"Fate"
[ fate, isn't a thing that you could refuse ]
Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata. I just own this story.
Warning
OoC detected
Alternate Reality
Typo(s) may be found
Failed at genre(s)
Brothership and slash hints
Plot-bunnies(?)
And others
—shunshines
Malam hari yang tenang, seperti biasa. Pulang sekolah, mandi, istirahat sejenak, makan malam, lalu kegiatan bebas. Namun, bagi si Bungsu Yamato ini tidak ada hal lain untuk mengisi kegiatan bebas sebelum tidur itu selain belajar dan mengerjakan tugas saat hari sekolah. Sama seperti sekarang.
Shun tengah menyelesaikan serentet soal fisika sambil menumpukan kepalanya pada tangannya, mengantuk dan malas. Kalau saja mata pelajaran 'kurang kerjaan' itu tidak ada di jadwalnya besok dan pengajarnya adalah seorang guru yang tingkat kedisiplinannya masih berada di tingkat rata-rata, ia pasti akan mengerjakan tugas ini besok atau lusa. Oh, mengenai fisika sebagai pelajaran kurang kerjaan, rasanya itu benar. Apa untungnya menghitung kecepatan benda jatuh?
Di saat Shun sedang suntuk-suntuknya, handphone berwarna putihnya bergetar. Untuk menghilangkan kantuk, ia pun bergerak untuk mengambil handphone yang diletakkan di atas meja yang sama. Setelah membuka kunci layar, matanya yang tadi agak sayu menjadi normal kembali begitu membaca siapa pengirim e-mail tersebut.
Konbanwa, Shun. Apa aku mengganggumu? Dari Hayato Akaba.
Sambil tersenyum tipis, Shun pun menegakkan punggungnya dan mengetik pesan balasan untuk Akaba.
Konbanwa mo, Hayato. Tidak, kau tidak menggangguku.
(Mengenai nama panggilan Shun terhadap Akaba, ia hanya berani memanggil nama kecil Akaba jika sedang berdua. Mostly when they are talking by phone.)
Sambil menunggu balasan dari pacarnya itu, Shun kembali mengerjakan soal fisika yang tersisa seperempat lagi. Tinggal beberapa soal lagi, dan ia bebas dari rumus-rumus yang rumit itu.
Tujuh menit berlalu, soal laknat itu pun sudah terisi semuanya. Shun meletakkan bolpoin hitamnya, membiarkan benda itu tergeletak di meja. Ia meregangkan badannya yang agak pegal, lalu kembali meraih handphone-nya. Ada pesan balasan dari Akaba.
Sedang apa? Sudah makan?
Shun pun kembali mengetik pesan balasan. Baru saja selesai mengerjakan tugas. Sudah sejak sejam yang lalu.
Pada akhirnya, mereka berdua saling berbicara lewat e-mail. Hanya sebentar, sampai Akaba menyuruhnya untuk tidur duluan dan mengucapkan selamat tidur. Shun hanya mengiyakan saja meskipun ia tidak merasa mengantuk lagi. Badannya memang lelah, tadi ia memang ingin segera tidur, namun sekarang matanya malah menjadi segar kembali.
Shun pun memutuskan untuk ke luar kamar, ingin mengambil air minum sekaligus mencari kakaknya yang tidak kembali ke kamar sejak makan malam. Mungkin Takeru sedang mengurus sekalian bermain dengan Mako. Walaupun hanya terpisah ruangan dan lantai, tetap saja Shun merasa tidak bisa jauh-jauh dari Takeru. Ia bukan penakut karena ditinggal sendirian di kamar, namun ia hanya ingin berada di dekat kakaknya.
Tapi tentu saja bukan Shun namanya kalau mau mengakuinya.
Tepat saat ia sedang meneguk air mineral yang baru diambilnya, anak pertama Yamato itu datang. Panjang umur sekali.
"Sudah selesai mengerjakan tugasnya, Shun?" tanya Takeru seraya mendekati adiknya. Setelah meneguk tetesan terakhir, Shun menjawab pertanyaan kakaknya. "Sudah."
Takeru tersenyum puas. "Kalau begitu, ikut aku sebentar, ya?"
Tidak mengeluarkan protes, Shun pun berjalan membuntuti kakaknya. Rasa heran seketika memenuhi pikirannya. Namun, ia tidak habis memikirkan berbagai pertanyaan di otaknya. Yang menjadi alasan mengapa ia mau menurut adalah; karena itu Takeru. Hanya dengan Takeru, ia merasa seaman dan senyaman ini, melebihi rasa nyaman yang diberikan Akaba untuknya.
Takeru terus berjalan menuju balkon yang menghadap ke halaman belakang. Tempat yang menjadi langganannya ketika sedang ingin menyendiri. Ia pun membuka kunci pintu dan menggeser pintu balkon tersebut yang terbuat dari kaca, dan angin malamlah yang menyambutnya pertama kali.
Shun yang berada di belakangnya tampak kaget dan juga sedikit terpukau. Dari sini, ia bisa melihat cahaya warna-warni dari berbagai lampu dan langit bertabur bintang dengan jelas. Ia bahkan belum pernah menapakkan kaki di balkon itu.
"Tempat ini biasa kugunakan saat ingin menyendiri." Takeru membuka topik pembicaraan tanpa memandang Shun. Dua iris nilakandi itu menerawang sejauh mungkin pemandangan di depannya. "Dari dulu, sampai sekarang."
"Oh." Shun mengiyakan sekenanya, karena tidak sabar untuk bertanya, "Lalu, ada apa kau mengajakku ke sini?"
Takeru yang membelakanginya kini memutar badan. Ia tersenyum ringan, namun seeperti tampak geli dengan pertanyaan Shun. "Mengajakmu bicara empat mata. Di sini aman, lebih aman daripada di kamar. Kau tahu?"
Takeru berjalan mendekati adiknya. Ia melepas jaket hitam yang dipakainya, lalu menyampirkan jaket itu di tubuh Shun. Sekarang sudah memasukki musim gugur. Angin dan cuaca semakin dingin. Ia tidak sampai hati membuat adiknya sakit karena berada di luar rumah tanpa benda apapun menghangatkan tubuhnya.
Shun mengangkat sebelah alisnya. "Oh, apa aku akan kauberi bocoran rahasia negara seberang sampai kau mencari tempat persembunyian segala?"
"Lebih penting dari itu," balas Takeru cepat. Shun hanya menatap kakaknya dengan tatapan bingung.
"Ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke duniaku. Menjadi bagian dari keluargaku. Menjadi adik tiriku." Takeru menghela napas kecil. Ia tampak sedikit gugup, namun sepandai mungkin ia menyembunyikan kegugupannya itu. Bukan Takeru Yamato kalau ia gugup. Ia percaya diri.
"Dan aku menyukainya. Menyukainya bukan sebagai saudara, ataupun teman. Lebih dari itu."
Dan juga setiap perkataannya adalah absolut.
Shun merasa jantungnya meloncat ke luar dari rongga dadanya, berdentum dengan kuat. Ia bahkan bisa merasakan desir darahnya yang begitu cepat.
Ia menatap kakaknya. Kali ini, bukan tatapan heran yang ia lemparkan. Namun, tatapan tidak percaya.
"Jangan bohong."
"Sejak kapan aku berbohong?" ujar Takeru, memamerkan senyumnya. "Aku tidak pernah bohong. Dan itu absolut."
Shun masih membeku di tempat, setelah otak jeniusnya segera mencerna apa yang barusan dikatakan kakaknya. Ingin sekali ia menjawab bahwa ia juga mencintainya. Ia sangat mencintainya sejak dulu.
Namun, ia tahu benar. Jika ia menjawab dengan jujur, hidupnya hanya akan menjadi lebih sulit.
"Tidak," balas Shun tegas. Saat ia menyatakan penolakan itu, ia tidak menyangka jantungnya akan berdenyut nyeri. "Tidak—kau tidak pernah menyukaiku, Niisan."
Takeru mengangkat sebelah alisnya, kecewa karena jawaban yang ia dapatkan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. "Kenapa tidak?"
Tanpa menghela napas—meskipun dadanya sekarang terasa seperti terhimpit, Shun menjawab, "Karena kau sudah punya Taka-san. Dan kau hanyalah kakakku."
"Kalau ternyata aku yang salah mengartikan perasaanku, kenapa aku sangat cemburu melihatmu dengan Akaba?" balas Takeru tepat sasaran. Sepasang iris cokelat gelapnya tetap memandang iris biru Shun dalam dan penuh arti. "Tidak ada yang tidak mungkin."
Shun terdiam sejenak. "Aku ... tidak tahu," ia pun menjawab dengan sangat ragu-ragu. Setelah mengatakan itu, ia memutus kontak mata dengan kakaknya, lebih memilih memandang lantai balkon yang dipijaknya. Tidak ada pilihan lain untuk menghindari anak laki-laki yang lebih tua darinya itu.
Takeru tersenyum kecil. Perlahan, ia berjalan lebih dekat ke arah Shun. Ia menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi mulus adiknya. Shun refleks mendongak lagi begitu merasa pipinya disentuh oleh
Takeru. Lagi, pandangan keduanya bertemu.
"Kenapa?" tanya Shun pelan, tidak lebih dari sebuah bisikan yang kabur bersamaan dengan angin yang bertiup.
"Kau masih bertanya kenapa aku melakukan ini?" tanya Takeru balik. Ia tersenyum saat ia melihat rona merah muncul sekilas di pipi adiknya. "Karena aku sudah menemukan jawabannya."
Kalau saja Shun tidak tahu diri, ia akan langsung memeluk kakaknya, senang atas pengakuan itu. Kalau saja ia lupa mengenai fakta bahwa kakaknya sudah dimiliki orang lain—dan bahkan mengenai status dirinya sendiri, ia akan mengatakan 'aku juga menyukaimu' kepada kakaknya. Dan kalau saja mereka bukan saudara, ia jelas akan tetap memperjuangkan perasaannya.
Tapi, sekarang beda lagi ceritanya.
Ia tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama.
Shun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti kenapa kau melakukan ini, Niisan," ujarnya sambil melepaskan tangan Takeru yang berada di pipinya. Ia memberanikan diri untuk menatap sepasang iris nilakandi di depannya. "Seharusnya, kau tidak menyia-nyiakan waktumu hanya untuk berbicara denganku seperti ini."
Tanpa menunggu balasan dari Takeru, Shun langsung melepas jaket yang disampirkan di bahunya itu dan mengembalikannya kepada sang kakak. Ia segera berbalik sebelum Takeru berkata sesuatu lagi. Satu langkah dari pintu balkon, Shun berhenti.
"Kautahu? Aku senang mengetahui aku naik pangkat. Dari bukan pilihan, sekarang menjadi pilihan kedua bagimu."
Lalu, suara pintu balkon yang ditutup adalah akhir dari interaksi mereka malam itu.
Shun berjalan dalam diam menyusuri jalan setapak di taman sekolahnya. Pagi ini, ia menghindari kontak mata maupun pembicaraan dengan Takeru. Di dalam mobil pun ia enggan untuk menoleh ke arah kakaknya. Setelah mereka sampai di sekolah, Shun memilih jalan memutar melalui taman daripada harus bersama Takeru. Sehingga di sinilah dirinya, berjalan sambil menatap langkah kakinya sendiri, merenungkan apa yang baru saja terjadi semalam.
Ia berhenti saat melihat sepasang sepatu pantofel hitam di hadapannya. Sepatu yang digunakan murid SMU Teikoku. Ia melempar pandangannya ke depan dan sosok Hayato Akaba-lah yang ia temukan.
"Ohayou, Shun," sapa Akaba dengan hangat. Tangan kanannya memegang tas gitar yang disampirkan di bahu, sedangkan tangan kirinya bersembunyi di saku celana. Laba-Laba Merah itu tidak sedang memakai sunglass biru tuanya. "Kenapa berjalan memutar melalui taman?"
"Tidak apa-apa," balas Shun datar, menyembunyikan kebenaran bahwa ia hanya ingin menghindari kakaknya. Sambil berjalan bersisian dengan Akaba, ia bertanya balik. "Kau sendiri tidak ke kelas?"
"Aku mencari nadaku," ujar Akaba sekenanya. "Tanpa nada yang kucari, laguku hari ini tidak akan harmonis."
"Cheesy," cibir Shun, namun tidak bisa menahan pipinya untuk tidak menghangat.
Mereka berdua berjalan memasukki koridor. Biasanya, Shun berjalan berdampingan dengan Takeru. Dari awal ia masuk sekolah, ia selalu berada di samping kakaknya. Bukan dia yang terlalu manja dan bergantung kepada Takeru, atau cari ketenaran—demi Tuhan, itu hanya akan menghancurkan harga dirinya. Namun, Takeru-lah yang memintanya agar tidak kemana-mana, tetap berada di sisinya.
Namun sekarang, beda lagi. Shun merasa ia harus menjaga jarak dengan Takeru dan kembali ke batas sebagai saudara. Sebagai adik-kakak. Dan ia merasa, bersama Akaba akan membuat semuanya terasa lebih baik.
Mungkin.
Mereka berdua pun berpisah di lorong yang memisahkan koridor utama dengan deretan kelas. Kelas Shun berada di lorong tersebut, sedangkan kelas Akaba—dan juga kakaknya—berada di gedung sebelahnya.
"Have a nice day," ujar Akaba sambil mengusak helai indigo Shun sebelum mereka berpisah. Shun mengangguk dengan sedikit rona merah di pipi, efek dari skinship dengan Akaba.
"You too," ujarnya pelan. Setelah itu, ia berjalan menuju kelasnya, bersamaan dengan Akaba yang juga berjalan ke kelas sebelas.
Waktu terasa berjalan cepat. Waktu menunjukkan pukul dua siang, yang artinya sekolah hari itu sudah berakhir. Bagi murid-murid yang mengikuti klub, pukul dua siang adalah start waktu mereka untuk beraktifitas di klub masing-masing, termasuk klub american football Teikoku.
Setelah membereskan peralatan sekolahnya, Shun berjalan malas ke luar kelas. Pada hari-hari sebelum hari ini, ia tidak pernah malas jika american football adalah hal yang akan dilakukannya. Ia tidak pernah mengeluh karena setiap hari harus berlatih. Namun, untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya, hari ini ia malas datang ke klub dan berlatih.
Ia akan bertemu kakaknya lagi. Secara tidak langsung, jalurnya menuju dunia american football itu sama dengan jalur menuju kakaknya. Alasan Shun kembali menekuni olahraga asal Amerika itu tidak lain adalah demi mengejar sang Eyeshield 21 Notre Dame, Takeru Yamato. Namun tampaknya, ia sedikit menyesali tentang 'jalur' itu.
Demi Patung Kinjiro Ninomiya, ia malas bertemu dengan ace Teikoku Alexanders itu.
Seseorang menepuk bahu Shun ketika ia tengah berjalan menyeberangi lapangan, sehingga ia pun harus merelakan nol koma nol sekian persen energinya untuk menoleh.
"Fuh, apa ada sesuatu yang mengganggumu siang ini, Shun?"
Akaba-lah yang menepuk bahunya. Shun bersyukur itu bukan Takeru yang menepuknya. Anak laki-laki berpenampilan nyentrik itu terlihat tenang seperti biasa, tidak seperti dirinya yang tampak sedikit kehilangan ketenangan—di dalam pikirannya, Shun sudah pusing dan agak panik sendiri memikirkan apa yang harus dilakukannya kalau ia bertemu dengan kakaknya.
Shun mengedikkan bahunya. "Tidak ada. Memang kenapa?"
"Tidak apa-apa," balas Akaba. "Ritmemu terlihat sedikit tidak harmonis."
"Hanya perasaanmu saja, Hayato."
Dan tidak ada percakapan lagi setelah itu.
Ketika memasuki bangunan Teikoku Alexanders, Shun berharap setengah mati agar tidak bertemu dengan Takeru. Setidaknya, biarkan pandangannya terbebas dari sosok kaisar itu untuk beberapa jam ke depan. Masih ada waktu yang lebih lama lagi yang harus ia lewati bersama dengan kakak nonbiologisnya itu. Ia butuh waktu untuk membangun benteng pertahanan hatinya agar tidak runtuh lagi.
Harapannya ternyata dikabulkan. Selama latihan, Shun tidak bertemu dengan Takeru. Anak laki-laki yang lebih tua darinya itu memang berlatih—ia bisa mendengar suaranya—namun tidak pernah berpas-pasan dengannya secara tidak sengaja. Dan hal itu membuat Shun bisa sedikit menghela napas lega.
Karena ia tidak bisa memungkiri kalau sebagian hatinya merasa ada yang kurang tanpa Takeru Yamato itu di sisinya.
"Kakei-san!" suara rekan di Tim Tiga memanggilnya. Meskipun Shun tidak lagi menggunakan marga itu, ia tidak akan melupakan nama yang secara umum digunakan untuk memanggilnya. Ia pun berbalik begitu orang yang ia ketahui berasal dari kelas sebelas itu berada di dekatnya. "Ada apa, Senpai?"
"Kau dipanggil pelatih bersama Akaba-san. Omodetto, kalian berdua berhasil naik ke Tim Dua," ujar kakak kelasnya itu sambil menepuk bahunya sebagai ucapan selamat. Shun tentu saja merasa senang, namun mungkin karena bakat sejak lahir, tidak ada perubahan ekspresi yang berarti di wajahnya. Ia hanya tersenyum kecil sambil membungkuk dan mengucapkan terima kasih.
Berpikir bahwa Akaba sudah lebih dulu bertemu dengan pelatih, Shun pun mencari pelatihnya seorang diri. Tidak butuh waktu lama ia menemukan pelatih dengan pacarnya itu. Benar dugaannya tadi.
"Selamat bagi kalian berdua. Kemasilah barang-barang kalian, kalian akan pindah loker sekarang juga," ujar sang pelatih sambil tersenyum begitu Shun datang. Akaba berbalik dan menatapnya, mengisyaratkan ucapan selamat melalui pandangan matanya.
"Arigatou gozaimasu." Shun dan Akaba bersama-sama mengucapkan terimakasih sambil membungkuk. Setelah itu mereka segera berjalan kembali menuju ruang loker mereka untuk membereskan barang masing-masing.
"Kau hebat," ujar Shun dengan volume kecil di sela perjalanan mereka menuju ruang loker. "Baru-baru ini bergabung sudah masuk Tim Dua."
"Fuh, terimakasih, Shun," balas Akaba sambil mengacak helai indigo milik pacarnya. "Tumben kau memuji duluan. Biasanya tidak sama sekali."
Pipi Shun memerah. "Siapa yang memuji? Aku hanya memberimu ucapan selamat, bukan pujian!"
Jawaban Shun membuat Akaba terkekeh dan merasa gemas. Dasar tsundere, begitu kata batin Laba-Laba Merah itu.
Setelah keduanya sampai di ruang loker Tim Tiga, mereka berdua membenahi barang masing-masing tanpa berbicara. Hanya suara barang yang sedang dibenahi. Juga suara orang-orang di luar.
Sesuai perkataan pelatih, Shun dan Akaba pun segera menuju ruang loker Tim Dua sambil membawa barang-barang keduanya yang dikemas di dalam tas olahraga. Akhirnya, setelah melewati beberapa waktu, dua loker di Tim Dua pun menjadi milik keduanya.
"Shun, maaf, aku harus pulang duluan." Akaba menepuk bahu Shun. Ia menangkap sedikit sinar kekecewaan dari sepasang iris biru langit itu. "Gomen."
"Tidak apa-apa," balas Shun sambil mengangguk. "Hati-hati di jalan."
"Fuh, baiklah. Sampai nanti," ujar Akaba sambil tersenyum kecil, lalu ia mengecup pipi Shun dengan kecepatan kilat. . Yang dicium langsung bereaksi dengan memukul bahu, sementara si MVP Tokyo itu hanya terkekeh kecil dan lanjut berjalan ke luar gedung.
Shun menghela napas. Sekarang, ia tinggal menunggu waktu sampai kakaknya selesai latihan dan ia akan menjemputnya untuk pulang bersama. Sambil membunuh waktu, ia mengganti baju yang dipakainya saat latihan dengan seragam Teikoku.
Setelah mengambil tas sekolahnya dan baru akan ke luar dari ruangan, Shun menemukan sosok Takeru sudah ada di ambang pintu.
"Omodetto," ujar Takeru sambil memasang senyum bangga. "Sudah selesai, kan? Ayo pulang."
Tanpa menatap sang kakak, Shun mengangguk dan berjalan duluan meninggalkan ruangan.
Takeru baru akan menahan lengan Shun, namun ia membatalkan niatnya. Ia sadar, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
Dan memang tidak ada gunanya bertanya.
"Gomen," bisiknya kepada angin sebelum ia berjalan menyusul adiknya.
'Maaf karena selalu membuatmu kesusahan. Maaf karena selalu menyakitimu. Maaf karena aku egois—menyayangimu lebih dari sebatas adik, Shun.'
- to be continued –
.
1. i know it's getting cheesy so i really am sorry for making the casts out of their characters, BUT HEY, I'M BACK
2. sorry for super duper extra late update,
4. sorry for a boring story line,
5. keep waiting for the next chapter,
6. thanks,
7. SEE YOU SOON!
—yunna—
