Ibu saya masih belum juga mengabari saya apa-apa sampai malam menjelang. Baru ketika saya beritahu kalau saya berniat makan malam bersama keluarga Yoongi, Ibu memberi kabar. Katanya ia dan Ayah akan berangkat besok pagi dari Busan. Ada urusan jadi tak bisa kirim-kirim pesan melulu, begitu kata Ibu. Ah, urusan apa? Kadang saya tidak mengerti, kenapa Ibu sering menggantung orang? Maksud saya, menghilang tanpa beban, tahu-tahu datang tanpa diduga-duga. Apa Ibu sengaja membuat saya bosan menunggu? Pada Jihyun pun ia tak memberi kabar apapun. Tiap adik saya memegang ponsel dan ketak-ketik chatting, tak sekalipun dia menyebut nama Ibu. Dan lagi, si Jihyun itu tak berkutik kalau di depan keluarga Yoongi. Dia diam melulu seperti anak baik-baik.
"Padahal akan lebih menyenangkan kalau kita bisa makan bersama orangtuamu, Jimin," ucap Ibu Yoongi ketika kami tengah menyantap makan malam di restoran penginapan.
Saya dan Jihyun hanya bisa tersenyum miris. Sedikitnya kami sudah mengecewakan mereka di momen yang cukup penting ini. Tapi, mau bagaimana lagi?
"Omong-omong, rambutmu sudah panjang, ya?"
Tangan Ibu Yoongi terulur untuk gapai kepala saya dan mengambil beberapa helai rambut. Dia sempat mengusakkan tangannya di situ dan saya suka. Rasanya seperti tak ada kecanggungan sama sekali, padahal dia statusnya mertua, bukan ibu kandung saya.
"Apa saya perlu mencukurnya?"
"Tidak, tidak. Biarkan seperti itu. Ibu pikir panjang rambutmu pas jika kamu ingin menatanya ke belakang dan sedikit dijambulkan."
Saya hanya mengernyit karena tak mengerti dengan apa yang Ibu Yoongi jelaskan soal tatanan rambut. Tapi terserah. Asal dia senang, saya mau-mau saja.
"Seoltang, kenapa kamu tidak mengambil nasimu? Lauk-lauk itu bukan camilan, makannya pakai nasi."
Saya menoleh ke sebelah ketika mendengar kakak Yoongi menegur. Yoongi terlihat cemberut dengan tangan yang memainkan sumpit. Di piring kecilnya hanya ada sedikit potongan daging dan sayuran. Nasinya masih utuh dalam mangkuk. Saya terlalu fokus menjaga imej di depan orangtua Yoongi hingga melupakan keberadaannya sendiri. Salah, memang.
"Yoongi, kau tak makan?" tanya saya lembut.
Dia mendesah. "Baju pengantinku sudah kesempitan. Aku takut tambah gendut kalau malam ini aku makan."
"Halaaah! Dieet? Kalau cuma diet semalam apa pengaruhnya? Lihat saja, kau akan meraung kelaparan tengah malam atau subuh nanti!"
Perkataan Yoongi seketika mengundang cibiran remeh dari kakaknya. Ibu Yoongi juga Jihyun tertawa, sementara ayah Yoongi cuek saja mengunyah makanannya. Saya ingin ikut tertawa tapi tak bisa. Takut Yoongi marah. Jadi saya hanya tersenyum saja. Saya setuju dengan kakak Yoongi. Memilih untuk diet di menit-menit terakhir, apa pengaruhnya? Lagipula kasihan perutnya kalau tak diisi makanan. Yang saya mau bukanlah Yoongi yang kelaparan demi bertubuh kurus ramping, tapi Yoongi yang perutnya kenyang karena makannya cukup.
"Ayo, makan ya?" Saya coba membujuk Yoongi untuk mau mengambil nasinya.
"Suapi dia kalau dia tak juga mau makan."
Yoongi menutup muka ketika ayahnya berucap, sementara kakak serta ibunya terbahak-bahak.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
Minyoon
Kisah seorang guru kasmaran
.
.
Makan malam kami berjalan lancar. Saya tidak banyak diinterogasi oleh orangtua Yoongi, begitupun oleh kakaknya. Rasanya jauh berbeda dengan pertemuan pertama kami di Daegu. Keakraban antara saya dan keluarganya menjadi lebih. Ayahnya, meski masih saja kaku, nampak sedikit lebih luwes dan dapat menerima saya. Sungguh syukur, bila saya bisa membagun hubungan yang baik dengan keluarga Yoongi.
Orangtua saya kemungkinan baru akan tiba di Seoul sekitar pukul sembilan atau sepuluh pagi, dan kami berencana untuk makan siang bersama nantinya. Setelah makan malam kemarin itu, keluarga Yoongi tidur di penginapan sementara saya dan Yoongi pulang ke rumah. Jihyun sendiri memilih untuk mengisi kamar ayah dan ibu saya. Katanya sayang kalau sudah check in, tapi orang yang mau menempati kasurnya tidak ada. Saya mesti bersyukur lagi karena ini. Setidaknya Jihyun tak akan berbuat onar dan mengusik ketentraman rumah kami.
Karena tak ada kegiatan sampai waktu makan siang, saya dan Yoongi hanya berleha di rumah. Mertua saya bilang, kami boleh banyak tidur dan beristirahat sebelum menghadapi hari besar di esok hari. Hitung-hitung menabung stamina. Terbayang memang, seharian penuh mesti terjaga, dari pagi sampai malam. Tidak ada waktu untuk bermalas-manja dan itu pasti sangat melelahkan. Apalagi setelah upacara pernikahan dan pesta, kami masih punya agenda yaitu—ah, kalian tahu sendiri.
"Halo, Hyung?"
Saat sedang berpelukan mesra dengan Yoongi di atas kasur, Jihyun menelepon. Saya angkatlah teleponnya, takut-takut ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Apa?"
"Punya nomor ponselnya Jungkook, tidak?"
"Untuk apa kamu minta nomor ponselnya Jungkook?"
"Aku bosan di sini. Butuh teman mengobrol. Mau main dengan kakaknya Yoongi-hyung, aku segan. Orangnya besar, jadi takut."
Yoongi yang sedang bersandar di dada saya melirik dengan mata bulat terkejut. Sedetik kemudian dia melepas kekeh. Saya jadi malu karena pembicaraan ini didengar olehnya.
"Jungkook sedang sekolah, kau tak usah ganggu. Lagipula nanti Ibu dan Ayah akan datang ke penginapan, jangan kemana-mana."
"Aah, Hyung."
"Sudah ya, aku mau tidur dulu. Bye."
Saya memutus sambungan telepon, lalu menaruh ponsel itu di meja. Saya tak dengar apa-apa dari Yoongi kecuali napasnya yang teratur. Rupanya dia tertidur dengan mudah dalam pelukan saya. Tidur di jam delapan pagi memang hal langka yang bisa kami dapatkan sebagai pekerja. Biasanya kami tengah mengajar di depan kelas tapi kali ini kami berebahan di kasur seperti pengangguran. Enaknya. Jadi ingin sering-sering libur begini.
"…jjim."
"Hm?"
Tangan Yoongi meraba-raba dada saya. Setelah menepuk-nepuknya beberapa kali, ia memindahkan tangan itu ke celah antara leher dan bahu saya. Tentu saya bingung pada apa yang sedang ia lakukan. Tadi bukannya dia tidur?
"…jjim…"
"Apa, Sayang?"
"Mmm … gyeranjjim…"
"Yoongi?"
"…ingin makan gyeranjjim..."
Astaga. Ternyata dia tidak sedang menggumamkan nama saya, tapi telur kukus.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Siang harinya, kami berangkat ke restoran dengan menggunakan kendaraan umum. Yoongi bilang dia sekali-sekali ingin naik bus bersama saya. Saya amini saja keinginannya. Lumayan menyenangkan juga naik bus keliling kota, melihat pemandangan jalan dan pertokoan. Seperti sedikit penghiburan bagi pekerja yang sehari-harinya hanya melihat yang itu-itu saja di tempat kerja. Yoongi bilang, orangtua kami sudah saling menghubungi untuk janjian di restoran tempat kami akan makan siang bersama. Herannya, kenapa Ibu saya tak memberi informasi yang detail kepada saya? Di pesan terakhir yang saya terima, dia cuma bilang kalau ia dan Ayah sudah sampai di penginapan sekitar jam sebelas. Selebihnya, saya tahu dari Yoongi. Benar-benar, ibu saya ini. Suka sekali membuat anaknya harap-harap cemas.
Dari halte bus, kami perlu berjalan kaki sedikit untuk sampai ke restoran. Jalanan sedang tak ramai tak juga sepi sebab ini adalah Jumat siang, di mana orang-orang masih berkutat dengan pekerjaannya di kantor, dan anak-anak masih belajar di sekolah. Saya dan Yoongi berjalan sambil bergandengan tangan. Beberapa orang menoleh pada kami entah karena apa. Mungkin karena Yoongi nampak begitu bersinar? Saya rasa kecantikannya bertambah hari ini. Senyumnya berseri-seri. Dia seperti bidadari, dengan pipi merona dan mata indah berbinarnya. Saya perlu berbangga diri karena sayalah laki-laki beruntung yang bisa mempersuntingnya esok hari.
"Jimin, mereka semua sudah sampai di restoran. Sepertinya kita sudah sedikit terlambat."
"Begitu, ya?"
Saya agak khawatir ketika Yoongi memegang ponsel dan membalas pesan sambil berjalan. Tangannya yang semula saya genggam pun kini berada di layar ponsel itu. Saya mencoba menyamakan langkah dengan dirinya yang berjalan cepat terburu-buru. Dari sebuah gang muncul anak-anak berseragam TK yang berlarian. Untung Yoongi sadar, jadi sempat menghindar dan tak tertubruk.
Di perempatan jalan Yoongi mendongak dan berseru, "Wah, pas sekali! Ayo kita menyeberang! Mumpung lampunya masih merah!"
"Eh tapi lampunya—"
Warna merah berubah hijau hanya dalam hitungan detik. Yoongi yang sudah menginjak zebra cross coba saya gapai dengan uluran tangan. Sayang mobil-mobil sudah keburu tancap gas untuk maju dan Yoongi—
.
.
"Yoongi, kau sudah sarapan sereal tapi kau masih ingin telur kukus?"
"Iya. Dan aku ingin kau yang buatkan itu untukku."
"Kenapa? Aku kan tidak bisa masak."
"Aku yakin masakanmu enak. Selain itu, aku kepingin melihatmu memasak, pakai celemek…"
"Kau suka itu?"
"Hm, iya aku suka."
"Apakah kau ingin aku memasak untukmu tiap pagi atau tiap malamnya?"
"Aku akan sangat berterimakasih kalau kau mau melakukan itu."
"Apapun demi Yoongi sayangku."
"Hehe, senangnyaa…"
"Heei, kalau kau senyum lebar begitu aku jadi tak ingin memasak, Yoongi."
"Maunya apa?"
"Memandangimu saja, sampai puas."
.
.
—saya sergap, tepat ketika moncong dari sebuah mobil sedan akan menabrak.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
"Unnghh…"
Badan saya sakit. Dalam diam saya mencoba merasakan bagian mana saja yang kiranya menjadi sumber kesakitan ini. Saat memandang langit-langit yang terang karena lampu, saya menyadari bahwa saya berbaring di sebuah ruang yang asing.
"Jimin, hei, kau sudah sadar? Jimin?"
Tadinya suara itu mendengung di telinga, tapi perlahan-lahan menjadi jelas. Saya menemukan Ibu tengah menepuk-nepuk pipi saya. Di belakangnya ada ayah dan Jihyun juga seorang pria berjas putih yang—oh, seorang Dokter?
Ah, iya! Tadi di jalan—!
"Ibu! Tadi Yoongi—" Saya terlonjak bangun, tapi tangan Ibu dengan sigap menahan badan saya dan mendorong sedikit supaya saya berbaring lagi. "—tadi aku…"
"Ya. Ibu sudah tahu. Tenanglah. Kau tertabrak mobil dan kau pingsan. Dan kalau kau mau tanya Yoongi, keadaannya baik-baik saja."
"Hah? Benarkah?"
"Ya."
"Ketika kami sedang duduk-duduk di restoran, kami dihubungi oleh pacarmu, dan dia mengatakan pada kami kalau kau ada di klinik, pingsan habis tertabrak mobil," kata Ayah, "Tapi untung saja, kau tak apa-apa."
Ibu menambahkan, "Iya. Kata Dokter, kau hanya memar dan lecet. Tidak ada luka serius," lalu dia mendongak pada Dokter untuk minta konfirmasi. Dokter itu mengangguk.
"Tapi tetap, harus istirahat," tuturnya singkat.
"Saksi bilang pengemudi mobil mungkin sempat mengerem di saat yang tepat jadi benturannya tidak terlalu keras. Saat ini orang yang menabrakmu sedang dimintai keterangan di kantor polisi. Mungkin kau juga akan dipanggil kalau sudah keluar dari klinik."
"Ibu, aku tidak mau ke kantor polisi…"
"Kau seperti bocah saja," tahu-tahu Ayah menyela. "Aku jarang bertemu denganmu, dan sekalinya bertemu habis kau tertabrak mobil."
"Kamu itu aneh, Jim. Sejak kecil kamu sering sekali jatuh atau terbentur atau apalah, tapi kamu hampir tak pernah terluka parah. Aduuh, Ibu tidak bisa membayangkan kalau kamu kenapa-kenapa. Mana lagi besok kau mau menikah."
Saya memeriksa badan sendiri. Saya tidak mengenakan atasan. Setelah dicari ternyata kemeja saya teronggok di atas sebuah kursi kosong. Kembali saya periksa kepala, dada, dan lengan. Kaget sih sebetulnya saat tak menemukan luka serius kecuali lecet-lecet yang sudah diobati. Saya tak ingat apakah hantaman dari mobil itu keras atau tidak. Tapi jika memang saya tak terluka serius, sudah sepatutnya saya bersyukur. Mungkin juga, alasan saya pingsan tadi hanya karena saya syok.
"Kalau kenapa-kenapa, besok aku yang menikah dengan Yoongi lho," kata Jihyun. Matanya sedikit berkaca-kaca.
Saya dibuatnya tercenung. Esok adalah hari pernikahan saya dengan Yoongi. Apa yang kiranya akan terjadi jika saya tak bangun lagi setelah pingsan di jalan itu? Ah, tidak, tidak. Saya tidak mau memikirkannya!
"Mana Yoongi?"
Satu yang muncul di kepala secara tiba-tiba adalah dirinya, sebab saya tak melihat Yoongi di dalam ruangan.
"Tadi sih di luar, bersama keluarganya. Ibu suruh masuk ke dalam, dia tidak mau. Mungkin dia masih terlalu syok hingga tak mau melihat kamu. Tapi kalau kau mau menemuinya, biar Jihyun yang panggilkan dia untukmu."
"…tidak." Saya menggeleng. "Biar aku saja yang menemuinya."
Saya hendak turun dari ranjang, tapi tangan Ibu mencegah. Begitupun dengan Jihyun yang seperti mau menahan saya agar tetap berbaring di situ.
Yang tak saya kira, Ayah akan bicara begini, "Dokter, tidak apa-apa kan, kalau anak saya pergi ke luar? Ada hal yang perlu dia selesaikan segera."
Saya benar-benar tak mengira kalau dia tak seperti Ibu dan Jihyun yang terlalu mengkhawatirkan keadaan saya. Dia seperti … sedang menunjukkan sebuah dukungan.
"Ya, tidak apa-apa. Tapi tolong diawasi karena pasien baru saja siuman."
Ibu langsung saja menyambar tangan saya untuk digandeng. "Mau Ibu temani?"
"Tidak perlu, Bu. Aku tidak apa-apa." Saya berusaha meyakinkannya dengan senyuman. Saya tidak mau berbaring lama di ranjang hanya demi menunggu Yoongi datang pada saya. Dia harus tahu bahwa saya baik-baik saja. Dia harus tahu.
"Pergilah. Jangan membuat mereka khawatir," ucap Ayah, dengan merujuk pada Yoongi dan keluarganya.
"Terimakasih, Ayah."
Saya pikir mereka mungkin berada di ruang tunggu klinik. Maka saya langkahkan kaki ke sana sambil menahan nyeri yang masih terasa di bahu dan punggung sebelah kiri. Saya berusaha terlihat seratus persen baik karena tak mau membuat mereka khawatir. Bagaimanapun, besok adalah hari yang sangat penting, jadi saya tidak boleh merusak suasana hanya karena insiden kecil ini.
"Kamu pikir apa yang sudah kamu lakukan?!"
"Maaf, Ayah…"
Sayup saya mendengar suara bentakan. Satunya bersuara pelan sekali. Itu lebih seperti suara orang yang hendak menangis. Saya memelankan langkah. Dengan hati-hati saya melongok dari balik dinding. Saat itu pandangan saya langsung tertuju pada keluarga Yoongi yang ada di antara bangku-bangku kosong. Ayahnya sedang berkacak pinggang. Ibu dan kakaknya duduk dengan raut yang tegang. Sementara Yoongi….
"…maaf…"
Maafnya terdengar sangat lirih. Ada getaran di suaranya. Dada saya sakit ketika memikirkan kemungkinan bahwa Yoongi bisa saja sedang menahan tangis di depan ayahnya yang marah.
"Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain! Kamu hampir mencelakakannya, tahu! Kalau dia kenapa-kenapa apa kamu bisa bertanggungjawab? Besok hari pernikahanmu dengannya, jadi bukankah sudah kewajibanmu untuk menjaga keselamatannya juga?"
"Ayah, sudah, kasihan Yoongi."
Saya dengar ibu Yoongi membela. Tapi ayah Yoongi terkesan tak acuh dan malah membentak Yoongi sekali lagi.
"Kamu mengerti? Kamu dengar tidak apa yang Ayah katakan? Angkat wajahmu. Katakan ya kalau kau dengar!"
"Iya, Ayah…"
"Bagus. Sekarang pergilah temui Jimin dan keluarganya. Minta maaf pada mereka. Jangan cuma diam dan duduk saja seperti orang tidak bertanggungjawab."
"…iya."
Ada langkah orang berjalan. Saya bingung harus lari atau tetap di situ. Akan sangat canggung bila Yoongi menemukan saya yang menguping pembicaraan keluarganya dari balik dinding. Ah, tidak! Bagaimana ini? Apa yang harus saya lakukan?
"Astaga, Jimin?"
Salah satu dari mereka melihat saya. Tanpa bisa mengelak, saya membalik badan. Saya tak tahu harus memasang senyum atau tidak. Yang jelas hawa menegangkan kala itu membuat saya tak bisa memikirkan apa-apa.
"Ah, eh, anu … tadi saya sedang cari Yoongi…"
Ibu Yoongi bangkit dari duduknya dan berusaha menghampiri saya. Saya memasang senyum kering. Mungkin berpura-pura tidak mendengar percakapan tadi adalah hal yang bagus.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, saya tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit memar saja di bahu dan punggung sebelah kiri," aku saya sembari memegangi bagian yang saya sebutkan tadi.
Ibu Yoongi nampak lega, sama dengan kakak dan ayahnya. Tapi lain dengan Yoongi sendiri. Ketika saya meliriknya, dia tengah menatap saya dengan sorot mata dan raut wajah yang sulit dibaca.
"Yoon—"
Belum sempat saya memanggil namanya, dia sudah melengos keluar dari klinik. Saat saya masih tercenung bingung, kakak Yoongi menyentuh pundak saya dan memberi isyarat supaya saya menyusul Yoongi.
"Maaf, Pak, Bu," ucap saya.
Walau menggantung, saya yakin mereka mengerti bahwa saya mesti keluar juga untuk menemui Yoongi. Ketika dia menghindari saya seperti itu, ini telah menjadi masalah saya dengannya.
"Yoongi!" Saya memanggil Yoongi yang berjalan jauh di depan, "Yoongi, tunggu!"
Di bawah sebuah pohon, saya menangkap lengannya. Sengaja saya eratkan cengkraman itu agar dia tidak bisa lari. Tidak ada perlawanan berarti dari Yoongi. Dia hanya menunduk dalam, memerosotkan badan, lalu berjongkok di atas tanah kering. Bahunya bergetar hebat. Dia sembunyikan wajahnya di balik kedua tangan yang bersilangan di atas lutut. Hati saya mencelos lihat dia begini. Seperti ada sesuatu yang menusuk dada. Saya turut berjongkok di depannya.
"Jangan menangis."
"Uhh .. maaf… nnnghhh—hiks, maafkan aku…"
Alih-alih berhenti, tangisnya malah makin kencang. Karena tak tahan, saya peluk dia dengan sedikit kasar. Walau lututnya dan lutut saya sama-sama jatuh di atas tanah yang kotor, saya tak peduli. Saya hanya mau dia berhenti menangis karena perasaan saya ikut-ikutan terluka kalau dia seperti itu.
"Ayolah. Aku tidak apa-apa." Saya sedikit merenggangkan pelukan supaya saya bisa mengangkat wajahnya yang semula terkubur. "Aku baik-baik saja, kau lihat? Kau tak perlu khawatir."
Air matanya banjir, basah kemana-mana. Dia tergugu, dengan lirih dan susah dia bicara di depan wajah saya, "Kau memelukku erat sekali saat itu. Kau bahkan melindungi kepalaku supaya tidak terbentur aspal. Ayah benar, itu salahku. Kecerobohanku hampir saja mencelakaimu..."
"Sudahlah, Yoongi. Kau tak perlu menyalahkan dirimu."
"Tapi—"
Saya bungkam bibirnya dengan ciuman. Yoongi yang kaget hanya diam ketika saya lepaskan ciuman itu. Saya belai rambutnya, lalu saya memberinya senyum selembut mungkin supaya dia tenang.
"Lain kali kita hanya harus lebih berhati-hati dan akan lebih baik jika kita bergandengan tangan setiap menyeberang. Kau mau lakukan itu?" Saya kecup keningnya, lalu saya tatap dia.
Perlahan dia mengangguk. "Iya."
"Apa kita bisa pulang? Kurasa aku butuh kasur empuk untuk berebahan," canda saya sambil meringis.
"Mmm," angguknya lagi.
Karena tak mau repot-repot ikut diperiksa polisi, saya memilih jalan damai dengan pengemudi mobil itu hingga kami pun bisa pulang cepat. Keluarga kami tak kembali ke penginapan, mereka ikut kami ke rumah. Alasannya karena tak bisa membiarkan saya dan Yoongi berdua saja habis mengalami kecelakaan. Begitu banyak perhatian yang mereka berikan kepada saya hingga saya bingung mesti bersyukur atau bagaimana.
Walau Yoongi sudah tak lagi menangis seperti ketika di klinik, suasana hatinya masih belum membaik. Dia tak kunjung bicara, baik kepada saya atau orang-orang di rumah. Saya tak mau dia merasa tersudut. Saya ingin menghiburnya supaya dia tak muram melulu, tapi tak banyak yang bisa saya lakukan karena kondisi badan yang tidak memungkinkan. Saya disuruh istirahat saja di kasur sampai besok. Alhasil saya hanya bisa bicara dan mencoba menghibur Yoongi hanya ketika dia masuk kamar untuk mengecek keadaan saya.
Lampu yang dinyalakan adalah pertanda kalau matahari sudah kembali ke peraduan. Sudah malam. Yoongi membuka pintu kamar dan masuk dengan langkah kecil. Dia lalu duduk di tepi kasur.
"Hei. Ayolah, jangan bermuram durja. Besok kita menikah, lho," kata saya.
Dia hanya meremat-remat sprei tanpa menjawab apa-apa. Saya elus pipi lembutnya, dan barulah saya dapat perhatiannya. Yoongi menatap sendu. Ketika saya mengelus pipinya lagi, dia menutup mata rapat-rapat dan saya tahu apa yang akan dia lakukan…
"Hei, hei. Aduh, Yoongi."
Saya bangun untuk duduk, untuk memeluknya juga. Yoongi menitikkan air mata yang mungkin tidak bisa ia tahan sama sekali. Ah, hati saya terasa teriris.
"Berhentilah menangis, kumohon."
"Aku—mmh, aku pun tak ingin menangis. Aku lelah."
"Kalau begitu lebih baik kau tidur, oke? Tidur bersamaku. Bukankah itu ide yang bagus?"
Air matanya saya seka. Keningnya saya kecup. Sedikit saya menggeser duduk dan sibakkan selimut untuk beri Yoongi spasi di kasur. Saya menunggu sampai dia mau berbaring.
"Ibumu bilang kita harus banyak istirahat sebelum upacara pernikahan besok. Jadi mari manfaatkan waktu dengan baik—dengan tidur."
Setelah dia berbaring, saya selimuti badannya. Lalu dalam selimut itu, dia saya peluk lagi.
"Apa badanmu masih terasa sakit?" tanyanya.
"Masih, sih, tapi tak apa. Aku kan kuat seperti Hulk."
Akhirnya saya bisa melihat sungging senyum dari bibirnya. Yoongi merapat, lalu menyungkurkan muka di perpotongan leher saya. Tangannya balik memeluk dan mengusapi punggung saya dengan hangat. Ada bagian-bagian yang tadinya nyeri perlahan menjadi tidak karena usapan itu.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
.
.
Tengah malam sudah lewat. Ini tanggal tiga. Tinggal menghitung jam sampai pernikahan saya dan Yoongi digelar. Saya bangun entah karena apa. Gugup mungkin? Seperti ada yang mengganjal di dada dan mungkin itu baru akan hilang setelah upacara pernikahan selesai. Saya melirik Yoongi yang bergelung dalam selimut. Dia tertidur lelap sekali.
Keluar kamar, saya melihat keluarga saya, dan keluarga Yoongi, tidur ramai-ramai di ruang tengah. Ada yang tidur di sofa, ada pula yang tidur di atas karpet. Saya merasa bersalah karena sudah enak-enak tidur di kamar, di atas kasur empuk, sementara mereka tidur dengan tidak layak seperti itu. Tadinya saya ingin bangunkan para ibu supaya mereka bisa pindah tidur di kamar bersama Yoongi. Tapi saya baru sadar kalau ibu saya tak ada di situ.
Saya pun memutuskan untuk pergi ke dapur, barangkali Ibu tengah membuat teh atau apapun di sana.
"Kenapa kamu bangun jam segini?"
Tebakan saya benar. Ibu sedang memasak air. Ada gelas kosong dengan teh celup yang menggantung di dalamnya. Dia mengernyit heran melihat saya yang bangun pada jam di mana orang masih nyenyak tidur.
"Sudah tidak mengantuk lagi. Omong-omong, ponselku mana ya? Aku baru ingat pada benda itu."
"Ada, dalam tas Ibu. Layarnya agak retak sedikit, sepertinya karena tertindih waktu kau jatuh."
"Aahh…"
"Ambillah di ruang tengah."
"Oh ya, Bu."
"Apa?"
"Soal kecelakaan ini … jangan katakan pada siapapun, ya?"
Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum paham.
Saya kembali ke ruang tengah hanya untuk mengambil ponsel dari dalam tas Ibu. Setelahnya, saya naik ke lantai dua untuk cari angin. Pikiran saya kosong saat itu. Seperti sedang bermimpi tapi tidak. Ponsel saya benar layarnya retak. Saya pandangi benda itu lama tanpa melakukan apa-apa.
Tiba-tiba saya teringat tentang sebuah ide yang muncul kemarin. Saya sudah mengetahui perihal tata cara dan prosesi pernikahan, tentu. Hanya saja, di malam resepsi, ada waktu yang diberikan kepada pengantin dan saya tak tahu mesti mengisinya dengan apa. Terpikirlah untuk berpidato atau yaa, bicara sesuatu, sekedar berterimakasih kepada undangan yang telah hadir misalnya.
Oh atau…
Seperti ada lampu terang yang tiba-tiba bersinar di kepala, saya mendapat ilham. Buru-buru saya hidupkan ponsel (yang untungnya tidak benar-benar rusak) dan mencari sebuah nama di daftar kontak.
Tiga panggilan saya tak dijawab. Saya mulai berpikir bahwa orang yang saya telepon sedang tidur. Tapi iya, kemungkinan besar sudah tidur tentu. Jam dua pagi, siapa yang masih terjaga? Ah, bagaimana Park Jimin ini!
"Aduduh, untuk apa Anda menelepon saya? Ini hampir jam dua pagi, lho."
Saya terdiam. Panggilan keempat saya tersambung rupanya.
"Halo? Park-ssaem?"
"Jung-ssaem."
"Ya?"
"Anu…"
"Apa? Apa ini masalah serius?"
"Bukan masalah sih. Hanya saja saya…"
"Apa? Anda mau bilang kalau selama ini Anda punya perasaan terhadap saya?"
"Eh! Ya ampun! Enak saja!"
"Terus apa? Cepat katakan. Saya sedang makan, lho ini. Kalau Anda lama, makanan saya keburu dingin."
Saya menghela napas. "Jadi, Jung-ssaem … saya … saya perlu membuat surat untuk Yoongi. Saya ingin membacakannya di pernikahan kami nanti. Dan saya pikir Jung-ssaem bisa membantu karena saya tidak bisa menulis."
"Astaga. Apa gunanya Anda sekolah tinggi kalau tak bisa menulis? Terus yang Anda bubuhkan di absen dan lain-lain itu apa? Itu tulisan, kan?"
"Maksudnya, saya tidak bisa merangkai kata untuk puisi, prosa dan sejenisnya. Saya tidak terbiasa dengan sesuatu yang seperti itu. Sungguh lain dengan bidang yang selama ini saya tekuni."
"Iya sih, kalau olahraga mana perlu pakai bahasa bagus?"
"Maka dari itu, apakah Jung-ssaem bisa membantu saya untuk membuatkan surat—"
"Tunggu. Maaf kalau saya memotong. Maksud Anda telepon pagi buta begini, mau minta tolong untuk buatkan surat dadakan?"
"Ng, yaa, begitulah."
"Tapi Park-ssaem, saya tidak bisa melakukan ini. Saya tidak bisa menuliskan suratnya untuk Anda. Kalau ini surat yang akan Anda bacakan di hari pernikahan Anda dengan Min-ssaem, berarti ini surat yang sangat penting. Mana bisa saya yang tulis? Nanti lain cerita jadinya. Lagipula, perasaan Anda, hanya Anda sendiri yang mengerti. Seberapa cintanya Anda pada Min-ssaem, hanya Anda yang tahu. Karena itu, akan lebih baik kalau surat ini Anda sendiri yang menuliskannya. Soal bahasa bisa dikesampingkan. Yang penting jujur. Jika yang tertulis di surat itu adalah murni keluar dari hati Anda, saya yakin itu akan jadi surat yang sempurna."
Setelah tuturan panjangnya, saya termenung. Saya hendak meminta bantuannya karena dia pandai menulis, tapi apa yang dia katakan adalah benar adanya; bahwa perasaan saya, hanya saya yang mengerti dan seberapa cinta saya pada Yoongi, hanya saya yang tahu.
Lama kami terdiam dengan telepon yang masih tersambung. Yang memecah keheningan pagi buta itu adalah suara ingus yang disedot. Di seberang Jung-ssaem terdengar susah bernapas karena ingusnya.
"Jung-ssaem."
"Ya?"
"Jangan sedih begitu, dong."
"Saya terharu, ini! Seorang bidadari mau menikah!"
"Saya bukan bidadari…"
"Ya memang bukan Anda, yang saya maksud itu kan Min-ssaem!"
Dia membuat saya tertawa. Ya, bidadari itu akan saya nikahi, memang.
.
.
What's on Park-ssaem's Mind?
TO THE LAST CHAPTER
