"Fate"

[ fate, isn't a thing that you could refuse ]

Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I only own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Reality

Typo(s) may be found

Failed at genre(s)

Semi-incest BL

Plot-bunnies(?)

And others


.

shunshines


Enam hari yang sangat panjang telah dilalui Shun dengan berat hati. Bayangkan, hampir seminggu ia tidak mau berbicara dengan kakak tirinya jika tidak diperlukan. Jangankan berbincang, untuk sekedar menatapnya saja ia enggan.

Bahkan Shun sendiri tidak menyangka kalau ia bisa mendiamkan Takeru selama itu.

Siang menjelang sore di SMU Teikoku berjalan seperti biasa. Shun yang sudah mengemasi barang-barangnya berjalan dengan langkah berat di koridor. Hari ini latihan amefuto ditiadakan berhubungan baru saja kemarin, Tim Satu Teikoku Alexanders mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim dari sekolah di distrik sebelah. Hal itu yang membuat Shun enggan pulang, karena dengan kata lain ia akan bertemu dengan Takeru dan menghabiskan waktu bersamanya lebih lama.

Omong-omong tentang pertandingan persahabatan, Shun tidak datang sama sekali untuk melihat dan mendukung kakaknya. Ia beralibi sedang mengerjakan tugas dan belajar untuk ulangan sehingga tidak mau ke luar rumah. Ia bahkan membohongi Akaba yang memaksanya untuk ikut menonton pertandingan.

"Apa? Yang benar saja kau, Mariko-chan!"

"Tidak, aku serius! Yamato-san dan Taka-san sudah putus!"

"Wah yang benar saja... ckck, padahal mereka sangat manis jika berdua!"

Shun berhenti melangkah begitu mendengar obrolan anak perempuan yang menyangkut tentang kakaknya dan pacar kakaknya. Ia tidak percaya kalau kakaknya itu sudah berpisah dengan Taka-nya. Ia terhenyak memikirkan tentang kebenaraan gosip anak perempuan itu.

'Bukannya kemarin mereka masih bersama-sama?'

Lalu, Shun melihat ada tiga orang siswa yang bergabung dengan dua siswi tersebut, membicarakan tentang icon sekolah itu.

"Itu kesempatan besar buat kalian-kalian yang mengincar keduanya, tahu!"

"Dandanlah lebih manis untuk merebut perhatian salah satu dari mereka, Mariko-chan, Hime-chan. Kalau perlu operasi plastik sana. Hahaha!"

"Enak saja! Tanpa operasi pun aslinya kami cantik, kok!"

Shun semakin merasa bingung. Ia bingung dengan perasaannya. Apakah harus merasa senang, kecewa, lega, atau apa? Hari ini hari keenam semenjak Takeru mengutarakan perasaannya kepada dirinya. Dan hari ini pun Takeru resmi putus dengan Taka. Itu berarti, tidak ada lagi saingan untuk Shun, kan?

'Tidak tidak,' tolak Shun dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya dan mencengkram tasnya erat. 'Aku tidak mau berharap lagi. Berhenti berharap, Shun!'

Dengan kaku, ia pun melewati kumpulan orang yang sibuk bergosip tentang kakaknya. Begitulah anak eksis, apapun yang dilakukannya pasti mendapat sorotan dari mana pun. Terutama kakaknya, seorang Takeru Yamato sudah seperti icon dari SMA Teikoku saja.

Dan untunglah, seluruh siswa Teikoku tidak tahu tentang kebenaran kalau Shun adalah adik tiri Takeru—minus Tim Satu Teikoku Alexanders. Kalau iya, dia pasti sudah dikerubung siswa yang sudah mirip wartawan sekarang.

"Yamato -san! Yamato-san!"

Pekikan tertahan seorang siswi yang terdengar dari koridor utama membuat Shun kembali dari alam pikirannya. Para gadis yang tergila-gila dengan kakaknya itu memancing perhatiannya agar melihat lebih dekat apa yang sedang terjadi. Ia pun melihat sosok jangkung sang Kaisar di antara siswi-siswi tersebut.

"Haduh haduh, susah juga ya, jadi artis!" tawa Heracles membahana di tengah para siswi—dan beberapa siswa juga terlihat di sana—membuat Takeru terkekeh kecil. Achilles di sebelahnya hanya berdecak kesal sambil mengomel dengan kebisingan yang diperbuat kaum hawa tersebut.

"Begitulah," balas Takeru sambil tersenyum geli. "Apa yang kulakukan dengan cepat telah diketahui seluruh isi sekolah. Hahaha."

Takeru, Heracles, dan Achilles berjalan bersama-sama menerobos barisan yang dibuat fans-nya Takeru dengan tenang. Walaupun terlihat tenang, jauh di dalam hatinya, Takeru merasa risih. Dan juga sedikit bersalah.

Ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Taka dan seisi sekolah sudah tahu akan hal tersebut. Itu berarti ia hanya akan membuat Taka semakin sedih.

"Yah, yah, tetap tenang, Nona-Nona. Seperti yang kalian tahu, berita itu memang benar. Sudah, bubar sana!" omelan Achilles pun terdengar, membuat siswa-siswi yang berada di sana menjadi sunyi. Suara bisikan di antara mereka pun terdengar.

Takeru menoleh ke arah gadis-gadis di depannya. Ia tersenyum kecil. "Jangan dibahas lagi, ya?"

Sontak, gadis-gadis yang mendapat kontak mata dengan Takeru Yamato pun mengangguk patuh. Takeru melempar senyumnya sebagai ucapan terima kasih.

Tidak lebih dari lima detik setelah itu, sepasang kristal kecoklatan milik Takeru menangkap sosok yang sejak tadi dicarinya. Shun Kakei—atau Shun Yamato—sedang berdiri di tengah himpitan para siswa di sana. Merasa lega, Takeru pun langsung berjalan menuju Shun sambil mengucapkan "sampai nanti" kepada Heracles dan Achilles, kemudian segera menarik lengan adiknya, menyeretnya ke luar dari gedung itu.

"Wah, apa Yamato-san membuang Taka-san untuk murid baru itu?"

"Oh astaga, siapa namanya? S-Shun Kakei, bukan?"

"Dasar perusak hubungan..."

Bermacam-macam komentar lolos dari kumpulan murid Teikoku tersebut. Dari yang positif sampai yang negatif pun terdengar. Koridor utama sekarang sudah terlihat seperti tempat gosip seangkatan.

Shun yang sedang ditarik oleh Yamato menggigit bibir bawahnya. Perasaan risih, malu, dan marah semakin mengisi hatinya saat ia mendengar gunjingan tentang dirinya dan sang kakak dari teman-teman seangkatan. Meskipun tidak lantang seperti gunjingan yang dilontarkan kepada kakaknya, tetap saja Shun bisa mendengarnya dengan baik. Sementara itu, Takeru tetap menariknya ke tempat parkir tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Ia mendengus kesal. Lagi-lagi, hidupnya dibuat makin sulit semenjak sang Eyeshield 21 Notre Dame itu menjadi kakak tirinya.


.

Hayato Akaba yang baru saja datang ke koridor utama melihat ke sekeliling. Ia mendecak bosan mendengar murid-murid tidak punya kerjaan yang terus menggunjing orang. Namun, mendengar orang-orang itu menyebut Takeru Yamato dan Shun Kakei berhasil mencuri perhatiannya.

'Ada apa dengan mereka berdua?'

"Oi, Akaba!" seorang laki-laki berhelai hitam gondrong menepuk bahu Akaba. Pemuda yang mengenakan sunglass biru gelap itu pun menoleh ke arah teman sekelasnya, Shiro Takagi.

"Apa yang sedang dibicarakan orang-orang ini? Tidak harmonis, ritmenya tidak beraturan," tanya Akaba kepada Shiro. Di kelas, orang yang pandai bermusik hanyalah mereka berdua. Sehingga ketika Akaba mulai berbicara bahasa musik, hanya Shiro-lah yang mengerti.

"Oooh, kau belum tahu, ya?" Shiro tersenyum seperti menggoda Akaba. "Tapi bukan berita baik untukmu, sih. Kau tertarik karena nama pacarmu disebut-sebut kan?"

Akaba hanya mengangguk dan mengisyaratkan Shiro untuk mengatakan berita itu secepatnya.

"Yamato dan Taka sudah putus. Yang menjadi topik pembicaraan hangat kali ini adalah tentang Yamato yang membuang Taka untuk seseorang yang lain. Dan orang itu adalah kekasihmu, Shun Kakei."

Akaba hampir saja berseru tidak percaya kalau dia sudah kehilangan ketenangannya. Ia menatap Shiro sangsi, meminta kembali informasi agar ia tidak akan memendam pertanyaan yang lebih banyak.

"Aku tidak begitu tahu lagi. Yang jelas, berita yang tadi aku sampaikan adalah trending topic hari ini," ujar Shiro sambil menepuk bahu Akaba lagi. "Pertahankan Shun Kakei-mu sebelum direbut oleh Eyeshield 21 itu."

Akaba termenung mencerna kata-kata Shiro. Sadar tidak sadar, ia sudah mengepalkan tangan dan berjalan menerobos puluhan fangirl, ke luar dari gedung SMA Teikoku ini. Kakinya melangkah mengikuti hatinya. Tentu saja ia tidak mau mengejar Shun dan Takeru dan mencegah mereka untuk pulang lebih dulu.

Akhirnya, dia sampai di taman sekolah. Saat Akaba akan melangkah ke bangku taman di bawah pohon sakura, ia mendapati sosok familiar berhelai keperakan panjang tengah duduk di sana. Saat ia melangkah lebih dekat, dirinya baru yakin kalau anak laki-laki itu adalah Taka Honjo yang tadi dibicarakan oleh murid seangkatan. Si Bungsu Honjo itu tengah melakukan hobinya, membaca buku.

Tanpa basa-basi, Akaba pun menduduki bangku yang sama dengan Taka. Saat dia duduk, Taka menoleh ke arahnya, membuktikan bahwa anak itu tidak benar-benar fokus pada bacaannya. Namun, Akaba tetap tidak berkata apa-apa. Ia mengeluarkan headset dari saku celananya, menyumbat telinganya, dan tenggelam dalam lagu.

Baik Akaba maupun Taka, keduanya sudah tahu perasaan masing-masing. Akaba tahu Taka sedang patah hati, begitupun Taka yang tahu Akaba sedang kebingungan. Bagaimana tidak? Hari ini hampir seluruh siswa di Teikoku sudah berubah menjadi pembawa acara gosip yang terus menggunjingkan orang.

"Ini."

Taka yang gagal fokus membaca bukunya menoleh ke samping. Dilihatnya Akaba menyodorkan satu headset sebelah kanan kepadanya. Sementara Tokyo MVP itu hanya memasang headset kiri di telinga kirinya.

"Musik bisa menenangkan ritmemu yang sedang tidak beraturan," ujar Akaba masih dengan bahasa musiknya. Taka menatapnya untuk beberapa detik, berusaha memahami istilah aneh yang keluar dari anak laki-laki berpenampilan nyentrik itu. Kemudian, si receiver andalan Teikoku Alexanders ini tersenyum kecil, lalu menerima headset dari Akaba dan menyumbat telinga kanannya.

"Arigatou."

Baik Akaba maupun Taka, keduanya merasa bersyukur. Masih ada yang mau menemani dan peduli di saat mereka merasa sedih.

Ketika Takeru sudah memarkir mobilnya di garasi, Shun langsung ke luar dari mobil dan berjalan cepat menuju kamarnya. Takeru yang merasa bersalah cepat-cepat menyusul Shun ke kamar setelah mengunci mobilnya. Dia tahu adiknya tidak suka kalau mereka terlihat dekat di sekolah. Apalagi saat mendengar gunjingan yang mengatakan bahwa Shun merebut Takeru dari Taka, pasti membuat anak laki-laki personifikasi langit itu kesal.

"Hey, Shun," panggil Takeru begitu Shun sudah menggapai kamar mereka. Tapi panggilannya terpotong saat Shun langsung menutup pintu lalu menguncinya. Takeru menghela napas, mau mendobrak pintu pun tidak ada gunanya sama sekali. Toh, dia hanya akan merusak pintu dan belum tentu Shun mau mendengarnya.

Setelah menunggu beberapa menit, Takeru mengetuk pintu tidak sabar. "Shun? Buka pintunya. Kau lupa ya, aku belum menaruh barangku di kamar." Lucu sekali alibinya, batin Takeru, kecewa karena memberi alasan yang sangat konyol. "Shun, ayolah—"

BRAK

Ucapan Takeru kembali terpotong saat Shun membuka kembali pintunya. Takeru baru akan tersenyum lega saat melihat adiknya sudah berganti pakaian, namun ia menangkap ransel yang disampirkan di bahu adiknya, yang pasti bukan ransel sekolah.

"Ya, silakan masuk. Kamu bebas memakai ruanganmu lagi," ujar Shun ketus sambil memicingkan matanya. Tatapannya begitu menusuk, bahkan seorang Takeru Yamato saja terkesiap, bingung hendak membalas apa. Takeru baru saja sadar ada yang tidak beres dengan kelakuan adiknya—jelas-jelas adiknya mau kabur dari rumah—setelah Shun melewatinya. Dia pun menahan tubuh adiknya agar pergi.

"Hey! Mau kemana? Enak saja mau kabur—"

Shun menghentakkan tangan Takeru yang menahannya. Ia kembali menatap sang kakak dengan tatapan tajamnya tadi. "Bukan urusanmu, Yamato."

Lalu, ia pun buru-buru pergi sebelum Takeru akan menahannya lagi. Di dalam rumah, mana mungkin Takeru akan berlari secepat kilat yang biasa dilakukannya di lapangan. Sehingga dengan mudahnya Shun melarikan diri dari rumahnya sendiri menuju halte bus terdekat.

Tepat saat ia mencapai halte, bus baru saja datang. Shun pun segera masuk dan mengambil tempat duduk di bagian belakang sebelah jendela.

Shun menghela napas setelah duduk di kursi. Ia merapatkan jaket saat AC di bus menembus kulitnya. Pikirannya sangat kacau. Lebih kacau daripada mengalami kekalahan pertandingan amefuto di Kyoshin dulu. Dia tidak akan mungkin kembali ke rumah, tidak mungkin juga ke rumah Akaba. Selama dia masih berada di kota yang sama dengan kakaknya, Shun tidak akan merasa tenang. Ia butuh kabur. Maka itulah sebabnya kenapa dia duduk di bus ini, menuju stasiun kereta Osaka. Dan satu-satunya tempat yang ada di benaknya adalah kota kelahirannya dulu.

Tokyo.

Betapa Shun merindukan kehidupannya di Tokyo dulu. Hidupnya di Tokyo jauh lebih damai dan nyaris tidak ada konflik. Jauh lebih sederhana dan tenang. Meskipun teman-temannya di Kyoshin lebih idiot dan lebih susah diatur daripada di Teikoku, itulah yang membuatnya rindu dengan Tokyo.

Dan bahkan ia lebih merindukan saat dimana ia tidak punya ide sama sekali tentang keberadaan Eyeshield 21 Notre Dame daripada saat ia sudah tahu bahwa Eyeshield 21 legendaris itu adalah kakak tirinya.

Setelah beberapa menit, bus pun berhenti di depan salah satu stasion kereta di Osaka. Sesudah membayar, Shun pun segera masuk dan mencari tiket kereta dengan keberangkatan tercepat hari ini. Demi Kinjiro Ninomiya, ia sudah muak berada di kota ini untuk sekarang.

Tiket pun sudah ada di tangannya. Anak laki-laki bertubuh jangkung ini tersenyum sekilas. Dia hanya perlu menunggu sekitar 15 menit lagi untuk pergi meninggalkan kota kelahiran kakak tirinya ini. Shun segera berjalan menuju peron dan duduk menunggu di sana. Tanpa gangguan siapapun yang ia kenal, sebentar lagi ia bisa kabur dari kehidupannya sekarang.

Kehidupan seorang Shun Yamato, anak kedua dari Keluarga Yamato, sekaligus adik tiri Takeru Yamato; Eyeshield 21 asal Notre Dame si penguasa Teikoku Alexanders.


.

"Sialan."

Takeru menghela napas gusar sambil menatap layar handphone-nya tanpa harapan. Ia kemudian membanting benda elektronik itu ke meja di depannya, sedikit menyenggol kaleng kopi dinginnya. Kopi itu dibelinya beberapa menit yang lalu di minimarket baru beberapa teguk diminumnya.

Anak laki-laki itu pun mengacak rambutnya gusar. Ia panik. Beberapa kali ia berusaha menelepon adiknya yang entah kabur kemana namun tidak pernah tersambung. Sementara itu, orang tuanya tidak ada di rumah untuk seminggu ke depan. Otomatis tanggung jawab di rumah diserahkan kepadanya. Baru saja sehari Takeru melaksanakan tugasnya, sekarang dia sudah dihadapkan dengan masalah yang rumit.

Adik tirinya, Shun Yamato, kabur dari rumah tanpa bisa dihubungi sama sekali.

Takeru kembali meraih handphone-nya, mencoba menyambungkan telepon dengan adiknya sekali lagi. Ia berdoa semoga kali ini teleponnya tersambung. Setidaknya ia tahu bahwa Shun mengaktifkan handphone-nya dan dia baik-baik saja.

TRAK

Tiba-tiba, sebuah handphone asing disodorkan ke hadapan Takeru. Agak kasar sehingga sedikit dibanting. Eyeshield 21 Notre Dame itu sedikit terperanjat, lalu melihat siapa orang yang 'menyodorkan' handphone itu di seberang mejanya.

"Coba jelaskan kenapa dia bisa mengirim e-mail seperti ini."

Akaba kembali menyodorkan handphone-nya ke Takeru sampai ace Teikoku itu bisa melihat layarnya. Dengan tangkas, Takeru segera merebut benda elektronik berwarna hitam itu dan membacanya cepat.

From: Shun Kakei

Jgn hubungi aku dulu. Katakan kpd yg lain aku baik2 saja.

"Dia menghubungimu?" Tanya Takeru dengan nada ketus. "Brainwash macam apa yang kamu kasih ke dia?"

Akaba merebut handphone-nya lagi, lalu ia masukkan ke saku. "Aku yang menghubungi dia duluan. Lalu dibalas begitu sebelum nomornya jadi tidak aktif."

Takeru berdecak kesal. Ia menghela napas, berusaha meredam emosinya. Ia boleh cemburu, namun tidak sekarang pada kondisi genting. Masih ada yang lebih penting untuk diurus daripada memedulikan egonya.

"Jadi, bisa jelaskan—"

"Itu nggak penting," balas Takeru cepat. Ia beranjak dari kursinya. "Yang lebih penting sekarang itu adalah menemukannya lagi. Aku harus lacak HP-nya." Anak laki-laki bertubuh jangkung itu berjalan melewati Akaba yang hanya menatap punggungnya dengan tatapan sama kesalnya. "Ikut aku."

"Fuh." Tokyo MVP itu sedikit berdengus. Ia membenarkan sunglass-nya lalu berjalan mengikuti sang Eyeshield 21 itu. Sesuatu pasti telah terjadi, dan itu cukup fatal sampai membuat Shun kabur dari rumah. Akaba sangat yakin akan hal itu. Shun tidak akan melakukan sesuatu yang seorang pengecut lakukan, kabur dari masalah.

Hanya dengan melihat punggung Takeru, Akaba sudah merasa tangannya mengepal lagi. Ia menyembunyikan kedua tangannya di saku jaket, takut-takut lepas kendali. Bagaimana pun juga, ia bukan seorang pengecut yang menggunakan kekerasan untuk melampiaskan emosinya.

Namun, Hayato Akaba berani bertaruh. Dia rela menanggalkan image gentleman-nya dan menghajar anak pertama Yamato itu jika sesuatu yang lebih parah terjadi pada personifikasi langit-nya.

.


- to be continued –


.

Hai! Sudah lama tidak bertemu :")

Update fate ini semacem starter pack aku untuk proyek pulang kampung ke fesi. Kangen ya rasanya ngenistain cogan cecan di es21 =))) aku kaget begitu sadar fic ini hiatus selama 2 tahun. Maafin buat readers yang dulu menanti-nanti. Time flies so fast ya :"(

Karena selama 2 tahun ini aku rajin nonton drama korea yang bikin baper keterusan, aku emang kebawa-bawa bikin latar suasananya kayak yang aku tonton. At least ga sinetron banget lah ya =)) (selalu ngebayangin cast yang ada di fic ini seolah-olah main drama UUUWW FEELS EVERYWHERE COYMEN)

Untuk mengurangi kadar bacot, aku pamit undur diri ya. REVIEWNYA DONG, SANGAT BUTUH PENCERAHAN SETELAH 2 TAHUN NGGAK NULIS! :"(((((((((