adiknya, Takeru tidak pernah bisa tidak berbicara kepada Shun.

Shun Kakei tersadar dari lamunannya begitu Takeru memanggil namanya. Ia memindahkan tatapannya dari pemandangan bangunan, tumbuhan, kendaraan, dan hujan yang mengguyur Osaka di luar mobil, menatap kakaknya yang tidak menoleh sedikit pun. Ia bisa maklum, kakaknya sedang fokus menyetir.

"Apa?"

"Memikirkan siapa, hm?" tanya Takeru setengah hati. Ia sudah bisa memperkirakan dua kemungkinan; pertama, Shun tidak akan repot-repot menjawabnya, dan kedua, Shun akan memberitahunya. Takeru sudah tahu, orang yang sedang dipikirkan adiknya adalah Akaba itu, namun ia berpura-pura tidak tahu.

"Bukan siapa-siapa," balas Shun cepat. Sudah diduganya akan datang pertanyaan seperti itu.

"Jangan mengelak," ujar Takeru sambil tersenyum kecil. "Akaba, kan?"

Lalu, Shun tidak menjawab apa-apa, melainkan kembali memindahkan pandangannya ke luar jendela mobil, menyembunyikan rona merah tipis di pipinya.

Senyum kecil yang terulas di wajah Takeru tidak bertahan lama. Tidak akan bertahan lama, karena ia tidak tersenyum dari hatinya. Tersenyum bukan berarti bahagia. Karena ia tidak sama sekali senang Shun memikirkan orang lain yang—bagi Shun sendiri—berharga, selain dirinya.

Sekali lagi, Takeru melirik Shun.

Memang Shun masih di sini bersamanya, seperti biasa. Tapi, pikiran dan hati adiknya itu perlahan-lahan mulai pergi meninggalkannya.


.

Sudah nyaris dua minggu semenjak pernyataan cinta dari Akaba di ruang ganti saat Shun menunggu Takeru untuk pulang bersama. Sudah beberapa orang yang mengetahui hubungan Akaba dan Shun, tidak banyak, namun tidak bisa disebut sedikit. Seluruh anggota Tim Tiga sudah tahu dan juga beberapa dari Tim Satu. Hubungan keduanya berjalan lancar, meskipun setiap hari ada saja debat kecil yang terjadi.

Yang dilakukan pun hanya mengobrol berdua. Kadang, Akaba menyusul Shun ke kelasnya, dan setiap ia melakukan itu, Shun akan melempar death glare dan berbisik 'apa yang kaulakukan di sini'. Lalu, Akaba akan menjawab enteng dengan bahasa musiknya, ada saja alasan buat ngeles. Begitu pun saat latihan. Tidak ada yang benar-benar spesial, sungguh. Mereka berdua bahkan belum pergi kencan seperti sepasang kekasih dari Tim Satu—kautahulah siapa sepasang kekasih itu, namun mereka tidak masalah akan hal itu.

Bagi Akaba, hanya bersama Shun saja sudah membuatnya senang.

Namun bagi Shun, Akaba di sisinya memang membuatnya tidak lagi kesepian, tapi ada Akaba bukan berarti ia bisa melupakan Takeru.

SMU Teikoku mulai semakin sepi. Latihan sudah selesai sejak setengah jam yang lalu, namun Tim Satu masih ada rapat—rapat mengenai Christmas Bowl, katanya—yang berarti Shun harus menunggu kakaknya lagi seperti dua minggu yang lalu. Dan di sinilah si Bungsu Yamato, duduk di salah satu bench pinggir lapangan sendirian. Si Laba-Laba Merah itu pergi entah kemana, katanya ada sesuatu yang harus diurus dan menyuruh Shun untuk menunggu di lapangan.

Shun menghela napas. Ia menggosokkan kedua tangannya, mencari kehangatan di tengah dinginnya musim gugur di Osaka. Meskipun hatinya sudah merasa hangat karena seseorang—ralat, dua orang—sudah mengisinya, namun tubuhnya tentu masih perlu kehangatan.

Otaknya mulai memikirkan dua orang yang tadi disebutkan sudah memenuhi hatinya. Nama Takeru Yamato dan Hayato Akaba memang tidak pernah bisa lepas dari otaknya—maupun hatinya. Mungkin, ekspektasi semua orang termasuk dirinya adalah ia hanya akan menyayangi Akaba. Ia juga berharap ia akan bisa melupakan Takeru jika bersama Akaba.

Tapi kenyataannya, ia tidak bisa melepas Takeru Yamato dari hidupnya.

Shun tahu, saat Akaba mengutarakan perasaannya, saat itu juga secara tidak langsung Akaba menyuruhnya untuk melupakan Takeru. Akaba menyuruhnya berhenti menggantung harapan kepada kakaknya. Dan Akaba pun rela menjadi pelampiasan dirinya, semata-mata agar ia bisa melupakan Takeru.

Shun tahu ia jahat. Sangat jahat. Namun, ia sendiri tidak tahu kapan ia bisa berhenti memikirkan Takeru dan ia bisa menyayangi Akaba sepenuhnya.

"Hei, Shun." Seseorang menepuk bahu Shun pelan, membuatnya tersadar dari lamunannya. Orang itu tidak lain adalah Akaba. Anak laki-laki yang memakai sunglass biru tua dan membawa gitarnya itu pun duduk di sampingnya. "Maaf membuatmu menunggu lama."

Shun menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa." Ia lalu menatap kedua mata Akaba yang tertutupi sunglass biru tua itu. "Apa yang kaulakukan tadi?"

"Ibarada dari Tim Empat, mantan anggota Bando Spider," balas Akaba sambil memangku gitar bernama Isabel-nya itu. Ia bisa melihat ekspresi penasaran Shun dari sudut matanya. "Fuh, sudahlah. Tidak usah pikirkan ssasaeng fan-kuitu."

Shun mengangkat sebelah alisnya. "Ssasaeng?"

"Di Korea, ssasaeng itu istilah bagi fans fanatik yang bahkan sampai meneror dan mencelakakan idolanya. Ritmenya benar-benar tidak harmonis," jawab Akaba setelah memetik satu nada dari gitarnya. Shun pun mengangguk tanda mengerti.

Mereka berdua pun diam seribu bahasa. Akaba bukan orang yang pandai berbicara seperti Takeru, namun ia akan berbicara lewat nada yang ia mainkan menggunakan gitarnya. Seperti saat ini.

Lima menit berlalu. Terdengar suara langkah kaki dari gedung Tim Satu, yang berarti rapat sudah selesai dan mereka diperbolehkan untuk pulang. Shun pun refleks menoleh untuk mencari kakaknya di antara orang-orang dari Tim Satu.

Tampaknya, Takeru lebih dulu menemukan sosok adiknya yang sedang duduk di bench bersama si Hayato Akaba itu, sehingga saat Shun menoleh, ia sudah berada di jarak dua meter dari bench. Ia sempat mendengus pelan melihat adiknya bersama si Eyeshield 21 Kanto sebelum ia memasang senyum palsu saat Shun menemukan dirinya.

"Hey, ayo pulang," ujarnya kepada Shun dengan nada suara yang lebih rendah dari nada saat ia berbicara. Shun yang sudah tahu suasana hati Takeru karena perubahan suara itu pun mengangguk.

"Aku pulang duluan," pamit Shun kepada Akaba. Ia memberi isyarat mata 'kakakku-sedang-dalam-mood-yang-buruk-sekarang' kepada kekasihnya. Mungkin saja Akaba berprasangka kalau ia ingin cepat-cepat bersama Takeru atau mengira ia tidak nyaman bersama pacarnya sendiri. Jadi, tidak ada salahnya memberi alasan seperti itu.

Saat dua bersaudara Yamato itu baru akan berjalan meninggalkan bench, langkah keduanya terhenti karena Akaba memanggil Takeru. Yang dipanggil berbalik duluan, menatap pemilik sepasang iris crimson itu dengan malas.

"Ada apa?"

"Fuh." Tanpa menatap lawan bicaranya dan masih fokus kepada gitarnya, Akaba berkata dengan nada menyindir, "Sekasar itukah kau kepada adikmu sendiri? Ritmemu begitu berantakan jika melihat adikmu denganku."

Takeru menatap Akaba dengan pandangan tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

Shun yang berada di antara keduanya menatap Takeru dan Akaba bergantian. Akaba pun menyimpan gitar merahnya di bench dan membuka sunglass biru tuanya. Tatapannya bertemu dengan Shun. Ia tahu, pujaan hatinya pasti kaget dan bingung sekarang. Namun, ia tidak peduli. Yang ia akan lakukan sekarang hanya menekan Takeru untuk mundur.

Mundur dari usaha untuk merebut Shun darinya.

Akaba pun melempar pandangannya kepada Takeru. "Fuh, jenius sepertimu mana mungkin tidak mengerti," ujarnya dengan nada biasa. "Akui saja kekalahanmu sekarang. Di lapangan, kau menang dariku. Tapi di sini, kau kalah dariku, Yamato."

Takeru balas menatap Akaba merendahkan. "Begitu, ya? Perang masih berlanjut. Aku tidak akan mundur, dan itu absolut," ia membalas sambil tersenyum sinis. "Kami pulang duluan."

Setelah itu, Takeru pun menarik lengan Shun—yang masih tidak punya ide apa yang sedang terjadi—dan pergi ke tempat parkir mobil.

Akaba memakai sunglass biru tuanya kembali, lalu membereskan gitar merahnya. Tujuannya untuk menggertak Takeru sudah tercapai. Yang ia harus lakukan sekarang hanyalah menjaga Shun agar tidak jatuh ke tangan Eyeshield 21 Kansai itu lagi.

Dan juga membuat Shun jatuh sepenuhnya kepadanya.

Sejak awal bertemu dengan dua bersaudara Yamato itu, Akaba sudah tahu kalau keduanya saling menyukai satu sama lain. Masalahnya hanya karena si anak sulung yang belum menyadari perasaan itu dan si anak bungsu yang berniat untuk melupakan perasaannya. Pada malam itu, ia langsung tertarik kepada Shun. Dan pada malam itu pula, ia berniat untuk membuat Shun bisa melupakan Takeru dengan menjadikan anak itu miliknya. Seperti yang sudah diduganya, Takeru tidak akan diam.

'Fuh, semakin menarik.'

Akaba pun berjalan meninggalkan bench sambil menyampirkan tas gitar di bahu tegapnya. Hari pertama di Teikoku saja ia sudah mendapat tantangan, sekarang pun ada tantangan lagi, sehingga membuatnya yakin hari-hari berikutnya di Teikoku tidak akan pernah datar.

Kedua iris crimson-nya menemukan sosok anak laki-laki berhelai keperakan panjang yang sedang berdiri bersandar di salah satu pilar, menyilangkan tangannya. Akaba tahu jelas itu adalah Taka Honjo, receiver kebanggaan Teikoku Alexanders sekaligus teman seangkatannya. Tatapan anak itu seperti sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang menyedihkan. (Well, ia mendapat kemampuan untuk membaca pikiran dan sifat orang hanya dari tatapan mata.)

Akaba menerka kalau Taka mendengar pembicaraannya dengan Takeru tadi, dan anak itu memasukkannya ke dalam hati. Ia tahu Taka adalah kekasih Takeru, dan ia tidak suka melihat Sang Elang itu dicampakkan oleh Takeru, meskipun secara pelan-pelan. Ia lebih tidak suka melihat Takeru yang terus mengekang Shun agar tidak terlalu dekat dengannya.

Mengedikkan bahu, Akaba pun lanjut berjalan ke tempat di mana ia memarkirkan motornya.


.

"Apa yang kaubicarakan tadi dengan Akaba?" tanya Shun saat Takeru 'menyeretnya' ke mobil. "Kau menantangnya untuk apa, Niisan?"

"Bukan sesuatu yang penting," jawab Takeru singkat. "Yang pasti, aku juga menantangnya dalam amefuto, kok."

"Kau bohong, Niisan," tukas Shun. "Kau menantangnya dalam hal lain juga?"

Takeru seketika berhenti melangkah, lalu berbalik dan memegang kedua bahu adiknya. Shun menatapnya dengan tatapan setengah kaget dan ia pun menatap iris azure jernih itu dengan lekat. "Kalau memang iya, kenapa?"

Ada jeda sejenak.

"Tidak apa-apa," jawab Shun sambil berusaha menghindari tatapan Takeru. "Aku hanya penasaran apa tantangan itu sehingga Akaba mau menerimanya. Dia hanya menerima tantangan di dalam amefuto saja, tidak sepertimu."

"Oh, begitu," balas Takeru singkat.

('Tentu saja dia menerimanya, kalau tantangan itu berkaitan denganmu.' Sebenarnya kata-kata itu yang ingin Takeru katakan, namun ia tidak ingin adiknya semakin terbebani oleh pikiran lain.)

Kedua bersaudara tidak sedarah ini pun berjalan kembali. Takeru sengaja melambatkan langkah kakinya agar Shun berjalan duluan. Modus ingin melihat personifikasi langit lebih lama—dari belakang. Menatap wajah polos adiknya saat tertidur ternyata belum cukup baginya.

Tubuh tinggi sepantar dengannya, namun tidak lebih atletis darinya. Jangankan melebihi, sama pun tidak. Lalu, helai indigo yang sering diacak juga dielusnya, sekarang sedikit berantakan tertiup angin . Hanya itu yang bisa dilihat Takeru dari belakang. Namun, melihat figur Shun dari belakang saja sudah membuatnya tersenyum.

Shun yang menyadari kakaknya sedari tadi berjalan di belakang mulai merasa tidak enak. Bukan apa-apa, ia hanya terbiasa berjalan di samping atau bahkan di belakang Takeru. Rasanya agak aneh berjalan di depan kakaknya. Sehingga, ia pun memutuskan untuk menoleh ke belakang, meminta Takeru untuk berjalan di sisinya.

Tepat saat Shun menoleh, sepasang lengan atletis milik Takeru menarik tubuhnya ke dalam pelukan Sang Kaisar.

"Takeru niisan—apa yang—"

"Jangan berkata apa-apa lagi," potong Takeru sambil memeluk Shun semakin erat. "Let me hug you for a while. I'm begging you, Shun."

Mengikuti apa perintah—maksudnya, permintaan—kakaknya, Shun pun tidak protes. Yang ia rasakan sekarang adalah darah yang dialirkan arterinya lebih banyak naik ke pipinya. Ia pun menenggelamkan wajahnya di bahu tegap kakaknya, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya, masih sama seperti saat Takeru memeluknya dulu. Udara dingin musim gugur tidak lagi membuatnya menggigil kedinginan, karena ada kehangatan yang membarikade, bersumber dari Takeru yang tengah memeluknya sekarang.

Pelukan itu berlangsung tidak begitu lama. Takeru melepas rengkuhannya dan tersenyum lembut kepada Shun. Rasa panas karena sindiran Akaba dan juga melihat kedekatan Shun dengan si Laba-Laba Merah itu surut. Ia kembali mengacak helai indigo Shun, membuatnya menjadi semakin berantakan lagi.

"Terima kasih, Honey," ujar Takeru sambil tersenyum menggoda, membuat Shun yang sudah berhasil mengembalikan ekspresi datarnya kembali malu. Memang sudah sifatnya yang tsundere, ia membalas dengan ketus, namun pipinya masih memerah, "Apaan, sih. Apa maksudnya memanggilku honey seperti itu?" lalu ia pun membalikkan badannya, mencoba untuk tidak salah tingkah.

Takeru pun terkekeh geli, berhasil menggoda adiknya lagi. "Aku memanggilmu honey karena kau sangat manis. Manis seperti madu. Lagi pula, dalam bahasa Inggris, honey itu panggilan sayang, kan?"

"Cheesy," balas Shun judes, tidak mau mengakui secara terang-terangan kalau ia suka panggilan itu. "Hentikan, Niisan."

Tidak puas menggoda adiknya, Takeru pun bertanya, "Kenapa, Honey? Kau tidak suka atau kau terlalu gengsi mengakui kalau kau menyukainya?"

"Kubilang hentikan!"

Dan Takeru pun hanya tertawa dan menyusul Shun yang sudah jalan duluan.

Shun, meskipun di luar tampak menolak mentah-mentah kalau ia menyukai hal yang Takeru lakukan dan katakan kepadanya, di dalam hatinya, ia merasa sangat senang. Senang karena Takeru masih peduli kepadanya. Selama dua minggu ini, semenjak ia menjadi milik Akaba, Takeru seperti menghindarinya. Seperti tidak peduli lagi dengannya. Sudah dijelaskan sebelumnya, meskipun ia sudah bersama Akaba, Takeru di hatinya masih dan akan tetap ada.

Seperti sekarang ini.

Di dalam hati, Shun bertanya entah kepada siapa.

Sampai kapan ia harus seperti ini? Apa yang seharusnya ia lakukan?

Berhenti berharap kepada seseorang yang tidak pasti atau berhenti berpura-pura tidak mencintai?


.

- to be continued –


.

haiii

sebelum liburan akhir semester dimulai, ada baiknya apdet dulu(?)

maaf karena kelamaan update, aku sibuk UAS ;( tiap mau nulis pasti ga sempet. pulang malem terus. mana keinget ada nilai seni budaya yang kosong lagi. /curhat

apa ada perubahan penulisan? rada kaku ngetik lagi nih ;_;

well, akhir kata, kalo ada kritik, saran, pembetulan eyd, dan yang mau aku kasih pertanyaan khusus ff ini(?), sila ditulis di kolom review. reviewnya ditunggu ya kawan. dadaah o/


.

kolom promosi

IFA 2013 sudah masuk bulan polling lho! Ayo vote FF/author yang menurutmu pantas jadi pemenang, terutama FF dari FESI x3. Nah cara ngevotenya gimana? Yuk ke sini (hilangkan spasi)

Kategori Fanfiction:

bit . ly/ pollingfanficifa13

Kategori NonFanfic:

bit . ly/ pollingnonfanficifa13

majukan fanfiksi berbahasa Indonesia! o/